Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei
Story plot ya milik saya #digebuk
LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORT ESPECIALLY BASKETBALL.
LONG LIVE SPORTS!
"Aduh.. Itte.." gerutumu saat meratapi nasib sialmu pada hari ini. Bokongmu yang sudah mencium aspal yang monotone membuatmu menggerutu dan ingin segera mengomel siapapun (kecuali orang yg lebih tua darimu) yang telah menabrakmu tadi.
Kaupun mendongak sesegera mungkin dan melihat sang penabrak yang telah mengulurkan tangan kanannya untuk membantumu berdiri.
Matamu melebar sedikit melirik untuk melihat orang tersebut. Mata coklat kehitaman, surai berwarna coklat walau hampir sama seperti warna yang biasanya kita lihat di pinggir selokan rumah.
Oke, itu cuma permulaan saja, jangan diambil hati.
Dan juga wajah panik yang menurutmu cukup membuat orang lumayan awestruck terhadapnya, seperti dirimu yang hanya bisa bengong tanpa alasan menatapnya.
"Ah, Maaf! Aku tak sengaja." ia segera membantu, "Maaf ya!" ujarnya, segera mengambil tanganmu dengan tangannya dan tangan satunya menopang tubuhmu untuk membantu dirimu berdiri dan mau tak mau kau hanya bisa diam saat ditolongnya.
"Daijoubu? Tak ada yang sakit 'kan?" tanyanya padamu yang memperbaiki diri dan membersihkan rokmu yang kotor dan menggelengkan kepala. "Iie, daijoubu. Tak apa, bukan salahmu." ujarmu enteng, lalu memiringkan kepalamu sedikit, berusaha untuk mengingat siapa orang ini. Pikirmu, sepertinya pernah bertemu dengan orang berperawakan tinggi ini.
"Ano.. " Ujarnya, membuatmu mendongak kepadanya, "Apakah kau sepupunya Riko-san yang kemarin itu 'kan? (First Name) kan namamu?" tanyanya dan membuatmu tertegun sedikit dan mengangguk kecil.
"Iya, betul. Dan sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi maaf, aku lupa dengan namamu. Biasa, aku ini orangnya ingatannya lemah, hehehe.. " kau tertawa garing. Memang sih, kau itu butuh beberapa minggu hingga bulan sebelum hafal nama dari orang yang pernah kau temui.
Terdengar tawanya yang ringan. Tak ada nada seperti dalam tanda kutip 'mengejek'. Hanya ada gelak tawa kecil yang seperti menggelitik di perutnya. "Ehehehe... Souka? Tak apa, aku mengerti kok. Kau 'kan baru disini jadi tak masalah. Yah, walaupun aku tidak fasih berbahasa inggris sich," Ia mengeluarkan tawa garing kecil dan kau hanya bisa tersenyum geli. Kalian mengobrol sejenak dan saling enjoy akan topik pembicaraan kalian, dan kau sudah tahu namanya adalah Kouki Furihata, anak kelas satu dari tim basket yang ia temui. Hingga...
"Astaga! Kita sudah terlambat! Aduh, aku harus cepat atau sensei akan membunuhku." Ujarnya panik dan tergesa-gesa. Kau pun panik juga sepertinya, karena kalian berdua terlambat karena mengobrol.
"Ahh! Aku juga! Aku harus cepat ke kelas!" ujarmu dan ia tersenyum kecil. "Maaf ya yang tadi soal tabrakan. Sore ja. Matta ne." Ia melambaikan tangan padamu sebelum berlari ke arah berlawanan darimu.
Bel sekolah telah berbunyi, waktunya pulang. Kau menghela napas setelah memasukkan buku catatanmu yang ada di meja ke dalam tasmu. Pelajaran Biologi memang melelahkan bagi dirimu, walau kau lumayan pintar di bidang Sains, tapi tetap saja.
Langkah kaki yang kau dengar berada dimana-mana. Guru yang mengajarpun juga sudah meninggalkan kelas dan tinggal beberapa anak-anak yang sedang tinggal untuk piket dan ada yang langsung keluar kelas dan menuju gerbang sekolah untuk langsung pulang ke rumah.
Dan ada juga yang langsung menuju ke tempat ekstrakulikuler, seperti dirimu yang juga bersiap-siap dan menerima (dengan paksa) nasibmu menjadi asisten pelatih, tepatnya asisten sepupumu itu, Riko. Walau beda setahun, tapi kalian itu seperti sahabat dan kakak-adik yang dekat. Kau sudah menganggapnya sebagai kakakmu dan ia sudah menganggap dirimu sebagai adiknya karena kalian sama-sama anak tunggal.
Kaupun melangkahkan kakimu menuju pintu keluar kelas dan sedetik kemudian menghela napas. Rasanya kau ingin sujud syukur saat kau mendengar bel pulang berdentang ketika disaat dimana kau hampir sekarat di saat - saat terakhir jam tersebut karena ocehan guru yang amat absurd bagimu nan membuatmu bosan bin najis mugoladoh (?).
Oke. Ini rasanya sudah terlalu lebay. Enelan, ciyus, miapah- #plakk maksudnya demi apa #huwat
Baiklah, lanjut.
Berjalan di koridor dengan santainya, kaupun berjalan dan berbelok dan menuruni anak tangga yang berada didepanmu, menuntunmu ke arah dimana halaman ekstrakulikuler berada. Setelah mengingat - ingat arah menuju ke bangunan yang kau hendak tuju. Tapi sepertinya kau tak tahu, bahwa dalam sekejap kau sebentar lagi akan mengetahui bahwa dewi fortuna telah menghilang dari genggamanmu.
Kau yang ingin berbelok ke arah kiri, malah ketiban sial. "Belok lapangan terus la-Uwahh!"
Kaupun tertabrak. Lagi.
"Aduh.. Sakit.." Gerutumu. Untung saja kau tidak terjatuh kali ini. Uh, sepertinya nasib sial sedang lengket-lengketnya padamu. Kau merutuk dirimu sendiri karena yakin ini pasti memang hari sialmu saat melihat di kalender. Kaupun berdiri tepat disaat kau mendapatkan perempatan merah di sebelah pelipismu.
"Hei, kalau jalan lihat-lihat dong!" Sergahmu pada orang yang menabrakmu tadi. Orang tersebut sama seperti tadi pagi. Seorang pemuda, tapi kali ini berbeda. Warna mata kuning topaz, rambut kuning keemasan ketika ditimpa sinar matahari, dan paras yang tampan dalam ekspresi panik yang bisa orang katakan dalam bahasa kerennya, cute.
"W-Wah! Ma-maaf ssu! Aku tak sengaja!" Ia langsung meminta maaf dan kau masih memasang muka dengan ekspresi marah dan annoyed. Tapi segera kau hilangkan ketika mendegar teriakan yang berjarak beberapa puluh meter dengan disertai derap kaki yang lumayan ramai. Kau menengok bersamanya di belakang dan melotot lebar dengan bola matamu sendiri.
Banyak siswi yang berlari kesini sambil ada yang sebagian sedang memegang kertas ataupun buku dengan palat tulis yang biasanya kau ketahui dan pakai untuk menulis. Dan kau tak tahu kenapa dan apa yang terjadi.
"Sialan! Mereka masih mengejarku. Ayo!" Dan terjadi dalam sekejap, tangannya memegang punyamu dan juga langsung saja tancap gas (?) dari situ. Kau yang terbawa olehnya dan masih cengo akan apa yang terjadi hanya bisa pasrah diseret olehnya untuk terpaksa berlari, kaupun juga terheran-heran.
"Uwah! H-Hei, kenapa kita berlari?! Kenapa sepertinya mereka mengejarmu?!" Teriakmu sedikit saat sambil berlari padanya yang juga masih tetap berlari.
"Sudahlah, nanti saja aku beritahu- Apa? Kau tak tahu ssu? T-Tapi.. Pokoknya kita lari saja dulu ssu! AHH!" teriaknya balik padamu yang mulai ngos-ngosan dan sekejap kau ditarik ke semak - semak yang lumayan besar untuk dijadikan persembunyian dari para gadis yang kau duga itu ehm,... fangirls?
"Menunduk!" bisiknya saat tangannya yang besar merapatkan dirimu padanya dan membuat kepalamu yang masih terlihat dari sana pun menunduk dan diam sesaat dan ketika suara itu berlalu melewati kalian, kau serasa menahan napas, takut nanti ketahuan. Tapi syukurlah, setelah berlalu beberapa detik kemudian akhirnya suara derap itupun lenyap dan tak ada lagi puluhan sosok yang mengejar.
Kau membangunkan dirimu dan menghela napas lega, akhirnya kau bisa terhindar dari kejaran massa mendadak. Kau melirik ke sebelahmu dan memperhatikan dia yang sedang membersihkan penampilannya dan seragamnya dari debu dan kotoran yang menempel di bajunya yang tengah ia kenakan. Kaupun juga melakukan hal yang sama.
"Hei, kau. Sekarang katakan dan jelaskan padaku. Kenapa kau melakukan hal itu tadi?" Kau menghujani pertanyaan padanya yang kebingungan, mengerjapkan mata padamu beberapa kali. Kalian pun terduduk bersama - sama di atas rumput halaman.
"H-Hahh?" tanyanya balik dengan begonya, membuatmu masih memandang itu wajar karena dia masih linglung setelah habis berlari.
Kau mengangguk. "Iya. Katakan, kenapa kau dikejar seperti itu?"
Pemuda bersurai pirang itu hendak menjawab tapi kau menambahkan perkataanmu. "Biar kutebak, apakah mereka mengejarmu karena kau menghindari mereka karena mereka menggilaimu?"
Ia lalu menjawab sambil membuat muka dengan ekspresi penuh harap. "B-Benar sekali ssu! Kau tahu 'kan siapa aku ini?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Kau yang dengan polosnya menyahut, "Tidak."
ZGEERRR
Ia membatu, serasa ia langsung membeku ditempat dan kaupun hanya bingung sambil menatapnya. "Oi? Kau tak apa? Hallo?~" Kau melambaikan tangan didepan mukanya yang segara disergap oleh tangannya, membuat kau terperanjat sedikit.
Kau mendongak dan melihatnya dengan muka tak percaya. "Ehh?! Kau.. Kau benar-benar tak tahu aku ini siapa? Benarkah ssu?"Tanyanya padamu lagi yang mengangkat sebelah alismu dan juga menjawab dangan jawaban yang sama. "Aku tak pernah tahu kau itu siapa."
Kemudian kalian saling mengenalkan diri masing - masing (setelah kau mencoba mencegahnya untuk tidak menabrakkan kepalanya ke pohon tepat disebelah tempat kalian bersembunyi). Ia mengatakan padamu akhirnya, bahwa namanya adalah Kise Ryouta. Ia adalah seorang model dan bersekolah di Kaijou Koukou. Dia datang kesini karena ia rutin mengunjungi seorang temannya yang bersekolah disini sepulang sekolah yang juga seorag siswa anggota klub basket. Tapi ia kadang harus berhenti sementara karena siswi disini kadang meminta tanda tangan ataupun mengajaknya atau sekedar minta foto bersama. Jadi idola itu ternyata berat ya, pikirmu sambil mendengarkan ceritanya.
Kemudian ketika kau tahu bahwa ia ingin menuju ke ruang klub basket, kaupun berkata. "Benarkah? Kebetulan aku juga ingin pergi kesana. Bagaimana kalau kita kesana bersama - sama, Ryouta-kun?" Sepertinya ia perlu bantuan, pikirmu polos.
"Ah, benarkah ssu? Tapi kalau kau memaksa, ya mau bagaimana lagi, hahaha..." ujarnya tertawa kecil, membuatmu hanya bisa sweatdrop.
'Percaya diri yang berlebihan...' itulah first impressionmu padanya.
Langkah kaki yang terlihat dan terdengar, tepatnya dipinggir lapangan terdengar gelisah dan cepat. Wajah sang pemilik kaki itupun juga menunjukkan ekspresi resah nan gelisah. Giginya menggigit kuku ibu jari. Sang pemilik yang ternyata seorang gadis berambut caramel pun hanya bisa berbolak-balik sambil memikirkan sesuatu.
"Pelatih." ujar seseorang yang membuyarkan langkahnya dan menoleh. "Oh, Kuroko-kun."
"Kau mengkhawatirkan (Name)-san yang belum datang 'kan?" Tanyanya dan ia menghela napas.
"Kuharap ia sudah hapal jalan menuju kesini. Aku takut ia tersesat-"
Terdengar suara pintu dibuka dan sejenak aktivitas terhenti disaat itu juga. Riko dan yang lainnya yang berada didalam ruangan tersebut langsung menoleh kearah pintu. Ternyata itu adalah kau dan juga Kise yang berjalan masuk ke dalam ruangan gymnasium.
"(Name)-chan! Akhirnya kau datang juga," Riko langsung menunjukkan senyum lega saat mengetahui engkau muncul. Kuroko yang masih tertegun sebentar saat melihat ke arah sebelahmu. Kau tersenyum sambil meminta maaf karena datang terlambat pada mereka.
"Kise-kun."
Kau tertegun sejenak dan langsung menolehkan pandanganmu pada sang pemuda yang bernama Kise. Kise memuat sebuah senyum lebar ketika melihat sang pemuda berbadan pendek tersebut. Aktivitas kembali dilakukan kecuali untuk beberapa orang yang memang mempunyai urusannya sendiri.
"Ara, konichiwa Kurokocchi!~ Ah, Kagamicchi juga disini rupanya ssu. Rajin sekali~" Ujarnya menyapa mereka langsung.
"Kenapa kau bisa disini, Kise-kun?" tanyanya lagi dan yang ditanya hanya bisa cengar - cengir dan malah membuka lebar - lebar lengannya agar bisa memeluk sahabatnya itu.
Tapi sepertinya itu takkan terjadi. Beberapa inchi sebelum ia bisa memeluk sang pemuda berambut biru muda itu, bola basket sudah menghantam perutnya dan akhirnya tepar dengan tak elitnya di lantai gegara dilempar oleh Kuroko yang membuang napas sekali lagi sementara Kagami menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal sambil melihat keterpurukan seorang Kise Ryouta.
Dan kau juga Riko hanya bisa terdiam dan sweatdrop akan kejadian yang kalian lihat.
"...Apakah dia selalu begitu?" Tunjukmu pada Kise dari kejauhan sambil menoleh ke arah sepupumu itu. "Sepertinya. Tapi Kise adalah pemain basket yang hebat. Ia juga seorang model yang lumayan terkenal di distrik ini dan mantan dari tim Generation Of Miracle." Dan kau pun hanya bisa membayangkan apa itu. Intinya, cengo bin bengong.
"Apaan tuh? Aku tidak mengerti, Riko-Oneechan." ujarmu dan Riko langsung tepok jidat, plus ketawa garing.
"Aduduh, maaf ya. Aku lupa, 'kan kau tidak tahu." balasnya dan kau hanya bisa menghela napas.
"Mau diceritakan?" Kau dan Riko langsung kaget ketika Kuroko, Kise dan Kagami berada di sekitar kalian, mendengar percakapan kalian.
"Ah, Kuroko-kun, Kise-kun. Kalau boleh. Bisa 'kan?" tanya Riko sebelum mereka berdua mengangguk, memperbolehkannya untuk bercerita akan siapa mereka itu setelah tahu kau itu asistennya.
"Kiseki no Sedai atau dalam bahasa inggrisnya disebut dengan Generation of Miracle adalah sebuah julukan yang diberikan kepada 5 pemain dari klub basket SMP Teiko yang memiliki bakat dan kemampuan bermain basket yang sangat hebat yang katanya kehebatannya hanya bisa ditemukan tiap sepuluh tahun sekali."
Sambil mendengarkan, Kuroko dan Kise memasang muka yang bisa kita lihat, ehm... absurd?
Untuk Kagami, dia terlihat kaku dan sok serius akan hal ini kayak nahan pup selama 3 hari. Ya, namanya juga Kagami. Kalo gak kayak gitu ya namanya bukan dia, 'kan?
Oke kalian bisa langsung saja hajar Author tertjintah setelah ini. Lanjut.
Riko sweatdrop dan meneruskan, "Tim bola basket Teikou sendiri sebenernya meski tanpa adanya Kiseki no Sedai mereka bisa memenangkan banyak turnamen basket. Fakta plus rumornya, SMP Teiko juga SMP yang tim basketnya sering memenangkan turnamen bahkan selama 3 tahun berturut - turut." ujarnya menjelaskan padamu.
"Tapi ada sebuah rumor yang beredar mengenai Kiseki no Sedai yaitu ada satu pemain lagi yang bakat dan kehebatannya diakui oleh kelima pemain tersebut, pemain keenam itu dijuluki pemain bayangan. The Sixth Phantom Shadow" Dan disahut oleh Kise.
"Dan kau bisa menebak siapa yang jadi pemain keenam itu." Ujarnya membuat Kuroko jadi bungkam seribu bahasa saat kau menoleh pada pemuda bersurai kuning dan melirik ke arah sang pengguna misdirection passing tersebut.
"Setelah pemain Kiseki no Sedai lulus SMP, mereka memutuskan untuk melanjutkan SMA disekolah yang berbeda - beda." Kau mengangguk mengerti lalu bertanya. "Jadi, Ryouta-kun dan Tetsuya-kun adalah salah satu dari Kiseki No Sedai dulu?.." dan Kise mengangguk pelan.
"Benar. Dan sekarang kami sedang melakukan latihan untuk turnamen basket yang diadakan beberapa bulan lagi. Winter Cup."
Kau tertegun, "Winter..Cup?" Sangat asing saat kau tahu bahwa turnamen di Jepang berbeda sekali dengan yang berada di Amerika.
"Itu adalah turnamen yang sangat besar dan seluruh SMA se-Jepang akan ikut berkompetisi, (Name)cchi!" Kise menambahkan. Dan Kuroko sudah terlihat mulai berkhayal di dunianya sendiri, masih dengan muka pokerfacenya dan tak bisa disadarkan lagi. Dan ujaran Kise membuatmu tercengang.
"S-Souka? Aku tidak pernah tahu itu.. Aku hanya tahu tentang turnamen Streetball dan NBA CUP antar universitas." ujarmu sambil berpikir, telunjukmu memegang pipi kananmu, memiringkan kepala sedikit dan tampak bingung dalam berpikir.
Ya iyalah, wong dirimu tinggal di Amerika saja kerjaannya ngurusin hal yang berbau basket disana.
"Dan pasti kami akan menang!" ujar Riko optimis, disela oleh Kise.
"Hanya karena mentang - mentang kalian menang dari timku bukan berarti pertandingan belum berakhir ya!" selanya. Dan ini mengundang seringai dari kepala berambut spike ini; Kagami.
"Heh, aku sudah tahu itu kok." tambahnya, membuat Kise menyeringai kecil juga. Dan kau bisa melihat juga mereka saling memandangi satu sama lain layaknya sepasang keka- ehm saya ralat, maksud saya sepasang musuh yang siap adu cengkram dan terkam.
Bahkan kau bisa melihat kilat dari mata mereka memercik satu sama lain. Dalam imajinasimu tentunya.
Sesaat kemudian sesuatu bergetar disaku pemuda bersurai kuning tersebut dan meraihnya sebelum menjawab benda yang bisa dilihat adalah sebuah telepon.
"Halo?.. Oh, iya! Maaf, maaf.. Iya. Aku akan kesana secepatnya. Bye."
"Dari siapa?" tanyamu, dan langsung berujar pada kalian.
"Dari menajerku. Aku harus cepat - cepat pergi syuting. Ada jadwal pemotretanku sejam lagi." sebelum kau mengangguk mengerti.
"Baiklah, hati - hati di jalan." ujar Riko dan ia mengangguk sebelum menggoda sedikit Kuroko dan Kagami.
"Jangan malu-malu kalo merindukanku ya, kalian berdua~" ujarnya.
"Siapa juga yang bakal rindu padamu, dasar bodoh!" teriak Kagami dengan geramnya sementar Kise berjalan keluar sambil tertawa lebar dan berlalu dari ruangan gymnasium.
"Tch, dasar.." geram Kagami mangkel sambil mengepalkan tangannya, dan Kuroko mencoba menenangkannya dengan-
BUAGHH
Menyikut kedua belakang lututnya dengan kedua lututnya dengan kekuatan yang lumayan bisa membuat pemuda berambut gradasi tersebut memekik kesakitan selama beberapa detik dan Kuroko dicekik olehnya yang mulai memuncratkan kemarahan padanya, walau ekspresinya emotionless tapi masih ada secuil ekspresi yang bisa dikatakan- mulai kehilangan napas untuk menghirup oksigen, you know?
"Aduh, kalian ini selalu ribut saja.." keluh Riko memijit batang hidungnya, menghela napas sementara kau berpikir sambil bertanya- yang lebih pada dirimu sendiri.
"Apa sekolah kita bisa masuk ke final?.." jujur, kau terkesan akan turnamen yang diberitahukan oleh mereka tadi, tapi didalam hatimu masih ada perasaan berkecambuk, yang lebih tepatnya rasa penasaran sich.
"Pasti bisa, aku yakin kok. Tenang saja. Sedikit 'latihan' yang lebih untuk mereka, akan membawa kita ke perempat final." Riko membalas perkataanmu dengan cengirannya yang khas seperti biasa.
"Aku setuju dengan pelatih." Kuroko, yang entah kenapa sudah bisa bernapas karena Kagami sudah bosan menyekeknya dan lebih menginginkan untuk menyeme- ehem. Maksud saya, menyuarakan tanda setuju, begitu.
.
.
.
.
.
.
Tolong, jangan salah sangka dulu. Ini hanya salah, alias typo, understand?
Baiklah, kembali ke percakapan. Kuroko menyetujui ujaran sang gadis berambut coklat karamel tersebut dan juga Kagami yang setengah setuju (?).
"Walau bagaimana pun, latihan tambahan saja tidak cukup. Pertandingan selanjutnya akan berhadapan dengan tim-tim dari sekolah yang lebih kuat dari kita." ujarnya lagi, disetujui oleh Riko yang melirik sekilas papan schedulenya yang tertulis beberapa informasi penting dari berbagai sumber yang ia biasa cari dengan teliti dan pergi nyelonong meninggalkan mereka bertiga untuk mengumpulkan informasi lagi (?).
"Benar juga. Aku takut kita tertinggal beberapa skor dari tim yang lain." Tapi entah kenapa, Kagami langsung nyerocos saja.
"Heh, mereka bukan apa-apa bagi kami. Aku yakin, kita pasti bisa ke final."
Kayak pengen minta ditabok banget ya.
Entah karena sensi atau apalah, kau menyanggah pendapatnya.
"Tapi 'kan, bisa jadi kita nanti tak bisa ke final karena ada beberapa hal yang tak terduga."
"Asal ngeblak saja, dirimu itu memang tahu apa?"
"Aku tahu segalanya. Menghitung jumlah jari tangan saja bisa!"
"Heh, apa hubungannya dengan basket dan jumlah jari tangan?"
"Tapi lho, walaupun begitu-" "Jangan senang dulu. Ini baru permulaan." Ujarnya sengit memotong perkataanmu sambil berbalik memberikan punggung pada mereka dan berlalu, menuju tempat berlatih bersama yang lainnya.
"..." Dirimu terdiam. Apakah sikapnya memang begitu padamu, ataukah kau berbicara terlalu lancang?
"Tidak apa-apa, (Name)-san." kau menoleh ke arah Kuroko yang berada disampingmu.
"Kagami-kun memang seperti itu. Tak apa-apa." ujarnya dan kau lalu menunduk sedikit, merenung perkataan pemuda berambut biru muda pucat tersebut.
"Walaupun begitu," kau mendongak padanya. "Kagami-kun itu walau orangnya keras dan juga kadang kasar, dan sering ngamuk tidak jelas alias temperamental," dan kau merasa ia sedang mengejek pemuda bertubuh kekar itu secara tak langsung.
"Tapi sebenarnya dia itu baik kok." Kau mengerjapkan mata beberapa kali lalu menoleh ke arah depan dimana Kagami sudah bergabung dengan anggota klub basket lainnya yang dalam match game training. Terlihat juga hasrat yang besar dari seorang pemuda berambut gradasi hitam merah tersebut yang mencintai basket dengan segenap hatinya.
Kau memperhatikan gerak geriknya yang sigap dan cekatan dalam mendapatkan bola dan menggiringnya dalam dribblesnya dan melemparkannya demi untuk mendapatkan score, membuat dia mengumpat kata semangat 'yes!'.
Pandanganmu tetap menatap pergerakannya, menggumam dalam hati. 'Apakah benar begitu?..' dan hanya satu jawaban.
Kau harus membuktikannya.
Udara mulai mendingin sejak beberapa minggu ini gegara musim dingin yang mulai nampak walau masih dalam akhir musim gugur. Kau memakai syal berwarna kesukaanmu dan juga memakai jaket hangatmu. Kau menghembuskan napasmu seperlunya sambil menangkupkan kedua tanganmu untuk memperoleh kehangatan sejenak sebelum menyusupkannya sambil berjalan kaki santai.
"Ah, mumpung masih ada waktu senggang sampai makan malam, beli makanan buat cemilan, ah.." katamu pada dirimu sendiri dan pikiranmu langsung tertuju pada blok khusus pasar dan supermarket. Kau melihat-lihat, banyak juga orang yang masih berada diluar walau cuaca kurang bersahabat. DINGIN.
Sejenak matamu melirik ke arah supermarket yang lumayan bagimu, lalu memasukinya. Kau berjalan santai sambil melihat-lihat untuk sekedar melirik ke arah rak cemilan dan makanan ringan.
Ya. Kau senang sekali dengan makanan ringan, terutama pocky dan biskuit yang manis juga garing. Dan menurutmu, rasanya krenyes-krenyes gitu deh booo~
Oke, kenapa ini ngejelasinnya kayak abang banci di perempatan ya? Baiklah, lanjut.
Setelah mendapat beberapa cemilan khusus untukmu (dan tidak. Riko katanya sedang diet. Entah karena alasan apa) dan membayarnya lalu beranjak keluar dari supermarket tersebut.
Kakimu yang masih memakai sepatu sekolah- dan tak bermasalah akan itu, mulai berjalan menuju arah aula kota dekat blok yang kau hampiri.
Terlihat banyak orang berlalu lalang, dan juga tak luput banyak orang memadu kasih disana.
'Banyak sekali orang pacaran. Ah, ini kan aula kota, jadi ya wajar..' ujarmu menggut-manggut dalam hati. Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundakmu. Kau langsung terperanjat dan berbalik dan menemukan seseorang yang memakai kacamata hitam, dan juga topi berserta baju yang lumayan fashionable.
Kau berheran-heran ria, "Eh? Siapa?" tanyamu kebingungan dan segera rasa itu lepas saat melihat orang itu adalah pemuda berambut kuning dengan warna bola mata berwarna madu manis saat membuka kacamatanya.
"Ternyata kau yang tadi ya.." ujarmu, membuat ia menyunggingkan senyum lebar sambil menyapamu. "Aku juga sudah menduga ternyata itu kamu, (Name)cchi!" ujarnya ramah, walau kau agak tak nyaman akan panggilannya padamu.
Orang ini sangat hyper, seperti anak anjing, pikirmu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya padamu, dan langsung menunjuk bungkusan yang berisi makanan ringan dari supermarket.
"Hunting cemilan. Kau sendiri?" tanyamu balik padanya.
"Aku baru saja selesai kegiatan modelingku- Ah! kau membeli cemilan apa saja?" jawabnya sambil mengintip sedikit pada kantong belanjaanmu dan kau ber-oh ria saja akan hal tersebut sebelum mengorek-ngorek isi beberapa cemilan yang familiar untukmu.
"Hanya beberapa snack, potato chips, cemilan wafer dan juga es krim-"
"Hah? Es krim di cuaca yang beku seperti ini?" cengangnya, menbuatmu yang terbiasa akan makan cairan manis itu mengangkat alis.
"Iya, kenapa memangnya?" kau tak mengerti akan jalan pikirnya. ya iyalah, dia kan laki-laki sedang kan kau perempuan. Wajar dong.
Oke ini semakin ngawur.
Dan kau melihat Kise sedang menahan ketawa karena kau mengakui bahwa kau itu bisa makan es krim di musim yang mulai sama dinginnya dengan frozen threat tersebut.
"A-Apa yang kau tertawakan, hah?" Rona pipimu mulai terlihat karena malu karena ditertawai oleh sang pemuda dan ia hanya berujar.
"Ah, tidak ada apa-apa kok. Hanya saja.. pfft-.." tawanya terkikik dan kau hanya bisa mengerucutkan bibirmu, dan ia langsung berhenti menertawakanmu.
"Maaf, maaf. Sebenarnya, aku tidak ingin tertawa..."
"Tapi kenapa kau menertawakanku? Apakah karena makan es krim di tengah musim dingin, kau pikir itu lucu?!" ujarmu yang sudah ada perempatan merah di dahimu, membuatnya meminta maaf sekali lagi.
"Maaf, tapi bukan begitu. Kurasa, karena itulah.." ia menghela napas dan tersenyum tipis padamu.
"Tak kusangka, kau itu memang unik. Persis seperti dugaanku." ujarannya membuat kau sejenak mendadak diam seribu bahasa. kau bertanya-tanya dalam hati.
Ia mengelus kepalamu pelan dan berlalu, dan kau serasa mendengar bisikan lalunya sambil kembali mengenakan kacamata hitam yang ia lepaskan sejak bertemu denganmu.
"Kuharap kau takkan tenggelam dan hancur diantara karang-karang berduri.." lalu pemuda itu berlalu begitu saja, membuatmu mematung ditengah-tengah keramaian aula kota yang tak pernah sepi dari suara kerumunan orang yang berjalan berlalu-lalang.
Matamu membulat saat mendengar bisikannnya dan langsung berbalik, celingak-celinguk ketika mendapat sinyal dari penglihatanmu bahwa sang pemuda bersurai pirang sudah pergi entah kemana.
"...Apa maksud orang itu?.." gumammu yang berbisik pada dirimu sendiri, yang berdiri terpaku, sedikit kedinginan tapi tak kau rasakan, ditengah aula kota yang ramai tak pernah sepi akan keramaian. Bahkan bulan pun yang bercahaya menerangi kota, tak cukup membantumu menerangi apa arti maksud pemuda bernama Kise Ryouta tersebut.
.
TuBerColosis
Omake dan pojok review~ (Monggo masih baru diambil dari oven (?))
Hai minna~ jangan bosen nunggu ya #plakk Gomenasai! Gue merasa bersalah reader-tachi. Maunya saya cepat-cepat update tapi karena ada banyak hambatan jadinya yah begini. Sialan si setan merah itu #bukanuntukklubsepakbola,nooffense. Mukul kami tiba - tiba, jadinya tanganku istirahat ngetik dulu selama bebarapa hari. Ah, by the way untuk yang banyak bilang kali di chapter sebelumnya dikit banget. Malah ada yang bilang pendek kayak Sei-kun. Nih saya tambahkan jadi lebih pan-
(Dan seketika muncul gunting-gunting terbang mengarah ke Author tapi bisa menghindari serangannya dengan mudah)
Akashi: Cih, ternyata seranganku meleset.
Author: Ada masalah, Sei-kun? ^-^ #yandereauraplus
Akashi: Tidak ada, Shinju. Apakah sudah ada review baru?
Author: *mengangguk* Iya. Dan sepertinya kau dan Kise-kun jadi perhatian. Serta Taiga-kun juga. *lihat kertas yang ada beberapa reviews*
Kise: Apa? Apa? Aku masuk popularity juga? #plakk
Akashi: Berisik sekali kau, Ryouta.
Kise: Maaf, maaf ^^'' Tapi yang penting aku udah muncul di cerita, yayy!~ *nari nari muter kayak ballerina, kesenengan*
Author: Mana yang lainnya?
Akashi: Lagi ambil cemilan di belakang
Author: Kok rame-rame sih? Pasti ada apa-apanya nih ==''
Akashi: Memangnya kenapa kalau itu benar? *smirks*
Kise: ... *diam, keringat dingin*
Author: ...Yo wes e. Karepmu, kerek. (ya udah sih, terserahmu, monyet)
Akashi: Aku dhuduk kerek. Daiki seng kerek #eh (aku bukan monyet. Daiki yang monyet)
Author: phodo ae ambek kon c*k. (sama aja kayak kamu, c*k) Udahlah, aku jadi pusing bicara sama kamu, Sei-kun. Mending baca review, nanti dikeroyok readers lagi.. Kise-kun, baca reviewnya sama yg lainnya
Akashi: Itu derita lu, Shinju. Kami mah gak ikut-ikutan. *cuek bebek*
Author: Nanti gue gak bakalan munculin di cerita lu, kampret.. *mulai ada perempatan merah di sebelah pelipis atas kepala*
Akashi: Masukin ato nanti aku bakal gunting rambut panjangmu *ckris ckris*
Author: Hmph! Gue gak takut ama lu, beraninya sama anak cewek aja lu.
Akashi: Nantang lu jadinya? *udah siap senjata*
Author: Merasa lu? Sini! *smirks*
(dan terjadi tawuran senjata antara sang author dan juga karakter, sementara yg lain udah pada balik)
Aomine: Huh? Ngapain tuh mereka berdua? *sweatdrop*
Kise: Aku gak bakalan mau tahu soal mereka berantem apa. Kita cuma dikasih tugas sama Shinjucchi buat baca review seperti biasa.
Kagami: Oh~ Memangnya apa saja? *penasaran*
Kise: *bagi-bagi kertas reviewnya* kita balasnya satu-satu aja biar enak. Oh ya, review pertama untuk Kagamicchi.
Kagami: Akhirnya dapet juga aku kebagian beginian setelah 3 chapter dirilis, oke ini dari mey-chan.5873682-san. Isinya adalah... *langsung diem sambil muka memerah*
Kuroko: Kagami-kun, kenapa?
Kagami: T-Tidak kenapa-napa kok. Oke ehem *berdeham* Tebakan anda memang benar. Lalu untuk soal yang kemarin itu cuma tuntutan naskah. Itu saja! Sekian.
Kise: Ambigu. -_-''
Aomine: pendeknya.. ==''
Midorima: Balasanmu sama sekali tidak setimpal dengan panjangnya review itu, nanodayo. *naikin kacamatanya*
Kagami: URUSAI! *mangkel, muka udah nahan malu*
Kuroko: Baiklah, kali ini giliranku. Dari yuuki-hanami.5-san, Salam kenal juga dari author-san dan terima kasih untuk pujiannya. Tapi anda mungkin sudah tahu kalau itu adalah Kise-kun-
Kise: THATS ME!- Bugh! #disambitbolasamakuroko
Kuroko: Aku lanjutkan. Dan mungkin anda harus menunggu kalau soal kemunculan Akashi-kun. Tapi pasti akan muncul, kok.
Author: Itu benar. Dan itu sudah pasti. ^-^
Murasakibara: Are?~ Aka-chin dimana?~
Author: Disana~ ^^ *nunjuk ke atas*
(Dan terlihat Akashi yang diiket dangan tali tambang dan digantung diatas pohon. Mulutnya disumpel dengan lakban lagi meront-ronta)
Aomine: A-Apaan tuh..? ==''
Author: Kami sedikit 'berdiskusi' dan karena dia keterlaluan karena gak mau aku gak munculin, ya aku ayunin disitu deh~ #udahkumat
Semuanya (- Akashi n Author): ...
Aomine: Er... Baiklah kali ini giliranku. Dari Ruki-chan SukiSuki suu-san. Wuih, ni anak fans lu bro! #sokterkejut
Kise: terserah, pokoknya bacain dah! *udah kerepotan disini*
Aomine: oke lah, Oh, seneng banget reviewnya dibales sama Kise di chapter lalu. Kalo mau tauk siapa yg nabrak elu, mending baca ulang lagi dari atas *ngeledek*
Kuroko: Kejam sekali, Aomine-kun.
Aomine: Biarin *melet*
Kise: jangan begitu! Gak baik bicara sama cewek apalagi sama fansku!
Midorima: Kalian ini ribut aja kerjaannya, nanodayo. Sekarang giliranku, ini dari Kumada Chiyu-san. Ukh!... *muka horror*
Murasakibara: Ada apa Mido-chin?~
Midorima: uhm.. Thor, aku gak berani jawab *sodorin kertas reviewnya ke Author*
Author: Lah, kenapa- Oh... *liat isinya, muka jadi gelap remang - remang (?)* ... Kalo gitu gue aja yang bales selaku author kan?
Midorima: terserah.
Author: oke deh~ Tapi sayang sekali karena kali ini saya yang bacain. Gapapa ya kan? YA KAN?!~ #stopnak baiklah, yah kalau soal itu ya biar Akashi tanggung dosanya karena pengen bejek kamu, Chiyu-chan. Eh mending jangan rela, kakinya dia lumutan, nanti kau keturutan :p
Aomine: kau ngeledek Akashi, Thor. *sweatdrop*
Author: Emang fakta *cuek, lanjut baca* Ah, nggak kok, ini review yang sangat berguna. Arigatou buat review disini ya (_ _) *ojigi* Oh, pengen liat bagian yang KagamiXReader ya? Jangan kuatir, bisa diatur untuk chapter depan~ *smirks* Kagami-kun~ KAU adalah kelinci percobaan pertamaku~ #muka yandere udah aktif
Kagami: ...*sudah hopeless, pasrah* Aku memang sial ya nasibnya,.. T_T
Aomine: Sabar bro *tepuk di pundak*
Kise: Author emang begitu ^^''
Midorima: peruntungan untuk bintangmu memang tidak beruntung, nanodayo.
Kuroko: Kagami-kun. Fighting. #pakaipompom #clingwink
Kagami: INI BUKAN SAATNYA UNTUK ITU! *mulai menggila*
Murasakibara: Sementara mereka sedang menenangkan Bakagami yang lagi ngamuk, aku akan membacakan yang review punya Kise yang belum dibacakan. Dari 46Neko-Kucing Ganteng-san. Wah, ternyata kamu punya pikiran yang sama seperti Author ya. Sugee~ #prokprokprok tapi maaf karena yang berlatar rambut pink kembang kembang itu masih belum muncul.
Sekian dari sesi review ini, terima kasih sudah me-review fanfiction "About Them" yang super duper gak jelas ini. See you next time, minna~ *dadah dadah gaje*
.
(Su)Fin. #plakk #salahfandomlagi
~Preview~
...
"Apakah ini punyamu?"
.
"Awas!" "Kyaa!"
.
"Kau itu seperti buku yang terbuka. Bisa ditebak."
.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?!"
.
"Mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi, Shin-kun."
.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Banyak hal yang tidak bisa kita tebak didunia ini."
.
"AHH! AKU LUPA SEPATU OLAHRAGAKU!"
regards,
D.N.A. Girlz
P.S: Kalo mau mengeluarkan bahan kokoromu yang tertahan itu, tampungkan ke review aja ya~ XD
