"Sakura?"
Ino berlari, menyongsong Sakura yang berjalan sempoyongan di luar kamar inapnya. Gadis merah muda itu terlihat lemas dan pucat. Tangannya terus memegangi kepala, ekspresinya terlihat begitu kesakitan.
"Ino-nee," panggilnya lirih. Memandang pada Ino dengan mata berkaca.
Ino membawanya masuk kedalam kamar inap dan mendudukkan Sakura di atas ranjang pasien, "Kau darimana saja, Sakura?" tanya Ino, menatap emerald Sakura dengan tajam.
"Sedikit bersenang-senang.." jawab Sakura sambil terkekeh menyedihkan. Darimatanya mengalir air mata, membuat Ino kebingungan. "Disini begitu menyakitkan," ucapnya sambil memukul pelan dada kirinya. "Lebih menyakitkan dari yang selama ini aku rasakan. Sakit di kepala ini-" sambil memukul kepalanya sendiri, "-tidak seberapa besar dari rasa sakit di hatiku."
Ino memandang prihatin dan hanya bisa menenangkan gadis itu dengan pelukan. Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang tengah menimpa gadis dalam pelukannya kini.
"Apa ini balasan atas segala perbuatan ku? Aku hanya ingin bersama dengan orang yang aku cintai, salahkah itu, neesan?"
Ino hanya diam, membiarkan gadis itu meracau sepuasnya. Pikirnya, yang di butuhkan Sakura sekarang hanya mengeluarkan semua hal yang selama ini terpendam di dalam hati dan pikirannya.
Di sepanjang langkahnya Naruto bisa mendengar mereka yang di lewati olehnya saling berbisik dengan mata memandang padanya. Naruto merasa tidak nyaman, ia yakin kalau orang-orang sok tahu itu tengah menggunjing dirinya.
Perlahan langkahnya mulai melambat, kepalanya yang tadi terangkat tegap mulai merunduk, padahal Naruto sudah mempersiapkan diri untuk segala resiko yang akan di dapatnya ketika masuk sekolah, namun sepertinya ia belum menyiapkan mentalnya secara total.
Naruto memasuki kelas. Beberapa orang menoleh kearahnya, bahkan ada yang berani mencibirnya secara terang-terangan. Naruto mengabaikannya dan terus berjalan kearah tempat duduknya berada; di dekat jendela, barisan baling belakang. Sebelum duduk ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Tak lama setelah Naruto duduk, seseorang berjalan kearah tempat duduknya dan menyenderkan tubuh pada meja Naruto. Naruto mengabaikan dan fokus pada ponselnya yang terdapat beberapa pesan masuk dari Kiba. Naruto tahu siapa yang mendatanginya, namun ia tetap mengabaikannya.
"Mau tidur denganku?!"
Semua orang menolehkan kepala, menatap pada sosok Hyuuga Neji yang tengah menyenderkan sebagain tubuhnya pada meja milik Naruto. Naruto sendiri hanya diam, mengacuhkan Neji yang masih menunggu jawabannya. Ini bukan kali pertama sulung Hyuuga itu mengajukan pertanyaan gila seperti itu. Biasanya sulung Hyuuga itu akan pergi jika di abaikan.
Naruto masih asyik dengan ponselnya, ia tengah berkirim pesan dengan Kiba yang hari ini akan kembali ke Tokyo. Tak ingin sebenarnya berpisah dengan Kiba, karna bagi Naruto Kiba lah satu-satunya orang yang memahami permasalahannya. Tapi apa mau dikata, Kiba punya kehidupannya sendiri, lagi pun Kiba telah berjanji akan sering berkunjung.
"Tidakkah kau mendengarku, Uzumaki?"
Neji mencondongkan kepala, mendekatkan wajahnya pada Naruto yang tengah menunduk menatap layar ponselnya. Risih dengan tingkah Neji yang kian hari kian menjadi, Naruto memundurkan kursi yang tengah di dudukinya, kemudian berdiri dan menatap tajam pada Neji yang telah menegakkan badan, balas memandangnya tenang, seolah dirinya tidak melakukan apapun yang membuat Naruto kesal.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Naruto, terdengar kesal. Ia mulai habis kesabaran.
Jari telunjuk menepuk-nepuk dagu konstan, senyumnya mengembang ke samping, terlihat begitu menyebalkan dalam pandanagn Naruto. Kemudian Hyuuga Neji menjawab lugas. "Menidurimu," begitu jawabnya, yang sontak membuat kekesalan Naruto kian menjadi.
Tangan kanannya sudah terkepal erat, siap dihantamkan ke pipi tirus milik Hyuuga Neji, namun ia mencoba untuk menahannya, tidak ingin membuat keributan.
"Kenapa aku harus mau di tiduri oleh mu?"
Melipat tangan di dada dengan mata amethystnya memandang lurus pada Naruto, Neji menjawab dengan suara lantang dan penuh ejekan. "Kenapa kau masih bertanya, Uzumaki? Tentu saja karena kau itu pelacur," jawabannya membuahkan suara riuh tawa dari orang-orang yang ada didalam kelas.
Kepalan tangannya semakin erat, Naruto tak kuasa menahan emosi hingga satu kepalan tangan melayang telak mengenai pipi kiri Neji, membuahkan jerit kesakitan dari sang empunya pipi, yang kini tersungkur di lantai sambil memegangi pipinya yang terkena pukulan. Naruto menyeringai senang.
Kelas langsung gaduh, kebanyakan di karenakan suara para murid perempuan yang berteriak heboh dengan sangat berlebihan, sedangkan murid laki-laki langsung berkerumun, membentuk lingkaran dengan Naruto dan Neji berada ditengah mereka.
"Wah, kau kalah dari seorang gay, Neji?"
Entah suara siapa itu, Naruto tidak tahu dan tidak ingin tahu. Pandangan Naruto hanya terpaku pada Hyuuga Neji yang balas memandangnya dengan marah, tangannya masih memegangi pipinya, mungkin denyutan nyeri pada pipinya itu masih terasa, karena Naruto menghantamnya dengan sekuat tenaga.
"Inilah yang akan kau dapat kalau berani mengusik ketenangan ku!" ucap Naruto. Rasa senang karena telah berhasil memukul Neji membuatnya tidak bisa menahan seringai kemenangannya. Kemudian kepalanya terangkat, menatap pada murid laki-laki yang mengerumuni dirinya dan Neji, menatap mereka dengan pandangan sinis, dengan nada datar ia berkata, "Semua ini berlaku untuk kalian semua!"
Dan di sepanjang hari itu, tak ada satu pun yang berani mengusiknya. Untuk hari ini Naruto bisa bernafas lega, namun entah dengan hari esok, esoknya lagi, dan esok yang akan datang lainnya.
"Hadiah darimu ini akan selalu ku ingat, Haruno.."
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
To be continued...
