The characters here belong to Oda sensei. Everything about One Piece is Oda's.


Naomi: Makasih. Semoga percakapan chapter ini memuaskan ya... Dulu punya pengalaman bikin cerita dengan full percakapan, tapi kayaknya malah banyak yang kurang suka soalnya kelihatan kurang nyata. Makanya sekarang lebih banyak dibikin penjelasannya. Tapi tetap terimakasih sarannya. Mudah-mudahan bisa lebih bagus lagi. Ah ya, Naomi lebih suka Robin sama Law atau Zoro kah? :D

KaizokuGari: Selamat menikmati Zoronya ya... Semoga Zoro dan karakter lainnya gak OOC ya. Thank you.

piranha19: Makasih sarannya. Semoga makin baik ke depannya.

Muhammad591: Makasih sudah sabar menunggu chap3 nya. Author sangat senang pas baca ada yang menunggu kelanjutannya. Ini memberi motivasi bagi author untuk semangat memberikan cerita yang lebih seru lagi. Makasih banyak ya...

Hanabi no Sakura: Terimakasih sudah di follow dan di favorit-in ya? Ditunggu reviewnya.. :D


Chapter 3. A green haired swordman called Zoro.

Sebelas tahun berlalu semenjak keberangkatan Law ke Amerika. Robin dan Kaku menjalani hidupnya dengan sangat baik. Mereka selalu bahagia. Robin pun sangat sukses memerankan sosok ibu dan ayah bagi Kaku. Karir Robin sangat cemerlang. Dia menjadi seorang peneliti sesuai keinginannya. Sedangkan Kaku, dia tumbuh dengan sangat baik dan menjadi seorang mahasiswa fakultas sipil. Dia juga sangat aktif dalam mengikuti kegiatan di kampusnya. Selain menjadi ketua OSIS, dia juga ikut dalam extrakulikuler olahraga pedang di kampusnya. Dia sangat mahir dalam bermain pedang, setidaknya nomor dua paling mahir.

Roronoa Zoro adalah yang paling mahir diantara yang termahir di kampus mereka. Pendekar pedang dengan rambut berwarna hijau itu menjadi idola di kampusnya. Dia disukai oleh gadis-gadis dan disegani oleh para lelaki. Zoro mengambil jurusan sejarah. Baik, sebenarnya bukan keinginan Zoro untuk mengambil jurusan itu karena dia tidak pandai dalam semua mata pelajaran hafalan. Ayah Zoro, Mihawk lah yang memaksa Zoro yang dimarahinya bodoh itu untuk mengambil jurusan sejarah supaya Zoro tahu semua sejarah di Grand Line.

Kaku dan Zoro berteman baik sejak kenal pertama kalinya di gedung olahraga kampus. Mereka sama-sama punya ketertarikan dengan pedang. Mereka juga sama-sama populer. Selain itu, mereka betul-betul jauh berbeda. Kaku, selain pintar dalam olahraga, dia juga pintar dalam pelajarannya, sedangkan si pendekar berambut hijau dan bertubuh kekar itu hanya pintar dalam masalah pedang, pelajaran nihil. Bukan berarti Zoro itu bodoh, tapi dia hanya kurang tertarik saja, sehingga selama pelajaran dia lebih sering tidur.

Kaku juga menjadi sangat dekat dengan teman-teman dekat pendekar pedang berambut hijau yang selalu membawa tiga buah pedang itu. Luffy, si anak penyuka daging yang ceria. Usopp, "kembaran" Kaku yang sama-sama punya hidung panjang yang senang berbohong. Nami, gadis berambut orange yang seksi tapi pemeras. Dan Sanji, si koki mesum yang setiap harinya bertengkar dengan pendekar pedang berambut hijau itu.

Teman-teman yang unik memang. Mereka selalu berkumpul di bar Sunny-go milik om-om yang tidak kalah mesumnya dari Sanji bernama Franky dan Brook tiap jumat. Mereka dijuluki "kelompok topi jerami" karena ketuanya, Luffy, selalu memakai topi jerami kemanapun dia pergi.

Hari jumat pun tiba, saatnya kelompok topi jerami untuk kumpul. Zoro kali ini mengajak Kaku pergi bersamanya. Seperti biasa, suasana tidak pernah hening karena si pembuat onar, Luffy dan Usopp selalu melakukan aksinya. Kali ini mereka memasukkan sumpit ke dalam hidung dan mulutnya sambil menari-nari. Karena aksi joroknya, Nami memukul kepala mereka berdua. Sanji yang melihatnya langsung berputar-putar ke arah Nami sambil memujinya cantik.

"Nami-swann... Kau semakin cantik kalau sedang marah-marah. My love my valentine." Sanji seakan terlihat seperti mengeluarkan asap dari hidungnya dan matanya pun kelihatan berbinar-binar saat memuji Nami. Nami tentu saja tidak memperdulikannya.

"Heh... Koki mesum." Ejek Zoro sambil meminum sakenya dan tersenyum menyeringai.

"APAAAAA? Marimo bodoh." Balas Sanji.

"Aku bilang kau mesum, dasar alis pelintir!"

"Rambut rumput."

"Tukang mimisan."

"Tukang tersesat." Yah, begitulah mereka. Ejek-ejekan itu terus berlanjut sampai Nami memukul kepala mereka berdua. Cuma si penyihir itu yang bisa menghentikan kebodohan teman-temannya.

Kaku memandangi mereka dengan mata terbelalak seakan tak percaya kalau dia mempunyai teman-teman seunik mereka.

"Kau tidak perlu terkejut seperti itu. Si bodoh itu memang selalu seperti itu." Ucap Zoro dingin sambil menuangkan sake ke dalam gelas Kaku setelah pertarungan sengitnya dengan si mesum Sanji. "Hmm.. Kau juga sama bodohnya." Perkataan Kaku itu hampir membuat Zoro menyemburkan sake dalam mulutnya. Dia memandang tajam ke arah Kaku. Kaku pun hanya tertawa sambil melanjutkan perkataannya. "Kalau kakakku bertemu dengan kalian, dia pasti akan langsung menyukai kalian semua." Ucapnya sambil tersenyum. Zoro memandangnya. Dia tahu, Kaku begitu menyayangi kakaknya itu. Sangat terlihat jelas betapa berseri-serinya Kaku ketika membicarakan kakaknya. Zoro ikutan tersenyum melihat partner berlatih pedangnya itu. "Sister complex."

Kali ini giliran Kaku yang hampir menyemburkan minumannya. Pipinya tampak merah merona. Sambil berteriak untuk menyembunyikan rasa malunya, dia terbata-bata berkata, "K..Kau juga pasti akan menyukai kakakku kalau bertemu dengannya. Dia cantik, pintar, dan baik. Jangan mengemis-ngemis padaku untuk merestui cinta sepihakmu itu kalau sampai kau jatuh cinta padanya ya?" Teriakan Kaku hanya ditanggapi dengan senyum seringai oleh Zoro saja. "Jangan sampai menyesal." Tambah laki-laki berhidung panjang itu.

Telepon Kaku pun berbunyi. Di layarnya tertulis nama Robin. Tanpa ragu, Kaku pun langsung mengangkat telepon kakaknya itu dengan berseri-seri. "Halo Kak?"

"Kau sedang bersama teman-temanmu ya?" Tanya Robin dari kejauhan sana.

"Iya, kak. Kami lagi makan di bar dekat kampus. Luffy dan Usopp sekarang sedang bikin pertunjukan acrobat dengan memasukkan sumpit ke hidung mereka. Sanji sedang berusaha merayu Nami, sedang Nami terus mengabaikannya. Ah iya, selain itu temanku yang bernama Zoro sedang duduk di sebelahku sambil minum sake. Dia bilang, dia ingin berkenalan dengan kakak. Dia ingin berbincang dengan kakak. Ini dia." Ucap Kaku dengan sengaja, dia langsung mengoper teleponnya ke si rambut hijau.

"Oh, sial. Kaku benar-benar kurang ajar." Batin Zoro.

"Emm... Hai." Sapa Zoro pendek.

"Hai Zoro-kun. Senang berkenalan denganmu." Terdengar suara lembut dan dewasa di seberang telepon.

"Hmm." Jawab si pendekar pedang dengan singkat.

"Fufufu... Benar-benar seorang pendekar pedang. Tidak suka berbasa-basi. Sangat menarik." Ucap Robin dengan tawa ciri khasnya. "Ah iya, besok malam aku ingin mengundang kalian untuk makan malam di rumah. Aku sangat penasaran dengan kalian, terutama padamu, Kenshi-san." Lanjutnya. "Oh, jangan lupa untuk selalu mengikuti temanmu saat perjalanan ke rumah kami. Aku dengar dari Kaku bahwa kau sering tersesat. Fufufu..."

"A... Apa? Aku bukan tersesat, hanya saja tempatnya yang selalu berpindah-pindah." Ucap Zoro seraya berteriak untuk menutupi rasa malunya. Mukanya sudah tampak merah padam.

"Baiklah. Aku tunggu. Fufufu..." Sepertinya nada dari suara Robin masih seakan mengejek Zoro.

(Zoro's POV)

Wanita ini sedang mengejekku. Cih... Kakak beradik ini sama saja. Mereka berdua benar-benar ingin menantangku.

(General POV)

Setelah Robin menutup teleponnya, Kaku kemudian tersenyum pada Zoro. "Berani taruhan, kau pasti jatuh cinta pada kakakku." Zoro memperhatikan kata-kata Kaku dengan bengong, tapi dia berpikir tidak ada salahnya untuk menerima tantangan itu. "Tantangannya kuterima." Zoro tersenyum menyeringai. Dia hanya berpikir, mungkinkah seorang wanita bisa membuatnya jatuh cinta sedangkan dia belum pernah merasakannya sampai sekarang? Dia sangat merasa tertantang.

"Apa yang akan kau berikan padaku jika kau kalah?" Tanya Kaku penasaran.

"Aku akan memenuhi apa saja permintaanmu."

(Kaku's POV)

Zoro sudah masuk dalam jebakan. Aku yakin dia akan tertarik dengan kakakku. Laki-laki bodoh mana yang bisa menolak pesona kakakku. Dia begitu cantik, seksi, pintar, dan sukses. Wanita sempurna yang tiada duanya, tapi Califa juga tidak kalah cantik dengan kak Robin. Sudah dua tahun aku menaruh hati padanya. Aku sudah berusaha mengutarakannya, tapi dia tidak pernah memandangku karena dihatinya cuma ada si brengsek Lucci. Laki-laki itu benar-benar tidak pantas untuk Califa. Dia selalu bertindak tidak sopan terhadap Califa. Aku sering melihatnya memukul Califa. Aku bahkan hampir mau mengajaknya bertarung secara jantan tapi Califa menghalangiku dan bilang akan membenciku seumur hidupnya jika aku sampai melukai Lucci sedikitpun. Saat itupun aku berpikir untuk mendapatkan hati Califa, bagaimanapun caranya.

Zoro dapat membantuku. Lucci selalu takut padanya. Dia akan menuruti Zoro untuk meninggalkan Califa jika dia memintanya. Dan aku akan bisa meyakinkan Califa untuk jadi pacarku.

(General POV)

"Hmmm... Bagaimana kalau kita bikin kesepakatan?" Zoro mulai penasaran dengan kesepakatan yang dimaksud Kaku.

"Kesepakatan apa?" Tanya pendekar pedang itu dengan rasa penasaran.

"Jika aku kalah, aku akan membelikanmu sake selama sebulan." Wajah Zoro langsung bersinar ketika Kaku menyebutkan akan membelikannya sake yang disukainya selama sebulan. Tapi satu sisi, dia merasa ada yang janggal dengan anak ini. Perasaannya mulai tidak enak karena dia merasa akan ada bencana yang akan datang, tapi entah apa itu.

"Tapi jika aku menang, kau harus membantuku memisahkan Califa dan Lucci dan mendukungku mendapatkan Califa. Kau tahu kan kalau aku sudah menyukainya sekian lama? Dia selalu mengabaikanku padahal aku akan berkorban apa saja jika dia menerimaku." Ucap Kaku menggebu-gebu.

Ternyata benar pemikiran Zoro. Dia sudah tahu kalau Kaku akan menyuruhnya melakukan apa yang dibencinya. Dia tahu kalau Lucci sering memukul Califa, tapi itu karena Califa itu murahan. Wanita itu selalu menjadi parasitnya Lucci. Dia selalu minta dibelikan barang mewah. Dia tidak mungkin mau meninggalkan Lucci karena dia adalah pewaris salah satu perusahaan besar di Grand Line. Karena hal itulah, dia mudah dimanfaatkan oleh Lucci yang seorang playboy. Meskipun begitu, Lucci sangat menyegani Zoro atau lebih tepatnya takut padanya. Bukannya apa, waktu mereka kecil, hidung Lucci yang mancung patah gara-gara Zoro memukulnya. Demi membalas dendam, laki-laki berambut ikal hitam itu pernah menyuruh anak buahnya untuk mengeroyok Zoro dan hasilnya nihil. Anak buah Lucci yang berbadan besar semuanya pingsan dihajar Zoro yang saat itu sudah pandai memainkan pedangnya. Yah, keluarga Roronoa memang terkenal dengan kelihaiannya dalam berpedang.

Mihawk adalah ayah Zoro yang terkenal sebagai pendekar pedang no.1 di dunia yang belum pernah terkalahkan sampai sekarang, dan Zoro anaknya, bukan orang yang dapat dipandang sebelah mata. Dia sudah menjuarai turnamen pedang untuk anak seumurannya dan dia tidak pernah kalah sekalipun, jadi wajar saja kalau Lucci sangat takut kepada Zoro.

Lucci sebenarnya bukan orang yang jelek. Dia termasuk laki-laki yang lumayan tampan dan tampak dewasa. Dia tampak sangat elegan dengan setelan jas hitam bermerk yang membuatnya kelihatan berkelas. Dia bisa dibilang orang yang sangat dingin dan tidak pernah menampakkan emosinya kepada orang lain, tapi tidak dengan Zoro karena dia selalu menampakkan ekspresi takut ketika bertemu dengan Zoro. Pria beralis lengkung ini sangat berambisi untuk mewarisi perusahaan perkapalan milik ayahnya.

Zoro berpikir sangat keras untuk menerima tawaran Kaku. Dia sangat tidak rela untuk membantu Kaku berpacaran dengan Califa, tapi tawaran sake itu begitu menggiurkan. Ah tapi, mana mungkin dia mau menukar temannya dengan sake? Begitulah pikirnya. Tapi tidak mungkin juga dia bisa semudah itu kalah. Zoro sangat dilema memikirkan tawaran ini. Dia bolak-balik memutar otaknya untuk menerima atau menolak tawaran ini. Sampai akhirnya dia mengambil keputusan untuk menerima tantangan itu karena dia yakin akan menang.

"Baiklah, aku setuju dengan tawaranmu." Sontak hal itu membuat Kaku senang bukan kepalang.

Selang 5 detik, Kaku pun berteriak. "Teman-teman.." Teriakan itu menghentikan semua aktivitas yang sedang dilakukan Luffy, Nami, Sanji, dan Usopp. "Kakakku mengundang kalian untuk makan malam besok. Kalian bisa datang?" Mereka semua tanpa terkecuali menerima ajakan Kaku dengan gembira, termasuk Zoro. Dia merasa ini akan sangat menyenangkan.

"Aku dengar kakaknya Kaku sangat cantik dan seksi loh..." Sanji berbisik ke telinga Usopp sambil memikirkan hal-hal mesum dalam kepalanya. Usopp hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tidak percaya dengan si mesum itu.

"Hei, Kaku. Apa di rumahmu ada daging? Shishishi..." Tanya Luffy ke Kaku dengan muka cengirannya.

"Tentu, Luffy. Masakan kakakku meskipun tidak sehebat Sanji tapi juga sangat enak loh. Dia pasti akan memasak banyak daging untukmu." Ucap Kaku tersenyum pada temannya yang seperti anak-anak itu.

"Tenang saja Kaku, aku dengan senang hati akan membantu kakakmu yang seksi itu." Sanji berkata dengan mata mesumnya. Tapi imajinasinya itu dihentikan oleh Nami yang memukul kepalanya dengan keras.


To be continued...

Maaf ya update-annya agak lama. Author lagi berpikir untuk mengubah sedikit alur ceritanya, jadi editannya agak lama. Terimakasih sudah sabar menunggu.

Chapter selanjutnya, ZoRobin bertemu satu sama lain. Tetap review dan ngikutin ceritanya ya... Thanks :D