Sebelumnyaaa, setelah hampir setahun fic ini tidak di-update, diketik, bahkan dilirik, akhirnya saya memutuskan untuk meng-updatenya juga. Bagi yang masih setia menunggu fic ini *emangnya ada?*, saya ucapkan beribu-ribu terimakasih atas dukungannya. Happy reading, minna-san!
Disclaimer : Masih punya Kishimoto-sensei laaah. Kalo punya saya, udah jadi abal tuh cerita Naruto! Hhe.
Warning : OOCness, Gejeness, Sinetroness, Abalness, Lambretos Update, dll.
Kakkoii-chan's present
Between Hyuuga and Uchiha
~ Love or Pride ~
Neji terdiam. Ia masih bingung,apakah ia harus merelakan Sakura kembali bersama si Uchiha itu, ataukah mempertahankan gadis itu sebagai tunangannya. Ia menatap kembali pemuda berambut hitam di depannya. Tidak. Dia tidak mungkin menyerahkan gadis itu pada laki-laki egois seperti itu.
"Bisakah kau jangan mengganggu tunanganku lagi?"
Di luar dugaan Neji, Sasuke malah memamerkan seringainya. "Aku lupa kalau kau orang yang kelewat tenang. Jujur saja, aku tidak mengharapkan pembicaraan seperti ini. Dan jawabnya, maaf sekali Tuan Hyuuga, aku menolak." Mata Sasuke yang tadinya bewarna hitam kelam berubah menjadi merah. Ya.. sharingannya aktif tanpa aba-aba.
Neji menghela napas. Jujur, melihat Sasuke yang kelewat keras kepala sedikit banyak ikut menyulut emosinya. "Belum puas kau membuatnya menangis? Belum puas kau menyakitinya?"
Sasuke berjalan mendekati Hyuuga jenius itu. Sekarang mereka hanya berjarak kurang dari sepuluh meter. "Asal kau tau, Hyuuga, yang selama ini aku lakukan—mengkhianati desa dan bergabung dengan Orochimaru, itu semua untuk keselamatannya."
"Agar kau bisa bebas membuat bayi-bayi Uchiha bersamanya? Begitu?" potong Neji dengan nada sinis.
"Kau," Sasuke menarik kerah baju Neji, menatap sepasang mata lavender itu dengan matanya yang semerah darah, "Kau tidak tau apa-apa, Hyuuga."
Bibir Neji membentuk segaris senyuman mengejek, "Sekarang kau mudah panas rupanya?" Dengan tenang, ia melepas paksa cengkraman Sasuke di kerahnya. "Memang aku tidak tau apa-apa, tapi sayang sekali, kau sudah terlambat. Aku sama sekali tidak berniat melepaskan gadis itu."
"Meski dia tidak mencintaimu?"
Neji terdiam. Bagaimanapun ia belum yakin seratus persen kalau Sakura lebih mencintainya daripada Uchiha ini.
"Kenapa diam?" ujar Sasuke mengejek. "Kau sendiri tidak yakin kan, kalau dia akan memilihmu?"
Pemuda Hyuuga itu menggenggam tangannya keras, sampai-sampai tangannya memutih. Tidak, dia tidak akan termakan kata-kata pengkhianat ini. Tidak akan pernah.
"Karena kau tau betul Hyuuga," Sasuke berbisik ke telinga Neji, "Kau itu hanya pengganti sementara selama aku pergi."
Tinju Neji melayang tanpa bisa ia tahan. Kalau saja Sasuke tidak gesit melompat menjauhi Neji, mungkin tubuhnya sudah terlempar entah berapa meter. "Diam kau!"
Sasuke kembali melempar senyum meremehkan, "Memang benar kan, Hyuuga, kau sendiri tau kemungkinan dia memilihmu sangat kecil."
"Tutup mulut besarmu itu, Uchiha," Neji berkata dengan suara bergetar.
"Sakura-chaaaan~"
Sakura merasakan seseorang menubruknya dari belakang. "Apa-apan sih Naruto?" gadis itu berusaha menyingkirkan pemuda rubah itu dari tubuhnya.
"Teme hilang, Sakura-chan," Naruto berkata panik. "Aku bisa dimarahi Tsunade-baachan nih!"
Sakura membuang napas, menghadapi temannya itu kadang-kadang butuh energy ekstra. "Kau yakin sudah mencarinya di semua tempat?"
Pemuda itu meletakkan tangannya di dagu, mencoba berpikir, "Yah.. baru di rumahku dan di Ichiraku sih."
"Bakayaro! Memangnya dia seperti kau?" Gadis itu mendaratkan jitakannya di kepala kuning calon Hokage itu.
"Sakitt.."
"Sebenarnya tadi aku bertemu dengannya tadi," ujar Sakura jujur.
"Begitukah?," Naruto menarik napas lega. "Bolehkah aku meminta tolong padamu Sakura?" tanya pemuda itu lagi.
Entah kenapa Sakura merasakan firasat tidak enak. Terakhir kali Naruto meminta tolong gadis itu bukanlah sesuatu yang enak untuknya.
"Aku mohon, Sakura-chaan~" Naruto memasang wajah termelasnya. "Pleasee?"
Tidak tahan melihat mata Naruto yang berbinar-binar penuh harapan, Sakurapun mengangguk.
"Yosh! Sakura-chan~ kamu memang TOP deh! Hhe," Naruto memeluk erat gadis berambut merah muda itu.
"Apaan sih, Naruto," Sakura berusaha melepaskan diri dari temannya yang hyperaktif itu, "Lepas, lepas, Baka!"
Naruto melepaskan pelukannya sembari memamerkan cengiran rubahnya, "Hehehehe. Jadi tolong ya, Sakura-chan, awasi Sasuke-teme sampai matahari terbenam. Oke?"
Mata Sakura membulat saking terkejutnya. Mengawasi Uchiha itu? "Whaaaat? Tidak bisa Naruto. Itu tugasmu, bukan tugasku."
"Tapi Sakura-chan," Naruto mulai merajuk. "Aku ada janji kencan dengan Hinata-chan. Masak kau tega padaku sih? Cuma sampai matahri terbenam!"
"Tapi kan kemarin kalian baru saja kencan. Masak hari ini juga?" Sakura tidak terima. Dasar Naruto, maunya enaknya saja. Masak dia kencan terus, sementara Sakura disuruh menjadi baby sitter? Terima kasih deh.
Naruto mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya sembari membungkuk, "Aku mohon Sakura-chan, tolong bantu aku. Minimal, kau suruh dia pulang dan mengunci dirinya sendiri di rumahku. Bagaimana?" pemuda itu membunjuk sekali lagi.
Sakura terdiam. Sebaiknya dia terima atau tidak ya? Bukankah dia sudah berniat menjauhi pemuda Uchiha itu. "Maaf, Naruto, aku rasa—"
"Pokoknya aku serahkan padamu ya Sakura-chan! Suruh dia pulang ke rumahku! Oke? Aku sudah terlambat," tanpa menunggu jawaban Sakura, pemuda kyuubi itu mengambil langkah seribu menuju kekasihnya.
"Narutooooo!" Sakura berteriak marah, tapi sayang si kepala kuning telah lenyap entah kemana.
"Ah.. sial, sial," keluh Sakura pada diri sendiri. "Tak ada pilihan lain."
"Tugasmu sebagai pengganti sudah selesai. Jadi biarkan dia menjadi Uchiha Sakura sebagaimana mestinya," Sasuke berkata dengan nada mengejek.
"Aku peringatkan sekali lagi, Uchiha, tutup mulut busukmu itu. Aku tidak mau membuatmu mendapat masalah, pengkhianat.." Neji menngeram. "Kau ini masih belum bebas, tapi kau sudah berani bertingkah." Perlahan namun pasti Byakugan andalan Neji mulai terlihat.
"Mau mengancamku, Hyuuga? Dasar pecundang!"
"Kau benar-benar membuatku kehabisan kesabaran."
Sedetik kemudian Neji telah menghilang. Seulas serigai terlukis di wajah pucat Sasuke. Dengan kecepatan kilat, ia memutar tubuhnya 360 derajat, dan menangkis pukulan Neji. "Kau meremehkan Sharinganku, Hyuuga?"
Tanpa peringatan, Sasuke melancarkan tendangan ke daerah jantung Neji. Namun pemuda Hyuuga itu dengan gesit berhasil menghindar. "Kalau itu maumu, Uchiha. Kita selsaikan sekarang."
"Dengan senang hati."
Sasuke mengeluarkan jurus andalannya, Chidori. Chakra berbentuk petir itu tampak menyala-nyala di tangannya. Di lain pihak, Neji telah memasang kuda-kuda khas Klan Hyuuga, bersiap melakukan Jyuuken.
"Sedang apa kalian di sini?" suara seorang gadis penuh selidik memecah atmosfir dingin dua pemuda itu. Sontak pemilik dua mata paling ditakuti di Konoha itu menoleh.
"Sakura?"
"Jangan bilang kalian sedang latihan, karena aku tidak sebodoh itu," ujar Sakura galak. Ia memicingkan matanya, menatap penuh curiga ke arah dua pemuda tampan itu.
"Seperti yang kau lihat," Sasuke menjawab acuh. Toh berbohongpun tidak ada gunanya.
Gadis itu memposisikan kedua lengannya di pinggangnya yang ramping, "Kau mau bilang kalian sedang berkelahi, begitu? Karena itu yang aku lihat!" Sakura mengambil posisi di antara kedua pemuda itu. Bergantian ia tatap kedua orang bersifat nyaris sama itu. "Jadi untuk hal apa kalian bertingkah konyol seperti ini?"
Lagi-lagi Sasuke yang menyahut, "Bukankah lebih baik kau katakan padanya langsung, kalau kau lebih suka jadi seorang Uchiha?"
"A-apa maksudmu, Sasuke?" Sakura berusaha menutupi rasa kagetnya. Semburat merah mulai merambati pipinya yang mulus itu. Seorang Uchiha Sasuke? Berkata seperti itu? Secara tidak langsung, pemuda itu melamarnya!
"Lebih baik kau tutup mulutmu itu, Uchiha," Neji mendesis mengancam. Rahangnya seketika mengeras, tangannya kembali mengepal sampai-sampai jarinya mulai memutih.
"Katakan padanya Sakura, kau lebih memilihku daripada dia," ulang Sasuke mantap. "Bukankah kau bilang kau sangat menyukaiku? Bukankah kau bilang kita akan hidup bahagia bersama?" Ia mencecar gadis itu tanpa ampun.
Tak ada reaksi yang bisa dilakukan Sakura saat itu. Tenggorokannya serasa kering, sehingga rasanya mengeluarkan suara kecil pun ia tidak mampu.
"Jadi itu semua cuma omong kosong?" Sasuke kembali menuntut jawaban saat melihat Sakura yang hanya diam.
"Sasuke," Sakura berkata setengah berbisik, "Bukan begitu.. sungguh.."
Sasuke memperkecil jaraknya dengan Sakura. Meraih tangan gadis itu, menatap dingin mata emerald di depannya.
Neji memandang mengawasi kedua orang yang berdiri tak jauh darinya itu.
"Kalau begitu, lepaskan cincin ini sekarang." Suara dingin Sasuke terdengar bagaikan petir di telinga Sakura, dan tentu saja Neji.
"A-apa?"
"Atau aku saja yang melepasnya?" Jemari Sasuke mulai merayap menuju ke jari manis Sakura, menyentuh permukaan cincin perak yang tersemat di jari manis gadis itu.
Cepat-cepat Sakura menarik tangannya dari pemuda Uchiha itu. Tanpa ia sadari, ia telah meremas tangannya kuat-kuat, seolah menghalangi cincin di jarinya itu lepas. Ia belum bisa menentukan pilihannya sekarang.
"Lancang sekali kau, Uchiha," Neji menarik Sakura sehingga kini kedua pemuda jangkung itu saling berhadapan. "Yang berhak melepas cincin itu hanya aku. Dan seperti yang kubilang tadi, aku tidak berniat melepaskannya."
Entah kenapa rasanya aura di sekeliling Sakura berubah menjadi pink. Ia tahu, di saat seperti ini tidak seharusnya ia berpikir aneh-aneh macam ini. Tapi, sebagai seorang gadis yang umumnya sensitive dengan hal-hal seperti itu, mau tak mau hatinya melayang juga.
"She's MINE, Hyuuga," Sasuke menegaskan sekali lagi, seolah kalimatnya ini tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
"In your dreams," balas Neji sengit, kali ini ia benar-benar memposisikan diri di depan Sakura, sehingga satu-satunya pemandangan yang bisa gadis itu lihat hanyalah punggung tegap nan seksi dilengkapi dengan rambut coklat panjangnya yang terikat longgar.
"Menyingkir Hyuuga."
"Kau saja yang pergi."
Kepala Sakura mulai berkedut. Apa-apaan ini? Apa mereka benar-benar pemuda dingin yang dikenal Konoha selama ini? Tapi kenapa..
"Hyuuga kau.."
"Uchiha.."
"STOP!" Sakura merentangkan tangannya jauh-jauh, menyeruak di antara Neji dan Sasuke. "Kalian membuatku pusing dengan tingkah kalian yang kekanakan ini! Aku bukan barang yang bisa kalian klaim seenaknya sendiri. Aku juga punya perasaan," Sakura berhenti sejenak, berusaha mengatur napasnya yang mulai tak berarturan. "Kalau ini cuma masalah 'harga diri' kalian, lebih baik kalian cari objek lain. Jangan aku!" gadis itu cepat-cepat berbalik, berlari meninggalkan kedua orang yang masih membeku karena kata-kata Sakura tadi.
Sakura kesal. Ia merasa.. dipermainkan oleh takdir. Dan entah kenapa pemandangan yang ia saksikan tadi semakin menguatkan kalau ia memang dijadikan permainan. Ia menghela napas perlahan. Sebagai seorang gadis biasa, ia hanya ingin mengikat janji dengan seorang yang ia cintai dan mencintainya. Tak lebih. Tapi apa yang ia dapat, kehidupan cinta yang rumit seperti ini.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, ia sendiri bahkan tidak yakin akan perasaan kedua orang itu. Ak ada seorangpun yang mengucap kata cinta secara langsung padanya. Sakura merasa ia hanya diperebutkan untuk kepentingan klan. Entah itu Hyuuga atau Uchiha—yang notabene hanya tersisa Sasuke seorang. Semua sama saja.
Pertahanan Sakura akhirnya jebol. Ia membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya, mencoba merendam rasa frustasinya yang keluar dalam bentuk air mata itu.
Tok.. tok.. tok..
Krieet. Seorang wanita separuh baya membuka pintu perlahan, "Neji-kun?"
Neji memamerkan seulas senyum tipis disertai bungkukan sopan. "Konbanwa, Haruno-san. Sakuranya ada?"
Ibu Sakura tertawa pelan, "Tidak perlu seformal itu Neji-kun. Kau boleh memanggilku Ibu kalau kau mau," ujarnya ramah disertai kedipan mata singkat.
Neji hanya membalas dengan anggukan. "Baiklah kalau begitu… Ibu."
"Begitu lebih baik," Ibu Sakura berkata penuh kepuasan sekaligus rasa haru. "Tapi sayang sekali, Neji-kun. Sakura sedang tidak enak badan, jadi dia tidur lebih awal hari ini."
"Oh begitu?" Neji terdengar sedikit kecewa.
"Apa perlu aku bangunkan?" Ibu Sakura menawarkan begitu menangkap ekspresi Neji itu.
Cepat-cepat Neji menggeleng. "Tidak perlu. Lebih baik dia istirahat saja. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Tidak mampir dulu?"
"Tidak perlu. Permisi." Pamit Neji dengan sopan dan segera membalik tubuhnya. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara calon ibu mertuanya berkata setengah menjerit, 'Kami-sama, Sakura beruntung sekali punya calon suami setampan dan sesopan itu.' Mau tak mau seulas senyum terlukis di wajah Neji. Setidaknya ia sudah mengantongi satu poin di sini.
Sakura mengubah posisi tidurnya membelakangi jendela. Sudah berapa jam lewat sejak ia pamit untuk tidur lebih awal dengan alasan tidak enak badan kepada kedua orang tuanya, tetapi kedua mata emeraldnya belum juga mau tertutup. Ia menarik napas untuk merilekskan diri, kemudian memutar tubuhnya agar kembali meghadap jendela yang setengah terbuka.
"Ternyata kau belum tidur?" suara berat yang Sakura tau siapa pemiliknya itu mengagetkan gadis itu.
"Sa-sasuke?" Sakura langsung bangkit dari usaha tidurnya. Ia bisa melihat sosok jangkung Sasuke menyandar di salah satu dinding di dekat bingkai jendelanya. "Sedang apa kau di sini?"
Seulas senyum khas seorang Uchiha Sasuke terkembang. Pemuda itu mendekati Sakura yang masih dalam posisi duduk dengan selimut berantakan menutupi bagian pinggang ke bawah. "Mengunjungimu," ujar Sasuke santai, menjatuhkan tubuhnya di ujung tempat tidur Sakura, membuat gadis itu tersentak kaget.
"U-untuk urusan apa? Memangnya Naruto mengijinkanmu?" tanya Sakura lagi.
"Tentu saja si Dobe itu tidak tau, aku harus menunggunya sampai tertidur," Sasuke menjawab pertanyaan itu tanpa beban. "Apa harus ada urusan untuk menemuimu?" Sasuke bertanya balik, menatap lurus ke arah gadis itu.
"Bukan begitu," Sakura mengalihkan wajahnya dari pandangan menusuk Uchiha bungsu itu. Tangannya menyusuri rambut merah mudanya, menyelipkan beberapa helai ke belakang telinganya dengan gugup. "Tapi ini sudah lewat jam sepuluh malam."
"Bukan masalah buatku," Sasuke berkata acuh.
"Tapi itu masalah bagiku," ujar Sakura sebal, melempar pandangan mencela ke arah Sasuke. "Bagaimana kalau aku sudah tidur?"
"Cukup melihatmu yang sedang tidur saja."
Ucapan Sasuke tadi sukses membuat wajah manis Sakura bertransformasi bagai kepiting rebus. Ia mencubit pelan lengannya, berharap yang ia lihat tadi hanyalah mimpi.
"Kenapa kaget? Jadi selama ini kau tidak sadar kalau aku melihatmu tidur?" Uchiha terakhir itu menumpu badannya dengan kedua tangannya agar bisa melihat reaksi gadis itu lebih jelas.
"Kau sering melihatku tidur?" bisik Sakura tak percaya. Oh Kami-sama, berapa banyak hal lagi yang akan mengejutkannya hari ini.
"Beberapa kali saat dalam misi team 7 dulu, dan sekali sekitar setahun setelah aku pergi dari Konoha," Sasuke memotong kalimatnya, menikmati reaksi yang tampak jelas pada wajah Sakura. Sembari menahan senyum ia melanjutkan, "Kau tau Sakura," Ia mendekatkan kepalanya dengan telinga Sakura, "Kau manis sekali saat tidur."
"Sasuke, sebenarnya kau ini kenapa sih?" Sakura tak mampu menyembunyikan ketakutan—sekaligus rasa malunya lagi. "Kau bukan Sasuke ya? Siapa kau? Orochimaru?"
Sasuke memutar bola matanya bosan. "Orochimaru? Yang benar saja. Tentu saja aku Uchiha Sasuke. Kau hanya tidak tau beberapa hal tentangku Sakura. Lagipula," Sasuke menatap Sakura dalam-dalam, "Waktu bisa mengubah seseorang."
Sakura meremas selimutnya keras. Berusaha menghilangkan rasa gugup juga berdebar-debar yang tiba-tiba saja menyerang tubuhnya. "Jangan buat aku bingung. Katakan padaku yang barusan, yang tadi siang dan kemarin juga, itu semua Cuma permainanmu kan?"
"Aku serius tentang semua yang kukatakan padamu," ucap Sasuke dengan nada serius.
Rasanya seluruh tubuh Sakura melemas saat itu juga. Perasaanya melambung tinggi tanpa bisa ia cegah. Rona kemerahan semakin memekat tercetak di wajahnya. Perlahan ia merasakan jemari dingin menyusup di wajahnya, menyibakkan rambut merah muda Sakura yang tergerai berantakan di sisi wajahnya.
"Kau akan memilihku kan Sakura?"
DEG! Akhirnya gadis itu terjatuh juga setelah perasaannya melayang tinggi. Ia menatap sedih sepasang mata onyx di hadapannya. "Seandainya kau katakan ini dari dulu Sasuke," ia berbisik pelan.
"Kau lebih memilih dia?" Sasuke mendesis berbahaya. Matanya yang memantulkan sinar pucat bulan berkilat.
Sakura menggeleng pelan. Digenggamnya pelan tangan dingin Sasuke yang masih berada di sisi wajahnya. Ia menutup matanya, mencoba mengingat tekstur tangan Sasuke yang menyentuh wajahnya dan mengendapkannya di ingatannya. Cinta pertamanya, laki-laki yang selalu ia tunggu sampai akhirnya ia lelah menunggu dan membuka untuk yang lain, kini benar-benar ada di hadapannya. Ia bisa menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh pemuda Uchiha itu. Ia bisa mendengar dan merasakan desah napas pemuda itu menyentuh kulitnya.
Perlahan ia membuka matanya, "Aku tidak tau, Sasuke," bisiknya dengan nada sendu. "Aku tidak tau perasaanmu. Dan aku.. tidak yakin dengan perasaannya. Apa ini hanya karena kemampuanku, sehingga kalian memperebutkanku untuk," ia menghela napas untuk menenangkan diri, "Kepentingan klan kalian?"
"Aku tidak bodoh, Sasuke," ia melempar senyum pahit, "Aku tau, untuk menghasilkan keturunan yang kuat, kalian membutuhkan wanita yang kuat juga kan? Dan karena aku murid Godaime Hokage, kalian menginginkanku. Iya kan?"
Sasuke terdiam. Ia tidak menyangka kalimat seperti itu akan meluncur dari bibir mungil Sakura. Rasanya mulutnya mengering, dan tenggorokannya tercekat. Ia merasakan tangan Sakura menjauhkan tangannya dari wajah gadis itu.
"Lebih baik kau pulang sekarang Sasuke, sebelum Naruto sadar kau menghilang," usir Sakura dengan halus.
Dengan berat hati, ia mengangkat tubuhnya dari tempat tidur Sakura yang entah kenapa terasa hangat tadi. Ia berjalan pelan menuju jendela kamar Sakura, melempar pandangan terakhir ke arah Sakura yang sudah kembali berbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Entah apa yang merasuki Uchiha terakhir itu, ia berbisik cukup keras, "Demo.. Aishiteru Sakura."
Sakura menutup matanya perlahan, membiarkan kalimat Sasuke lenyap bersama angin malam.
"Darimana saja kau, Teme," suara serak Naruto menyambut kepulangan Sasuke. Matanya tampak kemerahan sementara kepalanya masih dihiasi topi tidur yang selalu setia menemaninyaterlelap. Jelas ia terbangun dari tidurnya karena menyadari lenyapnya si bungsu Uchiha itu. "Aku sebal harus mengawasimu terus."
"Ya sudah kalau begitu tidak perlu awasi aku. Apa susahnya?" jawab Sasuke acuh, terus berjalan melewati Naruto tanpa melempar pandangan sedikitpun.
"Aku belum selesai denganmu Sasuke," ujar Naruto dengan nada benar-benar kesal. "Sekarang katakan padaku, kau darimana? Kau menemui seseorang sembunyi-sembunyi ya?" tanya pemuda rubah itu bertubi-tubi.
"Itu bukan urusanmu Naruto. Aku bertemu dengan siapapun yang aku mau, itu sama sekali bukan urusanmu," Sasuke berkata tajam. Tampaknya moodnya benar-benar buruk pasca pertemuannya dengan Sakura yang tak berjalan sesuai keinginannya.
"Itu urusanku, Teme," Naruto bersikeras mendapatkan jawaban. "Jadi dengan siapa kau bertemu?"
Sasuke menatap Naruto, matanya berkilat mengerikan. Naruto tetap tak bergeming, menunggu jawaban keluar dari mulut sahabatnya. "Aku bertemu Sakura. Puas?"
"Kau? Menemui… Sakura?" Naruto terperanjat. Sasuke yang ini menemui Sakura? Bukankah dulu pemuda itu selalu cuek pada gadis berambut merah muda itu. Tapi kenapa sekarang dia malah menemui gadis itu malam-malam?
"Apa yang kau rencanakan?" suara Naruto tampak serius sekarang. "Apa kau mau menyakiti Sakura lagi?"
Kesunyian sempat menguasai ruangan apartemen Naruto yang tidak terlalu luas itu. Masing-masing menatap lawan bicaranya dalam diam.
"Kenapa semua orang selalu menanyakan hal menyebalkan seperti itu?" akhirnya Sasuke membuka mulutnya. Seulas senyum sinis terlukis di wajahnya yang pucat. "Kenapa kalian selalu mengira aku akan menyakiti Sakura?"
"Karena itu yang selalu kau lakukan Sasuke. Dari dulu kau selalu menyakitinya."
Pemuda Uchiha itu mendengus. Seperti itu orang-orang menilai sikapnya terhadap gadis itu. Menyakiti. Melukai. Menghancurkan. Itu yang selama ini dilihat orang yang tak tau apa-apa. Orang yang tidak tau bagaimana ia memikirkan keselamatan gadis itu. "Kau tidak tau apa-apa, Naruto."
Naruto memandang Sasuke dengan tatapan yang tidak bisa Sasuke deskripsikan. Campuran antra rasa khawatir dan kasihan. "Aku di sana Sasuke. Aku melihatnya saat kau menyakitinya."
Sasuke lelah. Ia lelah harus membuat orang lain mengerti keadaannya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Sasuke berbalik meninggalkan Naruto, mengambil posisinya di tempat ia seharusnya tidur.
"Aku mohon Sasuke… jangan ganggu kebahagiannya kali ini."
"Ohayou, Bu," Sakura mencium sekilas pipi ibunya yang sedang menaruh makanan di atas meja.
"Ohayou sayang. Bagimana sudah baikan?" tanya Ibu Sakura penuh perhatian, mengusap sekilas rambut merah muda anaknya.
Sakura melempar senyum, "Lumayan," jawabnya ceria, mencomot setangkup roti yang barusan diletakkan ibunya. "Aku ke tempat Shisou hari ini."
"Oh begitu. Jangan terlalu lelah, sayang," wanita tengah baya itu mewanti-wanti. "Semalam Neji datang kemari. Tapi waktu ibu mau membangunkanmu, dia malah pamit pulang."
"Begitu?"
"Pastikan kau menemuinya hari ini. Jangan membuat dia khawatir, mengerti?"
Sakura hanya mengangguk pelan, mengunyah sisa rotinya yang rasanya tiba-tiba tak seenak sebelumnya.
Sakura menghela napas sembari menghenyakkan tubuhnya di kursi kerjanya yang lumayan empuk. Setelah lebih dari setengah hari ia berjalan kesana kemari mengurus pasien-pasiennya yang sempat terbengkelai beberapa hari ini, akhirnya ia bisa beristirahat juga. Sedikit banyak kesibukannya di rumah sakit membuat gadis itu melupakan masalahnya untuk sejenak.
Ia melirik sekilas ke arah jam dinding di salah satu sisi ruangannya. Sepertinya sebentar lagi matahari akan terbenam. Sepertinya ini bisa dijadikan alasan kalau ibunya bertanya tentang Neji. Ya, bersembunyi dibalik alasan rumah sakit sibuk.
Gadis itu cepat-cepat mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk pulang ke rumah. Mungkin mandi air hangat untuk merilekskan tubuhnya.
Sayang rencana tinggalah rencana. Begitu gadis itu membuka pintu, sesosok pemuda yang tadi rencananya akan ia hindari, sudah berdiri manis di samping pintu. Menunggu sembari menyenderkan tubuhnya di lapisan dinding putih yang mengapit pintu ruangan Sakura.
"Ne-Neji-kun?"
"Aku rasa kita harus bicara, Sakura."
To Be Continued
Huaaa.. akhirnyaaa.. jadi juga chapter terlambret yang saya update. Gomenna kalau hasilnya jauh di luar perkiraan teman-teman semua. *pundung di pojokan*
Kalo boleh curcol dikit nih ye, sebenernya saya belum menentukan ending cerita yang kira-kira pas. Jadi saya putuskan untuk hiatus sampai punya ending yang jelas dan tentunya tidak mengecewakan beberapa pihak. *jiah alesan aja lo!* jadi buat seseorang yang sempat protes, tenang aja men, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Hhe.
Oke deh, dari pada kepanjangan, saya akhiri aja, dan sekali lagi saya ucapkan terima lasih sebanyak-banyaknya buat seua yang tentunya nggak bisa disebut satu-satu. Doakan aja saya bisa menyelesaikan fic ini dengan cepat. Kritik dan sarang sangat membantu! Review please!
