Disclaimer : Jelas bukan punya sayaa.. saya nyadar diri, cuma minjem dari Oom Masashi.

Warning : OOC *sangaaaat*, geje, dll.. don't like? Just back!

-

-

Kakkoii-chan present

Between Hyuuga and Uchiha

~ Move! ~

-

"Sakura.."

OMG.. apa dosaku padamu Kami-sama? Sakura meruntuki nasib sialnya hari ini.

"Lama tak berjumpa, Hyuuga.." sapa Sasuke disertai seringai yang menghiasi wajahnya.

Mau tak mau, mata Sakura membulat. Bisa-bisanya si oknum ini malah menyapa dengan santai begitu? SHANAROOO..

"Hn. Jadi benar kau kembali lagi, Uchiha?" ujar Neji dengan nada tenang, tapi sekilas terdengar dingin. Sakura hanya menunduk, tidak berani menatap kedua cowok ini. Diam di tempatnya berada sejak tadi, tak bergeser satu sentimeter pun.

"Begitulah. Ada sesuatu yang ingin kulakukan di sini." Jawab Sasuke santai, memainkan rambut panjang merah muda Sakura di antara jari-jarinya sebelum akhirnya mendekatkannya ke wajahnya. Dikecupnya sekilas ujung rambut gadis itu, tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Neji dengan senyuman mengejek, walau ia tidak tahu persis mengapa ia ingin sekali melakukannya di depan Neji.

Bulu kuduk Sakura terasa meremang. Dia benar-benar tidak tahan berada dalam situasi seperti ini. Ayolah.. kemana Sakura yang biasaa?? Tanyanya panik pada dirinya sendiri, tapi tetap tidak bergerak dari tempatnya. Dengan hati-hati, ia melirik wajah Neji sekilas.. dan menyesal telah melihatnya. Mata lavendernya berkilat. Jelas sekali pemuda Hyuuga itu menahan amarah.

"Oh, aku mengerti." Neji melangkah mendekati Sasuke dan Sakura – yang masih terdiam kaku, kemudian menarik gadis itu menjauhi pemuda berambut hitam lainnya. "Tapi maaf, aku ada urusan yang harus aku selesaikan dengan gadis ini. Aku permisi dulu, Uchiha."

Tanpa ingin mendengar jawaban Sasuke, Neji merangkul Sakura – yang lagi-lagi masih belum terlalu sadar dari keadaannya, menjauhi pemuda Uchiha itu.

"Tunggu." Suara Sasuke menghentikan langkah mereka. Neji menoleh, memberikan tatapan tajam yang dibalas dengan tatapan yang tak kalah tajam dari Sasuke. Sakura sendiri lebih memilih tidak melihat, dari auranya saja sudah terasa hawa-hawa membunuh, apalagi melihat langsung?

"Pikirkan perkataanku tadi. Aku serius, Sakura." Sambung Sasuke, membuat Sakura tertegun. Ia memberanikan diri menoleh, dan tidak percaya melihat seorang Sasuke benar-benar tersenyum – bukan seringai seperti biasa.

Dengan kesal, Neji menarik Sakura menjauhi Sasuke yang masih diam di tempat. Uchiha sialaan! Runtuknya dalam hati.

-

~ Between Hyuuga and Uchiha ~

-

"Hei, Teme. Kau masih di sini yaa?" tanya Naruto, begitu sampai di tempat tadi ia dengan semena-mena menyerahkan Sasuke pada Sakura. "Mana Sakura-chan?" Dia tidak melihat sosok gadis itu, baik di belakang, samping, apalagi di depan cowok ayam itu.

"Pergi. Dengan Hyuuga." Jawab Sasuke pendek. Sebenarnya dari tadi dia curiga, kenapa juga si Hyuuga narik-narik Sakura?

"Oh. Yah, wajar saja sih." Naruto mengangkat bahu ringan.

"Wajar?" tanya Sasuke penasaran. "Maksudmu?"

"Oh iya. Kau kan belum tau ya, mereka kan sudah bertunangan!" jawab pemuda pirang itu ceria.

"Tu-tunangan?"

Naruto menangguk mantap. "Baru juga kemarin. Kau telat sehari, sih."

Sasuke diam tak menjawab, terlalu shock. Hyuuga Neji dengan Haruno Sakura, bertunangan? Rasanya ada yang tidak pas. Oh, ayolah.. bayangan itu bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya.

Pantas saja si Hyuuga terlihat marah besar saat ia mencium rambut Sakura. Kenapa juga ia tidak menyadarinya? Jawabannya mudah. Itu terlalu IMPOSIBLE!

".. hey.. Teme.." suara Naruto membawa Sasuke kembali ke dunia nyata.

"Hn."

"Kenapa tiba-tiba diam?" Naruto melempar pandangan aneh.

"Tidak. Aku hanya.. bosan menunggumu. Capek tau!"

"Iyee.. iye.. yok pulang."

-

~ Between Hyuuga and Uchiha ~

-

"Ne.. Neji.. ?" tanya Sakura takut-takut. Sebenarnya dia tidak terlalu yakin, tapi situasi seperti ini – tegang dan diam, membuatnya lebih tidak tahan.

"Hn."

"Kau- kau ma-marah?"

"Tidak."

"Pasti kau marah."

"Aku bilang tidak."

"Marah!"

"Tidak, Sakura!"

"Marah! Marah! Marah!"

"Kubilang aku tidak marah kan?" Neji menatap Sakura kesal. Ini dia yang tidak dia sukai dari perempuan. Keras kepala.

"Tapi kau bersikap seperti orang yang sedang marah!" Sakura bersikeras. Eh, tunggu dulu, bukannya tadi dia yang marah dengan Neji?

"Ah, sudahlah. Aku lelah." Sakura mengibaskan tangannya – yang sedari tadi masih digenggam Neji, kemudian berbalik ke arah rumahnya.

"Tunggu." Cegah Neji, membuat gadis berambut pink itu menoleh. "Ma-maaf. Tadi aku yang salah."

Sakura menatap bingung. Maaf?

"Yang tadi. Sebelum kau pergi." Neji menjelaskan, menatap tanah seolah tidak ada yang lebih menarik daripada itu. "Bukan begitu maksudku."

Sakura terperangah. Ia tahu betul bagaimana sifat Neji, dan sangat jarang – atau hampir tidak pernah, ia melihat Neji meminta maaf seperti ini.

"Tentu saja, Neji-kun." Sakura tersenyum seraya mendekati sosok jangkung di depannya. "Sampai nanti." Ia mencium sekilas pipi kiri Neji, kemudian meninggalkan pemuda itu secepat kilat. Sekilas terlihat semburat merah di kedua pipinya.

Tanpa sadar Neji memegang tempat di mana ciuman Sakura tadi mendarat di wajahnya. Terlalu kaget untuk memberikan reaksi apapun. Ya Tuhan, terlalu banyak kejutan yang ia dapat hari ini. Tapi setelah ini, matipun ia rela.

Eh, tunggu dulu, pikir Neji. Kalau dia mati, berarti si Uchiha yang akan menang. Oke, ia tidak akan rela mati sekarang. Uchiha lihat saja nanti, berani sekali menyentuh Sakura-ku.

-

~ Between Hyuuga and Uchiha ~

-

Bunyi dengkuran keras pemuda rubah dari atas kasur, memenuhi seisi ruangan apartemen Naruto yang tidak bisa dibilang luas ini.

Sial, runtuk Uchiha Sasuke yang hari itu terpaksa menginap di rumah Naruto. Sudah puluhan kali ia memebenarkan posisi tidurnya, dari menghadap kanan, kiri, atas, sampai bawah sekalipun, matanya tak kunjung terpejam juga. Ditambah bunyi dengkuran Naruto pula, sungguh sempurna.

Pikiran pemuda Uchiha ini pun melayang ke peristiwa siang tadi. Huh, rasanya masih sulit dipercaya. Sudah ia coba pikirkan dari sudut pandang manapun, ia tetap saja tidak menemukan kecocokan antara mereka bedua. Apakah selama ia pergi, terjadi sesuatu yang merubah segalanya? Yang tadinya tidak pas menjadi pas, dan yang tadinya tidak mungkin, menjadi mungkin.

Apalagi setelah mendengar perkataan Naruto tadi, telat sehari? Sungguh kenyataan yang menyebalkan. Dengan kesal, Sasuke kembali memperbaiki posisi tidurnya. Tidak, kesempatan belum tertutup semua. Lagipula, masih tunangan kan? Menikah saja bisa cerai, apalagi tunangan.

Aku tidak akan kalah darimu, Hyuuga. Kita lihat saja nanti.

-

~ Between Hyuuga and Uchiha ~

-

"Aku pergi Bu.." pamit Sakura, sembari membuka pintu depan. Malam ini rasanya istirahatnya tidak tenang. Ada sesuatu yang sepertinya akan terjadi – dan sepertinya bukan sesuatu yang baik.

"Ohayou, Sakura." Sebuah suara menyapa dari balik punggungya.

Sontak gadis itu menoleh, dan matanya langsung terbeliak. "Sasuke?"

"Tidak 'Sasuke-kun' lagi rupanya." Desah pemuda itu sedikit kecewa.

"Kenapa kau ada di sini, Sasuke. Pada jam seperti ini? Apa tidak terlalu pagi untukmu?" tanya Sakura heran. Kalau ia jadi Sasuke, hari ini akan ia habiskan untuk istirahat. Apalagi dia baru saja kembali.

Bibir Sasuke melengkungkan senyum – yang lebih seperti dengusan, "Kau akan bangun cepat kalau kau tidur di dekat Uzumaki Naruto." Jawabnya, menyandarkan tubuhnya ke dinding paling dekat. "Apa salahnya mengunjungi teman lama. Bukan begitu, Sakura?"

Ganti Sakura yang mendengus. "Kau tau, Sasuke." Ia memulai, "Hidup di luar Konoha lebih dari lima tahun, membuatmu jadi lebih cerewet."

"Aku anggap itu pujian."

"Terserah." Sakura mengibaskan tangannya tak peduli. Ia merasa lebih cepat meninggalkan pemuda itu, lebih baik. Ia segera membalik tubuhnya, mencoba menjauhi Sasuke – sebelum tangan pemuda itu menghalanginya.

"Ada apa lagi sekarang?" tanya Sakura tak sabar. Ayolah, Kami-sama.. sampai kapan harus begini?

"Kenapa terburu-buru? Takut si Hyuuga akan marah, eh?" ejek Sasuke.

Mata Sakura membulat. "Kau.. tau?" tanyanya tak percaya. "Ka-kapan?"

Sasuke melepaskan tangannya dari Sakura. "Begitulah, Naruto memberitahuku kemarin. Walau agak sulit kupercaya."

"Begitu?" Sakura memamerkan senyum manisnya – yang terlihat agak terpaksa. "Okay, kalau begitu sampai nanti, Sasuke." Ia langsung berbalik, dan berjalan secepat mungkin meninggalkan pemuda itu – sebelum tangannya ditahan lagi, dan semua akan jadi lebih buruk.

Kita lihat saja nanti, Sakura.

-

~ Between Hyuuga and Uchiha ~

-

"SIAL!!!!" teriak Sakura kesal, tangannya yang mengepal memukul pohon di depannya tanpa ampun. Nafasnya memburu, membuat dadaya naik turun tidak teratur.

Ia menyandarkan tubuhnya ke pohon malang itu, sampai akhirnya tubuhnya melorot sempurna di bagian akar-akar yang menonjol ke permukaan.

Kesal? Sangat. Tapi yang tidak ia mengerti, mengapa ia merasa marah sekaligus bahagia pada saat bersamaan.

Yang paling ia takutkan saat ini adalah, bagaimana kalau ternyata ia masih mengharapkan cinta seorang Uchiha Sasuke? Bohong kalau dia bilang ia tidak suka dengan perlakuan Sasuke kemarin. Lagipula, gadis mana sih yang akan menolak?

Tidak, Sakura.. Itu hanya perasaan karena kau diperhatikan cowok cakep.. ia menegaskan dalam hati.

Lagipula ia sudah ada Neji. Ya, ia sudah bertunangan dengan laki-laki yang ketampanannya sama – atau bahkan lebih, dari si rambut ayam itu.

Sakura menatap sekilas cincin perak yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Menghela napas panjang sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya di batang pohon yang keras, menutup matanya perlahan. Mencoba meluruskan pikirannya yang sudah seruwet benang.

"Mana tunanganmu yang tersayang itu, Sakura?"

Mata Sakura terbuka dengan ekspresi horror. Dengan gerakan kilat, ia mengubah posisi duduknya, yang tadinya bersandar, menjadi tegak kaku.

"Ma-mau apa kau di sini?"

Laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah si Sasuke Uchiha itu hanya menyeringai, membungkukkan badannya agar tinggi mata mereka sejajar. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Sakura."

Gadis itu memalingkan wajah, berusaha menutupi rona merah tipis yang mucul di kedua pipinya. "Kau mau aku panggilkan dia sekarang?"

"Tidak juga sih. Lebih bagus seperti ini kalau boleh jujur." Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Sasuke sudah menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Sakura – yang jelas kaget.

"Ma-mau apa sih kau ini? Kau sudah berubah menjadi stalker ya?" Gadis berambut merah muda itu mencoba menjauh dari tamu tak diundangnya itu. Tapi tangan pemuda itu lebih cepat sepersekian detik, membuatnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh ke dalam pelukan pemuda itu.

Tanpa dikomando, seluruh wajah Sakura memerah. Ia berusaha menarik tubuhnya, tapi lagi-lagi gagal. "Cukup, Uchiha! Lepaskan aku! Apa sih mau sebenarnya?" teriaknya setengah kesal. Ayo jantung, jangan berdebar-debar.

Mata onix Sasuke berkilat senang. Ia merubah posisi mereka, kali ini Sasuke berada di depan Sakura, sementara tubuh gadis itu terjepit di antara tubuh Sasuke dan batang pohon. "Yang kuinginkan..? Haruno Sakura."

Sakura tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa. Nafasnya terengah-engah, mencari udara yang lebih bebas dengan memalingkan wajahnya sejauh mungkin dari wajah tampan di depannya.

"Aku mohon, Sasuke, lepaskan aku." Bisik Sakura putus asa.

"Tidak semudah itu, Sakura." Sasuke ganti berbisik di telinga gadis itu. "Aku sudah bersabar selama bertahun-tahun, demi membalas dendam klanku. Padahal aku berharap begitu aku kembali, kehidupanku akan bahagia, seperti katamu dulu." Ada nada getir yang menyusup di antara kalimatnya.

Sakura menahan napas gugup.

"Tapi apa yang kudapat, Sakura.." Sasuke melanjutkan, menatap Sakura dengan pandangan sinis "Kau malah bertunangan dengan si Hyuuga itu. Bisa kau bayangkan, bagaimana rasanya itu?"

Kali ini tidak ada kata yang keluar dari bibir Sakura. Badannya seketika terasa lemas. Ia tidak tahu kalau jadinya akan seperti ini.

"A-aku tidak tahu kalau kau akan kembali, Sasuke." Kata Sakura dengan suara tercekat. "Aku sudah menunggu, tapi nyatanya kau tidak juga kembali. Jangan salahkan aku, Sasuke. Semua sudah terlambat."

Segaris senyum sinis terlukis di wajah Sasuke. "Belum, Sakura, semua belum terlambat. Aku tidak akan membiarkan laki-laki berambut panjang itu menang."

Jarak antara wajah mereka berdua semakin dekat. Sakura semakin menciut saat ia merasa tangan Sasuke sudah berada di wajahnya, menyibakkan rambut yang menutupi telinga gadis itu.

"Sasuke, hentikan! Aku peringatkan, Sasuke, lepaskan aku sekarang!" ujar Sakura keras, setelah berhasil mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

Tapi sia-sia, tangan Sasuke malah semakin keras memegangi tangan Sakura yang mulai memberontak.

Kami-sama.. kenapa tiba-tiba Sasuke jadi seperti ini?!? Siapa saja, hentikan kegilaan ini! Siapapun.. Aku mohon.. Neji..

Sakura mengatupkan matanya rapat-rapat, masih berharap.

"Kurasa sudah cukup kau bersenang-senang hari ini, Uchiha." Suara dingin Neji menyapu telinga Sasuke dan Sakura. Mata gadis itu terbuka, tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya.

Dengan perasaan kesal, Sasuke berdiri menyejajarkan tingginya dengan pemuda yang baru datang tadi. Kalau boleh jujur, ia tidak suka diganggu saat sedang bersenang-senang. "Begitu? Sayang sekali, padahal aku baru saja akan mulai." Ujarkan dengan nada sesopan mungkin.

"Aku sungguh menyesal." Neji mengaktifkan byakugannya. Tidak mau kalah, Sasuke juga mengaktifkan sharingannya.

Sakura tersentak. Buru-buru ia bangun dari posisinya, menyentuh pelan lengan Neji yang menegang.

"Neji, sebaiknya kita kembali sekarang." Ia berkata pelan. Jujur saja, ia belum pernah melihat Neji semarah ini.

Mata lavender Neji tetap terpancang pada Sasuke. Tanpa kata, ia menuruti ajakan Sakura. Ia melempar tatapan dingin untuk terakhir kalinya sampai ia berbalik sempurna, memunggungi pewaris Uchiha – yang masih diam di tempat, memandang dengan tatapan tak kalah dingin.

-

~ Between Hyuuga and Uchiha ~

-

"Neji…" Sakura memanggil takut-takut, tampaknya Neji belum sepenuhnya sadar.

Kalau saja gadis itu tahu, bagaimana marahnya Neji saat itu. Bayangkan saja, dia yang tunangannya saja belum pernah sampai memojokkan Sakura seperti itu. Rasanya ia ingin mencabik-cabik wajah si Uchiha itu saking kesalnya.

"Ne-neji.." ulang Sakura lagi, kali ini dengan menarik lengan baju Neji. Ia makin takut melihat perubahan ekspresi Neji. "Jangan diem aja dong.."

Neji tetap saja bergeming. Akhirnya dengan sangat terpaksa – karena menahan malu, Sakura meletakkan kedua tangannya di sisi wajah mulus pemuda itu, menatap langsung ke mata lavendernya. "Lihat aku."

Mau taka mau Neji menatap mata emerald di depannya. Wajahnya terasa lebih hangat dari sebelumnya.

"Sudah sadar?" tanya Sakura, yang dibalas dengan anggukan kecil Neji. "Bagus." Sakura tersenyum senang, melepaskan tangannya dari wajah Neji.

"Terima kasih bantuannya tadi. Aku akan lebih berhati-hati besok, jangan khawatir." Ujarnya menenangkan. Dan memang ia bertekad dalam hati, menghindari cowok Uchiha itu sebisa mungkin. Sampai perasaannya stabil paling tidak.

"Katakan padaku, Sakura. Apa kau masih menyukai si Uchiha itu?" Neji bertanya serius. Ia merasa harus menanyakan pertanyaan ini.

Sakura terperangah selama beberapa detik, sampai akhirnya bisa menguasai diri lagi. "Entahlah." Jawabnya pelan.

Kekhawatirannya terbukti. Sakura masih menyukai si rambut ayam itu.

"Tapi…"

"Sudahlah, Sakura. Kau tidak perlu memaksakan diri menyukaiku." Potong neji dengan nada getir. Rasanya seperti hatinya tercabik-cabik pisau.

Sakura menggeleng pelan. "Bukan begitu maksudku, Neji."

"Aku mengerti Sakura. Lebih baik kau pulang sekarang." Neji menepuk pelan bahu Sakura yang mulai bergetar.

"Dengarkan aku dulu, aku memang masih menyukai dia.. Tapi aku juga menyukaimu.." Sakura berkata setengah terisak. Ia sungguh tidak ingin menangis sebenarnya, tapi kenapa tidak ada yang mengerti?

Melihat gadis yang disayanginya menangis di depannya, apalagi karena kata-katanya yang menyakitkan, membuatnya menyesal. Ia menarik gadis itu dalam pelukannya, membiarkan air mata gadis itu membasahi bajunya.

"Jangan menangis. Bukannya kau sudah janji tidak akan menangis lagi?" bujuk Neji sembari mengusap punggung gadis itu lembut.

Sakura melepaskan dirinya dari lengan Neji. Ia menghapus sisa air mata yang meninggalkan bekas aliran air di wajahnya. "Kalau begitu kau juga harus berjanji, jangan pernah mengatakan pernyataan bodoh seperti itu lagi." Ujarnya mengancam.

Segaris senyum terbentuk di wajah Neji. "Baiklah, aku berjanji, Nona Haruno."

-

~ Between Hyuuga and Uchiha ~

-

Di lapangan latihan …

"Uchiha.."

Sasuke menoleh cepat, menemukan sosok Neji berdiri tak jauh darinya. "Lama juga kau datang. Kukira kau takut, Hyuuga." Kata Sasuke dengan nada mengejek.

"Jangan harap. Aku punya kepentingan lain, tidak sepertimu." Balas Neji sarkastik.

"Begitu?" alis Sasuke terangkat satu. "Kalau begitu langsung saja Tuan Sok Sibuk.."

-

-

To Be Continued

HUWAAAAA~~ akhirnya rampung juga chappie ini! YIHAAA~ *lompat-lompat geje* Hampir putus asa aku mengerjakannya. Semakin mirip sinetron nggak sihh?? Semakin OOC pulaaa. TEEEDAAAKK.. *digampar*

Okeh deh, seperti biasa butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Maklum, authornya geblekk.. uh-uh-uh. Jadi gimana rapotannya sodara-sodara? Sayang sekali, semester ini ranking saya turun! Ya sudahlaahh.. mau apa dikata.. *ngutukin nilai biologi*

Oh iya, special chappie ini, saya mau ngucapin OTANJOUBI OMEDETOU, NEJI-SAMA!! Aku akan selalu menyukaimuuu~ *ditimpuk karton* Walo di chappie ini bagianmu banyak nggak enaknya.. hha. Sorry sorry sorry sorry.. *SuJu mode on, lagi demam SuJu nihh*

Langsung aja balesan repyuuu (yang nggak log in) :

Pink to Blue makasih pujiannyaaa.. saya sangat terharuu.. *buang ingus* terima kasihh.. terima kasih! Saya jadi semangatt! Yeahh..

Franbergh Iya nihh.. gomenn.. *bungkuk* ehh.. sangat OOC yaa?? Aku emang kurang bisa mempertahankan karakter Saskey yang biasaa. Terlalu irit bicara sihh.. *ngeles, padahal Neji juga OOC ya??* makasih kritiknya, akan saya kurangi.. hhe. Makasihh…

M4yura iyaa.. dilemma.. kenapa nggak poliandri aja yaa?? *digampar* makasih reviewnyaaaa~

All reader dimanapun anda berada makasih udah bacaa.. saya sangat menghargainyaa. Kalo bisa, repyuu duun *ngarep* Jangan ragu lagi, klik tombol ijo di bawaah.. *kampanye*