Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei
Story plot ya milik saya #digebuk
LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORT ESPECIALLY BASKETBALL.
LONG LIVE SPORTS!
Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dan cepat berhenti setelah didepan sebuah pintu berwarna biru muda, kemudian pemilik langkah kaki tersebut mengetuk pintu, rada tak sabaran untuk menunggu seseorang yang ada didalam kamar tersebut. "(Name)-chan! Cepat, nanti kita terlambat!"
Seorang gadis yang masih berdandan dengan memakai bedak dengan cepat-cepat langsung menutup tempat bedak dengan agak kasar dan membetulkan tata rambut juga wajahnya lewat bayangan kaca yang memperlihatkan dirinya saat ini. "Tunggu sebentar, Riko-Oneechan! Aku menyusul!"
"Beneran lho ya! Aku ada di ruang tamu. Jangan sampai kelamaan. nanti Ayah bakal datang dobrak." canda sang pengetuk pintu yang dipanggil oleh seorang lagi bernama Riko.
"Iya, iya. Tenang saja~" jawab satunya enteng sebelum membuat sang pengetuk pintu langsung pergi ke lantai bawah untuk menunggu lebih lama lagi.
Baiklah, let see...
Dandan simple dan rapi. Cek. Pakai parfum secukupnya. Cek. Tata rambut rapi. Cek. Baju santai buat jalan-jalan. Cek- Uhm, tunggu dulu. Sepertinya ada yang kurang.
"Ah! Hampir lupa!" gadis itu terperanjat lalu langsung menuju meja belajarnya dan membuka laci bawah dan mengambil sesuatu. Sebuah kotak celengan. Ia buka langsung dan tergesa-gesa karena sudah ditunggu juga di sisi lain.
'Untung masih sempat, hehe...' gumamnya sambil tersenyum bahagia saat menggenggam gulungan dari belasan lembar kertas yang berwarna hijau.
Ya, kau pasti sudah tahu kira-kira apa itu bukan. Ya karena itu adalah dirimu yang sudah menggenggam segulungan uang tabunganmu. Ya, semenjak kau menabung selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan untuk membeli sesuatu yang kau incar selama ini. Ya, dasar memang kau itu anak rajin ya.
Dan Author sudah dibantai ke empang kali oleh reader-tachi. Lanjut.
"Saatnya hunting dimulai, khikhikhi..." inner memburumu mulai menyala lewat kilatan matamu yang membara yang membuat sang Author menghina dirinya sendiri ketika me-review ulang sambil bilang 'jiah ini bahasa apaan coba gua buat yang beginian!'
Baiklah, boleh skip kok karena curhatan Author yang berkoar-koar tak bermutu.
Berdiri tegak kembali, kau berjalan keluar kamarmu sambil menenteng tas pundakmu yang panjang talinya; pas untuk jalan-jalan santai, dan menutup rapat kembali sebelum melenggang menuruni tangga dan menuju ruang tamu dimana seorang gadis yang sekaligus juga sepupumu, duduk manis di sofa berwarna coklat hingga langkah kakimu membuat ia menoleh kearah dirimu berjalan.
"Aku sudah siap. Ayo berangkat, Riko-Oneechan." Ujarmu dan ia mengangguk.
"Baiklah. Ayo."
"Wah... Ramainya..." gumammu sambil melihat-lihat sedikit. Kepalamu hanya bisa celingak-celinguk saat melihat-lihat lumayan banyak orang yang biasanya berbelanja di blok distrik dekat perempatan rumah kalian.
Ya biasalah, distrik blok yang ramai karena disana terdapat pusat perbelanjaan dan juga banyak orang berjualan barang dagangannya di tempat tersebut dan viola~ setiap akhir pekan banyak orang datang kesini untuk sekedar cuci mata ataupun berbelanja kebutuhan.
"Daging, lobak, bawang bombay, paprika, blablabla..." Riko membaca sedikit list yang kalian bawa. Ya, memang tujuan kalian sebenarnya untuk berbelanja kebutuhan rumah. Karena sudah out of stock di rumah kalian, maka Paman Kagetora menyuruh kalian untuk berbelanja sekaligus refreshing. JALAN – JALAN. Dan dalam imajinasimu malah terlihat kau bisa berlompatan hingga berjumpalitan tak jelas hingga salto di angkasa dengan paus raksasa dan tercebur dalam rasi bintang yang paling manis didunia Lalaland milikmu sendiri, seperti iklan yang kau lihat di suatu situs yang dimana menawarkan produk kopi.
Tapi sekarang kau hanya bisa cemberut sambil mendorong troller sambil membuntuti sang sepupu yang sibuk mengabsen kebutuhan yang sudah terpenuhi ataupun yang belum. Bukan begitu, kalian memang berbelanja di pusat perbelanjaan. tapi kalian sekarang ini malah belanja di pasar yang berada di sesi makanan dan sayur mayur! Dan sayangnya, barang yang kau ingin beli, tidak terdapat disini. Sayang sekali.
'Mana bisa aku belanja 'itu' disini!' teriakmu meledak-ledak dalam hati. Kau pun hanya bisa menghela napas, sia-sia saja kau membawa uang tabunganmu dan ikut bersama dengan Riko kalau seperti ini.
"Kita kehabisan garam juga, jadi aku ambil saja.." gumam Riko sambil mengambil sebotol.
"U-Uhm, Riko-Oneechan?"
Ia menoleh padamu setelah mengambil barang tersebut. "Iya, ada apa?"
Kau memainkan jari-jarimu, agak ragu. "Uhm.. Boleh tidak, nanti kita ke suatu tempat?" Riko mengedipkan matanya beberapa kali dan memiringkan kepalanya.
Suara bel berbunyi, terdengar langkah kaki berjalan ke dalam suatu ruangan, yang berisi stand yang berjejer dan dinding yang dihiasi oleh pernak-pernik yang berwarna-warni bak pelangi. Ya, setidaknya konsep itulah yang diterapkan di sebuah toko aksesoris yang terletak di perempatan distrik dekat pusat perbelanjaan.
"Wahh..." kagummu setelah menjejakkan kakimu ke dalam sebuah toko aksesoris yang lumayan besar dan juga menarik perhatianmu saat melintasi jalan untuk mencari benda yang kau cari.
"Disini lumayan sepi. Ayo hunting aksesoris, (Name)-chan!" usul Riko menoleh padamu, dan kau hanya mengangguk saja. Lumayan, bisa cari-cari beberapa aksesoris untuk mempercantik ruanganmu ataupun benda yang ingin kau pakai untuk lain waktu.
Kalian pun berpencar untuk memulai perburuan benda-benda yang digemari oleh setiap kalangan remaja khususnya untuk perempuan yang bisa memekik gemas jika melihatnya dan langsung membelinya.
Kepalamu menoleh ke kanan-kiri, sedang mencari-cari target yang cocok untuk dibawa pulang–terkesan seperti anggota FBI yang sedang memantau keadaan dan mencari dimana bos kejahatan berada. Baiklah, maafkan Author yang salah diksi ini. Para pembaca bisa melanjutkan kembali membaca fic nista ini.
"Ah!" Bola matamu mengarah kepada suatu rak yang menampilkan jenis-jenis benda yang biasanya digantungkan pada backpack ataupun tas sekolah. Ya, sudah pasti para pembaca tahu akan benda yang bervariasi bentuk dan coraknya, menggoda benak untuk membelinya.
'Wah.. semuanya imut-imut...' pikirmu sambil melihat-lihat beberapa gantungan yang terkesan lucu dan menarik mata untuk bisa cuci mata, sekalian lah. Bosan di rumah terus, cuma lihat Paman Kagetora yang baca koran dan lihat iklan opera sabun ala ibu-ibu di kompleks (setelah kau diam-diam mengetahui kebiasaan sang pria yang hampir berkepala lima tersebut sering menangis dan menghabiskan stok tissue dengan hanya menonton televisi).
Tanganmu mengambil dan mengamati salah satu dari gantungan yang ada. Ukurannya lumayan pas untuk gantungan ponsel maupun di tas. Desain bentuknya berbentuk kelinci, warna putih dengan muka yang dibuat manis dan menggemaskan, dan ada pita kecil berwarna jingga tua di sisi kanan leher si miniatur hewan kecil tersebut, menambah kesan imut dan juga tomboyish minat pembeli yang ingin membelinya.
Walaupun kau tidak suka akan benda-benda yang kesannya begituan, tapi yang satu ini pantas untuk dipertimbangkan karena ada unsur girly dan tomboy secara bersamaan.
'Mungkin membeli satu tak apa, ya..' gumammu dalam hati dan memutuskan untuk mengambil gantungan kunci imut tersebut dan berjalan lagi.
Tapi saat berjalan untuk mencari sang sepupu yang terpencar, kau tak sengaja tertabrak seseorang yang sedang jalan dan kalian saling bertubrukan. Dan kepalamu terjedot sesuatu yang tumpul, yang sepertinya itu sikutnya orang yang menabrakmu.
"Ah! Aduduh..." keluhmu sambil memegang kepalamu tapi tetap menunduk sedangkan orang tersebut segera meminta maaf padamu.
"Ah, maaf. Aku tidak lihat jalan. Kau baik-baik saja?" tanyanya padamu dirimu yang masih tetap mengelus kepala yang terjedot dan mendongak pada orang tersebut.
Ternyata itu adalah seorang pemuda berbadan tinggi, berambut hijau dan kelihatannya tertata rapi dengan poninya yang tersibak ke kiri tapi tak menghalangi matanya yang berwarna hijau muda yang terlihat teduh layaknya daun yang segar, alami. Membuatmu memandangnya tak sadar kalau sang objek yang dipandangi memasang tampang heran.
"Ano,.. Kau baik-baik saja?" pertanyaannya membuatmu yang sedang terpaku melihatnya segera sadar dan buyar dari pikiranmu itu dan membalas dengan sedikit terperanjat.
"A-Ah, iya.. Aku tak apa-apa, maafkan aku." Kau membungkuk sedikit, sambil meminta maaf padanya. Yah, salahmu juga sich karena tidak memperhatikan jalan di depanmu saat melihat-lihat dan hasilnya kau menabrak orang seperti tadi.
"...Baiklah. Permisi." Ujarnya untuk kembali berjalan dan kau hanya mengangguk kecil, melihat pemuda tinggi itu melenggang pergi–membuatmu hanya bisa memandangnya walau ia berjalan menjauh.
Namun saat berbalik untuk berjalan, kau melihat sesuatu tergeletak dilantai. Berlutut, kaupun mengambilnya dan memperhatikan benda tersebut. Tampak seperti gelang perak berantai kecil dan ada gantungan kecil yang sepertinya berbentuk katak hijau (yang kau lihat sich, begitu.)
Kok kesannya terlihat lucu ya?
'Punya siapa ini i–' pikirmu sebelum terbesit di pikirnmu kalau ini mungkin milik pemuda yang menabrakmu.
'Aku harus mengembalikannya.' Ujarmu mantap dalam hati dan menuju arah dimana orang tersebut berjalan.
Kau berlari kecil agak cepat untuk menyusul pemuda misterius tersebut, terus menyusuri rak-rak yang berdiri teratur menyender rapat menutupi sebagian besar dinding yang menopang toko aksesoris tersebut.
Saat menemukannya, kau mencoba menghentikannya.
"T-Tunggu!" sahutmu, membuat sang pemuda yang berjalan tersebut berhenti dan berbalik melirik padamu yang berhenti dan mencoba menghirup oksigen sedikit setelah berlari kecil.
"Apakah ini punyamu?" tanyamu sambil menunjukkan barang yang kau temukan pada sang pemuda yang kemudian membelalak sedikit, dan mengangguk.
"Benar." Ujarnya.
"Aku menemukannya. Tadi terjatuh, makanya kukembalikan padamu."
"Begitu, ya.. terima kasih sudah mengembalikannya, nanodayo." Ujarnya seraya mengambil kembali gelang tersebut.
'Itu aksen atau bukan ya? Kok rasanya aneh?..' pikirmu sambil mengangguk sedikit.
"Sama-sama.. Lain kali hati-hati." Sahutmu dan ia mengangguk kecil.
"Kalau begitu, aku permisi." Balasnya sambil membungkuk sebelum pergi dari situ juga.
"Orang itu.." gumammu kecil dan tak menyadari kalau seseorang menepuk bahumu dari belakang, membuatmu terperanjat dan berbalik.
"Hoi, kau kenapa, (Name)-chan?" tanya orang itu, yang ternyata adalah sepupumu yang tadi terpencar; Riko.
"Ihh~.. Riko-Oneechan. Jangan buat aku kaget, kenapa!" rutukmu sambil memanyunkan bibirmu pada sang pelaku yang membuatmu kaget dan yang dijawab.
"Ahh, maaf dech. Aku tak sengaja, (Name)-chan. Eh, ngomong-ngomong kau sudah dapat tidak barang yang mau dibeli?"
Kaupun menggeleng. "Belum. Tapi mungkin di tempat lain aku bisa menemukan barangnya. Sebagai gantinya aku membeli ini." Ujarmu menunjukkan gantungan tas/ponsel yang ada kelincinya pada gadis berambut caramel tersebut.
"Kyaa~ Lucu sekali, (Name)-chan! Seleramu bagus!" ujarnya mengacungkan 2 jempol padamu yang hanya kau balas dengan senyum kecil.
"Ngomong-ngomong, sepertinya kau membeli banyak juga ya?" ujarmu sambil kalem walau ber-sweatdrop ria melihat ia sudah membeli beberapa barang dan kedua tangannya sudah penuh mengangkat dua tas yang isinya barang belanjaannya yang dia beli di toko itu semua.
"Oh! Habisnya semuanya lucu sich~ Jadinya aku beli dech!" ujrnya menyengir kuda seperti orang yang ada di fandom sebelah (yang biasanya bunuh raksasa). Plis, author gak nge-bash kok. Peace ._.v
'Bilang saja mau borong nich, ceritanya!' teriakmu dalam hati sambil tertawa garing; masih dalam keadaan ber-sweatdrop ria.
Ring! Ring!
"Oh, ponselku bunyi. (Name)-chan, cepat kau bayar. Aku tunggu kau di luar karena sudah bayar." Ujarnya dan beralih menuju pintu keluar toko dan kau hanya mengangguk kecil sambil menuju tempat pembayaran di toko tersebut.
Kau melirik kantong belanjaanmu–kalau bisa, kau ingin bertemu dengan pemuda misterius itu lagi. Dan kau berjalan keluar dari toko untuk menghampiri Riko yang menunggu di luar untukmu.
"PANAASSS!" keluh sang pemuda berambut gradasi merah dan hitam, menggema ke seluruh area gym–mewakili semua orang yang berada disana juga. Benar saja, cuaca hari ini sangat panas dan lengket bagi mereka; karena keringatan sambil latihan untuk persiapan Winter Cup mendatang.
Tunggu, bukannya ini masih musim gugur ya?
"Iya... Tapi ini 'kan akhir musim gugur, harusnya cuacanya sekarang berangin atau hujan," sahut Kiyoshi–sang pemuda bertubuh tinggi dari sang kapten yang memungut bola untuk dikembalikan ke tempat yang seharusnya bersama beberapa rekannya.
"Iya, tumben sekali panas untuk hari ini, senpai." Ujar Furihata yang ikut membantu kakak kelasnya yang membereskan tempat latihan bersama teman-temannya. Contoh adik kelas yang baik.
"Jangan heran, Furihata. Sekarang ini sedang maraknya global warming. Jadi, tak heran cuaca akhir-akhir ini tak menentu." Tukas Hyuuga yang mendengar ujaran sang adik kelas yang ikut membantu.
"Pfft- ternyata kau tahu juga berita akhir-akhir ini. Dapat ilham ya, Hyuuga?" ejek ringan Izuki pada sang kapten membuatnya agak tersinggung.
"Tch. Diam saja kau, Izuki." Ujar Hyuuga mendecik kesal dan membuat yang mengejek tertawa sebelum Riko melayangkan kedua tangannya yang dikepal untuk memukul kepala belakang dua pemuda tersebut.
"Cepat bantu beres-beres atau kita tidak akan pulang." Ujar Riko dengan nada ceria namun bersamaan dengan aura hitam, membuat Hyuuga dan Izuki menurut layaknya anjing yang dimarahi tuannya dan segera kabur untuk membantu yang lainnya.
Riko menghela napas sambil menggeleng-geleng dan kau menghampirinya.
"Mereka akrab sekali ya?" tanyamu dan ia hanya tersenyum kecil sambil menghela napas.
"Kami anak kelas dua akrab satu sama lain jadi wajar, (Name)-chan. Termasuk dengan mereka berdua." Riko menatap teman-teman seperjuangannya dengan senyum.
"Aku juga percaya, kalau mereka selalu melakukan kerja dengan baik." Ujarnya, dan kau hanya tersenyum kecil padanya dan melirik pada teman-teman sepupumu yang menyibukkan diri merapikan bola-bola untuk dimasukkan dan di kembalikan ke tempat semula.
"..Baiklah, Riko-Oneechan. Aku akan kembali bantu yang lainnya ya." Balasnya dan ia mengangguk kecil sebelum kau meninggalkannya yang sedang melihat-lihat data di papan analisisnya.
Kau berjalan ke tempat ruang klub. Disana anak-anak basket kelas satu seangkatanmu sedang membereskan ruangan tersebut, melihat ke sekeliling. Sebenarnya itu gudang sich, tapi karena kadang dijadikan kamar ganti, maka kalian dijadikan ruang klub dan ruang ganti untuk keperluan latihan.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanyamu, memecahkan keheningan selain hanya beberapa suara langkah kaki dan benda yang digeserkan untuk membuat ruanga klub kelihatan rapi. Dan mereka semua menoleh padamu.
"Ah, (Name)-san! Kau mau membantu juga ya?" Furihata bertanya padamu, dan kau mengangguk mengiyakannya.
"Iya, Kouki-kun. Apakah kalian tidak keberatan kalau aku membantu kalian membereskan ruangan?"
"Lebih baik tidak usah, (Name)-san. Nanti malah merepotkanmu." Ujar Kuroko yang nyeletuk sambil membawa beberapa kardus kecil, disambut olehmu.
"Tapi aku merasa tidak kerepotan kok. Malahan aku bosan jika tidak mengerjakan apapun. Dan tidak usah bersikap formal padaku. Panggil aku (Name) saja. Aku tak keberatan kok." Balasmu sambil menghela napas dan langsung mengambil beberapa kardus yang diangkat oleh Tsuchida yang kebetulan lewat dan langsung bertanya.
"W-Whoa!"
"Permisi, Tsuchida-kun." Sahutmu lalu mengalihkan pandangannya pada sang pemuda berambut coklat susu yang berdiri tak jauh dari sana.
"Yang ini mau ditaruh dimana?" tanyamu dan Furihata menunjuk pinggir ruangan yang sudah ada beberapa kardus yang berada disana dan kau berjalan menuju pojokan ruangan dan meletakannya dengan rapi.
Dan kau selama itu juga kau ikut mereka membantu memebersihkan ruangan yang awalnya penuh debu dan banyak barang yang berserakan–termasuk baju yang salah satu temanmu temukan dan langsung membuangnya di tempat sampah. Ya iyalah, kan bajunya sudah usang dan baunya menyeruak sampai-sampai Kagami saja mau pingsan dan mual saat mencium bau tersebut.
Kau mulai mengelap beberapa barang yang akan dirapikan dari debu. Bersama Kagami.
Ya, bersama Kagami. Karena kalian kebagian tugas tersebut. Asal kau tahu saja, gegara kejadian beberapa waktu lalu itu, kalian berdua–baik diantara kau dan Kagami–sepertinya agak canggung dan buktinya sekarang kalian hanya bisa mengheningkan cipta- maksudnya adalah berdiam diri dalam keheningan sambil membersihkan barang-barang sambil duduk di lantai. (karena tak ada bangku panjang).
"..."
"..."
Tanganmu aktif bergerak membersihkan debu yang menempel pada kaca jam dinding sementara pemuda bermata merah darah tersebut juga sedang sibuknya membersihkan barang lainnya.
Kau yang tak tahan akan keheningan diantara kalian, mencoba untuk berbicara tapi kau tak menyangka kalau ia yang berbicara duluan.
"Oi." Sahutnya, membuatmu melirik padanya singkat lalu melanjutkan bersih-bersihmu.
"Apa?" balasmu singkat, membuat Kagami agak menelan ludahnya sendiri sebelum berkata, "(Name)-san...Yang kemarin itu... aku minta maaf ya."
Kau langsung mendongak dan menoleh padanya, terdiam dan kaget. Dia meminta maaf padamu?
Kau mengerjapkan mata. "Kenapa kau minta maaf? kau 'kan tidak salah apa-apa." Raut wajahmu memandang heran padanya, bertanya seperti itu.
"U-Uhm... aku minta maaf padamu karena sepertinya aku sedikit menyentakmu, apalagi di depan Kuroko juga. Karena kalau soal pertandingan, biasanya emosiku lagi kambuh dan jadinya malah melampiaskannya padamu dan mungkin kau jadi marah padaku. Aku minta maaf ya.." tuturnya, menoleh padamu dengan tampang menyesal dan melas, membuatmu tersenyum kecil padanya.
"Kau ini bicara apa? Aku sudah memaafkanmu kok. Jangan khawatir, aku ini bukan orang yang dendaman jadi aku mengerti keadaanmu. Lagipula Tetsuya-kun sudah menjelaskan semuanya padaku jadi kau tak usah khawatir. Dan cukup panggil aku (Name). Tidak pakai embel-embel '-san'." Ucapmu, yang membuat Kagami menyinggungkan senyum lima jarinya padamu.
"Thanks, (Name)-sa– ma-maksudku... (Name).." ujarnya sedikit terbata dengan semburat merah yang menghiasi sedikit dipipinya, membuatmu tertawa kecil.
"A-Apa yang kau tertawakan, ha?" protesnya padamu.
"Habisnya sich, hehehe..." kau tertawa kecil dan ia pun juga ikut terkekeh bersamamu.
Sepertinya, jarak diantara Kagami dan kau mulai menipis dan kalian bisa akrab kembali.
'Aku harap kita bisa berteman akrab, Taiga-kun..' pikirmu dalam hati sambil mengobrol dengannya walau kalian masih ada tugas untuk membersihkan barang-barang, sampai kalian berdua tak menyangka hari sudah semakin sore.
"Baiklah, hati-hati di jalan, semuanya." sahut sang kapten sebelum kalian semua berjalan menuju arah untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Riko-Oneechan, Junpei-senpai, Teppei-senpai, kita ini mau kemana?" tanyamu pada Riko yang berjalan disampingmu dan Hyuuga yang berjalan disebelah Riko, sibuk memainkan ponsel hitamnya dan Kiyoshi yang lagi mengemut permen karet di mulutnya–sedang berusaha membuat sebuah balon.
Biasa, MKKB.
"Kita ke tempat makan dulu, (Name)-chan. Mengisi tenaga saja baru balik ke rumah." Balas sepupumu dan kau mengangguk kecil, mengerti.
"Bilang saja kau malas untuk masak makan malam, Riko–AAAAHHHH! SAKIIIITT!" Hyuuga yang nyeletuk langsung dicubit olehnya dipinggang.
"Bilang apa kau tadi, Hyuuga?~" ujarnya ceria walau ada aura hitam meyeruak dari sekitar tubuhnya sementara Hyuuga masih kesakitan minta dilepaskan. Kau dan Kiyoshi hanya bisa melihat dalam diam sambil ber-sweatdrop kembali.
Setelah aksi cubit-cubitan tersebut berlalu, kalian berempat kembali berjalan kemudian tiba di sebuah restoran fast food yang kelihatannya menarik pandanganmu untuk melihat-lihat saat kalian berjalan masuk ke dalamnya.
"Hm? Maji Burger..?" gumammu kecil saat mengetahui nama restoran tersebut. Tempat yang lumayan luas dan ramai, juga letaknya berada di pojok pinggiran perempatan jalanan, membuat siapapun tahu dengan mudahnya tempat dimana berdirinya restoran tersebut.
"Wah.. ramai juga ya.." gumammu.
"Disini tempat favorit untuk jalan-jalan bersama teman-teman dan keluarga, makanya cukup banyak orang datang kesini." Jelas Riko padamu.
Saat kalian mencari tempat duduk, kau melihat dua sosok yang lumayan familiar untuk matamu. Satu warna merah dan satunya warna biru muda.
"Nah, aku pesan 1 burger, 1 soda dan 1 kentang goreng ukuran besar." Ujar Hyuuga, lalu beralih pada kalian.
"Kalian mau pesan apa?" tanyanya.
"1 burger dan 2 kentang goreng ukuran sedang saja." Kiyoshi berujar.
"Aku mau 1 burger dan 1 soda. Kalau kau (Name)-chan maunya ap– Lho, kok tidak ada?" ujar Riko sekaligus bingung ketika dirimu menghilang dari tempat itu.
"Ah, dia disana, bukan?" Kiyoshi menunjuk ke arah kirinya sementara Hyuuga dan Riko mengikuti arah yang ditunjuknya, melihat kau berjalan ke arah meja yang sudah ada dua sosok berada disana.
"Lho, itu bukannya.." gumam Riko sambil melihatmu berjalan kesana.
Disisi lain, dirimu berjalan dengan percaya dirinya dan menyapa kedua sosok tersebut yang ternyata adalah...
"Halo, Taiga-kun, Tetsuya-kun!" sapamu ramah pada mereka yang ternyata adalah Kagami yang sedang asyik memakan burgernya dan Kuroko yang dengan tenangnya menyeruput vanilla milkshakenya dan kemudian menolehkan kepalanya padamu sebelum menyapamu.
"Oh, (Name)-san. Doumo." Ujarnya sebelum menyeruput kembali minumannya tersebut.
"Ah, (Name)! Rupanya kau disini juga. Sendirian?" ujarnya sambil mengunyah makanannya yang masih dalam mulutnya.
"Tidak, aku bersama Riko-Oneechan dan dua temannya. Kebetulan sekali kalian disini juga." balasmu dan tersenyum kecil. "Aku mengganggu acara makan kalian ya? Maaf ya!" kau meminta maaf.
"Sama sekali tidak, (Name)-san." Sahut Kuroko.
"Oi, (Name)!" panggil Hyuuga padamu dari sana walau tidak terlalu terdengar. Kau menoleh dan mengangguk padanya sebelum berkata pada mereka.
"Aku dipanggil. Duluan ya, lanjutkan saja makan kalian. Dah." Kau tersenyum kecil sebelum melambai sebentar dan pergi untuk kembali ke kakak-kakak kelasmu dan sepupumu.
"Kau mau pesan apa, (Name)-chan?" tanya Riko padamu.
"Terserah. Aku ikut denganmu saja." Ujarmu asal, yang memang sudah lapar. Lagipula, kau baru pertama kali makan disini.
"Baiklah. Aku dan (Name)-chan 2 burger, 2 cola, dan 2 kentang goreng ukuran sedang." Ujar Riko pada Hyuuga dan ia menyebutkan semua pesanan mereka sebelum kalian mendapatkannya semua dan membayarnya lalu mencari tempat untuk makan.
Namun nihil. Semuanya penuh.
"Aduh.. Semua tempat sepertinya sudah penuh." Celetuk Kiyoshi yang sudah berkeliling mencari tempat bersama kalian.
"Wah, bagaimana ini?.." Riko menghela napas.
"Sumimasen."
"AHH!" kalian berempat agak kaget ketika ada suara yang muncul dan kalian dengar.
"K-Kuroko-kun?" Riko kaget saat suara itu ternyata adalah Kuroko yang berdiri di samping Kiyoshi.
"Tch. Dasar kau itu.. Sejak kapan kau berdiri di samping Teppei?" tanya Hyuuga sambil mendecik pada adik kelasnya itu.
"Doumo. Baru saja." Balasnya dan langsung kau tanya.
"Memangnya ada apa, Tetsuya-kun?"
"Kalian sepertinya tidak menemukan meja ya?" tanyanya balik dan kalian berempat mengangguk sekali.
"Kalau begitu kalian bisa duduk dengan kami." Ujarnya, membuatmu negerjapkan mata beberapa kali.
"'Kami?'"
"Maaf ya, jadi merepotkan kalian berdua." Riko meminta maaf pada dua pemuda yang duduk berseberangan dengannya sekarang ini.
"Tidak apa-apa kok, pelatih." Ujar sang pemuda berambut biru muda alias Kuroko.
Saat ini kalian sedang berenam duduk bersama-sama. Hyuuga, Kiyoshi, dan Riko duduk ditengah mereka berdua di satu sisi. Sedangkan Kagami, Kuroko, dan kau duduk ditengah mereka berdua di sisi lain meja tersebut.
"Jaa, itadakimasu!" sahut Kiyoshi yang mulai memakan burgernya sendiri disusul yang lainnya, kau mulai menggigit buger tersebut dan memakannya dengan mengunyahnya dan kau menelannya ke dalam tubuhmu melalui kerongkongan sebelum benda itu meluncur menuju lambungmu untuk dicerna.
'Lumayan enak.. Pantas saja banyak kesini.' Pikirmu sambil menggigit kembali makanan pesananmu dan menyeruput cola dengan sedotan untuk melepas dahaga.
"Pelatih, apa besok masih latihan?" tanya Kagami yang sudah selesai akan makannya dan beralih ke minuman sodanya.
"Iya. Masih, Kagami-kun." Balas sang gadis berambut coklat karamel itu sambil memakan kentang gorengnya yang dicolek dengan saus tomat.
"Tak terasa ya... Kurang beberapa minggu lagi akan tanding." ujar Kiyoshi santai, dan kalian semua mengangguk lemas.
"Apa kita bisa ya?.." gumam Riko malas, membuatmu mencoba untuk mengembalikan semangat mereka.
"P-Pokoknya kita harus berusaha sebaik mungkin. Kita tidak bisa terus terpuruk seperti ini hanya karena kalah di Inter High lalu. Ini kesempatan yang besar." ucapmu dengan semangat.
"(Name)-san benar. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dan dengan kerja sama tim yang baik." sahut Kuroko menyetujui ucapanmu, membuatmu menoleh pada Kuroko.
"Aku juga setuju dengan Kuroko dan (Name). Dengan begitu, kita pasti bisa maju ke babak penyelisihan hingga final." Kagami menyerukan pendapatnya dengan setuju dengan kalian berdua, membuatmu juga menoleh pada pemuda berambut gradasi merah dan hitam itu.
"Tetsuya-kun.. Taiga-kun.."
Mereka terdiam melihat semangat adik kelas mereka. Ada benarnya juga, tidak boleh terus terpuruk akan kekalahan yang dialami. Pokoknya mereka harus bangkit dan maju jika ingin jadi pemenang dan meraih mimpi mereka semua.
Menjadi tim terbaik di seluruh Jepang.
"..Baiklah. Tapi bersiaplah kalian semua. Aku akan mulai mengatur jadwal ulang latihan." Riko tersenyum puas bersama dengan Hyuuga dan Kiyoshi, membuat kalian bertiga bernapas lega dan kau tersenyum lebar dan berterima kasih pada sepupumu untuk hal ini nanti.
"Nah, sekarang kita lanjutkan makannya sekarang. Bagaimana?" tanya pemuda berkacamata itu dan disetujui oleh mereka sebelum kembali makan seperti biasanya dengan ceria dan ramai.
"Kagami-kun, jangan lari."
"TIIDAAAKKKK! JANGAN KASIH KU DIA!"
"Tapi dia lucu lho."
"AAHHH! KUROKO, AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Teriakan malang seorang Kagami Taiga yang ternyata dikejar oleh seorang Kuroko Tetsuya yang sedang menggendong seekor anak anjing yang memakai baju basket bernomor 16 khusus untuk anjing.
Dan kau dengan yang lainnya hanya bisa diam sambil menyaksikan kejar-kejaran yang terjadi. Mumpung ada tontonan gratisan.
"..Apa mereka selalu seperti itu?" tanyamu pada Koganei yang berada di sampingmu bersama Mitobe.
"Yah, kadang-kadang sich. Kagami-kun memang pada dasarnya takut sama anjing karena trauma. Katanya sich begitu." Jawab Koganei padamu sementara Mitobe mengangguk seraya membenarkan perkataan kakak kelasmu itu dalam diam.
Dan kau baru tahu satu fakta tentang seorang Kagami Taiga; Dia takut pada hewan yang bernama anjing.
"Ah, sudah! Sudah! Kalian ini main-main saja. Ayo latihan lagi, Kagami-kun, semuanya. Kuroko-kun juga, kembalikan Nigou. Biar (Name) saja yang pegang dia." Riko menepuk tangan beberapa kali untuk memberitahukan semuanya agar kembali latihan.
"Baik!"
"(Name)-san, aku minta tolong untuk menjaga Nigou, ya." Kuroko menyerahkan anak anjing yang bermata mirip sama sepertinya kepadamu dan kau mengangguk, menggendong Nigou di dekapanmu dan membiarkan sang pemilik melanjutkan latihan yang mulai berlangsung.
"Bagaimana kalau kita duduk sambil aku memberimu makan, Nigou?" tanyamu dan ia menjawab dengan gonggongannya dengan ceria dan mulai berjalan ke salah satu bangku panjang dan duduk di situ, menurunkan Nigou sebelum merogoh tas milik Kuroko (kau sudah ijin sama dia) dan meraih sebuah kotak yang berisikan bahan makanan untuk anjing. Kau membuka bungkusnya dan mulai menuangkan piring tempat makanan khusus anjing untuknya dan menuangkan isi nya secukupnya sebelum diserbu dan dibantai oleh Nigou dengan lahap.
Kau mengembalikannya ke dalam tas Kuroko setelah dibungkus dan mengawasi Nigou yang tengah melahap makanan dengan cepat saking laparnya sekaligus melihat yang mereka sedang tengah latihan.
'Mereka semua hebat ya.. Melakukan ini semua, hanya untuk meraih mimpi mereka..' kau melamun akan mereka sambil membayangkan bagaimana jika mereka akan berusaha di lapangan yang sesungguhnya. Kau tak pernah melihat turnamen besar sebelumnya karena biasanya kau sering melihat basketball street. Itupun kalau sempat dan ada eventnya. Apalagi, di Amerika, tiket untuk menonton pertandingan disana lumayan mahal.
'Pasti stadionnya besar...' pikirmu lagi, tak menyadari kalau sesuatu telah hilang dari hadapanmu.
"(Name)-chan! Mana Nigou?"
"Eh?"
Kau menoleh ke kanan-kiri, tak menmeukan bola berbulu tersebut dan menyahut pada Riko yang tadi bertanya padamu.
"Tadi dia ada bersamaku tapi sekarang tidak ada!"
"Nigou tidak ada?" Kuroko langsung menyahut; kalau soal anjingnya, dia pasti langsung konek otaknya selain permainan basket sementara Kagami menghela napas malas.
"Dia kabur lagi?"
Guk! Guk!
"Itu pasti Nigou!" timpal Riko
Setelah tiba-tiba terdengar suara gonggongan khas yang familiar, Kuroko, Riko, Kagami dan kau langsung berlari keluar gymnasium dan secepatnya pergi menuju sumber suara.
"Arah sana!" sahut Kagami sambil memakai instingnya untuk mencari darimana sumber suara berasal. Kuroko secepatnya berlari dan terlihat kalau anak anjing itu berlari hampir menuju gerbang keluar sekolah.
"Nigou!" kau dan Kuroko berteriak sambil berlari berempat bersama mereka. Tak ingin kehilangan jejak, kau berlari lebih kencang dan berteriak padanya, memberi perintah.
"Nigou, berhenti!" teriakmu dan seketika itu juga sang objek yang diserukan langsung berhenti dan secepatnya kau menangkap Nigou dengan kedua tanganmu dan mendekapnya.
"Dapat!"
Tapi kemudian Kagami yang keebetulan juga ikut berlari tersadar karena kau berada di tengah jalan raya dan dihapadanmu akan ada sebuah mobil yang sebentar lagi akan menabrakmu jika tetap berdiri disana. Mobil itu membunyikan klaksonnya dengan nyaring, menulikan telinga untuk menyadarkanmu untuk segera minggir dari jalan.
"(Name), bahaya!" teriak Kagami, mengingatkanmu dan kau yang tengah lega langsung mendongak, terbelalak kaget nan takut dan saat mau berlari tapi tak bisa.
'Aku.. Aku tidak bisa bergerak!' pikirmu, mencoba menghentikan getaran badanmu yang tak tertahankan
"Awas!"
"Kyaa!"
Kau langsung menutup matamu dengan erat sambil berdo'a dalam hatimu semoga kau bisa selamat dari kecelakaan ini, menunggu tubuhmu untuk dihantam oleh kendaraan beroda empat tersebut. Tapi saat kau merasakan aspal juga rasa sakit akibat jatuh, disaat bersamaan kau merasakan sesuatu yang hangat (selain Nigou yang berada di dekapanmu untuk melindunginya) mendekapmu erat, seperti...
"Eh?.."
Kau langsung mendongak dan mengetahui ternyata seseorang melindungimu dari tabrakan tersebut. Dirimu mencoba untuk bangun dan duduk sejenak, melihat sekeliling. Kau sudah ada di tepi jalan tapi lututmu agak lecet terkena oleh aspal yang kasar. Nigou yang langsung keluar dari dekapanmu menuju orang yang telah menyelamatkanmu dan menjilati wajahnya untuk membangunkannya, membuatmu kemudian melihat penyelamatmu dan mendadak membelalakkan mata.
Ternyata sosok yang menyelamatkanmu itu adalah pemuda yang sama seperti yang kau temui di toko aksesoris beberapa hari yang lalu.
Kau menyadari ia tak sadarkan diri setelah mengeceknya, dan tertegun karena di dahi kanannya berdarah, kacamatanya untung saja tidak rusak.
"Astaga.. dia terluka gara-gara aku..." gumammu kecil dan mencoba mencari bantuan.
Tepat disaat kau kepalangan mencari bantuan untuk menolong, Nigou menggonggong keras sekali, dan tak lama kemudian 4 orang datang. Riko, Kagami, Kuroko dan seorang pemuda yang tak kau kenali, bermata dan berambut hitam ikut berlari ke arah kalian.
"(Name)-chan! Kau baik-baik saja?!" ujar Riko sambil mengecekmu dan Nigou.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanyanya khawatir dan kau menggeleng kecil.
"Tidak usah khawatirkan aku. Aku baik-baik saja kok. Tapi orang ini, dia menolongku." Balasmu sambil menoleh dan mencoba untuk mengangkat pemuda berambut hijau tersebut.
"Menolongm–for the God Sake! Dia..." Kagami yang mencoba melihat orang yang menyelamatkanmu langsung kaget dengan bahasa inggrisnya yang keceplosan, bersama dengan Kuroko yang tertegun saat melihatnya.
"Midorima-kun..." gumamnya, terdengar olehmu yang langsung menoleh padanya.
"Eh? Kau tahu dia, Tetsuya-kun?" tanyamu dan ia mengangguk, menuju penyelamatmu dan membantumu untuk mencoba mengangkatnya.
"Oi! Apa Shin-chan baik-baik saja?!" seorang pemuda berambut hitam menanyakan keadaannya pada Kuroko dan dibalas olehnya.
"Dia hanya tak sadarkan diri. Lebih baik kita bawa dia ke ruang kesehatan." Usulmu dan mereka setuju, segera membawanya ke ruang kesehatan secepatnya.
"Ah, Shin-chan sudah sadar!"
"Syukurlah.."
"Akhirnya kau sadar juga!"
"Uhh.." membuka kelopak matanya yang lentik, memperlihatkan iris mata berwarna hijau muda itu untuk melihat ke sekeliling dan menunggu berkedip beberapa kali sembari mengumpulkan kesadaran sendiri dari sang empunya untuk mengetahui keadaannya sendiri.
"..Dimana aku..?" ujarnya lirih dan lemah sembari mencoba menoleh ke arah kiri dan kanan, melihat ke sekeliling. Tangan kanannya menyentuh dahinya yang berdenyut pelan dan tertegun mendapati kalau tahu ada beberapa lembar perban yang menutupi lukanya di daerah situ.
"Kau ada di ruang kesehatan. Beristirahatlah dulu, Midorima-kun." Ujar seorang pemuda yang berada di samping seorang kawannya.
Pemuda itu berkedip beberapa kali dan mencoba untuk bangun tapi ditahan oleh sahabatnya yang berambut hitam.
"Jangan langsung bangun, nanti kambuh lagi sakitnya." Tuturnya khawatir pada sang pasien.
"Tenang saja, Takao. Aku tak apa-apa." Ucapnya pada pemuda yang ia panggil Takao tersebut dan ia mengangguk kecil.
Tak lama setelah itu masuklah tiga orang ke dalam ruangan tersebut. Itu adalah Kagami, Riko dan kau. Seketika kemudian raut wajah sang pemuda berambut warna hijau itu tertegun ketika melihat seseorang yang dikenalnya.
"Kau.." gumamnya kecil dan kau mendongakkan kepalamu, melihatnya sudah sadar.
"Senang bisa melihatmu sadar." Sahutmu tersenyum kecil padanya, ia hanya terdiam sesaat.
Melihat keadaan ini, Kuroko tahu akan situasi yang seperti ini.
"Kami tinggal dulu, ya. Kau beristirahat sajalah, Midorima-kun." Ucap sang pemain bayangan dan Midorima mengangguk kecil.
"Terima kasih, Kuroko." Balasnya sebelum mereka semua meninggalkan kalian berdua di dalam ruang tersebut.
Dan setelah itu hanyalah keheningan yang memenuhi disekitar kalian berdua. Kau berjalan menuju tempat pembringan sang penyelamatmu dna duduk di kursi yang berada di samping kasurnya sebelum mendengar ia bertanya.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya padamu dan kau mengangguk kecil.
"Sepertinya. Apakah kau pemuda yang punya barangnya jatuh itu?" tanyamu balik dan ia mengangguk juga.
"Benar, dan aku tak tahu namamu." Mendengar itu, kau terkekeh kecil dan mengusap leher belakangmu.
"Ah, iya. Aku lupa. Maaf sudah tidak sopan, ya. Namaku (First Name) (Last Name). Kudengar namamu itu Shin-chan ya?" celetukmu yang membuat dia agak terperanjat dan mengambil kacamatanya, dan memakainya dengan grogi sambil menaikkannya dengan sentuhan jari tengahnya.
"B-Bicara apa kau itu–nanodayo? Itu nama konyol dari Bakao saja." Ujarnya sambil terbata-bata, membuatmu tertawa kecil.
"Hehehe... Iya, iya. Aku hanya bercanda kok. Namamu siapa?"
"Midorima. Midorima Shintarou. Itu yang benar –nodayo." Jawabnya singkat, padat tapi tak bermutu. Membuat kalian para pembaca jadi ikutan koplak.
Oke, kalian boleh nyemplungin Author somplak ini ke empang kali yang ada jambannya setelah ini, ok? Lanjut.
"Hmm.. Baiklah. Aku mengerti. Jadi, karena temanmu itu memanggilmu dengan 'Shin-chan'... bolehkan aku memanggilmu dengan nama Shin-kun?" dan spontan raut wajah pemuda berambut hijau daun itu langsung terdapat semburat merah yang bisa kau lihat sekilas.
Midorima menaikkan kembali kacamatanya dengan jari-jari panjangnya–padahal tidak merosot sama sekali–dan mencoba untuk menjawab dengan tenang dan cuek.
"Ke-Kenapa harus dengan panggilan nama itu sich? Tidak bagus–nanodayo." Katanya singkat.
"Lalu kau ingin aku memanggilmu apa?" tanyamu balik.
"Panggil aku Midorima-sama." Jawabnya singkat-lagi.
"Tidak bagus! Itu sama sekali tidak cocok denganmu!" protesmu pada Midorima tapi tak digubris olehnya.
"Cocok kok–nodayo. Oha Asa hari ini mengatakan kalau Cancer akan senang jika dipanggil dengan embel-embel '-sama'."
"Aku tetap akan memanggilmu dengan 'Shin-kun' saja!"
"Aku tidak terima."
Kau menghela napas. Orang ini.. Berkacamata, rambutnya juga beda dari yang lain macam Tetsuya-kun, dan ternyata maniak program ramalan. Yang seperti ini kenapa bisa jadi penyelamatku sih?, pikirmu dalam hati, memasang tampang cemberut.
"Hei, hei, kau itu kenapa? Bibirmu sariawan?" tanya Midorima padamu asal.
Dirimu hanya bisa facepalm saat tahu dia ini amat asal. Oh Tuhan, kau bisa-bisa mati berdiri shock kalau berbicara nonstop padanya terus menerus.
"Lupakan. Ngomong-ngomong, Shin-kun. Terima kasih sudah menyelamatkanku. Kalau kau tak ada, pasti aku sudah ditabrak oleh mobil tadi." Ucapmu sambil membungkuk singkat padanya.
"Tak masalah, lagipula aku dan Takao kebetulan lewat saja–nodayo. Bukannya aku peduli juga, sich tapi nanti kalau ada kecelakaan, bisa-bisa semuanya repot–nanodayo." Ujarnya, menyadarkanmu bahwa ada fakta yang terungkap dari seorang Midorima Shintarou; dia sebenarnya baik tapi tsundere.
Menyadari itu, kau tersenyum tulus padanya sambil memegang tangannya yang besar, membuat ia agak kaget tapi tetap menoleh padamu.
"(Name)?.."
"Terima kasih. Aku berhutang budi padamu, Shin-kun." Ucapmu tulus sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang manis dan tulus, membuat sang pemuda yang sekarang ini duduk terdiam-tertegun sejenak. Bagaimanapun juga, ia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanmu yang merupakan orang asing ini. Tapi, kau begitu tersentuh untuk kebaikannya, tak pantas kau tidak untuk mengenalnya dan menyikapinya dengan sikap kasar.
"Kau itu seperti buku yang terbuka. Bisa ditebak." Ujarnya datar, membuatmu terperanjat dan protes.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?!" protesmu padanya yang menaikkan kacamatanya yang tidak merosot dengan tangan bebasnya.
"Karena itu memang benar. Sikapmu transparan sekali." Balasnya acuh, membuatmu menghela napas.
Kau melepaskan genggamanmu dari tangannya dan berdiri, menyisirkan beberapa helai rambutmu kebelakang telinga dan berkata.
"Sekarang istirahatlah. Kalau sudah agak mendingan, langsung ke depan untuk bertemu dengan temanmu jadi kau bisa kembali." Saranmu dan ia mengangguk kecil.
"Baiklah, dah." Kau keluar dari ruangan tersebut dan berjalan kembali untuk segera kembali ke tempat latihan melewati koridor karena kau mungkin sudah ditunggu oleh mereka.
Tanpa kau sadari, ada seseorang yang mengamatimu dari arah koridor sebaliknya dari tempat dirimu berjalan dan kemudian berjalan memasuki ruang kesehatan, tempat dimana Midorima beristirahat.
Pintu dibuka, menampakkan sosok yang memasuki ruangan, membuat penghuni satu-satunya tertegun sejenak–sekali lagi.
"Halo, Shintarou. Sudah agak mendingan?" tanya seseorang itu pada pemuda berambut hijau daun teduh tersebut, berdiri di depan kasur empunya. Yang ditanya hanya bisa menjawab seadanya.
"Ya. Tak kusangka kau bisa disini." Jawabnya, membuat sosok itu tersenyum kecil–lebih tepatnya menyeringai kecil.
"Aku bisa mengerti akan ketidak tahuanmu itu. Makanya aku disini ada untuk memberi tahumu." Ujarnya sambil santai menatap Midorima yang berwajah serius.
"Memangnya apa yang tidak aku ketahui?" tanya Midorima hati-hati sekali, mengingat orang didepannya adalah orang yang berbahaya.
Mendengar itu, ia menjawab, "Kau tidak tahu kalau akan ada seseorang yang akan bisa secara tak langsung mempengaruhi kehidupan kita semua."
Mendengar ini, ia sedikit mengernyitkan alis, agak bingung atas ucapan sosok tersebut. Mempengaruhi?
"Aku tidak mengerti ucapanmu itu." Balasnya, membuat lawan bicaranya tertawa kecil–dengan nuansa gelap dan suram; juga menegangkan.
"Kau tidak dengar? Kita semua! Aku, kau, dan yang lainnya, kelompok Seirin, kelompokmu, kelompokku, kelompok Kaijou, Touou, Yosen, SEMUANYA!" sahutnya, membuatnya ia tertawa lepas, membuat Midorima hanya bisa diam melihat sosok itu menggila sesaat dan memilih jalur aman. Diam mendengarkan.
"Jadi.. pengaruhnya akan sebesar itu?" tebak Midorima untuk memastikan ucapannya.
"Iya. Dan satu hal lagi, Shintarou." Ia menatap sang lawan bicaranya dengan serius juga.
"Apapun yang kau lakukan, jangan bantu dia saat menghadapi para serigala liar yang berkeliaran disekitarnya. Itu juga berlaku pada yang lainnya." Ucapnya, membuat Midorima penasaran nan bingung–kepada siapa itu berlaku, dan begitu juga dengan istilah mengenai serigala liar itu. Walau begitu, dia ataupun dirinya sendiri, akan mengetahuinya–cepat atau lambat.
"Baiklah, mungkin itu saja yang bisa aku sampaikan padamu. Aku pergi dulu." Orang itu berjalan balik menuju pintu keluar, memutar knopnya, dan melirik pada pemuda itu dengan tajam.
"Lain kali jangan sampai terlalu baik hingga luka seperti itu, Shintarou. Atau tanganmu yang diperban olehmu kuat-kuat itu, menjadi percuma." Ujarnya dan sesaat kemudian ia keluar dari ruangan tersebut, dan keheningan memenuhi ruangan itu sekali lagi. Menemani seorang Midorima Shintarou.
Kelopak matanya hanya bisa menutup rapat lalu menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sembari membuka kelopak matanya yang lentik, menampakkan iris hijau muda teduh tersebut, sebelum ia perlahan menyibakkan selimut yang dia pakai dan berdiri perlahan dengan benar dan mengambil jaketnya, memakainya dengan rapi dan benar kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan kepala diperban yang masih ada sampai sekarang dan menutup rapat pintunya, sebelum berjalan ke arah yang seharusnya di koridor sekolah tingkat atas tersebut. Berpikir akan perkataan yang terakhir dari seseorang yang terakhir kali tadi baru saja mengunjunginya.
"Apapun yang kau lakukan, jangan bantu dia saat menghadapi para serigala liar yang berkeliaran disekitarnya. Itu juga berlaku pada yang lainnya."
Langkah kaki itupun berhenti bersamaan dengan pikiran menduga-duga saat itu juga.
Pemuda berjaket jingga itu hanya bisa tertegun ketika mendapatkan firasat yang tak terduga.
"...Jangan-jangan.. yang dikelilingi oleh serigala liar itu maksudnya..." gumamnya kecil, terpotong-potong karena pikiran yang langsung hinggap di otaknya yang lumayan cerdas tersebut.
Ketika ia menyadari dengan segera bahwa target yang dikelilingi oleh 'para serigala liar' itu adalah orang yang tak terduga.
"(Name)."
"Apa Shin-chan masih lama ya? Huft, bosan aku menunggu seperti ini..." celetuk seorang pemuda sambil memanyunkan mulutnya, bersamamu yang menunggu seseorang di depan sekolah dengan kereta yang disambungkan dengan gerobak dibelakangnya.
"Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Sabar saja," sahutmu pada pemuda berambut hitam; Takao Kazunari.
"Ngomong-ngomong, (Name)-chan. Kau itu beruntung lho, diselamatkan oleh Shin-chan." Ceplosnya membuatmu penasaran mengapa ia berkata seperti itu.
"Memangnya kenapa, Takao-kun? Beritahu padaku."
"Itu karena Shin-chan tsundere! Walau sebenarnya dingin dan cuek, tapi dibalik itu dia sangatlah perhatian dan baik pada orang sekitar–"
"Berhenti berbicara hal konyol seperti itu, Takao." Potong Midorima yang berjalan menuju kalian berdua yang sedang asyiknya berbicara dan mengalihkan pandanganmu pada sang pemuda berkacamata tersebut.
"'Kan memang kenyataan, Shin-chan!" ucap sang pemilik sepeda bergerobak memanyunkan bibirnya sementara sang lawan bicara hanya menghela napas dan bertanya padamu.
"Dimana yang lain?"
"Oh, mereka masih latihan. Tapi karena aku menganggur jadinya menunggu dengan Takao-kun dech." jawabmu polos dan Midorima mengangguk kecil dan berkata.
"Baiklah kalau begitu. Kami pergi dulu. Ayo, Takao." Katanya sambil menaiki gerobak belakang dan duduk disitu dalam PW; posisi wenak.
"Apakah kalian akan kembali?" tanyamu dan disambut anggukan oleh Takao yang sambil menaiki sepedanya untuk dikayuh segera.
"Iya, kembali ke sekolah kami–Shuutoku Koukou. apalagi mungkin kami akan pulang karena hari sudah sore. Benar 'kan, Shin-chan?" ujarnya pada yang dibelakang yang disahut oleh sang empunya nama 'Shin-chan'.
"Terserahlah. Ayo cepat jalan, Bakao." Ujarnya cuek dan Takao hanya mengehela napas dan tersenyum riang padamu.
"Kami pulang dulu ya. Sampai jumpa, (Name)-chan!"
"Ya. Hati-hati di jalan." Ujarmu melambaikan tangan sebelum ia mengayuh pedal sepeda untuk bergerak meninggalkan tempat dimana dirimu berdiri.
Setelah merasa mereka sudah jauh, kau segera berbalik menuju gymnasium sekolah untuk kembali ke latihan yang mungkin jamnya sebentar lagi akan selesai.
'Semoga kita bisa bertemu lagi, Shin-kun.' Pikirmu dalam hati sambil berlari kecil menuju tempat tujuan.
Sementara itu dua orang yang satunya ada di gerobak dan satunya mengayuh sepeda–mengobrol sejenak.
"(Name)-chan itu orangnya baik ya? Dia ramah sekali, hehehe..." ujar Takao sambil tertawa kecil, membuat temannya yang berambut hijau daun tersebut mengernyitkan kedua alisnya pada sang pengayuh.
"Kau naksir padanya?" celetuk Midorima membuat Takao mendecikkan lidahnya, melirik ke belakangnya.
"Bukan begitu, Shin-chan. Maksudku dia gadis yang sangat bersahabat. Kau sudah bicara dengannya 'kan?" tukas Takao dan disambut dehaman Midorima dari belakang sambil membaca buku.
"Begitulah." Balasnya malas. Sebenarnya ia tak membaca buku yang ia berkali-kali bawa itu–dia memikirkan perkataan sosok yang muncul di ruang kesehatan itu.
"Aku berfirasat," ucapnya lagi. Midorima mendengarkan.
"Bahwa kita akan bertemu dengannya lagi." lanjutnya, membuat Midorima merespon.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Banyak hal yang tidak bisa kita tebak didunia ini." balasnya, membaca bukunya kembali untuk mencari kesibukan sendiri.
Apakah akan terjadi seperti itu? Jikalau itu benar, maka itu akan berpengaruh bagi mereka yang terlibat–seperti yang dikatakan oleh orang itu. Dan yang hanya bisa ia lakukan–mau tak mau hanyalah ada satu; mengawasi dari jauh.
"AHH! AKU LUPA SEPATU OLAHRAGAKU!" teriakmu saat menemukan kalau kau lupa membawa sepatu olah ragamu untuk jogging bersama dengan sepupumu dan yang lainnya. Jogging pagi untuk hari ini adalah salah satu jadwal dari rutinitas klub mereka jadi kau wajib ikut. Tapi apa mau dikata; nasi telah jadi bubur. Kau lupa membawa sepatu olahraga kesayanganmu saat pindah dari Amerika ke Jepang jadi hasilnya adalah kau sama sekali tidak punya sepatu untuk olahraga maupun ikut latihan apalagi jogging.
"Sudahlah, (Name)-chan. Kita bisa beli yang baru kok. Aku akan menemanimu berbelanja, bagaimana?"
Kau yang menekuk wajah dan hampir menangis dari tadi mendongak sambil menghapus air matamu.
"Apa tak apa?" ujarmu, dan disambut gelengan ringan oleh sepupumu yang lebih tua itu.
"Iya, tidak apa-apa kok. Kau dirumah saja untuk hari ini. Mau melakukan apa saja; bebas kok. Aku segera kembali nanti siang. OK? Lalu kita akan belanja sepatu barumu besok." Terangnya dan kau mengangguk mengerti sekali.
"Baiklah.. Aku mengerti." Balasmu sambil cemberut sedikit. Riko menghela napas kecil dan hendak keluar dari kamarmu.
"Aku pergi dulu ya. Ittekimasu." Ujar Riko dan kau mengangguk sebelum ia keluar dan menutup pintu kamarmu dan terdengar derap langkah kaki yang makin menjauh.
Kau menghempaskan dirimu sambil menghela napas. Kau meraih gulingmu yang ada disamping kiri sembari memeluknya dan menghela napas lagi. Malas, itulah yang ada dipikiranmu. Tapi tak lama kemudian kau tak sadar bahwa lama-kelamaan kau telah berpindah tempat menuju Lalalandmu di mimpi. Yup, tidur saat akhir pekan memang menyegarkan tubuh dan itulah pilihan yang kau lakukan sekarang.
.
TuberColosis
Omake dan pojoke review (monggo diliat mumpung masih fresh~)
Hai minna~ Sumimasen, Shinju desu. Maafkan saya karena update ceritanya rada telat gegara UAS dan juga liburan keluarga, tapi karena masih sayang nyawa di dunia maya (?), makanya sekarang bisa update deh! Yayy! #naripakepompom Eniwei ini Shinju panjangin ceritanya sebagai hutang yang kemarin-kemarin juga karena ketelatan update untuk cerita fic "About Them" ini. Apalagi, ada beberapa pembaca yang minta dipanjangin lagi chapternya jadi kebetulan banget saya buatkan panjang. Dan mungkin untuk kedepannya kurang lebih panjang chapter ini akan jadi antara 3k hingga 8k lebih deh (-^-)''a Semoga tidak bosan menunggu dan puas membacanya ya, (_ _) #ojigi
Kuroko: Karena Ayahmu belum bayar wi-fi jadinya belum bisa update kemarin-kemarin ya. *makan mochi*
Author: Iya.. Maaf ya, jadi curcol, hiks QAQ #digebuk
Midorima: Sabar, Thor. #pukpuk
Kagami: Ngomong-ngomong yang lainnya pada kemana? *celingak-celinguk*
Author: Gue kasih tugas masing-masing kecuali Midorima karena buat bawa bintang tamu spesial hari ini.
(tak lama kemudian muncul gerombolan surhan Author yakni bocah Kisedai dan 2 orang lagi)
Kise: Maaf menunggu lama ssu~ Ini sudah datang tamu spesial hari ini ssu~ *menuntun satu orang buat maju ke depan*
Aomine: *ikutan majuin tamunya ke depan* Sudah, beres kerjaan kita.
Author: Ealah, seenak jidatnya lu bilang beres. Tuh review minta dibacain lu bilang UDAH BERES? *tensi mulai naik*
Kuroko: Tenanglah, Shinju-san. Nanti pecah uratmu. *pokerface*
Kagami: Banget. #lha
Author: *menghela napas* Iya deh.. Mura-kun, bisa ambilkan reviewnya?
Murasakibara: *ambil kertas-kertas review*
Author: Tolong bacakan setelah gue bicara bentar sama tamu hari ini. Sekarang lu sebarin aja dulu ya.
(Mereka saling berbagi kertas review dan juga semua kebagian kecuali Author)
Author: Baiklah. Hari ini kita kedatangan tamu spesial. Furihata Kouki dan Kazunari Takao! #prokprok
Furihata: H-Halo. *malu-malu anjing (?) lambai tangan*
Takao: HAI!~ *gak ada malunya sama sekali pas lambai tangan*
Author: Bagaimana kabar kalian?
Furihata: Baik-baik saja, terima kasih *senyum kecil*
Takao: Sehat walafiat kok!
Author: Baiklah, saya akan memberikan pertanyaan. Bagaimana perasaan kalian saat kebagian peran di dalam fic ini walau sebagaifiguran saja?
Furihata: Senang sekali, walau bukan yang utama tapi kalau aku niatnya ya membantu orang-orang, jadi senang-senang saja ^^
Author: Mulia sekali dirimu nak, nanti aku bikin khusus oneshoot untuk dirimu sendiri deh TvT #plakk baiklah, beralih ke saudara Takao. Bagaimana perasaan anda?
Takao: Aku sich senang-senang saja. Asalkan bisa masuk fic dan rada terkenal, hehehe... *nyengir lima watt (?)*
Author: Baiklah, terima kasih sudah menjawab pertanyaan saya yang tak bermutu. Silakan kembali ke alam kalian masing-masing. #lukiramakhlukgaib
(Dan kemudian mereka berdua balik lagi ke alam mereka masing-masing (?))
Author: Baiklah, selanjutnya! Kuroko! Kau duluan! #udahlemasdikursi
Kuroko: Baiklah, Ini dari 46Neko-Kucing Ganteng-san. Iya, ini sudah update kok. Terima kasih sudah mau ribet-ribet membenarkan typo dan missing kalimat di fic tak bernyawa ini (?). Dan untuk soal mengumpat, salahkan saja Bakagami-kun yang baka.
Kagami: ITU TUH TYPO AUTHOR BEGO! *protes*
Kuroko: Dan untuk soal kejadian yang di chapter lalu, bisa dirundingkan dengan Akashi-kun yang mau atau tidak.
Akashi: Dengan terhormat aku menolak, Tetsuya.
Author: Jangan berisik! Sudah ya, selanjutnya!
Kise: Baiklah, ini dari Ruki-chan SukiSuki'ssu-san. Aishh~ Kayaknya dia fans setiaku deh! Dia senang aku muncul di chapter kemarin. Jadi malu ihh~ #berbunga-bunga Ano, terima kasih sudah mereview fic sang Author yang tidak berkualitas tinggi ini ya ^^ Etto... Sepertinya iya. Karena Author rada nggak ngeh sama pertndingan tapi tetap mencari info dri anime yang kami bintangi. Hah? Apa maksudmu tidak mengerti ssu? 'Kan itu puitis banget kata-katanya ssu! Huwaa~ #banjirairmatakudanil
Author: KISE KAU BERISIK! SEKALI LAGI KAU GITU DI CHAPTER SELANJUTNYA, KAU KU DISKUALIFIKASIKAN DARI FIC! (?) #darahtingginaik
Kise: *langsung kicep*
Author: Hhh.. Oke, selanjutnya!
Midorima: Baiklah. Ini dari mey-chan-5872682-san. Banyak banget angkanya... *sweatdrop* Oke, memangnya feelingnya salah tebak ya? Yak, maaf ya karena bikin anda keliru. Ah, Kise, sabar ya, dia bilang di review kau dibilang anak Kisedai banci.
Kise: Jahat banget sich ssu! #mewek
Midorima: Dan dia bilang Kagami OOC nya ngeselin abiz. Ckckck... Kau apakan kami semua Thor?
Author: Hanya membalikkan fakta aja *ngasal*
Kagami: *udah mojok dengan aura suram*
Midorima: Dasar kau ini... Hhh... Baiklah, lanjut. Kise, katanya dia juga gak ngerti apa yang kamu omongin di chapter lalu.
Kise: Kenapa semuanya pada nggak ngerti sich ssu?! *mewek lagi* #dipentung
Author: Lanjutkan saja, Shintarou-kun. *mentungin Kise sampe benjol*
Midorima: ...Ya. Memang jawaban dan tebakan anda benar kok, tidak usah ragu akan itu *manggut-manggut* Maafkan kami ya, karena tidak sopan dan sudah bantai 'Ayangm'u itu.
Kagami: HEI! #daripojokan
Midorima: *acuh tak acuh* Ya, memang tuntutan naskah, mbak. Dan memang ketemu sama saya tadi di chapter yang bejibun banyak itu an sudah greget kan? IYA 'KAN? *melotot ke kamera*
Author: Midorima. Jaga sikap.
Midorima: Ehem, maafkan saya. Saya khilaf (?). Dan terima kasih akan review dan ocehan gak bermutu anda disini. Arigatou gozaimasu. *bow*
Author: Selanjutnya!
Aomine: Oke, ini dari si.. eh,..Kumada Chiyu-san. Katanya bilang sabar buat Akashi yang digantung di chapter lalu.
Akashi: Aku sudah tak tahan... *udah siap senjata*
Author: Akashi. Mana sikapmu yang absolut itu? Nanti malah pembaca muntah lho. *memprovokasi*
Akashi: Tch.. *terpaksa menahan diri*
Author: Lanjutkan, Dai-kun.
Aomine: Okelah kalo begitu.. Kagami, yang sabar juga ya. Gue tau perasaan lu bro, dijelekin gitu. Sampe dicemooh sama reviewer yandere kayak gini *mojok sambil rangkul Kagami, nangis bawang merah (?)*
Kagami: Lu emang sohib gue bro... *nangis berjamaah bersama*
Author: Karena kesalahan human error pada Aomine, maka digilir ke Akashi.
Akashi: Baiklah, Shinju. Ini masih dari dia tadi. Ternyata dia juga masih tak mengerti perkataan Ryouta yang di chapter lalu. Berarti banyak yang bingung soal kata-katanya yang ambigu itu. #langsungjleb
Kise: *ikutan mojok sambil nangis berjamaah sama Kagami dan Aomine*
Akashi: Maafkan kami, ya. Tapi saat ini Author tidak menerima request seperti selingan pairing selain yang di berlakukan di fic 'About Them' ini karena ini fic reader, bukan main stream KuroMomo. Nanti kasihan Tetsuya, dibikin sesak Satsuki. Jadi gapapa ya kalo gak dikabulin? Nggak setuju Gunting-chan melayang~ *senyum charming*
Kuroko: Terima kasih, Akashi-kun. *senyum kecil*
Akashi: Tak masalah untuk seorang sahabat, Tetsuya. *balik ke review* Hm? Si Furihata itu ya? Tidak kok, katanya Author semua cowok disini bakal straight semua (jika ada pengecualian dan perubahan) dan salam kangen dan peluk cium untuk kalian dariku yang perfect dan absolut ini, terutama fansku tercinta *tebar pesona lagi* Sankyuu! #radaOOC
Author: Selanjutnya! Mura-kun, onegai.
Murasakibara: Baiklah~ Ini dari si Pink Krystal-san. Halo~ Maaf ya buat kamu jadi tambah sakit gegara TBC terus. Salahkan Shinju-chin saja ya.
Author: Mura-kun! #mulai emosi
Murasakibara: Memang rame kok, makasih~ Hehehe, ngebayangin aku yang disitu ternyata Kise-chin yang muncul, Kejutan kan? Sesegera mungkin Author makin cepat mengapdet, makin cepet Aka-chin tampil nanti. Ini sudah dipanjangin, sudah puas belum? Bilang aja ya~ Tolong kasih semangatnya ya~ Makasih~ #bow
Author: karena kalian semua sudah baca tapi masih ada bebarapa jadi aku yang bacakan yang sisanya ya~
Hoshi Fumiko-san: Halo juga!~ Ini sudah update kok. maaf ya kalau telat..Iya, itu si setan merah sialan. Hihihi, kayaknya kita sehati ya, senang dan gemas sama Furihata ^^ #plakk Dia tuh takut sama Sei karena auranya jadinya mau deket malah gak bisa. Tapi nanti mungkin ada rencana buat bikin fic khusus buat si Furihata, jadi tenang saja, ok? ^^
Yuuchi Kawada-san: Wkwkwk XD Perasaan titan itu nyasar deh, Yuuchi-san. #dapettemenfandomsebelah;SNK Nggak kok, saya yang buat di akting jadi songong #samasajabego Iya, nyelip doang kok, jangan khawatir! dan Midorima sudah muncul kok QWQ jangan mewek ya~ Say juga mau berfansgrilingan ria sama ente XD Ganbarimasu yo Yuuchi-san! Insya allah bisa update kilat! #mataberapi-api
pingkan-san: Ini sudah fast update walau telat kok Terima kasih sudah review :)
Author dan para cast di fic "About Them" berterima kasih untuk semua reviewers yang mau menyumbangkan review dari yang gak bermutu hingga bermanfaat untuk Author yang masih belajar perfanfiksian ini. Dan semoga kami kedepannya bisa memuaskan kalian semua yang membaca fic abal bin gaje ini walau masih banyak kekurangan yang belum bisa dirubah. Dan walau sudah telat sedikit, kami semua mengucapkan Selamat melaksanakan Ibadah Puasa tahun Hijriah 1435 bagi yang melaksanakannya termasuk keluarga Author dan Author sendiri yang sedang melaksanakannya juga.
Sincerely,
D.N.A. Girlz
~Preview~
...
"Segarnya!~"
.
"Ini punyaku!" "Enak saja! Aku sudah mengincar ini lebih dulu, kau tahu!"
.
"Main One-On-One lagi yuk!"
.
"Ini pasti cocok untukmu! 'Kan dadamu lumayan besar."
.
"Aku tidak bisa menolongnya, hanya dialah yang bisa menolong dirinya sendiri."
.
"Minggir, orang asing tak usah ikut campur."
.
"Hanya ada hukum alam disaat situasi seperti ini. Memakan atau dimakan."
RnR please and Happy Fasting! XD :3 :)
