The Characters and all are belong to Oda-sensei, I just own the fanfic.
Buat penggemar LuNami, chapter ini mayan buat iseng2. Monggo dibaca... Hihi...
Yadi: Selamatttttttt... Akhirnya jadi yang pertama juga nih. Mudah2an masih jadi yang pertama komen di chapter ini ya... Hehe.
Wow... Ditunggu karyanya. Kabar-kabari yah kalau udah berhasil menuangkan idenya buat fandom ZoRo, takutnya saya tak tau kalau yang bikin ceritanya si Yadi, orang baik yang selalu menyemangati saya dalam berkarya :D
Haha... Kalau fandom ZoSan mah benar2 kelewat banyak. Tapi gpp deh, yang penting yg suka ZoRo juga masih banyak.
Naomi: Emang tuh si Zoro egois deh... #ditancep pedang sm bang Zoro :P
Sy jg senyam senyum sendiri, senyam senyum pas bikinnya sama senyam senyum pas ngepostnya. Ngebayangin apa aja reviewnya. Alhasil dpt satu review "mesum"... Hahaha...
See u next week again... XD
NadiaaPuttAyund: Makasih... Akan diusahakan fast updatenya, tapi akhir-akhir ini agak buntu, lagi bingung mau kasi kejutan apa lagi, jadinya harap maklum ya kalau agak lama... :D
KaizokuGari: Coba cek account profile ku, pair mana tuh yang paling aku favorit-in... :D
vava. nt93: Hahahahaha... Gak mesum kog... Masi wajar-wajar aja sih XD
Law ada gilirannya sendiri, sabar ya... Dia bakal muncul lagi di chapter selanjutnya. Favorit LawRo kah? :D
piranha19: Cukuppppppppp... Ntar dikatain mesum lagi... Gak mau ngambil titlenya si koki mesum Sanji... Noooooooooooo... XD
Jangan lupa review lagi. Trims buat semua yang udah nge-review. See u next chapter. Cukup sekian dan terimakasih.
Chapter 7. She's gonna be a mother.
Robin dan Zoro sudah enam bulan menjalin hubungan. Hubungan yang mereka jalani semakin intens. Zoro semakin lama semakin jatuh cinta pada Robin. Anak muda berambut hijau itu menjadi seperti bukan dirinya ketika sedang berada bersama "ano onna". Dia menjadi lebih agresif dan sangat posesif. Saat di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua, dia mulai berlaku seperti Sanji minus mimisan dan liuk-liukan genitnya. Saat sedang berkencan di luar, laki-laki manapun yang memandang genit pada wanita ahli sejarah itu akan ditatapnya tajam, bahkan akan diajaknya berduel pedang dan untungnya sempat dihentikan oleh Robin. Saat sedang bersama-sama dengan kelompok topi jerami lainnya, diam-diam laki-laki itu menatap kekasihnya dengan penuh cinta. Saat sedang makan bersama kelompok lucu itu di rumah super mewah sang wanita pujaan, Zoro diam-diam memegang tangan Robin di bawah meja, kadang-kadang mengaitkan kakinya di kaki Robin. Saat si koki mesum sedang melancarkan serangannya pada wanitanya, Zoro mulai menghina Sanji yang tidak dilakukannya saat si koki bergenit ria ke Nami dengan dalih ejekan seperti yang mereka biasa lakukan tapi anehnya, tidak ada yang sadar akan hal itu. Sungguh tindakan-tindakan yang mungkin tidak akan terbersit di benak siapapun tentang pria ahli pedang yang satu itu.
Pagi itu, kedua pasangan itu sedang jalan pagi bersama yang tentu saja dilakukan tanpa sepengetahuan siapapun terutama Kaku. Mereka saling bergandengan tangan, menganggap dunia hanya milik mereka berdua.
"Hari ini kau bolos latihan pedang dan pergi bersamaku. Apa kau tidak takut dimarahi ayahmu, Zoro?" Tanya Robin kepada kekasihnya dengan penuh perhatian.
"Orang tua itu tidak akan marah. Dia paling hanya akan memukulku dengan pedang tumpulnya saja. Hahaha..." Ucap Zoro dengan tertawa bercanda yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Robin. "Aku hanya bercanda. Ayahku itu meskipun kelihatannya tegas dan menyeramkan, tapi dia kadang sangat lembut. Tidak seperti orang tua lainnya yang suka mencampuri urusan anaknya, ayahku tidak peduli apapun yang aku lakukan. Tidak ada yang bisa mengerti jalan pikirannya, bahkan aku yang anaknya saja tidak mengerti. Tapi aku rasa tidak ada masalah yang serius dalam menghadapinya, apalagi soal hubungan kita." Ucap Zoro dengan bangga tapi tidak terlalu menampakkannya karena pemuda itu malu mengakuinya. "Kau tau, aku sempat tidak percaya saat dia menyuruhku untuk kuliah jurusan sejarah. Waktu aku tanya alasannya, dia cuma bilang kalau aku pasti akan menemukan sesuatu yang aku cari disitu. Dan setelah kupikir-pikir mungkin maksudnya kau. Kalau aku tidak masuk ke jurusan sejarah, kau tidak akan mengajariku dan kita tidak akan dekat seperti ini. Saat itu juga aku mulai curiga kalau ayahku mungkin punya indera ke-6. Haha..." Ucapnya tertawa girang sambil membayangkan ayahnya bersin-bersin karena sedang dibicarakan olehnya saat ini.
"Fufufu... Dari apa yang kau gambarkan tentang ayahmu, aku rasa kalian berdua mirip." Ucap wanita berambut hitam itu dengan tawa khasnya.
"Cih... Apanya yang mirip? Orang tua cerewet itu mana mungkin mirip denganku." Zoro membuang mukanya karena sebenarnya dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu benar kalau mereka berdua mirip minus rambut hijaunya yang benar-benar merupakan gen dari ibunya.
"Fufufu... Kau manis sekali, Zoro-kun. Membuatku ingin terus menggodamu." Zoro tidak tinggal diam dengan godaan Robin. Zoro meraih tangan Robin, menariknya ke pelukannya dan menciumnya dengan cepat. Hal itu sontak membuat Robin tersenyum.
"Aku tidak tau kalau kau begitu nakal, Zoro~kun." Robin mengatakannya dengan penuh menggoda pada kata "kun"nya.
"Kau menantangku ternyata." Ucap pemuda berambut hijau itu langsung menempatkan bibirnya di bibir Robin dan mengulumnya. Wanita itu langsung terkejut dan wajahnya mulai memerah. Zoro melepaskan diri dari Robin dan dilihatnya rona merah di pipi wanita yang dicintainya itu. Dia pun tertawa puas.
"Heh... Kau manis juga kalau sedang memerah begitu, Robin-chan." Balasnya. Robin hanya bisa tersenyum dan melanjutkan jalan-jalan paginya sambil bergandengan tangan dengan laki-laki tampannya itu.
Tanpa kedua sejoli itu sadari, seorang laki-laki dengan mantel hitam panjangnya dan sepatu boot hitam sedang memperhatikan mereka. Laki-laki itu memegang dadanya dengan sangat erat seakan habis tertembak timah panas.
Tampak dari kejauhan, kedua sosok yang sangat mereka kenal sedang duduk di sebuah kursi panjang taman kota. Robin dan Zoro sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh dua orang yang merupakan sahabat mereka itu.
Luffy dan Nami sepertinya sedang serius membicarakan sesuatu. Luffy yang tidak biasanya tampak sangat dewasa, sedangkan Nami hanya menunduk tampak cemas dan hampir kelihatan seperti akan menangis.
Zoro dan Robin terkejut melihat kedua teman mereka dan secara cepat melepaskan genggaman tangan yang sedari tadi seperti tidak terpisahkan, meskipun ada bom di depan mata mereka. Mereka mendekati sepasang kekasih unik itu.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Zoro tanpa ragu.
Nami terkejut ketika bertemu dengan Zoro dan Robin. Disaat-saat seperti ini Nami tidak berkeinginan untuk bertemu siapapun juga selain Luffy, tapi kenapa malah bertemu kedua orang yang paling peka ini?
Reaksi Luffy sangat berbeda dengan Nami. Seperti biasa, dia menampakkan cengiran bodohnya saat menyapa Zoro dan Robin. Dan dengan polosnya menjawab, "Ah iya Zoro, kami sedang berbicara tentang Nami yang sedang mengandung anakku. Shishishi.." Keheningan beberapa detik.
"Dasar bodoh." Ucap Nami seakan tidak percaya.
Zoro terkejut sampai tidak bisa mengatupkan mulutnya yang sepertinya akan jatuh karena saking shocknya. Nami geleng-geleng kepala dan menepuk jidatnya sambil "mengagumi" kebodohan Luffy yang tiada duanya. Robin hanya tersenyum melihat keunikan kapten kelompok topi jerami itu.
"A...APA?" tanya si pendekar pedang dengan suara sangat keras hingga membuat orang-orang sekeliling mereka terkejut.
"Yah, begitulah. Kami hanya melakukannya sekali. Nami mempersilahkanku masuk dan aku masuk dengan "kintama" ku. Dia sangat..." Sebelum selesai menjelaskan, Kepala Luffy sudah dipukul oleh Nami. "Oi Nami... Apa yang kau lakukan pada ayah anakmu ini?" Teriak si penyuka daging sambil mengelus-elus kepalanya yang memar.
"Dasar bodoh! Yang itu tidak perlu kau jelaskan!" Teriak si ibu hamil tidak kalah kerasnya. Nami mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kembali, lalu berkata, "Apa yang Luffy katakan semuanya benar, aku hamil, tapi lupakan bagian menjijikkan tadi. Dia itu memang bodoh, tapi aku yakin dia akan menjadi ayah yang baik untuk bayi ini." Ucap Nami berseri-seri sambil memegang perutnya yang belum buncit.
"Tapi..." Sanggahan dari Zoro diputus oleh Robin. "Kami berdua turut berbahagia buat kalian." Ucap Robin tersenyum hangat. Zoro pun memutuskan untuk mendoakan kebahagiaan mereka berdua. Nami tersenyum bahagia.
"Kapan kalian akan memberitahu yang lain dan menikah?" Tanya Zoro.
"Kami sepakat untuk mengumumkannya malam ini di bar Sunny-go. Aku juga mengajak Kaku dan tentu saja, Robin, kau juga harus hadir malam ini." Nami menatap ke arah Robin yang dari tadi diam memperhatikan pembicaraan tiga sekawan itu. Tiba-tiba, Nami tersadar. Ada yang aneh dengan keadaan ini. Zoro dan Robin kenapa bisa jalan-jalan bersama? Ada hubungan apa antara mereka berdua?
"Tunggu, kalian berdua kenapa bisa bersama disini?" Tanya Nami tanpa berpikir panjang. Zoro kembali pucat mendengar pertanyaan Nami. Dia tidak sadar kalau Nami akan menyadarinya. Yah, bukannya tidak mungkin sih, soalnya Nami itu gadis yang sangat peka.
"Uhh.. sial." Zoro berpikir keras apa yang harus dikatakannya pada Nami dan Luffy tentang alasan mereka bisa jalan bersama. Buntu. Zoro bahkan berpikir, apa dia harus membungkam Nami dan Luffy dengan pedangnya? Oh, tidak mungkin.
"Hoho... Pasti ada sesuatu diantara kalian. Aku yakin. Zoro! Ayo jawab!" Nami tersenyum dengan licik. Sepertinya dia sudah bisa menebaknya dari tingkah laku Zoro yang salah tingkah. Nami melirik ke arah Robin, dilihatnya Robin sedang tersenyum. Nihil. Dia tidak bisa membaca pikiran wanita dewasa itu. Kemudian, dia kembali menatap Zoro.
"Baiklah, baiklah. Kami pacaran. Wanita cantik ini pacarku sekarang. Kau puas?" Zoro tidak bisa berkata-kata lagi. Skakmat. Nami tertawa terbahak-bahak. Luffy bertepuk tangan dengan sangat bersemangat. Robin memandang Zoro dengan penuh rasa kasihan tapi tanpa meninggalkan senyuman manisnya.
"Sudah berapa lama?" Tanya gadis berambut orange itu pada Robin dengan sangat penasaran.
"Enam bulan, Nami-chan." Jawab Robin dengan senyum ramahnya.
Nami sangat terkejut. 6 bulan? Tanpa diketahui siapapun? Kedua orang ini benar-benar seperti manusia setengah dewa. Nami mundur selangkah sambil mengagumi kedua orang yang berdiri berdampingan itu sambil menyebutkan kata serasi. Luffy menyerukan "ya" tanda setuju dengan komentar kekasihnya.
"Tapi... tolong rahasiakan dulu dari yang lain. Robin belum ingin yang lainnya terutama Kaku untuk mengetahui hal ini." Belum selesai Zoro menjelaskan situasinya kepada Luffy dan Nami, gadis mata duitan itu langsung menyanggahnya. "Baiklah. Tidak akan ada rahasia yang keluar dari mulutku atau Luffy. Jika Luffy berani membocorkannya, anaknya ini akan diet selama satu minggu." Luffy baru mau protes tapi dihalangi oleh tangan Nami. "Kami akan jaga rahasia, tapi dengan satu syarat."
Syarat? Zoro tau, kalau bicara soal syarat dengan Nami pasti tidak akan ada yang tidak merugikannya. Pendekar pedang itu hanya bisa pasrah menerima kenyataan kalau pada akhirnya dia akan diperas oleh si mata duitan.
"Traktir aku dan Luffy selama seminggu di bar Sunny-go." Ucap Nami dengan senyum licik. "Ini sudah termasuk penawaran yang paling ringan. Aku tidak membebankanmu membayar belanjaanku karena aku sedang bahagia saat ini." Zoro hanya mengangguk. Tidak mungkin dia bisa menang melawan si nenek sihir. Sial.
Malamnya, semua kelompok topi jerami plus kakak beradik Robin dan Kaku berkumpul di bar milik Franky dan Brook. Suasananya sangat hening karena mulut Luffy dan Usopp dilakban oleh si penyihir cantik. Tentu saja yang lain juga tidak berani membuka mulut karena takut akan membangunkan macan betina.
Nami pun memulai pembicaraan. Mimik cemas dan bingung nampak di wajah cantiknya. Robin yang duduk di sebelahnya sadar akan hal itu lalu memegang pundak temannya itu untuk menenangkannya. Nami pun kembali tersenyum. Dengan berani dia mengatakan bahwa dia dan Luffy delapan bulan lagi akan punya anak. Semuanya minus Luffy, Zoro, dan Robin tertawa keras mengira Nami bercanda, tapi setelah melihat mimik wajah Nami yang serius, mereka terkejut dan matanya terbelalak.
Kaku tampak kebingungan. Dia memandang kedua arah antara Nami dan Luffy. Dia sama sekali tidak pernah kepikiran kalau Luffy begitu hebat dan kuat.
Usopp masih saja tertawa-tawa seperti orang gila. Menganggap temannya salah makan obat.
Franky dan Brook yang sedang menyiapkan minuman untuk para tamu pun menjatuhkan gelas dan terdiam terpaku.
Yang paling parah adalah Sanji. Tanpa jeda, dia langsung menangis tersedu-sedu. "Hatiku sakit. Kenapa bocah bodoh seperti Luffy yang Nami-san pilih? Tidakkkkkkkkk..." Hidupnya seakan hancur. Nami-san yang dicintainya akhirnya hamil anak si kapten bodoh. Dia membayangkan bagaimana malam pertama Luffy dan Nami. Akhirnya si koki mesum pingsan dengan mimisan parahnya. Melihat temannya yang menyedihkan itu, Zoro jadi berpikir, entah apa yang akan terjadi pada koki mesum jika dia tau kalau Robin sudah menjadi milik Zoro. Pasti si alis pelintir itu akan koma selama berbulan-bulan. Dalam hati menertawakan tingkah si bodoh itu.
Zoro diam sambil meneguk sakenya. Diam-diam dia mengucapkan selamat pada kedua pasangan itu. Robin yang melihat ekspresi laki-lakinya itu pun tersenyum senang.
Meskipun ada yang pingsan, ada yang tidak percaya, ada yang senang, ada yang sedih, tapi pada intinya semua orang di sekeliling Nami dan Luffy turut berbahagia buat Nami yang akan menjadi ibu, dan Luffy yang akan menjadi seorang ayah.
