Disclaimer : Now and forever never be mine
Warning : OOC, GEJE, etc.
-
Kakkoii-chan present
Between Hyuuga and Uchiha
~ unimagined ~
-
"TEME?!?" seru Naruto kaget. Setengah berlari, ia mendekati sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara yang tidak pernah ia miliki. "Kau… Kau kembali, Teme?"
"Hn. Begitulah." Jawab cowok berambut raven itu pendek. Seringai khasnya terukir di wajah tampannya.
Naruto tidak bisa menahan lagi perasaan senangnya yang meluap-luap, ia memeluk tubuh Sasuke sambil tak henti-hentinya menggumamkan kata-kata 'bodoh', 'keras kepala', 'menyebalkan' dan lain-lain yang tidak jelas terdengar.
Lain halnya dengan pemuda berambut pirang itu, sepasang mata emerald malah tampak terbelalak kaget. Kami-sama.. apa maksudnya ini?
Sakura berusaha terlihat setenang mungkin, walau bahasa tubuhnya tak mau diajak kompromi. Matanya mendadak menjadi tidak fokus. Tidak.. dia tidak boleh terlihat lemah sekarang.
Ia mendongakkan wajahnya, menatap lurus ke wajah Tsunade, berusaha mengacuhkan yang lain. "Maaf Shisou, aku harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Kalau ada sesuatu, nanti saja. Permisi."
Tanpa menunggu jawab Tsunade, gadis berambut pink itu membiarkan pintu mengayun menghilangkan sosoknya dari ketiga orang di ruang Hokage.
"Sakura-chan.. Tunggu!" teriak Naruto, berusaha mengejar.
"Cukup, Naruto." Cegah Tsunade, membuat alis pemuda berambut pirang itu berkerut. "Dia urusanku. Urusanmu adalah.. anak ini!" Ia menunjuk ke wajah Sasuke yang terlihat tidak suka dengan kata-kata Tsunade.
"Seperti yang kau lihat, Naruto, dia kembali. Dan aku mau, kau mengawasinya selama aku dan tetua desa yang menyebalkan itu berdiskusi tentang anak ini. Kau mengerti Naruto?" perintah Tsunade galak. Sepertinya moodnya sednag tidak enak.
"Hehh??"
"Bukankah kau yang selalu menginginkan dia kembali, Naruto?" desis Tsunade tajam. "Sekarang keluar dari kantorku. Kau boleh minta bantuan Kakashi kalau mau." Ia memalingkan wajahnya kesal. Huh, tambah lagi kerjaan, pikirnya emosi.
-
-
"Dasar Tsunade-baachan suka seenaknya." Naruto berjalan santai, mengangkat tangannya di kepala. "Teme? Kau dengar kata Tsunade-baachan kan? Kenapa masih di sanaa?" Naruto berbalik, menarik Sasuke menjauh dari pintu ruang Hokage.
"Hn."
-
~ Between Hyuuga and Uchiha ~
-
"Sakura-chan?" sapa Hinata ragu. Tumben kunoichi berambut unik ini terlihat sendirian di dekat-dekat rumahnya. Padahal biasanya ada Neji bersamanya, walau itupun lumayan jarang juga. Biasanya mereka lebih sering kelihatan berdua di tempat latihan.
Sakura menoleh, mendapati sepupu temannya.. - ehem.. tunangannya sekarang, memandanginya dengan tatapan what-are-you-doing-here-with-face-like-that. Ya ampuuun! Tunangan! Bisa-bisanya dia lupa kalau dia sudah punya tunangan sekarang. Ia memandangi cincin perak yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Kening Hinata semakin berkerut.
"Sakura-chan? Kau baik-baik saja?" tanya Hinata hati-hati, mengingat temperamen temannya yang kadang meledak-ledak kalau lagi bad mood.
"Hah? Tentu saja aku baik-baik saja." Jawab Sakura senatural mungkin, disertai senyuman malah.
"Oh.. yokatta.." Hinata mengelus dada senang. Terperangkap dengan Sakura yang tidak baik-baik saja sepertinya bukan ide yang bagus menurutnya. "Mau mampir ke rumah?" ia menawarkan.
"Heh?"
"Bertemu dengan Neji-niisan." Kata Hinata ceria. "Ayo, tidak usah sungkan.." Hinata menarik Sakura ke arah rumahnya.
Crap, sejak kapan Hinata jadi seperti ini?
-
~ Between Hyuuga and Uchiha ~
-
"Neji-niisaann.." panggil Hinata ceria dari pinggir tempat latihan Klan Hyuuga "Ada yang dateng nyariin nih.."
Neji menghentikan latihannya, dan menoleh menemukan gadis berambut pink bersama - atau tepatnya dipaksa, sepupunya. Wajahnya antara campuran malu, bingung, dan salah tingkah. Mau tidak mau bibir Neji membentuk senyuman langkanya.
"Ayo duduk dulu, Sakura-chan." Ujar Hinata sambil tersenyum manis. "Tidak usah sungkan, besok juga kau akan tinggal di sini. Aku tinggal dulu ya!" Gadis berambut indogo panjang itu meninggalkan Sakura yang wajahnya semakin memerah gara-gara kalimat terakhirnya tadi.
"Sakura.." panggil Neji, membuat Sakura kembali dari dunia bawah sadarnya. Dengan anggun, laki-laki itu mendudukkan dirinya di depan Sakura.
"Uh.. hai Neji. Aku mengganggu latihanmu ya?" tanya Sakura basa-basi. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya ia bertemu Neji dengan status baru mereka, pantas saja ia merasa agak.. canggung.
"Tidak. Aku memang sudah selesai." Jawabnya tenang. Siapa sih, yang memilih latihan daripada sekedar duduk berduaan dengan kunoichi satu ini? Walau dalam hati, ia merasa canggung juga, baiknya bersikap bagaimana.
"Oh.."
Neji memandang Sakura, biasanya gadis ini tidak sediam ini. Ada saja yang dia bicarakan. "Sakura, tidak usah canggung seperti itu. Bisakah kita bersikap seperi biasa?"
Sakura mendongak, memandang mata perak di hadapannya. Ia tersenyum manis, membuat wajah orang yang ia pandangi sedikit berubah warna. Hyuuga tidak boleh blushing! Kecuali Hinata tentunya runtuk Neji dalam hati.
Sakura mengalihkan pandangannya ke langit, merasakan angin sepoi menyapu wajahnya, membuatnya sedikit demi sedikit rileks. "Di sini nyaman ya." Ujarnya pelan.
Lagi-lagi senyum Neji tampak di wajahnya. "Kau bisa kapan saja kemari kalau kau mau."
"Boleh juga, tapi kau harus menemaniku di sini." Ujarnya ceria setengah menggoda, menoleh ke arah Neji, melihat reaksinya. Mungkin saja dia bias lihat cowok di sampingnya blushing.
"Terserah kau saja." Jawab Neji pendek, mengacak rambut Sakura lembut. "Ngomong-ngomong, ada urusan apa ke sini. Tidak mungkin kan hanya untuk duduk-duduk di sini?"
Sakura memutar bola matanya. "Kalau iya?"
"Tidak mungkin."
Ia tidak bisa menahan tawanya, "Baiklah.. aku mengaku, Tadi Hinata memaksaku ke sini. Samakin lama dia makin mirip Naruto."
"Oh.."
Gadis itu melirik ke arah Neji. "Kenapa? Kecewa?"
Buru-buru Neji memalingkan wajahnya, "Lumayan."
"Ya ampun Neji-kun… aku tidak tau kau tipe yang seperti ini," Sakura lagi-lagi tertawa. Ia mengambil tangan Neji, mengenggamnya dengan kedua tangannya. "Jangan ngambek donk… Ya?" ia tersenyum meminta maaf.
Tidak senyum ini.. Neji meruntuk dalam hati. Ia paling tidak kuat dengan senyum Sakura yang satu itu. "Aku nggak ngambek."
Senyum Sakura semakin lebar. "Nah, gitu dong.." Dengan gemas ia mencubit pipi Neji, membuat Hyuuga satu itu terbelalak. Yang benar saja, seumur hidup belum pernah ada yang mencubit pipinya seperti itu.
"Ehem.."
Sakura dan Neji kompak menoleh, begitu melihat para cowok anggota tim 8 berada di depan mereka, sontak Sakura melepaskan tangannya dari pipi Neji yang mulus itu.
"Maaf mengganggu acara kalian berdua," kata Kiba tanpa bisa menyembunyikan cengiran di wajahnya, membuat dua orang itu memerah. "Bisa panggilkan Hinata?"
"Hn. Tunggu sebentar." Neji beranjak dari posisinya untuk memanggil Hinata.
Kiba menatap Sakura yang masih kelihatan salting, "Aku tidak tahu hubungan kalian ternyata seperti itu." Ujarnya dengan senyum yang semakin menjadi-jadi diikuti gongongan Akamaru.
"Diam kau, Kiba." Sahut Sakura kesal. Siapa yang tidak kesal, kalau saat-saat seperti itu dijadikan tontonan gratis. Kiba malah semakin keras tertawa, membuat gadis cantik ini mengerucutkan bibirnya.
"Kiba-kun, Shino-kun, maaf menunggu." Sapa Hinata lembut. Dibelakangnya berdiri Neji dengan wajah galak. Tunggu saja lain kali, Doggy boy! Serunya dalam hati. Jarang-jarang kan, dia bisa berduaan seperti tadi.
"Neji-niisan, Sakura-chan, aku pergi dulu ya!" pamit Hinata sembari melambai ke arah keduanya.
"Silahkan lanjutkan yang tadi itu. Hahahhahaha.." goda Kiba. Neji dan Sakura langsung mengirimkan death glare disertai aura membunuh.
"Oh iya, Haruno," Shino yang dari tadi diam, mengeluarkan suara. "Tadi aku melihat Uchiha bersama Naruto di Ichiraku. Kau tidak ikut mereka?"
Sakura membeku, dia lupa masalahnya tadi! Kenapa sekarang dia jadi pikun seperti ini?!? "Hm.. tidak." Jawabnya lirih.
"Uchiha? Uchiha Sasuke maksudmu?" tanya Neji tajam. Ia melirik Sakura sekilas, gadis itu benar-benar telihat tidak nyaman.
"Siapa lagi." Kiba menjawab pertanyaan Neji. "Aku kira kalian sudah tau."
"Belum. Daritadi aku belum keluar." Neji memberi alasan.
Hinata yang menyadari suasana yang mendadak berubah tidak enak, segera menarik kedua temannya keluar. "Kami pergi duluan. Yuk!"
Jadi ini yang tadi dipikirkan Sakura-chan..
-
~ Between Hyuuga and Uchiha ~
-
"Sakura.." tangan Neji menyentuh bahu kiri Sakura pelan. Gadis itu menoleh. "Jadi benar, dia sudah kembali?"
Sakura menghela napas panjang, berusaha menghindari tatapan langsung dengan Neji. "Begitulah."
"Jadi begitu. Kenapa kau tidak menemuinya?" tanya Neji dengan nada yang nyaris terdengar dingin.
"Kau ingin… aku menemuinya?" tanya Sakura tersulut emosi. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Hyuuga satu itu. Padahal dia memang sengaja tidak ingin menemuinya dulu, tidak sebelum perasaannya stabil.
"Baiklah kalau begitu, Hyuuga." Desis Sakura sembari berdiri dari posisinya, berjalan menuju ke pintu keluar. "Maaf merepotkan."
Neji terhenyak, Sakura tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Hyuuga sejak mereka memutuskan untuk jadi teman dekat. Kecuali saat dia benar-benar marah.
Ia menghela napas frustasi, topik tentang Uchiha Sasuke memang sangat sensitif di antar mereka. Neji belum sepenuhnya lupa, betapa dalamnya perasaan gadis berambut pink itu kepada pewaris terakhir klan Uchiha itu. Dan dia terlalu khawatir – atau cemburu akan hal itu.
"Sial." Runtuk Neji kesal. Padahal tadi semua berjalan sangat baik, tapi sejak nama itu disinggung semua menjadi berantakan. Dan itu tidak lepas karena emosinya yang tersulut tanpa bisa ia cegah. Masih untung dia tidak menghancurkan benda apapun.
Bayangan wajah sedih, kecewa, sekaligus terluka dari gadis yang entah sejak kapan mulai ada di hatinya, terlintas terus di benaknya. Dan ia tahu apa yang harus ia lakukan.
-
~ Between Hyuuga and Uchiha ~
-
"Hyuuga bodoh, idiot, tak berperasaan, dingin, tak punya otak!" desis Sakura penuh emosi. Langkahnya semakin cepat, disertai aura-aura gelap yang menguar ke sekelilingnya.
"Sakura-chaan!!" panggil Naruto dari seberang jalan. Gadis itu menoleh, menatap tajam ke arah blondie itu seakan mengatakan beraninya-kau-menggangguku. Tapi pesan tatapan itu sepertinya tidak bisa ditangkap olehnya.
"Sakura-chan.. aku ingat ada janji dengan hm.. seseorang, jadi tolong sekali.." Naruto mengatupkan kedua tangannya di depan wajah rubahnya. Di belakangnya Sasuke tampak berdiri diam. "Temani si Teme dulu sebentar, okay? Sebenarnya aku yang disuruh Tsunade-baachan, tapi aku sudah ada janji. Jadi tolong yaa.. please. Sebentar saja." Pintanya dengan wjah memelas, melirik sekilas ke balik punggungnya.
"Hm… a-"
"Baguslah, aku tinggal dulu yaa.. Ja ne!" Naruto ngacir sebelum Sakura selesai memberikan jawaban.
SHANAROOO, Naruto kurang aseemmm… emang siapa bilang 'hm' tanda iyaaa??? teriak Sakura dalam hati.
Sakura menarik nafas, berusaha menenangkan dirinya. "Hai, Sasuke." Sapa Sakura sewajar mungkin. Tak lupa dengan senyum, karena Sakura yang biasa kan memang suka tersenyum.
"Hn."
"Baiklah kalau begitu, Sasuke." Ujar Sakura dengan emosi terselubung di balik senyumnya. "Biar aku antar ke rumah Naruto. Dan beristarahatlah dengan tenang di sana."
Sakura berjalan memimpin menuju arah rumah Naruto, belum ada lima langkah ia berjalan ia berbalik. "Tunggu apa lagi, Sasuke?"
"Aku tidak bilang aku ingin ke rumah Naruto," jawab Sasuke seperti tidak ada masalah.
Sakura menggertakkan giginya kesal, "Lalu apa maumu?"
"Kalau aku bilang ingin ke rumahmu, kau akan mengizinkannya?" tanya Sasuke dengan raut wajah serius. Pipi Sakura sontak memerah, apa sih yang dipikirkan cowok ayam ini?
"Kenapa diam Sakura? Kau keberatan?" tanya Sasuke lagi, semakin mendekatkan wajahnya ke kunoichi yang wajahnya nyaris serupa dengan kepiting rebus.
Gadis berambut pink itu mengumpulkan segenap keberanian yang dia miliki – kemarahan juga, menatap ke mata hitam yang hanya berada tak lebih dari tiga puluh senti di depannya. "Sejak kapan seorang Uchiha Sasuke ingin ke rumah Haruno Sakura yang menyebalkan?" desis Sakura sarkastik.
Mata Sasuke melebar sesaat, "Jadi begitu menurutmu?"
"Ya, dan setahuku juga, seorang Uchiha Sasuke tidak pernah bicara sebanyak ini."
Sasuke semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Sakura – yang malah semakin membeku, dan berbisik, "Kalau aku bilang itu karena Haruno Sakura, apa kau percaya?"
"I.. itu tidak mu-mungkin.." kata Sakura pelan, nyaris tak terdengar. Tidak.. tidak mungkin, pikir Sakura. Bagaimana dengan tekadnya beberapa hari yang lalu. Bagaimana dengan… Neji?
"Sakura…"
Sakura menoleh. OMG, tidak sekarang…
-
-
~ To Be Continued ~
Huaaa… akhirnya jadi juga ini chappie, setelah bertapa kurang lebih berapa bulan yaa.. *ngelirik kalender*. Dan hasilnya… kenapa makin GEJE dan OOC kayak giniii??? *histeris*
Alurnya beribet dan nggak ada ujungnya, sumpaaahh.. pengen gantung dirii… *narik rambutnya Unohana buat gantung dirii* Aku makin nggak pede dengan kemampuanku membuat FIC.. huaaaaa…
Soo.. hontou ni gomennasai nee.. kalau misal kurang memuaskaan.. dan kalau ada beberapa pihak yang merasa aku nggak adil, yah.. harap maklum.. Aku lagi cinta berat ma NEJI.. and so pasti NEJISAKU, hwahahahahaha.. *devil laugh*. Tapi itu nggak berarti endingnya bakal NejiSaku.. aku cuma lagi demam, apalagi yang rated M. Wuih.. seneng banget! *buka aib*
Balesan repyuu..
Shirayuki Haruna iya.. iyaa.. sabar buukk.. *nyodorin lollipop* ntar aku pertimbangkan yaahh.. pokoknya tunggu aja endingnyaa.. gyahahahahha.. *evil laugh*
Dilia Shiraishi Nggak papa kok, mouto.. aku tau, pasti kaa-chan lupa mbeliin kamu cerebrovit excel.. *ngiklan terselubung, dibekep kaa-chan* oke deehh.. aku juga pengennya gitu, liat ntar yaa.. hhi.
Lunaritica Chika Arigatou, moutooo… *ikutan lebay* aduhh.. kalau chappi ini pasti OOC bangett.. sumpooong! Boleh tuhh.. emang ada ke arah sana sebenernyaa.. kke.
Yue Asahi hmm… itu besoknya.. di chappi ini dijelasin, maaf telat penjelasannyaa.. *nggetok kepala* Oke deehh.. mari kita lihat perkembangaan..
Furukara Kyu okeehh.. ni udah apdeth!
Hiryuka Nishimori Gomen kaa-chaan.. ternyata nggak bisa apdeth cepeet.. hhe. *cengengesan* okee deehh.. tapi rahasia yaa.. hhi.
Yamashita Kumiko sudahlaaahh.. lupakaann saja nii-chan *sebenernya juga udah lupa* okeh deehh.. makasih loo..
Franbergh hha. Makasihh.. aku sebenernya sih jugaa.. tos dulu yoookk.. *tos* ohh.. itu, aku udah bacaa.. itu yang ada slight kakasaku-nya kaan?? Emang tuh fic kereenn..
Yukihara Kanata Hhe. Ini tambah lama yaa?? *garuk-garuk kepala berketombe* tunangan tuh masih bisa dibatalin kok, nikah aja bisa cerai.. *sok* Kan dia pulangnya ngesot, jadi lamaa.. *dibunuh saskey FC*
Nita-chan is Tantei makassiihh.. hemm.. masalah itu aku nggak bisa jamiin.. *pasang senyum innocent*
Nadd makasih yaa.. nyempetin mampir niihh… justru karena jarang, aku mau melestarikannya.. hhe. *nyengir*
Manime Panraporo Itu udah diatur sutradaraa.. yaitu akuu! Hha. *dilempar kunai* mari kita lihaaatt…
Miyu201 makaasiihh.. *ngewakilin NejiSaku* oke deehh.. tenang ajaaa.. Maaf aku nggak sedia pairing yaoi *masang plang*
M4yura makaasiihh… *berlinangan air mata*
Myuuga Arai sebenernya sih beloom.. *jujur amaat* bukan pas acaranyaa.. tapi besoknyaa.. biar Sakura tambah stress.. hagzz.. *ditendang* sekarang apdethnyaa..
Okazaki Mitsuhiero emang belum ada sinetronnya, mungkin besok adaa.. *dikubur hidup-hidup*
