Mianhae, jeongmal mianhamnida yeoreobun, baru bisa update sekarang. Fileku hilang. Semoga chapter ini bisa mewakili permintaan maafku.
Happy reading!
Disclaimer
All cast belong to God and themselves, but the ff is pure belong to me
Cast
Lee Donghae
Lee Hyukjae
And all of Super Junior member
Length
Two shoot
Warning
Yaoi, Boys Love, shonen-ai, boy x boy, semi canon. Rated M karena bahasa yang vulgar, no NC. I had warn you, so, don't like don't read! No bashing at pairing, please!
Summary
"Aku hanya memiliki satu hati dan sudah kuberikan padamu. Kalau suatu hari nanti—entah keajaiban apa yang terjadi—kau merindukanku, datanglah padaku. Aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, tapi satu yang kutahu, akan selalu ada Lee Hyukjae untuk seorang Lee Donghae."
.
.
.
LUMPUH
.
.
.
Pagi ini Donghae akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Eunhyuk yang dibantu Sungmin untuk berdiri hanya berani memandangi Donghae dari jauh. Bukan karena takut akan dipukul lagi oleh Donghae hingga babak belur, tapi karena tidak mau lagi mendengar Donghae meremehkan ketulusan cintanya. Dia sanggup mendengar hinaan apa pun untuk dirinya, tapi tidak untuk perasaan yang tulus dirasakannya.
"Dari hasil pemeriksaan—bisa Anda lihat—tidak ada tulang yang patah, tapi urat syaraf di bagian pinggang ke bawah mengalami syok ringan karena tertabrak. Itu yang menyebabkan kaki Anda lumpuh," kata dokter Jung menjelaskan keadaan Donghae sambil menunjuk foto-foto hasil pemeriksaan Donghae.
"Apa lumpuhnya akan permanen, dok?" tanya Leeteuk yang menemani Donghae.
"Sepertinya tidak, tapi kami akan melakukan city scan lagi setelah Donghae ssi menjalani terapi berjalan selama seminggu untuk benar-benar memastikan keadaannya."
Eunhyuk segera meminta Sungmin membawanya pergi dari situ setelah dilihatnya Donghae yang akan kembali ke kamar setelah menjalani pemeriksaan dan sebentar lagi akan melewati mereka.
"Kau tidak mau menyapanya?" tanya Sungmin.
"Anni. Aku sudah puas melihatnya," jawab Eunhyuk.
Sungmin sangat ingin memberitahu Eunhyuk kalau Donghae sudah tidak marah lagi padanya, tapi ditahannya. Dia ingin memberi kesempatan kepada Donghae untuk menjelaskannya sendiri. Untung saja benturan di kepala Eunhyuk tidak berakibat fatal padanya. Kepalanya kini diperban, juga badannya yang mengalami lebam-lebam di punggungnya.
Hanya ini yang bisa dilakukan Eunhyuk selama beberapa hari ini. Memandangi Donghae dari jauh. Seperti sekarang, dia sengaja meminta perawat untuk tidak menutup pintu ruangan agar dia bisa melihat Donghae yang sedang menjalani terapinya. Eunhyuk menahan keras keinginannya untuk berlari menghampiri Donghae saat dilihatnyanamjaitu hampir terjatuh. Cepatlah sembuh, Donghae!
Donghae sangat merindukan Eunhyuk. Semenjak dia tahu apa yang sebenarnya terjadi hari itu, rasanya dia ingin membenturkan kepalanya ke tembok merutuki kebodohannya kalau saja Siwon dan Shindong tidak menahannya.
"Eunhyuk akan semakin sedih kalau kau menyakiti dirimu sendiri," kata Sungmin waktu itu.
Jeongmal mianhae, Hyukkie. Donghae meminta member yang lain untuk tidak memberi tahu Eunhyuk yang sebenarnya. Dia sebenarnya sangat ingin menjelaskan semuanya sendiri pada Eunhyuk, tapi dia memutuskan kalau lebih baik begini. Lebih baik Eunhyuk marah dan menjauhinya. Dia hanyalah namja pabbo yang dikuasai rasa cemburu—dan lumpuh. Lagipula dia sudah menyakiti Eunhyuk terlalu dalam, tidak hanya fisik, tapi juga hatinya. Dia sangat malu bertemu Eunhyuk saat ini.
"Apa Hyukkie—Eunhyuk sudah sembuh, hyung?" Donghae merasa tidak pantas lagi memanggil Eunhyuk dengan Hyukkie—itu adalah panggilan sayang yang ditujukan untuk Eunhyuk, tapi dia adalah orang yang sudah menyakiti Eunhyuk.
"Kau tahu sendiri Eunhyukkie bagaimana. Dia tidak tahan dengan apa pun yang berbau rumah sakit. Saat dia bangun, dia langsung merengek minta pulang. Apa kau ingin aku menyuruhnya datang?" tawar Leeteuk.
"Tidak usah, hyung, aku ingin Eunhyuk banyak beristirahat. Maukah kau menjaganya untukku, hyung?"
"Tentu saja." Leeteuk sebenarnya kasihan kepada mereka berdua. Kenapa ini bisa terjadi pada kalian? tanyanya dalam hati—entah kepada siapa.
Sesampainya di kamar, Leeteuk segera membantu Donghae naik ke atas tempat tidur.
"Sekarang kau juga istirhatlah. Aku harus pergi, tapi aku akan menyuruh Kyuhyun dan Ryeowook untuk menemanimu."
"Tidak perlu, hyung, aku tahu kalian sangat sibuk. Aku akan baik-baik saja."
"Mereka sedang tidak ada jadwal, Hae."
"Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian."
"Kau tidak akan merepotkan siapa-siapa. Lagipula aku tidak mau Eunhyukkie membantai kami semua karena tidak menjagamu dengan baik."
Donghae tersenyum bahagia mendengarnya. Dia membayangkan Eunhyuk yang marah—tidak—Eunhyuknya tidak akan marah, hanya mengerucutkan bibirnya karena kesal, tapi dia tidak sanggup membayangkan bagian Eunhyuk membantai semua member Super Junior.
.
.
.
LUMPUH
.
.
.
Donghae sudah selesai menjalani pemeriksaan city scannya yang kedua dan dokter Jung meyakinkannya kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah menjalani terapi hingga kakinya bisa lagi digerakkan, Donghae harus mengistirahatkan kakinya selama tiga bulan baru bisa menggunakan kakinya seperti biasa. Karena tidak mau merepotkan member yang lain dengan bolak-balik lokasi syuting-rumah sakit, Donghae memaksa dokter Jung untuk mengizinkannya pulang.
Leeteuk dan yang lainnya memutuskan untuk membuat pesta penyambutan kecil-kecilan. Eunhyuk ikut membantu yang lainnya menghiasi dorm mereka, tapi beralasan keras kalau dia harus berlatih untuk pertunjukkan musikalnya saat Donghae pulang, jadi dia tidak bisa ikut menyambut kepulangan Donghae.
"Selamat datang kembali, Donghae!"
"Selamat datang kembali, hyung!"
"Gomawo, hyungdeul, dongsaengdeul."
Donghae mengedarkan pandangannya, mencoba mencari satu sosok yang sangat dirindukannya, tapi dia tidak menemukannya di manapun.
"Hyukkie sedang ada pertunjukkan musikal, jadi dia tidak bisa ikut menyambutmu, tapi dia membantu memasang hiasan-hiasan di kamarmu," kata Leeteuk yang melihat kekecewaan di wajah Donghae.
"Apa punggung—apa dia tidak terlalu memaksakan diri?" tanyanya khawatir.
"Kau tahu sendiri, hyung, Eunhyuk hyung orangnya bagaimana. Dia tidak mungkin melalaikan kewajibannya, apalagi berhenti menari karena pung—" Ryeowook buru-buru mengubah penjelasannya, "—kau tahu kan, menari dan musik adalah seluruh hidupnya?"
"Sudah, sudah, Donghae baru saja pulang. Pesta penyambutannya sampai di sini saja, kita harus membiarkannya istirahat," suruh Leeteuk.
"Biar aku yang mengantar Donghae hyung ke kamar," tawar Ryeowook yang merasa tidak enak karena menyinggung masalah punggung Eunhyuk yang dipukuli oleh Donghae.
Donghae membiarkan saja Ryeowook mendorong kursi roda yang didudukinya ke kamar. Setelah menanyakan apa ada lagi yang dibutuhkan Donghae dan dijawab tidak ada olehnya, Ryeowook meninggalkan Donghae untuk istirahat.
.
.
.
LUMPUH
.
.
.
"Yoboseyo."
"Selamat malam, Heechul hyung."
"Ne, ada apa Eunhyuk? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Donghae?"
"Anni, hyung. Aku… bolehkah aku memakai kamar tidurmu?"
Heechul sudah mendapat penjelasan mengenai keretakan hubungan antara Donghae dan Eunhyuk. Biasanya dia tidak akan mau mengijinkan siapa pun mengacak-acak kamarnya, tapi untuk saat ini dia tidak boleh egois.
"Ne, pakailah, api jangan mengacak-acak kamarku, arraseo!"
"Ne, hyung. Gomapta. Annyeong."
Eunhyuk mengakhiri sambungan teleponnya. Dia hanya ingin memastikan keadaan Donghae. Dia akan masuk saat Donghae tertidur. Kalau Donghae terbangun di tengah malam, Eunhyuk akan menggunakan kamar Heechul untuk bersembunyi sementara. Setelah memberitahu rencananya kepada member yang lain dan meminta mereka—untuk yang kesekian kalinya—merahasiakannya, dia meminta Shindong untuk memberitahunya kalau Donghae sudah tidur. Leeteuk pindah ke kamar Eunhyuk.
"Maaf merepotkanmu, Shindong hyung."
"Gwaenchana, Eunhyuk. Sepertinya Donghae sudah tidur. Ryeowook mengantarnya ke kamar berjam-jam yang lalu. Aku juga mau tidur dulu ya, Hyuk," lapor Shindong yang sekarang berjalan menuju kamarnya.
"Maafkan aku sudah mengganggu tidurmu, hyung." Tapi sepertinya Shindong tidak mendengarnya karena pintu sudah mengayun tertutup bersamaan dengan permintaan maaf Eunhyuk.
Eunhyuk melangkah hati-hati menuju kamar Donghae. Setelah meyakinkan dirinya sekali lagi, diputarnya gagang pintu yang ada di hadapannya sepelan mungkin. Dia tidak tahu alasan apa yang harus diberikannya kalau sampai Donghae terbangun. Donghae sebenarnya tidak bisa tidur. Pikirannya melayang terus memikirkan Eunhyuk. Dia merasa sangat dekat sekaligus jauh dari Eunhyuk. Dekat karena mereka hanya terpisah satu lantai. Jauh karena dia tidak bisa lagi menyentuhnya seperti dulu.
Ketika didengarnya pintu membuka, Donghae segera menutup matanya dan berpura-pura tidur. Dia tidak mau membuat Leeteuk—yang sekamar dengannya—merasa khawatir kalau melihatnya belum tidur. Eunhyuk melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju tempat tidur Donghae. Dia memutuskan untuk duduk di lantai di samping tempat tidur, takut membangunkan Donghae kalau dia duduk di sampingnya, di atas tempat tidur. Dia mengamati wajah tidur Donghae.
"Jeongmal geuripta, Hae," katanya nyaris berbisik.
Donghae menegang mendengar suara yang selama ini dirindukannya. Dia sudah sangat ingin membuka matanya dan membalas perkataan Eunhyuk, tapi kalau dia bangun sekarang, dia takut Eunhyuk akan segera pergi. Aku tahu aku sudah tidak pantas lagi mendapatkan—bahkan itu sekecil apa pun—perhatian dari Eunhyuk, tapi biarkan Eunhyuk di sini lebih lama, Tuhan. Doanya dalam hati. Donghae mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak cepat agar Eunhyuk tidak curiga. Beruntung cahaya di kamar Donghae remang-remang. Kamarnya hanya diterangi oleh lampu tidur yang berputar-putar menampilkan gambar binatang laut berwarna biru.
Eunhyuk masih setia memandangi wajah Donghae, tanpa sadar dia mengangkat tangannya dan mengusap-usap kepala Donghae. Donghae yang tidak siap mendapat sentuhan fisik dari Eunhyuk refleks menggerakkan kepalanya. Eunhyuk langsung menarik tangannya dan menunduk di samping tempat tidur. Lima belas menit berlalu dan tidak terjadi apa-apa, Eunhyuk memberanikan diri mengangkat kepalanya. Dilihatnya Donghae masih tertidur.
Eunhyuk menghembuskan nafasnya lega. "Huft, nyaris saja. Eunhyuk pabbo!" katanya merutuki diri sendiri. Donghae menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
Kali ini Eunhyuk lebih berhati-hati. Dia menjepit kedua tangannya di antara pahanya agar tidak bisa menyentuh Donghae lagi.
"Nan neomu jeongmal mianhae, Hae. Aku tidak tahu apa salahku padamu, tapi kuharap kau mau memberitahuku kalau kau sudah sembuh nanti."
Nado jeongmal mianhae, Eunhyuk, kata Donghae dalam hati.
"Bersabarlah, Teukie hyung memberitahuku kau bisa berjalan lagi kalau kau rajin mengikuti terapi. Aku memang tidak bisa menemanimu, tapi aku sudah menitipkan pada angin semangatku untukmu, aku harap dia menerbangkannya ke manapun kau berada."
Hyuk.
"Aku hanya memiliki satu hati dan sudah kuberikan padamu. Kalau suatu hari nanti—entah keajaiban apa yang terjadi—kau merindukanku, datanglah padaku. Aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, tapi satu yang kutahu, akan selalu ada Lee Hyukjae untuk seorang Lee Donghae."
Eunhyuk tidak benar-benar menyusun kata-katanya. Dia hanya menumpahkan perasaannya.
"Kau sudah menjadi hidupku dan aku tidak pernah membayangkan bertambah tua tanpamu, tapi lihatlah kita sekarang, seperti dua orang asing. Nan eotteoke, Hae?" Eunhyuk mulai terisak.
Donghae tidak bisa lagi berpura-pura tidur. Dibukanya kedua matanya dan didapatinya Eunhyuk sedang mengusap-usap kedua matanya dengan lengan bajunya.
"Padahal aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi, tapi—"
Eunhyuk tidak melanjutkan kalimatnya karena yang ada di hadapannya kini bukan wajah Donghae yang sedang tertidur, tapi Donghae yang kini sudah bangun dan duduk.
"Mianhae… aku-aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu. Aku akan segera k-keluar." Eunhyuk buru-buru bangkit dan membalikkan badannya, tapi Donghae sudah menahannya dengan memegang tangannya.
"Kau boleh memukulku lagi, tapi kumohon jangan mengatakan apa pun mengenai perasaan yang pernah ada di antara kita. Kau boleh tidak percaya, tapi aku mencintaimu dengan tulus. Kau boleh menghinaku sesukamu, tapi jangan—"
Donghae segera meraih Eunhyuk ke dalam pelukannya. Berhati-hati saat meletakkan tangannya di punggung Eunhyuk.
"Nan neomu jeongmal mianhae, Eunhyuk. Aku sudah menyakitimu."
"Hae… kau sudah tidak marah lagi padaku?"
"Aku tidak seharusnya marah padamu."
Donghae segera menjelaskan kejadian hari itu ketika dia baru pulang dari Taiwan.
"Mianhae… aku seharusnya meminta penjelasan darimu, tapi waktu itu aku dikuasai rasa cemburu dan marah. Aku—aku malah menghinamu dan bahkan memukulmu. Harusnya kau balas memukulku agar aku sadar—"
Eunhyuk malah tertawa mendengar penjelasan Donghae.
"Kenapa tertawa?"
"Kupikir kau sangat membenciku sampai kau tega melakukan itu semua, tapi ternyata kau melakukannya karena cemburu, hahha. Kau lucu sekali, Hae."
Donghae terperangah mendengar jawaban polos yang keluar dari bibir Eunhyuk. Dia tidak pernah menyangka—Eunhyuk bahkan hanya menganggap alasannya konyol dan tertawa karenanya. Terkutuklah aku kalau sampai aku menyakiti Eunhyuk lagi!
"Kau tidak merasa marah sedikit pun padaku?"
"Anni," jawab Eunhyuk masih dengan cengiran di wajahnya.
Donghae menggosok-gosokkan wajahnya di ceruk leher Eunhyuk karena gemas. Eunhyuk merasa geli karenanya.
"Geli, Hae. Apa kau mendengar semua yang kuucapkan dari awal?" tanya Eunhyuk curiga.
"Ne, dari mana kau mendapat kata-kata sebagus itu?"
"Tentu saja dari dalam lubuk hatiku," kata Eunhyuk kesal karena merasa Donghae meremehkan dirinya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bukankah kau bilang hatimu hanya ada satu dan sudah kau berikan padaku? Apa kau punya dua hati?" tanya Donghae—pura-pura—polos.
"Itu—maksudku—aku—"
Donghae melepaskan pelukannya dari Eunhyuk dan malah gantian menertawai Eunhyuk. Eunhyuk semakin mengerucutkan bibirnya. Donghae semakin keras tertawa melihatnya.
"Ya! Hae, berhentilah tertawa!"
Donghae sudah berhenti tertawa, tapi dilihatnya Eunhyuk masih mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kau mempoutkan bibirmu terus, aku akan menciummu," ancam Donghae.
"Dasar ikan mesum! A-akh…" Eunhyuk tiba-tiba meringis kesakitan.
"Gwaenchana, Eunhyuk? Apa punggungmu masih sakit?" tanya Donghae khawatir.
"Anni, gwaenchana," jawab Eunhyuk sambil tersenyum lembut, tidak mau membuat Donghae terlalu khawatir padanya karena Donghae lebih membutuhkannya dalam keadaan sehat dan ceria.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Donghae lagi.
"Sudah tidak apa-apa, Hae-ah."
"Sini, biar aku lihat!"
Eunhyuk sebenarnya tidak mau memperlihatkan punggungnya kepada Donghae. Donghae pasti akan kembali merasa bersalah sementara Eunhyuk merasa baik-baik saja dan tidak marah padanya atas perlakuan kasarnya, tapi diturutinya juga permintaan Donghae.
"Sebaiknya kau berbaring, Hyukkie, agar aku bisa melihat lukamu dengan jelas."
Eunhyuk berbaring menelungkup. "Tidak apa-apa, Hae. Lukanya sudah sembuh, hanya ada beberapa yang masih berbekas," jelas Eunhyuk mencoba menenangkan Donghae.
Tapi tidak begitu yang dilihat Donghae saat mengangkat baju yang dikenakan Eunhyuk dan memperlihatkan punggunggnya. Kulit yang seharusnya putih bersih tanpa cela kini terlihat dihiasi lebam berwarna kehitam-hitaman. Donghae semakin merasa bersalah. Dikecupnya dengan sangat lembut setiap lebam yang menghiasi punggung Eunhyuk. Bukannya mengobati, Donghae malah membuat Eunhyuk mengerang karena kecupannya—walaupun bukan erangan penuh kesakitan.
"Eung…"
Itu suara yang selalu didengar Donghae dalam tidurnya—bahkan saat dia merasa sangat marah pada Eunhyuk—dan sangat diinginkannya.
"Kau tidak sedang menggodaku kan, Hyukkie? Kalau kau merasa sakit, bilang saja."
"Anni, kalau kau berhenti menciumi punggungku, aku tidak akan—eung…"
Donghae kembali menciumi punggung Eunhyuk. Dia tahu seharusnya dia menahan dirinya, tapi dia sudah nyaris gila karena terus memimpikan malam-malam yang mereka habiskan di atas ranjang dengan tubuh telanjang. Dia bergerak untuk menindih Eunhyuk, tapi dirasakannya kakinya yang tetap di tempatnya. Kesadaran itu langsung membungkusnya dan dia berhenti menciumi punggung Eunhyuk. Eunhyuk yang merasa kehilangan sentuhan Donghae berbalik dan menemukan Donghae yang berbaring di sebelahnya sambil memandangi langit-langit.
"Gwaenchana?" tanyanya.
"Kau tahu, aku sudah berharap kau membenciku dan segera melupakanku. Aku tidak akan marah kalau sekarang kau sudah punya penggantiku. Aku sudah merelakanmu, Eunhyuk."
"Aku tidak mengerti, Hae. Apa maksudmu mencari penggantimu?"
Donghae berbalik menatap Eunhyuk, "Lihat aku, aku lumpuh. Aku tidak mungkin menjagamu apalagi memuaskanmu."
"Kau akan segera berjalan lagi, Hae. Kau tidak akan lumpuh selamanya."
"Tapi sampai kapan?"
"Aku tidak akan ke mana-mana atau pun mencari siapa-siapa. Aku akan selalu ada di sisimu. Dan kau tidak benar-benar lumpuh, Hae."
Donghae mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti. Eunhyuk bangun dan turun dari tempat tidur. Dia berjalan memutari tempat tidur dan berdiri tepat di hadapan Donghae. Dipandangnya Donghae dari atas hingga bawah dan berhenti tepat di daerah selangkangannya. Sambil memberi Donghae tatapan seduktif, Eunhyuk mulai merangkak naik ke tempat tidur. Digigitnya daerah tepat ditengah-tengah selangkangan Donghae dari luar. Donghae mengerang tertahan.
"Sudah kubilang kau tidak benar-benar lumpuh kan, Hae!"
Setelah memberikan sebuah kedipan menggoda, Eunhyuk kembali merangkak menindih Donghae. Donghae segera menarik kepala Eunhyuk dan melumat bibirnya dengan ganas. Eunhyuk yang awalnya kewalahan mengimbangi ciuman panas Donghae akhirnya mulai mendominasi. Sekarang bukan waktunya bermanja-manja dengan sentuhan Donghae, kali ini adalah gilirannya untuk memuaskan namjachingunya. Eunhyuk ingin meyakinkan Donghae kalau dia satu-satunya orang yang dicintainya dan akan selalu ada di sampingnya dalam keadaan apa pun. Entah tangan siapa yang melepaskan pakaian yang melekat di tubuh mereka, yang pasti sekarang mereka benar-benar telanjang.
Eunhyuk membantu Donghae duduk dan bersandar di kepala tempat tidurnya dan segera naik ke pangkuan Donghae sambil melipat kakinya, Eunhyuk berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya dan mulai menurunkan badannya perlahan-lahan. Karena gerakan Donghae yang terbatas, Eunhyuk memutuskan untuk memasukkan junior Donghae tanpa penetrasi ke dalam single holenya. Walaupun rasanya sangat sakit, Eunhyuk bersikeras menahannya.
"Pelan-pelan saja, Hyukkie, aku tidak mau menyakitimu lagi walau hanya sebentar," kata Donghae yang melihat ekspresi kesakitan di wajah Eunhyuk.
"Anni, gwaenchana, aku sangat merindukan juniormu di dalam tubuhku," kata Eunhyuk manja.
"Ahh…" desah Donghae setelah juniornya tertanam sempurna di dalam single hole Eunhyuk.
Setelah mendiamkannya selama semenit, Eunhyuk mulai menaik-turunkan badannya di atas pangkuan Donghae.
"Ahh… ohh… ahh…" Eunhyuk mengerang karena gerakannya sendiri.
Melihat keadaan Eunhyuk yang sedang menaik-turunkan badannya dengan keringat yang mulai berjatuhan mengaliri tubuhnya ditambah erangan seksi yang keluar dari bibirnya membuat Donghae bersumpah akan menjadikan Eunhyuk tahanannya selama seminggu segera setelah dia bisa berjalan kembali. Tidak mau hanya menjadi penonton, Donghae meraih junior Eunhyuk dan mengocoknya secepat Eunhyuk bergerak. Tangan yang satunya membantu Eunhyuk menaik-turunkan badannya. Sementara Eunhyuk semakin menggila karena sentuhan Donghae. Rasanya sungguh luar biasa mengingat dia hampir saja kehilangan sentuhan itu untuk selamanya. Eunhyuk klimaks terlebih dahulu disusul Donghae kemudian.
.
.
.
LUMPUH
.
.
.
Mereka bercinta tiga kali. Walaupun mereka tidak bisa mencoba berbagai posisi, tetap saja rasanya luar biasa. Malam itu dihabiskan Donghae dengan menikmati permainan single Eunhyuk. Kelelahan setelah pertunjukkan musikalnya ditambah kegiatan mereka barusan, Eunhyuk jatuh tertidur dengan junior Donghae yang masih tertanam di dalam tubuhnya. Donghae yang tidak percaya dengan malam yang baru saja dihabiskannya dengan Eunhyuk memandangi punggung Eunhyuk dan mulai mengecupnya perlahan dengan sangat lembut, tidak mau membangunkan pemiliknya.
"Kau tahu, Eunhyuk, saat aku pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh cinta padamu. Dan aku tidak bisa membayangkan tidak memilikimu dalam hidupku. Gomapta," katanya masih sambil menciumi punggung Eunhyuk.
Eunhyuk tersenyum sangat bahagia dalam tidurnya.
The End
Sumpah! Aku sudah mencoba untuk membuat bagian NC, tapi gagal terus, jadi ya, beginilah hasilnya. Jeongmal mianhamnida readerdeul.
Big thank's to:
Eunhyuk's Wife Lee Jae En Diaskyu Park Minnie
CocoEUNHYUK Jewel Hyuk ressijewelll
sora tuing-tuing Park Soohee yheryin lee minji elf
anchovy Cie Maknae AdmrHyukkie Hearthyuk
ChaaChulie247 the baby jongie Baby-ya Zae-Hime
elfish lili ceekuchiki
MissELFVIP Arit291 0704minnie Meyla Rahma
Eunhyukkie's nyukkunyuk HaeHyuk'S daughter
Dyna sweetink Haruka el-Q 0212echy
RnR lagi ya
Kota Daeng, 09-11 Februari 2012
