Disclaimer : Naruto masih punya Kishimoto-sensei :D
Warning : semi-AU, OOC, Gaje, Update-lambat, Abal, Typo, Sinetronisme, dll
.
Kakkoii-chan presents
Between Hyuuga and Uchiha
~ Under Pressure ~
.
.
Sakura sama sekali tidak menyangka, ia akan membicarakan entah-apa-itu bersama Neji di tempat ini. Di sekian tempat lain di Konoha, yang lebih nyaman, yang lebih tenang, yang lebih pribadi mungkin kalau memang mereka tidak mau ada interupsi. Banyak tempat yang menurut Sakura lebih baik dari tempat ini.
Tapi kenapa Neji memutuskan mengajaknya ke tempat ini? Tempat semuanya berawal dan berakhir. Tempat penuh kenangan sedih yang sampai sekarangpun masih terlalu sukar untuk lenyap dari sel-sel otak Sakura. Tempat dimana ia menyatakan cinta pertamanya. Tempat ia ditinggalkan oleh orang yang paling ia cintai, saat itu. Di bangku itu.
"Di sini?" Sakura bertanya ragu-ragu. Terus terang saja berada di tempat ini membuat perasaannya tidak nyaman. Ia sendiri tidak tahu, apakah Neji tahu, kalau di bangku yang sedang didudukinya itulah ia pernah menginap semalam pasca kepergian Uchiha terakhir itu. "Kenapa harus di sini?"
Neji menatap wajah Sakura yang dengan jelasnya menyatakan ketidaksukaannya. "Ya, di sini. Jam segini tidak begitu banyak orang lalu lalang di sini," ia menjelaskan dengan tenangnya.
Mata Sakura menyipit, apa pemuda ini serius? Hanya karena alasan itu? "Kenapa kita tidak membicarakannya di tempat yang lebih tertutup? Di tempat makan mungkin?" Ia mengusulkan. Matanya mulai tidak fokus, ia benar-benar tak suka berada di sini.
"Kau mau pembicaraan kita di dengar orang?" Pemuda Hyuuga itu ganti bertanya, masih dengan nada tenangnya. Sakura benar-benar tak habis pikir, apa pemuda ini benar-benar tidak tahu betapa 'mengerikannya' tempat ini untuknya.
"Tapi masih ada tempat lain, Neji. Di mana saja, asal jangan di sini," ceracau gadis ini dengan kepanikan yang mulai merambat di suaranya.
Neji malah mendengus pelan, membuat Sakura semakin bingung. "Jelas kau tidak suka berada di sini. Aku tau soal tempat ini dari Nona Hinata," ia menatap langit malam yang entah kenapa terlihat sepi. Sebenarnya ia sudah menduga, Sakura pasti akan bereaksi seperti itu, hanya saja... entahlah, rasanya tetap saja sakit. Tandanya si gadis masih ada perasaan lebih dengan seseorang yang berhubungan dengan tempat ini.
"Kalau begitu kenapa…" Sakura berkata lirih. Kalau memang Neji tahu, harusnya ia tidak mengajaknya kemari. "Kau sengaja mengajakku kemari kan, Neji-kun?" Ia menatap tajam ke arah pemuda Hyuuga itu, menuntut penjelasan.
Neji mengalihkan pandangannya ke arah wajah Sakura yang seperti menahan tangis, "Karena aku ingin menegaskan satu hal padamu," ujarnya pelan. Menatap intens ke mata emerald yang balas menatapnya, "Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai.. 'barang' ataupun hal konyol lain yang kau kira."
"Tapi kenapa harus di sini? Aku benci tempat ini, kau tau itu!"
"Aku tahu, untuk itu aku mengajakmu ke tempat ini," Neji menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Aku ingin kau melupakan semua kenanganmu dengannya, aku ingin kau melupakan... dia."
Sakura terperangah. Neji mengajaknya kemari hanya untuk alasan itu? Hanya agar ia melupakan kenangan buruk itu? "Ne-neji.. kalau memang semudah itu melupakannya, aku sudah melupakannya dari dulu," ujarnya pelan dengan dengusan kecil yang tak bisa ditahannya.
Hening beberapa saat, keduanya sibuk dengan alam pikirannya masing-masing. Neji dengan kening menempel di kedua telapak tangannya yang menungkup jadi satu, dan Sakura yang dengan sedu menatap tanah yang dipijaknya.
"Aku tidak suka kau bersamanya Sakura, aku benar-benar tidak suka—untuk alasan apapun," setelah sekian lama sunyi, Neji membuka suaranya lagi. "Egois memang, tapi… bukankah waktu itu kau sudah pernah bilang kalau kau menyukaiku? Kalau begitu, jauhi dia."
Tenggorokan Sakura langsung tercekat. Apa Neji tidak tau bagaimana posisinya saat ini? "Tapi bagaimanapun, dia teman setimku.. aku tidak mungkin menghindarinya begitu saja," Sakura berkata nyaris histeris.
Perlahan tangan Neji meraih tangan sang murid Godaime Hokage itu, menarik tubuh si gadis agar mendekat ke tubuhnya sendiri. Ia adukan kepala mereka, memejamkan matanya untuk menikmati wangi lembut yang menguar dari tubuh gadis di hadapannya itu. Ia bisa merasakan dentuman jantung Sakura yang tidak teratur, sudah pasti gadis pink ini berdebar karena posisi mereka saat ini. "Aku tahu, tapi bisa kan kau mengerti posisiku juga?"ia menarik napas panjang, kemudian melanjutkan, "Kau akan jadi istriku, kan, Sakura?" bisiknya pelan.
.
.
Pertemuannya semalam dengan Neji membuat—lagi-lagi—tidurnya terganggu. Suara Neji saat itu terus berdenging di otaknya, sementara ekspresi serius nan tulus yang terpatri di wajah tampan pemuda Hyuuga itu terus berputar tanpa henti, membuat sesekali wajahnya memanas.
Oh, Kami-sama, jelas apa yang Neji lakukan padanya semalam termasuk hal-hal paling manis yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Dan itu ia dapat dari seorang Hyuuga Neji yang sering dikatai sebagai manusia es kedua? Pasti orang-orang salah menilai pemuda itu.
Kalau dipikir-pikir, semalam itu bisa dikatakan sebagai lamaran tidak langsung dari Neji untuk dirinya. Dan itu ia lakukan sendiri, tanpa ada campur tangan dari pamannya yang notabene, ketua Klan Hyuuga. Apa ini berarti Neji benar-benar tulus… mencintainya? Ah, dia pasti terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Sakura menghela napas panjang, menghempaskan tubuhnya di tempat tidur empuknya kemudian menenggelamkan wajahnya yang lagi-lagi menghangat ke bantalnya. Ia benar-benar berada pada dilemma yang besar.
.
~ Between Hyuuga and Uchiha ~
.
Tsunade menatap kedua tetua desa yang duduk di seberang mejanya. Kedua tangannya—seperti biasa—menangkup tepat di depan wajahnya, membuat wajahnya yang masih tampak muda itu tertutup sebagian. "Kalian yakin dengan keputusan kalian itu?" ia bertanya kepada kedua tamunya itu.
"Ya, walau belum seratus persen," jawab Koharu Utatane dengan tenang. "Kecuali kau memiliki pendapat lain, mungkin bisa jadi pertimbangan," lanjut wanita yang sudah tidak bisa dikatakan muda ini lagi.
Homura Mitokado—yang duduk di sebelah Koharu, mengangguk-anggukkan kepalanya tanda menyetujui rekan sesama tetua desanya, "Satu-satunya yang tersisa dari klan Uchiha. Sangat disayangkan, bukan?"
Tsunade hanya diam sementara otaknya memutar mencari kalimat yang pas, "Baiklah kalau begitu. Bisa beri aku waktu lagi?"
"Kau mau membuang waktu lagi Tsunade? Kita sudah membiarkan anak itu tanpa status yang jelas terlalu lama. Seharusnya kita memproses hukumannya secepat mungkin," sanggah Koharu tak sabar.
"Kalau itu memang mau kalian, besok kita putuskan," akhirnya Tsunade menurut. "Aku akan mengatakan pendapatku besok, dengan syarat Uchiha Sasuke hadir di sana. Aku ingin mendengar bagaimana pembelaannya," ia menambahkan dengan tegas, menatap satu persatu wajah tetua desa—yang sekarang saling menatap, menanyakan pendapat satu sama lain secara non-verbal.
"Baiklah kalau itu maumu," Homura membuka suara. "Memang sudah seharusnya kita mendengar pembelaannya dulu. Besok pukul sepuluh di sini, pastikan bocah itu hadir, Tsunade." Ia bangkit dari posisi duduknya—diikuti rekannya, kemudian meninggalkan Tsunade tanpa pamit apalagi salam.
"Shizune!" teriak Tsunade begitu bunyi 'bum' dari pintu yang menutup terdengar, "Ambilkan aku sake!"
.
.
Siang itu, Sakura melangkahkan kakinya memasuki Yakiniku-Q, tempat dimana Naruto menyuruhnya datang untuk makan siang bersama team tujuh. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencari kepala kuning atau perak. Ia langsung tersenyum begitu menemukan warna itu di sudut ruangan. Tanpa menunggu lagi, ia langsung mendekati meja tersebut, "Konnichiwa, Naruto, Kakashi-sensei—" ucapannya terpotong begitu melihat sosok lainnya di meja itu. "—Sa-Sasuke?"
Sasuke hanya mendongak, mengangkat tangannya dengan ekspresi datar, sementara Naruto melambaikan tangannya dengan semangat berlebih dan Kakashi yang tersenyum di balik maskernya.
Sakura langsung mengambil posisi di samping Naruto dan berhadapan dengan Kakashi—karena hanya itulah tempat yang tersisa, kemudian merapatkan duduknya kepada Naruto seraya berbisik, "Kau tidak bilang kalau Sasuke ikut, Baka!"
"Kan tadi aku bilang team tujuh, tentu saja Teme ikut!" jawab Naruto dengan suaranya yang biasa alias sekeras orang berteriak.
Wajah Sakura langsung memerah, ah.. Naruto ini. Buat apa ia harus repot-repot merapatkan diri dan berbisik kalau Naruto akhirnya menjawab dengan suara sekeras itu. Ia melirik sekilas ke arah Sasuke—yang saat ini jelas-jelas sedang menatapnya, lalu cepat-cepat berpaling ke arah Naruto lagi. "Kau ini, Narutooo.." Sakura mendesis mengancam, kemudian mencubit pipi Naruto keras-keras, "Baka!"
"Adooow," Naruto berteriak kesakitan, belum menyadari apa kesalahannya sama sekali. "Kau ini kenapa sih, Sakura-chan?"
"Sudah-sudah," Kakashi akhirnya memutuskan bahwa ini saat yang tepat untuk melerai—tepatnya mencegah emosi Sakura semakin berkobar. "Kita kan sudah lama tidak makan bersama seperti ini, bergembiralah sedikit."
Mendengar kata-kata gurunya yang lumayan bijak itu membuat ketiga murid itu bingung sendiri. Mulut Naruto bahkan sudah terbuka dan tanpa bisa ia tahan, ia sudah menceletuk, "Wow, Kaka-sensei, apa kau salah minum obat?"
"Soal ini aku setuju dengan Naruto," sahut Sakura menambahkan seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalian ini tidak sopan," Kakashi berkata dengan nada terluka.
"Tapi itu kenyataannya, Kaka-sensei!"
"Ah sudahlah," Sakura memotong malas. Selalu saja begitu setiap mereka berkumpul. Meributkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diributkan. "Ngomong-ngomong, tumben kita makan siang di Yakiniku-Q. Biasanya di Ichiraku," ia melirik ke arah Naruto.
Naruto menggembungkan bibirnya, "Sebenarnya aku juga tidak begitu suka. Dompetku sedang tipis sekarang, mana aku harus menghidupi Teme lagi," keluhnya tanpa malu. Sasuke langsung mendelik ke arah calon Hokage itu.
"Hei, kalau aku tidak salah ingat, kau hanya memberiku ramen instan selama ini," pemuda Uchiha itu menjawab tak terima. Dasarnya saja si Naruto yang memang berkantung tipis, pakai menyalahkan dirinya lagi. "Dan kalau kau mau tau kenapa kau bodoh, jawabannya karena kau selalu makan ramen," tambahnya dengan kejam.
"TEMEEEE! Apa-apaan itu, menghina ramenku tercinta! Dasar tidak tau terima kasiiih."
Kakashi dan Sakura saling berpandangan, kemudia secara bersamaan menghela napas pasrah. Dasar dua orang ini, tidak pernah berubah.
.
.
"Arigatou gozaimasu, Kakashi-sensei!" Naruto dan Sakura kompak berteriak begitu mereka keluar dari warung langganan tim Asuma itu.
"Bukan apa-apa," Kakashi berkata santai, memasukkan kembali dompetnya yang rasanya lebih tipis dari sebelumnya ke dalam kantung celananya. "Toh aku jarang mentraktir kalian makan," ia menambahnkan.
"Bukan jarang, Kakashi-sensei," Sakura mengoreksi kalimat gurunya itu. "Tepatnya sama sekali tidak pernah. Kau selalu membuat Yamato-taichou membayar makanannya," ia menggelengkan kepalanya, teringat kalimat 'menjebak' sang guru agar terlepas dari kewajiban membayar makanan.
Kakashi tersenyum kecut. "Ya, ya, terserah kalian sajalah," ujarnya pasrah. "Oh ya, Naruto, bukankah kau akan berlatih dengan Sasuke setelah ini?"
Naruto menatap Kakashi bingung, memangnya kapan ia bilang mau berlatih dengan Sasuke? Sehabis makan pula. Sasuke yang berada di sampingnya ikut memasang wajah apa-maksudmu-kapan-si-bodoh-ini-mengajakku. Kakashi mengedipkan matanya samar, mencoba mengirimkan sinyal sudahlah-ikuti-saja kepada dua murid laki-lakinya itu. Sasuke—yang memang gampang mengerti—mengangguk perlahan, kemudian menyodok rusuk Naruto tanpa ampun, membuat Naruto berteriak kesakitan.
"Apaan sih, Teme?" calon Hokage itu tidak terima atas perlakuan sahabatnya.
"Apakah kau lupa, Naruto, soal tadi..." jawab Sasuke, menunggu si rambut kuning menyadari maksud Kakashi untuk meninggalkan Kakashi dan Sakura. Sebenarnya Sasuke juga tidak terlalu paham, kenapa juga mantan gurunya itu menyuruhnya begitu. Tapi toh ia menurutinya saja.
Sementara itu, Sakura yang hanya melihat ikut penasaran, mereka ini kenapa sih? Kok rasanya ada yang aneh?
Naruto masih memasang wajah tak mengerti, apa sih maksud kedua orang itu. Sampai akhirnya Kakashi membuka suaranya lagi, "Bukankah kau ingin mencoba mengalahkan Sasuke, eh, Naruto? Kurasa sekarang waktunya pas," ujarnya kalem.
Naruto langsung mengangguk dengan semangat. "Benar juga! Kali ini aku pasti akan mengalahkan Teme!" ia meniru pose khas Maito Gai minus kilauan di giginya.
Sasuke mendengus meremehkan, "Hanya di mimpimu, Dobe."
"Ayo kita buktikan, kalau begitu," ia langsung menarik lengan Sasuke, membuat pemuda itu mengikuti si penarik menuju ke tempat latihan terdekat.
"Dasar, mereka itu," Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya sok dewasa, padahal toh ia menikmati tingkah kawan setimnya yang tidak berubah itu.
"Kurasa mereka akan selamanya seperti itu," sahut Kakashi menimpali, matanya masih mengikuti dua sosok yang bahkan sudah memulai pertarungan mereka sebelum sampai di tempat seharusnya. Diam-dia ia bersyukur dengan kebodohan Naruto. Ups.
Sakura tersenyum, ikut mengamati aksi tending menendang antara Sasuke dan Naruto itu, "Tapi kurasa bagus juga yang seperti itu. Mereka jadi terlihat akrab kan?" ia melirik ke arah sensei di sebelahnya itu.
Kakashi tertawa sebelum berkata kalem, "Lalu bagaimana denganmu? Perubahan sikapmu ke Sasuke itu terlihat sekali lho."
Tampang Sakura langsung mengkerut, "Sebenarnya tidak begitu juga, Kaka-sensei. Aku hanya.. well, aku bingung harus bagaimana padanya," ujarnya diakhiri dengan sebuah helaan napas panjang.
Laki-laki berusia kepala tiga itu hanya bisa menatap sang murid dengan simpati. Dengan kapasitas otaknya, ia sudah bisa dengan mudah menebak apa yang sedang dialami oleh gadis di sebelahnya. Dan jujur saja, kalau dia yang ada di posisi Sakura, ia juga akan bersikap seperti itu. Berada di tengah-tengah dua pemuda dengan sifat dan perangai hampir sama dari dua klan yang berbeda ini bisa dianggap anugerah tapi juga bisa dianggap petaka.
"Apa ini ada hubungannya dengan Neji?" Kakashi membuka suaranya lagi.
Sakura mendongak, menatap ke satu mata Kakashi yang tertampang di wajahnya yang nyaris tertutup itu, "Kenapa Kaka-sensei bisa berpikiran begitu?"
"Entahlah," Copy-nin itu mengangkat bahunya. "Insting seorang guru mungkin?" lanjutnya sembari mengedipkan matanya yang terlihat.
Seulas senyum muncul di wajah Sakura, "Pasti bohong. Iya kan?"
"Mungkin," Kakashi terkekeh, ia memberi isyarat agar gadis berambut merah muda itu mengikutinya. "Kau bisa membicarakannya padaku, Sakura."
"Kaka-sensei gampang sekali membacaku," komentar Sakura dengan nada ringan. "Singkatnya Neji ingin agar aku tidak dekat-dekat dengan Sasuke. Dan menurutku… dia ada benarnya juga. Aku butuh menetralkan perasaanku," ceritanya dengan singkat. Kakashi tidak perlu tau soal Sasuke dan Neji yang nyaris saling mencekik dan Sasuke yang datang malam-malam ke kamarnya, begitu menurutnya.
"Kau masih menyukai Sasuke, ya, Sakura?"
Sakura hanya diam. Tak berani mengiyakan tapi juga tak berani menyangkal. Memikirkan fakta bahwa Sasuke pernah menyatakan perasaan kepadanya saja sudah membuat pipinya memanas. Apa ini berarti ia masih menyukai Sasuke? Atau cuma reaksi alami biasa? Sakura juga tidak tahu.
"Lalu bagaimana dengan Neji?" Kakashi bertanya lagi saat mendapati jawaban bisu dari Sakura.
"Aku nyaman bersamanya, aku merasa beruntung bertunangan dengannya, dan kurasa aku menyukainya sebagai seorang laki-laki," ujarnya pelan setelah beberapa saat diam. Sebenarnya Sakura sama sekali tidak pernah membayangkan akan membicarakan hal macam ini dengan Kakashi.
Kakashi tersenyum di balik maskernya, "Kembali ke pertanyaan awal, kalau Sasuke?"
Gadis berambut merah muda itu menarik napasnya perlahan, "Aku… sebenarnya aku ingin sekali membencinya, tapi kurasa aku tak akan bisa. Bagaimanapun ia adalah temanku," ungkapnya setengah jujur setengah bohong.
"Begitu ya.." Kakashi kembali mengangguk-angguk. Jujur saja, sebenarnya ia paling lemah di persoalan seperti ini. Tapi melihat murid perempuan satu-satunya—yang dulunya selalu ia nomer tigakan—dalam keadaan sulit seperti ini, rasanya tak tega juga. Setidaknya ia menunjukkan perhatian—tidak seperti beberapa tahun yang lalu, begitu pikirnya. "Well, sebenarnya ada yang harus kukatakan padamu tentang Sasuke."
Si gadis Haruno itu menatap Kakashi penasaran, "Hah? Soal apa?"
Kakashi menarik napas berat sebelum berkata, "Soal hukuman Sasuke.. akan diputuskan besok."
Dan seketika itu pula, pikiran Sakura terasa kosong.
.
.
To Be Continued
.
.
Author Gajeness
Hueeee... oke, rasanya aku nggak enak buat nerusin fic ini lagi. Terlalu lama nggak aku lanjutin, dan pastinya aku ngerasa kemampuanku nggak memadai buat bikin fic macem ini. Dan jujur aja, aku ragu, emang masih ada yang mau baca? Aku baca sendiri aja udah malu, apalagi dibaca orang lain? Nggak kuaaaattt.
Pertama-tama, aku minta maaf buat yang mungkin nungguin ini fic—dan jujur aku nggak yakin ada yang nunggu. Maaf banget. Setaun ini taun yang lumayan berat buat aku. Dan ide buat fic ini rasanya seret mulu. Nggak sreg lah, dan lain sebagainya. Mana chap ini agak pendek dan nggak menyelesaikan masalah. Uh, sebenernya yang paling berdilema itu authornya. *plaaak*
Kedua, aku bakal berusaha buat nyelesaiin fic ini secepat mungkin—kalau kira-kira masih ada yang menginginkan. So, ayo kasih pendapat kalian, enaknya aku lanjut apa nggak? Kalo nggak ya.. ya udah. Hhe. Buat yang review di chapter sebelumnya, maaf banget nggak bisa aku bales satu-satu. Terlalu lama update jadi nggak enak :p *taboked*
Terakhir, mohon kritik dan sarannya yaaa. Dan, semangatnya! Aku butuh bangeeeet. Aku sampe detik terakhir ngetik nih fic masih nggak yakin buat nerusin. Sedih banget nggak sih?
Oke deh, maaf ya kalo aku ngelantur nggak jelas gini. Yang jelas, review ya! *dilemparsandal*
