Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!

Story plot ya milik saya #digebuk

LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORTS ESPECIALLY BASKETBALL.

LONG LIVE SPORTS!

P.S: Warning for some spoilers and lines from the original anime and manga :3 (and adding some extra scenes

Episode tag: Kuroko No Basuke Episode 38)


Matamu terbelalak, terbuka lebar dan yang ditangkap oleh pandanganmu hanyalah kegelapan. Beberapa kali kau kerjapkan dan melihat ke sekeliling, hanya kau yang berdiri disitu. Gelap, sendirian, dan...

Takut.

Kau memeluk kedua lenganmu dengan tanganmu–mencoba menenangi dirimu yang sedikit bergetar. Perasaan aneh dalam dirimu mencuat perlahan, entah apa itu; kaupun tak tahu. Dan kau bertanya-tanya; Dimana dan kenapa? Bahkan kau tak tahu apa-apa tentang ini. Dan kau hanya memakai baju putih terusan hingga lutut dan bertelanjang kaki. Kakimu menapak kebawah. Dirimu seperti melayang diudara.

"(Name)-san." Kau menoleh ke belakangmu dan mendapati Kuroko berdiri tak jauh dari tempatmu berdiri. Ia memakai kaos hitam polos dengan celana putih polos dan bertelanjang kaki juga.

"Tetsuya-kun!" Kau mencoba menghampirinya–hendak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi disaat kau mencoba menyentuhnya; ia menghilang dalam sekejap. Matamu terbelalak–kaget. Kepalamu tolah-toleh dan hanya bisa berdiri disana.

"A-Apa?.. Hilang..?" pikirmu tepat disaat sosok kedua memanggil namamu.

"(Name)." Kau menoleh lagi ke arah sebaliknya. Muncul Kagami diujung sana. Berpakaian sama seperti Kuroko ditambah tanpa alas kaki.

"Taiga-kun!" kau berlari lebih cepat untuk menghampirinya tapi hal yang sama terjadi lagi; tepat disaat kau hampir menyentuhnya, ia meghilang dengan cepat. Sudah tak ada disana lagi.

Kau mulai bingung. 'A-Apa-apaan ini, sebetulnya apa yang terjadi?!' teriakmu dalam relung hatimu yang kebingungan.

Hingga suara ketiga terdengar oleh telingamu. Kepalamu kau tolehkan dengan cepat dan melihat Kise berdiri disana–dengan penampilan yang sama.

"(Name)-chii."

"Ryouta-kun!" kau memanggilnya dan mencoba berlari lebih cepat disaat sosoknya menghilang lagi dan kau berhenti.

'Oke, (Name), tenangkan dirimu. Mungkin ini hanya ilusi–ini pasti mimpi 'kan? Iya 'kan?!' pikiranmu berputar sampai situ ketika ada sosok yang memanggil namamu lagi.

"(Name)." Terlihat seorang pemuda berkacamata, tak jauh dari tempatmu berdiri. Midorima.

"Shin-kun! Apa yang–" saat kau berlari menghampirinya smabil menanyakan itu, ia menghilang lagi–seperti tiga orang yang lainnya.

"O-Oi.." Ini benar-benar aneh, pikirmu.

"(Name)." Aomine berdiri sebelah kananmu tapi jaraknya tidak terlalu dekat. Kau mencoba meraihnya tapi ia kemudian juga sama menghilangnya seperti mereka disaat kau ingin menyentuhnya.

(Name)-chin." Kau menoleh lagi dan melihat Murasakibara berada disana, didepanmu. Kau mencoba untuk menghampirinya tapi kemudian ia juga menghilang.

Kau berusaha tenang sambil mencoba mendapatkan oksigen sebanyak mungkin. "Kenapa mereka menghilang?.. Apa yang sebenarnya terjadi?.." ujarmu pada dirimu sendiri, dan setelah itu juga kau mendengar suara lagi.

"Kau tak bisa lari lagi, (First Name) (Last Name)."

Kepalamu kau tolehkan kebelakang dan menemukan seorang pemuda. Rambutnya hitam menyala, berkulit putih pucat,bertubuh lebih tinggi darimu, memakai baju serba hitam–berdiri disana. Kau tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena jarak kalian lumayan jauh.

"..Siapa kau?" tanyamu hati-hati–bersikap waspada dan memasang muka serius.

"Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang terpenting, kau hanya perlu tahu tentang satu hal." Kau menahan nafas perlahan saat ia mengatakannya.

"Kau telah terjebak."

Tiba-tiba; badanmu membeku seketika–takbisa kau gerakkan sama sekali. Pergerakanmu terkunci.

"A-Apa–" Kau melihat pemuda itu. Pemuda itu hanya memandangmu dalam diam sambil menunjukkan ekspresi gloomy–yang kau herankan,dan berkata.

"I'm sorry."

Terbelalak dan kaget, itulah ekspresimu.

Dan kau serasa terjatuh ke dalam sebuah lubang yang gelap tanpa dasar. Tanganmu mencoba untuk menggapai tapi tak bisa.

Kau tak berdaya.

Kau telah terjatuh.

Jatuh, jatuh lebih dalam, dan lebih dalam lagi.

Lebih dalam.

Dan lebih dalam lagi, dan–

"!"

Matamu terbelalak lebar, nafasmu tersengal-sengal, keringat dingin memenuhi wajah dan sekujur tubuhmu, beberapa saat kemudian kau melihat dihadapanmu terlihat langit-langit kamarmu, kau melihat ke sekeliling, kau sudah berada di kamarmu dengan selimut tebal nanempuk yang menyelimuti tubuhmu saat ini.

Kau mencoba bangun dalam posisi duduk dan memegang kepalamu dengan kedua tanganmu yang bergetar, menyisiri rambutmu ke belakang kepala dan mencoba menenangkan dirimu, kepalamu sedikit pusing.

"...Mimpi?.." gumammu kecil sambil mencoba untuk mengingat mimpi tersebut.

"Mereka semua...Ada didalam mimpi itu juga.. " kau mengingat orang-orang yang kau baru saja kenal disini–yang muncul di mimpimu.

Kuroko Tetsuya yang sudah kau anggap sebagai sosok kakak laki-laki bagimu, Kagami Taiga yang basketball idiot yang sudahseperti sahabat–serta partner latihan bagimu, Kise Ryouta yang selalu membuat suasana ceria diantara kalian, Midorima Shintarou yang tsundere tapi tegas, Aomine Daiki yang mesum dan selalu bertengkar dengan Momoi Satsuki, Himuro Tatsuya yang ramah dan Murasakibara Atsushi yang childish.

Kau menghela napas–merasa berat dan lelah. "Oh God, you've got to be kidding me..." kepalamu kau arahkan ke kanan, melihat dari balik jendela kamarmu bahwa mentari sudah menerangi bumi. Jam menunjukkan pukul 8 di pagi hari.

Dan kau bangun di hariyang tak biasanya cerah, ditambah dengan sinar mentari yang setidaknya menerangi hari yang dingin, di akhir musim gugur tersebut–tak mengurangi niat para manusia yang tengah beraktifitas sekarang ini.

Kecuali kau.

Ya, merasa bangun kesiangan, malas akan dinginnya cuaca membuatmu mengantuk lagi setelah tadinya ingin berangkat dari tempat tidurmu yang empuk untuk meringkuk dalam selimut; layaknya hewan yang tidur untuk hibernasi. Perkara orang malas ya memang begini. Mau diapakan lagi? Kau juga masih merasa lelah.

"Mimpi itu... Apa maksudnya.. Kenapa juga mereka ada didalamnya, dan siapa pemuda itu–AARGGH! Sialan!" Kau hanya bisa menjerit frustasi sebelum akhirnya pintu kamarmu dibuka oleh Riko yang telah berpakaian lengkap.

Kau terperanjat akan suara dobrakan yang ia buat sebelum berujar padamu.

"Mou, (Name)-chan! Jangan teriak! Ayo bangun. Sudah jam berapa ini?!" ia masuk ke kamar dan menarik selimutmu sehingga kau bangun sambil menggerutu.

"Cih.. Aku masih mengantuk,.. lima menit lagi ya..." Kau menarik kembali selimut dan meringkuk kembali ke posisi PW-mu; yang disambut oleh helaan napas Riko.

"Ayo bangunlah, katanya kemarin kau mau ikut mereka latihan sehabis kami kepemandian?"

Kau menggerutu sambil mencoba duduk, kemudian menjawab."Memangnya aku berkata begitu?"

Riko menepuk jidatnya dan menghela napas, mencoba sabar akan sepupunya yang lemotnya nggak ketulungan ini kalau mengingat sesuatu.

"Kau yang bicara kemarin pas menelponku, kenapa jadi balik bertanya padaku?" ucapnya saat kau mulai menggerakkan badanmu yang masih memakai piyama; untuk berdiri dari tempat tidurmu.

"Baiklah, baiklah..Tunggu sebentar, aku mau mandi dulu." Ujarmu sambil berjalan menuju kamar mandi dalam kamarmu.

Riko berujar, "Aku tunggu dibawah ya!" dan disahut olehmu dari dalam kamar mandi sebelum gadis berambut coklat karamel tersebut keluar dari kamarmu dan menutup pintu.


"Hoaammm..." Dengan uapan lebar untuk kesekian kalinya, menandakan bahwa kau benar- benar mengantuk untuk hari ini. Riko dan kau berjalan menuju mini market sebelum pergi menuju gymnasium.

Kau begadang hingga jam 2 dini hari karena menonton serial drama korea terbaru yang kau sewa dan berniat untuk menonton dengan cara marathon–langsung dilihat dari awal sampai akhir dan tertidur setelah itu.

'Kalau diajak begini, mending tadi malam aku tidak usah nonton–Ah, tapi yang jadi hero-nya ganteng banget, jadi pengen pacarin deh, hehe...'

(Name), mimpi lu.

Pikiranmu mulai tidak fokus dan kemudian tersadar ketika Riko menyentakmu dengan sahutannya yang nyaring, dan mendadak kau menjadi linglung.

"Ah–Huh?Apa?"Kau tolah-toleh saat Riko hanya bisa menepuk jidatnya lagi dengan pasrah karena kelakuanmu tadi.

"Aku tidak kenal kau lagi." Dan Riko berjalan mendahuluimu dengan wajah datar nan remang-remang dalam kamus Author yang buat.

Kau yang bingung hanya bisa terperanjat dan berari kecil untuk menyusulnya dengan nada 'nangis kejar'.

"R-Riko-Oneechan, jangan ditinggalin dong!~~~"


"Kami kembali." Riko membuka pintu gymnasium besar itu dan melangkahkan kakinya bersamamu yang sekarang masih mengekorinya. Kalian berdua membawa kantong plastik yang berisi makanan dan cemilan ringan juga minuman isotonik untuk para anggota klub yang tengah latihan.

Ternyata disana sudah ada Paman Kagetora yang sedang membaca data-data dari papan analisis Riko seraya menoleh pada mereka.

"Ah, kau membawa (Name) rupanya." Ucapnya, melihat padamu dan ia mengangguk kecil.

"Dimana yang lainnya?" tanya Riko pada pria paruh bayatersebut.

"Mereka kusuruh latihan lagi. Setidaknya ada sedikit kegiatan untuk membuat mereka tahan dalam tekanan di pertandingan nanti." Ujarnya dan melihat ke arah papan analisis yang ia pegang sebelum menambahkan, "Si mata empat itu sudah kusuruh mencoba latihan ekstra, sedangkan si muka manis dan muka kucing itu juga sudah menemukan jati dirinya masing-masing." Ia melirik ke arah data lagi.

"Dan tiga lainnya juga sepertinya sudah menentukan jalannya masing-masing jadi tidak ada masalah untuk mereka." Tambahnya lagi.

Dan kau hanya bisa berwajah pokerface layaknya Kuroko ketika pria kepala empat itu menyebut kakak-kakak kelasmu dengan nama julukan yang benar-benar payah.

'Paman,.. Aku tidak bisa bilang apa-apa untuk yangbegini.' Pikirmu dalam hati ketika ia menyebut kakak-kakak kelasmu dengan julukan seperti tadi.

Riko yang sepertinya tidak mempermasalahkan itu, berpikir lagi akan perkataannya."Hmm.. Lalu bagaimana dengan anak kelas satu, Ayah?" tanyanya lagi.

Kagetora menghela napas kecil dan berujar. "Mereka juga sama saja, masih harus banyak latihan lagi. Tapi masih lumayan. Ah, dan soal si rambut merah, dia bisa diandalkan kecuali emosinya yang sering membludak. Dia butuh banyak pelajaran dalam mengontrol emosinya sendiri."

"Bagaimana dengan Kuroko?" tanya Riko. Pria bertubuh lumayan tinggi itu menjawab langsung.

"Benar-benar lemah. Staminanya pas-pasan dan masih banyak kekurangan untuknya." Kau merasa bahwa memang itu benar, tapi Kuroko juga pemuda yang selalu berlatih keras dan pantang menyerah. Dan kau tahu kalau ia berlatih dalam keahlian passingnya yang bisa berguna saat bertanding di lapangan.

"Tapi," Kau mendongak akan ujarannya lagi.

"Aku sudah merekomendasikannya dinding-dinding yang tepat dan cocok untuk dia berlatih."

Kau tertegun sejenak. Mungkinkah... Mungkinkah Paman Kagetora memberikan kesempatan kedua pada Kuroko?

Tak sadar, kau tersenyum kecil–dan itu disadari oleh pasangan ayah-anak itu dengan memasang ekspresi heran.

"Kenapa tersenyum, (Name)?" Kagetora bertanya padamu dan kau hanya bisa cengengesan sambil menggeleng pada mereka berdua.

"Tidak, tidak kenapa-kenapa kok, hehe..." Riko memandangmu sebentar sambil kemudian berujar.

"(Name)-chan, obatmu belum kamu minum ya?"


Napas tersengal-sengal keluar dari mulut yang kering–membuat beberapa uapan kecil keluar dari mulut tersebut di udara yang mulai mendingin di akhir musim yang akan segera berganti–lamban tapi pasti.

Dan terlihat seorang pemuda yang melakukannya. Ia bertekuk lutut sambil mengambil napas sebanyak mungkin yang ia bisa untuk menenangkan dirinya setelah berlari. Setelah dirasa cukup, ia kembali berjalan dengan lari-lari kecil sebelum berjalan masuk ke sebuah gymnasium dan mendapati kalau beberapa orang sudah berada disana. Teman-temannya juga kakak kelasnya sudah berada disana.

Pemuda bersurai biru muda tersebut duduk di bangku panjang sebelum menghela napas panjang. Ia menunduk untuk meraih tas olahraganya dan membuka resleting tas tersebut, sebelum mengeluarkan handuk kecilnya yang berwarna putih; untuk sekedar menyeka keringatnya di hari yang dingin sekarang ini.

"Otsukare, minna."

Sahut seorang gadis berambut coklat karamel yang membawa kantong plastik ditangannya–Riko Aida, dan dirimu yang menyusul dari belakang. Riko membagikan minuman isotonik kepada kelas dua sementara kau membagikan minuman berjenis sama kepada teman-teman seangkatanmu.

"Otsukare. Kalian berusaha keras ya." Ujarmu saat membagikannya pada mereka secara berurutan.

"Terima kasih, (Name)-chan." Furihata berterima kasih atas minumannya dan langsung meminum cairan tersebut lewat mulutnya.

"Ah, segarnya!" ujar Kawahara dan Fukuda bersamaan yang sudah kehausan daritadi, membuatmu hanya bisa tertawa kecil akan kelakuan mereka.

"Besok lusa ya, pertandingannya?" tanyamu pada Kuroko yang mengangguk kecil saat kau memberinya salah satu botol minuman yang isinya minuman isotonik.

"Iya, makanya Kagetora-san menyuruh kami untuk lebih giat berlatih." Ujarnya tenang.

Kau duduk disebelah Kuroko yang sedang meneguk minumannya dari botol. Kau menatap kosong kearah lapangan latihan basket tersebut.

"Tetsuya-kun." Sahutmu setelah diam beberapa saat.

Pemuda bertubuh lebih tinggi tersebut merespon sahutanmu. "Iya, (Name)-san?"

Kau diam sejenak sebelum berkata, "Apa mungkin ya... Kalau kita bisa lolos ke semifinal?"

Kuroko menolehkan kepalanya padamu sejenak, Tak menyangka pertanyaan yang bersifat pesimis itu dilontarkan dari mulut mungilmu.

Seakan kau tahu ia menanyakan pertanyaanmu tadi, kau menambahkan. "Aku takut, kalau nanti kita tidak bisa lolos. Walaupun semuanya berusaha keras dan bersikap optimis, tapi–"

"Itu tidak akan terjadi."

Kau menoleh kearahnya yang tengah menatapmu dengan pandangan berarti. Dirimu tertegun sejenak disaat ia mengatakan, "Kita pasti bisa lolos. Dan aku percaya akan itu."

Tangannya terangkat dan mengelus pelan pucuk kepalamu sambil tersenyum kecil. "Jadi tidak usah khawatir, (Name)-san. Ya?" ujarnya lembut; seperti layaknya seorang kakak memberitahu adiknya agar tidak takut.

Kau hanya bisa terdiam akan jawabannya dan mengangguk kecil–membuatnya puas akan itu dan menarik tangannya sendiri untuk menggenggam botol isotonik sebelum meminumnya lagi.

Tak lama kemudian Riko membunyikan peluit, memberitahukan bahwa saatnya kembali berlatih. Dan semuanya menuruti perintah gadis tersebut dengan teratur. Sementara kau hanya menunggu–duduk dibangku panjang dan hanya bisa melihat teman-temanmu berlatih lagi.

'Tapi... Aku masih berfirasat yang tidak-tidak.. Apa karena mimpi aneh itu ya–Ah, tapi 'kan tidak ada hubungannya, atau–Astaga, pikiranku mulai kacau..' pikirmu dan kemudian hanya bisa menghela napas dan kedua tanganmu hanya bisa memijit kedua pelipismu; sekedar untuk menghilangkan sedikit pusing, kau berpikir karena tidak tahu apa arti hal tersebut.

"Ah, dasar aku ini..." gumammu kecil sambil kemudian menghela napas panjang kemudian suara berat menyeletuk.

"Dasar kenapa?"

Kau menyadari kalau Paman Kagetora berada didepanmu. Kau mendongak, "Ah, Paman."

"Keberatan kalau pria tua ini duduk disamping si nona yang manis?" goda Paman Kagetora padamu dan kau hanya bisa tertawa kecil akan itu. Paman Kagetora selalu bisa membuatmu merasa lebih baik, dari dulu ketika kau masih kecil.

"Sedikit keberatan, sih." Ujarmu balik, mencoba membalas godaan pamanmu yang berkepala empat ini–yang disambut tawa lepas olehnya dan duduk disampingmu. Kalian berdua melihat para anggota yang tengah berlatih dalam diam selama beberapa saat.

Iapun memulai percakapan. "Bagaimana dengan sekolah dan ekstrakulikulermu? Kau merasa betah?" tanyanya padamu sementara kau membalas dengan anggukan.

"Kurasa begitu. Aku cukup menikmatinya." Balasmu santai, matamu masih mengikuti gerakan-gerakan yang dibuat oleh anggota-anggota yang berlatih.

"Dan kau akrab dengan semuanya?" tanyanya lagi; kau mengangguk juga.

"Begitulah, mereka semua baik sekali padaku. Kami sering berkumpul bersama–bahkan mereka juga mengajariku sedikit teknik basket dan bertanding one on one." Tambahmu dan ia hanya mengangguk-angguk kecil, mendengarkan ujaranmu.

"Yah, setidaknya kau menikmati masa mudamu–walau kau berpikir bahwa kau tidak melakukan apa-apa." Ucap Kagetora, membuatmu penasaran akan perkataannya.

"Maksudnya, Paman?" tanyamu–membuatnya hanya bisa tersenyum kecil.

"Bukan apa-apa." Ia tertawa dan kau hanya bisa memutar kedua bola matamu saat menanggapinya.

"Iya deh.." ujarmu dan kalian diam sesaat sebelum kau bertanya.

"Paman." Sahutmu padanya.

"Hm?" ia melirik padamu.

"Bagaimana rasanya ketika Paman jadi bagian dari tim nasional Jepang? Kudengar dari Mama dan Riko-Oneechan, Paman salah satu dari mereka." Tanyamu penasaran.

Kagetora tersenyum lebar dan mulai bercerita tentang masa mudanya yang pernah ikut dalam kejuaraan Dunia sebagai tim basket perwakilan dari Jepang.

"Satu kata. Luar biasa. Bayangkan orang-orang menyoraki timmu dan menyemangatimu ketika memasukki lapangan untuk bertanding dengan tim lain. Wah, pokoknya ramai dan padat sekali! Kau pasti suka, (Name)!"

Matamubersinar semangat sementara ia tersenyum melihatmu dengan antusiasnya saat ia menceritakan pengalamannya.

"Benarkah? Lebih Ramai dari Street Basketball dan NBA?" ujarmu meyakinkan dirinya dan ia hanya bisa tertawa lagi.

"Hahaha... Paman tidak bohong padamu kalau soal basket, (Name). Dan iya, lebih ramai dibanding NBA maupun permainan basket jalanan di Amerika sana." Ujarnya membuatmu yakin dan termotivasi.

"Wahh... Hebat! Aku juga ingin bisa seperti itu!" ujarmu senang. Kagetora tersenyum lebar dan menepuk kepalamu pelan.

"(Name)." Kau mendongak.

"Iya, Paman?" tanyamu dan ia berujar.

"Ganbatte."

Satu kata yang membuatmu menghormati Pamanmu sekali lagi. Yang selalu mendukungmu selain sepupumu Riko.

Kaupun mengangguk mantap. "Hn!"


Setelah pulang dari latihan klub, kau memutuskan untuk berkeliling kota Tokyo. Sendirian. Ya, kau sudah bisa menentukan arah sendiri sehingga kau tidak tersesat. Lagipula, kau mudah mengingat tempat dan peta.

Ada barang yang ingin kau beli dari kemarin-kemarin, tapi tidak bisa menemukannya dimanapun. Barang itu langka bagimu dan kau ingin segera mendapatkannya.

"Edisi barunya–Aku harus mendapatkan buku itu!" tekadmu untuk membeli sebuah buku yang kau idamkan meluap-luap dalam dirimu. Tak lupa kau juga sudah membawa uang yang sudah kau tabung di dalam tas kecil yang kau pakai sekarang.

(Name), ingat sebentar lagi ujian sekolah lho.

Saat kau tengah menyusuri toko-toko yang ada di pinggir jalan, penglihatanmu melihat sebuah bangunan yang berdiri tegak di pinggir jalan di pinggir perempatan–tepat di seberang jalan yang kau tapaki.

Sebuah toko buku yang lumayan besar, bangunan dindingnya berwarna pastel putih dan disamping pintu depan terdapat papan banner yang bertuliskan diskon 70% yang berlaku untuk minggu ini. Dan kau memutuskan untuk mampir ke bangunan besar tersebut. Siapa tahu buku yang kau inginkan dijual disini.

Langkah kakimu menyelaraskan suara dari dalam yang samar-samar ramai. Dilihat sepertinya tempat ini lumayan terkenal dan cukup banyak juga pengunjungnya, pikirmu dalam hati.

'Kalau di pusat kota pastinya ramai.. kenapa aku tidak kepikiran ya..' Kau hanya bisa menghela napas sambil berjalan pelan akan pikiranmu itu. Menyusuri satu persatu sesi buku yang ada, kau mencoba mencari yang sesuai dengan minatmu.

Dan kau berhenti sejenak. Terdiam. Lalu menangis bahagia. Sedetik kemudian kau melakukan sujud syukur.

Oke, yang terakhir itu tolong pura-pura tidak baca (baca: dilakukan)saja.

Kau terpana akan apa yang kau temukan sambil berekspresi dengan wajah seperti diatas tadi.

Sesi buku komik. Satu sesi buku yang panjang dan besar.

Kau berurai air mata. Air mata buaya tepatnya.

Oke, maafkan Author yang makin ngaco mengetik cerita ini. Lanjut.

Dengan perasaan senang dan bahagia karena menemukan 'harta karun terpendam', kau menuju sesi itu dan melihat-lihat. Buku-buku komik yang terkenal dan juga komik debut dari mangaka yang membuatnya–terbungkus rapi dalam samak transparan plastik dan bersedia untuk layak dibeli oleh konsumen.

"Astaga! Buku ini.." Tanganmu mengambil sebuah buku komik bergambar tokoh laki-laki dengan memakai baju tuxedo hitam, berambut hitam legam keriting yang lumayan panjang, tatapan mata rubynya tajam dan menusuk, serta ditangannya terdapat sebuah sabitemas berukuran besar dan tebal, dengan dasar background berwarna putih polos. Cover yang simple tapi buat yang lihat jadimemasang tampang wow.'

"'Hitman Slayer' Volume 12 yang Limited Edition! Dan edisi berwarna pula! Gila, ini langka. Berapa harganya ya.." kau melihat harga yang tertera diatas samping barcode. Dan sektika kau hanya bisa terdiam.

20.000 yen. Lebih mahal daripada sepatu barumu.

'Kalau beli ini, aku bakal langsung bangkrut, uanjing!' kutukmu dalam hati yang telah patah berkeping-keping gegara mahalnya harga satu buku itu. Uangmu takkan cukup untuk membelinya, bodoh. Lagipula mana ada orang yang mau membeli buku dengan harga selangit. Kecuali kalau ia adalah otaku yang kaya raya. Pasti sudah ia bawa dengan paket.

"Nggak jadi, deh." Kau menaruh kembali komik tersebut pada tempatnya dengan tak ikhlasnya sambil menghela napasdan akhirnya kau memilih untuk mengambil buku komik yang lain–shoujo manga dan BL manga.

Kalau tidak tahu BL manga, tanyakan para fujoshi saja ya (pesan Author) Oke lanjut!

Setelah dari sesi komik, kau berjalan menuju sesi buku fiksi-non fiksi alias novel―yang kebetulan berada dekat dengan sesi komik―dan melihat-lihat sebentar.

Kau menelusuri barisan buku yang telah tertata rapi tersebut dan membaca sekilas judulnya. Fiksi Sci-fi, aksi laga, roman, nonfiksi–yang diangkat dari kisah nyata, komedi-parodi, misteri dan sebagainya. Jari-jarimu menelusuri judul-judul yang tercetak di sampul buku itu sendiri.

"Ah." Kau menemukan buku tersebut. Buku itu adalah incaranmu dan kau idam-idamkan untuk membelinya karena sudah mulai limited edition.

Akhirnya, surga menanti didepan matamu.

Nggak ding, bercanda. Lanjut ya.

Tanganmu mencoba untuk mengambil buku tersebut yang berada disalah satu rak tersebut. Tapi disisi lain, ada sebuah tangan yang memegang buku itu juga; tepat disaatmu memegangnya.

Kau terperanjat sedikit dan melepaskan peganganmu terhadap buku tersebut sebelum buku itu diambil oleh seseorang tersebut dan menampakkan dirinya dari rak sebelah.

Ternyata seseorang itu adalah seorang pemuda, badannya lumayan tinggi, berambut dan bermata abu-abu. Dan tatapan matanya...Serasa seperti tak ada cahaya apapun–alias kosong; membuatmu tertegun sejenak akan tatapannya yang mengarah padamu. Ia berjalan menuju dirimu yang tengah dumbstruck ditempat.

"A-Ano–"

"Ini." Ia menyodorkan buku light novel tersebut disaat kau mengerjapkan mata dengan bingung.

"Eh?"

Okay, double dumbstruck.

"Kau menginginkannya 'kan? Ambil saja." ujarnya dan menyodorkannya padamu. Kau melihat padanya lalu pada buku tersebut sebelum mengambil benda tersebut perlahan.

"Ah, tapi–" disaat kau ingin menanya, ia sudah melangkah pergi, malah menghilang diantara orang yang tengah mondar-mandir di toko tersebut. Kau mengerjapkan mata beberapa kali dan menoleh ke sekitar.

"Hah? Kok hilangnya cepat sekali?" gumammu bingung sebelum mengendikkan bahu dengan cueknya dan melihat buku novel tersebut. Buku berukuran sedang. Antara 12 -20 sentimeter panjang dan lebarnya. Disampulnya bertuliskan 'Above The Rainbow' dengan gambar ilustrasi yang cerah. Kau tertegun sejenak dan seketika ingat akan mimpimu tadi pagi.

Terperanjat kaget; Kau langsung mencoba untuk membuyarkan bayangan mimpi tersebut; mencoba dengan menggelengkan kepalamu cepat-cepat dan menghela napas setelah berhenti melakukannya.

'Astaga, kenapa aku ini? Mimpi itu hanya bunga tidur, ya 'kan?' pikirmu sambil mencoba berpikir positif. Pandanganmu menerawang, seperti orang parno–kosong dan hanya bisa tersenyum pahit sambil tanganmu memegang kepalamu yang serasa mulai tak waras–menurutmu.

"Ya...'kan?"


Pemuda berambut biru muda itu menutup resleting tas sebelum mengikat tali sepatunya, kemudian berdiri sebelum keluar ruangan tersebut dan keluar dari bangunan yang besar, dan berjalan seperti biasa dengan tenangnya, menuju ke arah kelompok yang tengah berkumpul.

"Ah, itu Kuroko." Ujar Kawahara–teman satu timnya dan seketika Riko yang tengah ditenangkan olehmu (karena tadi bete menunggu pemuda satu ini) mulai mengeluarkan omelan-omelan yang ia tahan padanya.

"Kami menunggumu selama 5 menit disini, kau tahu?! Sudah banyak waktu kita habiskan hanya untuk menunggumu, Kuroko-kun!" omelnya habis-habisan pada Kuroko yang menundukkan kepala, diam sambil meminta maaf dengan wajah pokerfacenya.

"Sumimasen deshita." Ucap Kuroko sambil mengerut.

Bukan mengerut yang itu ya. Ekspresi mengerut maksudnya.

Paham? Tidak? Ya pikirkan sendiri. Lanjut.

"Sumimasen deshita nanda yo! Kau itu menghilang dan muncul tiba-tiba. Bersikaplah lebih disiplin, turnamen akan dimulai, kau tahu?!" omel Riko pada adik kelasnya ini yang suka hobi hilang tiba-tiba.

"Sumimasen deshita–" "Awas kalau kabur lagi. Hukumanmu jadi dua puluh kali lipat tanggungannya."

Glek. Sepertinya Riko mulai ketularan clutch timenya Junpei-senpai, nih, pikirmu dalam hati sambil hanya bisa diam melihat sepupumu mengomel habis-habisan.

"Sudah, sudah.. Lebih baik kita segera pergi ke tempat pertandingan." Kiyoshi mencoba menenangkannya.

Riko yang menghela napas panjang, kemudian mengakhiri amarahnya dan berkata pada kalian semua.

"Baiklah, semuanya. Karena semuanya sudah berkumpul disini, mari kita berangkat sekarang."

"Baik!" ucap paraanggota dari tim Seirin serentak dan mulailah mereka melangkahkan kakinya menuju suatu tempat tujuan, dimana tempat tersebut akan menjadi saksi dari sejarah perbasketan nasional.

Dan dimana tempat itu diberlangsungkannya Winter Cup untuk tahun ini.

Bahwa tim Seirin High School akan mencetak nilai dan menjadi juara utama.


"Uwah... Besarnya!" Kau dan yang lainnya dibuat takjub akan besarnya tempat gedung olahraga yang akan diberlangsungkannya turnamen nasional tersebut. Terlihat banyak orang-orang yang sekedar berkunjung dan juga tim-tim dari daerah lain yang memasukki bangunan tersebut.

"Jangan melongo saja, ayo kita masuk. Upacara pembukaannya akan segera dimulai." Ujar Riko dan kalian masuk ke dalam bangunan stadion tersebut. Setelah check-in di tempat pendaftaran, kalian semua berjalan di lorong yang akan mengantarkan kalian kedalam stadion.

"Aku penasaran seberapa besar tempatnya." Ucapmu penasaran, dan tak sabar untuk melihat tempat dimana pertandingan Winter Cup akan berlangsung.

"Sebentar lagi juga sampai, tenang saja." Riko hanya bisa memaklumi dirimu yang biasanya suka kepo kalau tertarik akan suatu hal atau tempat.

Dan sampailah kalian didalamnya. Sudah banyak tim-tim lainnya yang berasal dari berbagai daerah sampai duluan dari kalian.

Kau hanya bisa terperangah. Tak menyangka akan sebesar ini lapangannya. Dan semuanya hanya bisa terikut melongo bersamamu; kecuali Riko yang hanya melihat-lihat dengan santainya.

"Baiklah, semuanya. Mari kita melihat-lihat sebentar." Dan kalian mulai berjalan untuk melihat-lihat. Banyak tim basket dari berbagai daerah datang kesini.

"Wah... banyak juga ya tim terkenal ada disini.." gumam Kiyoshi yang melihat-lihat, berjalan bersama kalian.

"Aku tidak menyangka akan seramai ini.." ujarmu polos, ikut-ikutan melihat-lihat lapangan dan juga tim lain.

Setelah itu, tim-tim yang mengikuti upacara pembukaan turnamen Winter Cup, berbaris rapi dan mendengarkan panitia yang berbicara.

"Maka dengan ini, turnamen nasional untuk SMA dan sederajat; Winter Cup akan segera dimulai." Ujar panitia, mengakhiri pidato singkatnya.

Dan setelah upacara pembukaan, di pinggir lapangan.

Riko mengamuk.

"Sialan! Apa yang si Kagami bodoh itu lakukan?! Upacara pembukaannya sudah berakhir!" ia mulai mengamuk karena baru tahu kalau ia terlambat untuk datang ke stadion dan melewatkan upacara pembukaannya. Maklum, Kagami pergi ke Amerika untuk menemui 'guru'nya disana dan berjanji akan segera kembali sebelum pertandingan.

Tsuchida hanya bisa menginformasikan keadaan Kagami yang sebenarnya–yang lupa akan perbedaan waktu dunia–kepada Hyuuga.

"Dia akan segera tiba disini." Ujarnya dan Hyuuga hanya bisa menghela napas. "Ya ampun.."

Sementara itu, yang lainnya melihat-lihat lapangan yang akan dibuat untuk pertandingan.

"Ini luar biasa..." kagum Furihata yang melihat-lihat lapangan pertandingan bersama Fukuda.

"Lapangan di Inter-High memang besar, tapi yang ini malah lebih besar." Sambung Fukuda yang ikut melihat-lihat.

"Dan juga, dimanapun kau lihat, sekolah-sekolah yang kita lihat di buku-buku dan majalah ada disini. Kita harus melawan monster-monster ini?" ujarnya tak percaya.

"Goblok!"

"Aduh!"

Hyuuga mendorong kepala mereka berdua dari belakang dan langsung memberitahu mereka.

"Kita disini bukan diundang sebagai tamu. Jangan tidak percaya diri."

"Baik!" dan mereka menuruti perintah kaptennya dengan serius, dan Hyuuga memunggungi mereka dan mulai berkata dalam hati sendiri.

'Ya 'kan? Ya 'kan?!' pikirnya gugup dalam hati, memegangi dadanya dengan keringat dingin di pipinya.

'Kau juga sama takutnya, gitu.' Izuki yang memperhatikannya tadi hanya bisa berpokerface ria akan sahabatnya yang suka gengsi itu.

Saat itu juga getaran yang dihasilkan oleh ponsel milik Kuroko yang berada ditasnya tersebut membuat sang pemilik untuk segera mengambil, membukanya dan mengecek apa yang sudah masuk di ponselnya tersebut. Pemuda itu tertegun sejenak.

Kau menoleh padanya; karena kebetulan berdirinya dekat dengan Kuroko, "Ada apa, Tetsuya-kun?" dan ia menggeleng kecil sebelum beralih kepada kerumunan.

"Maaf, tapi bisakah aku pergi keluar sebentar?" Ujarnya dan semuanya hanya bisa menatap kearahnya, membuat Riko menghampirinya, hampir marah.

"'Kan aku sudah bilang untuk tidak boleh ngeluyur kemana-mana." ujarnya galak pada Kuroko yang terkesiap–mengangkat kedua tangan menyerah–mencoba untuk membela dirinya sebelum ia berkata. "Iya,tapi.." balasnya sebelum menambahkan, "Aku sudah dipanggil."

Semuanya mulai bingung akan perkataan pemuda berambut biru muda tersebut; termasuk dirimu sendiri.

"Dipanggil?" Kiyoshi tampak bingung sebelum Kuroko melanjutkan perkataannya.

"Aku akan menemui Akashi-kun." Terangnya jelas.

'Akashi-kun'..? Siapa..; pikirmu dalam hati.

Hyuuga langsung tertegun–hampir terkesiap dan Izuki berkspresi serius."Kapten dari Generation of Miracles.."

Hah?

Kau ingin bertanya tapi merasa tidak enak, tepat disaat Riko akhirnya menghela napas dan mengijinkannya.

"Baik. Kita ada pertandingan sore ini. Kembalilah sebelum itu." Ujarnya, membuatmu merasa heran. Riko biasanya takkan mengijinkan anggota timnya dengan cuma-cuma, tapi dengan Kuroko–yang alasannya untuk menemui seseorang yang disebut-sebut bernama 'Akashi-kun'–alhasil, terbesit keinginan dalam dirimu untuk mengetahui siapakah seseorang tersebut.

"Baik." Dan ia mulai berjalan keluar–menjauh dari gerombolan.

"Furihata-kun," ujarnya pada Furihata–yang kebetulan didekat Riko–menoleh padanya.

"Bisakah kau mengikutinya?" dan langsung Furihata mengiyakan sebelum pergi mengikuti kemana pemuda berambut biru muda itu keluar.

Kau hanya bisa melihat mereka berjalan menjauh.


Mereka berhenti didekat tempat dimana disitu ada tangga lebar untuk naik ke atas. Oh, tapi tunggu dulu. Sudah ada beberapa orang yang berada disana.

Pemuda berambut biru dan berkulit lebih gelap yang pertama kali menyambutnya.

"Oi, kau dapat penjaga, Tetsu?" katanya sambil memainkan bola yang berputar diatas jari telunjuknya.

"Mine-chin, kau 'kan sudah punya Sa-chin." Sahut pemuda berambut ungu yang sedang memakan coklat, yang dibalas olehnya. "Satsuki tak ada hubungannya dengan ini."

Lalu, tak jauh dari situ, pemuda yang tengah memegangi ponselnya bertanya pada pemuda berambut hijau yang berdiri tak jauh didepannya.

"Midorima-cchi, kenapa kau bawa gunting segala'?" tanyanya heran dan dijawab dengan cuek olehnya.

"Ini sudah pasti lucky item-ku, bodoh." Ujarnya sambil memainkan gunting tersebut.

"Tapi 'kan bahaya. Kuharap kau tidak berjalan dengan benda seperti itu ssu." Tambah sang pemuda yang bertanya padanya tersebut.

"Maaf membuat kalian menunggu." Kuroko berhenti didepan mereka semua, berucap begitu.

Furihata terperangah kaget akan pemandangan didepan matanya.

'S-Semuanya,.. Pemain Generation of Miracles ada disini semua?!' pikir sang pemain dari tim Seirin tersebut.

'Beneran nih? Gila men. Aku takut sekali. Pengen pulang. Kebelet pipis.'

Bercanda. Lanjut.

Pemain dari tim basket Kaijou High School yang mempunyai kemampuan meniru gerakan lawannya; Kise Ryouta–yang sedang berdiri sambil memegang ponselnya. Ada sang Ace dari Touou Academy; Aomine Daiki–yang duduk dengan kelewatan santainya ditangga sambil mengomel akan bunyi dari nada pesan singkat yang terus-terusan masuk di ponsel Kise. Ada three-pointer shooter dari Shuutoku Koukou; Midorima Shintarou–yang memegangi sebuah gunting berwarna hitam ditangannya. Dan ada juga sang titan dari Yosen High School; Murasakibara Atsushi–yang tengah acuhnya memakan coklat batangan.

OH TUHAN YANG BENAR SAJA INI!

Hati Furihata menjerit dengan hebat akan derita nestapa yang menimpanya–karena tegang dan gugup secara bersamaan, saat bertemu dengan kumpulan dari tim yang dulunya hebat melebihi tim nasional Jepang itu sendiri. Ingin ia segera pergi dari sini tapi karena ia dibebani oleh tugas yang mulia–dari sang pelatih yang berdada kecil itu–maka ia mau tak mau harus berada disisi Kuroko sampai mereka kembali ke dalam gedung.

Kemudian disaat itu juga ponsel dari Kise berbunyi dengan nada dering yang membuat Aomine mendelik kearahnya.

"Oi, Kise. Bisakah kau mendiamkan ponsel sialanmu itu? Mengganggu. Apa itu dari Akashi?" tanyanya.

Kise hanya menatap ke ponselnya sebelum tercengang dengan aura mendramatisir.

"Ah, ini... pesan singkat dari seorang fans–"

"Mati aja lu!"

Murasakibara yang tengahberusaha membuka bungkusan keripik kentang tersebut berhenti dan menoleh kepada Midorima.

"Are? Mido-chin, pinjam guntingnya dong~"

"Tidak boleh.." Midorima menghela napas dan menolak. Murasakibara menggumam 'Mido-chin pelit' dan sebagainya dan beralih kepada Kuroko.

"Kuro-chin punya gunting?" tanya Murasakibara dan Kuroko menggeleng kecil.

"Maaf, tapi aku tidak punya."

'A-Apa yang terjadi disini? Semuanya berbicara dengan normal, tapi..suasananya jadi canggung dan berat begini..' pikir Furihata yang hanya bisa diam melihat mereka berinteraksi dengan keringat dingin.

"Kenapa orang yang memanggil kita disini itu selalu datang terakhirsih?" tanya Kise yang sudah tak sabar.

"Tidak perlu heran akan hal itu. Dia memang seperti itu." Balas Midorima yang menaikkan kacamatanya dengan jari-jari lentiknya.

Mereka masih menunggu disitu. Murasakibara masih memakan cemilannya dan Aomine menghela napas bosan.

Dan tiba-tiba, suara yang mereka kenal (dan asing bagi Furihata) terdengar oleh gendang telinga mereka semua.

"Aku minta maaf karena membuat kalian menungguku." Ujar seseorang tersebut kepada mereka yang berkumpul disana.

Kise menoleh kearahnya dan begitu juga dengan yang lainnya. Termasuk Kuroko yang kemudian sedikit mendongak keatas untuk melihat orang yang dimaksud.

"Akashi-kun." Ucap Kuroko dan Furihata hanya bisa tertegun sejenak.

Seorang pemuda, yang berdiri disana, melihat kearah mereka.

Tak jauh dari mereka semua dan tanpa mereka sadari, dari balik pohon, seorang gadis sedang mengintip dan bersembunyi dibalik pohon rindang dan semak–yang berada tak jauh dari sana. Hanya beberapa belas meter dari tempat mereka berkumpul.

'Jadi dia, kapten dari Generation of Miracles?' gumammu dalam hati, melihat mereka yang sedang berkumpul disana; dan bersembunyi dengan lihai agar kau tidak ketahuan.

Nah, penasaran kenapa kau bisa sampai berakhir seperti ini? Ini dia flashback berikut.


Flashback

Kau hanya bisa menatap mereka menjauh dari kerumunan tim kalian, sementara Riko mulai memberikan beberapa informasi yang ia dapat kepada Hyuuga dan yang lainnya dari papan dada yang ia bawa dari tasnya. Kau mengecek ponsel milikmu dan melihat jam sebelum mencari cara untuk bisa keluar dengan mudah. Entah kenapa kau merasa sangat penasaran akan hal ini. Ingin selalu tahu alias bahasa modernnya adalah kepo; itulah salah satu sifatmu–walau kadang bisa cuek sekali. Bagaimana ya, untuk mencari cara agar bisa kabur.

Aha. Kau dapat ide yang muncul di otakmu.

Kau menghampiri Riko yang tengah mengecek ponselnya. "Riko-Oneechan."

Ia berbalik menoleh padamu, dan kau melanjutkan. "Boleh aku pergi sebentar?"

"Memangnya mau ngapain?" tanyanya padamu yang sedang mencari-cari alasan yang tepat untuk keluar.

"Itu...Uhm..." kau menggaruk kepalamu yang tidak gatal dan mendekatkan dirimu dekat Riko dan membisikkan sesuatu di telinganya. Dan beberapa detik kemudian Riko hanya bisa menghela napas lagi setelah menjauh sedikit.

"Astaga, (Name)-chan. Kalau mau ke toilet ya tidak usah bilang sampai sebegitunya." Ujarnya yang hanya bisa direspon olehmu yang cengengesan.

"Hehe.. gomen. Habisnya aku takut kau marah." Ujarmu dengan tampang watados dan Riko hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah.

"Mattaku, kau ini..." ucapnya dan kau bertanya. "Jadi, boleh aku pergi? Kebelet nih." Ujarmu padanya dan ia hanya akhirnya mengijinkanmu.

"Iya deh, sana, sana. Tapi jangan lama-lama ya." Dan kau berterima kasih padanya sebelum pergi keluar dari lapangan tersebut, berlari kecil.

Dan saat ingin belok di pertigaan, kau berhenti berlari dan melihat kesekitar–agar tak ada orang yang tahu kalau kau keluar. Dan bukannya berbelok ke arah kanan–arah dimana lorong tersebut bertanda 'TOILET', kau justru berbelok ke arah kiri–dimana lorong menuju pintu aula keluar stadion berada.

Bingo. Rencanamu berhasil. Kau tersenyum puas.

Flashback end


Dan disinilah kau berada, menjalankan misi–dari dirimu sendiri untuk dirimu juga–mengintip dan mengetahui siapa sebenarnya mereka semua.

Terutama pemuda yang bernama Akashi itu.

"Apa yang sebenarnya mereka lakukan.." gumammu dalam hati.

"Daiki, Ryouta, Shintarou, Atsushi, dan Tetsuya." Ucapnya, sebelum menambahkan lagi.

"Aku senang bisa bertemu dengan kalian lagi. Aku bersyukur kita semua bisa bertemu seperti ini." Ia berujar, "Tapi, ada satu orang yang tidak pantas berada disini. Aku menginginkan untuk berbicara hanya dengan mantan teman timku saja saat ini."

"Maaf, tapi bisakah kau pergi?" Furihata langsung terkesiap akan permintaan sang pemuda berambut merah menyala tersebut.

'Aku inginnya juga begitu, tapi...' seketika badannya hanya bisa berhenti bergerak, kaku dan tak bisa apa-apa. Hanya bisa berdiri disana.

'Ada apa ini..Aku membeku, dan tak bisa bergerak.' Ujarnya, bingung dengan yang terjadi padanya.

Kau tertegun sejenak, "Kouki-kun–Huh?.." kau melihat lagi, kearah lain. Seseorang berada disana dan berjalan menuju mereka.

Kuroko meoleh kearah Furihata yang masih saja berdiri disana. "Furihata-kun.."

Dan seseorang yang kau lihat tersebut menepuk pundak Furihata, yang membuatnya sedikit terperanjat dan melirik kebelakang.

"Taiga-kun." Gumammu sambil tertegun. Ya, pemuda berambut merah itu adalah seseorang yang kau lihat tadi.

"Apaan, nggak asyik banget, lu. Jangan kecualikan kami dong."

Kuroko menoleh kearah belakang dan tertegun sejenak ketika melihat rekan timnya yang beberapa hari yang lalu itu sedang berada di Amerika–sekarang sudah berada disini.

"Kagami!" Furihata membalikkan badannya menghadap teman seangkatannya tersebut.

"Aku sudah kembali. Kita akan bicara nanti." Ujarnya dan kemudian maju beberapa langkah kedepan, dan melihat kearah sang pemuda yang berada diatas sana.

"Pertama-tama... Kau yang namanya Akashi, 'kan? Senang bertemu denganmu."

Dan hanya keheningan yang memenuhi sambutannya untuk beberapa saat.

Kau mencoba memincingkan matamu, tapi karena sinar matahari yang terik, jadi matamu kurang jelas untuk melihat pemuda yang bernama Akashi itu dikarenakan ia memunggungi sinar matahari, sehingga wajahnya tidak terlalu jelas dan berbayang hitam. Tanganmu menghalangi pencahayaan yang berlebihan masuk ke dalam pandanganmu.

"Andai saja ia maju lebih dekat, aku ingin lebih tahu seperti apa rupanya..." bisikmu pada diri sendiri.

Akashi berjalan menuruni tangga sambil berkata, "Shintarou, biarkan aku meminjam guntingmu." Ia mengadahkan tangannya dan Midorima merespon.

"Untuk apa?" tanyanya seraya menoleh kearahnya yang masih berjalan.

"Rambutku membuatku jengkel. Aku berencana untuk memangkasnya." Mendengar itu, Midorima–mau tak mau–harus menyerahkan guntingnya pada sang pemuda yang lebih pendek darinya.

"Dan, kau yang bernama Kagami, 'kan?" ujarnya, berjalan kehadapannya.

Dan tak disangka-sangka, ia menghujamkan gunting tersebut ke arah Kagami. Untung saja Kagami bisa menghindari serangan mendadak tersebut, tapi menghasilkan goresan kecil yang mengalirkan darah merah di pipinya.

Semuanya tampak terkejut, termasuk Kuroko dan Furihata yang menyaksikannya. Apalagi dirimu yang sudah naik darah.

"Kagami-kun!" Furihata berkeringat dingin dan bergetar ketakutan.

'Dia tak bercanda, 'kan?! Apa yang dia pikirkan? Ia benar-benar mencoba untuk menyerangnya. Kalau sampai Kagami tidak menghindari serangan itu,...' pikirnya dalam hati.

Kau yang melihatnya hanya bisa terpaku ditempat, tak menyangka akan terjadi serangan seperti itu kepada sahabatmu.

'Taiga-kun! Dasar pemuda gila, apa yang dilakukannya...' kau mengepalkan kedua tanganmu, geram akan perbuatannya yang tak waras tersebut.

Senyum sinis merekah di bibir sang pemuda yang bernama Akashi itu.

"Hee.. tak kusangka, aku terkejut kau bisa menghindarinya." Ia menoleh padanya, "Melihat seperti itu, kali ini aku maafkan kau. Tapi, sekali lagi berbuat, tak ada kesempatan kedua."

"Kalau aku bilang untuk pergi, ya pergi." Katanya sambil mengangkat tangannya yang membawa gunting dan mulai menggunting poni depan rambutnya.

"Di dunia ini, kemenangan adalah segalanya. Pemenang diakui sepenuhnya, dan pengecut ditolak sepenuhnya."

Kagami hanya bisa terpaku disana–dengan pipi yang tergores dengan darah segar yang muncul dari sela luka goresnya.

"Aku tak pernah kalah dalam apapun sebelumnya, dan tak akan pernah."

Serpihan-serpihan rambut berwarna merah pias tersebut terjatuh dengan gemulainya dan mendarat kebawah, dilantai marmer yang menjadi tempat pijak sang pemuda yang memiliki rambut tersebut sebelumnya.

"Karena aku selalu menang, dan selalu benar." Ucapnya, sambil meneruskan pemotongan rambutnya sebelum menghentikan kegiatan tersebut dan menujukkan ekspresi–yang mungkin dapat membuat orang yang ia tatap ketakutan dan merinding kucing.

"Tak akan pernah kuampuni siapapun yang berani membantahku. Maupun mereka adalah kedua orang tuaku sendiri." tambahnya, dan membuat Kagami hanya bisa berdecih geram.

"Matanya beda warna?" gumammu sambil membelalak kaget, terpaku disana. Tak menyangka kalau pemuda yang kau penasarankan itu memiliki mata heterokrom. Satu mata berwarna merah dan satunya berwarna kuning emas–dan mata tersebut seperti bisa menghpinotis lawan pandangnya ketika memandang balik. Mempesona nan misterius, sekaligus...

Mengerikan.

Itulah pikiranmu ketika pertama kali melihat orang dengan mata seperti itu.

Ia mulai berbalik. "Aku akan pergi sekarang. Aku hanya ingin mengucapkan salam pada semuanya hari ini." Ujarnya, membalikkan badan tapi tak mengembalikan gunting kepada Midorima–justru membawanya, sebelum akhirnya berjalan menaiki tangga, tapi Aomine memprotes.

"Jangan konyol, Akashi!" Aomine berdiri dan menghadap padanya dengan raut wajah geram.

"Kau kesini hanya untuk memanggil kami karena itu saja?" ucapnya dan Akashi berhenti berjalan sebelum menoleh kearahnya.

"Tidak... Sebenarnya aku ingin mengkonfirmasi sesuatu, tapi setelah melihat wajah kalian, aku sadar bahwa itu tidak perlu." Ujarnya sebelum menambahkan, "Tidak ada yang lupa akan taruhan dan janji kita, 'kan?"

Semuanya hening, suasana masih tegang dan berat.

"Kalau begitu, semuanya baik-baik saja. Kita akan bertemu di medan pertarungan." Ucapnya dan kemudian berjalan menaikki anak tangga–menjauh dari mereka semua.

Kuroko memasang wajah ekspresi datar. Tapi, mau dibiarkan datar juga, ekspresi seriusnya masih sedikit nampak.

Furihata memasang muka khawatir pada teman satu timnya. "Kuroko.. kau baik-baik saja?" tanyanya. Kuroko menoleh padanya dan mengangguk.

"Aku baik-baik saja, tapi Kagami-kun..." Furihata menoleh kepada pemuda yang bertubuh tinggi tersebut. Terlihat Kagami mengepalkan kedua tangannya. Surai merah-hitamnya menutupi ekspresi yang ia pasang–tersembunyi.

"Menarik..." gumamnya sambil tetap begitu, membuat yang lainnya tertegun sejenak sebelum Kagami mendongakkan kepalanya dengan mata yang terkobar api semangat membara.

"Menarik sekali... Aku jadi tak sabar untuk bermain dengannya." ucapnya penuh percaya diri, membuat Kuroko dan yang lainnya hanya bisa tertegun.

"Kagami-kun..." Kuroko bergumam kecil.

"Jangan terlalu percaya diri dulu." Sahut Aomine padanya, membuat Kagami hampir memprotes diam saat Midorima menyetujuinya.

"Ap–"

"Aomine berkata benar. Percaya diri saja tidak cukup. Kau belum tahu apa-apa tentang Akashi–nodayo." Ujarnya sambil menaikkan kacamatnya agar benar dengan jari lentiknya.

Kise juga menyahut."Mustahil bisa bertahan untuk bertanding dengan Akashicchi. Apalagi mengalahkannya ssu."

"Aka-chin lebih kuat daripada kami lho~.. Dia bisa saja lebih menghancurkanmu daripada aku~.." sampai Murasakibara juga menyahut dengan pendapat yang tak berbeda dengan tiga temannya. Kagami mendengarkan pendapat mereka, berpikir sejenak.

Begitukah...

Kuroko–yang juga pernah bersama dengan mereka berlima hanya bisa mengangguk dan menambahkan. "Akashi-kun... Kalau ada yang melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan, maka orang tersebut seperti akan mendapat undangan kematian." Furihata dan Kagami hanya bisa diam tertegun ketika mendengarnya.

Sudah pendek, muncul tiba-tiba dan hampir menyerang temanmu, dan pergi begitu saja. "Maunya dia itu apa sih, dasar pemuda aneh..." dumelmu pada dirimu sendiri–masih mengintip mereka dari kejauhan.

"Akashi Seijuurou; Tak ada jalan untuk mengalahkannya, karena..." Midorima menaikkan kembali kacamatanya sebelum menoleh pada Kagami. "Tak ada yang bisa membantahnya atau menolaknya; alias–Absolut."

Dan semuanya hening beberapa saat. Sebelum ponsel Kise berdering dengan nyaring dan Kise langsung menjawabnya.

Merusak suasana mengheningkan cipta saja.

"Halo? Ah! I-Iya, senpai, iya! Aku kembali sekarang! IYAAA, MAAF! AKU KEMBALI SEKARANG JUGA!" dan ponsel dimatikan. Semuanya hanya bisa merespon dengan sweatdrop overload.

"Aku harus kembali. Atau kaki senpai akan mendarat dipunggungku ssu! Dah!" Kise langsung panik dan berbalik arah sebelum lari secepat mungkin,meninggalkan mereka.

Midorima juga langsung beranjak. "Timku sudah menungguku untuk kembali." Dan ia pergi menjauh.

"Jajanku habis, aku mau kembali saja ah~.." ujar Murasakibara dan pergi setelah Midorima berjalan lebih dulu.

"Aku juga mau balik. Satsuki nanti ngomel habis-habisan." Ujarnya sambil menguap dan beranjak dari tempat sebelum menoleh kebelakang–kepada mereka, berhenti sejenak.

"Siapkan semua strategi timmu nanti, Tetsu." Dan ia berbalik lagi untuk berjalan–menjauh dari mereka bertiga.

Kuroko terdiam lagi.

"Uhm, mari kita kembali." Furihata menyarankan, dan disetujui oleh yang bersangkutan sebelum pergi dari situ. Sementara kau sudah lari kembali ke dalam gedung stadion secara sembunyi-sembunyi tanpa seorangpun tahu.


Kau berjalan kearah ruang ganti khusus untuk timmu. Kau disuruh untuk memanggil dan Kagami yang masih berada disana oleh sepupumu. Dan sampailah kau didepan pintu ruang ganti dan mengetuk pelan.

"Taiga-kun? Kau didalam?" tanyamu dari luar. Terdengar sahutan darinya untuk menyuruhmu masuk, dan kau membuka pintunya dnegan memutar knop pintu dan melihat Kagami yang terduduk diseberang sana. Ia bersandar diloker ganti miliknya.

Kau menutup pintunya dan berjalan kearahnya, berjongkok sambil menyesuaikan diri agar sejajar dengannya.

"Riko-Oneechan menyuruhku untuk memanggilmu kembali." Ujarmu dan ia hanya bisa menghela napas. Kau perhatikan luka dipipinya. Tak tersisa noda darah tapi hanya ada sedikit garis dari lukanya tersebut. Lukanya sudah mengering.

"Kau kenapa? Luka dipipimu?" kau menunjuk pipimu sendiri, memberitahunya–pura-pura tak tahu kalau kau telah mengintip mereka dan menyaksikan sahabatmu itu jadi sasaran serangan dari seorang pemuda bermata belang yang arogan.

Kagami mengelus sedikit pipinya sendiri dan hanya bisa berkata, "Ini bukan apa-apa. Hanya goresan kecil saja. Terkena serpihan cabang pohon yang tajam."

'Ternyata kau tak pandai berbohong, Taiga-kun.' Ujarmu dalam hati sambil meresponnya dengan anggukan.

"Tapi kau tidak mengobatinya?" tanyamu. "Nanti juga bisa sembuh sendiri. Jangan khawatir." Ujarnya memalingkan muka darimu tapi kau menggeleng cepat. "Harus diobati. Kalau tidak nanti bisa infeksi. Ayo." Kau menarik tangan kanannya agar mau berdiri tapi ia menolak.

"T-Tidak usah, (Name). Lukaku tidak parah–" kau melepaskan tangannya lalu berujar. "Tunggu disini." Dan kau beranjak menuju loker P3K yang berada di ruangan itu juga. Kau ternyata membawa beberapa kapas, air putih dan sebuah perban kecil; semacam hansapl*st.

Kau berjalan menujunya dan duduk disampingnya sebelum kau menarik wajahnya agar dekat denganmu–supaya bisa diobati. Kagami spontan merona hebat. Jaraknya yang dekat denganmu dan dirinya yang tak terbiasa dengan perempuan, membuatnya hanya bisa gugup dan memerah.

"O-Oi, (Name)–" "Sst. Tenang." Ujarmu lembut dan mulai menempelkan beberapa kali kapas untuk membersihkan luka goresan di pipi Kagami.

Kagami hanya bisa diam dan menuruti perkataanmu; diam seribu bahasa. Kau membersihkan luka itu dengan tissue setelah kapas sebelum memperbannya.

"Nah, selesai." Ujarmu puas. Kagami menyentuh lukanya yang telah diperban.

"..." Ia diam sejenak dan kemudian menoleh kepadamu. Kau menatapnya kembali.

"(Name), aku.." Kau menanti kalimat selanjutnya.

"Ya? Ada apa, Taiga-kun. Muntahkan saja semuanya."

Uhm, sepertinya ujaranmu sedikit ambigu. Ah, masa bodoh. Lanjutkan saja bacanya!

Kagami mencoba mengatakannya tapi kemudian berhenti sambil memalingkan mukanya kearah lain.

"Maaf, tidak jadi." Kau tertegun sejenak, merasa sesuatu sedang ia pikirkan didalam otaknya.

"Katakan saja, Tidak apa-apa." Kau mencoba meyakinkannya, melongok sedikit agar pemuda itu bisa melihatmu kembali.

Kagami menoleh sedikit dan melirikmu dari sudut matanya. Kau berucap. "Tak apa. Kalau kau ada masalah, katakan saja. Aku siap untuk dijadikan tempatmu untuk bicara. Aku pendengar yang baik, kok! Aku mungkin bisa membantumu dan–"

"Shut up."

Kau berhenti berbicara seketika saat tak menyangka dia akan seperti itu. Saat ini ia tengah membenturkan dahinya dengan milikmu–dengan pelan. Kau bahkan bisa merasakan deru nafasnya yang membuatmu terasa mengantuk. Kau terpaku disana dan hanya bisa membeku ketika ia melakukannya. Kagami yang menutup matanya; membuka perlahan kembali kelopak matanya. Wajahnya yang tiba-tiba bisa serius, membuatmu tertegun sejenak akan ekspresinya. Dan lagi, jarak kalian sangat dekat.

"Ta-Taiga-kun..." Hanya kalian berdua–laki-laki dan perempuan, dengan jarak dekat, sendirian di ruangan tersebut.

Sempurna sudah.

Ia menjauh sedikit–melepaskan dahinya dari milikmu dan menunduk kebawah lantai. Baginya, lantai terasa begitu menarik untuk sekarang ini. Kau yang menatapnya hanya bisa bertanya-tanya ada apa gerangan dengan sikapnya ini. Seperti bukan Kagami saja.

Kau masih menatap bingung pada Kagami yang masih menunduk. "Taiga-kun? Katakan, ada apa? Kenapa kau–"

"Maaf."

Eh?

Kau tertegun lagi saat mendengar ia berucap kata tersebut. Kagami mengangkat kepalanya untuk menatapmu. Tatapannya membuatmu harus prihatin atau bingung, ia seperti ada dalam penyesalan dan emosi di matanya terdapat perasaan bersalah.

"Maafkan aku..Karena sudah membuatmu terbebani."

Ia memalingkan mukanya ke arah lain. "Taiga-ku–"

Cup

Kau membelalak dan terpaku saat itu juga. Kau tak bisa menyangka apa yang telah terjadi sekarang ini. Serasa pikiranmu telah kosong dan tubuhmu tak dapat bergerak.

Kagami melepaskan bibirnya yang menempel dengan lembut dihidungmu setelah beberapa saat, dan ia langsung menjauhkan diri darimu sebelum memalingkan mukanya. Kau mendadak merasakan panas mengalir diseluruh wajahmu. Tanpa sepatah katapun bisa keluar dari mulut mungilmu.

Kagami berdiri sambil berujar, "Aku duluan." Dan kemudian seperti agak tergesa-gesa, ia berjalan dan membuka pintu sebelum menutupnya–meninggalkan dirimu sendirian disana.

Yang hanya bisa mematung dengan wajah merah.

Dan ketika Kagami telah menutup pintunya, bersamaan juga dnegan kesadaranmu yang bangkit–kau memegang wajahmu dengan kedua tanganmu dan langsung merona seketika itu juga.

Jantungmu serasa mau copot ketika pemuda bertubuh tegap itu mencium hidungmu. Bahkan masih kau rasakan panas dari bekas bibirnya.

Oh Tuhan, aku harus bagaimana ini, pikirmu yang bingung akan serangan mendadak yang diluncurkan.

Pertama dari Kise, dan sekarang Kagami.

'A-Ap-Apa yang sebenarnya telah terjadi?!' teriakmu dalam hati, bingung sambil malu akan mengakuinya.

Kau berteriak frustasi dengan wajah memerah.

Kasihan sekali. Sepertinya (Name) sedang dilanda masa PMS mendadak–walaupun ia tidak mengalaminya saat ini.


Di lorong yang lumayan lebar itu, langkah kakimu menuntunmu untuk berjalan. Tapi, rasanya kau semakin lemas dan tidak bersemangat. Langkahmu sedikit gontai dan lamban.

Tapi, pikiranmu akan sikap Kagami yang barusan–terlintas dipikiranmu seketika.


Maafkan aku.. Karena sudah membuatmu terbebani."


Kau menghela napas panjang. Tak menyangka wajah penyesalan tersebut terpasang di wajah seorang Kagami Taiga. Dan tanganmu juga menyentuh hidungmu yang habis dicium oleh Kagami, sontak membuat pipimu merona lagi membayangkan kejadian tadi.

Oke, kau takkan membahasnya lagi. Itu sudah membuatmu merasa malu. Kau berusaha mengingat pengintaian di kala itu.

Setelah melihat apa yang terjadi disana dengan kedua matamu sendiri, kau merasa telah menguping apa yang tidak seharusnya kau lihat dan dengar.

Tapi yang terjadi maka terjadilah.

'Akashi Seijuurou... jadi dialah kapten dari Generation of Miracles, ya... dan matanya itu.. aneh.' Pikirmu sambil berjalan menunduk, memikirkan kembali kejadian yang kau lihat. Dimana kau yang dari awal penasaran dan akhirnya mengintip pertemuan mereka dari balik pohon.

'Kupikir mereka sedang apa sehingga dia dan yang lainnya berkumpul disana, tapi ternyata... sepertinya ini masalah internal.' pikirmu lagi, tetap berjalan sambil mengulang kembali kejadian seperti roll film yang diputar berulang kali.

Dimana sahabatmu; Kagami hampir saja terkena serangan gunting yang dihujamkan padanya. Kau menggigit bibir bawahmu dan bergumam kesal. "Apa-apaan dia.. Sok sekali..."

Kau berjalan dan tak sengaja mendongak ke arah depan sebelum tertegun sejenak.

Pemuda yang kau dumelkan itu, sekarang berjalan di arah berlawanan darimu. Tak jauh beberapa belas meter dari sana, sendirian. Dan berjalan dengan normalnya seperti orang lain tak ada disana.

Panjang umur si Akashi sialan itu.

Dan kau langsung melempar lemari ke arah Akashi dan ia pingsan seketika.

Maaf, Author lagi sableng sekarang. Mari dilanjutkan.

Kau langsung mencoba untuk berusaha tidak terlihat mencurigakan dan pura-pura untuk tidak mengenalnya. Kau berjalan seperti biasanya dan terus berjalan. Berjalan dan berjalan–mencoba untuk melewati pemuda berambut merah tersebut dengan aman. Ya, setidaknya kau berdo'a sambil berusaha untuk bersikap seperti biasanya saja sambil berjalan melewatinya.

"Aku tahu apa yang kau lakukan tadi."

Tapi takdir berkata lain.

Seketika badanmu melemah. Langkahmu perlahan terhenti–dan merasa bahwa wakt seakan berhenti berjalan. Matamu terbelalak, terperangah akan ucapan tersebut.

Dan bisa kau bayangkan dari belakang, pemuda itu tersenyum mengerikan secara tersembunyi.

Sudah cukup. Kau tak tahan lagi.

Kau menghadap ke arah dia yang tetap berjalan menjauh dan menyahut keras. "Berhenti!"

Tapi ia masih saja pura-pura tak mendengarmu, kau menyahut lebih keras lagi.

"Berhenti kau!" sahutan kedua tak didengar juga. Oh, dia benar-benar sudah membuatmu marah.

"AKU BILANG BERHENTI, HEI AKASHI SEIJUUROU!" teriakan yang kau lontarkan tak disangka berhasil membuatnya menghentikan langkah kakinya.

Ia menolehkan kepalamu dan menghadap ke arahmu. Pandangan matanya tajam bak silet, sikap yang dingin, dan aura yang tiba-tiba mendadak suram–membuatmu tak sengaja menelan ludahmu sendiri sambil segera menutup mulutmu ketika ia memandangmu langsung dengan mata dwi warnanya. Kau terbelalak kaget.

Dasar ceroboh, makimu pada diri sendiri.

'Astaga, aku keceplosan!' pekikmu takut dalam hati, berkeringat dingin. Kau segera menutup mulutmu sendiri dengan kedua tanganmu cepat-cepat, disaat ketika ia mulai berjalan perlahan dengan santainya menuju kearahmu.

Kau mencoba untuk lari tapi tak bisa–dan akhirnya hanya bisa melangkah mundur untuk bisa menjauhi jarak diantara kalian berdua.

Ia menyeringai tipis–dan membuatmu menelah ludahmu sekali lagi. "Apakah aku mengenalmu,"

"(First Name) (Last Name)?"

Dan kau hanya bisa terpaku dan berhenti mundur seketika, saat pemuda bermata heterokrom itu melontarkan nama lengkapmu.

Seketika kau teringat akan perkataannya dan Midorima kala itu.


"Karena aku selalu menang, dan selalu benar."

...

"Tak ada yang bisa membantahnya atau menolaknya; alias–Absolut."


'Orang ini... Sepertinya benar-benar tahu akan segala hal...'pikirmu dalam hati. Perasaanmu kalian baru bertemu kali ini, tapi ia sudah tahu namamu yang sebenarnya padahal kau tak pernah memberitahu maupun mengucapkannya.

Apakah... ada sangkut pautnya dengan mata belangnya itu?, tebakmu hati-hati saat ia berdiri dihadapanmu. Seraya kau perlahan menurunkan tanganmu dari mulutmu yang kau bungkam, mencoba untuk berani berhadapan dengannya–yang berdiri dengan sikap dinginnya; saat matanya yang dwi warna menatapmu.

"...Bagaimana kau tahu namaku?" tanyamu akhirnya. Akashi menjawab sekenanya. "Karena aku selalu tahu dan selalu benar. Mau protes?"

TWITCH

Orang ini... menyebalkan sekali perkataanya. Sabar, sabar. Ujarmu dalam hati, agar tak terpancing emosi.

"Dan kenapa, kau bisa tahu namaku–Ah, iya, ya. Kau 'kan tahu dari budak-budakku. Bahkan, kau sampai menguntit dan menguping pembicaraan kami." Katanya sambil menopang jari telunjuknya yang tertekuk sambil berpikir dan melirikmu dengan seringai kecil.

"Aku benar, 'kan?" tambahnya.

Anjrit.

Demi bola-bola menyambung yang ada di buku BL yang kau beli kemarin lusa, ia benar-benar tidak main-main denganmu.

Ternyata pikiranmu salah. Ia tahu pasti tahu namamu dari rekan-rekannya yang sesama Generation of Miracles.

Kau mencoba untuk berusaha tenang, dan menghela napas dan berkata, "Sama sekali tidak benar. Namaku memang (First Name) (Last Name), tapi aku ini tidak menguntit dan menguping pembicaraan kalian. Aku pun tak tahu apa yang kalian bicarakan."

"Jangan bohong. Aku bisa lihat dari matamu, kau tahu."

DEG

Kau terpojok. Mati kutu seketika.

'Ya ampun, orang ini dari apaan sih? Alien kah?' pikirmu yang mulai tak jernih karena perkataannya. Kau menyahut, "A-Aku tidak bohong. Untuk apa aku berbohong, tak ada gunanya–"

"Mungkin tak berguna untukmu, tapi berguna untukku. Sebagai bukti kalau perkataanmu tadi itu adalah sebuah kebohongan, kau berbicara terbata-bata seperti yang kau lakukan tadi." Akashi menyela perkataanmu dan kau menggigit bibir bawahmu.

Sial, kenapa aku juga gagap berbicara tadi. Dasar bodoh; makimu sekali lagi dalam hati

"Dengar, aku tak tahu apa maumu. Tapi sebaiknya kau minggir dari jalanku atau–" "Atau apa? Mengancamku dengan kata-kata seperti itu, rendahan sekali." Ujarnya meremehkan, seringainya masih ia tampakkan dihadapanmu.

Kau melototkan kedua matamu dan menggeram. Sudah cukup. Orang ini menyebalkan sekali, membuat amarahmu tersulut dan harga dirimu jatuh.

"Aku–"

"(Name)-san!" secara refleks kau menolehkan kepalamu dan menemukan tak jauh dari sana, Kuroko melihat kalian dengan tertegun.

"Akashi-kun.." Dan keheningan memenuhi suasana diantara kalian bertiga.

"Ada apa, Tetsuya? Sampai repot-repot kemari." Sahut Akashi dengan tampang seolah tak terjadi apa-apa.

"..Aku ingin menjemput (Name)-san. Pelatih kami membutuhkannya untuk hadir." Balas Kuroko pada mantan rekannya yang sekarang berbeda sekolah.

Akashi ingin berbicara tapi kau langsung menyelanya. Balas dendam.

"Maaf, Tetsuya-kun. Tapi aku sedang ada sedikit urusan disini dengan dia." Kau melirik tajam kearah Akashi saat mengatakannya, sementara pemuda bermata belang itu hanya diam saja akan perkataanmu barusan.

Kuroko tertegun lagi sebelum berbicara, agak khawatir. "Urusan–(Name)-san, apa maksudmu itu–"

"Maksudnya dia adalah ini."

Dan seketika kau tak bisa apa-apa lagi.

Kau membeku seketika; disaat itu juga. Tak tahu dan tak bisa harus apa lagi.

Matamu terbelalak kaget, tak menyangka akan terjadi padamu. Dan sepersekian detik kemudian merasakan bahwa panas menjalar ke seluruh wajahmu–bahkan hingga telinga.

Kuroko juga terpaku disana, ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri–tak menyangka bahwa Akashi Seijuurou melakukan sesuatu seperti itu.

Bahwa seorang Akashi Seijuurou mencium seorang gadis.

Akashi melepaskan bibirnya yang tadi menempel di bibir milikmu dan menjauhkan wajahnya dengan tampang biasa; seperti tak ada hal apapun yang terjadi.

Sementara dirimu terbelalak lebar; hanya bisa diam membeku, berdiri tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun.

"D-Di-Dia menciumku?!" pekikan kaget itu langsung terngiang dikepalamu.

Seketika kau tersadar dengan wajah memerah bak tomat–melepaskan tangannya yang berada di pipimu saat ia mencuimmu dan–

PLAK!

Dengan mulusnya tanganmu menampar pipi pucat milik sang pemuda yang telah menciummu itu. Kuroko sedikit terkejut akan tindakanmu. Sementara kau memasang muka kesal, napas sedikit menderu.

Akashi–yang mendapat tamparan 'cantik' itu diam sesaat dan memegang pipinya, melirikmu sejenak.

Kau menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahmu dibalik rambut ponimu sebelum bergumam.

"Mencium... Mencium seorang gadis...tanpa seizinnya.." ujarmu tertahankan, tubuhmu sedikit bergetar saat mengucapkannya.

Kau mengepalkan kedua tanganmu erat-erat. "Laki-laki semacam itu..." Kau mendongakkan kepala kepadanya dan berseru, "SAMA SEKALI BUKANLAH ORANG YANG TERHORMAT!"

Ekspresi yang berani bagi seorang pemberontak, menerjang apa saja yang berani menghalangi jalannya; baik halangan maupun rintangan. Dan itu ditujukan kepada (Name); gadis yang tak kenal takut pada seorang pemuda yang bersifat arogan dan sok meraja seperti Akashi Seijuurou.

Akashi tetap tak bergeming, masih dengan tampang seperti awal. Kuroko tertegun sejenak akan seruanmu. '(Name)-san...'

Kau langsung berkata, "Aku permisi." katamu sambil tetap bersikap menahan perasaanmu dan berjalan melalui mereka berdua, berlalu dari tempat itu–meninggalkan mereka berdua.

Kuroko mengalihkan pandangannya padamu sambil memanggil namamu. "(Name)-san!.." pemuda bermata bulat itu tertegun sejenak dan melirik kearah Akashi yang masih berdiri disana, sebelum berlari kecil menyusulmu yang telah berjalan terlebih dahulu.

Dan hanya tinggal Akashi seorang disana.

Tangannya menyentuh pipinya lagi–merasakan sakit dan denyut perih kecil; yang telah ditampar. Memikirkan sejenak tindakan gadis yang telah menamparnya sebelum seringai kecilnya muncul menghiasi bibir tipisnya.

"Hmm... Menarik." Gumamnya kecil; tepat disaat mata emas miliknya yang berbeda warna dalam seratus delapan puluh derajat itu bersinar sekilas.

"Jadi dialah orangnya, ya.." ujar sang pemuda berambut merah menyala, masih menyeringai dan semakin menyeringai lebar.

"Perfect."


"Hah.. Hahh... Hah.." Deru nafas yang tersengal-sengal keluar dari mulutmu ketika berlari sekuat tenaga; dari tempat yang semula telah terjadi kejadian tak terduga bagimu.

"(Name)-san! Tunggu! Berhenti!"

Kau tak bisa berhenti; masih berlari dan tak perduli akan sekelilingmu. Yang hanya bisa kau lakukan saat ini adalah berlari dan terus berlari–seolah-olah lari dari kenyataan. Kau tak perduli akan teriakan Kuroko yang menyuruhmu untuk berhenti.

Tak tersadar, kau telah kembali lagi ke ruang ganti tim Seirin yang telah kosong dan cukup gelap, tapi tak menghentikanmu untuk melangkah masuk kedalam. Setelah menutup pintunya–yang hampir kau banting, kau langsung menuju ke pojokan dan merundukkan diri disana–menangisi dirimu yang menyesali dirimu untuk hari ini.

Kau menyembunyikan wajahmu yang telah basah karena air mata di kedua lenganmu yang memeluk tubuhmu sendiri; memojokkan diri sendiri dan tak ingin diganggu.

"Kenapa... Kenapa hal seperti ini.. terjadi padaku.." isakmu pada dirimu sendiri, menangis sepuasnya sendirian.

Dan kau tak menyadari bahwa Kuroko telah masuk kedalam dan melihatmu dalam keadaan yang menyedihkan.

Gurat wajahnya masih datar; tapi ada sedikit terbesit rasa khawatir pada gadis yang ia lihat sekarang ini.

Ia–Gadis itu, mungkin tak mengerti akan sikap pemuda–yang dulu adalah satu rekan sekaligus kapten dalam tim Kuroko saat masih SMP. Tapi, ia sendiri juga tak menyangka akan melihat dengan mata kepalanya sendiri; menyaksikannya mencium sang gadis di lorong sana.

Kuroko mulai berjalan perlahan menuju sang gadis yang masih sesenggukan menangis, dan berlutut didepannya. Masih terdengar sesenggukan kecil yang dibuat bersamaan oleh tangis gadis yang masih terdengar sama-samar.

Pemuda bermata biru itu perlahan meletakkan tangannya dipundak sang gadis–mencoba untuk berniat baik; menenangkannya sejenak. Dengan gerakannya, sang gadis itu tersadar, mengangkat wajahnya dan melirik sekilas kearah Kuroko.

"Hiks...T-Tetsuya-k–kun..." isak kecilnya masih dibuat oleh gadis yang menangis. Wajahnya merah, matanya merah sekaligus sembab karena air mata yang keluar dari matanya terus menerus, dan bibir bawah yang digigit menggunakan gigi miliknya–setidaknya mencoba untuk tidak terlalu menampakkan wajah menangis didepan pemuda yang ia anggap sebagai orang yang lumayan dekat dengannya.

Melihat kondisinya, pemuda berambut biru muda telah merasakan perasaan yang aneh didalam dirinya. Ia tak rela–ya, sungguh tak rela, jika gadis itu terus-menerus menangis.

Ya, gadis itu pantas tersenyum daripada menangis. Bagaimana cara menghentikan tangisannya. Ah, seka saja air matanya dan buat ia tenang. Bagus, Kuroko.

Perlahan, tangannya ia angkat dan menyentuh pipimu. Ibu jarinya ia gunakan untuk menyeka air mata, agar tidak lagi menangis.

"Jangan menangis.. Kumohon, (Name)-san." Ucapnya lembut. Tapi, bukannya kau merasa tenang dan berhenti menangis, tangismu makin menjadi–air matamu kembali berlinang.

"T-Tetsuya-kun.. Ta-Tapi.. Aku t-tidak bisa.." suaramu bergetar saat berbicara pelan sambil menangis. "H-Huu.. Bagaimana a-aku bisa tenang... A-Aku.. Itu adalah c-ciuman pertamaku... H-Harusnya–hiks ak-aku lakukan dengan o-orang yang aku s-sukai..."

Pemuda berseragam olahraga Seirin itu hanya bisa menatap sedih dirimu yang bergetar saat berbicara, sesekali sesenggukan dan menangis lagi. Tanganmu sekarang menutupi wajahmu yang telah basah–malu untuk menunjukkan kelemahanmu. Yaitu menangis.

Bagaimana ini, cara apalagi yang harus ia pakai. Perasaannya hampir mencuat dan ia tak tahan melihat gadis tersebut menangis terus-menerus.

Tak ada pilihan lain.

Dan seketika kedua tanganmu–yang tadi menutupi wajah–ia raih dan refleks kau langsung mendongak kearahnya sebelum terdiam lagi.

Hangat dari bibir yang menempel terasa ketika Kuroko menciummu, membuatmu merona hebat sekali lagi. Ciumannya tidak memaksa, tapi tidak terlalu kaku. Ia menciummu dengan lembut. Tanpa paksaan dan canggung.

Dan ia lepaskan setelah beberapa saat dengan perlahan dan kemudian manik biru langitnya ia tatapkan pada manik matamu. Kemudian ia memelukmu, mengistirahatkan kepalamu dibahunya; tak ingin ekspresinya kau lihat untuk sekarang ini.

"..Tetsuya-kun–" gumammu kecil saat bertatapan dengannya. Kau tak mengerti akan semua ini.

"Kumohon, jangan menangis lagi. Aku.. Tak ingin melihatmu dengan air mata seperti itu..."

Dan barulah kau tersadar; mengerti akan alasannya saat mendengarkan kata itu meluncur dari mulutnya.

Debaran di dalam dirimu mulai berpacu cukup cepat. Kau malu sekaligus bingung. Malu karena dipeluk oleh laki-laki, dan bingung harus berkata apa.

"A-Aku–" "Tidak usah, kau tak perlu berkata apapun. Diamlah, (Name)-san.." bisiknya lembut padamu.

Dan sekali lagi kau tertegun. 'Tetsuya-kun...' Tangannya yang ternyata lebih besar daripada milikmu–mengusap pelan kepalamu untuk berusaha menenangkamu yang tengah terisak dalam tangis. Rasanya, kau merasa nyaman sedikit lebih sedikit akan usapannya. Dan disaat itu juga, kau tak menyadari kalau kau mulai kehilangan kesadaran secara tak langsung.

"Beristirahatlah, (Name)-san..." dan itulah ucapan terakhirnya yang kau dengar sebelum benar-benar menutup kedua matamu, terlelap dalam tidur.

Kuroko yang menyadari bahwa gadis itu telah tertidur, langsung mengangkat tubuh mungil tersebut dan membaringkannya di bangku panjang. Ia melepaskan jaketnya dan menyelimuti tubuh atas gadis tersebut.

Kuroko menatap wajah yang tertidur, dan mendengar bisikan dari igauan kecil yang berasal dari mulutmu.

"Uh..Min..na..."

Tangan seputih susu itu mengelus ujung kepala gadis yang tertidur. Mata bulat itu menyendu ketika masih menatapnya, sambil bergumam kecil. '(Name)-san.. Kau sudah berjuang banyak, sekarang aku, Kagami-kun, dan semuanya yang akan melakukannya dilapangan...Terima kasih...'

"Aku berjanji, aku akan melindungimu mulai saat ini juga–walau nyawa taruhannya."


"Shin-chan."

Pemuda berkacamata itu menoleh kepada teman serekannya; pria berambut belah tengah hitam–Takao Kazunari.

"Ada apa?" tanyanya seperti biasa, bersikap jaim sambil menaikkan kacamatanya dengan jari telunjuk dan tengahnya.

"Apa kau merasa kalau persaingan untuk kali ini makin ketat? Kau tahu 'kan kita dan yang lainnya sudah mengusir para serigala liar itu dari eliminasi lalu." Ujar pemuda yang berada disebelahnya.

"Ya, kupikir juga begitu. Dibanding dengan Inter High lalu, ini lebih beresiko dari yang kupikirkan. Menyingkirkan dan tersingkir, sungguh peluang yang sangat sempit." Mata hijau bak warna daun itu menerawang ke lapangan basket; tempat dimana pertandingan nanti akan dimulai dan diakhiri. Banyak kejadian yang akan terjadi di lapangan luas tersebut. Tap, yang pasti adalah–kemenangan dan kekalahan bagi tim yang mendapatkannya.

"Dan.. soal temanmu yang memanggilmu tadi.. Bagaimana? Apakah sama dengan 'ramalan' yang kau beritahu kepadaku waktu itu?" Takao menatap kearah Midorima yang tetap begitu, bersedekap dengan kedua tangannya didada tan tetap menatap menerawang ke lapangan luas tersebut. Mereka berdua–rekan-rekan timnya sedang beristirahat di ruang ganti–telah berada di pinggir lapangan dimana hanya ada beberapa orang sibuk menyiapkan lapangan jelang pertandingan Winter Cup tahun ini. Dan mulai banyak orang-orang yang berdatangan dan menduduki bangku penonton diatas sana.

"Dia... sepertinya memang begitu. Tidak salah lagi." Takao mengernyitkan kedua alisnya. "Kau yakin?" dan hanya anggukan kecil dari Midorima yang ia dapatkan.

Pemuda berambut hijau lumut tersebut mengingat kembali apa yang dikatakan oleh teman–mantan rekannya dulu. Terekam diotaknya pembicaraannya waktu itu dengan sang kapten dari Rakuzan Academy Basketball Team tersebut.


Flashback

"Jadi, apa maumu, Akashi?" tanya Midorima singkat, membuat sang pemuda berambut merah menyala itu menghela napas bosan dan melirik kearahnya.

"Kalau kau sudah tahu alasannya, kenapa bertanya lagi, Shintarou? Sudah kubilang, untuk memberitahumu kemungkinan kita agar sukses."

Mereka berada di rumah Midorima. Rumah yang lumayan besar, dan cukup terlihat nyaman bagi ornag yang menghuninya. Dan sekarang, Midorima hanya sendirian disana karena keluarganya sedang pergi berlibur dan adik perempuannya pergi ke rumah temannya. Bersama Akashi Seijuurou yang tiba-tiba mendatangi gubuk kecilnya.

"Maksudmu–"

"Ya. Ini." Ia memberikan sebuah dokumen; beberapa lembar kertas yang berisikan data-data yang diperlukan sebelum diterima oleh tangan Midorima dan membacanya. Pemuda itu membaca sejenak dan juga melihat sekilas sebelum ia membuka kertas kedua untuk dilihat–saat matanya sedikit terbelalak kaget. Midorima langsung menoleh kearah Akashi yang tersenyum kecil–kesan yang misterius dan angkuh.

"I-Ini–" "Benar. Aku sudah memperkirakan peristiwa dan penyebabnya yang akan terjadi–semuanya ada didalam data yang kau pegang itu."

"Tapi.. apakah sudah ada yang tahu akan ini–nanodayo?" tanya sang pemuda berkacamata dan Akashi menggeleng singkat.

"Belum. Masih kau dan aku saja. Kau boleh memberitahukan kepada rekan yang paling dekat denganmu dan bisa menjaga rahasia. Jangan sampai hal ini bocor dan terdengar oleh siapapun. Kau mengerti?"

Dan Midorima bertanya lagi, "Jadi.. Aku bisa memberitahu Takao–Bukannya aku peduli, tapi aku merasa ia orang yang paling dekat dneganku–nodayo!" ujarnya dan Akashi hanya bisa menghela napas kecil saat sifat tsun-tsun–nya mulai kumat.

"Tak masalah. Kupikir ia tidak bermulut besar seperti Ryouta, jadi terserah padamu." Ujarnya pada Midorima yang kemudian disambut anggukan singkat olehnya.

"Baiklah...Terima kasih, Akashi." Akashi lngsung menyeringai kecil disaat mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut seorang Midorima Shintarou yang tsundere-nya berlebihan disaat-saat tertentu.

"Kau tak perlu berterima kasih. Aku permisi dulu." Pemuda berpakaian semi-kasual itu berdiri dari sofa yang berada diruang tamu dan berjalan bersama Midorima ke gerbang depan, sebelum Akashi masuk ke mobil limousine-nya dan pergi meninggalkan kediaman keluarga Midorima.

Flashback end


'Akashi... apapun yang ia informasikan selalu saja, membuat keadaan makin terdesak–tapi aku cukup beruntung mendapatkan data itu darinya. Dan tak ada orang lain yang tahu selain kami bertiga.' Pikir Midorima dalam hati.

"Mungkinkah... Hal ini ada dampaknya dengan (Name)-chan?" dan keheningan yang memenuhi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh rekan sejawatnya.

"Jangan konyol, Takao. Kau tak perlu tahu akan soal itu. Kau ini ada-ada saja." ujar Midorima yang melirik padanya, dan dibalas oleh Takao.

"Tapi benar 'kan? Ataukah ia penyebab dari–Aduh! Sakit, Shin-chan!" Dan mulutnya langsung dibungkam dengan pantulan bola basket yang lumayan keras dari Midorima–yang selama ini memegang bola–dan menghela napas.

"Bisakah kau diam sebentar saja? Kupikir kau bisa menjaga rahasia ini, tapi ternyata tidak."

"Aku bisa kok–" "kalau begitu, tutup mulut besarmu itu." dan seketika itu juga; untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Takao Kazunari; terdiam akan ancaman dari rekan satu timnya tersebut.

"Dan soal 'dia'..." Takao mengerjapkan mata, "Hm? Maksudmu, temanmu itu?" dan disambut oleh Midorima. Ia menatap lapangan luas itu sekali lagi, lapangan kosong yang mulai dipersiapkan untuk pertandingan yang akan dimulai sebentar lagi. Antara Seirin dan Touou.

"Kau tahu, aku tidak bisa pasrah maupun berusaha terlalu keras. Takdir yang akan menentukan jalan masing-masing." Ujarnya dan sambil menambahkan, "Tak ada yang abadi didunia ini. Suatu hari nanti, pada akhirnya ia juga akan jatuh dalam keterpurukan."

Mendengar pernyataan dari Midorima Shintarou, Tako tertegun sejenak dan menatap pemuda berambut hijau dan berkacamata tersebut.

"Perkataanmu puitis sekali, Shin-chan. Tumben."

"D-Diamlah–nodayo!"

.

.

.

TuBerColusis.


(pojok review, monggo dilirik genit~ ;3 ;D ;) #plakk)

Hola minna!~ Sumimasen, SUMIMASEN! Maafkan daku ya, kalo nunggu apdetannya lama banget QWQ #ojigi Berhubung selesai ujian UAS dan juga tugas mau ditumpuk ke guru. Apalagi bakal pameran display DKV di sekolah biar dapet nilai. Hadeuh, pusing dan sibuk bangetz dech pokoknya =_=" btw ini ceritanya agak dipanjangin cuz buat ngelunasin utang untuk kelanjutan fic abal ini ^^" Semoga dengan fic ini, bisa mengurangi stress ujian kalian ya :3 Dan nanti pastinya bakal libur jadi Happy Holiday ya buat yang ngerayain natal dan liburan semester XD

Aomine: Ujian? Apaan tuh? #plakk

Author: Jangan tanya gue. Gue udah pusing mikirin ujian mendatang setelah UAS. UKK lah, Ujian praktek lah, hadeuh.. ribet. *tepar dengan tak elitnya*

Kagami: Oi, bangun. Ada pembaca tuh. Gak malu loe?

Author: Masa bodoh, gue pengen istirahat. *nengok Kuroko* Bro, elu yang jadi wakil gue ya! *nunjuk Kuroko*

Kuroko: Hm? Tapi aku lagi sibuk dengan milkshake-ku, Navira-san. *peluk Vanilla milshake tersayang (?)*

Author: Ck, yaudah dech. Oi, bro! Sini loe *manggil Akashi* #LambaiLambaiCantik #plakk

Akashi: Ada apa? Jadi wakilmu lagi nich? Ogah, gak disambut juga kayak yang lainnya. Mendingan aku ngasah Gunting-chan daripada ngurusin pojok review beginian–

Author: Gantikan aku jadi wakil atau loe gue ketik elo mati ketabrak dengan sadis di cerita #YandereModeON

Akashi: *ngelirik tajam* ...Ini Cuma buat fansku saja.

Author: Hehe, gitu donk. *smirks* Oke, nich reviewnya. Dibales yang ikhlas. Jangan ngambekan kayak kemaren, ngerti?

Akashi: Terserah *ngeluyur bawain reviewnya*

Author: Btw, Aomine, pijitin gue dong, kaya di spa gitu. Kise juga. Gue pegel banget nich~.. #MainNyuruhAjaElu

Aomine: Apa?! Ogah banget–

Author: *senyum manis~ banget* Disodokin masakan Momoi atau dijadiin sate panggang di bara api?~

Kise: M-Mending kita turutin aja dech, daripada digasak sama Shinju-cchi.. *bisik ke Aomine*

Aomine: Tch...

(Akhirnya mereka menuruti permintaan Author yang lagi kumat pegel-pegelnya dibadan, dipijat spa di salon AoKise #wat)

Murasakibara: Eh? Mana Ju-chin?~ Gak dateng?

Midorima: Biasa, mungkin absen. *naikin kacamata*

Akashi: Lagi dipijat di panti pijat plus plus #ApaIni

Kagami: Panti pijat plus- plus?! *muka merah*

Kuroko: Uhm, maksudnya dipijat sama Aomine-kun dan Kise-kun seperti di spa. Begitu, Kagami-kun. Akashi-kun hanya bergurau saja. Benar 'kan, Akashi-kun? *melirik ke Akashi*

Akashi: Ya, benar. Baiklah, ini review dari para pembaca. *bagi-bagi review* baiklah, Tetsuya. Silahkan duluan.

Kuroko: Baiklah, ini dari Kurotoki Rei-san. Katanya dia teriak fangirling-an pas Kise-kun langsung main terjang di cerita.

Midorima: Ada-ada saja #plakk

Kuroko: Berarti Rei-san anak tomboy ya? Baiklah. Dan sepertinya Himuro-san sayang sekali pada Kagami-kun, rasanya anda lumayan benar–

Kagami: OI! *sensi kalo namanya disebut-sebut*

Kuroko: Baiklah, terima kasih atas reviewnya. Ini ceritanya sudah diperbaharui. Silakan dibaca :) Midorima-kun, giliranmu.

Midorima: Baiklah. Ini dari Raicho19-san. Ah, iya. Sepertinya Author mulai mengkhayal akan nanas yang bersempak dikepalanya waktu ngetik itu. Itulah penyebabnya *ngangguk-ngangguk* #plakk

Akashi: Yang benar saja, Shintarou. *pokerface*

Midorima: Maaf, akan saya lanjutkan lagi. *berdeham* Ada permintaan maaf buat Aomine, lalu dia senang aku baca review-nya–Hhh.. Merepotkan saja

Akashi: Tapi kau senang kan? #der

Midorima: Gh!.. Tch. Murasakibara, dia bilang kamu pelit, tuh.

Murasakibara: Biarin. Kuinjak dia sampe hancur kalo merebut makananku #wut

Kagami: Santai aja keles =="

Akashi: Sabar, Atsushi. Kau tidak boleh ngamuk untuk saat ini.

Murasakibara: *cemberut*

Midorima: Dan ya, maafkan saya, Raicho-san. Puas? #plakk Dan hey, siapa yang bilang tsundere, ha?! Hhh.. sabar.. *ngelus dada(?)*

Kuroko: Midorima-kun.. *sweatdrop dengan yang lainnya*

Midorima: Iya, baiklah. Iya, iya. Akashi sudah mulai muncul di chapter ini. Mempersembahkan, Yang Mulia Kanjeng Gusti Kaisar Pangeran Akashi Seijuurou #EmangnyaSponsor

Akashi: Shintarou~ ^_^ #Gunting-chanMenyanyi

Midorima: Jangan keluarkan guntingmu–nanodayo! Oh, typo dan pemakaian kata-kata ya. Baiklah, author akan pertimbangkan segera. Terimakasih sarannya. Akan kusampaikan tendangan berkelanjutan kepada Kise-mu tersayang #mulaikopler Eh, baru nyadar ya? #plakk Terima kasih atas reviewnya, arigatou gozaimasu *bows*

Akashi: Baiklah, sekarang Atsushi.

Murasakibara: Baik~ Ini dari Mey-chan; bestfren dari Ju-chin dan berganti nama jadi Mey-chan Love Kagami-5862-san. Panjang amat~.. tapi masih mending *pokerface*

Kagami: Su-Sudah! Lanjutkan saja bacanya. #sensi

Murasakibara: Iya, iya, bawel. Katanya kangen sama Kaga-chin, Kuro-chin, paket vanilla milkshake-nya bagi dikit dong~ laper nich~ #TampangMelas

Kuroko: Jangan. Buat persediaan. #der

Murasakibar: Hmph! Pelit. *cemberut* Author sama sekali gak keberata kalo kamu manggil dia begitu kok. Jadi santai aja~ Hehe~.. Penasaran ya?~ Rahasia dong, kalo yang kejutan soal itu. Ah, nanti Author akan mengedit ulang lagi. Makasih kritiknya *bows* Hmm.. ya begitulah, diajak nonton bareng. Dan ketemu aku dan Muro-chin~ Senang kan? Hehe.. #KetawaKetiwiAlaIbu-Ibu(?) Ah, lemari? Aka-chin–

Akashi: Tak usah digubris. Aku sudah tahu itu *melirik tajam ke Author yang lagi menjalani spa di salon AoKise* Lanjutkan saja bacanya, Atsushi.

Murasakibara: Baik~... Ah~ seleramu unik. Suka yang gosong-gosong macem Mine-chin~ #wut Akan kusampaikan pesanmu kepada Mine-chin secepatnya. Gampang~ #ThumbsUp Dan tolong aku minta request lagu CharaSong ku yang 'Lazy Lazy' itu lho~ #ApaHubungannya Sekian dan makasih~ #bows

Akashi: Baik, kali ini giliranmu. *lirik Kagami*

Kagami: Oke, ini dari Moo-chan Nanodayo-san. Salam kenal juga untukmu dari Author. Gapapa, katanya Author itu bukan masalah baginya. Terima kasih untuk pujian akan cerita ini. Dan untuk meluruskannya, plotnya berada ditengah-tengah; maksudnya bakal hampir sama seperti di episode S2 dan manga tapi diselipkan extra scenes saja dan juga adegan asli plot Author sendiri. Jadi antara ada dan tiada #hah

Kuroko: Kagami-kun. Ini bukan upacara pemakaman.

Kagami: M-Maaf. Dan memang si aho itu udah korslet otaknya, jadi OOC maupun jadi dirinya sendiri aja udah kopler #ApaPulaIni

Kuroko: Kagami-kun, tidak boleh menghina orang lain #SokBijak #plakk

Kagami: Iya, Iya. Ah, anda suka berpakaian begitu? Baiklah. Kok kaget kalo Kise nyium MC-nya? Perasaan banyak yang kaget ya.

Akashi: Karena itu salah satu bom dari cerita ini. Dan bom-bom selanjutnya akan mendarat di chapter selanjutnya. Kita lihat saja nanti. *smirks*

Kagami: Pfft–HUAHAHAHAHA! #NgakakSampaiGulingan Oi, Midorima! Loe beneran begini? Nich cewek tahu bener loe dah! Hahaha... *lanjut ngakak*

Midorima: A-Apa?! Berikan padaku *ngerebut kertas review dan baca, mukanya jadi merah* ...

Kuroko: Selamat, ya. Fans-nya Midorima-kun sepertinya bertambah satu lagi.

Midorima: U-Urusai! #MukaUdahKayakCabeRebus

Kuroko: Biar saja lanjutkan karena Kagami-kun sedang mengontrol tawanya. Dan Author akan mengambil masukanmu agar adegan Midorima ditambahkan. Seperti diatas. Lumayan banyak kan? :) *nunjuk cerita*Apa perlu aku lanjutkan membalas sampai selesai, Akashi-kun?

Akashi: Ya, tak masalah.

Kuroko: Baiklah kalau begitu. Dari Haruna Ichijou82-san.Terima kasih atas dukungannya, Haruna-san. Author akan berusaha keras menyukseskan cerita ini *bows*

Akashi: Baiklah, giliranku sekarang. Gila, minta disembelih si Author nich. Kenapa aku selalu jadi yang terakhir *menghela napas*

Kuroko: Karena kau yang paling terakhir muncul di cerita? #der

Akashi: Tetsuya, kau tahu 'kan kalau menyela tanpa aku ijinkan? #dor

Kuroko: Maaf, Akashi-kun. Silahkan lanjutkan. *menunduk, merendah diri*

Akashi: Nah, begitu lebih baik. Mari mulai. Ini dari fuyuki208-san. Kenapa akun mereka itu musti ada nomor dibelakangnya, ha? Merepotkan sekali.. Tch. Sebenarnya anda mungkin tak tahu kalau sudah review dua kali di cerita Author, tapi tak apa kok. Tak masalah. Dan terima kasih atas kritik dan juga opini anda tentang cerita ini. Author sangat menghargainya *senyum charming* Ini sudah dibalas olehku yang absolut ini. Mau apa lagi, ha?

Kuroko: Uhm, Akashi-kun?

Akashi: Ada apa?

Kuroko: *nunjuk Murasakibara , Kagami dan Midorima main monopoli* Ikutan yuk. Asyik lho.

Akashi: Main permainan rakyat itu?...Terserahlah, yang penting aku tidak bosan. Ayo.

(Dan semuanya lupa kalo belum nutup sesi pojok review karena keasyikan main monopoli. Sementara Author balik dengan Aomine dan Kise yang kecapekan)

Author: Ah, segarnya–Hm? *liat mereka main monopoli*

Aomine: Haduh.. *tepar dengan tak elitnya, pingsan*

Kise: *udah ngesot jalannya dan tepar dekat Aomine*

Author: Dasar mereka.. *geleng-geleng kepala dan noleh* Baiklah, semuanya. sekian dari sesi pojok reviewnya! Salam damai dan sampai jumpa di chapter selanjutnya! Bai bai~~~ ^^ *Lambai-lambai cantik (?)*


~Preview~

...

"Mereka... sama saja. Tapi, seperti dua api yang berbeda warna dan karakter... Kagami-kun dan Dai-chan..."

.

"Tuhan, aku mohon... Tolong buat Tim Seirin memenangkan pertandingan ini."

.

"Jadi.. Seperti inikah rasanya... Kalau dikalahkan oleh orang lain..."

.

"Aku merasa lelah... Sangat lelah... Biarkan aku beristirahat sebentar dipelukanmu."

.

"Tenanglah, semuanya akan–" "Tidak! Aku tidak akan tenang dan takkan pernah menuruti perintah dari orang yang mengatas namakan keangkuhan seperti dirinya!"

.

"Tunggu saja. Seiring berjalannya waktu, kita akan tahu nanti. Siapa yang akan tersingkir dan yang terpilih."


Happy Holidays, Good people! XD :) :3

Best greetings,

D.N.A . Girlz