Chapter 11. Zoro's heartthrob.
Disclaimer: Oda-sensei
Parah nih author, hampir setaon gak ngupdate... Pecat! LOL... Maaf yakk...
Zoro's POV.
"Kenapa jadi kau yang datang kesini?" Aku sangat terkejut sampai tidak percaya dengan mataku sendiri ketika melihat Robin berada di hadapanku saat ini. Mata birunya yang sangat memikat itu sedang memandang erat padaku. Aku tidak mungkin bisa melupakan betapa aku sangat tergila-gila dengan matanya itu. Aku memutuskan untuk tidak terus menatap mata itu karena aku takut jika aku tidak akan mampu melepaskannya.
"Aku kesini untuk menggantikan Nami-san menjemputmu, Kenshi-san. Dia bilang, dia dan Luffy harus bertemu janji dengan dokter kandungan." Robin mencoba menjelaskan padaku, kelihatannya dia tidak ingin aku salah paham dengan maksud kedatangannya ke sini. Terdengar jedah saat dia menyebut namaku. Aku mengerti semua itu. Dia tidak ingin punya hubungan apa-apa lagi denganku. Dia bahkan memanggilku dengan sebutan 'Kenshi-san'. Aku benci harus mendengar panggilan itu lagi dari bibir indahnya, tapi aku tidak berhak untuk memprotes apapun seperti dulu.
Aku tidak meresponnya lagi. Dia pun seakan tak peduli dengan apa yang aku lakukan. Saat dia tidak melihat ke arahku, mataku tetap mengikuti setiap langkahnya. Dia berjalan ke arah polisi-polisi yang tadi mengintrogasiku. Wajah para polisi itu terlihat memerah ketika Robin mendekati mereka. Saat ini, dia mengenakan dress pendek berwarna ungu yang benar-benar menampakkan kelangsingan tubuhnya. Aku tidak tahan melihat wajah mesum itu memperhatikan seluruh lekuk tubuh indah Robin. Rasanya ingin kucongkel mata-mata mesum itu dengan pedangku. Wanita itu juga sepertinya sengaja membuatku marah. Dia berjalan dengan penuh percaya diri seraya menonjolkan lekuk tubuhnya. Dia sengaja memonopoliku. Hatiku berdebar dengan kencangnya saat melihatnya melakukan itu, sampai-sampai membuatku menoleh ke kiri dan ke kanan dengan cepat karena takut ada yang mendengarnya. Lega karena tidak ada yang memperhatikanku, aku menoleh lagi ke arah Robin. Wanita itu saat ini sedang sibuk berbincang dengan para polisi mesum. Senyumannya membuat mereka berjanji segera membebaskanku dan itu semua berkat Robin yang cantik dan seksi. Suatu saat, aku akan mencongkel mata semua orang yang memperhatikannya seperti itu.
Aku berjalan dua langkah di belakang Robin. Kami berjalan menuju mobil yang diparkirnya agak jauh dari kantor polisi. Sudah beberapa saat kami berjalan dalam diam. Dia sama sekali tidak mempertanyakan alasan kenapa aku bisa di kantor polisi, aku sedikit merasa kecewa. Merasa kesal, aku memutuskan untuk memecah keheningan.
"Jadi... Bisa kau beritahu padaku kenapa kau bersedia menjemputku?" Dia berhenti melangkah saat kuajukan pertanyaan itu. Dia menghadap ke arahku. Ugh... Tatapan itu lagi. Tidak tahan dengan tatapannya, aku memalingkan wajahku untuk menutupi wajahku yang sedikit memerah. Aku menjadi gugup dan memegang ujung tiga pedangku untuk menghilangkan rasa maluku.
"Seperti yang sudah kujelaskan tadi, Nami-san meminta pertolonganku, dan aku membantunya. Hanya itu saja." Dia menjawabnya dengan nada dingin. Sial, wanita ini bersikap dingin padaku dan bersikap manis kepada para polisi mesum tadi.
"Hmmm... Baiklah. Terimakasih sudah membantuku." Aku mencoba untuk mengalihkan perhatiannya lagi padaku. Dia hanya diam saja menatapku, entah apa yang dipikirkannya. Aku merasa terintimidasi dengan tatapannya itu karena merasa tidak pantas untuk berbalik menatapnya setelah apa yang kukatakan tentangnya tadi malam. Sepuluh detik yang terasa sepuluh tahun bagiku, terlihat samar rona merah di wajahnya yang kemudian ditutupinya dengan membelakangiku lagi. Aku sangat terkejut melihatnya. Apa aku masih punya harapan?
"Oi, dimana kau memarkir mobilmu? Kenapa jauh sekali?" Tanyaku mulai mencari topik pembicaraan lagi dengannya.
"Sebentar lagi." Dia menjawab tanpa menoleh padaku dan meneruskan jalannya. Aku tetap mengikutinya tanpa mengalihkan pandangan mataku dari figur belakangnya yang terlihat sangat cantik itu. Selain itu, aku juga benci mengakuinya, tapi jika aku mengalihkan pandanganku darinya, aku mungkin akan tersesat lagi.
Tak lama kemudian, Robin berhenti di depan sebuah mobil warna merah miliknya. Dia meraih pegangan pintu sebelah kiri mobilnya, berniat untuk mengemudi. Aku menghentikannya, mengambil inisiatif untuk menggantikannya mengemudi. Tanpa berkata apa-apa, dia membiarkanku melakukan apapun yang kuinginkan.
"Aku yang akan mengemudikannya. Oh ya, GPS nya nyala?" Tanyaku memastikan kami tidak akan tersesat karena kebodohanku. Robin dengan wajah tanpa ekspresinya hanya mengangguk.
Aku dan Robin sudah berada dalam mobil, ketika handphone Robin berbunyi. Robin meraih handphone yang ditaruhnya di dalam tas kecil miliknya. Dia langsung mengangkatnya. Terlihat senyuman kecilnya ketika dia berbicara dengan orang yang sedang meneleponnya. Samar-samar terdengar suara si alis pelintir seperti sedang menggombal. Aku menghembuskan nafas panjang. Rasa kesal mulai menguasai jiwaku lagi. Aku menginjak pedal gas dengan keras. Karena itu, handphone Robin jatuh ke bawah dan sambungan teleponnya pun terputus. Robin terkejut dan sedikit marah melihat tingkahku.
"Kenshi-san, kau tahu ini tidak lucu kan?" Pandangan matanya begitu mengerikan sampai-sampai aku merasa merinding sampai ke ujung kakiku. Aku berpura-pura untuk tidak merespon tatapan marahnya itu dengan terus menyetir dan menatap lurus ke depan. Terus menatapku dengan tajam, aku merasa makin gelisah dibuatnya. Untuk mendinginkan suasana, aku berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Kau tidak ingin tahu kenapa aku berada di kantor polisi?" Tanyaku antara penasaran dan ingin mengalihkan pembicaraan. Dia sedikit mengernyitkan alisnya ketika mendengar pertanyaanku. Wajahnya menunjukkan bahwa dia lebih penasaran pada perubahan sikapku daripada dengan apa yang kutanyakan padanya.
"Tidak masalah bagiku, jika kau ingin cerita." Jawabnya dingin.
"Hmm... Baiklah. Jadi, tadi malam sepulang dari bar, aku berencana untuk pulang ke rumahku. Aku tidak mengerti kenapa semua rumah-rumah itu bisa berpindah-pindah. Setiap kali aku sampai ke jalan yang kuyakini adalah jalan menuju rumahku, aku tidak menemukannya. Aku terus berjalan, sampai tiba di satu rumah yang sangat mirip dengan rumahku. Aku mencoba membuka pintunya dengan kunciku, tapi dia tidak mau terbuka. Aku mulai merasa emosi, berpikir kalau pintu pun sampai mempermainkanku. Tanpa berpikir panjang lagi, kutebas pintu itu dengan katana ku. Sepasang suami istri keluar dari rumah itu dengan wajah terkejut sekaligus marah. Aku tidak ingat jika ayahku berambut putih. Atau mungkin ayahku stres memikirkan pekerjaannya sampai lupa menyemir rambutnya? Tidak lama kemudian, polisi-polisi bodoh itu pun datang dan menangkapku. Aku tidak mengerti mengapa mereka menangkapku hanya karena aku menebas pintu rumahku sendiri. Setelah itu, aku baru sadar ternyata itu bukan rumahku. Cih..." Aku bercerita sambil mengulang kembali kejadian bodoh itu. Aku berusaha menjelaskan kesalahpahaman ini dengan polisi-polisi itu tapi mereka tidak mau mendengarnya. Setelah selesai bercerita, aku menoleh sebentar ke arah Robin. Dia memasang wajah tanpa ekspresinya. Aku menceritakannya dengan niat ingin membuatnya tertawa, tapi sepertinya tidak berhasil. Wanita ini terlalu susah untuk memaafkan. Tanpa memperdulikan kemarahannya, aku sibuk melanjutkan ceritaku.
"Akhirnya, sampailah aku ke kantor polisi yang penuh dengan orang-orang mesum itu." Lanjutku. Tiba-tiba suasana menjadi hening lagi. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia sepertinya benar-benar marah padaku karena aku menjatuhkan hp nya tadi. Dia sama sekali tidak menggubrisku. Rasa sakit itu datang lagi, jauh lebih sakit dari luka yang kuterima saat aku sedang melakukan pertandingan pedang. Supaya tidak canggung, aku sepertinya harus mencari bahan omongan lain.
"Hmm... Kau tahu, onna? Aku tidak mengerti pada Luffy. Kenapa dia bisa menyukai penyihir seperti Nami?" Tanyaku dengan pandangan masih lurus ke depan.
"Apa yang aneh? Nami-chan itu seorang gadis yang cantik dan baik." Nah itu, aku merinding ketika mendengar seseorang memuji si penyihir setelah apa yang dilakukannya padaku selama ini, tapi setidaknya dia mau meresponku.
"Nah, itulah poinnya. Aku tidak percaya jika ada yang memuji si penyihir kasar dan mata duitan itu." Jawabku acuh tak acuh.
"Nami-chan itu gadis polos yang baik. Hanya saja, mungkin dia sedikit gila harta, galak, dan juga jahil." Heh? Bukannya itu sama saja? Bagian mananya yang kelihatan baik? Aku memandangi Robin dengan penuh rasa ragu dengan jawabannya itu.
"Tsk." Aku menggerutu dengan berbisik tentang semua 'kebaikan' si penyihir Nami. Setelah sekian lama menggerutu, Robin tidak meresponku sama sekali. Biasanya dia akan langsung menertawaiku yang sibuk mengomel dari tadi, tapi saat ini dia hanya diam sambil membelakangiku menoleh ke arah jendela mobil.
"Ngomong-ngomong, aku lapar." Aku menoleh lagi ke arahnya untuk memastikannya menyimak perkataanku. Tapi lagi-lagi, dia tidak bicara apa-apa.
"Bagaimana kalau kita berhenti dulu di restoran Sabaody? Aku dengar makanan dan minuman terutama kopinya enak." Tanyaku agak ragu dengan jawaban yang akan kuterima. Aku mencoba membujuknya dengan kopi. Meskipun aku ragu dia akan menerima ajakanku, tapi aku tidak mungkin menyerah begitu saja. Aku ini seorang Roronoa Zoro. Laki-laki yang tidak pantang menyerah dan selalu menepati janjinya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu mencintai dan melindungi wanita ini apapun yang terjadi. Tadi malam, mungkin aku sedikit emosi karena rasa cemburuku, tapi aku sudah menyesalinya sekarang. Aku sudah melakukan segala cara untuk menunjukkan bahwa aku menyesal sudah berlaku kasar padanya. Aku ingin berbaikan dengannya, tapi wanita ini terlalu keras kepala. Dia bahkan tidak menghiraukanku sama sekali.
"Aku anggap sikap diammu sebagai tanda kau setuju dengan ajakanku." Aku langsung membanting stirku. Tidak peduli apapun respon Robin selanjutnya.
Tidak lama kemudian, kami sampai ke restoran Sabaody. Restoran berkelas yang sekarang jadi pembicaraan orang. Nami sampai memaksa Luffy untuk mengajaknya ke restoran ini, tapi Luffy bersikeras tidak mau pergi karena di sini porsi dagingnya tidak banyak. Si koki mesum juga sampai merasa was-was karena ada saingan baru. Kami baru melangkah masuk restoran itu, ketika tiba-tiba saja ada seorang pria cantik berambut pirang panjang yang mempersilahkan kami untuk duduk. Dia mengaku sebagai pemilik restoran ini.
Aku berniat untuk sedikit lebih romantis pada Robin dengan mencoba menarik kursinya untuk memberinya keleluasaan untuk duduk, tapi dia sengaja menjauhkan tanganku dari kepala kursinya dan kemudian berbicara pada laki-laki tadi seakan pura-pura tidak mengetahui niatku. Untuk menutupi rasa kesalku, aku kembali ke tempat dudukku, langsung meneguk cepat air putih yang sudah tersedia di atas meja.
"Bisakah kau memberiku segelas kopi?" Pinta Robin tersenyum kepada pria yang terlihat selintas rona merah di pipinya itu.
"Baik, mademoiselle. Romeo mu ini akan selalu menuruti perintahmu." Tanpa berpikir panjang, dia mencium tangan halus Robin. Aku mulai geram melihatnya. Laki-laki ini sepertinya ingin cari mati. Jangan sampai aku kehilangan kesabaran atau kau akan kehilangan wajah cantikmu karena kusayat-sayat. Aku sibuk menatap tajam ke arah pria itu sambil mengucap kalimat-kalimat menyumpah. Tiba-tiba saja ada yang semakin menggangguku.
Normal POV.
"Kau membuatku malu, Romeo-san." Robin terlihat memegang pipinya dengan senang.
"Namaku Cavendish, nona?" Dia memperkenalkan dirinya dengan posisi kaki kanannya menyentuh lantai seakan bersujud.
"Robin. Nico Robin." Wanita itu terlihat lebih ceria dari biasanya.
"Baiklah, nona Robin. Aku akan menyiapkan dulu makanan penuh cinta untukmu dan kita akan melanjutkan obrolan kita lagi." Ucapnya tersenyum menawan tanpa memalingkan matanya dari sosok Robin.
"Aku tunggu, Cavendish-san." Robin membalas senyum.
Setelah selesai melahap makanannya. Zoro lagi-lagi meredam emosinya karena melihat Cavendish berjalan mendekat ke arahnya dan Robin lagi. Laki-laki yang berwajah seperti wanita ini masih belum menyerah rupanya, pikirnya.
"Cavendish-san, makanannya sungguh lezat. Kau benar-benar koki yang hebat." Robin langsung memuji Cavendish setelah matanya menangkap sosok Cavendish yang mendekat ke arahnya.
"Sungguh suatu kehormatan mendapatkan seorang wanita secantikmu yang memuji masakanku, nona Robin. Aku sungguh bahagia mendengarnya." Ucapnya sambil menyibakkan rambut poni pirangnya dengan penuh percaya diri.
"Kau sangat berbakat, Cavendish-san."
"Terimakasih, nona." Cavendish meraih tangan kanan Robin dan mendekatkan bibirnya ke tangan wanita itu. Robin tidak terlihat terkejut sama sekali. Dia hanya tersenyum memandang laki-laki cantik itu.
"Nona Robin. Kau sangat cantik. Kau secantik bunga mawar ini. Maukah kau menjadi kekasihku?" Tanyanya to the point sambil menyerahkan setangkai bunga mawar merah kepada Robin.
"Fufufu... Kau terlalu memuji, Cavendish-san." Robin memukul kecil lengan Cavendish untuk menunjukkan sikap malu-malunya. Cavendish tersenyum senang menatap sikap terbukanya Robin. Sedangkan Zoro, laki-laki itu hampir mematahkan kursi yang sedang didudukinya karena saking kesalnya melihat mereka berdua saling menggoda, dia memegang erat pegangan kursinya.
"Bagaimana kalau setelah ini, nona berkencan denganku?" Tanya si rambut pirang dengan penuh rasa percaya diri. Belum sempat Robin menjawab ajakan Cavendish, Zoro yang menyaksikan tingkah Cavendish dan Robin dari tadi mulai menunjukkan rasa marah dan cemburunya.
"Apa maksudmu, hah? Kau mau cari mati?" Si pendekar pedang merasa cemburu dengan kedekatan Robin dan pria yang baru dikenalnya.
"Nona Robin, kalau boleh tahu, siapa laki-laki yang datang bersamamu ini?" Tanya Cavendish pada Robin tanpa memperdulikan ancaman Zoro.
"Bukan siapa-siapa, Cavendish-san." Jawab Robin tersenyum.
"Ap!" Zoro hampir berteriak seakan tak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh wanita berambut raven itu.
"Jadi, setelah Nona selesai makan, apa boleh kita berkencan?" Tanya Cavendish lagi kepada Robin dengan posisinya yang masih berlutut di hadapan wanita itu.
"Fufu... Baiklah. Kebetulan aku juga sedang tidak ada acara." Jawabnya tersenyum.
"Hoi, hoi Robin... Kau kan baru saja mengenal laki-laki ini." Ucap Zoro mulai merasa terancam.
"Jadi?" Tanya Robin tanpa menatap ke arah Zoro ketika berbicara.
"Siapa tahu dia laki-laki genit seperti Sanji atau seseorang yang sukanya mempermainkan wanita." Zoro mencoba untuk meyakinkan Robin. Cavendish yang mendengarkan perkataan si pendekar pedang pun tetap saja mengacuhkannya dan hanya memegang tangan Robin sambil sibuk memandang erat mata Robin yang lagi-lagi bisa membuat laki-laki tidak bisa melepaskan pandangan darinya.
"Jangan pikirkan apa yang dikatakannya, Cavendish-san. Kau tidak tampak seburuk itu di mataku. Dan laki-laki yang mengataimu itu tidak lebih bagus darimu. " Robin membalas pegangan tangan Cavendish yang tampaknya semakin terpesona oleh wanita cantik itu. Zoro yang tidak tahan melihat keduanya itu pun semakin kesal dan mulai beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Hmm? Roronoa-san? Kau mau kemana?" Tanya Robin yang sedang menunjukkan wajah innocentnya.
"Apa aku harus minta izin padamu juga jika aku mau ke toilet?" Zoro membalikkan badannya, menatap tajam ke arah Robin dengan wajahnya yang depresi dan melaju pergi.
Tidak lama setelah sosok Zoro yang sudah tidak terlihat lagi dari meja Zoro dan Robin, wanita berambut raven itu langsung tertawa geli.
"Fufufufu... Lucu sekali."
"Apa yang membuatmu tertawa bahagia seperti itu, nona?" Cavendish memandang ke arah Robin dengan heran.
"Zoro benar-benar enak untuk digoda."
"Maksudmu laki-laki berambut lumut tadi?" Tanya Cavendish yang terlihat dengan mimik wajah yang kompleks.
"Iya. Aku mencoba menggodanya dengan membuatnya cemburu padamu. Fufu... Ternyata dia sangat terpengaruh dengan kedekatan kita, Cavendish-san." Jawabnya tersenyum menang. Robin lalu meraih gelasnya yang berisi wine dan meminumnya. Cavendish hanya tercengang mendengar pernyataan Robin.
Tak lama kemudian, Zoro kembali dari toilet dengan langkah cepat. Dia meraih pergelangan tangan kanan Robin dan menariknya pergi tanpa menoleh ke belakang lagi, meninggalkan Cavendish yang kaget melihatnya. Robin hanya tersenyum dan melambaikan tangan kirinya seraya mengucapkan selamat tinggal pada laki-laki cantik yang baru mereka tinggalkan itu.
Sesampainya di luar restoran, Zoro masih menarik kencang pergelangan tangan Robin. Robin mulai berpura-pura meronta dengan kekasaran Zoro yang menurutnya manis itu. Si pendekar pedang itu tetap tidak memperdulikan rontaan Robin. Dia tetap berjalan cepat dan menarik tangan Robin sampai di depan parkiran. Dia baru saja melepaskan tangan Robin ketika mereka sampai di depan mobil Robin. Tanpa berbasa-basi, Zoro berbalik menghadap ke arah Robin dan memeluknya dengan erat. Robin terkejut sampai membelalakkan matanya, tidak menyangka Zoro akan sejujur ini.
"Kau benar-benar wanita yang menyebalkan." Terlihat raut wajah Zoro yang menyeramkan. Dia sangat marah melihat kedekatan Robin dengan pria lain. Dia memang berkata kalau dia tidak peduli dengan Robin lagi, tapi ternyata dia hanya membohongi perasaannya sendiri. Dia itu laki-laki yang harga dirinya sangat tinggi. Dia gengsi jika disuruh harus mengakui kalau dia cemburu, tapi itu benar-benar perasaan yang tidak dapat ditahannya. Apalah arti harga diri jika dia bisa kehilangan Robinnya.
"Aku kesal melihatmu dekat dengan laki-laki lain. Apa kau tidak mengerti hal itu? Apa aku harus mengatakannya baru kau bisa mengerti?" Perasaan itu sepertinya tidak terbendung lagi. Zoro mulai meluapkan isi hatinya, dan inilah yang ditunggu-tunggu oleh Robin.
"Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau sudah tidak punya hubungan apa-apa denganku lagi dan siapapun boleh mendekatiku?" Pertanyaan Robin itu sontak membuat Zoro tidak mampu berkata-kata karena merasa sangat bersalah tentang perlakuannya pada Robin tadi malam. Zoro kemudian melepaskan pelukannya dari Robin dan masuk ke dalam mobil tanpa berkata-kata, diikuti oleh Robin yang juga diam seribu bahasa.
(Zoro's POV) Di dalam mobil...
Aku mengemudi dalam diam. Wanita itu pun seperti tidak meresponku sama sekali. Beberapa saat kemudian, aku mulai curi-curi menatapnya, berharap dia tidak menyadarinya. Sepertinya aku sedang kurang beruntung, dia sepertinya sadar kalau aku sedang menatapnya. Dia sengaja mengintimidasiku lagi dengan duduk menyilangkan kakinya sampai terlihat kakinya yang mulus, seraya ingin balas dendam atas apa yang kulakukan beberapa menit yang lalu. Jantungku sedang berdebar tidak karuan dan aku merasa wajahku memanas. Aku mengutuk diriku sendiri karena merasa salah tingkah melihat keseksiannya. Wajahku mungkin saat ini sudah semerah tomat. Dengan cepat, aku menaikkan suhu AC mobil untuk mendinginkan otak dan pikiranku. Wanita ini tertawa kecil melihatku salah tingkah. Aku sedikit kesal sekaligus malu. Aku segera menginjak rem untuk memberhentikan mobilnya di tepi jalan, takut kalau ini diteruskan maka akan mengganggu konsentrasiku menyetir. Dan sebenarnya, konsentrasiku saat ini memang sudah benar-benar terganggu.
"Hoi Onna, boleh aku tahu apa yang sedang kau tertawakan?" Terus terang saja aku tahu apa yang ditertawakannya, tapi untuk menutupi rasa maluku, aku menanyakannya lagi seakan tidak tahu.
"Fufufu... Kau tahu, Kenshi-san? Kau begitu manis dan sepertinya aku tidak bisa lama-lama marah denganmu." Akhirnya Robin tersenyum padaku lagi. Lega rasanya melihatnya kembali seperti dulu lagi. Tanpa malu-malu, aku pun ikut tertawa dengannya.
"Aku juga tidak bisa lama-lama marah padamu, onna." Aku menatapnya dengan senyuman terbaikku. Aku sangat berharap kami bisa kembali seperti dulu lagi. Aku merasa ceroboh kemarin. Tidak seharusnya aku menyakiti perasaannya dengan perkataanku yang seperti itu. Aku seharusnya juga mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu tanpa harus menuduhnya yang bukan-bukan. Aku ini memang bodoh, tapi aku akan memperbaikinya.
"Robin..." Aku menarik nafas untuk menenangkan rasa berdebarku. Roronoa Zoro tidak pernah takut dengan apapun, termasuk berterus terang padanya dengan apa yang kurasakan sekarang. Aku menarik tangan kanannya, mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku, dan menyatukan bibirku dengan bibirnya. Awalnya dia begitu terkejut, tapi tidak lama kemudian dia menerima ciumanku dengan menutup matanya. Bibir dengan harum bunga itu membuatku tidak ingin melepaskannya. Kami berciuman dengan intensnya.
Tiba-tiba seperti teringat sesuatu, Robin menjauhkanku darinya dengan mendorong dadaku dengan kedua tangannya. Aku terkejut dengan perlakuan berlawanan yang diberikannya padaku. Sedikit terengah-engah, tampak wajah sedih yang muncul dari wajahnya setelah memandangku. Aku merasa tersakiti dengan penolakannya itu.
"Ada apa, Robin? Kenapa kau mendorongku?" Tanyaku bingung seakan tidak percaya.
"Maaf. Aku..." Dia menundukkan kepalanya seakan tidak berani menatapku.
"Baik, aku mengerti." Jawabku singkat. Seakan mengerti dengan penolakannya itu, aku kemudian memalingkan mukaku ke arah depan lagi dan menempatkan tanganku kembali ke arah kemudi, tapi tiba-tiba tangan Robin menggenggam lenganku. Tanpa menoleh padanya, aku menghela napas dengan kencangnya sampai terdengar seperti seorang anak kecil yang sedang mengambek.
"Zoro." Terdengar suaranya yang lembut memanggilku.
"Jika kau ingin menyuruhku untuk bersikap seakan tidak terjadi apa-apa diantara kita, aku sepertinya tidak akan bisa." Ucapku masih memalingkan mukaku. Ucapanku itu mungkin terdengar egois, tapi itulah yang kurasakan saat ini. Aku tidak mau berpura-pura tidak mencintainya lagi. Hal itu membuatku gila.
"Zoro, kau kekanak-kanakan." Ucapnya singkat. Sama sekali tidak terdengar suara sedih darinya. Dia malah kedengaran sangat tenang dalam menangani kelakuanku.
"Ya, ya... Aku memang kekanak-kanakan, tidak seperti Trafalgar Law yang dewasa. Aku tahu itu. Tapi, kaulah yang membuatku seperti ini, Robin." Merasa dipojokkan, aku membalasnya dengan cepat sambil merengut. Aku sebenarnya paling tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan orang lain, tapi saat ini aku tidak bisa mengontrol diriku untuk tidak merasa iri pada laki-laki yang selalu berada dalam hatinya itu.
"Law-san memang tidak pernah bersikap kekanak-kanakan seperti itu." Sial, dia bukannya menenangkanku, tapi malah membela si Trafalgar itu. Aku merasa semakin kesal, tetap tidak mau menoleh ke arahnya sambil sedikit menggerakkan bahuku.
"Dia juga tidak pernah mengambil kesimpulan seenaknya tanpa mendengarkan penjelasan orang lain dulu." Tambahnya.
"Oh ya, dia juga sudah meminta maaf padaku untuk kesalahannya karena sudah meninggalkanku dulu." Mendengarnya terus berbicara hal-hal baik tentang Trafalgar membuat darahku mulai mendidih. Wajahku sepertinya saat ini merah padam karena marah.
"Law-san juga mengungkapkan perasaannya yang masih belum hilang padaku." Lanjutnya tanpa mempedulikan perasaanku.
"Sewaktu berpacaran denganku dulu, dia selalu memperhatikanku." Lanjutnya lagi.
"Hentikan! Aku tidak tahan lagi mendengarnya." Aku sedikit berteriak karena tidak tahan lagi untuk menyuarakan suara hatiku saat ini. Aku benci mendengarnya memuji-muji mantan kekasihnya itu.
"Dia juga tidak pernah berteriak padaku sepertimu saat ini." Ucapnya seakan sengaja memancing emosiku lagi.
Jadi, apa maksudnya semua ini? Kenapa seakan-akan dia sedang mengujiku dan mendesakku untuk jujur padanya? Tidak, tidak boleh seperti ini. Roronoa Zoro bukan seseorang yang lemah. Wanita ini tidak akan membuatku lemah.
"Baguslah, jadi kau bisa berbalikan dengannya lagi." Aku meresponnya dengan dingin, seakan tidak ingin mendengarnya melanjutkan pujiannya tentang Trafalgar lagi. Entah ekspresi apa yang ada diwajahnya saat ini. Aku penasaran, tapi tidak sanggup menoleh.
"Ah iya, aku masih ada urusan. Aku turun disini saja." Aku mencari alasan supaya aku bisa segera pergi dari sini sebelum aku kehilangan kendali lagi.
Belum sempat aku membuka pegangan pintu mobil untuk beranjak keluar, wanita itu meraih tanganku. Dia memegang tanganku dengan sangat kuat sampai-sampai aku merasa kukunya memberi bekas di pergelangan tanganku.
"Apa maumu sebenarnya, onna?" Suaraku terdengar satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Aku berusaha untuk menekan amarah dan kesedihanku yang datang secara bersamaan.
"Kau tidak mau memberiku kesempatan untuk melanjutkan kata-kataku, Zoro-kun?" Dia bertanya dengan sangat lembut seakan sedang berbicara kepada anak kecil.
"Aku sudah bilang, aku ada urusan. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkanmu membicarakan kebaikan-kebaikan si Trafalgar. Sudah cukup!" Aku terpaksa menoleh padanya lagi untuk menunjukkan padanya kalau aku benar-benar serius dengan apa yang kukatakan saat ini. Aku menatap matanya dengan intens. Mata itu berbalik menatapku dengan dalam. Tanpa memperdulikan kata-kataku, dia melanjutkan apa yang belum selesai dibicarakannya tadi.
"Aku sudah menolaknya." Butuh beberapa detik untukku mencerna kata-katanya. Heh? Dia menolaknya? Sontak saja aku langsung menoleh padanya. Aku begitu terkejut dan menatap dalam kepadanya seraya menunggunya untuk menjelaskan maksud perkataannya itu.
"Aku merasa tidak bisa lepas dari seorang pendekar pedang yang sangat kekanak-kanakan, egois, dan tidak percaya pada dirinya sendiri itu. Dan sebenarnya, aku sangat menikmati reaksimu saat melihatku dekat dengan laki-laki lain. Aku benar-benar senang menggodamu. Fufu..." Ucapnya dengan senyum nakalnya. Aku tidak salah dengar kan? Aku langsung menepuk-nepuk pipiku untuk membuktikan kalau aku tidak sedang bermimpi.
"Kau bilang apa, onna?" Aku menanyainya lagi untuk memastikan kalau aku tidak salah dengar.
"Kau tahu kan aku tidak akan mengulanginya lagi, Zoro-kun?" Ya... Tidak mungkin dia mengulanginya lagi. Dia itu Nico Robin. Wanita yang sulit dimengerti dan jarang menunjukkan perasaannya. Dia membuatku mengerti tentang perasaannya, tanpa harus berkata secara langsung kalau dia mencintaiku.
Tanpa ragu, aku meraih tangannya dan menariknya jatuh dalam pelukanku. Aku merindukan wangi tubuhnya ini lebih dari aku merindukan ayahku yang bodoh yang sudah lama tidak pernah pulang ke rumah. Aku merindukannya lebih dari apapun. Apapun akan kulakukan untuk dapat memeluk tubuh ini lagi. Tanpa berkata apapun, kami tetap berpelukan satu sama lain.
Normal POV.
Satu jam kemudian, Zoro dan Robin pulang ke rumah Robin. Di tangan kanannya, Zoro memegang ketiga pedangnya dan ditangan kirinya, dia menggenggam erat tangan kanan Robin. Nami dan Usopp yang pertama kali menyadarinya.
"Wow... Sepertinya rencanaku berhasil." Ucap Nami nyengir.
"Usaha yang bagus, Zoro. Tidak sia-sia aku berbohong kalau aku sedang ada masalah dengan Kaya." Usopp menepuk bahu Zoro, seakan memberinya selamat. Zoro memaafkan kebohongannya karena kebohongannya itu membawa berkah.
"Jadi tolong jelaskan padaku, bagaimana bisa kalian secepat ini sudah berbaikan lagi?" Tanya Nami penasaran seperti biasanya. Dia menempel pada Zoro dan Robin seperti wartawan yang sedang penasaran dengan informasi dari artis berskandal.
"Berisik, penyihir!" Jawab Zoro dengan nada jengkel. Tak lama kemudian, Zoro mendapat benjolan besar di kepalanya dari Nami. Zoro menyumpahi si rambut orange sambil berbisik.
"Fufufu..." Robin tidak bisa membendung tawanya ketika melihat kekasihnya dan temannya itu bertengkar.
"Nah, onee-chan... Bisa kau beritahu aku?" Nami bertanya pada Robin dengan muka memelasnya.
"Zoro memohon-mohon padaku untuk berbalikan dengannya. Dengan manjanya, dia bilang kalau dia merindukanku setengah mati. Ah iya, dia juga bilang kalau dia rela mati untukku. Fufu..."
"Hah? Benarkah? Wah, Zoro benar-benar sudah berubah karena Robin. Dia menjadi lebih manis. Hahaha..." Nami mengejek Zoro dengan menertawainya keras-keras.
"Kalau begitu kita ubah namanya jadi Zoro manis saja. Bagaimana Zoro manis?" Usopp ikut-ikutan mengejeknya. Zoro mengeluarkan sarung pedangnya tanpa ragu. Usopp menjadi ketakutan dan langsung bersembunyi dibelakang Nami. Setelah melihat Usopp sudah berhenti mengejeknya, dia langsung menatap tajam ke arah Robin yang saat ini sedang menggodanya dengan mengedipkan matanya. Wajahnya menjadi merah padam dibuat wanita itu.
"Sial..." Diam-diam si pendekar pedang itu menyumpahi dirinya lagi karena tidak bisa menang dari wanita itu. "Akan kubuat kau menyesalinya nanti, onna." Pikirnya dalam hati.
Tiba-tiba saja, Sanji muncul bersama Luffy yang saat ini pipinya sedang ditarik olehnya karena Luffy berusaha mencuri makanan di dalam kulkas Robin. Pandangan Sanji teralihkan dari Luffy, ketika dilihatnya tangan kedua pasangan yang baru pulang itu masih tidak lepas satu sama lain. Luffy yang melihat kedua sejoli itu pun langsung mengerti kondisi yang sebenarnya (Tumben Luffy mikirnya cepat).
"A...Apa-apaan itu?" Tanya Sanji shock sambil menunjuk-nunjuk ke arah tangan Zoro dan Robin.
"Kau benar-benar hebat, Zoro. Shishishi..." Puji Luffy.
"Terimakasih, Luffy." Zoro tersenyum menyeringai.
"Marimo... Kau pasti menyuruh Robin-chan untuk meminum obat yang membuatnya menerimamu lagi kan?" Sanji mendesak Zoro dengan muka mengesalkannya.
"Alis pelintir bodoh. Obat apa maksudmu? Dia menerimaku karena menyadari kalau cuma aku satu-satunya yang ada di dalam hatinya." Balas Zoro sambil menyeringai.
"Kau bohong." Jawab Sanji masih tidak percaya kalau Robin-chan nya berbalikan dengan marimo.
Zoro yang tidak terima dengan tuduhan Sanji langsung memprovokasinya dengan memeluk Robin di depan teman-temannya. Robin hanya tertawa sambil membalas pelukan kekasihnya. Sanji yang mau memprotes tindakan Zoro pun tidak jadi melakukannya setelah melihat kebahagiaan Zoro dan Robin. Dia hanya bisa meratapi nasibnya.
"Hoi, Alis pelintir. Jangan sekali-sekali kau berani mendekati wanitaku lagi, atau akan kupotong kakimu yang kau banggakan itu." Ucap Zoro sambil mengeratkan pelukannya ke Robin seakan takut direbut orang.
"Iya, iya... Asal Robin-chan bahagia." Ucap Sanji kepada Robin sambil tersenyum. "Tapi marimo, jika kau berani menyakiti Robin-chan lagi seperti tadi malam, akan kuinjak tanganmu sampai tidak bisa mengangkat pedangmu lagi." Gantian Zoro yang ditatap oleh Sanji. Tatapan itu bukan tatapan kemarahan ataupun tatapan penuh dendam, tapi tatapan turut berbahagia. Meskipun kesal karena marimo mendapatkan Robin-chan nya kembali, tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia turut berbahagia untuk mereka berdua. Zoro yang mendengar peringatan Sanji pun bukannya marah, malah tersenyum pada Sanji.
See u again next chapter... Harap maklum ya, lama asal selamat... Maaf sekali lagi...
Jawaban Review:
*vava. nt93 : jgn lumutan donk... ntr si Zoro ada yg nyamain lg. Haha... Wah, ane jg senang sekali jika ente nungguin fic ini. Jangan nyerah ya, aneh jg nggak nyerah sm fic ini, tetap semangat nyelesaiin meskipun agak lama (lama sekali). Law? Hmmm... Mungkin next chap ya... Ini masih belum ada, maafkan yak... Terimakasih support n reviewnya... :D
*piranha19: Makasih ya supportnya... Moga selesai dengan selamat nih fic... Jgn lupa review lagi ya...
*Alam: ini sudah di update... Ayo mari dibaca... Semoga memuaskan... Makasih.
*Yadi: ah, jd malu . Tenang aja Yadi... Kalau diburu-buru bs ancur nih fic... mending santai2 aja.. dimarah2in sm yg nunggu jg gpp deh, diterima aja, yg penting semua puas dengan hasilnya... Thx supportnya... see u next chap...
*Naomi: Semuanya perlu proses naomi-chan... termasuk otaknya author... wkkwkwkw... Kangen jg sama mereka di manga nya, gak pake nongol2 ya... Kalau gt, usir kangen dengan baca fic ini ya... Hehe... Makasih support n reviewnya...
*Portgas D Zorbin: Huaaaaa... Suka bgt sm review ini... Kita sm2 fans nya Zorbin sm Lawbin nih... Gk tahan liat mereka, Robin sm yg mana aja jg ok... Tp tetep sih aku padamu Zoro... Hahaha... Ok, aku akan berusaha sebisaku untuk melanjutkan fanfic ini dan menambah2 fanfic Zorbin atau Lawbin. Yang penting pada bersabar aja ya... Mgkn agak lama aja. Otaknya sedang kosong nih... Haha... Thx support n reviewnya... Jgn lupa dibaca n di review lagi yang chap ini ya... Makasih...
Thx bt semua yang udah yg ngereview n ngefollow... Harap sabar sm author yg ini ya... .
