Hello.. I'm back... Maaf sekali dengan keterlambatan chapter ini. Terus terang chapter ini chapter yang banyak menguras tenaga dan pikiran. Selama berminggu-minggu, secuil ide pun gak pernah ada. Untunglah, chapter ini akhirnya bisa selesai juga. Terimakasih buat semua yang masih setia mendukung fanfiction ini. Sebagai permohonan maaf, chapter ini dibikin khusus ekstra panjang dibanding chapter lainnya. Okay, happy reading. Hehe... Review akan dibalas satu per satu di akhir chapter ini.
Disclaimer: Eiichiro Oda is the owner.
Chapter 8. A man from the past.
-Flashback-
Robin hanya bisa tersenyum dan melanjutkan jalan-jalan paginya sambil bergandengan tangan dengan laki-laki tampannya itu.
Tanpa kedua sejoli itu sadari, seorang laki-laki dengan mantel hitam panjangnya dan sepatu boot hitam sedang memperhatikan mereka. Laki-laki itu memegang dadanya dengan sangat erat seakan habis tertembak timah panas.
-Flashback End-
"Robin." Ucap laki-laki misterius itu memandangi kedua sejoli yang dimabuk cinta dengan perasaan sakit dari kejauhan. Seorang wanita berkacamata menepuk bahu laki-laki tersebut dari belakang.
"Namanya Roronoa Zoro, seorang pendekar pedang." Jelas gadis berambut biru itu.
"Kau mengikutiku, Tashigi-ya?" Tanyanya sambil menoleh ke arah Tashigi yang dari tadi dibelakangnya.
"Aku hanya penasaran saja dengan apa yang membuat Law-nii-chan ku sedih tiap kali pulang ke rumah." Ucap saudara sepupunya Law yang bernama Tashigi itu khawatir.
"Tidak apa-apa. Dia sudah masa laluku." Law berusaha menenangkan adik sepupunya itu dengan tersenyum tapi masih tampak kesedihan yang mendalam di matanya.
"Kalau dia sudah masa lalu, kenapa kak Law masih mengikutinya kemana-mana? Aku yakin kak Law belum bisa melupakannya."
Pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh Law. Meskipun sudah sebelas tahun berlalu sejak ciuman perpisahan mereka, Law masih belum bisa melupakan Robin, Robin yang sangat dicintainya itu. Tapi seberapa besarpun cintanya pada Robin, kenyataan bahwa mereka tidak mungkin bisa bersama membuat hatinya seperti tercabik-cabik.
"Benar, aku tidak mungkin bisa melupakannya, tapi tidak ada yang perlu disesali. Kenyataannya adalah aku dan dia akan sama-sama tersiksa jika kami tetap meneruskan hubungan kami. Tapi meskipun kami tidak bisa bersama, dia akan selalu berada di hatiku yang paling dalam."
"Aku percaya kalau tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kak Law dan wanita itu bisa terus bersama tanpa perlu menyakiti siapapun."
"Kau tidak mengerti, Tashigi-ya. Aku sering berkata padamu, orang-orang lemah tidak bisa memilih caranya untuk mati. Itu artinya orang-orang yang sudah tidak ada kesempatan untuk menang tidak berhak untuk memilih jalan hidupnya. Kau tahu kan? Aku selalu menjalani hidupku dengan percaya diri, ada ataupun tanpa Robin."
(Law's POV)
Kami tidak mungkin bisa bersama. Aku mencintainya, tapi kami tidak bisa bersama. Aku mencintainya, tapi aku tidak akan bisa memberikannya kebahagiaan. Aku mencintainya, tapi semua itu mungkin sudah menjadi masa lalu baginya. Aku mencintainya, dan hanya bisa melihatnya bahagia dari jauh.
Hatiku sangat sakit melihatnya tersenyum pada laki-laki lain. Rasanya aku ingin berlari menghampirinya dan membunuh laki-laki yang bersamanya itu. Aku ingin merebutnya secara paksa seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang mantan pacar egois yang cemburu melihat mantan pacarnya bersama pria baru, tapi hal itu tidak mungkin kulakukan karena aku tidak berani melawan takdir. Aku ditakdirkan untuk tidak bersamanya, meskipun seberapa besar aku menginginkannya. Aku tidak akan tampak menyedihkan di depan siapapun, termasuk diriku sendiri.
(Normal POV)
"Meskipun aku masih mencintainya, hal itu tidak akan mengubah apapun karena dia sudah bahagia dengan pria lain. Dan jika dia bahagia, maka aku juga akan bahagia."
"Bohong." Ucap Tashigi tidak percaya.
"Semuanya sudah berakhir. Dia sudah bahagia dan aku tidak perlu mengikutinya lagi. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apakah dia sudah melupakanku." Ucapnya beranjak pergi, tapi setelah beberapa langkah dia berhenti, dan berkata, "Tidak semua hal terjadi seperti yang kita inginkan, Tashigi-ya."
Tashigi memandangi sosok punggung Law yang sudah mulai menghilang di kejauhan. Law adalah satu-satunya keluarga yang dia punya, sama halnya dengan Law. Mereka sangat dekat satu sama lain. Mereka pertama kali bertemu lagi setelah sekian lama sewaktu Law pergi ke Amerika. Wanita itu hanya bisa menghela nafas.
Keesokan harinya, Tashigi pergi mencari laki-laki saingan kakak sepupunya itu di kampus. Dia berjalan cepat sambil melihat sekeliling. Dia sangat yakin kalau tadi sepintas dia melihat seonggok rambut hijau melintas di gedung kesenian.
Sementara itu, di taman sebelah gedung kesenian.
"Dimana gedung olahraga itu? Kenapa kampus ini begitu membingungkan seperti jalan labirin?" Tanya Zoro pada dirinya sendiri sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya. Tanpa melihat sekeliling, si marimo menabrak seorang wanita hingga terjatuh ke tanah.
"Kacamata? Mana kacamataku?" Tashigi panik sambil meraba-raba tanah di sekelilingnya untuk mencari kacamatanya yang terjatuh. Dia tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamatanya.
"Nah." Zoro mengulurkan tangannya yang memegang kacamata gadis itu.
"Ah, terimakasih banyak." Diraihnya kacamatanya, tanpa memandang siapa laki-laki yang sudah membantunya, Tashigi membungkuk untuk berterimakasih.
"Tidak perlu berterimakasih, kacamata." Zoro menolak untuk memanggil wanita lain dengan sebutan "onna" karena sebutan itu hanya diperuntukkannya untuk Robin.
Sambil tersenyum-senyum kaku, Tashigi pun mengangkat wajahnya untuk melihat wajah laki-laki di depannya itu. Dia sangat terkejut ketika menyadari kalau laki-laki itu adalah orang yang dicarinya sejak tadi.
"Roronoa Zoro, akhirnya aku menemukanmu." Teriak Tashigi sambil menarik tangan Zoro.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu dari tanganku." Tanya Zoro dingin. Mata hitamnya memandang tajam pada gadis aneh yang baru saja "ditolongnya" itu. Tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali Robinnya. Apa gadis ini tidak tahu kalau dia sedang menantang bahaya? Tangan kiri Zoro mulai meraih ketiga pedangnya.
"Kau harus bertarung pedang denganku." Tegas Tashigi melepaskan pegangan tangannya pada Zoro dan mulai mengarahkan pedangnya ke arah Zoro.
"Heh? Kenapa aku harus mendengarkan kata-katamu?"
"Kau... Kau harus mendengarkanku karena aku menantangmu. Bukannya kau suka tantangan?" Tanya Tashigi tegang tapi tetap bertekad kalau dia pasti bisa bertarung dan mengalahkan laki-laki di depannya ini.
"Aku tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk menerima tantangan dari siapapun. Ini semua gara-gara kampus ini membuatku jengkel." Ucap Zoro mengomel.
"Apa kau tidak mau menerima tantanganku karena aku seorang wanita?" Tanyanya mulai maju menyerang Zoro dengan pedangnya yang masih bersarung.
Zoro dengan gerakannya yang sangat cepat langsung merebut pedang itu dan membanting Tashigi seperti sekarung beras yang sedang ditumpuk. Dia mengambil langkah pergi meninggalkan gadis berkacamata itu, tapi kemudian dia menghentikan langkahnya dan berbicara dengan menoleh dari sela bahunya. "Aku tidak akan segan-segan terhadap penantangku. Tidak peduli apakah dia pria atau wanita." Ucapnya dingin.
Air mata mulai menetes di pipi Tashigi, membasahkan kacamata minusnya. Dia tidak percaya bahwa laki-laki ini begitu kuat, bahkan sedikitpun belum tersentuh olehnya.
"Ah iya, apa kau tahu dimana ruang olahraga?" Tanyanya tetap membelakangi Tashigi. "Hmm.. Aku rasa kau tidak sedang dalam suasana hati dimana kau bisa menjawab pertanyaanku dengan sukarela." Ucapnya beranjak pergi melanjutkan aktivitasnya untuk tersesat ria dan menyalahkan kampus yang dikiranya berpindah-pindah.
Tashigi hanya menangis. Dia mengerti perbedaan antara laki-laki dan wanita. Meskipun dia bukan wanita lemah yang semudah itu kalah pada laki-laki, tapi pada kenyataannya, dia tetap saja kalah. Kata-kata Law mulai terngiang-ngiang dalam pikirannya. Orang-orang lemah tidak bisa memilih caranya untuk mati. Apa dia lemah? Apa dia benar-benar selemah itu? Ya, dia lemah, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja.
Sudah beberapa hari terakhir ini Tashigi tidak pernah lelah untuk meminta Zoro berduel pedang dengannya lagi. Dia selalu mengintai Zoro seperti seorang penguntit. Kemanapun Zoro pergi, dia selalu mengikutinya dari belakang. Tujuannya hanya satu, duel. Zoro tidak pernah mau menanggapinya. Wanita berkacamata itu masih terlalu muda seratus tahun untuk menantangnya. Zoro mengakui bahwa untuk ukuran wanita, Tashigi cukup tangguh. Caranya memegang pedang benar-benar menunjukkan kalau dia cukup handal memainkannya. Sayangnya, tidak sehelai rambutpun bisa ditebasnya dari Zoro. Tidak sedikit penggemar Zoro yang marah dengan "lengketnya" Tashigi pada Zoro. Banyak yang mencaci maki, bahkan banyak yang mem-bully nya. Mereka merasa tidak terima kalau Tashigi dekat-dekat dengan laki-laki pujaan mereka tersebut.
"Dasar jelek. Tidak tahu malu. Murahan." Maki seorang gadis berambut pirang, fans Zoro.
"Tidak tahu diri. Wanita jelek seperti dia berani-beraninya mendekati Zoro kita." Balas salah seorang lainnya.
Hal itu sudah terjadi selama seminggu. Mereka mencemooh, mem-bully, bahkan melemparinya dengan telur. Wanita itu hanya membalas mereka dengan tatapan tajam. "Biarlah. Semua ini akan berakhir jika dia melihat keteguhanku mengajaknya berduel. Semua demi Law-nii-chan." Pikirnya.
Sebuah pot bunga jatuh dari lantai atas gedung kesenian, hampir mengenai Tashigi yang saat ini sedang dalam dekapan Zoro yang menyelamatkannya. Wanita itu terdiam dan tubuhnya tampak gemetar. Tidak ada luka serius yang tampak darinya maupun Zoro. Laki-laki itu menatap tajam ke arah dimana pot bunga itu dijatuhkan. Pot bunga itu bukan terjatuh, tapi ada yang sengaja menjatuhkannya. Dia melepaskan dekapannya terhadap Tashigi dengan cara yang sedikit kasar, menyingkirkannya lebih tepatnya. Dia berdiri tegak sambil masih memandang ke arah atas.
"Hei! Siapapun pelakunya! Aku tidak ingin bermain-main denganmu. Wanita ini, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu siapa dia." Menunjuk ke arah Tashigi. "Kau tahu? Kau sudah melakukan hal yang sia-sia. Aku tidak peduli jika kau membunuhnya. Tapi perlu kuingatkan, dia atau siapapun diantara kalian tidak akan bisa memilikiku, karena hatiku dan segalanya dariku sudah dimiliki oleh seseorang. Jadi aku rasa kau tidak perlu capek-capek untuk mengotori tanganmu lagi." Zoro sengaja berteriak agar orang yang mau mencelakai orang lain deminya itu mendegarnya. Dia masih memandang ke arah atas. Kedua telapak tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya, membuatnya terlihat begitu keren.
Para penggemar Zoro langsung meleleh melihat kekerenan laki-laki berambut hijau itu. Mereka seakan sudah melupakan kejadian yang mengejutkan itu. Mereka juga sudah melupakan ucapan Zoro tentang "seseorang" yang ada di dalam hatinya itu.
"Deg... Deg... Deg..." Terdengar bunyi detakan jantung Tashigi. Kenapa? Kenapa jantungnya berdegup begitu kencang ketika dia memandangi Zoro? Semua pasti hanya kebetulan saja. Tashigi berdiri sambil mengatur nafasnya. Dia berjalan mendekat ke arah Zoro. Dia menatapnya tajam. "Ayo berduel!"
"Heh. Itu lagi?" Tanyanya mulai merasa kesal. Dia berpikir sejenak. Tidak ada salahnya meladeni tantangan ini. Hitung-hitung untuk latihan. Tapi dia sangat penasaran dengan apa yang menjadi alasan si kacamata ini mengajaknya duel.
"Baik, tapi dengan satu syarat. Aku ingin tahu alasanmu mengajakku berduel."
"Aku ingin mengajukan suatu penawaran."
"Heh? Penawaran apa itu?"
"Jika kau menang kau boleh menyuruhku melakukan apa saja, tapi jika aku yang menang..." Ucap Tashigi ragu-ragu.
"Jika kau yang menang?" Tanya Zoro sedikit penasaran dengan isi penawarannya.
"Jika aku menang, kau harus meninggalkan pacarmu yang sekarang."
Hal ini sontak membuat Zoro terbelalak. Ada hak apa gadis kacamata ini menyuruhnya untuk meninggalkan Robin? Apa tujuannya? Apa dia sama dengan para penggemar-penggemarnya? Apa gadis ini begitu menyukainya sampai-sampai ingin memisahkannya dengan wanita yang dicintainya itu? Rasanya tidak mungkin karena gadis ini tidak menunjukkan sedikitpun rasa suka padanya sejak awal mereka bertemu. Zoro tidak sebodoh itu sampai-sampai dia tidak bisa menyadari bahwa seseorang menyukainya.
"Apa maksudmu?" Tanya si pendekar pedang jengkel.
"Kau tidak perlu tahu maksudku. Kau... Kau hanya perlu bilang iya atau tidak." Zoro berpikir sejenak. Tidak mungkin dia membiarkan dirinya kalah.
"Baiklah. Seperti aku akan kalah saja." Ucapnya yakin.
"Baik. Siang ini di gedung olahraga." Tashigi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan tanda setuju dengan Zoro.
"Deal." Mengacuhkan uluran tangan Tashigi dan pergi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saatnya bagi Zoro dan Tashigi untuk berduel. Mereka berdua saling berhadapan dengan kostum judonya, memasang ancang-ancang sambil memegang pedang masing-masing. Ratusan wanita penggemar Zoro sudah mulai berkumpul di area barisan penonton untuk menyaksikan pertarungan langka ini.
Intensitas pertandingan ini pun terjadi. Hanya terdengar bunyi pedang yang beradu. Tidak ada seorangpun dari penonton yang berani mengeluarkan suara. Tidak seperti pertarungan mereka yang pertama, sepertinya Tashigi sudah mulai ada kemajuan. Zoro tidak pernah menganggap remeh gadis ini. Dia bisa merasakan kemampuan Tashigi yang melebihi kemampuan wanita pada umumnya. Sepuluh menit berlalu sejak dimulainya pertandingan mereka. Tashigi kelihatannya sudah mulai kelelahan, sedang Zoro sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda apapun.
Tashigi melakukan kesalahan. Pedang Zoro hampir mengenai lehernya. Gadis itu terjatuh dengan posisi berlutut dan menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya. Tashigi sudah tahu kalau hasilnya akan begini, tapi tidak ada salahnya mencoba demi kak Law-nii-chan nya. Entah kenapa, perasaan sedihnya bercampur dengan rasa aneh yang dari tadi tidak ada henti-hentinya berkecambuk di dalam hatinya saat berada di dekat Zoro. Tak lama kemudian, dia mulai tersadar kalau ada perasaan lain yang timbul dari dalam hatinya. Alasannya ingin memisahkan Zoro dan Robin sekarang bukan cuma untuk Law, tapi untuk dirinya sendiri juga.
"Boleh aku tanya? Kenapa kau ingin aku berpisah dengan pacarku? Aku yakin sekali bahwa alasannya bukan karena kau menyukaiku, jadi jangan berpikir untuk memberiku alasan seperti itu."
"Ada orang lain yang lebih pantas bersamanya daripada denganmu." Tashigi kemudian berdiri dan melarikan diri.
"Hmm? Apa maksudnya? Siapa? Ah, masa bodoh." Ucap Zoro meninggalkan lokasi yang masih panas dengan para penggemar yang masih berteriak-teriak kagum pada Zoro.
Malam harinya, Zoro seperti biasa sedang berada di rumah kekasihnya. Mereka berdua sedang berbaring berdekatan di sebuah sofa panjang di ruang tamu. Tentu saja mereka bisa sebebas itu karena tidak ada siapapun di rumah itu selain mereka berdua. Kaku sedang berpergian dengan kru topi jerami yang lainnya untuk membeli peralatan kuliah, dan Zoro tidak ikut mereka dengan alasan mau tidur di rumah.
"Hei, kau tahu, Robin? Hari ini ada kejadian aneh di kampus." Cerita Zoro sambil memain-mainkan rambut indah kekasihnya.
"Kejadian aneh apa Zoro-kun?" Tanya Robin sedikit penasaran. Tangan kanannya ditempatkannya di atas dada bidang Zoro dan tangan kirinya memeluk punggung laki-laki itu.
"Ada seorang wanita, tidak henti-hentinya mengajakku berduel dengannya. Dia memberi penawaran, jika aku menang, dia akan melakukan apa saja yang kuminta. Tapi jika aku kalah, aku harus meninggalkanmu." Berhenti sejenak untuk menatap dan mencoba membaca ekspresi wajah wanitanya.
"Wah, wah... Jadi, tuan pendekar pedangku ternyata sangat populer?" Goda Robin.
"Tsk... Bukannya begitu. Tadinya kupikir, apa mungkin wanita ini suka padaku? Tapi setelah kuteliti, dari awal dia tidak pernah sedikitpun suka padaku, malah terkesan membenciku."
"Aku tidak pernah tahu kalau kau sangat peka terhadap hal seperti ini, Zoro-kun?" Lagi-lagi Robin mengejek Zoro karena terdengar jelas dia meliukkan kata "-kun" seperti biasa saat Robin sedang ingin menggoda pendekar pedangnya itu.
"Kadang aku tidak sebodoh yang dipikirkan orang. Haha..." Ucapnya dengan bangga.
"Fufufu... Kalau kau bodoh, aku tidak akan memilihmu, Zoro-kun." Ucap Robin dengan senyum khasnya. Muka Zoro memerah. Dia cepat-cepat memalingkan mukanya sebelum Robin menyadarinya.
"Sial... Kenapa kau selalu bicara dengan ekspresi semanis itu? Membuatku ingin menyentuhmu terus." Zoro berbisik dengan sedikit menyumpah pada dirinya sendiri.
"Apa yang kau bilang, Zoro-kun?" Tanya Robin bingung.
"Aku... Aku bilang kau manis." Ucap Zoro kembali menatap malu ke Robin.
"Fufufu... Kau yakin itu tidak terbalik?"
"Tentu saja. Mana ada laki-laki manis? Wanita itu manis. Laki-laki itu keren." Zoro mengoreksinya.
"Bagiku kau tetap manis."
"Heh. Baiklah, baiklah... Asal kau senang." Ucap Zoro pasrah.
"Fufufu..."
"Nah, lanjut soal cerita tadi. Waktu kutanya lagi, apa maksudnya ketika dia bilang bahwa kita harus berpisah jika dia menang, dia bilang ada seseorang yang lebih pantas untukmu daripada aku. Aku tidak mengerti siapa yang dimaksud wanita itu, tapi yang dikatakannya itu sangat menjengkelkan."
Zoro masih merasa kesal dengan si kacamata. Baginya, menyuruhnya untuk meninggalkan Robin itu sama saja dengan menyuruhnya melepas impiannya untuk menjadi pendekar pedang no.1 di dunia. Suatu hari, jika si kacamata mengajaknya berduel lagi, dia tidak akan segan-segan lagi. Tidak peduli pria atau wanita, siapapun yang ingin memisahkannya dengan kekasihnya akan diberinya pelajaran.
"Oh my... Mungkin dia sangat menyukaimu hingga berkata seperti itu?" Tidak sedikitpun Robin menunjukkan rasa cemburu atau kesal terhadap wanita itu. Hal itu membuat Zoro merasa makin kesal.
"Kau tidak cemburu?" Karena sudah tidak tahan, Zoro langsung menanyakannya kepada Robin.
"Kau ingin aku cemburu?"
"Hoi, onna. Aku tidak bertanya padamu untuk mendapat pertanyaan darimu lagi." Ucapnya mulai sedikit dingin.
"Kau tahu berapa umurku tahun ini?" Tanya Robin mulai serius.
"29 tahun." Jawab Zoro dengan polos.
"Dan menurutmu, apa masih pantas jika aku merasa cemburu terhadap seorang gadis muda dengan umurku yang hampir 30, Kenshi-san?" Lagi-lagi panggilan itu. Robin mulai merasa kesal. Dia mulai mendorong Zoro jauh dari pelukannya.
"Bukan begitu maksudku, Robin. Aku hanya... Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padaku. Selama ini akulah yang selalu menunjukkan ketertarikanku padamu, tapi bagaimana denganmu? Aku tidak pernah mempermasalahkan umur. Aku tidak peduli, 30 atau 60 tahun pun, bagiku kau tetap cantik." Ungkap Zoro dengan mukanya yang merah padam.
Zoro tidak pernah seromantis ini sebelumnya. Hal ini membuatnya merasa hampir tidak enak badan jika mengatakannya sekali lagi. Ini sangat berbeda dari Zoro yang biasanya. Dia hanya merasa ingin mengungkapkan perasaannya saja.
Robin sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sempat terkejut mendengar kata-kata Zoro yang mungkin cuma akan keluar dari mulutnya sekali seumur hidup. Dia akan menjaganya dalam hatinya seumur hidupnya. Hanya senyum manisnya yang bisa diberikannya pada kekasihnya itu.
Zoro merasa lega melihat senyum Robin yang sepertinya menandakan kalau dia sudah tidak marah lagi. Mereka saling berpandangan. Semakin dekat dan dekat. Mereka merasa dunia hanya milik mereka berdua sampai ada yang membuka pintu rumah itu dengan tergesa-gesa, mengganggu mereka.
"Woi Robin... Apa ada daging?" Teriak Luffy yang belum sadar kalau di depannya ada Robin dan Zoro yang sedang bercumbu meskipun saat ini mendadak membeku.
"Luffy... Sudah kubilang, masuk rumah orang harus mengetuk pintu du..." Omel Nami ke Luffy. Nami berhenti sejenak karena melihat Zoro dan Robin sedang berpelukan mesra di atas sofa. "Oh! Tidak!" Nami terkejut.
Terlambat. Kaku, Sanji, dan Usopp sudah masuk ke ruang tamu. Semua mata terbelalak melihat Zoro dan Robin bermesraan, kecuali Luffy dan Nami yang sudah mengetahui hubungan kedua sejoli itu. Saking shocknya, Kaku sampai duduk lemas memandang mereka.
"Marimooooooooooo... Apa yang kau lakukan pada Robin-chwan? Dasar marimo jelek. Dasar tidak tahu malu. Berani-beraninya mengotori kesucian Robin-chwan ku..." Teriak Sanji dengan ekspresi ingin memakan si marimo. Air mata bercucuran melihat kejadian itu.
"Shishishi.. Bagus, Zoro." Luffy tertawa dengan bangganya.
"Kenapa malah bangga?" Teriak Usopp.
"Itu artinya Zoro bukan gay. Shishishi..." Ucap Luffy ringan.
"Tentu saja, BUKANNNN!" Teriak Zoro yang hampir memperlihatkan gigi taringnya.
"Oh... Ini menjelaskan semuanya." Ucap Luffy sambil memukul ringan telapak tangan kirinya dengan genggaman tangan kanannya.
"Harusnya kau lebih terkejut daripada ini. Bodoh!" Teriak Usopp.
"Bukannya kau sudah tahu, Luffy?" Tanya Zoro dengan kesal.
"Ah iya, aku lupa." Ucap Luffy sambil berpikir. "Oh, aku tahu. Ini pasti gara-gara pengaruh perutku yang lapar." Semuanya hampir pingsan mendengar perkataan Luffy. Alasan macam apa itu?
"Oi Sanji. Masakkan daging untukku." Lanjut Luffy dengan memerintah Sanji yang masih menangis di pojokan sambil meratapi nasibnya yang belum punya pacar hingga sekarang, sedang si bodoh marimo saja sudah punya pacar cantik. Sungguh malang.
"Luffy, aku sedang tidak ada mood. Kau masak saja sendiri." Ucap Sanji suram.
"Captain-san, akan kumasakkan daging untukmu. Fufufu..." Robin mengambil celemek barunya dari tas kerjanya yang tergeletak di bawah meja ruang tamu dan bergegas menuju dapur untuk tidak lama-lama membuat si penyuka daging menunggu.
"Terimakasih, Robin." Teriak Luffy dengan bahagia.
Zoro tersenyum. Ternyata tidak buruk juga hubungannya dengan Robin ketahuan. Setidaknya, dia bisa terang-terangan memeluk atau mencium Robin. Matanya memandang ke arah Kaku yang sedari tadi masih shock. Dia mendekati adik dari wanita yang dicintainya itu.
"Kau terkejut dengan hubunganku dengan kakakmu?" Tanyanya serius.
"Aku hanya... Aku benar-benar tidak tahu bahwa hubungan kalian sudah sejauh ini. Aku sendiri yang memulainya, tapi sepertinya aku juga yang paling terkejut dengan hasil akhirnya."
"Hal itu terjadi begitu saja. Sekarang aku memang belum bisa memberi Robin apa-apa, tapi aku bisa pastikan bahwa tidak ada wanita lain di dalam hatiku selain kakakmu. Jadi aku harap, kau mau memberi restu." Zoro tahu, Kaku bukannya tidak suka padanya. Kaku hanya butuh penyesuaian diri.
"Dan, apa yang aku janjikan pasti akan kutepati." Lanjut Zoro. Kaku tiba-tiba teringat dengan perjanjian mereka. Kaku sangat bersemangat mendengar Zoro yang mau membantunya mendapatkan cinta Califa. Tanpa pikir panjang, Kaku langsung berdiri dan memberi restunya kepada Zoro dan Robin.
Sementara itu, Law dan Tashigi sedang berbincang di ruang makan rumah Law. Law sudah tidak tinggal di rumah lamanya lagi. Saat ini, rumah yang ditempati Law cukup besar. Lagi-lagi pembicaraan itu.
"Semuanya belum berakhir. Kak Law sendiri tidak bahagia. Kenapa harus terus terjebak dalam masa lalu? Kenapa harus merasa bersalah? Kalian saling mencintai, jadi dimana salahnya? Ayahnya memang yang telah membunuh paman, bibi, dan Lami, tapi apa pantas kak Law menghukum diri sendiri seperti ini? Kak Law sudah menderita selama sebelas tahun dan akan sakit berapa lama lagi?" Tanya Tashigi dengan melampiaskan semua emosinya.
"Kau tidak mengerti, Tashigi-ya. Kita sudah beberapa kali mengulang pembicaraan ini. Harusnya kau sudah tidak perlu mengungkitnya lagi." Law melanjutkan makannya.
"Bicaralah padanya sekali saja. Pastikan bahwa hatinya sudah bukan milik kak Law lagi jika tidak ingin aku terus membahasnya." Ucap Tashigi menyakinkan.
"Tidak." Jawab Law singkat.
"Sekali ini saja, kak Law." Ucapnya sedikit memaksa.
"Aku bilang tidak, ya tidak. Jangan pernah memaksaku, Tashigi-ya. Kau tahu apa yang bisa kulakukan terhadapmu, kan?" Ekspresi wajah Law mulai menyeramkan. Membuat bulu kuduk Tashigi mulai berdiri, tapi biar apapun yang terjadi, mereka harus berbicara berdua.
"Kak Law takut menghadapi kenyataan?"
"Tidak. Aku tidak pernah takut akan apapun, Tashigi-ya."
"Jadi kenapa kak Law tidak mau menemui Nico Robin?"
Law berpikir sejenak, kemudian dia menghela nafas panjang. Sambil tetap melanjutkan makan malamnya, dia berkata, "Baik. Sekali ini saja. Aku akan pergi menemuinya dan menanyakan perasaannya sekarang padaku. Kau puas?" Tashigi langsung tersenyum senang mendengar pernyataan kakak sepupunya itu dan mengangguk senang.
Jawaban Review:
Naomi: 100 untuk Naomi-chan karena tebakannya benar :P
Haha... Gak kog... Mana tega ane menyakiti yayank Zoro . Paling cuma ane bikin keki gara2 diejekin mulu sama Robin. #siapsiapdisatesamaZoro
Btw, Naomi 61 kamu kah naomi-chan? Terimakasih sudah terus mendukung ya... Semua gara2 otaknya lg mampet, jadinya gak ada update sama sekali. Tapi yang penting kan I'm here again. Senang sekali kalau ada yang terus memperhatikan seperti Naomi-chan, Yadi, n Piranha19. Thank you very much :D
Yadi: Waaaaaaaaaa... Maafkan saia. Bukan maksud untuk membuat kalian semua khawatir kog. Saia selama ini tetap memikirkan cerita ini kog, n tidak akan ditinggalkan. Kan sayang udah bikin sebanyak ini. Tapi namanya manusia yah kadang-kadang sedikit kurang konsisten, pikiran kemana2, selalu kurang puas dengan hasil yang sudah ada, jadinya ya begini, agak lama. Mohon dimaafkan ya...
Selama ini kamu tidak pernah banyak menuntut kog. Terimakasih sudah menjadi salah satu yang sangat mendukung cerita ini.. :D
Mengenai review chap 7 dari Yadi: Hahaha... Luffy gitu loh... Kalo gak baka, bukan Luffy namanya. Pendekkah? Chapter ini panjang durasinya nih. Semoga terpuaskan. Karakter Zoronya juga mudah2an chapter ini makin memuaskan ya.. Susah sekali mendeskripsikan karakter Zoro, Robin, dan Law. Super duper tantangan. Haha...
Jangan lupa kabari kalau sudah ada ide buat fanfic ya... Tapi jangan terbebani, jadikan sebagai motivasi. :)
Ayuha Chaan: Terimakasih Ayuha-chan karena sudah membaca fanfic saia yang banyak kekurangan ini. Terimakasih untuk semua saran-sarannya. Sangat berguna sekali. Semoga chapter ini lebih memuaskan lagi.
Soal bahasa asing yang perlu di italic sebenarnya saia dapat referensi supaya tidak perlu di italic itu dari fanfic-fanfic author senior yang kebanyakan menulis fanfic English, makanya selama ini saia abaikan. Tapi meskipun ada kekurangan2 yang belum bisa saia perbaiki, harap tetap menyukai fanfic saia ya...
Untuk menjawab pertanyaannya Ayuha-chan soal pendidikan Luffy dkk, di cerita ini mereka semua sudah kuliah. Dari chap 3 sudah banyak saia sisipkan kata jurusan, kampus, dan universitas. Kalau sudah kuliah, kayaknya sah2 saja jika mereka memutuskan untuk menikah karena sudah terlanjur belendung juga. Hahaha...
KaizokuGari: Mayan suka lah kalau pair LuHan, tapi paling suka tentu saja sama ZoRo... :P
Baiklah, nanti kalau ada ide saia bikinin yang ada pair LuHan nya yah... Terimakasih sudah terus membaca dan me-review...
Muhammad591: Syukurlah masih dibaca. Saia kira sudah kurang menarik lagi, jadi fic ini sudah ditinggalin. Haha...
Alasan mengapa memilih LuNa daripada LuHan untuk selingan dari pair ZoRo sebenarnya karena hampir semua fanfic ZoRo yang saia baca ada LuNa nya, jadinya saia merasa lebih mengerti mereka ketimbang LuHan, tapi kapan2 kalau ada fanfic baru, mungkin saia mau mencoba pair LuHan.
Semangat terus dengan kerjaannya dan kalau sempat, terus baca fanfic ini ya... Trims.
Piranha19: Nah, bikinnya mungkin disitu, tapi bisa saja di tempat lain, secara si Nami itu orangnya fleksibel. Hahaha... Terimakasih atas segala dukungannya pada saat hiatus... :D
vava . nt93: Maaf jika mengecewakan, tapi biar jelas, fic ini sebagian besar tetap difokuskan ke ZoRo. Mungkin akan ada LawRo jika bisa sesuai dengan alur ceritanya. Law hanya untuk author... wkwkwkwkwkw... #ngarep
Haha... Sebenarnya, kalau di Rules & Guidelines nya publish, jelas tertulis kalau "Rated T: Suitable for teens, 13 years and older, with some violence, minor coarse language, and minor suggestive adult themes." - Itu artinya author masih belum menyalahi aturan main di sini, alias minor suggestive adult themes, yang bisa diartikan masih ada unsur dewasanya, tetapi tidak secara terang-terangan seperti menyebut alat kelamin, dll yang bisa dikategorikan sebagai rated M.
Di chapter 6 juga sudah jelas saia menuliskan "Warning: Chapter ini ratingnya T+ ya..." Jadi kalau vava-chan merasa terlalu vulgar, maka bagian yang sedikit berbahaya itu bisa di skip saja. Terimakasih sudah terus membaca... :)
A/N: Sekilas info, bagi yang penasaran dengan posisi Zoro dan Robin saat ketangkap basah oleh teman-temannya, akan saya jelaskan disini. Saat itu, Robin dan Zoro sedang berciuman sambil berpelukan ria di sofa. Kancing baju Robin sudah terlepas dua buah. Begitulah kira-kira. Jadi, jangan heran kalau Sanji dan Kaku menjadi shock setelah melihat kejadian itu. Hahaha...
Statement: Jangan pernah berpikir kalau author sengaja membuat shipping ZoroxTash ya... Author tidak pernah sekalipun menyukai wanita yang bernama "Tashigi". See you next chapter...
