Disclaimer: Of course, it's Oda-sensei... :D
Maaf lagi... Emang agak lama sih uploadnya, tapi yang penting ada kan? XD
Tenang saja, tidak ditinggal kog... Harap maklum ya teman2... :D
Chapter 10. A process to know each other well.
"Kenapa dengan mereka berdua?" Tanya Nami dengan berbisik-bisik ke temannya yang lain.
"Aku juga tidak tahu. Kakakku sudah seperti itu sejak pulang kerja tadi. Dia masih tetap tenang dan tersenyum padaku, tapi auranya mengerikan." Bisik Kaku sambil memperhatikan kakaknya yang sedang beres-beres rumah, tenang tapi suram.
"Si marimo lebih parah lagi. Dari tadi dia hanya tiduran di sofa tanpa bicara sepatah katapun, padahal aku sudah mencoba untuk memancing amarahnya dengan mengejeknya marimo, tapi dia hanya diam saja." Ucap Sanji sedikit kecewa.
"Hmm.. Coba kutanya lagi. Membuatku penasaran saja." Ucap Nami mulai mendekati dan membangunkan si Marimo dengan cara meninjakkan kakinya ke perut Zoro.
"Apa-apaan kau, penyihir!" Teriak Zoro dengan jengkel dan langsung mengambil posisi duduk sambil menyeka keringat dingin akibat kekesalannya.
"Sekarang, beritahu padaku! Apa yang terjadi dengan kau dan Robin? Atau aku akan menendangmu lagi!" Ancam si rambut orange.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu, wanita penyihir." Jawab Zoro acuh tak acuh.
"Sudahlah, Nami. Kalau kau menginjaknya terus, nanti bisa-bisa anak kita akan menjadi segalak dirimu." Luffy menarik tangan Nami dengan tampang polosnya.
"Aku ini sedang berolahraga, Luffy. Kuberitahu ya, menginjak si bodoh ini bisa membuat persalinanku menjadi semakin lancar nantinya."
"Ah, benarkah? Kalau begitu, injak saja. Shishishi..." Luffy langsung mengangguk-angguk tanda setuju dan tentu saja tidak melupakan cengiran bodohnya.
"Hoi, Luffy. Beraninya kau!" Teriak Zoro lebih keras lagi.
"Bersabarlah sampai anakku lahir, Zoro." Luffy menepuk-nepuk pundak Zoro untuk menenangkannya.
"Cih..." Zoro bersumpah serapah di dalam batinnya.
"Kapten bodoh kita semakin bodoh saja." Ucap Usopp geleng-geleng.
"Itu karena pesona Nami-suaaannnn..." Sanji mengeluarkan mata mesumnya.
"Kau juga tidak kalah bodohnya." Respon Usopp singkat.
"Kau mau cari mati, Usopp?" Siap-siap memberi tendangan maut buat si hidung panjang.
"Ah, tidak-tidak. Maafkan aku." Sembah Usopp pada Sanji.
"Diam kalian!" Teriak Nami sampai seperti kelihatan taringnya.
"Baik, Nami-suaannnnnnn..." Jawab Sanji dengan berputar-putar bahagia.
"Baiklah, jadi bisa beritahu aku, apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Robin?" Tanya Nami seraya mengintrogasi Zoro.
"Sudah kubilang, tidak akan kuberitahu meskipun kau menginjakku sampai mati." Zoro memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menutupi ekspresi wajah kesalnya.
"Apa kau yakin tidak akan memberitahuku?" Tanya Nami licik. "Seingatku kau masih ada hutang denganku. Kalau kuhitung-hitung, saat ini hutangmu sudah sepuluh juta berry." Lanjut Nami sambil membuka catatan kecil di saku celananya.
"Sepuluh juta berry? Waktu itu, aku cuma meminjam sepuluh ribu denganmu. Kenapa bisa jadi sepuluh juta?" Tanya Zoro kaget.
"Hutang selama setahunmu tentu saja sudah berbunga. Hohoho..."
"Dasar penyihir." Sumpah Zoro dengan berbisik.
"Jadi? Aku akan mengurangi 10% hutangmu, tapi kau harus memberitahuku tentang apa yang terjadi dengan kau dan Robin dan jika kau tetap tidak ingin memberitahuku, hutangmu akan kunaikkan 100%. Tinggal kau pilih saja." Nami tersenyum licik.
"Lintah darat!." Zoro seperti tidak diberikan pilihan apa-apa. Seperti buah Simalakama.
"Terserah kau mau bilang apa." Ucap Nami tertawa licik.
"Wanita ini ternyata berbahaya." Bisik Kaku pada Usopp.
"Nami memang sadis. Cuma orang bodoh yang mau jatuh dalam perangkapnya." Usopp juga ikut berbisik pada Kaku karena takut Nami memukulnya.
"Nami-san tetap cantik meskipun licik..." Sanji memuja-muja Nami.
"Nah, ini dia si bodoh yang kumaksud." Bisik Usopp, kali ini dia takut Sanji mendengarnya dan kemudian menendangnya.
"Aku mengerti maksudmu." Balas Kaku.
"Baiklah. Kami sudah putus, kau puas?" Zoro seakan pasrah dengan ancaman dari Nami. Dia lebih baik mati daripada harus berhutang lebih banyak lagi dengan wanita penyihir itu. Setelah mengatakan hal itu, dia kembali merebahkan dirinya di sofa dan menggunakan lengan kanannya untuk menutup kedua matanya. Nami, Kaku, Usopp, dan Sanji memasang muka terkejut seraya membeku, sedangkan Luffy masih dengan santainya mengupil.
"Apa? Putus? Bagaimana bisa?" Tanya Nami sambil memaksa Zoro untuk bangun dan menjelaskan pada mereka, tapi Zoro sepertinya tidak ingin bangun sama sekali.
"Sudahlah, Nami-san. Jangan memaksanya. Mungkin si bodoh ini perlu waktu untuk berpikir secara jernih." Sanji mencoba untuk menenangkan Nami yang dari tadi masih menggebu-gebu untuk mendapat jawaban dari si pendekar pedang.
"Baiklah, lain kali kalau dia tidak mau memberitahuku apa yang terjadi, hutangnya akan kunaikkan berkali-kali lipat." Ucap si rambut jeruk sambil mengambil langkah menuju toilet karena dia mulai mual lagi.
Kaku dan Usopp pun berjalan menuju dapur kemudian mengobrol.
"Pantas saja kakakku terlihat aneh. Kau tahu Usopp, ekspresi kakakku itu sama persis seperti saat kak Law meninggalkannya dulu. Dia tampak sedih dan hancur, tapi dia selalu memasang topengnya supaya aku tidak ikutan sedih."
"Kita harus mencari cara supaya mereka bisa seperti dulu lagi." Usopp yang biasanya senang bercanda pun menjadi prihatin melihat keadaan kedua sahabatnya tersebut.
"Iya, kau benar. Tapi, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu alasan apa yang membuat mereka putus." Kaku berhenti sejenak untuk berpikir, "Terus terang saja, aku masih sedikit tidak percaya kalau laki-laki muda seperti Zoro bisa benar-benar mencintai dan membahagiakan kakakku, tapi setelah melihat kondisinya saat berpisah dengan kakakku, aku jadi semakin yakin kalau kakakku tidak salah pilih."
"Kalau soal kesetiaan, kakakmu pasti tidak salah pilih. Kau tahu kan kalau Zoro itu bukan seperti si mesum yang satu itu." Mata Usopp mengarah ke arah si koki mesum berambut pirang yang sedang tertawa cengengesan sambil membayangkan kakak Robin yang seksi memeluk dan menciumnya.
"Aku mengerti apa yang kau maksudkan." Ucap Kaku sambil menepuk jidatnya. Tiba-tiba saja, hp di saku Kaku berbunyi. Tampak terbelalak melihat display nama yang tertera di hp nya, Kaku langsung buru-buru menjauh dari teman-temannya untuk mengangkatnya.
Sementara itu, Zoro yang masih tiduran di atas sofa menjadi semakin depresi. Dia semakin memikirkan seseorang yang membuat hatinya terasa sakit. Baru pertama kalinya dia merasakan hal seperti itu. Selama ini, dia tidak pernah peduli pada wanita manapun dan hanya wanita ini saja yang bisa membuatnya tampak seperti anak kecil egois yang marah saat seseorang merebut barang kesayangannya. Dia merasa bodoh. Dia merasa tidak berdaya. Dia merasa tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dia merasa bukan seperti dirinya. Dia cemburu dan itu tidak diragukan lagi. Wanita itu bersama dengan cinta pertamanya tadi. Wanita itu pasti lebih memilih laki-laki itu. Toh selama ini wanita itu tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cinta padanya. Begitulah yang dipikirkan oleh Zoro.
"Robin~chwannnnnnn... Bagaimana kalau kubuatkan makan malam penuh cinta untukmu?" Sanji mencoba menggoda Robin yang saat ini sedang membersihkan dapurnya.
"Terimakasih, Sanji-san. Tapi maaf, saat ini aku sedang tidak lapar." Jawab Robin yang merasa terganggu, tapi tetap menjaga mimik wajahnya agar tetap tenang dan bersahabat seperti biasanya.
"Ayolah, Robin. Dapur ini sudah kau bersihkan berulang-ulang. Bahkan, sudah lima kali kau bolak-balik membersihkannya." Ucap Nami yang merasa bosan memperhatikan Robin yang sedari tadi tidak ada henti-hentinya mengelap dapur.
"Nami-san benar, Robin-chan. Sebaiknya kau makan atau beristirahatlah dulu. Atau bagaimana kalau kutemani kau beristirahat?" Tanya Sanji dengan cengiran genitnya sambil menempel ke arah Robin.
"Aku ingin sendiri saja, Sanji-san." Tolak Robin dengan sopan.
"Baiklah, Robin-chan ku yang cantik, aku akan me..."
Belum selesai Sanji mengucapkan gombalan-gombalannya, tiba-tiba saja...
"Minggir, alis spiral. Kau menghalangi jalanku." Zoro melaju memisahkan Sanji dari Robin tanpa memandang keduanya. Dia langsung menuju ke depan kulkas, membukanya dan mengambil sebotol sake.
"Cih... Si marimo bodoh itu mengganggu saja." Bisik Sanji.
"Akui saja kalau kau ingin berbaikan dengan Robin." Ejek Nami.
"Bukan urusanmu, penyihir!" Jawab Zoro tidak mengindahkan perkataan Nami.
"Berani-beraninya kau bicara seperti itu pada Nami-san, Marimo. Nami-san hanya ingin kau dan Robin-chan seperti dulu lagi. Kenapa kau marah-marah?"
"Apa pedulimu, Alis pelintir? Kau urus saja Robin-chan mu itu. Mungkin dia butuh kehangatan darimu." Ucap Zoro sambil membuang muka. Dalam hatinya, dia menyumpahi dirinya sendiri karena berkata seperti itu.
"Apa maksud perkataanmu itu?" Tanya Sanji mulai merasa kesal sambil memandang ke arah Robin untuk melihat reaksi wanita berambut raven itu. Robin hanya diam tanpa berkata apapun. Ekspresinya datar, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kau mengerti maksudku. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, jadi kau bisa mendekatinya." Zoro menjawab pertanyaan Sanji dengan tersenyum, tapi ada nada sedih di setiap perkataannya. Lagi-lagi Zoro menyumpahi dirinya sendiri.
"Kau sadar apa yang kau katakan? Kau bisa melukai Robin-chan jika kau berkata seperti ini." Sanji mendekati Zoro dan menarik kerah bajunya dan mendekatkan genggaman tangannya ke arah wajah Zoro seraya ingin memukulnya.
"Oi, oi... Sanji... Hentikan." Pinta Luffy yang baru saja bergabung setelah sibuk bermain dengan Usopp.
"Diam, Luffy. Aku sedang mengajari si bodoh ini cara untuk menghargai wanita." Jawab Sanji tanpa memalingkan pandangan mengerikannya dari Zoro.
"Bahaya sedang mengancam, harap untuk segera meninggalkan tempat kejadian." Teriak Usopp dengan komikal di dekat westafel, agak jauh dari teman-temannya.
"Baiklah, kalau begitu." Luffy melangkah pergi. Luffy sangat tau kalau pada saat seperti ini, dia tidak boleh ikut campur.
"Hei, Luffy. Harusnya kau menghentikan mereka, bodoh."
"Sudahlah, Nami. Mereka tahu apa yang mereka lakukan. Kau menjauh saja dari mereka. Aku takut anak kita bisa mendadak lapar melihat kelakuan mereka." Kata si ketua dengan polosnya.
"Luffy, aku rasa bukan anakmu yang lapar, tapi kau.." Usopp berkata sambil menunjuk ke arah perut Luffy yang sudah berbunyi dari tadi, sedangkan Nami hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasihnya yang bodoh itu.
Sementara...
"Mari kita selesaikan masalah ini, Marimo." Sanji menghela nafas dulu sebelum melanjutkan, "Aku tidak mengerti apa yang membuatmu menjadi seperti ini. Meskipun setiap hari aku benci melihat wajahmu, aku juga kesal kenapa marimo bodoh sepertimu bisa dipilih oleh wanita secantik Robin-chan, tapi aku tahu kau orang yang berpikiran terbuka. Mulutmu juga kasar dan tidak pernah peduli pada wanita, tapi kau selalu menjaga yang berharga bagimu dan karena itulah aku menghormatimu. Tapi untuk saat ini, laki-laki macam apa yang memperlakukan wanita yang dicintainya seperti itu? Kemana perginya marimo bodoh yang dianggap paling berpikiran sehat diantara semua anggota kelompok topi jerami itu?" Sanji membuat banyak penekanan pada setiap kata-katanya. Secara bertahap, suaranya semakin meninggi dan keras. Urat-urat di lehernya pun makin terlihat, tanda kalau emosinya sedang naik.
"Aku tahu apa yang kulakukan." Zoro menjawab dengan santai, namun terdengar sedikit getaran pada suara rendah husky nya.
"Paling tidak, cobalah untuk lebih peduli pada perasaan Robin-chan." Saat ini Sanji lebih tenang karena dia sedang mencoba meredam amarahnya.
"Kenapa aku harus peduli pada perasaannya? Dia saja tidak pernah peduli pada perasaanku." Zoro mulai bernada keras.
"Aku memang tidak tahu apa yang terjadi pada kalian berdua, tapi seorang pria sejati tidak memperlakukan wanita seperti itu, apalagi wanita itu adalah wanita yang sangat dicintainya. Katakan, kalau kau menyesal sudah mengatakan hal-hal yang menyakitinya dan minta maaflah padanya. Robin-chan pasti akan memaafkanmu." Sanji merasa tidak tega melihat mereka berdua seperti ini. Dia tahu mereka saling mencintai, hanya saja telah terjadi kesalahpahaman yang membuat mereka berpisah seperti ini.
"Bisa kau lepaskan tanganmu? Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu saat ini." Tanya Zoro dengan dingin.
"Tidak akan kulepaskan, sebelum kau minta maaf pada Robin-chan dan Nami-san karena kau telah berlaku kasar." Jawab Sanji bersikukuh.
"Lepaskan! Atau kau memintaku memotong tanganmu, alis pelintir?" Zoro bersiap menarik gagang pedangnya.
"Kau akan menyesali segalanya pada saat aku mengambil kesempatan ini untuk mendekati Robin-chan." Ancam Sanji.
Belum sempat Zoro mencerna kata-kata Sanji, tiba-tiba saja Robin mendekati kedua pria yang sedang bersitegang itu dan hal ini membuat Zoro membeku. Tanpa memperdulikan Zoro, Robin memegang tangan Sanji yang sedang menggenggam kerah kemeja Zoro dan menariknya menjauh pergi menuju kamarnya tanpa bicara sepatah katapun. Si rambut hijau sangat terkejut melihat tingkah laku Robin, sedangkan Nami yang saat itu masih menonton merekapun hanya tertawa terbahak-bahak sambil menggumamkan kalau si bodoh pasti menyesal.
Sementara itu di kamar Robin...
"Robin-chan... Apa kau tidak salah orang?" Tanya Sanji sambil menyeka darah mimisannya.
"Tentu saja tidak, Sanji-san." Robin menjawabnya dengan tersenyum sambil mempersilahkan si mesum untuk duduk di sofa kamarnya, sedangkan dia berjalan menuju rak bukunya untuk mengambil sebuah buku yang belum dibacanya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya sambil memegang buku itu.
"Emm.. Sebaiknya aku keluar saja, Robin-chan." Sanji mulai merasa kepanasan dan ingin segera beranjak keluar kamar itu karena dia tidak ingin mati kehabisan darah, tapi kemudian Robin menghentikannya dan berkata, "Bisakah kau menemaniku sebentar, Sanji-san?" Tanya si rambut raven tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dari tadi dibacanya.
"K-Kau tahu kan Robin-chan, a-aku tidak mungkin bisa menolak permintaan dari lady cantik sepertimu." Mulai menunjukkan wajah mesumnya dan bicaranya mulai gagap.
"Fufufu... Kalau begitu, tunggulah di sini sampai aku tertidur."
"Baiklah, kakak cantik..." Jawab Sanji dengan tarian mesumnya.
Sementara itu, di luar kamar Robin...
"Cih, kenapa si mesum itu belum keluar juga?" Bisik si pendekar pedang dengan perasaan penuh kekhawatiran.
"Hoho... Ada yang sedang cemburu sepertinya." Ejek Nami.
"Apa kau yakin kalau kau hanya berdiam diri di sini saja tanpa melakukan apa-apa, Zoro?" Tanya Usopp sambil memperhatikan mimik muka Zoro yang terlihat sedang cemas sambil mondar-mandir di depan pintu kamar Robin.
"Tadi sore Trafalgar Law, sekarang Sanji. Sampai kapan wanita itu akan mempermainkan perasaanku seperti ini?" Gumam Zoro.
"Heh? Trafalgar Law?" Gumaman Zoro ternyata terdengar oleh Nami. Dia mencoba untuk mengingat-ngingat dimana dia pernah mendengar nama itu. Beberapa saat kemudian, dia ingat kalau Trafalgar Law adalah mantan pacar Robin yang pernah diceritakan oleh Kaku.
"Maksudmu Trafalgar Law cinta pertama Robin?" Lanjut Nami.
"Jadi itu sebabnya kau dan Robin putus?" Tanya Usopp.
"Lalu? Apa yang terjadi? Apa Robin lebih memilih si Trafalgar itu daripada kau sehingga kau marah seperti ini?" Desak Nami.
"Atau mungkin dia meninggalkanmu karena kau terlalu kasar dan laki-laki itu lebih gentle? Kaku pernah bilang, pacar pertama kakaknya itu seseorang yang gentle dan penyayang." Usopp juga ikut-ikutan mendesak Zoro. Duo penasaran ini begitu berisik dan membuat si rambut hijau menjadi semakin kesal. Zoro dengan muka kesalnya pergi meninggalkan dua orang yang masih penasaran itu. Mau berdebat pun tidak ada gunanya karena si penyihir pasti akan mengancamnya lagi dengan menaikkan jumlah utangnya.
"He-Hei! Mau kemana? Aku belum selesai bicara padamu." Teriak Nami.
"Aku mau ke bar Sunny-go. Jangan ganggu." Jawab Zoro berlalu begitu saja.
"Kau tahu Usopp, sepertinya kisah cinta segitiga ini semakin menarik. Hohoho..." Nami berkata kepada Usopp sambil memperhatikan bayangan Zoro yang sudah mulai menghilang.
"O-oi, Nami... Aku rasa kau tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Kalau kau ikutan, bisa semakin kusut jadinya." Usopp khawatir dan mulai memperingatkan Nami.
"Kau ingin kunaikkan juga utangmu, Usopp-kun?" Ancam Nami pelan tapi tersenyum dengan licik.
"Ah, tidak-tidak... Maaf." Usopp membungkuk 90 derajat.
"Jadi jangan coba-coba untuk melawanku." Ucap si rambut orange dengan bangganya.
"Maaf-maaf... Oh iya, dari tadi aku tidak melihat Kaku. Kemana ya dia?" Tanya si hidung panjang dengan niat mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm... Aku juga tidak melihatnya dari tadi. Ah, sudahlah, tidak penting. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita bisa membuat cinta segitiga ini menja..." Tiba-tiba saja si bodoh Luffy muncul.
"Nami, Usopp. Kalian sedang bermain apa? Kenapa tidak mengajakku ju..." Teriak Luffy yang melihat Nami dan Usopp seperti sedang sembunyi di balik pintu Robin. Belum selesai Luffy berteriak, mulutnya sudah disumbat oleh telapak tangan Nami. Usopp juga membantu Nami dengan menyeret si kapten bodoh menjauh dari depan pintu kamar Robin.
Sementara itu, di dalam kamar Robin...
"Mereka berisik sekali." Sanji menghela nafasnya. Saat ini Sanji duduk di tempat tidur Robin sambil mengelus-ngelus kepala Robin yang sedang tidur. Sanji sedang menunjukkan wajah seriusnya. "Selamat tidur, milady." Ucap Sanji kepada Robin yang tertidur pulas sambil mencium kening Robin. "Kau tenang saja, Robin-chan. Aku tidak akan membiarkanmu terus bersedih." Sanji melangkah pergi meninggalkan kamar Robin, menutup pintunya, sambil memegang hidungnya yang mimisan lagi.
Di lain pihak, Kaku ternyata saat ini sedang bersama dengan Kalifa. Mereka sedang bercengkrama bersama. Kaku seakan tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi kepada kakaknya dan teman rambut hijaunya. Dia sedang dimabuk asmara. Laki-laki polos itu tidak tau kalau dirinya hanya dimanfaatkan oleh wanita seksi pemakai kacamata itu untuk memanas-manasi Lucci karena laki-laki itu sudah mulai melirik wanita lain lagi.
"Hmm... Kau tau Kalifa, seberapa besar cintaku padamu? Si bodoh Lucci pasti akan menyesal telah menyia-nyiakan wanita secantikmu." Kaku dan Kalifa sedang tiduran sambil berpelukan di sebuah kamar hotel. Kaku memainkan rambut pirang panjangnya Kalifa.
"Sudahlah Kaku, jangan menyebut-nyebut namanya lagi. Aku sedang tidak ingin membicarakannya." Sebaliknya, Kalifa memain-mainkan dada bidang Kaku dengan jarinya.
"Baiklah, aku tidak akan menyebut-nyebut si brengsek itu lagi. Saat ini, hanya kita berdua saja." Ucap adik Robin itu memegang pundak wanita yang dicintainya, memandang matanya dengan penuh arti, dan menciumnya.
Sesaat setelah memisahkan bibirnya dengan bibir Kaku, Kalifa pun langsung merayu Kaku untuk membelikan barang-barang untuknya. "Mmm... Setelah ini, bagaimana kalau kita pergi berbelanja?"
"Apapun untukmu." Jawab Kaku kembali mengecup bibir si rambut pirang.
Sementara itu di bar Sunny-Go, Zoro sedang minum sake sendirian. Franky dan Brook tidak berani mengganggunya karena terlihat aura membunuh di sekitar Zoro. Terdengar samar-samar suara Zoro yang sedang menggumamkan "Akan kubunuh si alis mesum nanti." Franky dan Brook tiba-tiba saja merasa bulu kuduknya berdiri semua, ya... sebenarnya Brook tidak merasa seperti itu karena dia tidak berbulu (Skull Joke).
Beberapa menit minum dalam keheningan, ketenangan si rambut hijau terganggu oleh kedatangan seorang gadis berkacamata dengan satu pedangnya.
"Roronoa Zoro, daripada kau minum-minum seperti ini lebih baik kita bertarung saja lagi." Ucap Tashigi tersenyum pada Zoro.
"Jangan menggangguku, si kacamata berisik." Zoro mengusir Tashigi dengan nada dinginnya.
"Ayolah... Kau bisa melampiaskan kekesalanmu padaku." Tashigi mencoba menarik tangan Zoro untuk melangkah dari tempat duduknya. Zoro dengan refleksnya menarik pedang yang di taruhnya di sebelah tempat duduknya dan mendekatkan ujung pedangnya tepat di leher gadis itu.
"Aku sudah bilang padamu untuk jangan menggangguku, kan?" Tatapan Zoro sangat tajam seakan dia bisa membunuh siapapun saat ini. Tashigi yang memandang lurus ke arah Zoro menjadi gemetaran. Kakinya terasa lemas karena merasa ketakutan dengan si rambut hijau yang penuh dengan aura membunuh itu.
"Ma-maafkan aku, Zoro. Aku..." Ucap si kacamata dengan gagap. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi tidak terlalu kelihatan karena tertutup dengan kacamatanya yang sedikit buram.
"Jangan pernah sekali-kali memanggilku dengan nama depanku. Jangan merasa kau sudah dekat denganku hanya karena kita pernah bertarung bersama. Enyahlah!" Bentak Zoro seraya berteriak sambil menarik kembali pedangnya dari leher Tashigi dan memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya, kemudian duduk kembali ke tempat semula untuk melanjutkan sesi minum sakenya.
"O-oi... Zoro-san. Tidak baik membentak wanita seperti itu." Brook langsung mendekati Zoro tapi tidak mendapat jawaban apa-apa dari si pendekar pedang, lalu tanpa berlama-lama dia mendekati Tashigi yang masih terdiam membeku. "Nona, apa boleh aku melihat celana dalammu?" Tanya si afro dengan cengirannya. Brook langsung mendapat tendangan dari Tashigi.
Tak lama kemudian...
"Um... A-aku... cuma mau bilang kalau apapun yang terjadi, Nico Robin tidak akan pernah menjadi milikmu. Dia hanya milik kakakku, Trafalgar Law." Tashigi sedikit berteriak ngotot dengan wajah yang masih gugup. Nafasnya sangat tidak teratur karena dia sangat ketakutan.
"Aku bilang tinggalkan aku sendiri. Atau kau mungkin tidak ingin melihat esok hari lagi?" Tanya Zoro langsung menatap tajam ke arah Tashigi. Ketakutan dengan tatapan Zoro yang makin mengerikan, Tashigi langsung berlari keluar sambil meneteskan air mata. Ditinggalkannya Zoro yang sedang minum seorang diri tanpa menoleh ke belakang lagi.
Keesokan harinya... (Robin's POV)
Aku terbangun dari tidurku. Aku tidak begitu mengingat apa yang terjadi semalam. Yang kuingat hanya rasa sakit hati karena merasa seorang yang mencintaiku sepertinya sudah tidak peduli lagi padaku. Aku tidak tahu kenapa aku harus sakit hati seperti ini? Aku yang memutuskan hubunganku dengannya, tapi kenapa aku yang malah merasa tidak rela kehilangannya. Wajar jika dia membenciku. Wajar jika dia meninggalkanku. Kenapa aku harus marah? Kesal? Sakit hati? Aku memikirkan hal itu berulang-ulang sampai membuat kepalaku menjadi sakit. Tiba-tiba saja aku mendengar seseorang mengetuk pintuku. Aku sedikit penasaran dan aku mempersilahkannya masuk.
"Robin-chan, kau sudah bangun rupanya." Sanji mendudukkan dirinya di samping tempat tidurku. Dia terlihat tidak tidur semalaman, mukanya pucat, seperti orang yang baru kehabisan darah. Dia membawa sebuah nampan berisi segelas kopi dan sandwich dengan potongan daging dan telur yang sepertinya nikmat sekali, tapi entah kenapa aku sama sekali tidak ada selera untuk makan apa-apa.
"Iya, Sanji-san. Terimakasih untuk semua yang kau lakukan untukku tadi malam." Aku terpaksa memberikan senyum palsu kepada Sanji.
"Apapun untukmu, Milady." Sanji menggenggam tangan kananku dan menciumnya. Jujur saja, aku tidak terlalu suka dia mencium tanganku, tapi aku membiarkannya saja karena aku lelah. Aku bahkan terlalu lelah untuk berkomentar. Aku merasa seperti bukan diriku saja. Tak lama setelah aku berada dalam lamunanku, Sanji-san menyentuh pundakku untuk membangunkanku dari lamunanku. "Aku membawakan sarapan pagi penuh cinta untukmu, Robin-chan ku sayang. Kenapa kau malah melamun?" Sanji memandangku dengan muka mesumnya lagi.
"Ah, tidak, Sanji-san. Aku hanya sedang memikirkan kebaikanmu selama ini." Jawabku berbohong.
"Aw... Robin~chwaaannnn... Kau membuat hatiku menjadi berdebar-debar." Lagi-lagi dia menarikan tariannya yang aneh itu. Laki-laki yang aneh, tapi Sanji sangat baik. Dia sangat perhatian, dan tidak pernah kasar pada wanita. Tidak seperti Zoro yang... Ah, lagi-lagi aku memikirkannya. Apa yang terjadi padanya setelah aku mengajak Sanji ke kamarku tadi malam? Apa dia peduli? Apa dia marah? Apa dia cemburu? Aku sama sekali tidak tahu.
Sementara itu... (Normal POV)
"Akhirnya kita sampai menginap di sini. Kenapa si bodoh Zoro belum ada kabarnya sampai sekarang? Kemana dia?" Tanya Nami penasaran.
"Entahlah. Aku baru menelepon Franky dan menanyakan keberadaan Zoro. Dia bilang Zoro tadi malam sempat minum-minum di sana selama 3 jam, tapi setelah itu dia menghilang entah kemana. Franky bilang, tadi malam dia memarahi seorang gadis berkacamata. Sepertinya gadis itu mengganggu acara minum-minumnya." Usopp menceritakannya dengan menggebu-gebu.
"Tidak bisakah si bodoh itu tidak membuat masalah sekali saja?" Nami mulai membayangkan kalau mungkin saja temannya yang tukang sesat itu saking depresinya sampai sembarangan memarahi gadis yang tidak dikenalnya.
"Franky bilang, gadis itu menyebut-nyebut nama Robin dan Trafalgar Law."
"Benarkah, Usopp? Dia menyebut nama Robin dan mantan pacarnya itu? Wah... Masalah ini semakin rumit. Mungkin gadis itu pacar barunya Trafalgar Law. Cinta segiempat Hmm..." Nami mulai menebak-nebak dan membayangkan yang seru-seru menurutnya seperti Law yang menyia-nyiakan cinta kekasih barunya demi Robin.
"Oi, Nami. Kau pasti sedang membayangkan yang aneh-aneh kan?" Tanya Usopp curiga.
"Kau juga mau cari masalah, hah Usopp?" Nami langsung meng-headlock si hidung panjang. Belum selesai Nami dan Usopp bertengkar, tiba-tiba terdengar suara Hp berbunyi.
"Lepaskan aku, Nami. Sepertinya ada yang menelepon." Usopp berusaha melepaskan tangan Nami dari kepalanya dan dia meraih Hp nya yang berada di kantong celananya. Di hp nya tertulis, nomor tidak dikenal. Dia kemudian mengangkatnya.
"Halo... Siapa ini?" Tanya Usopp.
"Oi, Usopp... Ini aku... Bisa kau jemput aku sekarang di kantor polisi?" Di ujung telepon sana terdengar suara husky Zoro yang sepertinya sedang menggerutu.
"Hah? Zoro? Kaukah itu?" Tanya Usopp basa-basi karena tidak mendengar dengan jelas.
"Iya, INI ZORO. JEMPUT AKU SEKARANG JUGA." Teriak si rambut hijau di kejauhan sana.
"Apa yang terjadi Zoro? Jemput dimana?" Usopp merasa ketakutan, rasanya dia ingin menutup teleponnya saja, tetapi kalau dia melakukan hal itu, dia pasti akan kehilangan nyawanya jika Zoro pulang.
"Aku sedang berada di kantor polisi. Terjadi kesalahpahaman di sini. Polisi-polisi ini tidak mau mendengarkan penjelasanku. Aku sudah tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Ayahku saat ini sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnisnya. Luffy tentu saja tidak bisa diharapkan. Nami hanya akan menambahkan utangku padanya jika aku minta pertolongannya, dan Sanji? Aku akan meminta bantuannya jika aku sudah mati." Terdengar suara jengkelnya saat menyebut nama Nami dan Sanji.
"Iya, iya... Aku akan ke sana segera. Kau di kantor polisi mana?" Tanya Usopp dengan terpaksa.
"Aku di kantor polisi GrandLine. Kau akan merasakan akibatnya jika terlambat menjemputku." Tut...tut...tut... Terdengar suara telepon ditutup.
"Apa yang terjadi, Usopp?" Tanya Nami cemas sekaligus penasaran.
"Si bodoh Zoro sekarang sedang berada di kantor polisi. Dia menyuruhku menjemputnya sekarang juga." Jawab Usopp menarik nafas panjang.
"Entah apa lagi yang dilakukannya." Nami mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa mulai bingung kenapa dia bisa berteman dengan orang-orang bodoh dan merepotkan seperti itu.
"Dia tidak bilang apa-apa soal itu. Aku pergi dulu." Usopp bergegas pergi tapi dihentikan oleh Nami. Tangan Usopp ditarik oleh Nami.
"Sebentar, Usopp. Aku punya ide. Bagaimana kalau..."
Sementara itu, Sanji sedang menunggu Robin keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Robin memutuskan untuk mandi supaya sakit dikepalanya bisa berkurang, sedangkan Sanji yang sedang menunggu di luar pintu kamar mandi tampak sedang dilema antara ingin mengintip Robin mandi atau tidak. Dia membayangkan Robin yang sedang mandi yang akhirnya membuat hidungnya mimisan lagi. Tak lama kemudian, Robin keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan pakaian baru dan rapi yang melekat di badannya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Sanji-san." Ucap Robin sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.
"Tidak apa-apa, Robin-chan. Aku...sangat senang karena kau mau membiarkanku melihat wajah seksimu sehabis mandi." Darah dari hidung Sanji mengalir deras.
"Fufu... Terimakasih atas pujiannya, Sanji-san. Kau sangat baik." Tiba-tiba saja Nami menerobos masuk ke kamar Robin.
"Robin..." Panggil Nami dengan buru-buru. Tanpa menunggu jawaban dari Robin, Nami menggenggam erat tangan Robin. "Kau bisa menolongku?"
"Menolong apa, Nami-san?" Tanya Robin dengan sedikit penasaran.
"Sebentar, sebelum itu..." Nami mengalihkan perhatiannya ke Sanji. "Kenapa Sanji-kun bisa ada disini? Dan... Robin, kau sepertinya habis mandi?" Tanya Nami mulai penasaran. Tidak berani membayangkan yang bukan-bukan.
"Robin-chwan membiarkanku menunggunya selesai mandi dan setelah itu, dia akan pergi berkencan denganku." Jawab Sanji berbunga-bunga.
"Apaaaa? Kencan? Kau pasti sudah gila, kan Robin?" Teriak Nami tak percaya.
"Sebenarnya bukan berkencan. Sanji-san mengajakku ke restoran Baratie karena dia ingin aku mencicipi menu barunya." Robin menjelaskan hal sebenarnya ke Nami dengan tenang.
"Oh..." Nami mengelus-elus dadanya untuk menenangkan keterkejutannya.
"Ta...Tapi kan..." Belum selesai Sanji membela diri, dia disela oleh Nami. Hal itu membuat Sanji meratapi nasibnya di pojokan karena merasa tidak berguna sebab dia tidak bisa membantah ucapan Nami sedikitpun.
"Itu tidak terlalu penting. Robin, sekarang yang terpenting adalah kau harus membantuku menyelamatkan Zoro." Mata Robin terbelalak ketika mendengar nama Zoro disebut oleh Nami. Apa yang terjadi pada Zoro? Kenapa dia harus menyelamatkan mantan kekasihnya itu? Hal itu yang saat ini mengganggu pikirannya.
"Ke-kenapa dengan Zoro?" Tanya Robin panik.
"Saat ini dia sedang di kantor polisi. Tadi Usopp ditelepon oleh Zoro untuk menjemputnya. Usopp saat ini sedang terlibat masalah dengan Kaya, pacarnya, jadi dia tidak bisa menjemputnya. Kaku sampai saat ini belum pulang juga. Aku dan Luffy juga sedang punya janji bertemu dengan dokter kandungan dan tidak bisa dibatalkan. Zoro juga bilang, dia tidak sudi jika dijemput oleh Sanji. Dia bilang, dia lebih baik mati." Nami menjelaskan dengan muka serius.
"Seperti aku mau saja menjemput si marimo itu. Cih..." Sela Sanji menggebu-gebu dengan pernyataan Zoro. Masih terdengar gerutuan Sanji tentang Zoro, tapi Nami sama sekali tidak memperdulikannya.
"Nah, jadi... Cuma kau yang bisa kami andalkan." Nami menepuk pundak Robin. Terlihat keraguan di wajah Robin. Saat ini, dia sangat ingin bertemu dengan Zoro, tapi dia ragu apa Zoro mau melihatnya.
"Tapi..." Ucap Robin menunjukkan keraguannya.
"Jangan khawatir, Robin. Kau hanya perlu menjemputnya. Itu saja. Ayolah, tolonglah si bodoh itu. Hanya kau saja yang bisa kumintai tolong saat ini." Nami memandang Robin dengan muka memelas seperti seekor kucing yang sedang meminta diberi makan oleh tuannya. Robin berpikir sejenak.
"Apa yang kau lakukan, Nami-san? Kau menyuruh Robin-chan untuk pergi menemui si marimo di saat seperti ini?" Tanya Sanji seakan tidak percaya apa yang telah didengarnya.
"Jadi kau mau menggantikan Robin menjemput Zoro?" Tanya Nami singkat.
"Biarkan aku mati saja kalau begitu." Sanji langsung membuang muka dan merasa merinding alergi saat membayangkannya.
"Nah... Saat ini cuma Robin yang bisa." Nami tersenyum menang.
"Tapi kalau Robin-chan bertemu dengannya, pasti akan sangat canggung dan..." Belum selesai Sanji bicara, Robin sudah memutuskannya.
"Aku akan menjemputnya." Kata Robin dengan senyumnya yang dipaksakan.
"Tentu saja, Robin. Aku tahu kau akan setuju. Kau memang paling baik. Kita kesampingkan dulu masalah kalian." Seru Nami sambil memegang kedua pundak Robin dengan senyum liciknya.
"Tapi Nami-san, itu ter..." Sanji ingin protes lagi, tapi segera dibantah oleh Nami.
"Sudahlah, Sanji-kun. Kau tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja." Nami mencoba meyakinkan Sanji dengan kedipan mata mautnya, Sanji langsung mimisan lagi.
Kemudian, Nami memandang ke arah Robin lagi. "Iya kan, Robin? Hihi..." Dia berhasil menjebak mereka. Harapan Nami cuma satu, Robin dan Zoro bisa kembali seperti dulu lagi, atau paling tidak mereka masih tetap berteman.
See you next chapter... Btw, mungkin bakal agak lama ya nunggunya, tapi harap sabar ya... Kadang author otaknya rada gak nyambung, jadi perlu banyak waktu biar connect. Idenya agak lama munculnya... :D
Di chapter ini ada sedikit RoxSan... Mudah2an gak OOC ya...
Jawaban Review:
Naomi: Apa sih yang gak buat Naomi-chan :D Terimakasih buat semua dukungannya ya... Ini memang bakal agak lama sih updatenya, tapi aq janji gak bakal ninggalinnya, pasti selesai sampai ending. Meskipun masih lama. Ini ceritanya juga masih panjang sih rencananya, soalnya masih banyak yang belum terselesaikan. Mudah2an gak ada tertinggal apapun, harus lebih teliti lagi nih.
Piranha19: Makasih advice nya... Sangat senang diberi dukungan seperti itu.
Firman: Makasih udah review ya... Ini dia update-an terbarunya, mudah2an suka.
vava. nt93 : Makasih vava udah bela2in baca fic ini meski kuotanya krisis. Maaf agak lama ya updatenya. Maaf agak ngecewain vava, fic ini sepertinya bakal ZoRobin sih, tapi mungkin aja sy tiba2 berubah pikiran, ntahlah... Yg penting Robin mau berakhir sama siapapun, Zoro sama siapapun, vava harus terus baca fic ini ya... Hehe...
Yadi: Jangan gt lah teman... Jangan lupain fic ini :D Otak lagi songong nih, jadi update suka agak lama, jd harap maklum ya... Makasih selama ini udah baca fic ini. Sekali lagi, fic ini gak bakal ditinggalin kog. Senang sekali fic nya udah dikangenin... Mdh2an authornya jg dikangenin ya... Wkwkwkwkwkwkw... Just kidding :P
Fahmi Mughni: Terimakasih bt review nya ya... Iya, sy jg kurang suka sm ikkemen. Zoro itu karakter paling seksi yang pernah ada. Cool, kasar, tapi punya sisi lembutnya jg. Sy mau tny, gmn menurut Fahmi dengan karakter Zoro di fic ini? Apa ada unsur ikkemen2nya? Mdh2an gak ada ya... Well, Law emang keren dan itu tidak dapat dipungkiri... :D Tapi... sy tetap lebih menyukai Zoro apalagi ZoRobin.
Guest: Menyebalkan kenapa kah kalau boleh tau? :D Btw, terimakasih reviewnya.
Roronoams99: Terimakasih... Senang sekali dapat pujian keren dr Roronoams-san :D Ini dia chapter 10 nya... Selamat menikmati... XD
Terimakasih juga buat semua yang udah nge-follow dan nge-favs ya... See u... XD
