Disclaimer: Eiichiro Oda
naomi: Iya nih, tiap minggu kalau tidak ada halangan. Soalnya akhir-akhir ini lagi buntu, jadi bingung mau nulis apa, harap bersabar ya... Bagian yang ditunggu-tunggu itu mungkin bakal ada di chapter 10 ke atas. Rencananya sih bakal panjang nih ceritanya. Tetap review ya... Trims.
Yadi: Hahahaha... Robin kan populer, gak peduli siapa yang jadi pertamanya Robin, yang penting orangnya keren. Kenapa pada gak begitu suka sama Law ya? :D
Makasih reviewnya ya Yadi-san, review lagi pliz... Hehe...
KaizokuGari: Gak suka sama Law kah? :P
Haha... Suka dengan pernyataan mereka semua idiot. Yang pertama dalam pikiranku pas baca idiot itu pasti Luffy deh. Gak tau kenapa. Hahahaha... Makasih reviewnya btw.
Rahmi: Makasih sudah review. Updatenya lama karena banyak yang harus di edit dan author perlu banyak pencerahan untuk dapat ide yang menarik, jadinya harap maklum kalau agak lama. Mudah-mudahan meski lama tapi tetap dinikmati ya...
Chapter 5. The beginning
Kelompok topi jerami yang tadinya bermarkas di bar Sunny-go pun pelan-pelan berpindah ke rumah Robin dan Kaku. Setiap seminggu sekali, mereka mengunjungi kedua saudara itu di rumahnya. Mereka sudah menganggap rumah itu seperti rumah mereka sendiri. Pasalnya, Robin mengijinkan mereka untuk menggunakan fasilitas apapun di rumah itu. Robin hanya merasa... cocok dengan mereka. Wanita archeolog itu sangat senang saat mereka berkunjung, terutama si pendekar pedang. Robin suka membuat Zoro menjadi salah tingkah. Robin juga merasa sangat senang mengintimidasi Zoro. Menurutnya, pria berambut hijau itu bereaksi sangat lucu saat dia menggodanya. Dia merasa seperti punya banyak saudara lagi?
Zoro menjadi sangat dekat dengan Robin. Wanita ini begitu menarik perhatiannya. Pria pendekar pedang itu sesekali mengajarinya bermain pedang. Dan, wanita cantik itu terkadang mengajarinya sejarah. Rumah Robin menjadi sangat ramai karena kelompok topi jerami lainnya, tapi mereka berdua sering diam menikmati kebersamaan berdua.
Di suatu malam, kelompok yang diketuai oleh Luffy itu pun berkunjung ke rumah milik sang archeolog itu lagi. Kali ini mereka langsung di persilahkan masuk oleh Kaku. Setelah masuk, Zoro pun langsung mencari-cari sosok Robin. Kaku yang menyadari hal itu pun langsung memberitahunya kalau Robin kerja lembur. Zoro pun dengan ringan mengatakan kalau dia tidak punya niat untuk menanyakan hal itu dan dia pun berlalu pergi ke ruang tamu. Kaku tersenyum. Jelas terlihat kalau Zoro sedang berbohong.
Tiga jam di rumah itu tanpa sosok wanita yang suka mengintimidasinya itu sangatlah membosankan bagi Zoro. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Yang dilakukannya hanya bolak-balik ruang tamu dan dapur. Lalu karena bosan, dia memutuskan untuk mengistirahatkan matanya sejenak.
Terdengar bunyi pintu yang terbuka sejenak setelah Zoro memejamkan mata. Pendekar tiga pedang itu langsung melompat bangun, bergerak menuju pintu, dan menyambut kedatangan orang yang dia tunggu dengan senyum menyeringai. Robin yang masih dengan pakaian kerjanya, jas hitam dengan korset hitam seksi yang memperlihatkan belahan dada Robin dan rok mini nya membalas senyum Zoro dengan hangat.
"Hoi onna, kemana saja kau? Kenapa lama sekali pulangnya?" Tanyanya sambil memegang lengan Robin dengan lembut. Robin tidak terkejut dengan Zoro yang memegang tangannya. Itu sudah biasa dia lakukan, apalagi kalau dia sedang kesal.
"Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di laboratorium. Ada beberapa teman archeolog yang mengambil cuti, jadi aku terpaksa mengambil alih pekerjaan mereka." Ujar Robin sambil melepas kancing jasnya. Zoro yang melihat hal itu langsung memalingkan badannya.
(Zoro's POV)
Lagi-lagi wanita itu melakukannya. Wanita itu pasti sengaja untuk membuatku salah tingkah.
(General POV)
"Hoi onna... Apa kau tidak tahu kalau melepas baju di depan pria itu sangat berbahaya?" Sepintas sedikit rona merah terlihat di telinga Zoro. Robin pun tertawa dengan keras. "Fufufu... Kenshi-kun, kau sungguh lucu. Begitu saja sudah membuatmu memerah?" Robin terus-menerus mengejek Zoro yang makin salah tingkah.
"Bisa berhenti memanggilku dengan sebutan itu dan berhenti memperlakukanku seperti anak kecil?" Kali ini Zoro tidak ragu membalikkan badannya kembali menghadap Robin. Ditatapnya Robin dengan tajam. Dia sangat serius dengan permintaannya kali ini. Tanpa diketahuinya, sekilas, wanita di hadapannya itu sedikit berdebar menatapnya, tapi dia mampu menyembunyikannya.
"Jangan bersikap terlalu dewasa, Kenshi-san. Kau masih muda, jangan terlalu serius menanggapi segala sesuatunya." Robin begerak meninggalkan Zoro yang masih menatap tajam padanya dan masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu sepertinya harus lebih mengendalikan perasaannya. Dia yakin ini hanya perasaan sesaat. Dan dia yakin, dia tidak akan jatuh cinta lagi.
Jumat malam, Luffy, Nami, dan Zoro sudah berkumpul di bar Sunny-go seperti biasanya. Sedangkan Sanji masih harus mengurus restoran Baratie milik keluarganya, dan Usopp masih ada pelajaran tambahan di kelas mekanisnya.
Zoro seperti biasa, sedang meneguk sake. Luffy dan Nami duduk bersama berdua. Pemandangan yang jarang. Yah, mereka memang sudah pacaran sejak lama, tapi mereka kelihatan tidak pernah akur karena kebodohan Luffy yang sudah tingkat akut.
Bunyi pintu bar yang terbuka sontak membuat kelompok topi jerami memalingkan perhatian mereka. Bukan sosok yang asing bagi mereka, terlihat Robin bersama dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan lainnya masuk ke dalam bar itu. Robin masuk tanpa menyadari kekeberadaan teman-teman yang sering ke rumahnya itu. Laki-laki di sampingnya itu tampak sangat menyukai Robin. Dia sering melirik Robin dan wajahnya memerah ketika Robin membalas tatapannya.
Robin sangat terkejut melihat Luffy dan Nami di hadapannya dan lebih terkejut lagi ketika mata birunya bertemu dengan sepasang mata hitam dari si pendekar tiga pedang. Robin yang tidak ingin kelihatan kaku pun tersenyum kepada mereka. Dia memperkenalkan tenan-teman yang datang bersamanya itu kepada Luffy, Nami, dan Zoro.
Sabo, nama laki-laki yang terlihat jelas menyimpan perasaannya pada Robin itu. Laki-laki dengan perawakan yang cukup menarik dan rambut keriting pirangnya. Mata hitam besarnya itu seakan menyiratkan dengan jelas kalau dia serius tentang perasaannya terhadap wanita dua puluh delapan tahun itu. Teman perempuan mereka dikenalkan sebagai Koala. Seorang gadis ceria berambut hitam pendek. Mereka berdua ini bekerja di tempat yang sama dengan Robin.
"Dan ini... Teman-teman kuliah adikku. lni Luffy dan Nami, sepasang kekasih. Dan ini Zoro, pendekar tiga pedang." Robin seraya menunjuk masing-masing kemudian mempersilahkan teman-temannya duduk.
Robin memesan beberapa botol sake untuknya dan teman-teman yang datang bersamanya. Mereka mengobrol dengan sangat gembira. Zoro yang duduk di dekat meja bartender pun terus memandangi mereka dengan curiga. Robin yang sadar akan hal itu mengacuhkannya dan terus melanjutkan obrolannya dengan Sabo dan Koala.
Semakin lama semakin banyak sake yang diteguk oleh Robin. Dia terus menerus menambah isi gelas slokinya. Meskipun begitu dia tidak tampak mabuk sedikitpun. Zoro makin resah melihatnya. Si rambut hijau itu berjalan mendekati meja mereka, menggenggam tangan Robin yang sedang menyodorkan gelas sloki penuh sake itu ke bibirnya.
"Hentikan, onna. Kau bisa sakit kalau terus minum seperti ini." Tangannya yang hangat masih memegang erat tangan Robin. Tidak mau larut dengan perasaannya, Robin menjauhkan tangan Kenshi-san dari tangannya. "Kau bercanda, Kenshi-san. Kau sendiri tidak berhenti minum." Ucap Robin melihat ke arah botol-botol kosong yang tergeletak di meja bartender bekas Zoro.
"Kau dan aku itu berbeda." Mendengar hal itu Robin mulai jengkel. "Jangan mencampuri urusanku, jika kau tidak mau dianggap anak kecil." Mata Zoro terbelalak. Betapa terkejutnya dia, wanita yang biasanya kelihatan begitu tenang itu memarahinya. Ya, Robin benar-benar mabuk saat ini.
Rasa mual pun mulai muncul. Robin berdiri bergegas ke kamar mandi untuk sekedar melepas rasa mualnya. Di meja itu hanya ada Sabo dan Koala beserta Zoro yang masih belum beranjak dari posisi sebelumnya. Sabo mengetahuinya. Ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka berdua. Mereka bukan cuma sekedar teman biasa. Ada yang mereka sembunyikan jauh di dasar hati mereka yang paling dalam. Sabo tertawa.
"Hoi, rambut keriting. Apa yang kau tertawakan?" Tanya Zoro sedikit jengkel.
"Hahaha... Aku menemukan sesuatu yang sangat menarik. Tapi semua itu baru dimulai. Aku tidak akan semudah itu menyerah." Ucap Sabo nyengir.
"Tsk... Aku tidak mengerti dengan perkataanmu." Ucap pendekar pedang itu sambil melihat kanan kiri. "Aku mau ke toilet saja. Di arah sana?" Gumamnya sambil menujuk ke arah kiri yang disertai dengan teriakan Franky yang berkata bahwa toilet ada di sebelah kanan.
"Lebih baik kau tidak mengerti. Aku akan kalah set kalau kau cepat menyadarinya." Ucap Sabo kepada Zoro yang dari tadi sudah meninggalkannya di kejauhan disusul dengan gelengan kepala Koala.
Zoro yang dari tadi kehilangan arah menuju toilet saat ini sangat mencemaskan Robin. Tujuannya ke toilet adalah untuk menyusul wanita yang sedikit mabuk itu.
Terdengar suara muntahan dari toilet wanita. Zoro melangkah masuk menyusul Robin tapi terhenti ketika menyadari kalau laki-laki tidak boleh masuk ke toilet wanita. Kemudian dia berdiri di samping pintu. Beberapa detik toilet itu terdengar hening, dan kemudian terdengar suara seseorang.
"Maaf Zoro. Aku memperlakukanmu seperti itu, bukan karena aku membencimu. Aku cuma... tidak bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya saja. Aku..." Zoro sangat terkejut mendengar ungkapan hati Robin. Wanita itu sangat membuatnya bingung. Wanita itu sudah sangat mengganggunya, tapi dia juga sangat penting baginya. Setiap saat, setiap waktu, dia hanya memikirkan wanita itu. Ya, dia harus mengakui perasaannya. Dia jatuh cinta pada wanita itu.
Robin melangkah keluar dari toilet. Dia membuka pintu toilet, tanpa ragu dua tangan kekar meraihnya, memeluknya, dan dia tentu sangat terkejut. Terlintas keraguan dalam hati Robin, tapi dia tidak berniat untuk mendorong Zoro jauh dari pelukannya. Robin membalas pelukan Zoro yang diiringi dengan senyum seringai pendekar pedang itu. Mungkin itu cuma sebuah pelarian dari masa lalunya, tapi untuk saat ini Robin tidak perduli dengan hal itu. Saat ini dia hanya ingin bersama pria yang memeluknya dengan sangat erat ini. Begitu hangat, Robin dan Zoro tetap seperti itu selama dua menit.
Luffy, Nami, Sabo, dan Koala sudah sangat jengkel menunggu Zoro dan Robin yang tidak kunjung kembali. Terpancar rasa cemas dari wajah Sabo. Dalam hatinya berkata dia sepertinya sudah kalah set. Luffy yang sebenarnya tidak terlalu ambil pusing tentang menghilangnya Zoro dan Robin tetap melanjutkan makannya. Nami saat ini sudah kesal bukan kepalang. Dan Koala, dia hanya tersenyum malu ketika membayangkan apa yang Zoro dan Robin lakukan saat ini.
"Sudahlah Nami... Kau tidak perlu kesal begitu. Ayo makan saja." Ucap Luffy sambil mengunyah makanannya.
"Si bodoh itu sudah membuatku kesal kali ini. Dia berjanji akan membantuku mengurus kebun orange ku besok pagi sehabis kalian menginap di rumah mumpung besok libur, tapi sekarang kemana dia? Lihat saja nanti, akan kutambah hutangnya." Kemudian Nami memukul meja dengan sangat kuat. Luffy yang dari tadi makan pun tersedak karena sepertinya dia melihat mejanya sedikit retak.
"Uh.. Sudahlah Nami, ayo pulang. Biar aku, Sanji, dan Usopp yang membantumu. Mungkin saat ini Zoro sedang tersesat." Luffy membayangkan Zoro tersesat di jalanan. Gadis berambut orange itu pun menghela nafas panjang dan menarik tangan kiri Luffy yang sebelah kanannya masih menggenggam sepotong ayam goreng. Mereka pergi setelah berpamitan dengan Sabo dan Koala.
Sabo dan Koala tinggal berdua di sana. Koala menepuk bahu Sabo untuk menghiburnya. Sabo tersenyum kepada Koala dan mengajaknya untuk pulang.
Kaku seorang diri di rumah. Dia mencoba menelepon kakaknya tapi hp kakaknya tidak aktif. Dia tidak terlalu cemas dengan kenyataan kalau kakaknya belum pulang ke rumah. Dia sangat tahu kalau kakaknya orang yang bisa menjaga dirinya sendiri. Dia kemudian masuk ke kamarnya dan tidur.
Okay.. Done.. Where are Zoro and Robin now actually? Guess it.. Working for the next chappy.. :D
