Disclaimer: Oda-sensei.

Haiiiiiiiiiiiiii… Mohon maaf sebesar-besarnya buat semua yang udah nungguin fic ini ya… Author bukannya melupakan fic ini, tapi author benar-benar stuck dengan chapter yang menguras tenaga ini. Author harap usaha kali ini sesuai dengan yang diharapkan dan bisa membuat kerinduan yang nunggu menjadi terobati. Selamat menikmati.


Chapter 9. Terrible.

Sorenya, Law datang menemui Robin ke kantor wanita itu. Semua teman kantor Robin memperhatikannya terutama teman wanita Robin yang memandang kagum pada laki-laki tampan itu. Wanita berambut raven itu terkejut dengan kunjungan laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Robin terkejut tapi tetap mempertahankan ekspresi wajah poker face nya.

"Aku ingin bicara."

"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Trafalgar-san." Ucapnya tetap terlihat tenang.

"Apa tidak boleh untuk teman lama berbincang sebentar?" Robin berpikir sejenak.

"Baiklah, hanya sebentar." Robin langsung mengemaskan barang-barangnya. "Dan, aku rasa kita harus mencari tempat lain untuk berbincang supaya acara pertemuan antara teman lama ini tidak terganggu." Sambil melihat sekitar dimana teman-teman sekantornya masih memperhatikan mereka sambil menaruh curiga pada sepasang mantan kekasih itu. Law mengikuti arah pandangan mata Robin dan mulai tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Perasaan Robin sedang berkecambuk saat ini. Law sudah lama pergi meninggalkannya. Meskipun mereka berpisah dengan baik-baik, tapi Robin merasa sedikit dipermainkan. Ketika dia sudah mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit untuk laki-laki lain, laki-laki masa lalunya itu malah kembali membuatnya goyah. Wanita itu merasa kesal dan marah saat mendapati hatinya mulai bercabang dua seperti saat ini. Robin bingung dengan perasaannya saat ini. Entah getaran yang dirasakannya ketika bersama Zoro itu benar-benar rasa cinta atau tidak. Bukannya dia tidak mengerti soal itu, mengingat otak Robin yang sangat intelek, hanya saja dia tidak berani untuk memastikannya saja. Zoro terlalu baik untuknya untuk disakiti.

Sebuah ruang laboratorium yang sudah jarang digunakan dipilih oleh Robin untuk tempatnya berbincang dengan mantan pacarnya itu. Setelah mereka berdua masuk, Law menutup pintunya agar tidak ada gangguan dari siapapun.

"Trafalgar-san, sangat tidak etis kalau orang lain menemukan kita di dalam ruangan ini berdua dengan pintu tertutup." Ucapnya tenang tanpa melihat mata orang yang sedang bersamanya itu. Robin menarik dua buah kursi di sebelah meja besar yang biasa digunakan untuk penelitian dan mempersilahkan Law untuk duduk.

"Aku ingin bicara berdua denganmu tanpa ada gangguan." Ucap Law ringan sambil berjalan mendekat untuk duduk di sebelah Robin.

"Baiklah, sebelumnya aku akan menelepon Kaku dulu supaya dia tidak cemas." Ucap Robin meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Law mengangguk.

Beberapa menit kemudian...

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Trafalgar-san?" Masih menghindari tatapan mata Law.

"Aku... Aku tahu ini terdengar sangat egois, tapi aku sangat merindukanmu. Aku mengerti jika kau akan merasa muak dengan perkataanku karena akulah yang meninggalkanmu sebelas tahun yang lalu. Aku juga mengerti kalau kau sudah memulai kehidupan baru dengan orang lain, tapi aku berbohong jika aku bilang tidak sekalipun aku berpikir untuk berlari menemuimu dan mendekapmu lagi. Aku juga berbohong kalau aku bilang pada semua orang aku tidak pernah menyesal menggantikanmu dalam kehidupanku dengan bayang-bayang orang tua dan adikku yang sudah meninggal. Membuatmu sedih dan terluka karenaku membuatku terluka lebih dalam lagi. Semua itu terasa seperti dosa yang harus kutanggung karena aku memilih untuk meninggalkanmu." Terdengar sekilas suara Law yang gemetar mengungkapkan isi hatinya. Dia menatap jelas ke arah Robin meskipun Robin masih menolak untuk menatap balik ke arahnya.

"Kau tidak perlu merasa menyesal. Aku sudah melupakan segalanya, Trafalgar-san." Ucap Robin dengan memasang senyum palsunya.

"Trafalgar-san? Panggilan itukah yang kau gunakan untuk meyakinkanku kalau kau sudah melupakan segalanya?" Tanya Law sedikit terganggu dengan panggilan tidak friendly nya Robin.

"Apa yang salah dengan panggilan itu? Aku rasa itu suatu panggilan yang cocok untuk teman lama yang sudah lama tidak bertemu." Ucap Robin menekankan pada kata "teman lama" sambil tetap menolak menatap langsung ke arah lawan bicaranya.

"Lalu kenapa kau tidak mau menatapku?" Teriak Law yang sudah mulai sangat terganggu dengan tingkah Robin. Semua tidak berjalan seperti perkiraan Law. Dia selalu tampak tenang, tapi jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia selalu berpikir untuk berbuat egois dengan merebut kembali Robin dari pelukan Zoro.

"Jadi... Apa yang kau harapkan dariku? Kau meninggalkanku, memberiku harapan, dan kemudian meninggalkanku lagi. Itukah maumu?" Robin pun mulai kehilangan kontrol dirinya. Terdengar suaranya mulai bergetar. Law pun meraih erat kedua lengan Robin, memaksanya untuk menatap ke arahnya.

"Maafkan aku, Robin-ya. Aku tidak berpikir bahwa kau akan sesakit itu. Sebelas tahun yang lalu, aku mulai terbawa emosi ketika mengetahui kalau ayahmu yang membunuh keluargaku. Aku berpikir jika meninggalkanm, aku tidak akan pernah merasa bersalah lagi terhadap orang tua dan adikku, tapi ternyata aku salah. Aku malah merasa semakin bersalah pada mereka karena aku selalu menggunakan mereka sebagai alasan untuk lari dari permasalahan ini. Aku semakin jatuh dalam rasa bersalahku, bukan hanya pada keluargaku, tapi juga padamu dan diriku sendiri. Setelah aku tahu kalau kau dan pria bernama Roronoa Zoro menjalin hubungan, hatiku sangat sakit dan aku mulai menyadari kalau aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Aku tahu aku sangat egois. Aku tidak masalah jika kau dan Roronoa-ya membenciku, tapi aku bahagia sudah bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padamu." Masih belum melepaskan tangan Robin. Law memandang erat ke mata Robin. Mata itu tidak berbohong. Law berpikir bahwa mungkin masih ada tempat untuknya di hati wanita yang dicintainya itu.

"Hentikan semua ini. Kau tidak pernah tahu bagaimana susahnya untukku melupakanmu." Tidak terlihat lagi wajah tenang Robin.

Robin memikirkan semuanya. Rasa bersalah Law terhadapnya akan terulang padanya ke Zoro jika dia kembali menerima Law dan mengkhianati Zoro, laki-laki yang selama ini selalu berkorban untuknya dan menganggapnya sebagai nafasnya. Dia tidak boleh melakukannya. Dia sangat mengerti perasaan orang yang ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Dia sangat tahu akan perasaan semacam itu.

"Tidak, Law. Hubungan kita sudah berakhir. Aku dan Zoro akan hidup bahagia. Meskipun dia masih muda, dia selalu berusaha keras untuk membahagiakanku. Dia sangat mencintaiku, dan aku sangat menyayanginya. Itu sudah cukup." Ucap Robin memalingkan wajahnya.

Keadaan seketika menjadi sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang melanjutkan pembicaraan ini. Bukannya tidak berani, tapi seakan tidak ingin menerima kenyataannya. Mereka berdua berpikir keras. Apakah benar keputusan yang mereka buat? Mereka terdiam selama sekian menit sampai Law mulai mencairkan suasana.

"Haha... Aku tahu kalau kau akan berkata seperti itu. Aku tidak akan pernah memaksamu karena semua keputusan ada di tanganmu." Law tertawa lirih. "Aku sangat bodoh. Aku sudah tahu jawabanmu dari awal, tapi aku tetap mengacuhkannya dan mulai berharap lagi. Satu tahun menjalin hubungan denganmu dan sebelas tahun terus-menerus memikirkanmu itu bukan waktu yang sebentar untukku sehingga aku tidak mengerti dirimu. Wanita yang selalu berusaha untuk tidak terlihat lemah di depan orang lain. Wanita yang selalu tampak tidak peduli dengan sekitarnya padahal dia lebih memikirkan sekelilingnya lebih dari siapapun juga. Wanita yang selalu ada dalam hatiku. Melihatmu bahagia membuatku merasa semua yang kulakukan buatmu tidak sia-sia."

(Law's POV)

Semua sudah berakhir. Robin tetap bahagia. Tidak apa-apa. Aku tidak sakit sama sekali. Tidak ada satu orang pun yang akan tersakiti.

Perkataan Cora-san selalu terngiang-ngiang ditelingaku. "Tutuplah matamu dan anggaplah semuanya hanyalah mimpi terindahmu, maka setelah kau membuka matamu, semua tidak akan terasa begitu menyakitkan." Tapi kenapa setelah aku membuka mata, semua masih begitu sangat menyakitkan? Dia berbohong padaku. Tidak sedikitpun rasa sakit ini hilang dari hatiku.

Dengan menarik nafas Law pun melanjutkan, "Baiklah, aku sudah mengerti. Tapi, bolehkah kita tetap menjadi teman?" Robin tercengang mendengar kata-kata Law. Pikirannya sangat kacau saat ini, tapi menolak Law dan tetap bersama Zoro telah menjadi keputusan yang tidak akan diubahnya lagi. Dia pun tersenyum kepada laki-laki yang pernah sangat dicintainya itu.

"Tentu saja, Law-san. Kita tetap akan menjadi teman."

Law tanpa ragu langsung memeluk Robin. "Teman pun juga boleh saling memeluk kan?" Ucapnya sambil bercanda.

"Fufufu... Jika pacarku melihatnya, kau pasti akan dikulitinya perlahan-lahan kemudian isi perutmu akan diberikan untuk makanan hewan liar." Ucap Robin dengan tertawa mengerikannya yang bisa membuat orang bermimpi buruk.

"Kau ternyata tidak berubah, Robin-ya. Kau masih tetap suka membicarakan hal-hal mengerikan. Tapi... bukan cuma dikuliti dan diberikan ke hewan liar, aku juga akan dibuangnya ke jurang penuh dengan buaya dan yang tersisa hanya sebagian tangan atau satu telingaku." Ucap Law tidak kalah mengerikannya.

"Lihat siapa yang berbicara sekarang! Pembicaraanmu juga sama menyeramkannya denganku. Fufufu..."

Sementara itu, Tashigi yang berada di luar ruangan pun tidak ingin melewatkan kesempatan emas untuk mempersatukan Law dan Robin kembali. Dia mengunci pintu ruangan tersebut. Sementara itu, di dalam ruangan tersebut, dua orang mantan pasangan kekasih itu terkejut setelah mendengar suara kuncian pintu dari luar dan segera berlari tergesa-gesa ke depan pintu seraya memutar-mutar ganggang kunci yang meski dipaksa sebagaimanapun tidak akan terbuka.

"Tashigi-ya, aku tahu ini perbuatanmu. Hentikan semua ini. Kau tahu ini bukan perbuatan yang cerdas dan kau tahu betul apa yang akan kulakukan padamu ketika aku keluar dari sini kan? Bukalah pintunya sebelum kau menyesal!" Teriak Law yang masih cukup bersabar.

"Sabarlah, kak Law. Kak Law akan sangat berterimakasih padaku setelah ini. Nikmatilah malam yang indah ini berdua, kak. Anggap saja ini hadiah kecilku untukmu, kak Law." Tanpa mau mendengar teriakan kakak sepupunya itu lebih jauh lagi, Tashigi pergi meninggalkan tempat itu.

Sementara di dalam ruangan yang terkunci itu.

"Aku berjanji aku akan membunuhnya setelah kita keluar dari sini, Robin-ya." Ucap Law yang menggebu-gebu sambil membayangkan untuk mencincang-cincang adik sepupunya.

"Sudahlah, Law-san. Kita nikmati saja semua ini seperti yang dikatakan gadis itu." Ucap Robin tenang dan kemudian mengambil langkah untuk duduk di kursi tempat diskusinya tadi tanpa menghiraukan gerutuan Law lebih jauh lagi.

"Bodohnya aku. Aku lupa membawa pedangku. Kalau aku membawanya, pasti sudah kutebas pintu sialan ini. Aku tidak akan membiarkanmu dalam situasi seperti ini." Ucap Law sedikit emosi, lebih tepatnya mencaci dirinya sendiri sambil menggedor-gedor pintu itu kalau-kalau di luar ada orang yang lewat.

Sementara itu...

"Hei adik ipar, kenapa kakakmu sampai jam segini belum pulang?" Tanya Zoro ke Kaku sambil tiduran di sofa rumah Robin dengan tanpa membuka matanya.

"Siapa yang kau panggil adik ipar? Aku belum begitu merestuimu dengan kakakku sebelum kau menepati janjimu untuk membantuku dalam usahaku mendapatkan Califa." Teriak Kaku dengan komikal sambil menendang-nendang temannya itu turun dari sofa kakaknya. "Hei, turun dari situ. Pulang sana ke rumahmu. Hush..." Tambahnya lagi sambil terus menendang-nendang laki-laki yang mengaku akan menjadi kakak iparnya itu.

"Padahal baru saja aku ingin memberikanmu nomor ponsel Califa yang baru." Zoro mengeluarkan secarik kertas dengan tulisan kecil yang dikipas-kipaskannya ke arah Kaku. Mata Kaku terbelalak, dia kaget dan langsung berubah dari yang tadinya sedikit merengut menjadi senang. Sambil menempelkan mukanya ke arah si rambut hijau yang masih terbaring di sofa, dia dengan ekspresi cute nya memohon-mohon supaya diberikan kertas itu.

"Kakak ipar, kau dapat dari mana? Aku mohon berikan nomor ponsel Califa padaku. Aku sudah lama mencarinya. Karena takut aku menghubunginya terus, dia mengganti nomor ponselnya dan selalu menghindariku. Jadi, tolong berikan padaku ya, kakak iparku si pendekar pedang nomor satu yang paling dicintai kakakku? Ya?" Dengan muka memelas, si hidung panjang memandangi Zoro.

"Baiklah. Akan kuberikan, meskipun sampai saat ini aku masih belum mengerti kenapa kau bisa sangat menyukai wanita mata duitan itu." Jawabnya seakan masih belum sepenuhnya yakin dengan keputusannya untuk mendekatkan Kaku dan Califa.

"Kau memang temanku yang paling baik. Kau tahu? Meskipun Califa wanita yang mata duitan, tapi dia sempurna di mataku. Dua tahun yang lalu saat pertama masuk universitas, dia yang pertama menyapaku. Semua orang menjauhiku karena menganggapku aneh, tapi dia malah mendekatiku. Yah, meskipun pada akhirnya aku tahu kalau dia mendekatiku karena uang kakakku. Aku tahu dia tidak baik untukku, tapi aku tidak bisa melupakannya sampai kapanpun. Kau mengerti kan?" Kaku terlihat agak sedih. Zoro yang melihatnya menjadi tidak tega.

"Ya, ya... Baiklah. Sekarang katakan, dimana kakakmu? Kenapa dia belum pulang?" Tanyanya tidak sabaran karena ingin sekalian mengalihkan pembicaraan.

"Oh iya, tadi dia telepon. Katanya dia agak terlambat karena dia ingin bertemu teman lama di kantor."

"Teman lama? Bukannya Robin tidak punya banyak teman yang bisa disebut teman lama?"

"Ah, setelah dipikir-pikir perkataanmu ada benarnya juga. Kak Robin sepertinya tidak punya teman lama selain kak Law. Tapi tidak mungkin dia bertemu kak Law kan? Hahahaha..." Celetuk Kaku yang menganggap perkataannya yang baru saja dikeluarkan itu tidak mungkin dan sesuatu yang bodoh. Dia menatap ke arah Zoro yang mulai cemas. "Tidak perlu khawatir, meskipun mereka bertemu, kakakku pasti tetap memilihmu. Aku kenal dengan sifat kakakku. Perhatian yang selama ini diberikannya padamu itu benar-benar tulus. Aku tahu kalau dia sangat menyayangimu, aku bisa lihat itu dari matanya." Kata-kata Kaku seakan tidak masuk ke telinga dan pikiran Zoro. Tanpa mendengar lebih panjang lagi, dia beranjak dari sofa dan berlari pergi meninggalkan Kaku yang masih mengoceh.

"Cih... Dia begitu cemburuan. Apa kakakku tidak salah memilihnya? Ah, sudahlah. Yang penting aku sudah dapatkan nomor ponsel Califa." Ucap Kaku dengan bahagia sambil meraih hp nya yang tergeletak di meja.

Sementara itu, Zoro berlari mencari kantor Robin sambil menenteng ketiga pedangnya. Berkali-kali dia tersesat dan balik lagi ke tempat semula. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi dengan taksi. Sesampainya di kantor Robin, si marimo itu bertanya ke bagian resepsionis dan bertemu dua orang wanita teman kerja Robin.

"Apa ada yang melihat Nico Robin?"

"Oh, kau mencari Robin? Kau siapa? Adiknya? Tampan sekali." Wanita berpakaian hitam itu terpesona melihat Zoro.

"Sebenarnya..." Belum sempat Zoro menyelesaikan kata-katanya, wanita satunya lagi berkata padanya bahwa Robin pergi dengan seorang pria yang dideskripsikannya mirip Law ke laboratorium untuk berbicara tapi sampai saat ini belum kelihatan batang hidungnya lagi.

Mendengar hal itu, Zoro langsung beranjak ke arah laboratorium yang ditunjukkan arahnya oleh wanita berpakaian hitam, tapi sebelum pergi Zoro bilang, "Aku bukan adiknya, tapi pacarnya." Ucapan Zoro itu membuat kedua wanita itu kaget bukan kepalang. Kenapa laki-laki muda dan tampan semuanya menyukai Robin yang aneh, sungguh tidak masuk akal.

Lagi-lagi si rambut hijau tersesat, meskipun sudah diarahkan. oleh kedua teman kerja Robin tadi.

Sementara itu, di dalam ruangan tempat Law dan Robin terkunci bersama...

"Kau masih ingat dulu waktu pertama kali kita bertemu? Aku menabrakmu. Menyadari kalau sudah menabrak gadis cantik, aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas itu untuk sedikit merayumu."

"Fufu... Dan kau kira aku seperti gadis-gadis lainnya yang akan terbawa suasana karena kau telah menciumku kan?"

"Saat itu aku berpikir, gadis itu benar-benar jual mahal."

"Saat itu aku bukannya tidak terbawa suasana, aku cuma berusaha untuk tetap terlihat keren seperti biasanya. Berhubung itu adalah ciuman pertamaku, aku menjadi sedikit kesal tapi di saat yang sama aku juga sangat menikmatinya." Ucap Robin sambil mengingat-ngingat sensasi ciuman saat itu.

"Haha... Ternyata waktu itu kau gadis yang mesum." Ejek Law.

"Fufufu... Apa kau masih berpikir untuk keluar dari sini dengan tangan dan kaki utuh tanpa ada sayatan-sayatan dari kukuku yang tajam ini?" Tanya Robin ringan sambil memperhatikan kuku-kuku indah nan tajamnya.

Beberapa menit kemudian, mereka masih asik bercanda dan mengingat masa lalu. Tiba-tiba, pintu terbelah menjadi beberapa bagian. Mereka menoleh ke arah pintu. Zoro sudah berada di hadapan mereka sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedangnya.

"Zoro?" Panggil Robin dengan terlihat sangat senang.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Zoro tenang tapi terlihat ada yang sedikit aneh dengan dirinya.

"Aku sedang berbincang dengan teman lama dan tiba-tiba kami terkunci dari luar." Jelas Robin sambil berjalan mendekati Zoro.

"Teman lama? Pacar lama?" Tanya Zoro dengan nada yang mulai menyebalkan.

"Apa maksudmu bertanya seperti itu?" Tanya balik Robin dengan sedikit kesal tapi masih terlihat tenang.

"Aku lihat kau sangat menikmati terkunci di sini bersama laki-laki teman lamamu ini." Ditegaskan di kata "teman lama".

"Aku tanya sekali lagi Zoro, apa maksud semua pertanyaanmu ini?" Tanya Robin yang masih terlihat bersabar.

"Maksudku adalah kau membohongiku. Kau bilang bahwa kau tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan mantan kekasihmu itu, tapi aku malah menyaksikan kalian sedang asik ngobrol berdua. Heh? Membicarakan masa lalu? Mengenang masa-masa indah dulu? Keterlaluan. Harusnya aku sadar kalau selama ini kau cuma memanfaatkanku untuk mengisi hari-harimu yang sepi dan ketika dia kembali, kau akan pergi meninggalkanku kan, Robin?" Zoro sudah mulai berteriak kepada Robin. Dirinya sendiri pun tidak mengerti kenapa dia bisa seperti itu, yang jelas saat ini dia merasa hatinya tercabik-cabik, marah, dan cemburu melihat Robin dan Law.

"Jadi seperti itu anggapanmu tentangku?" Tanya Robin dengan lirih.

"Bukankah itu memang kenyataannya?" Suara Zoro makin lama makin mengeras. Law yang dari tadi diam memperhatikan keduanya pun mulai ikut berbicara.

"Roronoa-ya, mungkin kau sudah salah paham dengan semua ini." Law mencoba menjelaskannya kepada Zoro.

"Kau tidak usah ikut campur. Aku sedang berbicara dengan pacarku." Jawabnya dengan dingin.

"Meskipun Robin sekarang pacarmu, aku tidak rela jika dia menangis karenamu." Setelah berbicara pada Zoro, Law menatap Robin dan berkata, "Aku mencabut kata-kataku tadi, aku tidak akan melepaskanmu untuk laki-laki pengecut sepertinya."

"Trafalgar-san, kau tahu sifatku kan?" Belum selesai Robin berkata-kata, Zoro menarik tangan Robin untuk mengajaknya pergi dari Law. Law pun menarik tangan Robin yang satunya lagi seakan tidak rela melepaskannya untuk kedua kalinya.

"Minggir, Zoro-ya. Aku dan Robin sedang berbincang tentang pembicaraan dewasa, tidak perlu anak kecil sepertimu untuk mencampurinya." Ucap Law kepada Zoro dengan sangat dingin.

"Heh? Pembicaraan dewasa? Oh, sekarang aku mengerti. Robin, sekali lagi kutanya, apa kau lebih memilih Law daripada aku? Apa karena kalian seumuran? Dia lebih dewasa dan lebih bisa diandalkan daripada aku. Apa aku hanya anak kecil yang dijadikan selingan saja? Apakah karena itu?" Tanyanya sambil tersenyum lirih. Kata-kata Zoro itu membuat hati Robin sangat sakit dan dia menampar laki-laki pilihannya itu.

"Kau sudah keterlaluan. Aku sudah mengerti sekarang. Harusnya aku tahu kalau hubungan seperti ini tidak akan bisa berhasil. Harusnya aku tahu kalau menjalin hubungan lagi hanya akan terus menyakitiku. Terimakasih untuk semua perhatian yang kau berikan padaku selama ini. Meskipun tidak bisa kubalas, aku akan mendoakanmu untuk mendapat yang lebih baik dariku. Kita putus." Dengan sedih, Robin mengambil langkah pergi. Law mencoba menghentikannya, tapi gagal. Zoro hanya terdiam.

"Kau tahu, kau benar-benar buruk. Aku pikir kau akan bisa membahagiakannya, ternyata aku salah." Law pun pergi. Di laboratorium yang terlihat suram, Zoro sedang merenungi kembali tingkahnya yang fatal itu.


Zoro dan Robin putus? Apa yang selanjutnya terjadi pada mereka? Apa mereka akan kembali bersama atau Robin kembali jatuh ke pelukan Law? Tunggulah kelanjutannya di next chapter "Where Should I Go"...

Yang sabar ya dengan saya.. Kadang-kadang ide-idenya suka blank, jadi rada lama updatenya. Tapi dengan adanya chapter 9 ini, saya mau bilang kalau saya bukan meninggalkan fic ini, tapi saya hanya nge-blank aja. Maaf buat chapter yang sedikit bertele-tele ini. Chapter ini terus terang saja yang paling berat dan baper buat saya, jadi agak bingung lanjutinnya.

Saya semangat lagi menulis karena banyak dukungan-dukungan yang saya terima selama ini. Saya pikir semua yg udah nge-follow pasti kecewa dgn saya karena berpikir saya ninggalin nih fic, tapi ternyata masih ada yang mau review dan nge-follow meski saya lagi gak update. Thanks a lot ya semuanya... Semoga sedikit terpuaskan di chapter ini.

Jawaban Review:

Naomi-chan: Hehe... I'm here for you... Makasih udah selalu mendukung dan memberi semangat tanpa ada hentinya meskipun hampir satu tahun gak update. Aku sedang mencoba mengatasi krisis ide ini. Mdh2an chapter selanjutnya gak memakan waktu lama. Mari kita majukan fanfic ZoRobin Indonesia... Hehe... Btw, Naomi-chan gak mencoba2 bikin fic? Kalau Naomi-chan bikin, aku pasti baca. Makasih banyak atas dukungan n kepercayaannya.

Yadi: Betul2... Makin banyak konflik. Masalah Robin dan Kaku pun akan hadir dalam 2-3 chapter ke depan. Mohon ditunggu ya teman. Makasih atas segala dukungannya. Maaf, saia gak puasa. Tapi, kita tetap berteman ya... :D

piranha19: Haha... Law gak akan menyerah kog, apalagi dengan kejadian di chapter ini :D Makasih atas dukungannya :D

93: Makasih atas semua sarannya. Saia gak bosan2nya berusaha untuk memperbaiki semua kekurangan dalam fic ini. Mdh2an suka dgn chapter ini ya...

aprianor007: Wah... tentu masih ingat donk... Muhammad591 kan teman yang selalu memberi dukungan buat saia. Maaf ya kalau lama banget baru update-nya. Mudah2an puas dgn yg chapter ini jg.

KatoNamiga29: Hallo... Teman baru. Tenang2... Saia tidak mau bikin para pembaca menjadi penasaran. Spoilernya, Robin pasti sm Zoro, krn ini ficnya ZoRobin. Terus membaca fic saia ya, meski agak lama update-annya. Terimakasih banyak.

Terimakasih untuk follower2 baru... Saia akan berusaha lebih baik lagi. See you next chapter.