This story is Oda sensei's. If it's mine, then Zoro and Law are mine. Lol..
Terimakasih banyak buat reviewnya. Tetap review ya, biar author bisa terus berkembang.
naomi: Thanks a lot for reviewing. Kalau ada kekurangan tolong kasitau ya.. Maklum, saya masih perlu banyak belajar nih. Moga kamu suka chapter ini ya… Ditunggu reviewnya lagi.. :D
kiloman: Zoro akan muncul di chapter 3. Moga tetap suka ya meskipun Zoro belum muncul.. Makasih reviewnya..
KaizokuGari: Chapter ini masih tentang LawRo, tapi untuk chapter selanjutnya aka nada ZoRobin. Mudah-mudahan masih menikmati ceritanya ya.. Thank you.
Chapter 2. Kaku, my sweet little brother
Kaku merupakan cahaya di hati seorang Robin. Kaku merupakan segala-galanya untuk Robin. Apalagi setelah kedua orang tua mereka, Saul dan Olvia meninggal dalam kecelakaan mobil. Kaku menangis, meratapi kematian ayah dan ibunya. Dan Robin, tidak setetespun air mata yang keluar dari matanya. Bukan karena dia tidak sayang dengan kedua orang tua mereka, tetapi dia hanya tidak ingin Kaku semakin sedih jika melihat kakaknya rapuh.
7 Agustus menjadi akhir dari cinta Saul dan Olvia yang berujung dengan maut. 7 Agustus adalah hari dimana Saul, Olvia, dan Robin yang harusnya memberikan kejutan atas ulang tahun Kaku. 7 Agustus seharusnya merupakan saat yang paling membahagiakan untuk Kaku karena untuk pertama kalinya dia merayakan ulang tahunnya dengan keluarganya yang lengkap. Saul dan Olvia berencana untuk mengambil kue ulang tahun Kaku dan dalam perjalanan pulang mobil mereka ditabrak truk yang menyebabkan kematian mendadak pasangan pengantin yang baru menikah 3 bulan itu.
Telepon rumah Robin pun berdering, mengabarkan kalau jasad Saul dan Olvia bisa dibawa dari RS Grand Line. Robin yang mengangkat telepon itu terduduk lemas dan menatap kosong ketika sebuah tangan kecil meraih pipinya dan bertanya dengan khawatir, "Kak Robin kenapa?" Robin pun tersadar dari lamunannya, dia meraih tangan adiknya itu dan bergegas ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Robin tidak berkata apa-apa. Bahkan Kaku pun sepertinya sadar kalau kakaknya itu tidak berniat untuk berbicara dulu padanya dan dia hanya diam, mengikuti tingkah Robin.
Rumah sakit Grand Line adalah rumah sakit ternama dan megah. Koridor panjang dan elite dilalui kedua anak yang baru saja menjadi yatim piatu itu. Fasilitas yang memadai pun bisa ditemukan di rumah sakit ini. Ketika sampai ke ruang jenazah, Kaku berteriak dan menangis sekeras-kerasnya. Robin hanya menatap kosong ke jenazah kedua orang tuanya sambil mengelus-ngelus punggung adiknya.
Pada saat pemakaman, Robin hanya diam dan Kaku pun tidak mengeluarkan air matanya lagi. Kaku diam-diam sudah melihat kakaknya menangis di dalam kamarnya saat malam hari. Menangis dan memukulkan kepalanya ke sisi meja untuk menyesali apa yang sudah terjadi. Esoknya, Robin memberi alasan kepada Kaku kalau dia tidak sengaja menabrak pintu kamarnya, dan Kaku berhasil membuat kakaknya percaya kalau alasan gadis cantik itu bisa dipercaya.
Law adalah satu-satunya teman sekolah Robin yang datang ke pemakaman. Law ikut menatap Robin dengan sedih. Tidak ada yang tersirat dari mulut Law, hanya kehadirannya yang membuat Robin sedikit melupakan kesedihannya. Law, laki-laki yang saat ini sudah menjadi kekasih Robin.
Kedua anak yatim piatu itu pulang ke rumah dengan sedih. Robin berjanji akan selalu membahagiakan Kaku, akan menjadi ibu dan ayah bagi adiknya, dan tidak akan pernah meninggalkannya. Kaku berjanji kepada kakaknya bahwa dia akan selalu menjaga Robin dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kakaknya. Mereka hidup berdua tanpa belas kasihan siapapun.
3 SMA merupakan masa-masa paling indah buat Robin dan Law. Mereka merupakan pasangan paling romantis yang pernah ada. Kadang-kadang Law memberikan bunga kepada Robin. Adakalanya juga dia menyanyikan lagu cinta untuk Robin. Makan bersama, berangkat ke sekolah bersama, dan pulang selalu bersama. Gadis itu pun menjadi sering tersenyum.
Saat malam minggu, mereka sering berkencan. Kadang mengajak Kaku, kadang juga hanya mereka berdua. Kadang mereka bercerita, kadang hanya duduk terdiam sambil menikmati kebersamaan mereka. Satu hal yang tidak Robin ketahui, yaitu tentang keberadaan orang tua Law. Law seakan tidak mau cerita tentang orang tuanya pada Robin dan gadis itu sangat memakluminya karena setiap orang punya suatu rahasia yang tidak mau diceritakannya pada orang lain. Selama ini Law hidup sendiri di apartemen kecil, dan kadang-kadang Robin datang menemaninya.
"Robin-ya, kau terlihat seksi saat mengenakan bajuku." Ucap Law sambil memandangi kemeja putih besar yang melekat di badan gadis ramping yang sangat dicintainya itu.
Robin pun mendekat pada Law yang sedang duduk di sofa besar miliknya dan menempatkan dirinya di antara sela-sela kaki Law. "Benarkah? Fufufu." Tanpa menunggu jawaban dari Law, Robin pun mendekatkan wajahnya ke wajah Law dan menciumnya. Ciuman yang begitu intens itu terjadi terus-menerus sampai mereka berdua kehabisan oksigen. Robin lah yang lebih dulu melepaskan diri dari Law.
"Ok, kali ini aku menang. Dan sebagai hukuman, aku tidak akan membiarkanmu terlelap malam ini. Kau mengerti?" Law tersenyum lebar. Robin langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak hari ini Law. Kau tahu kan aku tidak mungkin meninggalkan Kaku seorang diri di rumah? Aku akan pulang sebentar lagi. Kaku akan menangis saat dia bangun dan tidak menemukanku." Ucap Robin seraya berdiri, tapi kemudian tangannya ditarik oleh Law dan Robin kembali jatuh ke pelukan Law.
"Tidak bisakah sekali ini saja?" Tanya Law dengan muka memelas. Robin hanya tersenyum dan menciumnya lagi. Kali ini ciuman mereka terlihat lebih bergairah dari yang sebelumnya. Robin memasukkan lidahnya untuk berpacu dengan lidah Law. Cukup lama sampai mereka terengah-engah dan saling menatap. "Hanya sekali ini saja. Kita lakukan dengan cepat. Setelah itu, meskipun kau merantaiku, aku akan tetap pergi menemui Kaku. Kau setuju?" Law tidak akan melewatkan kesempatan ini. Langsung saja Law mengangguk dan mencium Robin untuk ke sekian kalinya. Pakaian yang melekat di tubuh mereka pun tergeletak begitu saja di lantai.
Jam menunjuk ke angka 10 malam ketika Robin melepaskan sepatunya dan mengunci pintu rumahnya. Saat masuk ke rumah, Robin tersenyum melihat seorang anak laki-laki dengan piyamanya yang sedang mengucek matanya selepas bangun tidur. Anak laki-laki itu membalas senyum kakaknya, kemudian memandang ke atas memperhatikan jam. "Ah, kakak pasti dari tempat kak Law. Bermesraan dan kakak buru-buru pulang karena takut aku menangis mencari kakak. Kak Law pasti sangat membenciku sekarang. Begitu kan?" Tanya Kaku geleng-geleng kepala sambil membayangkan seberapa jengkel Law terhadap dirinya. Anak ini memang selalu tahu apa yang dilakukan oleh Robin. Dia selalu bersikap seperti orang dewasa. Robin pun tertawa melihat sifat sok dewasa adiknya.
"Fufufu.. Tidak ada hal yang bisa disembunyikan darimu. Minta maaflah pada Law besok. Dan sekarang, saatnya kembali tidur karena besok kau harus ke sekolah." Ucap Robin tersenyum kepada adiknya sambil menggandeng tangan adiknya menuju ke kamar sang adik.
Tiap pagi, Law pergi menjemput Robin dan Kaku untuk ke sekolah bersama. Robin menggandeng tangan kiri Kaku, dan Law menggandeng tangan kanannya. Mereka terlihat seperti orang tua Kaku. Kaku sangat menyayangi Law karena dia tahu bahwa Law akan melakukan apapun untuk membahagiakan kakaknya. Bagi Law, Kaku sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Meskipun anak itu senang menjailinya dengan mencampur roti yang paling tidak disukainya ke dalam makanannya.
Semua kebahagiaan itu berakhir hanya karena sebuah koran. Koran yang memuat tentang kebebasan seorang pembunuh berantai, Crocodile. Law menggenggam erat koran itu dengan geram. Robin yang penasaran dengan tingkah laku kekasihnya itu pun menarik koran itu dari pegangan erat sang pacar dan membaca berita itu. Terlontar kata ayah dari bibir Robin yang membuat mata Law terbelalak.
"Kenapa kau menyebut pembunuh itu sebagai ayah?" Tanya Law menatap lurus ke arah Robin sambil berharap perkiraannya salah.
"Dia ayah biologisku. Maaf selama ini aku tidak pernah menceritakannya padaku. Selama 10 tahun ini aku dan ibu berusaha untuk melupakan semua tentang pria itu, tapi walau bagaimanapun darahnya tetap mengalir dalam tubuhku. Aku tidak dapat memungkirinya." Robin menjelaskan pada Law dengan kepalanya tertunduk memandang lantai.
Law sangat terkejut dengan kenyataan yang ada. Berulang kali dia berkata dalam hatinya kalau semua yang dia dengar hanyalah mimpi. Berulang kali dia memukul mukanya supaya terbangun dari mimpi buruk ini. Tapi yang dia rasakan adalah sakit. Sakit ketika semua kebahagiaan itu harus berakhir. Dengan berat hati dia berkata, "Aku tidak pernah akan bisa membencimu, tapi akupun tidak akan bisa membayangkan bahagia bersamamu tanpa rasa penyesalan yang mengikatku. Aku akan selalu merasa bersalah kepada kedua orang tua dan adikku jika aku melanjutkan hubungan kita. Dia! Ayahmu itu adalah pembunuh orang tua dan adikku. Maafkan aku." Pelukan terakhir itu masih melekat jelas di ingatan Robin. Robin hanya diam mengangguk. Tidak ada air mata yang menetes lagi. Dia tidak mau terlihat lemah. Law pun demikian. Mereka melanjutkan hidup masing-masing sampai hari terakhir sekolah tiba.
"Kudengar Robin si kutu buku itu telah dicampakkan oleh Law. Akhirnya, hari membahagiakan untukku telah tiba. Aku sudah memperkirakan kalau hubungan mereka tidak akan bertahan lama." Terdapat segerombolan fans wanita yang sedang membicarakan Robin dan Law seraya berbisik. "Kau tahu? Aku tidak pernah suka sama si kutu buku itu. Dia sudah merebut Law dari kita." Ucap yang lainnya. "Kemarin aku mendengar percakapan Law dan kepala sekolah. Mereka membicarakan tentang Law yang akan melanjutkan kuliahnya ke Amerika untuk mengambil fakultas kedokteran. Dan kau tahu? Yang paling membahagiakan adalah Robin tidak akan ikut bersamanya." Mereka tertawa. Robin yang lewat dan mendengarkan percakapan mereka hanya diam dan mengacuhkan apa yang dia dengar.
Sakit ketika takdir harus mempermainkan mereka. Lebih sakit daripada luka yang disebabkan oleh lemparan batu tetangga-tetangga di Ohara dulu. Lebih sakit daripada panggilan "anak iblis" yang dilontarkan oleh warga Ohara padanya. Bahkan lebih sakit daripada ketika teman sekelasnya mem-bully nya. Sakit itu sampai hampir membuatnya ingin mati saja. "Kaku" terlintas wajahnya di dalam pikiran Robin. Kenapa dia begitu bodoh? Kaku adalah satu-satunya keluarga yang dia punya dan tidak mungkin dia meninggalkan Kaku seorang diri. Robin sudah berjanji.
Setelah upacara kelulusan mereka, Robin dan Law tanpa sengaja bertemu di koridor tepat dimana Law pertama mencium Robin. Robin dan Law saling memandang tapi juga saling menarik diri.
"Aku akan ke Amerika besok. Aku harap kau mau mengantarku ke bandara." Berhenti sejenak. "Sebagai teman. Aku harap kita selamanya akan menjadi teman." Law pun beranjak pergi meninggalkan Robin. Rasa kecewa dirasakan oleh Robin. Dia tahu, mereka tidak mungkin bersama seperti dulu lagi. Dia tahu, untuk kesekian kalinya dia tidak akan bisa bersama Law lagi. Mereka hanya akan menjadi kenangan.
Hari keberangkatan Law pun tiba. Robin masih di rumahnya, menyibukkan diri dengan memasak, mencuci, mengepel, tanpa memikirkan keberangkatan Law. Robin menutupinya. Sebenarnya, dia sangat peduli dengan keberangkatan Law. Dia berbohong. Dan Kaku tahu hal itu.
"Kakak sangat ingin mengantar kepergian kak Law kan? Jujur saja padaku." Tanya Kaku sambil menarik-narik baju Robin. Robin tidak berani memandang adiknya. Dia hanya melanjutkan pekerjaannya mengepel.
"Kakak tidak usah berbohong padaku. Semua terlihat jelas. Kakak sekarang sedang berpura-pura menyibukkan diri padahal kakak ingin menarik tangan kak Law dan menyuruhnya untuk tidak pergi kan?" Kaku tidak menyerah begitu saja. Dia terus saja menarik-narik baju Robin. Sedangkan Robin tetap mengacuhkannya.
"Mau sampai kapan kakak berpura-pura supaya terlihat tegar di depanku? Saat orang tua kita meninggal juga. Kakak berpura-pura kuat di depanku. Tidak menangis sedikitpun, padahal di dalam hati kakak menangis. Kakak tidak sengaja menabrak pintu kamar? Bohong. Aku lihat, kakak menyakiti diri kakak karena kakak tidak bisa menahan rasa sakit kehilangan mereka. Dan sekarangpun begitu, kakak tetap berpura-pura supaya aku tidak mengkhawatirkan kakak. Jika ada yang ingin kakak sampaikan pada kak Law, maka sampaikanlah! Masih ada kesempatan untuk mengeluarkan isi hati kakak. Seandainya setelah itupun kakak akan ditolak kak Law, aku yang akan menangis bersama kakak. Dan keesokan harinya, pasti akan lebih baik lagi." Kaku mengeluarkan isi hatinya dengan suara bergetar. Dia menatap tajam ke arah Robin. Robin yang tersentak akan kata-kata Kaku pun balik memandangnya. Robin menjatuhkan kain pel nya, meraih tangan Kaku dan berlari masuk ke dalam taksi yang menuju ke arah bandara. Mungkin Robin memang bukan orang yang pandai mengeluarkan emosinya, tapi kepolosan Kaku membuatnya semakin yakin dengan keputusan yang diambilnya.
Mata Robin dan Kaku sedang mencari-cari keberadaan Law. Mereka sudah tiba di bandara 5 menit yang lalu, tapi belum menemukan Law. Robin berlari sambil menggandeng tangan kecil Kaku dengan nafas terengah-engah. Kaku langsung berteriak nama Law ketika matanya meraih sosok Law. Law menoleh kepada mereka dan tersenyum.
Robin mencoba mengambil nafas sebelum membuka mulutnya. Sangat banyak yang ingin disampaikan Robin kepada Law. Kali ini, dia bersumpah akan mengutarakan semuanya pada Law. Dia melepaskan tangan Kaku, mendekati Law dan mencium Law. Bibir mereka bersentuhan. Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya mereka tidak merasakan hangatnya temperature tubuh mereka. Robin dan Law tidak dapat dipungkiri, sangat merindukan saat-saat kebersamaan mereka. Mereka saling memisahkan diri.
"Semuanya dimulai dan akan diakhiri juga dengan ciuman. Aku tahu, aku tidak akan bisa mencegahmu untuk pergi meskipun aku memohon padamu. Jangan melakukan hal yang akan membuatmu menyesal dengan bersamaku. Aku tahu kita tidak akan mungkin bersama lagi, tapi ingatlah, aku akan selalu mencintaimu. Kenangan-kenangan kita pasti akan selalu kusimpan di hatiku." Robin menutup matanya, menghela nafas, dan membuka matanya kembali sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku ingin kau bahagia. Selamanya." Robin memegang tangan Law yang begitu hangat, menggandengnya, dan melepaskannya lagi. Mereka berdua saling tersenyum.
Robin memandangi langit yang sudah tidak tampak pesawatnya lagi. Memandangi dengan penuh arti. Robin kemudian jongkok di hadapan Kaku. Dia memeluk Kaku dengan sangat erat. Dan untuk pertama kalinya, Robin menangis di depan Kaku. Robin menyerah pada adiknya yang sangat manis itu.
Ok. Done! Too much pressure for chapter 2. Next, chapter 3. Zoro's there. See ya!
