Disclamer: Oda sensei. Mine is just this fanfic.
Yeiiiiii... Chapter baru lagi... :D
Warning: Chapter ini ratingnya T+ ya... :P Jadi malu... Hahahaha...
Naomi: Nah2... Jawabannya ada di chapter ini. Hihi... Jadi malu... XD
Haha... Iya tuh, si Zoro kan lagi dimabuk cinta jadi manis banget kayak gula.
Yadi: Mau jadi top komen? Ada solusinya: Bikin account, trus fav ato follow. Dapat email update-an tiap kali ada update baru. Nah, bisa tuh comment pertama. Hehehe...
Dulu juga pengalamannya gitu, sering ninggalin jejak tulisan di fic nya author2 lain, trus kalau udah dapat balasannya senengnya minta ampun. Ternyata pas jadi author juga gitu, pas ada yang nge-review senengnya bukan main, apalagi kalau reviewnya bagus-bagus. Merasa berhasil aja. Tapi kalau ada yang review jelek ya anggap aja buat membangun kita supaya bisa lebih baik lagi. Jadi ya semangat-semangat aja lanjutin ceritanya.
KaizokuGari: Jangan benci sama Law pliz... Haha...
Bagi saya, Law terlalu sempurna untuk dibenci. #LoL
Iya, ada Sabo. Tapi Sabo perannya disini cuma bentar2an aja sih. Rencananya bakal muncul lagi di chapter-chapter selanjutnya. Yah, Sabo tidak mungkin semudah itu menyerah. Go Go Sabo. Haha...
Rahmi: Semoga chapter ini juga bisa membuatmu penasaran dengan yang selanjutnya ya... :)
NadiaaPuttAyund: Wah, senang sekali mendengar ada yang terharu dengan cerita saya. Makasih banyak udah review ya... Chapter yang lainnya gimana menurutmu? :)
Piranha19: Tebakannya tepat sekali... Good... :D
Makasih buat semua yang udah review... Tetap read and review ya... See you next chapter... :D
Chapter 6. Moments with him.
Suara burung berkicau membangunkan Zoro yang tidur dengan sangat nyenyak tadi malam. Dia membuka matanya, meregangkan tubuhnya, dan bersiap untuk bangun. Dia kembali berbaring lagi ketika dia tersadar kalau dia hanya mengenakan sehelai selimut putih besarnya itu. Dia tersenyum ketika memandang sesosok wanita berambut hitam panjang sedang tertidur pulas di sampingnya dengan berbalut hanya selimut sepertinya. Dia terus memandangi dan mengagumi kecantikan wanita di sampingnya itu. Rona merah terlintas di wajahnya ketika dia mengulang kembali kejadian semalam di kepalanya. Wanita itu miliknya sekarang.
Lamunannya itu terhenti ketika sebuah suara gumaman muncul dari bibir wanita cantik itu. "Kau sudah bangun, onna?" Tanyanya mendekat dan mencium cepat bibir si wanita. "Hmm? Kenshi-san? Ah, sudah pagi rupanya." Ucapnya seraya bangun. Zoro menghentikannya. "Hentikan panggilan itu. Kau sudah memanggilku Zoro tadi malam. Kau bahkan meneriakkan namaku berulang-ulang. Kenapa berubah lagi sekarang?" Zoro cemberut, tapi Robin malah tertawa.
"Fufufu... Cemberut begitu membuatmu makin seperti anak kecil, Zoro-kun." Goda Robin. Zoro yang jengkel pun mulai menyerang Robin dengan mengelitikinya. Robin tertawa sangat nyaring dan karena tidak tahan, dia memohon ampun kepada Zoro. Mereka bertatapan, kemudian berciuman lagi dengan sangat intens. Mereka terpisah sampai Robin mendorongkan tangannya ke dada bidang Zoro dengan lembut.
"Ah iya, apa ayahmu tidak pulang? Aku takut jika dia menemukan kita dalam keadaan seperti ini." Tanya Robin dengan sedikit cemas. Zoro meraih tangan Robin dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Tidak. Dia ada urusan bisnis di luar negeri untuk seminggu ke depan, jadi tidak perlu khawatir." Berhenti sejenak. "Yang kukhawatirkan sekarang adalah, apa kau menyesal dengan apa yang kita lakukan tadi malam?" Tanya Zoro dengan serius.
Robin mempererat genggaman tangan Zoro. "Tentu saja tidak." Jawabnya dengan tersenyum dan dia pun melanjutkan, "Tapi kita rahasiakan dulu hubungan kita dari Kaku dan teman-temanmu karena aku belum bisa membayangkan reaksi yang akan mereka berikan saat mengetahui hal ini, terutama Kaku. Dan aku ragu bagaimana reaksi ayahmu jika dia tahu kalau kau berhubungan dengan wanita yang sembilan tahun lebih tua darimu." Robin mengatakannya dengan kepala tertunduk.
Zoro tanpa ragu meraih tubuh Robin. Dia memberinya pelukan terhangatnya. Dia memeluknya dengan erat seakan takut kehilangan Robin. "Aku tidak peduli akan hal itu, onna. Aku mencintaimu." Ungkapannya itu cuma ditanggapi dengan anggukan dari Robin.
Bagaimana bisa dia mengatakan cinta pada Zoro, jika sebenarnya di dasar hatinya yang paling dalam, Law masih mengisi hatinya. Dia menyukai Zoro, itu kenyataannya. Tidak mungkin dia mau tidur bersama Zoro kalau dia tidak punya perasaan apa-apa dengannya, tapi itu hanya sekedar perasaan suka, bukan cinta. Tapi mungkin, jika dia terbiasa bersama Zoro, dia bisa jatuh cinta padanya dan melupakan Law.
"Baiklah, sepertinya aku harus pulang. Kaku pasti saat ini sedang mencemaskanku." Ucap kakak Kaku itu mengambil langkah untul beranjak dari tempat tidur Zoro. Zoro lagi-lagi meraih tangannya dengan cukup kuat. Pria berambut hijau yang saat ini masih berada di atas tempat tidur ini menarik Robin ke pelukannya lagi, ikut bersamanya ke atas tempat tidur. Laki-laki itu memandanginya dengan tatapan manja, tersirat seakan memaksanya untuk tidak meninggalkannya dulu.
"Hentikan, Zoro. Aku harus mandi dan langsung pulang. Ka..." Ucapan Robin terputus ketika Zoro menempatkan bibirnya kembali di bibir Robin. Mereka berciuman terus-menerus. Tangan kekar Zoro kembali meraih tubuh Robin dan menyentuhnya. Laki-laki itu tidak menyangka hari seperti ini akan terjadi. Wanita cantik dan seksi ini menjadi miliknya. Dia jatuh cinta pada wanita ini dan untuk kesekian kalinya dia mengutuk dirinya karena kalah taruhan dan terpaksa membantu Kaku mendekati si wanita genit. Selepas itu, sama sekali tidak ada penyesalan yang tampak. Bahkan, Zoro sangat bahagia bisa bersama dengan wanita yang membuatnya tergila-gila ini. Zoro bahkan tidak peduli jika dia bakalan disamakan dengan Sanji yang mesum itu.
Zoro masih menindih Robin di atas tempat tidurnya. Laki-laki kekar itu memandangi wanita yang di bawahnya itu dengan sangat intens. Tangan kekar sebelah kirinya menyentuh wajah Robin dengan lembut. Sesaat setelah bibir mereka saling bertemu lagi, tubuh mereka pun menjadi satu kembali.
(Author sama sekali tidak punya niat untuk mesum, jadi jangan mengharap sesuatu yang lebih dari itu :P)
Robin dan Zoro benar-benar berhasil mengelabui Kaku serta anggota kelompok topi jerami lainnya. Mereka selalu diam-diam bertemu di rumah Zoro jika ayah Zoro dinas ke luar negeri. Saat kelompok topi jerami muncul di rumah Robin, Zoro dan wanita pemilik rumah itu hanya saling mencuri pandang dan sesekali bercanda seperti biasanya.
"Kenshi-san, kau mau makan sesuatu?" Tanya Robin kepada Zoro yang baru bangun dari tidurnya. Robin memutuskan untuk menggunakan panggilan Kenshi-san saat mereka sedang bersama yang lainnya. Zoro meloncat bangun. Dia mengangguk dengan membisikkan sesuatu ke telinga Robin saat dia yakin tidak ada siapa-siapa di sekeliling mereka. Dengan tampang menggoda, dia mendekati Robin dan berbisik, "Boleh aku memilih menu makananku kali ini?" Dengan senyum menyeringainya, dia pun melanjutkan, "Aku ingin memakanmu malam ini." Ucapan Zoro itu sontak membuat bulu kuduk Robin berdiri. Kenapa hari ini Zoro begitu menggoda dan seksi? Robin sepertinya hampir mencapai batasnya.
Untuk menyembunyikan rasa malunya, wanita ramping itu mengacuhkan godaan laki-laki teman adiknya itu dan berlalu begitu saja. Zoro yang melihat tingkah Robin hanya tertawa dan kembali melanjutkan tidurnya.
Karena kemalaman bermain di rumah si kakak beradik, kelompok topi jerami memutuskan untuk menginap di rumah besar itu. Robin sudah mempersiapkan dua kamar untuk tamu-tamunya. Satu untuk para lelaki, satunya lagi untuk Nami dan mungkin Luffy jika pacarnya itu mengijinkannya. Kaku lalu mengajak Zoro untuk sekamar dengannya, tapi ditolak mentah-mentah oleh Zoro dengan alasan, dia lebih memilih tidur di sofa. Akhirnya Kaku mengajak Sanji untuk tidur di kamarnya.
Malam pun tiba, mereka sudah tidur di kamarnya masing-masing. Luffy memutuskan untuk tidur bersama Nami dalam satu kamar, Kaku dan Sanji satu kamar, kemudian Usopp dan...sendiri. Seharusnya Zoro tidur sekamar dengan Usopp, tapi dia sudah hilang entah kemana. Usopp pun tidak mau ambil pusing dengan hilangnya Zoro karena dia sudah sangat mengantuk.
Pria berambut hijau itu diam-diam masuk ke kamar wanita pemilik rumah itu. Dia bersembunyi di dalam lemari pakaian Robin dengan rencana untuk mengagetkan wanita yang lebih tua darinya itu. Saat Robin selesai mandi dengan hanya mengenakan sehelai handuk, dia membuka lemarinya untuk mengambil pakaiannya. Laki-laki itu menyerangnya. Zoro mencium Robin dengan sedikit kasar tapi tetap hangat. Zoro dari tadi sudah menunggu kesempatan dimana dia bisa menyentuh kulit halus kekasihnya itu lagi.
Pria itu tanpa menunggu lagi menciumi leher Robin bahkan menggigitnya pelan. Suara desahan keluar dari mulut Robin. Zoro melihat ke arah Robin, dilihatnya Robin yang wajahnya sedang merah padam sambil menggigit jarinya sendiri untuk menutupi suara desahannya saat ini. Reaksi wajah Robin yang seperti inilah yang dia suka. Sentuhan Zoro pada Robin makin menjadi-jadi, membuat Robin menarik rambut hijau kekasihnya itu dengan sangat kuat. Tapi hal itu tidak menjadi masalah buat Zoro, dan dia tetap melanjutkan usahanya untuk menggoda Robin yang hampir mencapai limitnya.
Keesokan harinya, pria berambut hijau itu sudah kembali ke kamarnya saat Usopp membuka matanya. "Hmm? Bukannya tadi malam kau tidak tidur di sini, Zoro?" Usopp yang sadar kalau Zoro tidak tidur di kamar mereka pun kaget melihat temannya itu sudah kembali ke kamar seperti melihat hantu. Zoro pun menjawab "Hmm.. Hanya perasaanmu saja." dengan malas pun kembali tidur dengan pulas. "Tingkahmu seperti orang yang tidak tidur semalaman. Aku ingat betul kau tidak kembali ke kamar tadi malam. Yah, mungkin kau tersesat." Ucap Usopp sambil tertawa membayangkan Zoro yang tersesat di dalam rumah Robin dan Kaku.
Saat sarapan pagi, penghuni rumah dan para tamu sudah berkumpul di meja makan. Seperti biasa, yang paling semangat adalah Luffy, dia sampai berliur-liur menunggu makanan yang sedang disiapkan oleh Sanji. Nami yang duduk di samping Luffy sedang memukuli kepala kekasihnya dan menceramahinya tentang masalah tata kramanya di rumah orang. Usopp dan Kaku yang duduk berhadap-hadapan sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan jerawat hidung atau apalah itu. Robin yang dari tadi memandang mereka hanya tersenyum. Melihat senyuman kekasihnya, membuat Zoro yang sedang duduk di depannya pun menjadi tidak sabar untuk sedikit menggodanya.
Sebuah kaki kekar menyentuh kaki halus seorang Robin. Wanita itu sedikit terkejut sambil mencari-cari si pemilik kaki yang menyentuhnya itu, kemudian tersenyum setelah bertemu pandang dengan si pemilik kaki.
Dengan suara yang sedikit keras dan sengaja, "Zoro-kun, bisakah kau memindahkan kakimu sedikit? Karena kakimu menyentuh kakiku." Semua mata tertuju pada Zoro, terutama si koki mesum berambut pirang yang sudah menggebu-gebu seraya mengeluarkan api dari matanya. Dengan sedikit tersedak, Zoro menatap tajam ke arah Robin yang menanggapinya dengan suara tertawa kecilnya wanita itu.
"Hei Marimo, apa yang kaki busukmu itu lakukan kepada kaki indah dan mulus milik Robin-chwan? Hah?" Tanya si mesum nyolot.
"Kakimu yang busuk, dasar koki mesum!" Teriak Zoro sambil meraba mencari pedangnya.
Robin terus tertawa melihat keunikan kekasih dan rival kekasihnya itu. Luffy tertawa terbahak-bahak tapi tanpa meninggalkan daging di tangan kiri dan kanannya. Duo hidung mancung hanya bisa geleng-geleng menyaksikan aktivitas rutin Zoro dan Sanji. Sedangkan Nami seperti biasa meneriaki mereka berdua untuk merubah kelakuan mereka di ruang makan.
Hubungan diam-diam itu sudah memasuki bulan ke-3, tapi sampai saat ini Zoro dan Robin belum pernah benar-benar kencan. Mereka bukannya tidak pernah merencanakannya, hanya saja Kaku memasang mata 24 jam untuk mengintai Robin saat kakaknya itu punya gerak-gerik aneh. Sanji sendiri pun mulai curiga kalau Zoro sudah mempunyai kekasih. Diam-diam, dia sering melihat Zoro yang sedang asik berSMSan dengan seorang yang disebutnya sebagai "ano onna".
Untuk mencari tahu tentang wanita rahasianya Zoro, koki berambut pirang itu sering diam-diam mengikuti temannya itu tapi selalu pulang tanpa hasil apapun. Akhirnya Sanji menyerah dan tidak pernah mengikuti Zoro lagi. Pendekar pedang bertubuh kekar itu sebenarnya menyadari kalau teman sekaligus rivalnya itu selalu mengikutinya kemanapun, tapi dia membiarkannya saja bahkan tidak jarang dia ikut menyesatkan Sanji karena penyakit buta arahnya yang sudah tingkat akut itu.
