Chapter 12. Goodbye.
Disclaimer: Oda-sensei tercinta.
Sebulan kemudian, di rumah Robin... Robin's POV
"Apa yang kau lamunkan, onna?" Tanya Zoro yang terdengar kesal dengan sikapku yang sedikit aneh. Kami sedang duduk bersebelahan di sofa, tapi aku terus mengacuhkannya. Saat ini, di rumah hanya tinggal kami berdua saja karena Usopp sedang pergi berkencan dengan Kaya. Luffy dan Nami sedang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Kaku sudah jarang pulang ke rumah dan itulah yang membuatku gelisah.
"Hmm? Oh, tidak." Jawabku dengan mengalihkan pandanganku darinya.
"Kau tahu kan, aku tidak suka kau merahasiakan sesuatu dariku, onna?" Zoro menatapku dengan intens, dia seakan sudah mulai tidak sabar dengan sikapku hari ini padanya. Tidak ingin terus berlarut-larut, kuputuskan untuk memberitahunya tentang apa yang selama ini sudah mengganggu pikiranku.
"Maaf, Zoro. Aku sedang memikirkan perubahan yang terjadi pada Kaku akhir-akhir ini. Begini... Maksudku, dia jarang pulang ke rumah dan saat aku menanyainya, dia selalu mengalihkan pembicaraan seperti ada yang disembunyikannya. Aku sangat mengkhawatirkannya." Kaku bahkan jarang mau mengangkat teleponku sekarang.
"Sudahlah, Robin. Mungkin dia sedang sibuk dengan urusan kampusnya." Zoro mencoba untuk menenangkanku.
"Tapi Zoro... Dia..." Zoro meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku untuk membuatku diam. Aku sedikit terkejut. Tidak kusangka, Zoro bisa semanis ini.
"Aku akan mencari tahu tentang masalah ini. Jangan terlalu dipikirkan, kau harus banyak istirahat. Aku yang akan menanganinya. Akan kupastikan jika Kaku baik-baik saja." Ucapnya berusaha meyakinkanku. Melihatku yang masih terlihat ragu, dia langsung menarik tanganku dan membaringkanku di pangkuannya. Sambil mengelus kepalaku, dia menyenandungkan lagu untukku. Suara baritonenya terdengar sangat seksi. Hal itu membuatku tersenyum kecil. Aku mencoba memejamkan mataku dan mencoba melupakan semua hal yang menggangguku.
(Zoro's POV)
Kutatap wajah tidur Robin yang terlihat tenang. Aku mengkhawatirkannya karena dia terlihat begitu depresi jika hal-hal itu menyangkut tentang Kaku. Anak itu sebenarnya juga sedikit mengkhawatirkanku. Dia sudah jarang bersama kami sekarang. Dia bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya ke Sunny-go lagi. Aku curiga. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Kalifa? Wanita itu sungguh biang masalah. Dari dulu, aku tidak pernah menyukainya, apalagi pacarnya yang bernama Lucci itu. Mereka membuat darahku naik saja. Sepertinya aku harus menyelidiki perubahan yang terjadi pada Kaku sebelum Robin semakin depresi.
(Normal POV)
Zoro menatap wajah Robin yang tidur di pangkuannya dan kemudian mencium keningnya untuk memastikannya tidur dengan lebih tenang.
.
.
.
Keesokan harinya... (Di kampus)
Zoro berkeliling kampus untuk mencari Kaku. Dia menghabiskan waktu hampir 2 jam untuk sampai ke taman dimana Kaku sedang berduaan dengan Kalifa, hanya karena dia mengelilingi tempat yang sama selama kurang lebih dua puluh kali. Dia tidak terkejut sedikitpun ketika mendapati Kaku yang sedang berciuman dengan Kalifa. Dia yakin seratus persen kalau Kalifa lah penyebab keanehan Kaku selama ini. Dia berjalan mendekati mereka.
"Hoi, Kaku." Kaku yang disapa oleh Zoro langsung melepaskan diri dari Kalifa karena sedikit terkejut dengan suara keras temannya.
"Kau mengagetkanku saja, Zoro. Ada apa?" Tanya Kaku mengelus-ngelus dadanya.
"Bisa kita bicara?" Tanya Zoro dengan tidak sabar.
"Oh Zoro... Maaf, tapi aku sedang bersama pacarku saat ini. Apa bisa kita bicaranya lain kali saja?" Kaku kembali mengalihkan perhatiannya ke Kalifa sedetik sesudah berbicara dengan Zoro.
"Aku rasa tidak perlu waktu lama bagiku untuk menyelesaikan apa yang ingin kusampaikan." Zoro menjadi makin tidak sabaran sambil memandang jijik ke arah Kalifa dan Kaku sepertinya mulai mengerti apa yang akan terjadi jika dia menolak untuk berbicara pada Zoro.
"Kau Roronoa kan? Kenalkan, aku Kalifa." Kalifa mengulurkan tangannya ke Zoro. Wanita itu mencoba untuk mencuri perhatian Zoro yang cukup terkenal di kalangan para wanita di kampusnya. Kalifa berpikir, tidak mungkin ada yang bisa menolak kecantikannya, tapi dia lupa laki-laki di hadapannya adalah seorang Roronoa Zoro.
"Aku bicara dengan Kaku, bukan denganmu." Zoro mengacuhkan Kalifa. Kaku yang melihat hal itu pun merasa sedikit kesal, tapi dia sangat tahu sifat temannya itu. Zoro adalah laki-laki yang tidak mau berurusan dengan wanita manapun kecuali Robin. Kaku hanya bisa menghela nafas. Sedangkan, Kalifa merasa semakin kesal dan marah saat diacuhkan oleh pria berambut hijau itu. Dia berpikir untuk membalas rasa sakit hatinya suatu hari nanti, tetapi saat ini dia harus berpura-pura untuk bersikap baik kepada teman-teman Kaku supaya tujuannya dapat tercapai.
"Baiklah. Kalifa sayang, bisa kau menungguku sebentar? Akan kuselesaikan urusanku dengan temanku ini sesegera mungkin." Kalifa hanya mengangguk genit. Kaku yang seakan tidak rela menjauh dari Kalifa pun terpaksa mengikuti Zoro. Zoro berjalan di depan dan Kaku mengekorinya. Zoro berhenti di depan sebuah kursi panjang, sedikit menjauh dari pandangan Kalifa. Laki-laki berambut hijau itu tak sungkan lagi pada Kaku. Dia langsung duduk dan mulai mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Kau tahu aku dengan baik, Kaku. Kau tahu aku tidak suka mengurusi urusan orang lain seperti ini." Berhenti sejenak sambil mengarahkan Kaku untuk duduk di sampingnya.
"Jadi?" Tanya Kaku seakan sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.
"Aku sangat mencintai kakakmu, dan kau sangat tahu akan hal itu. Tapi saat ini, setiap kali dia bersamaku, dia hanya memikirkanmu."
"Kau cemburu? Haha." Kaku berusaha memecah keseriusan dalam tiap kata yang terucap oleh temannya itu.
"Tentu saja aku cemburu saat dia lebih memikirkanmu daripada aku. Dia bahkan tidak punya mood untuk berciuman denganku. Dan aku harus berterimakasih kepada adiknya yang bodoh dan tidak peka ini karenanya." Ucapnya dengan muka penuh kekesalan saat memikirkan wanitanya menolak untuk dicium olehnya.
"Hmm.. Maaf, tapi aku tidak tahu kalau hal ini bisa mempengaruhi hubungan kalian. Maaf, Zoro." Kaku menggaruk-garuk kepalanya dengan sangat canggung dan merasa sedikit takut akan menghadapi dampak dari kekesalan temannya itu.
"Kau lebih baik pulang dan berhenti bertemu wanita tadi." Kaku tahu jika Zoro sudah berkata seperti itu, tidak ada yang bisa menolaknya atau orang itu akan bernasib tragis karena sudah menolak seorang Roronoa Zoro. Tapi, dia tidak bisa mengikuti perintah Zoro karena Kalifa sudah seperti candu baginya. Dia tidak bisa hidup tanpa Kalifa. Dia tidak akan meninggalkannya, meskipun dia harus mengorbankan keluarga dan teman-temannya. Dia sungguh tidak peduli.
"Wanita tadi itu punya nama. Dan namanya adalah Kalifa. Aku sangat mencintainya." Zoro semakin kesal mendengar hal itu. Dia mulai memegang ujung pedangnya, seraya mencoba mengancam Kaku.
"Zoro, aku tidak mau mencari masalah denganmu. Kau harusnya mengerti perasaanku. Kau begitu mencintai kakakku, sampai kau rela mengorbankan hidupmu demi dia kan? Aku juga begitu terhadap Kalifa. Aku bisa melakukan apapun untuknya. Bahkan, meninggalkan kakakku sekalipun." Kaku terdiam sejenak, kemudian kembali berkata, "Kalifa bilang, kelompok topi jerami tidak pernah menyukainya. Aku sudah mencoba menjelaskan padanya kalau kalian itu sebenarnya tidak seperti yang dipikirkannya, tapi dia tidak sependapat denganku. Dia bilang, aku lebih memilih kalian daripada dia. Aku ingin membuktikan cintaku padanya, jadi aku memutuskan untuk menjauhkan diri dari kalian." Terlintas kesedihan di dalam ekspresi Kaku. Dia mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini, tapi dia harus melepas hal berharga lainnya.
"Lalu kakakmu? Apa salahnya padamu? Jangan bilang kalau wanita itu juga menyuruhmu menjauh dari kakakmu sendiri!" Zoro sedikit mulai meninggikan suaranya. Zoro sangat geram dengan si bodoh ini. Zoro merasa bahwa Kalifa sudah membawa pengaruh buruk kepada Kaku sehingga Kaku menjadi 'buta'.
"Tidak. Kalifa bahkan tidak pernah tahu kalau aku punya seorang kakak yang sedang menjalin hubungan denganmu. Aku berpikir, jika aku mau mendapatkan Kalifa seutuhnya, aku harus lebih banyak berkorban. Kakakku itu punyamu sekarang. Aku yakin jika dia akan lebih mempercayaimu daripada aku. Aku tidak ingin mendengarkan ucapan jelek darinya tentang Kalifa, jadi lebih baik untuk sementara waktu, aku tidak pulang ke rumah dulu. Aku juga butuh waktu lebih banyak bersama kekasihku." Ucap Kaku santai. Dia seperti bukan dirinya. Dia seperti sudah terhipnotis oleh cinta palsunya itu.
"Kau berpikiran seperti itu tentang kakakmu? Kau sangat mengenal Robin kan? Dia bukan tipe orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain, apalagi wanita yang dicintai oleh adik kesayangannya." Zoro berusaha menjelaskan pada Kaku, meskipun dia tahu kalau mata dan hati Kaku saat ini sudah tertutup. Tidak mungkin lagi, adik dari wanita yang dicintainya itu mau mendengar apa yang dikatakannya. Paling tidak, dia sudah mencobanya.
"Kakakku itu orang yang naif. Dia sangat menyayangiku. Aku juga menyayanginya, tapi untuk saat ini, Kalifa lah yang lebih kucintai. Kalifa lah yang terpenting bagiku saat ini. Dan aku tidak mau mengambil resiko kemungkinan orang lain akan menyakitinya."
"Kau harusnya tahu seberapa cemasnya Robin memikirkan..." Belum sempat Zoro menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya, Kaku menyela.
"Kau tidak perlu khawatir, Zoro. Kakakku bukan orang yang lemah. Dia akan baik-baik saja. Apalagi aku kan bukan adik kandungnya. Jadi, perasaan itu tidak akan seberat itu."
"Kakakmu itu tidak pernah sekalipun berpikir kalau kau bukan adiknya. Kau sungguh keterlaluan!"
"Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu. Bilang pada kakakku, aku sudah dewasa. Aku akan menjalani hidupku sendiri, dan dia juga jalani kehidupannya sendiri." Ucapnya seakan tidak peduli.
"Kau!" Bentak si pendekar tiga pedang pada laki-laki kasmaran itu.
"Sudahlah, Zoro. Urus saja urusanmu sendiri. Aku saja tidak pernah melarangmu untuk mendekati kakakku. Kenapa sekarang kau malah menggangguku? Aku bahagia dan kalian tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Aku pergi. Pacarku sedang menungguku. Selamat tinggal." Setelah menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya, Kaku langsung pergi meninggalkan Zoro yang belum selesai dengannya.
"Anak bodoh ini sudah dibutakan oleh cinta. Jika kau tidak ingin siapapun menyakiti wanita tidak jelas itu, aku juga tidak akan membiarkanmu menyakiti Robin lebih jauh lagi." Gumamnya dengan geram.
Sementara itu, Robin memutuskan berbelanja di supermarket dekat rumah setelah pulang dari kantor dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan pulangnya, dia merasa ada yang mengikutinya. Kepekaannya membuatnya sadar akan hal itu lebih cepat. Wanita cantik itu mempercepat langkahnya. Dia bukannya tidak bisa menghajar orang yang mungkin mengikutinya untuk berbuat mesum, tapi akan lebih baik jika dia tidak menyia-nyiakan tenaganya, pikirnya. Semakin cepat langkah yang diambilnya, semakin cepat pula langkah lain dibelakangnya. Rasa penasaran membuatnya menoleh, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran siapapun di situ. Mungkin dia salah dengar. Dia kembali melangkah seperti biasa ketika ada dua buah tangan mendekapnya, satu di bagian pinggang, dan satu di bagian mulut, mencegahnya untuk berteriak. Robin mencoba meronta. Dia mencoba untuk menyikut lawannya, tapi dia gagal. Sepertinya, orang ini lebih kuat darinya. Dia tidak berdaya.
"Robin sayang, kau masih mengingatku?" Sontak suara berat laki-laki itu mengejutkannya. Suara yang belasan tahun tidak didengarnya lagi. Suara yang membuatnya marah dan ketakutan.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Robin tetap berusaha menjaga ekspresi tenangnya sembari berusaha melepas dekapan pria misterius itu.
"Aku sangat merindukanmu, Robinku. Kau tidak merindukanku?" Robin sangat sadar, pria ini hanya berbasa-basi dengannya. Ada yang diinginkan pria itu darinya selain hanya sekedar berkata merindukannya. Tidak mungkin pria yang dikenalnya jahat dan licik ini menemuinya, jika tidak ada sesuatu yang lain.
"Aku tahu itu bukan alasanmu menemuiku. Kau bisa membohongi orang lain, termasuk ibuku, tapi tidak denganku." Pria itu langsung tertawa keras ketika mendengar ketegasan dari setiap kata yang dikeluarkan Robin.
"Aku tahu kau tidak sebodoh ibumu, anakku sayang." Ya, dia adalah Crocodile. Ayah Robin yang telah membunuh semua anggota keluarga Trafalgar kecuali Law dan meninggalkan ibunya demi mencapai tujuannya. Laki-laki bengis yang tidak mengerti arti sebuah hubungan keluarga.
"Jangan menjelek-jelekkan ibuku, dan jangan memanggilku dengan panggilan 'anak'. Aku tidak butuh orang sepertimu ada dalam hidupku." Ucap Robin dengan ekspresi jijik. Bagaimana tidak, pria ini lah yang menyebabkan dia dan ibunya menderita sebelum bertemu dengan Saul. Dia juga yang membuatnya harus menerima kenyataan pahit ditinggal oleh laki-laki yang dicintainya karena laki-laki itu tidak bisa menerima kenyataan sudah berpacaran dengan anak dari pria yang telah membunuh semua anggota keluarganya.
"Jangan bicara seperti itu, Robin. Kau tahu kalau aku..." Seperti tidak ingin berlama-lama berurusan dengan ayahnya itu, Robin langsung memotong perkataannya,"Cepat katakan, apa yang kau inginkan dariku. Kau tidak perlu berbasa-basi denganku." Tanya Robin dengan tidak sabarnya. Crocodile pelan-pelan melepaskan dekapannya pada Robin. Saat ini, dia berhadapan empat mata dengan Robin. Lalu tersenyum picik.
"Baiklah. Aku ingin kau bekerja untukku. Perusahaanku sangat membutuhkanmu saat ini. Aku butuh seseorang yang bisa membaca poneglyph untukku, dan kau adalah satu-satunya orang yang bisa membantuku untuk membuatku menjadi orang terkaya nomor satu di dunia." Jawab pria tinggi dengan bekas luka jahitan di atas hidungnya itu dengan menggebu-gebu. Ambisinya sepertinya tidak terbendung lagi. Robin merasa tidak nyaman dengan tatapannya Crocodile yang seakan memaksanya untuk tidak menolak permintaannya. Wanita itu berusaha untuk mengalihkan perhatiannya. Tidak biasanya dia merasa begitu terintimidasi oleh orang lain, bahkan Zoro pun tidak mampu menguasainya.
"Jika aku tidak mau?" Robin mulai merasa depresi. Dia sadar bahwa pertanyaannya itu suatu pertanyaan yang sangat bodoh, tapi dia tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi dengan orang ini, jadi mau tidak mau, dia mencoba.
"Pertanyaan yang bodoh dari putriku yang jenius. Heh..." Pria tegap itu tertawa seakan mengejek wanita di hadapannya itu.
"Kau tahu jawabanku, Crocodile-san. Aku menolak." Robin tak memperdulikan ejekan Crocodile. Dia mengambil langkah untuk pergi, tapi pria itu lebih cepat dari perkiraannya. Croc sudah berada di depan Robin.
"Jika kau menolak, aku tidak akan segan-segan menyakiti anak tiri Olivia." Ucapnya mengancam.
"Jangan pernah kau menyentuh Kaku! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Suara Robin menjadi lebih meninggi.
"Aku dengar, kau juga punya banyak teman baru sekarang. Kelompok topi jerami kan? Aku kenal dengan mereka. Kebetulan anak dari mitra bisnisku menyimpan dendam dengan seorang anggotanya yang bernama Roronoa Zoro kalau aku tidak salah. Kudengar, sekarang kau pacaran dengannya kan? Bocah itu bisa dengan mudahnya kubunuh, kau tahu benar soal itu." Ucapnya mengancam. Robin semakin merasa gemetaran mengetahui ayahnya mengenal teman-temannya dan juga Zoro. Dia sangat tahu apa yang bisa dilakukan ayahnya kepada mereka. Setitik keringat dingin mengucur dari kepala Robin.
"Jadi? Bagaimana menurutmu? Aku pikir kau cukup pintar untuk menentukan apa yang harus kau lakukan. Heh..." Belum sempat Robin menjawab pertanyaan Crocodile, seorang pria berteriak memanggilnya.
"Robin-ya!" Tak sampai sedetik, Law sudah membelakangi Robin. Dokter itu memandang Crocodile dengan rasa penuh kebencian. Law sudah siap jika harus bertarung dengan pria yang sudah membuat kehidupannya berantakan.
"Wah, lihat siapa yang datang untuk melindungimu, Robin-chan? Sungguh suatu pemandangan yang sangat menarik. Sepasang mantan kekasih yang pernah saling mencintai, kini saling melindungi satu sama lain. Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Roronoa jika dia melihat hal ini, heh?" Croc tersenyum licik seakan menikmati kejahatannya.
"Aku yakin Roronoa-ya akan menghajarmu habis-habisan karena kau telah mengganggu Robin." Jawab Law mulai menarik pedangnya.
"Tenang, nak. Aku tidak ada urusan dengan keluarga Trafalgar lagi sekarang. Aku kesini hanya ingin melepas rindu dengan anakku saja." Croc tersenyum menyeringai, sedangkan Robin hanya diam dengan pandangan kosong.
"Aku harap kau segera angkat kaki dari sini. Jangan temui Robin lagi, atau aku dan Roronoa-ya akan membunuhmu." Ancam Law.
"Haha... Galak sekali. Baiklah, aku akan pergi. Tapi Robin, pertimbangkan penawaranku tadi. Kau tidak punya pilihan. Aku akan datang menemuimu lagi dalam waktu dekat. Sampai jumpa." Croc langsung menghilang dari pandangan mereka. Meskipun Croc sudah pergi, Robin masih sedikit gemetaran. Law menjadi khawatir melihat kondisi Robin.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Law dengan suaranya yang lebih lembut dari biasanya. Robin hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Laki-laki itu lalu memegang tangan Robin karena wanita itu terlihat begitu rapuh. Robin tersadar dari lamunannya. Sadar kalau tangan Law menggenggam tangannya dengan erat, dia cepat-cepat melepaskannya.
"Maaf. Aku tidak apa-apa, Law-san. Aku tidak apa-apa." Wanita cantik itu mencoba terlihat kuat, tapi sepertinya dia tidak bisa membohongi Law.
"Apa yang dikatakannya padamu? Tolong katakan padaku. Anggap aku temanmu. Aku bisa membantumu." Law memandang erat ke arah mata Robin yang masih terlihat tidak fokus.
"Tidak. Aku mau pulang." Sebelum Robin sempat beranjak, Law sudah menarik tangannya.
"Kau tidak bisa berbohong padaku. Katakan padaku, apa yang terjadi? Apa dia menyuruhmu untuk melakukan sesuatu untuknya?" Saat ini kedua tangan Law sudah berada di pundak Robin. Dia memaksa wanita itu untuk berbicara. Robin tidak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya pada Law.
"Dia mengancamku. Jika aku tidak bekerja dengannya, dia akan mencelakakan teman-temanku, adikku, dan juga Zoro. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku sangat mengenalnya. Dia bisa melakukan apa saja. Dia bisa membunuh orang-orang yang kusayangi dalam sekejap. Kau juga tahu kan dia pria seperti apa, Law? Dia pria yang tega meninggalkan anak istrinya dan membunuh keluargamu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan sekarang, dia menginginkanku karena dia bilang, aku bisa membantunya membaca poneglyph yang bisa membuatnya menjadi orang terkaya nomor satu di dunia." Robin terengah-engah saat menceritakan hal itu. Tidak mudah baginya untuk membuka lembaran penderitaan masa lalunya kembali. Matanya sudah terlihat memerah, meskipun dia menahannya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun. Tapi, dia tidak sanggup.
"Ketahuilah, Robin-ya. Aku akan berusaha melindungimu darinya. Teman-temanmu, apalagi Roronoa bukan orang yang lemah dan pengecut. Dia akan memperjuangkanmu. Aku bisa melihat kesungguhannya padamu dari matanya. Hubungan kita memang sudah berakhir, tapi aku menganggapmu teman dan akan berusaha membantumu. Kau tidak perlu khawatir." Law berusaha menyakinkan Robin. Laki-laki masa lalu Robin itu mengelus kepala Robin dan membiarkannya menangis dalam keheningan. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut keduanya.
Malamnya, di rumah Robin...
Zoro's POV
"Kaku bilang, dia akan pulang dalam beberapa hari ini. Dia juga bilang, dia mendapat banyak tugas dari dosennya, jadi dia lembur di rumah temannya." Aku terpaksa berbohong kepada Robin. Robin terlihat sangat sedih karena si bodoh Kaku. Hari ini, dia terlihat jauh lebih sedih lagi.
"Benarkah? Syukurlah." Reaksi Robin sangat biasa. Dia tidak terlihat begitu bahagia. Apa mungkin ada hal yang mengganggunya? Aku harus menanyakannya.
"Kau tidak terlihat seperti biasanya, Robin. Apa kau sakit?" Tanyaku sambil meletakkan tangan kananku di dahi wanita yang kucintai itu.
"Aku tidak apa-apa, Zoro." Ucapnya sambil menepis tanganku. Ya, ada yang aneh dengannya. Apa mungkin dia sudah bosan padaku? Atau mungkin Trafalgar mengganggunya lagi? Ah, tidak Zoro. Kau tidak boleh meragukan Robin lagi. Kejadian seperti kemarin tidak akan terulang lagi, atau aku akan kehilangan Robin selamanya.
"Kau terlihat sedih, Robin. Apa ada yang mengganggumu?" Aku semakin penasaran dibuatnya.
"Tidak, aku hanya merasa sedikit capek. Aku akan ke kamarku untuk tidur sejenak. Kau disini saja." Robin langsung pergi meninggalkanku sendirian. Dia seperti menghindariku. Apa aku berbuat salah padanya? Banyak pertanyaan yang ada di otakku saat ini. Ah, sebaiknya besok baru kutanyakan lagi. Aku tidur saja dulu di sofa. Robin sepertinya tidak mengizinkanku untuk masuk ke kamarnya hari ini. Sial!
Sementara itu, di kamar Robin... (Normal POV)
Sebuah telepon di samping tempat tidur si pemilik kamar berbunyi. Robin yang saat itu belum tidur langsung mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Belum tidur?" Tidak cukup pria itu mengganggunya tadi sore, dia menelepon lagi sekarang. Croc sepertinya tidak pantang menyerah.
"Buat apa lagi kau meneleponku?"
"Aku berubah pikiran untuk memberimu waktu berpikir. Aku ingin kau menjawab permintaanku tadi sekarang. Iya atau tidak? Kau tahu, 'tidak' artinya kau harus menyiapkan diri untuk kehilangan semua orang yang kau kasihi. Jangan bilang aku mengancammu, putriku. Aku hanya ingin kau lebih menghargai permintaan dari orangtuamu. Tidak ada salahnya jika kau mencoba berbakti padaku."
"Kau memintaku untuk berbakti? Persetan dengan hal itu. Aku tidak pernah mengingatmu sebagai ayahku. Ayahku hanya Saul!" Balas Robin dengan suaranya yang mulai terlihat gemetar, entah karena takut atau marah.
"Kalau begitu, anggap ini sebuah penawaran bisnis. Jika kau melakukan yang kuinginkan dengan baik, aku akan melepaskan teman-teman, adik, dan kekasihmu. Jika pekerjaanmu selesai, tidak menutup kemungkinan juga aku akan melepaskanmu. Yang harus kau lakukan hanya menuruti perintahku saja, dan aku berjanji, mereka tidak akan kehilangan sehelai rambutpun."
.
.
.
Keesokan harinya, Zoro terbangun dari tidurnya. Berniat untuk mendapat morning kiss dari Robin, dia beranjak dari sofa menuju kamar Robin. Ketika membuka pintu, dilihatnya kamar rapi Robin tanpa penghuninya. Zoro pikir, mungkin Robin sudah berangkat kerja. Dia memutuskan untuk siap-siap pergi ke kampus.
.
.
.
Sudah beberapa hari Robin tidak pulang ke rumahnya. Zoro semakin cemas dengan kekasihnya itu. Dia bukannya tidak pernah menelepon wanitanya. Wanita itu mengangkat teleponnya dan menjawab singkat dengan berkata 'sibuk dengan penelitian'. Zoro membiarkannya, mungkin wanita itu memang sedang sibuk. Dia tidak mau menjadi beban bagi Robin dalam mencapai impiannya.
.
.
.
Zoro semakin merindukan Robin. Dia sudah semakin tidak tahan lagi. Hidupnya seperti hampa tanpa wanita itu di sampingnya. Wanita berambut hitam itu sudah sebulan tidak menemuinya. Dia sibuk mengerjakan penelitian atau apalah namanya itu. Kekasih wanita yang lebih tua 9 tahun itu sedang sangat kesepian. Dia sangat ingin memeluk, menyentuh, dan mencium semua bagian tubuh Robin, tapi sepertinya semakin susah saja. Dia merasa wanita itu tidak benar-benar sibuk dengan penelitian, tapi menghindarinya.
"Hei Marimo, kau mau kemana?" Tanya Sanji yang baru bertemu Zoro di jalan. Zoro tampak kebingungan.
"Aku sedang mencari jalan pulang ke rumahku. Rasanya di sebelah sini." Si buta arah berada di pertigaan jalan dan memilih sebelah kiri.
" Si bodoh ini. Rumahmu di sebelah kanan, marimo bodoh!" Teriak Sanji sambil memukul kepala Marimo.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?" Zoro membalas memukul kepala Sanji dengan ujung pedangnya sambil memegang kepalanya.
"Marimo buta arah!" Sanji memegang kepalanya yang benjol juga.
"Koki mesum!"
"Kepala lumut!"
"Mimisan!"
"Bodoh!"
"Jelek!" Begitu seterusnya.
Tanpa mereka sadari, ada seorang wanita dan seorang pria yang sedang memperhatikan pertengkaran mereka.
"Nona, kita harus pergi dari sini sekarang." Seorang pria bertubuh besar, tinggi, dan berotot mengajak seorang wanita berambut raven pergi.
"Sebentar, Katakuri-san. Biarkan aku sebentar lagi disini, bolehkah?" Pinta Robin. Wanita itu sedang memperhatikan seseorang. Pandangan matanya tidak pernah lepas dari sesosok pria berambut hijau yang disayanginya.
"Maaf, nona Robin. Tapi sebaiknya, kita segera pergi dari sini. Kalau Crocodile-san menemukanmu disini, akan sangat sulit bagiku untuk melindungimu dari siksaannya." Charlotte Katakuri adalah seorang laki-laki serius yang disuruh oleh Crocodile untuk mengikuti Robin kemanapun dia pergi. Dia merupakan salah satu petarung handal milik Crocodile. Laki-laki itu sangat menghormati sang arkeolog. Menurutnya, Robin itu seorang wanita yang sangat pintar dan tidak pantas diperlakukan tidak adil oleh laki-laki bajingan seperti Crocodile atau laki-laki brengsek lainnya. Katakuri selalu melindungi Robin, bahkan dari Croc sekalipun. Croc sendiri tidak pernah menanggapi serius perlawanan dari Katakuri. Croc sadar kalau Katakuri melindungi Robin karena pria itu menyimpan perasaan terhadap putrinya dan dia sama sekali tidak peduli dengan hal itu.
"Sebelum benar-benar berpisah, aku ingin bertemu dengannya. Tapi, aku tahu itu tidak mungkin, jadi biarkan aku memandanginya dari jauh. Sebentar saja, Katakuri-san. Aku mohon." Katakuri merasa sangat kasihan pada Robin. Dia hanya mengangguk. Robin tersenyum padanya, lalu memandangi Zoro lagi.
Sementara itu...
"Pendekar pedang payah!"
"Alis spiral!" Mereka masih melanjutkan pertengkarannya sampai Zoro menghentikannya. Laki-laki itu tiba-tiba merasakan kehadiran wanitanya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari sosok wanita yang membuatnya rindu. Dia lalu melangkah maju ke arah tempat dimana dia merasakan kehadiran Robin. Sanji yang melihat tingkah si Marimo bingung memandangnya.
"Marimo, kau sedang mencari apa?" Tanya Sanji penasaran. Dia pun ikut melihat-lihat apa yang dicari temannya.
"Aku merasakan Robin. Entah kenapa, dia sepertinya ada disini tadi." Zoro melangkah ke tempat dimana dia merasakan Robin, tapi tidak menemukan apa-apa.
"Itu mungkin karena kau terlalu merindukannya." Memegang pundak Zoro.
"Hmm... Mungkin juga." Zoro mencoba tersenyum. Mungkin karena dia terlalu merindukan wanita itu. "Ayo kita pergi. Aku tiba-tiba ingin sake." Zoro mengajak Sanji ke bar Sunny-go. Sanji mengangguk setuju.
.
.
.
Sementara itu, di kediaman Baroque Works. Robin dan Katakuri sedang berada di sebuah kamar. Kamar itu tampak sangat suram dan gelap, hanya ada sebuah tempat tidur klasik, sebuah sofa, sebuah meja, dan beberapa buku.
"Untung kita cepat pergi dari situ, kalau Roronoa sampai menemukanmu, keadaan bisa jadi lebih buruk. Aku tidak akan bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Crocodile-san padamu."
"Tidak apa-apa, Katakuri-san. Dia tidak akan melukaiku, biar bagaimanapun aku putrinya. Maaf jika aku sudah merepotkanmu." Robin tersenyum pada bodyguardnya itu.
Mata Robin teralih ke sosok seorang anak kecil yang diam-diam memperhatikannya. Anak laki-laki itu bersembunyi dengan cara yang aneh. Berniat untuk bersembunyi, anak itu malah hanya menyembunyikan mata sebelah kanannya menempel dinding dan memperlihatkan badannya. Wanita berambut raven itu langsung tersenyum memandangnya.
"Dokter-san. Kau tidak perlu bersembunyi, kami sudah melihatmu."
"Bodoh! Kau tidak perlu memanggilku dokter untuk membuatku senang. Aku tidak senang sama sekali, bodoh!" Anak itu mencoba marah, tapi dia malah menari dengan senangnya. Anak ini sungguh tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Fufufu... Kau sangat manis, Chopper." Chopper masih terlihat menari-nari senang atas pujian Robin. Robin tertawa senang, sejenak melupakan kesedihannya. Katakuri memandangi Robin dengan senyum kecil yang terlihat di wajah seriusnya.
"Kau tersenyum, Katakuri-san." Robin mengatakannya dengan tenang tanpa memandang ke arah Katakuri. Wajah Katakuri langsung memerah. Robin sepertinya sudah membuat pria itu berada digenggamannya.
"Kau terlihat lebih tampan jika kau sering tersenyum seperti itu, Katakuri-san." Robin menatap ke arah Katakuri dan mendapati wajahnya yang semerah tomat. Wanita itu sedikit terkejut, tapi kembali tersenyum. "Lihat yang kutemukan di sini. Kau memang terlihat lebih tampan seperti ini. Benar kan, Chopper?" Chopper mengangguk tanda setuju. Pria tinggi itu semakin salah tingkah.
.
.
.
Tak lama kemudian, pintu kamar Robin terbuka dengan sangat kencangnya. Wanita itu berharap jika yang masuk ke kamarnya saat ini bukan Crocodile ataupun Lucci. Rob Lucci, laki-laki yang sekampus dengan Zoro lah yang dimaksud. Laki-laki itu adalah anak dari rekan bisnis Crocodile. Lucci menyamar sebagai seorang anak kuliahan yang playboy demi satu tujuan. Dia harus mencari informasi semua yang berhubungan dengan Robin. Cara termudah untuk itu adalah dengan sekampus dengan orang terdekat si arkeolog yaitu Kaku, adik tiri Robin. Dia sudah lama bekerja sama dengan Crocodile. Hanya Robinlah yang bisa membantu mereka mencapai tujuannya. Crocodile yang ingin menjadi orang terkaya nomor satu di dunia dan Lucci yang ingin menjadi orang paling berkuasa di dunia. Mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Lucci bahkan menipu semua orang dengan berpura-pura menjadi laki-laki brengsek dan sombong, tipikal anak orang kaya. Laki-laki itu malah mempunyai kekuatan setara Zoro, tapi dia menyembunyikannya.
"Bagaimana jalan-jalanmu hari ini, pengantinku?" Tanya Lucci yang saat ini menjadi tunangan Robin.
Robin memandang jijik ke arah Lucci. Wanita itu diam dan tidak lagi terlihat senyum di wajahnya. Lucci mendekatkan dirinya ke arah Robin dan Katakuri langsung menghalangi jalannya. Dia mencoba melindungi Robin dari jamahan Lucci. Chopper yang bertatapan mata dengan Lucci langsung bersembunyi ketakutan. Hanya tatapan matanya saja sudah bisa membuat orang menjadi gemetaran. Laki-laki yang selalu berkemeja hitam itu memang mempunyai aura membunuh yang sangat kuat. Jika tidak hati-hati, kepala dan badan anak itu bisa terpisah.
"Minggir, Charllote Katakuri! Aku tidak ada urusan denganmu!" Lucci mencoba mendorong badan si pria tinggi, tapi pria itu tidak beranjak sama sekali.
"Kalau kau kesini hanya untuk mengganggu nona Robin, aku tidak akan membiarkannya." Ujar Katakuri dengan ekspresi dingin.
"Aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan dengan pengantinku. Kau tidak perlu ikut campur."
"Aku akan melindungi nona Robin dari pria gila sepertimu." Katakuri mengambil tombaknya dan siap untuk melawan Lucci ketika sebuah tangan meraih ujung bajunya yang membuatnya menoleh ke pemilik tangan tersebut.
"Katakuri-san, bisa kau tinggalkan kami sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan berdua dengan Lucci-san." Robin tetap berusaha tersenyum pada Katakuri untuk meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja.
"Baiklah, nona. Jika ada apa-apa, teriaklah. Aku akan segera datang menyelamatkanmu."
"Terimakasih, Katakuri-san." Jawab wanita berambut raven itu dengan tersenyum. Katakuri pun melangkah keluar dan menutup pintu dengan perlahan. Robin langsung menatap ke arah Chopper yang dari tadi masih 'sembunyi'.
"Dokter-san, boleh kau meninggalkanku berdua dengan Lucci-san sebentar? Setelah itu, aku akan membacakanmu buku cerita." Robin tetap tersenyum. Anak kecil itu mengangguk dengan sedikit ketakutan saat kembali menatap mata Lucci. Dia pun keluar.
.
.
.
Di dalam kamar itu sekarang hanya tinggal Robin dan Lucci berdua. Robin berusaha tetap tenang dengan menghirup kopinya. Lucci menyandarkan punggungnya di dekat jendela kamar Robin sambil melipat tangannya dengan santai. Tidak ada yang memulai pembicaraan sampai Lucci memecah keheningan dengan berkata, "Kau bahagia hanya dengan melihat Roronoa Zoro dari jauh?"
"Aku rasa aku tidak perlu melapor padamu, Rob Lucci-san." Robin menjawab Lucci tanpa melihat ke arahnya.
"Heh... Kau sungguh naif, Nico Robin. Lebih baik kau segera melupakan Roronoa Zoro karena sebentar lagi kita akan menikah. Kukira kau tidak lupa tentang hal itu kan?"
"Apa yang kau harapkan dari sebuah pernikahan tanpa cinta?" Robin kembali meminum kopinya.
"Aku tidak keberatan menikah denganmu. Kau cantik dan seksi. Dan kau bisa memberi apa yang kuinginkan." Nico Robin tertawa seakan sudah bisa menebak apa yang diinginkan pria itu.
Robin sedang merendahkan Rob Lucci yang menurutnya sangat rendahan karena ingin menikahinya dengan tujuan murahan seperti itu. Lucci merasa sedikit tertantang mendengar tertawaan dari Robin. Dia merasa harus membuat wanita itu berhenti.
Dia mendekati Robin dan membekap bibir wanita itu dengan bibirnya. Sambil memaksakan lidahnya untuk mengakses semua rongga di dalam mulut Robin, dia memasukkan tangannya ke dalam pakaian yang dikenakan Robin untuk menyentuhnya. Robin mencoba untuk melawan, tapi Lucci tetap lebih dominan dan kuat. Lucci mendorong tubuh Robin ke dinding, memuaskan dirinya untuk merasakan temperatur tubuh Robin yang sudah mulai memanas. Wanita itu terus meronta, menolak untuk disentuh oleh laki-laki yang ingin mengambil keuntungan darinya ini. Laki-laki itu mengeraskan genggamannya pada tangan ramping Robin, membuat wanita itu tampak kesakitan.
"Lepas... Kau!" Belum selesai Robin berbicara, bibirnya lagi-lagi dibekap oleh bibir Rob Lucci. Setitik air mata kesakitan diteteskan dari mata biru Robin. Rob Lucci sedikit membelalakkan matanya karena terkejut. Tidak mungkin seorang Nico Robin menangis, tapi kemudian dia tertawa dan menghentikan aksinya. Robin tidak sengaja menjatuhkan vas bunga di sampingnya karena terburu-buru membetulkan pakaiannya setelah dia dilepaskan. Terlihat memar-memar di sekitar tangan Robin, wanita itu menyeka air matanya dan kembali memandang jijik ke arah Lucci.
"Tatapan wajahmu ini sungguh menarik. Kenapa kau tidak menangis keras seperti perempuan lainnya? Mungkin aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik jika kau berlaku lebih manis padaku." Lucci kemudian duduk di sofa dan menghirup kopi yang tadi disediakan oleh Robin untuknya.
"Kita sama-sama tahu kalau kau dan aku tidak saling suka, jadi kenapa kau tidak melepaskanku?" Robin kembali mengatur ekspresinya untuk terlihat lebih tenang.
"Seperti yang kubilang tadi, aku akan melepaskanmu jika tujuanku tercapai. Kau tidak punya pilihan lain selain menurutiku. Crocodile dan aku sama-sama setuju kalau kau orang yang bisa membawa kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Setelah itu, aku tidak peduli apapun yang terjadi padamu." Jelas Lucci.
"Apa untungnya bagimu menikahiku? Aku bisa membantumu tanpa kau harus menikahiku." Robin mencoba untuk menawarkan perdamaian.
"Kau bukan perempuan bodoh. Kau bisa saja menipuku dengan berpura-pura membantuku. Aku tidak mau mengambil resiko jika aku mendapatkan jiwa dan ragamu, aku yakin kau akan dengan senang hati membantuku." Robin mulai merasa depresi. Tidak ada gunanya melanjutkan pembicaraan ini. Mereka akan terus menyakitinya hingga mereka puas.
Katakuri yang kala itu berada di luar begitu terkejut mendengar suara keras benda jatuh. Dia langsung berlari mendobrak pintu kamar Robin yang tadinya dikunci oleh Lucci. Pria tinggi besar itu menemukan Robin yang terlihat berantakan. Pakaian Robin robek di bagian pundak dan perutnya. Katakuri menjadi sangat berang melihat kondisi si arkeolog dan mulai ingin menghajar Lucci, tapi dihentikan oleh Robin.
"Kau akan bermasalah dengan Crocodile jika kau melawannya demi aku, Katakuri-san. Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Dia tidak sempat melakukan apa-apa padaku." Robin menenangkan emosi Katakuri.
"Maaf, nona. Aku tidak bisa membiarkan orang ini semena-mena terhadapmu. Kau tidak pantas diperlakukan seperti ini!" Seru Charlotte Katakuri berteriak marah. Wajahnya sudah mulai terlihat memerah karena kemarahannya. Urat-urat di ototnya pun mulai terlihat karena dia menggenggam tombaknya dengan sangat erat. Giginya pun digertakkannya. Dia melihat ke arah Robin. Robin menunjukkan ekspresi cemas dan dia sadar dia harus berhenti atau wanita itu akan lebih sedih lagi.
Lama-kelamaan, laki-laki itu mulai bisa mengatur emosinya dan kembali ke Katakuri yang dingin seperti biasanya. Robin kembali tersenyum padanya dan dia membalas dengan tersenyum kecil untuk menghapus kekhawatiran wanita yang dikaguminya itu.
Lucci memandangnya penuh dengan hawa membunuh. Robin yang melihatnya pun menyuruh Katakuri keluar sebelum Lucci mencoba menyakiti bodyguardnya itu. Katakuri keluar dari kamar tersebut seperti yang diisyaratkan oleh Robin.
"Baiklah, Nico Robin. Aku ingin kau menelepon Roronoa Zoro sekarang juga. Kau harus memutuskan hubunganmu dengannya." Robin membelalakkan matanya. Dia begitu terkejut dengan permintaan Rob Lucci. Apa haknya memerintah seorang Nico Robin?
Lucci melempar beberapa foto di depan Robin. Robin melihat foto itu dan betapa terkejutnya dia melihat Usopp di dalamnya. Usopp tampak terluka parah. Darahnya bercucuran kemana-mana. Usopp seperti habis dipukuli seseorang. Robin segera bisa menebak siapa yang melakukannya. Robin menjadi sangat marah melihat temannya tergulai lemas seperti itu. Nico Robin menampar wajah Rob Lucci. Pria itu hanya menanggapinya dengan tertawa.
"Kau bisa bayangkan jika aku melakukannya pada kekasihmu karena kau tidak mau menurut padaku." Ancam pria itu dengan menampakkan senyum liciknya.
"Kenapa kau lakukan itu pada temanku? Kau dan Crocodile sudah berjanji padaku untuk tidak mengganggu teman-temanku jika aku menuruti kalian, tapi kenapa?" Robin merasa dikhianati. Buat apa dia memisahkan diri dari teman-temannya dan Zoro jika ini yang didapatnya.
"Aku tidak akan melakukan ini jika kau tidak pergi diam-diam untuk sekedar memperhatikan Roronoa Zoro dari jauh. Kau pikir aku tidak tahu kan?" Lucci menaikkan dagu Robin untuk memaksanya bertatap muka dengannya.
"Kau tidak bisa menyakiti temanku hanya karena ini. Kau bertindak seolah-olah kau cemburu, padahal kita berdua tahu kalau itu tidak mungkin." Wanita itu sengaja menantang Lucci. Robin tidak takut jika Lucci hanya menyakitinya.
"Sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Aku tidak suka barang milikku diganggu oleh orang lain. Terserah kau mau menganggapnya sebagai rasa cemburu atau bukan." Lucci melepaskan pegangannya pada Robin. "Satu hal lagi, itu peringatan dariku. Jika kau diam-diam menemui Roronoa lagi, Monkey D. Luffy dan pacarnya, Nami adalah sasaranku berikutnya."
Kemarahan Robin sudah memuncak. Bahkan tidak terlihat lagi senyum diwajahnya. Dia sangat ingin membunuh pria yang di depannya ini. Berani-beraninya laki-laki ini menyakiti temannya.
(Robin's POV)
Rob Lucci benar-benar pria yang tidak punya hati. Tega-teganya dia melakukan itu terhadap Usopp yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak akan pernah memaafkannya jika dia ataupun Crocodile menyentuh teman-temanku lagi. Untuk saat ini, aku akan mengikuti permainan mereka. Mereka tidak akan segan-segan untuk menyakiti Zoro dan yang lainnya. Aku harus bisa bertahan. Jika laki-laki ini berani menyentuhku lagi, akan kutusuk dia sampai dia kehabisan darah dan mati kekeringan.
"Aku tidak akan meminta untuk kedua kalinya." Lucci menyodorkan sebuah handphone.
.
.
.
Sementara itu... (Normal POV)
Karena merasa begitu depresi, Zoro memutuskan untuk pergi menemui teman-temannya di Sunny-go. Sanji mengikutinya dari belakang sambil mengarahkan si bodoh untuk tidak tersesat lagi.
"Hai, Sanji-bro. Oh! Hai, Zoro-bro... Lama tidak kesini. Aku SUUUPPEEER kangen." Franky memberikan pelukan erat kepada si rambut hijau yang sudah cukup lama tidak bertandang ke barnya karena sibuk pacaran.
"Ugh, Franky cukup. Kau membuatku tidak bisa bernafas." Berusaha melepaskan dirinya sambil memukul-mukul punggung si rambut biru.
"Oh, maaf, Zoro-bro. Aku pikir kau sudah melupakanku dan Afro-bro." Setelah melepaskan pelukannya, dia menangis bahagia.
"Hmm... Aku juga sudah sangat merindukan sake. Bisa berikan aku sebotol sake?" Tanya si pendekar pedang sambil mengambil tempat duduk di depan Franky dan Brook. Franky mengangguk dan segera menyodorkan sebotol sake ke depan Zoro.
"Zoro-kun, dimana nona Robin yang cantik itu? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Bisa kau bilang padanya untuk membiarkanku melihat celana dalamnya?" Brook kemudian mendapat pukulan dari Zoro. Sanji si mesum mengacungkan jempol, berpikir kalau si afro pantas mendapat pukulan dari si rambut hijau, meskipun dirinya sendiri mimisan karena membayangkan Robin dengan celana dalamnya. Zoro hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Laki-laki itu langsung lanjut meneguk sakenya lagi.
Tak lama kemudian, tampak Nami dan Luffy menyusul si pendekar pedang.
"Zoro, apa maumu menyuruh kami ke sini?" Tanya si rambut orange dengan sedikit kesal karena merasa diperintah oleh Zoro.
"Aku bosan." Jawabnya singkat.
"Jadi cuma karena itu?" Nami memukul kepala Zoro. Zoro langsung mengerang kesakitan dan melampiaskannya ke Luffy karena dia tidak mungkin memukul Nami yang sedang hamil. Selain tidak mungkin memukul perempuan hamil, Nami itu seperti penyihir. Wanita itu pasti akan menambah hutangnya lagi karena Zoro berani melawannya.
"Ah, Zoro. Kenapa kau malah memukulku?" Giliran Luffi yang mengerang kesakitan.
"Aku kesal melihat wajahmu, Luffy."
"Zoro jahat." Luffy lanjut mengorek hidungnya. Tidak ada perlawanan dari Luffy. Yang lainnya hanya bisa menepok jidatnya.
"Jadi? Kenapa kau tidak mengajak Robin kesini?" Nami melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosok wanita yang sudah dianggapnya kakak itu.
"Wanita itu, entah apa yang dilakukannya. Sudah sebulan dia tidak pulang ke rumah. Aku meneloponnya dan dia hanya bilang kalau dia sedang sibuk dengan penelitian. Penelitian bodoh itu membuatku semakin kesal saja." Jawabnya kesal.
"Penelitian? Selama itu?" Tanya Nami penasaran.
"Dia bilang, dia akan pulang setelah semua urusannya selesai. Dia memintaku untuk tidak mengkhawatirkan dan mencarinya. Aku merasa dia menghindariku." Terlihat kesedihan di wajah Zoro, tapi laki-laki itu tidak dapat melakukan apa-apa. Zoro tidak henti-hentinya meminum sakenya.
"Ada yang aneh." Nami mencium keanehan dalam cerita Zoro. Dia tahu kalau Robin seorang pekerja keras. Kakaknya itu bisa larut dalam dunianya sendiri jika itu menyangkut soal sejarah, tapi tidak mungkin rasanya jika dia mengacuhkan mereka semua seperti ini. Nami sudah mencoba menelepon Robin, tapi wanita itu tidak pernah mengangkatnya. Wanita yang pintar menggambar peta itu memutuskan untuk menyelidikinya.
Pintu bar Sunny-go terbuka. Betapa terkejutnya orang-orang yang berada di dalam bar melihat keadaan dari orang yang baru masuk itu. Laki-laki itu berdarah-darah, seperti habis dipukul. Semua anggota kelompok topi jerami yang berada di bar itu langsung menghampiri laki-laki yang terluka parah itu.
"USOPP!" Nami berteriak histeris melihat temannya terluka seperti itu.
"Siapa yang melakukan ini padamu, Usopp? Aku akan menghajarnya!" Luffy marah melihat temannya terluka seperti itu. Dia akan berlari keluar untuk mencari penjahat yang menyakiti temannya saat Nami menariknya masuk kembali ke dalam.
"Nami, apa yang kau lakukan? Aku ingin membalaskan dendam Usopp. Beraninya mereka mengganggu temanku!" Luffy berteriak marah. Nami memeluknya untuk menghentikan amarahnya. Luffy terlihat sedikit lebih tenang, mungkin karena dia berpikir jika dia meronta, anak mereka yang ada dalam kandungan Nami akan tersakiti olehnya.
"Bodoh! Percuma kau mau membalas dendam sekarang. Kau saja tidak tahu siapa yang menyebabkan Usopp terluka seperti ini. Saat ini, kita harus fokus dalam penyembuhan Usopp dulu. Apa kau mengerti?" Disaat genting seperti ini, memang sangat diperlukan pemimpin yang dewasa seperti Nami yang bisa berpikir lebih jernih.
"Baiklah, Nami. Maafkan aku." Nami mengangguk tersenyum lirih. Dia langsung memusatkan perhatiannya kembali ke Usopp. Dia berlari mengambil sebuah sapu tangan di dalam tasnya untuk menyeka darah si hidung panjang.
"Apa yang terjadi padamu, Usopp?" Tanya Zoro khawatir sambil membantu Usopp berdiri.
"Aku... Aku..." Seakan tidak kuat berbicara, Usopp meringis kesakitan. Keadaan si hidung panjang sangat mengkhawatirkan.
"Sudahlah, Marimo. Jangan memaksanya berbicara dulu. Franky, Brook, apa ada tempat yang bisa kami gunakan dulu untuk membaringkannya?" Sanji membantu mengangkat Usopp juga. Mereka bahu-membahu membantu Usopp menghentikan darahnya yang masih mengalir.
"Sini, ikuti aku. Afro-boy, kau jaga di depan. Aku akan membantu mereka mengobati Usopp-boy dulu." Franky dengan sigap membawa Usopp masuk ke sebuah kamar dan membaringkannya.
Setelah selesai mengobati Usopp, mereka sedikit terlihat lebih tenang karena Usopp sepertinya sedikit lebih membaik. Usopp sudah bisa berbicara. Semua anggota kelompok topi jerami dan Franky berkumpul mengelilingi Usopp yang sedang berbaring lemah diatas kasur berwarna biru milik Franky. Mereka menunggunya menceritakan kejadian yang telah menimpanya.
"Tadi, aku berencana untuk berjalan kaki menuju rumah Kaya. Dalam perjalanan, aku merasa ada yang mengikutiku. Karena merasa ketakutan, aku berlari sangat kencang. Saat kukira sudah aman, seorang laki-laki berbadan besar dan tinggi tiba-tiba saja menghalangi jalanku dan memukuliku. Aku tidak merasa mengenalnya, tapi dia seperti menyebut nama Nico Robin saat dia berbicara di telepon. Dia bilang, Robin yang berada di balik semua ini." Usopp bercerita sambil menahan rasa sakitnya. Nyeri terasa di setiap bagian tubuhnya, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada mereka.
"Jadi, maksudmu kejadian ini ada hubungannya dengan Robin?" Zoro yang tadinya duduk, kini berdiri. Zoro meminta penjelasan dari Usopp. Tidak mungkin Robin nya melakukan hal itu.
"Maaf, Zoro. Tapi begitulah yang kudengar. Aku tidak percaya jika semua ini Robin yang melakukannya. Mungkin saja Robin dipaksa oleh pria itu. Aku tidak tahu apa hubungannya Robin dengan pria itu, tapi Zoro..." Dengan susah payah karena masih merasa kesakitan, Usopp menoleh ke arah Zoro. "Aku rasa, Robin dalam bahaya dan kau harus percaya padanya."
Semua mata memandang ke arah Zoro, menunggu respon dari si rambut hijau. Mereka sangat terkejut mendengar cerita Usopp, tapi mereka berusaha lebih tenang.
"Aku memang merasa ada yang aneh dengan Robin, tapi aku tidak bisa percaya jika kondisimu ini ada hubungannya dengan Robin." Zoro seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia terdiam. Sanji memegang pundak si pendekar pedang untuk menenangkannya.
"Aku percaya pada Robin-chan. Pemukulan terhadap Usopp tidak mungkin ada hubungannya dengan Robin-chan. Aku rasa Usopp benar, Robin-chan sedang dalam bahaya. Kita harus menyelamatkannya." Sanji yakin kalau Robin bukan wanita yang akan tega menyakiti temannya sendiri.
"Sanji benar, Robin tidak mungkin melakukan itu pada Usopp." Luffy yang dari tadi diam pun mulai bersemangat kembali. Dia memukul-mukul punggung Zoro untuk menyemangatinya. Hal itu membuat Nami harus menariknya kembali. Zoro bisa muntah darah jika si kapten bodoh lanjut memukuli punggungnya.
"Kalian benar. Mungkin itu hanya kebetulan saja. Mungkin yang dimaksud oleh pria itu adalah Nico Robin yang lain. Ini sungguh konyol." Zoro berusaha menenangkan dirinya dengan sedikit bercanda. Teman-teman yang lain ikut tertawa mencoba menenangkan pikirannya masing-masing.
.
.
.
Handphone Zoro berbunyi. Tercatat nama kekasih hatinya di layar hp itu. Zoro tersenyum, akhirnya dia bisa mendengar suara wanitanya lagi. Dia juga berencana akan menanyakan kejadian yang menimpa Usopp pada Robin. Zoro langsung melangkah keluar kamar dan mengangkat teleponnya.
"Zoro..."
"Robin, sudah lama kau tidak meneleponku. Apa kau sudah selesai dengan penelitianmu?" Zoro bertanya ringan kepada Robin, berharap mendapat jawaban yang ingin didengarnya dari Robin tentang kepulangannya.
"Aku tidak akan pulang." Ucap Robin tanpa menjawab pertanyaan Zoro. Suaranya terdengar agak suram di telinga Zoro.
"Haha... Selera humormu menjadi semakin baik setelah sebulan, Robin." Zoro menganggapnya bercanda. Wanita itu tidak mungkin tidak pulang. Dia pasti bercanda. Robin terdiam.
"Oh ya, Robin. Kau tahu, ada kejadian buruk menimpa Usopp. Dia datang ke bar dengan kondisi parah. Badannya penuh dengan luka akibat pukulan dari seorang pria." Belum selesai Zoro menceritakan, Robin sudah keburu memotong. "Dan semua itu aku yang melakukannya." Robin mengakuinya.
"Bercandamu tidak lucu, onna. Kau tidak bisa membuatku tertawa dengan lelucon bodoh seperti itu." Menganggap Robin bercanda dengannya, Zoro merasa sedikit kesal.
"Aku tidak bercanda, kenshi-san. Aku ingin kita berpisah."
"Apa maksudmu berpisah? Dan kenapa kau memanggilku 'kenshi-san' lagi? Kau tahu aku benci mendengarmu memanggilku itu." Suara Zoro terdengar mulai meninggi. Robin sangat keterlaluan jika dia bercanda dengan hal seperti itu.
"Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Aku benci Luffy, Nami, Usopp, Sanji, dan terutama kau, Roronoa Zoro. Aku membenci kalian semua. Kalian semua anak-anak yang sangat bahagia, tidak sepertiku yang selalu sendiri. Aku merasa akan sangat menyenangkan jika aku bisa menghancurkan persahabatan kalian. Aku sangat ingin melenyapkan kalian. Selama ini, aku hanya berpura-pura baik kepada kalian. Aku juga hanya berpura-pura menyukaimu. Kau anggap saja hubungan kita ini kenang-kenangan dariku. Sebuah bayaran untukmu karena sudah mau dibohongi olehku." Robin terdiam sesaat. Dia begitu ragu meneruskan yang harus diucapkannya lagi untuk membuat Zoro percaya kalau dia benar-benar jahat. Wanita itu menunggu sedikit respon dari si rambut hijau, tapi tidak sepatah katapun keluar dari mulut laki-laki itu. Robin dengan sangat terpaksa lanjut menyakiti laki-laki itu lagi. "Oh ya, seminggu lagi aku akan menikah dengan pria yang kucintai, Rob Lucci. Tolong kau jangan mencariku lagi. Selamat tinggal." Robin menutup teleponnya. Zoro hanya terdiam.
Sementara itu...
"Bagus sekali. Kau melakukannya dengan sangat baik, Nico Robin. Aku akan pelan-pelan memberimu hadiah untuk pekerjaanmu yang bagus ini. Sesuai rencana, kita akan menikah seminggu lagi dan setelah itu, kau akan bertekuk lutut di depanku. Kau pasti akan memohon-mohon padaku untuk tidak meninggalkanmu." Lucci tertawa licik.
"Kau sudah mendapat apa yang kau inginkan, jadi bisakah kau meninggalkanku sendiri?" Robin menatap Lucci dengan tatapan membunuh. Dia tidak ingin diganggu siapapun saat ini. Hatinya sangat hancur sekarang. Rob Lucci adalah orang terakhir yang Robin inginkan di kamarnya saat ini.
"Baiklah, pengantinku. Besok, aku akan kesini lagi." Setelah Lucci pergi, Robin sendirian di dalam kamarnya.
Robin merasa sangat hancur. Tidak ada lagi yang tersisa pada dirinya. Dia sepertinya tidak pantas untuk hidup bahagia. Setelah sekian lama, dia bisa mendapatkan teman dan juga belahan jiwanya tapi hal itu hilang begitu saja. Saat ini, dia hanya bisa menangis sambil sedikit berharap Zoro dan teman-temannya datang menyelamatkannya.
NB: Dalam fic ini tidak diceritakan adanya kekuatan buah setan apapun dari karakter-karakternya. Yang ada hanya orang-orang yang kuat dan hebat dalam pertarungan. Semua karakter juga dalam bentuk manusia (Chopper dan Brook). Karakter Katakuri dalam fic ini tidak setua aslinya. Umurnya disamakan dengan Robin dan dia tidak punya rupa seperti monster. Tingginya juga tidak setinggi aslinya. Sedangkan Crocodile diceritakan sedikit lebih tua dari umur aslinya, tapi wajahnya tetap seperti Croc yang biasanya. Lucci juga digambarkan seumuran dengan Robin, hanya saja dia menyamar sebagai mahasiswa (mahasiswa kan tidak harus muda atau terlihat muda). Chopper adalah adik tiri Robin. Croc menghamili seorang wanita dan tidak menikahinya. Dia memaksa untuk mengambil anaknya saja. Sekian.
Kalau dihitung-hitung author terlalu Robin- centric... Lol... RobinxZoro, RobinxLaw, RobinxSanji, RobinxSabo, RobinxCavendish, RobinxLucci, RobinxKatakuri.
Jawaban Review:
piranha19: Haha... Makasih ya... Semangat2...
BlondieFrankenstein: Makasih... Mudah2an chapter yg ini bs memuaskan ya... Tetap dibaca ya, meskipun agak lama yg penting gak ditinggalin, ya kan? Hehe...
Yadi: Jangan dilupakan pliz... Tetap dibaca ya... Bisa nambah semangat nyelesaiinnya kalo byk yg suka.. Thx btw... :D
Yolan Rain: Maafkan daku klo kelamaan... Ini authornya emang agak lola, jd proses bikinnya emang lama jdnya, tp tlg harap maklum... Tlg jangan ditinggal ya fic ini... Terimakasih sudah suka n nge-review... :D
