Ada kalanya merelakan sesuatu yang kau anggap berharga bisa memberimu kebahagiaan sejati, karena tidak selamanya apa yang kau anggap berharga akan baik untuk dirimu.

Naruto memang mencintai Sasuke, namun pada saat-saat tertentu terkadang ia merasa ingin menyerah, seperti sekarang. Naruto pikir selama ini dialah yang telah banyak mengalah, dialah yang selalu meminta maaf terlebih dahulu, dan dia juga yang selalu mencoba untuk mempertahankan hubungan rumit mereka. Di hari itu Sasuke pergi meninggalkannya dengan wajah tanpa ekspresi. Naruto telah mencoba untuk menjelaskannya, namun Sasuke tetap pergi bersama kemarahan yang menguasai dirinya.

Kini Naruto tengah berdiri didepan pintu apartemen sederhana yang ditinggali oleh Sasuke, apartemen yang mulai di tinggalinya semenjak ia keluar dari klan Uchiha. Jika Sasuke masih menolak untuk berbicara dengannya, maka saat itu juga Naruto memutuskan untuk menyerah sepenuhnya dan mencoba mengikhlaskan Sasuke untuk Sakura.

Naruto mengembuskan napas pelan, sebelum memberanikan diri untuk mengetuk pintu dihadapannya.

Tok Tok Tok

Pintu belum juga terbuka. Apa dia sedang pergi keluar?

"Ada apa?"

Naruto membalikkan badan, tersentak kaget saat melihat Sasuke yang telah berdiri di belakangnya, dan lebih kaget lagi saat melihat Sakura berdiri bersisian dengan Sasuke. Tanpa sadar Naruto mengepalkan tangannya, rasa marah saat melihat sosok Sakura kembali muncul, apalagi saat melihat tangan kurus gadis itu bergelayut ditangan Sasuke.

Naruto tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Aku hanya kebetulan lewat." kemudian berjalan pergi, tak berani menengok kebelakang, ia takut hatinya akan semakin terluka.

Sedangkan Sasuke bergeming, wajahnya tertunduk dalam dengan bibir tertarik membentuk garis senyum yang menyiratkan rasa sakit dihatinya.

Percayalah, keduanya merasakan rasa sakit yang sama.

.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

"Sasuke-kun, kau ingin aku bu-"

Perkataan Sakura terhenti, ia memandang pada Sasuke yang tengah duduk menghadap televisi. Sasuke terlihat begitu murung, pandangannya terlihat kosong menatap layar televisi.

Sakura memandang sedih. Inikah yang diinginkan dirinya? Tidakkah dia menyadari kalau dirinya telah menyakiti dua hati yang dikasihinya? Naruto adalah sahabatnya dan Sasuke adalah orang yang dia cintai. Keegoisannya telah melukai hati banyak orang, bukan hanya menyakiti hati Sasuke dan Naruto, tapi juga menyakiti hatinya sendiri.

"Sehari saja. Izinkan aku memilikimu hanya untuk hari ini saja," gumam Sakura, masih dengan memandang pada Sasuke.

Di tariknya napas panjang, sebelum menghembuskannya secara perlahan. Sakura memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya mendekati Sasuke yang masih asik dengan lamunannya. Namun belum hitungan ketiga ia melangkah, Sasuke sudah berdiri dari duduknya. Wajah tampannya memandang datar pada Sakura, lalu tanpa mengatakan apapun ia berjalan pergi kearah pintu keluar, meninggalkan Sakura yang kini memandangi kepergian Sasuke dengan wajah sedihnya.

"Seharian pun aku tidak diizinkan untuk memilikimu, Sasuke-kun?" suaranya bergetar menahan tangis.

Kiba sejak tadi terus saja mengoceh, bertanya ini-itu kepada Naruto, yang hanya ditanggapi dengan gumaman tidak jelas. Kiba kesal, ia merasa Naruto sudah tidak mempercayai dirinya lagi. Kiba sadar benar kalau sahabat sejak kecilnya ini tengah ada masalah, dan Kiba merasa tidak lagi mendapat kepercayaan dari Naruto, karena kini Naruto hanya diam saja tidak menceritakan masalah yang tengah dihadapinya itu.

Kemudian Kiba memberanikan diri untuk bertanya, "Kau yakin baik-baik saja, Naruto? Tidak adakah yang ingin kau katakan kepada ku?"

Tangan Kiba menyentuh pundak Naruto yang duduk bersisian dengannya, sekedar untuk menyadarkan Naruto dari dunia lamunannya. Naruto menolehkan kepalanya pada Kiba, memandang wajah Kiba dengan raut penuh tanya. "Kenapa?" hanya itu yang keluar dari dua belah bibirnya yang sejak tadi terkatup rapat.

Kiba mendengus dan menggelengkan kepalanya acuh, mulai jengah dengan keterdiaman Naruto.

"Aku berbicara sampai mulut ku berbusa dan kau hanya bertanya kenapa? Kau sangat mengesalkan Naruto! Padahal aku datang ke Konoho dikhususkan hanya untuk bertemu dengan mu, tapi tingkah mu malah menyebalkan seperti ini. Kalau terus begini, lebih baik aku pulang saja ke Tokyo."

Kiba berucap dengan suara lantang dan intonasi yang naik turun, dia terbawa emosi, padahal niat awalnya hanya untuk mengerjai Naruto.

Naruto hanya diam, tak tahu harus mengatakan apa. Otaknya tengah buntu, tak lagi bisa berpikir, mungkin karena dia sudah terlalu banyak memikirkan masalahnya dengan Sasuke, hingga membuat otaknya tak bisa memikirkan hal lain selain Sasuke.

"Maaf," dan hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.

Kiba menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan cara yang kasar. "Aku hanya ingin kau terbuka seperti dulu, Naruto. Tingkah mu yang seperti ini membuatku khawatir, kau sangat berbeda dengan Naruto ku yang dulu," ucapnya dengan mata terpokus pada wajah murung Naruto. "Kau tidak akan menceritakannya kepadaku?" tanyanya, setengah berharap.

"Kalau aku menceritakannya kepadamu, kau pasti akan menjauhi ku."

Kiba mengerutkan kening, semakin merasa penasaran. "Menjauhi mu? Apa kau gila, Naruto? Aku? Seorang Inuzuka Kiba menjauhi mu? Yang benar saja!" Kiba berdiri, memandang pada Naruto yang masih duduk. Tangan kanannya terangkat menyentuh dada kirinya, sedangkan tangan lainnya terjuntai disisi tubuhnya, posisi tubuhnya tegap seperti tentara. Kemudian Kiba berucap dengan mantap. "Aku Inuzuka Kiba berjanji tidak akan pernah menjauhi Uzumaki Naruto, akan selalu membantunya dalam keadaan susah maupun senang. Janji ini abadi sampai aku mati."

Naruto mendengus geli. "Kau berlebihan, Kiba," ucapnya sambil terkekeh.

"Kalau aku tidak seperti ini, kau tidak akan mempercayai akukan?"

Naruto berdehem pelan, tenggorokannya tiba-tiba saja terasa gatal. Dengan senyuman canggung, Naruto menjawab pertanyaan Kiba. "Tidak seperti apa yang kau pikirkan, Kiba. Aku mempercayai mu, kok."

Kiba melengos, mengabaikan Naruto. Dalam hati Kiba sudah tertawa terbahak, rencananya untuk menjebak Naruto agar menceritakan masalahnya berjalan lancar.

"Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu. Ayo, kembali duduk."

Kiba beryes ria, membuahkan kerutan dikening Naruto. Sadar akan kelakuannya, Kiba langsung memandang congak kepada Naruto. "Ayo ceritakan!" ucapnya memerintah, setelah dirinya kembali duduk disamping Naruto.

Kiba menunggu dan Naruto malah diam. "Kenapa diam? Ayo ceritakan!"

Naruto menganggukan kepalanya, ia masih bingung harus memulainya darimana. "Kau kenal Sasuke kan?" tanyanya kemudian, pandangannya lurus kedepan, tidak memandang pada Kiba.

"Sasuke?" gumamnya sambil mengkerutkan kening, mencoba menggingat. Tak lama ia menjawab "Ya," dengan nada tak yakin. "Dia si pemuda musim semi itukan?" tanyanya pada Naruto.

Naruto terkekeh mendengar julukan Kiba untuk Sasuke, namun kepalanya mengangguk membenarkan bahwa pemuda musim semi yang Kiba maksud memang Sasuke. "Kenapa kau menyebutnya pemuda musim semi kenapa bukan pemuda musim dingin?"

"Karena dia bertemu denganmu di musim semikan?"

Lagi-lagi Naruto menganggukan kepalanya, membenarkan.

"Apa masalah mu ada hubungannya dengan dia?"

Naruto diam, ia mulai ragu untuk menceritakan masalahnya kepada Kiba. Selama ini Kiba tidak tahu kalau ia telah menjadi gay dan Sasuke adalah kekasihnya. Naruto takut Kiba akan menjauhinya. Hanya Kiba yang masih dianggapnya sebagai sahabat dan Naruto tidak ingin kehilangan Kiba.

Menyadari keresahan Naruto, Kiba menyentuh pundak Naruto, saat Naruto menoleh kepadanya, Kiba langsung tersenyum. "Teruskan Naruto. Kau tidak perlu ragu, masih ingat janjikukan?"

Naruto membalas senyuman Kiba dengan kepala mengangguk. "Dia kekasih ku, Kiba," lanjut Naruto, matanya masih fokus memandang pada Kiba. Ia ingin tahu ekspresi seperti apa yang akan Kiba tunjukkan. Tapi nyatanya Kiba masih memberinya senyuman, ia masih menantikan Naruto untuk melanjutkannya. "Kami sedang tidak akur. Dia salah paham padaku, Kiba. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, Sasuke begitu marah kepada ku. Tapi aku dijebak, Kiba. Aku bersumpak tidak melakukan apapun dengan kakaknya, sungguh! Dan kau tahu siapa yang menjebak ku? Dia Sakura! Sakura yang telah menjebak ku karena dia menginginkan Sasuke ku! Aku begitu membenci Sakura, aku begitu ingin membunuhnya, tapi aku tidak bisa karena aku juga menyayanginya. Yang lebih memalukan dia menempelkan foto ku dengan Itachi-san di mading sekolah. Aku hancur Kiba, semua orang disekolah mencaci diriku, mengataiku pelacur!"

Kepala Naruto kini tertunduk, napasnya memburu, ia tersulut emosi. Kedua tangannya terkepal erat, matanya berkaca-kaca, tapi tidak sampai menangis. Naruto sudah tidak mau membuang-buang air matanya lagi.

"Tenang saja, Naruto. Aku akan membantu mu. Aku janji!"

Naruto tersenyum haru dan pada akhirnya tangisannya pun pecah di dalam pelukan Kiba.

To be continued...

Sepi sekali di FFN :'(