Knowing
.
.
Char : Park Chanyeol, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Kim Jongin.
.
.
.
Happy reading
.
.
Ps. Ini ada perubahan alur yang aneh(?) mengikuti alur otak penulis, tulung dimaafkeun.
.
.
.
"Kau mau menikah denganku tidak?"
Sehun menoleh dan memandang Chanyeol aneh.
"Kau melamarku sekarang?" tanyanya.
Chanyeol menggeleng, memainkan pulpennya dan sedikit melirik dosen Jung yang tengah menerangkan entah apa didepan sana dia sama sekali tidak mengerti karena isi kepalanya hanya terpenuhi oleh ambisinya menikahi Sehun dalam waktu sesingkat singkatnya.
"Tidak, belum maksudku." Chanyeol menghela nafas begitu saja, "Kau tahu, mereka bilang aku masih harus menabung dan mendapat pekerjaan dan blablabla."
Chanyeol sedang melamun ketika tangan Sehun menggenggam tangannya erat. Dia menoleh dan mendapati senyum Sehun yang mampu melelehkan hatinya seberapa seringpun Chanyeol melihat.
"Tentu aku mau menikah denganmu." Sahut Sehun pelan sembari melepaskan genggamannya, sebagai ganti dia memandang intens Chanyeol.
"Jika kau melamarku disini dengan cara tak romantis seperti tadi pun seratus persen akan aku terima." Sehun tergelak pelan. "Tapi kita tidak bisa menikah hanya karena ingin, kau juga harus memikirkan keluarga kita."
Sehun tersenyum sekilas sebelum menghadap depan, "Kukira kau bahkan tidak pernah memikirkan pernikahan."
Chanyeol tersentak karena ucapan terakhir Sehun. dengan cepat dia menggenggam kembali tangan Sehun, membuat si pemilik menoleh padanya.
"Aku memikirkannya." Ucap Chanyeol serius. "Aku sudah memikirkannya sejak kita lulus Sma, tapi aku tidak tahu kalau menikah harus sesulit ini."
Dengan kelembutan, Chanyeol mengelus punggung tangan Sehun. hal hal kecil yang sering mereka bagi berdua. Sejak dulu, perhatian kecil seperti ini memang menjadi hal wajib pada hubungan mereka. Satu hal yang secara tidak sadar membuat hubungan ini berjalan lama.
"Kau sendiri tahu kalau keluargaku mampu membiayai pernikahan semegah milik pangeran inggris sekalipun,"
Suara Chanyeol yang penuh kebanggaan membuat senyum Sehun muncul. Dia tahu tentu saja, kalau Chanyeol adalah salah satu anak keluarga kaya. Yang membuatnya jatuh cinta adalah kesederhanaan keluarga Chanyeol.
"Tapi baru kudengar para perempuan lebih suka kalau calon suaminya yang membiyayai pernikahan, bukan keluarganya. Karena itulah aku baru mulai menabung." Suara Chanyeol semakin memelan.
"Memang sih,"
Jawaban Sehun membuat semangat Chanyeol semakin ciut. Jika dia harus menabung, berarti Chanyeol harus mendapat pekerjaan dalam waktu dekat, kalau tidak, dia tidak bisa menabung dan impiannya menikah dengan Sehun semakin jauh dari tangannya.
"Ngomong-ngomong kau ada apa ingin menikahiku tiba-tiba?"
Chanyeol bisa merasakan pipinya memanas, dengan pelan dia menjawab. "Kupikir kita sudah lama berpacaran, aku sedikit khawatir kalau kau dan aku kelepasan lalu kau hamil sedangkan kita belum menikah."
Mendengar jawaban Chanyeol, Sehun bingung harus bereaksi apa. Tentu dia malu. Chanyeol itu, apa dia tidak punya alasan yang lebih romantis begitu untuk melamarnya? Batin Sehun jengkel.
"Tapi benar, sayang. Aku sudah memikirkan menikahimu sejak lama, bukan karena tiba tiba terinspirasi."
"Kata siapa?"
Dengan menunduk, Chanyeol berucap sekesal-kesalnya mengingat ucapan Baekhyun tempo lalu. "Baekhyun yang menuduhku seperti itu."
"Kalau begitu bisakah kau temui tuan Byun Baekhyun?"
"Baekhyun tidak ada kelas hari ini, Sehun. kau apa sih-" Chanyeol membatu begitu mengangkat kepalanya,
"Maksud saya juga seperti itu, tuan Park Chanyeol. bisa kau temui tuan Byun dan diskusikan keinginanmu menikahi kekasihmu bersamanya selagi saya mengajar?"
Mati lah Chanyeol!
Dosen Jung telah berada di sebelah mejanya dengan mata melotot, disertai dengan wajah menahan tawa milik teman-temannya, juga jangan lupa Chanyeol bisa mendengar suara cekikian milik kekasihnya sendiri, jahatnya~
"Cepat, berdiri Park Chanyeol!"
"Ba-baik"
Dengan gelagapan Chanyeol meraih buku dan tasnya kemudian berlari meninggalkan ruang kelasnya.
Mungkin Chanyeol harus memikirkan untuk mengajak Sehun kesuatu tempat yang sepi untuk membalas kelakuannya tadi dengan tidak memberitahu Chanyeol kalau si dosen Jung menghampirinya. Lalu membalas karena telah menertawakannya tadi.
Tapi yang paling penting, Sehun harus bertanggung jawab memadamkan panas tubuhnya karena perempuan itu berani meremas miliknya sesaat sebelum Chanyeol berdiri meninggalkan kelas tadi.
Ya, hal terakhir merupakan hal yang paling penting bagi Chanyeol.
-====-zzzzz-====
"Aku tidak mau, Park Chanyeol!" raung Baekhyun.
Beberapa orang di kafe yang mereka singgahi menoleh karena jeritan Baekhyun. Mereka menatap tertarik pada Chanyeol dan Baekhyun, berpikir kalau tengah terjadi konflik 'aku-tidak-mau-menikah-denganmu-karena-kau-laki-laki-dasar-homo' sedang terjadi.
Chanyeol sih masa bodoh dengan keingintahuan orang lain. Yang penting baginya kali ini adalah membujuk Baekhyun untuk mau menampung uang tabungannya untuk sementara waktu –waktu yang lama.
"Ayolah, Baekhyun. Kau bisa membantuku." Pinta Chanyeol.
Baekhyun menegakkan tubuhnya dari kursi dan menatap Chanyeol berapi-api. Si bodoh ini telah mengganggu harinya dua kali dengan cara menyebalkan khas Chanyeol.
Setelah pagi tadi menerobos masuk ke rumahnya, beberapa menit yang lalu Chanyeol kembali melakukan hal yang sama.
Setelah insiden ayo-bangun-pagi-buta milik Chanyeol menimpa Baekhyun, pemuda pendek itu tidak bisa lagi memejamkan matanya. Hal pertama yang membuat Baekhyun dengan setulus hati mengutuk Chanyeol selama berjam-jam sambil berbaring putus asa.
Lalu tepat jam delapan lima belas Baekhyun memutuskan membuat sarapan, namun satu hal yang dia lupa adalah kesialannya akan datang berturut-turut ketika Chanyeol datang ke rumanya di pagi buta.
Kulkas Baekhyun kosong dan membuatnya harus berjalan kaki ke supermarket. Tanpa pilihan lain Baekhyun menjalani nasib sialnya dengan pasrah.
Setelah kurang lebih dua puluh menit berjalan, bukannya berbelanja, Baekhyun malah menganga selama bermenit menit didepan pintu supermarket. Terang saja, mana ada supermarket buka dijam ini?
Baekhyun mengutuk Chanyeol kembali karena merasa kebodohan Chanyeol tertinggal di kasurnya dan tidak sengaja terhisap ke kepala Baekhyun ketika dia berguling guling tadi.
Dengan berat hati Baekhyun kembali ke rumahnya dan berniat memasak ramen saja. Padahal kemarin beberapa ramen telah dia makan, jika hari ini dia makan ramen lagi Baekhyun tak bisa menjamin bagaimana nasib ususnya.
Tapi nasib sial memang tetap saja nasib sial. Belum sempat Baekhyun memasukkan kunci, si pembawa sial Chanyeol telah menarik dan membawanya ke kafe seperti beberapa hari yang lalu.
"Aku tidak bisa menghubungi Jongdae, dia sedang riset entah apa itu di amerika."
Baekhyun menghela nafas. Si busuk Jongdae telah menggapai satu mimpinya untuk mendatangi negara favoritnya.
'Riset apanya,' maki Baekhyun dalam hati.
Dengan segenap jiwanya, Baekhyun dapat menjamin kalau alasan sebenarnya Jongdae kesana hanya ingin merasakan menonton film barat di bioskop barat seperti yang Baekhyun ingat pernah diucapkan Jongdae seminggu yang lalu.
"Aku benar-benar mengerti kalau kau memang ingin serius menikahi Sehun."
'Aku kalau jadi kau malah pasti sudah kunikahi sejak lulus sma.' Tambah Baekhyun dalam hati.
Baekhyun tidak munafik dengan mengatakan akan menolak mentah-mentah jika disodori daging segar macam si montok Sehun. Baekhyun sih masa bodoh dengan Chanyeol, dia tidak akan kaget kalau Sehun esok memutuskan Chanyeol karena sifat menyebalkannya.
"Tapi ya kau tahu, kau tidak bisa menabung padaku."
"Aku tidak tahu jadi jelaskan kenapa aku tidak bisa melakukannya." Balas Chanyeol sengit.
Baekhyun mati-matian memutar otaknya. Ucapan yang akan keluar dari mulutnya akan mempengaruhi pagi tenangnya. Salah bicara, habis sudah hari-hari normalnya dan akan terganti dengan hari neraka tak berujung karena didatangi pagi pagi buta oleh Chanyeol.
"Aku tidak mungkin meminta ayahku menyimpannya, dia terlalu sibuk. Apalagi ibuku, dia akan mengejekku setiap hari hingga sisa umurku jika kulakukan." Cerocos Chanyeol. "Jongdae tidak terlalu perhatian dengan uang, jadi aku juga tidak bisa menabung padanya. Bisa-bisa dia lupa menaruh uangku pada hari seharusnya aku menikah."
"Tidak bisakah kau ikut kawin masal saja, yeol." Balas Baekhyun yang tentu saja ditolak mentah mentah dengan pelototan oleh Chanyeol.
Iya, dengan hanya melotot. Mana berani Chanyeol menjitak Baekhyun. Baekhyun itu jika dijitak sekali, balasannya akan terus datang dari matahari terbit hingga terbenam. Chanyeol tidak ingin mengorbankan kepalanya.
"Kau tahu, ada sebuah bangunan tempat untuk menyimpan uang yang telah dibangun sejak bertahun tahun yang lalu. Jika kau tak tahu akan kuberitahu, tempat itu bernama bank yang letaknya bahkan tidak terlalu jauh dari rumahmu daripada dengan rumahku." Ucap Baekhyun setelah memastikan kata-katanya akan menyelamatkan dirinya sendiri.
"Ada batas minimum di bank, Byun Baekhyun." Delik Chanyeol.
"Lalu apa masalahnya? Batas itu tidak ada apa-apanya dibanding uang sakumu, Park Chanyeol."
Chanyeol terlihat ragu untuk beberapa saat. Matanya bergetar sejenak sebelum bersuara.
"Sebenarnya ada action figure yang ingin ku beli, jadi aku berencana menyisihkan uang sakuku."
Baekhyun diam dan itu membuat Chanyeol sedikit takut. Oke, dia bohong. Nyatanya Chanyeol benar-benar takut kalau Baekhyun marah dan memukulnya dengan vas bunga atau semacamnya.
"Kini aku benar-benar tidak mendukung rencanamu menikahi Sehun." ucap Baekhyun tenang yang mengejutkan Chanyeol.
"Baek?" panggil Chanyeol heran dengan nada suara kawannya. "Kau oke?"
"Maksudku, hellooooo action figure, Chan? Sumpah?" tanya Baekhyun.
Chanyeol mengaduk kopinya sebentar sebelum menjawab. "Ya, kau tahu aku benar-benar menginginkannya sejak tahun lalu."
"Lalu apa kau tidak ingin menikahi Sehun? aku ingat kau membicarakan hal ini sebelum kelulusan dan niatmu itu kalah karena kau menginginkan action figure yang kau inginkan sejak tahun lalu?" ucap Baekhyun dengan nada kesal yang kentara.
"Aku juga teman dekat Sehun, dan mendengarmu yang lebih memilih membeli action figure daripada Sehun-"
"Aku tidak menomor duakan Sehun, demi Tuhan Baek!" potong Chanyeol. "Dengar, aku benar benar sudah mengincarnya dan kupikir tidak masalah membelinya sembari menabung untuk menikahi Sehun, lihat, tidak ada yang jadi masalah disini." Jelasnya.
Baekhyun menatap Chanyeol tepat dimatanya selama beberapa detik. "Kau melakukannya barusan, Park Chanyeol. jika tidak, kau tidak mungkin menyimpan semua uang jajanmu untuk mainan bodohmu dan hanya menyisihkan satu, dua dollar untuk menikahi Sehun."
Baekhyun meraih ponselnya dan meletakkan di saku, "Pikirkan dulu, kau akan menghabiskan waktu hidupmu dengan Sehun atau dengan action figuremu." Dia berdiri diikuti pandangan bersalah Chanyeol.
"Kau memang kawanku, tapi aku serius kali ini, Sehun sudah seperti keluargaku, dan aku tidak ingin dia mendapatkan suami yang bahkan tidak bisa memilih mana yang lebih penting sepertimu."
Baekhyun mengakhiri harinya dengan rasa kesal yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang pernah dia duga.
-=-===-=zzz-=-==-===-=-=
Chanyeol memikirkan perkataan Baekhyun berhari-hari. Selama itu pula dia sama sekali tidak berani bertemu Baekhyun dikampus atau bahkan bertandang kerumahnya. Selain takut kalau-kalau Baekhyun akan menyiramkan semacam obat perontok bulu padanya ketika melihatnya didepan pintu rumah, Chanyeol juga sedikit kaget melihat sikap Baekhyun yang baru pertama kali dilihatnya.
"Akhir pekan coba kau ajak Sehun kemari, ibu berencana membuat cookies."
Chanyeol tersadar dari lamunan begitu ibunya meletakkan sepiring buah didepannya. Chanyeol memperhatikan nyonya Park yang tengah mengelap meja makan dengan telaten. Dalam hati dia memuji betapa hebat ibunya yang melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan pembantu. Dan tanpa sadar memikirkan kalau Sehun tentu akan sama hebat seperti ibunya.
"Nak, kau baik? Sepertinya kau jadi pendiam beberapa hari ini. Kau bertengkar dengan Sehun?" tanya nyonya Park.
"Tidak, hanya saja-" Chanyeol sedikit ragu, "Ibu, aku sebenarnya berpikir untuk menikahi Sehun."
Nyonya Park tentu saja menyambut dengan gembira. Wajahnya berseri, membayangkan rumahnya yang akan ramai karena tawa manis calon menantunya ketika mereka berdua berkutat di dapur bersama.
"Tapi bu, aku jadi sedikit ragu." Keluh Chanyeol.
"Kau menyukai perempuan lain, begitu?" geram nyonya Park.
"Bukaaan!" elak Chanyeol. membuat marah ibunya bukanlah prioritasnya kali ini.
"Aku memang serius ingin menikahinya, tapi Baekhyun bilang padaku sesuatu dan aku sudah memikirkan ucapannya, dan yaaaaah-" Chanyeol meremas kedua tangannya sendiri. "Kurasa aku belum bisa bertanggung jawab atas Sehun jika aku melihat perilaku ku sendiri."
Nyonya Park tersenyum. Tak pernah dia sangka jika Chanyeol bisa sedewasa ini saat memikirkan akan menikahi Sehun. sedikitnya dia terharu karena anaknya bisa membicarakan soal tanggung jawab dan sifat Chanyeol yang memang sedikit kekanakan.
"Lalu menurutmu bagaimana?"
Chanyeol memainkan apel ditangannya, diam beberapa detik untuk berpikir.
"Aku tidak tahu. Semuanya terasa... entahlah, bu." Aku Chanyeol.
Nyonya park meraih apel dari tangan Chanyeol yang membuat putranya berhenti melamun dan memandangnya.
"Ibu akan sangat senang kalau kau bisa menikahi Sehun dengan cepat, menyenangkan juga kalau kalian bisa bekerja sama sama dan membangun semuanya dari nol. Tapi sayang," Nyonya Park mengusap kepala anaknya.
"-semua akan lebih mudah jika kau sudah mendapat penghasilan tetap. Dan itu akan lebih pantas untuk Sehun dan keluarganya begitu kau sudah mapan."
Chanyeol masih mengerutkan keningnya, "Aku tidak ingin Sehun bekerja juga. Maksudku, aku ingin jadi kepala keluarga yang membiayayi segalanya, dan aku akan membuatkan toko kue seperti yang Sehun inginkan sebagai hobinya. Maksudku,"
"Ibu mengerti, kau ingin Sehun bekerja bukan untuk memenuhi kebutuhan kalian tapi hanya untuk sekedar hobi, begitu?"
Chanyeol mengangguk. Memikirkan ucapan Sehun tentang impiannya membuka toko kue jika sudah memiliki anak membuatnya tersenyum.
"Lalu menurutmu hal itu akan tercapai kalau kau belum bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri? Menurutmu keluarga Sehun akan senang kalau dia menikah dengan seseorang yang tidak punya pekerjaan? Mungkin mereka lebih memilih menjodohkan Sehun dengan orang lain kalau kau ngotot."
"Ibuuu! Jangan bilang seperti itu!"
Nyonya Park tertawa mendengar Chanyeol. putra kecilnya sudah berubah dan bahkan memikirkan tentang pernikahan. Dan Chanyeol setidaknya membicarakan rencananya, paling tidak dia bisa berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Chanyeol mengungkapkan tanggal pernikahan mereka, paling tidak nyonya Park tidak akan terkena serangan jantung saking kagetnya.
"Jadi masih ingin menikahi Sehun dengan cepat?"
Chanyeol tersenyum, "Aku akan mengatur hidupku dulu, mendapat pekerjaan, dan mapan. Baru aku berani meminta Sehun dari keluarganya."
-===-===-===-zzz====-====-
Chanyeol berjalan terseok menuju Baekhyun yang tengah duduk di bangku taman sambil menulis tugasnya di meja. Sudah empat hari dia tidak berhubungan dengan Baekhyun dan Chanyeol masih takut takut jika si pendek itu masih marah padanya.
Baekhyun mendengar langkah kaki yang terdengar menyebalkan, dia mengangkat wajah dan mendapati Chanyeol dengan wajah suram berjalan kepadanya.
"Hoi, jika ingin berjalan, cepatlah! Suara langkah kakimu mengganggu." Hardik Baekhyun.
Dalam hati Chanyeol menggerutu karena ucapan Baekhyun. Dari segi manapun langkah kakinya sama dengan langkah kaki manusia lain, lalu dari sudut mana Baekhyun dapat menyimpulkan kalau langkah kaki miliknya yang menyebalkan.
"Ku kira kau sudah memikirkan ucapanku selama beberapa hari, jadi katakan padaku kesimpulannya." Ucap Baekhyun begitu Chanyeol duduk didepannya.
Dengan hati hati Chanyeol menyuarakan pikirannya dan apa yang didiskusikan dengan sang ibu. Tak lupa Chanyeol menyaring beberapa pemikiran dan kata kata tak pantas yang kiranya akan memancing amarah Baekhyun.
Baekhyun hanya mengangguk beberapa kali dan bertanya pendek pada Chanyeol. yang mana malah meningkatkan kegugupannya.
"Bagus, bagus, sudah sadar ternyata."
"Aku- aduuh! Baekhyun, apa sih!" Melotot karena Baekhyun memukul kepalanya dengan buku modul tebal.
"Haaah, aku benar benar ingin melakukannya beberapa hari ini, leganyaaa~"
"Jadi kau sudah tidak marah padaku?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menggumam sebentar. Sedikit menyesali karena hari tenangnya hanya berlangsung empat hari. Namun yasudahlah, Chanyeol juga kawannya meskipun menyebalkan.
"Aku memang selalu kesal padamu sih, tapi aku sudah tidak marah, lagipula kau sudah waras."
Chanyeol lega –meskipun sedikit gondok karena kepalanya masih berdenyut- karena ucapan Baekhyun. Meskipun Baekhyun sering main tangan dan main mulut, suka marah marah maksdunya, tapi kecebong kecil itu tetap kawannya.
"Tapi Baek, serius, kau sangat tidak cocok akting seperti kemarin." Jujur Chanyeol.
"Sialan, kau!"
Lalu hari itu ditutup dengan lolongan Chanyeol karena pukulan membabi buta milik Baekhyun.
-====-===-zzzz-====-
Sehun sedang bersila diatas sofa sambil menikmati kartun paginya dengan sekantung keripik kentang ketika Kai datang dan duduk rapat disebelahnya.
"Hei manis, aku merindukanmu." Kai berucap sambil melingkarkan tangannya ke bahu Sehun.
Tanpa terganggu Sehun menyamankan dirinya dalam dekapan Kai sambil menggumam menanggapi. Kai tersenyum akan tingkah Sehun.
"Jadi bagaimana harimu, sayang?" tanya Kai, tangannya sibuk mengelus lembut rambut Sehun.
"Seperti biasa, kau?" balas Sehun.
"Sibuk, banyak hal yang harus dikerjakan dan blabla," desah Kai. "Bagaimana hubunganmu dengan si bodoh itu?"
Sehun menghentikan kunyahannya sejenak, "Dia sudah minta maaf dan seperti akan melamarku."
Kai menarik dirinya spontan yang membuat Sehun mengerang kesal, dengan mata melebar dia menatap Sehun dalam dalam.
"Kau menerimanya?"
Tv dimatikan. Sehun yang melakukannya. Sebagai ganti dia balik menghadap Kai.
"Dia membahas tentang melamarku, dan dia belum melamarku, tentu saja. Jika dia melamarku, harusnya aku setuju kan? Dia kekasihku." Sehun tersenyum lemah.
Kai menatap Sehun dalam dengan pandangan sayu, "Ah, ya tentu saja, dia kekasihmu."
Tanpa kata Sehun menggenggam jemari Kai yang membalasnya dengan lemah. Tersenyum pada Kai seolah menenangkan tanpa menyadari senyumnya sama pedihnya dengan milik Kai.
"Jangan tersenyum seperti itu, kekasihmu tidak akan suka." Kai berucap lirih sambil mengusap sudut bibir Sehun dengan jemarinya yang bebas.
"Ya, dia tidak akan suka."
Hening selanjutnya hampir satu menit. Mereka hanya saling pandang tanpa berniat memecahnya.
"Jongin, aku men-"
"Kita sepupu, Sehun." potong Kai singkat. Pandangannya semakin sayu.
Begitu pula senyum Sehun yang semakin pedih, genggamannya pada Kai melemah. Matanya berair dan tenggorokannya sakit.
"Ya, tentu, bodohnya aku." Balas Sehun.
Dia bangkit dan berdeham, mencoba mengurangi rasa tercekat di tenggorokannya tapi malah kebalikannya yang Sehun rasakan.
"Sebaiknya aku bersiap, aku akan bertemu dengan Chanyeol, dan,"
Ucapan Sehun kembali terpotong, kali ini dengan dekapan erat Kai. Kehangatan tubuh Kai yang melingkupi membuat Sehun tidak bisa lagi menahan air matanya. Meskipun begitu, tak ada isakan yang terdengar selain basah yang dirasakan Kai di bahunya.
"Maafkan aku." Ucap Kai.
Sehun membalas dekapan Kai, "Kau tidak-"
"Karena aku sepupumu."
Ucapan Kai selanjutnya membuat dekapan Sehun semakin erat, pun dengan aliran air matanya.
"Aku juga merasakan perasaan yang sama padamu, sayang. Tapi kita tidak bisa mengucapkan kata itu karena semuanya akan sangat rumit jika kita mengakuinya." Desah Kai.
Kai melepaskan dekapannya dan merasa bersalah ketika melihat air mata Sehun dan pandangan itu. Tapi lebih dari apapun, dia tahu. Dia tidak bisa mengatakan perasaannya pada Sehun begitupun sebaliknya.
Dia menyukai Sehun, lebih dari yang seharusnya. Sehun juga. Namun tentu saja, cerita ini tidak bisa menjadi bahagia jika mereka saling mengakui. Sehun harus tetap dengan Chanyeol dan Kai bisa mengamati dari jauh.
Dan ketika suatu hari perasaan Sehun padanya sudah tidak sama lagi, Kai bersumpah akan melepaskannya. Entah pergi ke luar negeri atau membusuk karena patah hati di sudut kamarnya, siapa yang peduli? Asal dia bisa memastikan kebahagiaan Sehun, tentu tidak akan ada penyesalan untuk Kai.
Tidak masalah bagi Kai kalau dia dan Sehun terluka sekarang, asalkan esok dia bisa melihat Sehun tersenyum dalam dekapan kekasihnya, Kai rasa tidak apa-apa.
Meskipun itu pura-pura, meskipun hatinya sakit, ataupun meskipun akhir baginya tidak bersama Sehun. tidak apa-apa.
"Pergi temui kekasihmu, dia mungkin menunggu." Ujar Kai.
Sehun mengusap wajahnya sekali, "Ya, aku akan-"
Nyatanya Sehun tidak sekalipun menyelesaikan ucapannya karena dia sudah berlari meninggalkan Kai agar pemuda itu tidak melihat air matanya lagi. Namun, tentu Kai tahu. Dia tahu tapi tidak ada yang bisa dilakukan.
Tiga menit berlalu dan Kai mendapati dirinya memandang jemarinya yang bergetar, lalu diiringi tetesan air yang berasal dari matanya. Dia tidak terisak, suara lirihnya yang terdengar.
"Kuharap lain kali aku akan bertemu denganmu melalui cara lain, hunna. Kuharap lain kali."
-====-======zzzz==-======-
"Hey sayang, menunggu lama?"
Chanyeol mengangkat pandangannya dari ponsel untuk memandang kekasihnya yang terlihat manis dengan baju putih dan rok birunya.
"Tidak, tentu saja."
Chanyeol menunggu Sehun selesai memesan kepada seorang pelayan sebelum mengucapkan, "Aku merindukanmu."
Sehun tertawa kecil sebelum membalas dengan kata yang sama untuk kekasihnya.
"Baekhyun menelpon kapan hari dan mengomel tentangmu, jadi apa yang kau lakukan padanya?" tanya Sehun.
Tersenyum kaku Chanyeol menggenggam tangan Sehun, "Kami ada perbedaan pendapat sedikit, tapi tenang saja, semuanya sudah oke dengan si kecil itu."
Dengan gemas Sehun mencubit pipi Chanyeol, "Jangan terlalu jahil padanya, dia akan jadi pengiring pengantin kita suatu saat nanti." Gurau Sehun.
Sejenak Chanyeol berpikir bagaimana mengatakan hasil pertempurannya dengan Baekhyun beberapa hari lalu, tentang tiga hari mencekamnya karena terbayang sikap yang ditunjukkan Baekhyun tanpa membuat dirinya terlihat seperti pihak bersalah.
"Kau ingat kalau aku pernah membahas tentang pernikahan tempo lalu?" Chanyeol akhirnya memulai pembicaraan.
Sehun mengangguk lucu, membuat Chanyeol tidak tahan untuk tidak mengecup bibirnya.
"Jadi aku sudah berpikir dan sepertinya kita harus menunggu beberapa hal daaaaan mengurus tentang sikapku."
"Aku menyukaimu dengan bagaimanapun sikapmu, Chanyeol. Kalau kau berpikir seperti itu, aku sih oke saja." Jawab Sehun dengan senyumnya.
Chanyeol balas tersenyum dan mengelus rambut Sehun. berpikir betapa beruntungnya dia memiliki Sehun disisinya.
"Kau mencintaiku, Chan?" Sehun bertanya.
Meskipun bingung, Chanyeol tetap menjawab pertanyaan Sehun dengan segenap keyakinannya. "Aku mencintaimu."
Sehun tersenyum dan itu membuat Chanyeol melakukan hal yang sama juga. Chanyeol merasa dia semakin yakin akan pilihannya setelah melihat senyum Sehun yang menyejukkan hatinya.
"Menurutmu, apa aku bisa jadi aktris? Bermain peran, maksudku?"
"Kau hari ini aneh, Sayang." Ucap Chanyeol main-main yang dibalas cubitan oleh Sehun.
"Bagaimana? Aku bisa tidak jadi pemain film?"
Dengan tergelak Chanyeol menjawab, "Tidak lah, kau itu orang paling jujur yang pernah aku temui. Cukup jadi ibu dari anak-anakku saja."
"Berarti aku adalah aktris yang hebat, Park Chanyeol."
"Hey!"
Pembicaraan yang selanjutnya terdengar begitu menyenangkan. Dari luar, orang-orang bisa menilai kalau mereka adalah sepasang kekasih yang bahagia. tentu saja, mereka sepasang kekasih kan?
"Aku mencintaimu." Kata Sehun ketika mereka selesai menggoda satu sama lain.
Chanyeol tertawa kembali sambil berbicara tentang betapa anehnya Sehun hari ini hingga tak mendengar ucapan Sehun selanjutnya.
"Aku mencintaimu-"
Ulang Sehun dengan suara yang lebih pelan dengan mata lurus menatap jendela kaca di seberangnya, menatap seseorang yang berdiri dengan senyum pedihnya.
"Kai."
.
.
~end~
Soo, maaf buat perubahan alur yang ekstrem ini. Ya karena, kayaknya, ya gitu deh pokoknya '3'
Kaya mainstream gitu kalo lurus mulus kek pahanya mbak hyorin, jadi dibuat gini deh. –oke aku bohong, ini Cuma gara-gara moodku rusak jadi yaaaaa...
Bagi yang nggak suka, maafkeun saya. Ini hanyalah hasil imajinasi saya.
Oke ini emang aneh, gini nih efek nggak langsung ngetik sekali jadi. Hoho.
Jadi ceritanya pas ngetik bagian atas, mood lagi bahagia dan wuah, eh pas nyelesaiin endingnya kebetulan mood lagi gakaru-karuan dan gabisa dibenerin sedangkan ide udah nggantung di tulang belakang.
Jadi gini deh.
Maafkeun ya gaes.
Ok,akhir kata.
Review juseyo.
Oh sebenernya aku ngga ngarepin review sih, abisnya review akhir akhir ini mengenaskan(?) tapi its ok kok, mungkin emang ide ceritaku yang pasaran dan yaaah blablabla, but its ok. Dan yaaaahh aku berpikir tentang ngehapus akun ffn penuh dosaku dan beralih ke wattpad atau sejenisnya dengan OCku sendiri tanpa ada sangkut pautnya ttg fandom screenplay ini. Itupun kalo jadi, kalo RL lagi surut sih.
Kaya membuat awal yang baru gitu '3' karena kukira ffn sudah sepi sekale 😂 ^3^
Soooo... Ini ff terakhir gitu? Ff perpisahan? Huhuhu cewdieh 😂
Jadi, selamat tinggal kawan kawan, maafkeun segala kekhilafan saya,
