Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!
Story plot ya milik saya #digebuk
LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORTS ESPECIALLY BASKETBALL.
LONG LIVE SPORTS!
P.S: Warning for some spoilers and lines from the original anime and manga. alot :3 so please just go with the flow and proceed to following the story with peace. Read it at your own risk (and adding some extra scene). SUMIMASEEENNN APDETNYA LAMA ;w;
Enjoy reading!~ /( 0w0)/
Tapak kaki yang melangkah bergantian bagai irama beraturan tanpa disuruh, dari jarak yang jauh mulai terdengar. Terlihat seorang pemuda berambut biru muda; dengan seragam tim Seirin dengan nomor punggung lima belas, berjalan menuju kelompok yang telah menunggunya diujung lorong.
Tim Seirin—tim dimana ia sekarang masuki untuk bertanding dengan tim dari sekolah lain.
"Maaf membuat kalian menunggu. Aku ada urusan tadi." Ujarnya sambil meminta maaf.
Gadis berambut coklat karamel menoleh ke arah dimana pemuda tersebut datang. "Lho? Jaketmu dimana, Kuroko-kun? Dan lagi, kenapa kau tidak bersama (Name)-chan? Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk mencarinya?" tanyanya bertubi-tubi pada pemuda yang dipanggil Kuroko tersebut.
Peristiwa itu kembali terputar untuk kesekian kalinya di ingatan sang pemain bayangan Seirin. Dimana ingatannya merekam kejadian yang tak lama berlangsung dari detik saat ini.
"Jaketnya kotor jadi aku taruh di tasku, Pelatih. (Name) sedang tidak enak badan dan dia butuh waktu untuk sendirian, jadi dia tidak bisa diganggu." Ujarnya bohong dengan muka datar seperti biasa; kemampuannya dalam memakai tampang seperti itu sudah profesional dari dulu.
Gadis yang bernama Riko Aida itu mengangguk mengerti dan menghela napas singkat. "Baiklah, aku mengerti. Tidak bisa dipaksakan kalau sudah seperti itu." ia beralih kepada rekan satu timnya.
"Semuanya, mari kita berjuang. Waktu kita tidak banyak, jadi kalian harus semangat! Mohon bantuannya." Ia ulurkan tangan kanannya di depan, diikuti oleh yang lainnya juga pemuda berambut biru muda itu dengan teman-temannya, tangan kekar-kekar itu menumpuk diatasnya. Sebelum mereka meneriakkan yel-yel khas mereka dan mengangkat tinggi-tinggi saat meneriakkannya.
"SEIRIN, GO GO GO!"
Title: About Them
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.A. Girlz
Language: Indonesian
Rating/Rated: T dan hampir semi-M (khusus untuk chapter ini)
Genre: Humor/Romance
"Uhh..." Kelopak mata itu terbuka perlahan-lahan, dan mulai terbuka sepenuhnya setelah beberapa kali berkedip. Sang pemilik juga terbangun dan mulai bangun untuk bisa duduk. Ia melihat-lihat ke semua arah, berusaha mengumpulkan ingatan kenapa ia bisa berada disana.
Dialah, kau; (First Name) (Last Name). Sejenak mulai mengingat kembali apa yang telah terjadi setelah kau tertidur.
"Ahh.. Iya, ya.." gumammu sambil memegang kepalamu sejenak ketika kau ingat sepenuhnya dengan apa yang telah terjadi di saat yang lalu.
Pengintaian yang ternyata diketahui oleh sang kapten Rakuzan, ciuman itu, dan Kuroko yang juga menciummu serta menenangkanmu. Mengingatnya saja sudah membuatmu merah merona. Aduh, kalau ada cermin, pasti bisa dipastikan mukamu memerah seperti buah ceri yang baru saja matang dan dipetik untuk dimakan.
Kau merasakan bahwa sesuatu telah menyelimuti tubuhmu, dan kemudian melihat sebuah jaket yang familiar. "Jaket ini..." Jaket milik Kuroko Tetsuya; seorang pemuda yang menjadi bayangan di tim basket Seirin—orang yang cukup dekat denganmu setelah Kagami Taiga semenjak kau pindah ke sekolah menengah umum tersebut.
"..." Kau terdiam sejenak—untuk mengumpulkan jiwa untuk beberapa saat. Setelah merasa tidak terlena oleh kantuk lagi, kau mulai teringat sesuatu yang penting; pertandingan antara Seirin dan Touou. "Astaga! Pertandingannya..!" Seketika kau langsung berdiri dan berjalan keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa—tak menyadari kalau jaketnya Kuroko juga terbawa olehmu.
Segera kau ikatkan kedua lengan jaket itu di pinggangmu—agar tidak ribet saat membawanya dan kau kembali berlari menyusuri lorong panjang itu untuk segera tiba di lapangan tempat pertandingan akan dimulai.
Samar-samar, terdengar sorak-sorai penonton dari jauh ketika merasa kau cukup dekat dengan pintu keluar menuju lapangan. Tak lama kemudian, kau sampai dan sudah banyak orang yang datang dan duduk. 'Hebat... Banyak sekali orang disini..' Kau juga melihat kelompok-kelompok yang mendukung sekolah favorit mereka. Banyak bendera, yel-yel diteriakkan, dan beberapa sorakan bagi para pemain yang sedang berjuang dilapangan.
Aduh, kenapa kau masih diam saja. Dasar bodoh, kau harus cepat-cepat sampai untuk bertemu dengan Riko!
Langsung saja kau banting setir dan berlari kecil di pinggir untuk pergi menuju Riko yang kau lihat dari kejauhan sedang duduk menyaksikan pertandingan di bangku cadangan bersama pemain Seirin lainnya.
"Riko-Oneechan!" serumu keras—karena suara dari penonton yang ramai membuatmu untuk sedikit mengeluarkan tenaga hanya untuk memanggilnya.
Riko yang untungnya dapat mendengarmu langsung menoleh dan berdiri. "(Name)-chan! Kau tidak apa-apa 'kan? Kuroko-kun bilang kau tidak enak badan." Ujarnya, sementara ternyata kau baru tahu; Kuroko membuat alasan bagimu agar kau bisa tenang akan insiden yang lalu.
"Ah.. Aku tidak apa-apa. Percayalah, aku sudah mendingan." Ujarmu dan Riko menghela napas lega. "Syukurlah, kupikir telah terjadi sesuatu padamu. Tapi sepertinya kekhawatiranku berlebihan, maaf ya." Kau tersenyum pada kakak sepupumu. Dia tidak pernah berubah; selalu saja menghawatirkan dan peduli padamu daripada dirinya sendiri.
"Tak apa, Riko-Oneechan. Terima kasih." Balasmu dan ia hanya tersenyum kecil sebelum menoleh kearah lapangan—membuatmu melakukan hal yang sama sepertinya.
"Pertandingan semakin ketat.. Lihatlah." Ujar Riko sementara kau hanya bisa menyaksikan pemain-pemain yang bertanding dilapangan demi merebut poin dan tiket untuk masuk ke babak kualifikasi.
Terlihat tim Seirin dan Touou bertanding dengan segenap kekuatan untuk bisa membuat skor agar salah satu dari mereka bisa memenangkan pertandingan ini. Tapi sekarang, yang jadi pusat perhatian penonton yang juga merasa tercengang akan per tarungan mereka antara pemain Seirin bernomor punggung 10 dan pemain Touou bernomor punggung 7—membuatmu terbelalak kaget sekaligus tertegun.
'Taiga-kun... Daiki-kun...' gumammu dalam hati. Melihat mereka bersaing ketat dan merasakan aura mencekam dengan ancaman di setiap tatapan antara mereka berdua. Kedua pemuda bertubuh tinggi itu terus saja berjuang dengan saling steal dan dribble ball. Membuat yang menontonnya saja menjadi terdiam dan terperangah.
Harusnya kau tidak kaget—karena mereka berdua sama-sama berada di klub basket; hanya saja beda sekolah.
Semangat mereka, stamina mereka, dan niat mereka untuk menang benar-benar luar biasa. Seperti seekor harimau hutan yang bertarung sengit dengan seekor macan kumbang hitam—atau yang dikenal sebagai Puma. Masih saling sepupu-an, tapi juga saling berselisih demi makanan, wilayah, dan harga diri.
'Ah, mata mereka... Apa itu..?' pikirmu disaat kau menyadari sesuatu yang berbeda pada mereka. kau bisa melihat kilatan di sekitar mata mereka dan... berwarna. Seperti tak terlihat—tapi bisa terlihat olehmu.
"Itu.." "Kurasa mereka sudah masuk area 'Zone'. Ke level tingkat yang berikutnya." Kau mengalihkan pandanganmu pada Riko yang menyahut begitu.
"Apa maksudmu, Riko-Oneechan?" tanyamu dan ia berujar lagi, "Kau akan tahu nanti. Sekarang, mari kita nikmati dan lihat saja pertandingannya." Dan itu malah membuatmu bingung memikirkannya lalu beralih lagi ke lapangan. Masih saja, dua orang itu berlari bolak-balik dengan mendapatkan dan mencuri kembali bola.
Saling berebut, mem-blok lemparan, dan terus berbolak-balik ke daerah masing-masing—dan skor hampir sama seimbang. Benar-benar permainan yang luar biasa dan tak pantas untuk dilewatkan.
Aomine berlari secepat mungkin sambil dihadang oleh Kagami, melakukan sedikit trik dan teknik untuk melewatinya—tapi itu takkan jadi penghalang bagi Kagami yang juga sudah masuk 'Zone' seperti dirinya. Kedua pemain yang telah di cap sebagai Ace dari masing-masing tim mereka menunjukkan kemampuan yang dimiliki—dan itu telah membuat keduanya terlihat fokus dan bermain dengan maksimal.
Kagami mulai men-dribble bola dan secepat kilat berlari sambil membawa bola—diikuti dengan Daiki yang mencoba untuk menghadangnya. Keduanya sama-sama tak perduli, saling menghalang dan memperebutkan bola demi skor adalah tujuan mereka.
Bahkan mereka pun tanpa tedeng aling-aling melewati pemain yang lain. Kagami hendak memasukkan bola tapi di blok oleh Aomine. Kagami mendecih sementara Aomine mendelik tajam dan intens. Bola terpantul kepada Sakurai dan Aomine berlari duluan—diikuti oleh Kagami yang juga berlari. Hyuuga tersadar dan mencoba untuk menghalau lemparan Sakurai tapi nihil; bola oranye itu melambung cepat dan Aomine berhasil menangkapnya.
Keduanya berhadapan sekali lagi, sepatu yang berdecit karena efek gesekan lantai lapangan saat mereka berkutat untuk mendapatkan bola—tak jadi penghalang bagi mereka untuk bermain. Aomine berhasil melewati Kagami dan secepatnya berlari untuk mengoper bola—tapi sayang; Kagami menghalau lemparannya dengan intens hingga sampai menabrak pembatas lapangan yang hampir saja mengenai para fotografer yang tak bersalah dan tengah memotret tersebut hingga terjungkal.
Semuanya hening dan terperangah. 'Permainan ini...' pikir Imayoshi saat melihatnya dengan mata kepala sendiri—bersama dengan pemain lainnya. 'Inikah yang terjadi jika dua orang berada dalam zona 'Zone'?'
Peluit wasit telah dibunyikan. Sang wasit berseru, "Out of the bounds! Bola hitam!"
Riko yang tercengang bersama dengan dirimu menyaksikan pertandingan yang telah terjadi di lapangan.
'Benar-benar pertarungan yang tak dapat dipercaya... Mereka berdua berada di dimensi yang benar-benar berbeda.' pikir Riko sambil terbelalak kaget akan apa yang telah terjadi.
"Tak ada seorangpun yang mencetak skor selama hampir semenit. Apa yang akan terjadi sekarang?" Ucap Koganei yang tercengang bersama dengan rekan-rekannya di bangku cadangan yang tengah menyaksikan kejadian tersebut.
Kau memasang muka tanpa emosi—didalam pikiranmu; bahwa inilah yang dimaksud oleh Riko saat kau bertanya padanya tadi. 'Jadi inikah... maksudnya?' pikirmu dalam hati.
Akashi yang menyaksikan peristiwa ini juga berpikir, 'Karena mereka berdua berada dalam 'Zone', fokus dan reaksi kecepatan mereka meningkat hingga mencapai batas maksimal.'
Sementara itu, Himuro dan Murasakibara juga sama seperti yang lainnya. "Tak ada diantara mereka yang mengalami kemajuan."
Takao bertanya tanpa menoleh pada Midorima. "Tapi kenapa kedua tim benar-benar mengandalikan Ace mereka? Jika mereka mengoper bola dengan cara keliling kepada empat pemain lainnya, bukankah mereka bisa mencetak angka?"
"Percuma saja—nanodayo." Takao tertegun sejenak saat sang pemuda berkacamata itu menjawab.
"Itu tak akan mengubah hasil yang keluar. 'Zone' tidak semudah itu mengijinkan pelakunya untuk meningkatkan kekuatannya 100%. Semua informasi yang tidak dipentingkan dihapus. Kemampuannya untuk mengendalikan informasi yang penting berdasarkan tak hanya pemain lain didepannya saja, tapi juga posisi dan pergerakan para pemain yang lain—juga meningkat."
Takao mengalihkan pandangannya pada sang rekan. "Apa?"
"Dengan kata lain, pandangannya di lapangan meluas atau melebar. Dan lagipula, salah satu darinya adalah siswa tercepat, dan satunya lagi adalah pelompat paling tinggi. Mereka jauh diatas rata-rata pertahanannya orang biasa."
"Melawan mereka berdua, serangan setengah hati saja sebenarnya bisa jadi berbahaya. Maka dari itulah kenapa permainan ini diserahkan semuanya kepada kedua Ace." Kasamatsu berujar.
'Di situasi seperti ini, bagaimana mereka bisa...' Kise bergumam dalam hati dan kemudian tersenyum kecil sambil menyaksikan pertandingan.'Tidak. Mereka melakukannya karena mereka berada di situasi seperti ini.'
Ia melirikkan manik madunya ke arah (Name) yang duduk di bangku cadangan pinggir lapangan bersama anggota pemain cadangan. Melihatmu yang tengah gelisah karena melihat ke arah lapangan, dengan raut wajah seperti itu; cukup membuatnya sedikit terhibur.
Kise seperti melihat gadis itu—tingkahnya seperti dia sendirilah yang dipertaruhkan dalam suatu sayembara. Dan bisa ia bayangkan Kagami serta Aomine bertarung satu sama lain demi mendapatkan gadis tersebut.
Ah—Benar juga ya; pikirnya. Hal itu, baru saja terpikir olehnya. Terpikir oleh sesuatu yang hampir saja ia lupa. Dan kejadian beberapa hari yang lalu langsung terlintas di rekaman memori otaknya; teringat akan apa yang telah ia lakukan pada gadis yang tengah perhatikan sekarang ini. Ia tersenyum—dalam cara yang tersembunyi.
Aku akan membuatmu berpaling padaku, (Name)cchi. Lihat saja nanti; Kise memantapkan hatinya untuk melakukannya sesegera mungkin.
Sesegera mungkin daripada teman-temannya yang lain.
Sementara itu, Satsuki tertegun sambil melihat ke lapangan, menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri. "Aomine-kun..."
'Dia selalu saja seperti itu, semakin kuat lawan mainnya, semakin tinggi kesenangan dan fokusnya dalam bermain dengan orang tersebut. Dia terlihat seperti dia sedang bersenang-senang.'
Kuroko sontak tertegun ketika melihat keduanya bermain. Seolah ia melihat perbedaan—disusul oleh para pemain lain dan juga para penonton yang menyaksikan pertandingan tersebut.
'Aomine-kun dan Kagami-kun... percikan api semangat dari kedua Ace tersebar dan memikat seluruh penonton di stadion. Seolah-olah akan berlanjut tanpa akhir, dan semuanya berharap begitu. Namun, kesimpulannya itu datang tiba-tiba.'
"Mereka... sama saja. Tapi, seperti dua api yang berbeda warna dan karakter... Kagami-kun dan Dai-chan..."
Kagami bergerak lebih cepat saat Aomine lengah dan berhasil melewatinya. Melihat itu, Aomine berbalik dan mengejarnya. Para pemain di bangku cadangan Touou mulai resah, Kagami bergerak sambil mendribble bola—melompat dan menembak ke ring basket—mencetak skor.
Para pemain di bangku cadangan Seirin bersorak saat itu terjadi. "Dia melewatinya!" sorak salah satu diantara mereka. "Kagami!"
"Kita hanya berada 3 poin dibelakang sekarang!"
Imayoshi terbelalak kaget, dengan tampang tak percaya. 'Tidak mungkin... Kagami lebih cepat darinya?.. Apa yang terjadi..?' pikirannya mulai berkutat akan hal tersebut.
Pertandingan dilanjutkan. Aomine mendapatkan bolanya dan Kagami berada didepannya.
Kau yang melihat ini, tercengang juga. 'Apa?.. Ini 'kan...Apakah jangan-jangan mereka...' gumammu dalam hati.
Aomine mencoba untuk melewatinya tapi itu tak berlangsung lama, Kagami menghadangnya—tetap menge-mark sang Ace dari tim Touou tersebut. Sakurai yang mengerti itu, mulai terkejut. 'Dia tak bisa melewatinya?'
Imayoshi yang mengalami konflik batin antara ia mengalami halusinasi—ataukah ada mulai menyadari akan kejanggalan yang terjadi. "Tidak! Tidak mungkin Kagami lebih cepat darinya!" kemudian ia tersadar, 'Ini pasti... batas waktu 'Zone'!'
Aomine berhenti dan menggeram, merasa harus bisa melewati sang lawan main yang tengah menjaganya sekarang ini.
'Sambil ketika 'Zone' mengijinkan atletnya untuk mengerahkan kekuatannya sampai 100%, batasnya lumayan signifikan. Tapi kenapa hanya Aomine saja?' pikirnya dalam hati.
Sang pemuda berambut biru tua itu tiba-tiba teringat akan perkataan dari seorang Kuroko Tetsuya.
"Seorang Ace yang membawa keinginan rekan-rekan setimnya tidak bisa kalah." Pemuda bermata bulat itu tersenyum penuh percaya diri pada Aomine ketika mengatakan; "Aku percaya pada Kagami-kun."
Napasnya mulai tersengal-sengal, 'Jangan konyol, hal seperti itu takkan membuatku...' ia menggertakkan giginya dan melompat, siap-siap untuk menembak—bersamaan dengan Kagami yang mencoba untuk bisa menghalaunya. Keduanya bersemangat sekali.
"OOOOOHHHHHH!"
'Aomine, kau kuat. Jika seandainya ini one-on-one, aku mungkin saja akan kalah. Aku juga sudah mulai mencapai batas waktuku. Tapi alasan kenapa aku bisa tetap berjuang karena aku mendapatkan dukungan. Aku bertanding dengan kekuatan lebih dari satu orang!'
Kagami mulai meloncat, menyusul Aomine yang hendak siap-siap mencetak angka dengan jump shooting.
'Untuk semua orang...'
"Aku akan menang!" Tangannya menge-blok lemparan Aomine untuk menembak dan membuang bola itu jauh. Sang Ace Touou tercengang, begitu juga dengan Kuroko yang menganga, begitu juga denganmu. Dan Aomine duduk terjatuh di lantai lapangan.
Bola terpantul dan ditangkap oleh pemain dari tim Seirin, dan dioper kepada Hyuuga sebelum mendribble bola menuju ke area tiang—jangan lupakan tim Touou yang mengejar sang kapten dari Seirin tersebut. Dan itu sia-sia. Hyuuga melakukan lay up shoot dan mencetak angka untuk timnya. Sekarang skor menjadi 97-98.
Tim Seirin bersorak lagi ketika angka dicetak—sementara tim Touou mulai resah dan waspada—terutama pemain yang bermain di lapangan.
"Tinggal satu poin lagi!" ujar Koganei bersemangat, tapi disambung oleh Furihata. "Tapi sisa waktu kita tinggal 30 detik lagi." Dan itu ditepisnya dengan percaya diri oleh Tsuchida. "Kita bisa melakukannya. Aku tahu kita bisa."
Lalu, pelatih tim Touou mengajukan time-out. Disisi lain, Aomine masih terduduk di lantai lapangan saat rekan satu timnya menghampiri untuk sekedar menanyakan apakah ia baik-baik saja.
"Kau tak apa-apa, Aomine?" orang itu memberikan tangannya tangannya—tapi segera ditepis dengan kasar oleh sang pemuda berambut biru tua tersebut.
"Jangan sentuh aku."
Pemuda itu terkesiap saat tahu responnya. "Aku cuma terpelesat saja." Imayoshi terperangah akan sikap adik kelasnya itu, begitu juga dengan yang lainnya. "Jangan halangi jalanku. Bagian terbaiknya sudah dimulai."
Aomine bangkit dari duduknya dan berdiri, menambahkan. "Semuanya baru saja berada dipuncaknya."
Pelatih yang melihatnya dari kejauhan terdiam sejenak sebelum berkata, "Maaf, kami tidak jadi mengajukan time-out-nya."
Nakatani yang duduk di samping Kagetora berujar, "Harasawa tidak memberikan time-out. Walaupun dia memberikan time-out... Tidak, dia harusnya memberikannya sekarang juga."
Kagetora membalas, "Sulit untuk dikatakan, ada beberapa hal yang harus kau alami agar bisa mengerti akan hal itu. Untuk kemungkinan yang lebih baik atau yang lebih buruk, jika dia memberikannya sekarang, gejolak pertandingan akan terganggu. Kadang-kadang kau membuat panggilan semacam itu setelah melihat mata pemain."
Dan ia menambahkan, "Ada saatnya dimana ketika kau lebih memprioritaskan emosi daripada strategi."
Semuanya bersiap. Pertandingan dimulai lagi. Sakurai mengoper bola ke arah sang kapten, dan kemudian Imayoshi berlari sambil men-dribble bola menuju mereka.
"Ayo!" Hyuuga berseru. Kagami menatap tajam pada mereka, bersama dengan yang lainnya.
"Mari kita hentikan tembakannya, walaupun itu berarti menyiksa diri kita!" dan semuanya bergerak di posisi masing-masing. Setiap pemain menjaga pemain lain.
Kise berdecak kagum. "Hebat..." Akashi tersenyum kecil dengan sinis. "Ternyata pertahanan mereka bagus juga."
"DEFENSE! DEFENSE! DEFENSE! DEFENSE!" yel-yel semangat dari pemain lainnya di bangku cadangan Seirin. Riko hanya bisa terdiam sambil menatap serius permainan mereka di lapangan. Kau hanya bisa terdiam, berdo'a semoga pertandingan ini tidak menimbulkan masalah apapun.
Kau tak tahu kenapa—tapi sepertinya... kau punya perasaan buruk setelah ini.
'Aku paranoid sekali—tapi semoga saja tidak ada apa-apa setelah ini. Aku khawatir...' gumammu dalam hati sambil tetap menatap pertandingan dari bangku cadangan.
Imayoshi memantulkan bola beberapa kali sementara yang lainnya juga semuanya dijaga. One man defense.
"Kami sudah tahu hal ini sepenuhnya, hanya satu hal untuk kami lakukan. Tak ada lagi tipuan yang ada untuk dimainkan."
"Tapi tetap saja, Aomine yang terkuat!" Bola langsung di lempar padanya dan langsung ditangkap oleh Aomine. Dengan Kagami sebagai guard-nya.
Dan dimulailah lagi persaingan antar Ace kebanggaan tim masing-masing.
Keduanya menatap tajam dan menyelekit. Seperti berusaha untuk saling berkutat agar bisa meraih bola dan mencetak skor walaupun di detik-detik terakhir sekalipun.
Aomine langsung untuk mencoba melewatinya, tapi Kagami tetap masih bisa menghentikannya.
"Dia menghentikannya!"
"Ayo, Kagami!"
"Dia terpojok!"
Kagami berlari sambil mencoba untuk menghalanginya, tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya. Aomine berbalik dan menembakkan bola ke ring dengan posisi yang tidak biasa.
"Sial!" umpat Kagami spontan dalam hati. Kuroko juga kaget bukan kepalang saat melihatnya.
"Tidak mungkin. Dia masih bisa menembak seperti itu?"
"Sialan. Dia monster!"
Semuanya terkejut ketika pemuda itu menembakkan bola, dan langsung masuk ke ring dengan mulus.
Termasuk dirimu yang hanya bisa membelalakkan mata saja.
"Heh, Aku takkan kalah. Sebuah pertarungan takkan menyenangkan jika kau tak menang." Aomine menyeringai pada mereka.
Mengerikan.
Pertandingan dilanjutkan. Saling oper-mengoper lagi dan saling steal bola hingga bola tersebut masuk—tapi tidak.
Re-bound akan terjadi dan Wakamatsu mulai melompat. Tak disangka Kagami juga melompat dan mendapatkan bolanya.
Ia melompat lebih tinggi daripada Wakamatsu.
Mereka terjebak, Momoi dan pelatih Touou terperanjat. "Apa?!"
Kagami mencoba memasukkan bola, Aomine langsung berniat hendak untuk menghentikkannya. Dua Ace beradu di udara.
Antara Kagami mencoba memasukkan bola ke dalam ring—dan Aomine yang tengah menghentikannya.
Kedua tangan mereka berada di kedua sisi bola basket yang dimainkan.
Aomine berhasil menghentikannya dan membuang bola. Para pemain yang didekat sana langsung mengejar bolanya untuk ditangkap.
"Dia kosong! Dia bisa mencetaknya di ring!" Kami akan menang, pikir Sakurai sambil mulai senang.
Ini kesempatan mereka untuk menang lagi!
Imayoshi tersenyum lebar, mengira akan mencetak lagi dengan mudah—tapi ekspresinya digantikan oleh keheranan yang sangat.
'Tunggu dulu. Apa... Apa yang anak itu lakukan?!'
Ia melihat Kuroko juga berlari di depannya dengan nafas tersengal-sengal, berlari secepat mungkin untuk mendapatkan bola yang terpantul.
Kuroko!—Kau hanya bisa menangkupkan kedua tanganmu di depan dada; khawatir dan resah. Antara pertandingan sekaligus duel dari kedua tim.
Aomine dan Kagami melihat semuanya di bagian yang berlawanan sana.
'Walau aku berada di timnya, walau aku mengira Kagami mendapatkan bolanya saat itu dan aku sedikit terlambat beberapa detik setelah membuang jauh bolanya, aku tak percaya kalau dia lebih cepat dariku.' pikir Imayoshi dengan cepat.
Ini tidak mungkin! Bukannya percaya pada Kagami, tapi dia malah kepada Aomine?!—pikirnya lagi dengan kebingungan.
Tidak, itu tidak cukup benar. Aku percaya pada mereka berdua—balas Kuroko. Seakan tahu apa yang ia pikirkan.
"Walaupun begitu, hanya ada satu orang saja yang aku akan percayai untuk mencetak skor final!" Kuroko bersiap untuk menge-pass kepada orang yang ia tuju.
Orang yang ia percayai untuk menembak bolanya sekarang.
"Kagami-kun!"
BETSS!
Bola mengarah mulus dan cepat ke area lawan. Melayang menuju ke arah Aomine dan Kagami yang berdiri di dekat ring. Keduanya melompat sekuat tenaga.
"OOOOOOHHHHHHHH!"
Dan ternyata Kagami yang mendapatkan bolanya.
Kau menangkupkan kedua tanganmu, mengepalkannya menjadi satu di depan dadamu dan kau menunduk—menutup kedua matamu rapat-rapat. Takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tuhan, aku mohon... Tolong buat Tim Seirin memenangkan pertandingan ini." Bisikmu lirih.
"AYO, KAGAMI!" Semua anggota tim Seirin menyorakki dan meneriaki—moodbooster untuk Kagami.
Aomine mulai mengingat sesuatu. Perkataan Kuroko waktu itu.
"Disamping itu, kau akan segera bertemu dengan seseorang yang lebih hebat daripada dirimu."
Kagami dengan sekuat tenaganya mencoba memasukkan bola ke dalam ring basket.
Dan bola itu berhasil masuk.
Semuanya tercengang. Hening beberapa saat—tepat saat sebelum waktu telah habis.
Wasit membunyikan peluit dua kali—dengan durasi panjang.
Menandakan pertandingan telah berakhir.
Waktu telah habis.
Papan nilai digital menunjukkan angka skor 101 – 100 untuk Seirin High vs. Touou Academy.
"Time's up!"
Kagami mengangkat tangannya yang terkepal ke udara, disusul oleh sorakan-sorakan riuh yang kembali mulai menggema.
Tim Seirin memenangkan pertandingan.
Semua pemain Seirin yang duduk langsung berlarian ke lapangan dan memeluk temannya yang bertanding.
Tertawa lepas dan tangis haru—bahagia menguar dari tim yang memenangkan pertandingan. Riko mengusap air mata bahagianya sambil tertawa bersama yang lainnya.
Kau juga berjalan menuju para kakak kelas dan teman-teman seangkatanmu yang berpelukan dan tertawa sambil menangis haru.
Kau berjalan ke arah Kuroko dan Kagami—mereka menoleh ke arahmu.
Kuroko tersenyum, Kagami tersenyum lebar—menyengir kuda.
"Kita lolos, (Name)!"
Melihat raut wajah mereka saja, kau sudah bahagia. Karena tak bisa ditahan lagi, akhirnya muncul sebuah senyuman cerah di di wajahmu.
"...Iya." ujarmu senang, hampir saja mau menangis. Air matamu jatuh sebulir—meluncur mulus jatuh di pipimu.
Sementara itu, disamping kebahagiaan untuk Seirin yang telah mengantongi tiket menuju babak selanjutnya—tim Touou High hanya bisa berdiam diri. Ada yang diam tanpa kata, ada yang menunduk dan hanya bisa melihat lantai.
Aomine yang hanya bisa terbengong seperti orang bodoh, tak percaya akan kenyataan yang terjadi.
"...kalah?" gumamnya lirih. "Aku paham... Aku kalah. Aku..." "Jadi.. Seperti inikah... Kalau dikalahkan oleh orang lain..." gumamnya lagi.
Momoi menutup mulutnya dengan kedua tangan—berusaha untuk tidak menangis.
Wasit memberi komando. "Berbaris!"
Tiba-tiba Kuroko merasa tubuhnya melayang dan hampir tumbang. Untung saja Kagami dan kau yang panik—menangkapnya, dan membantunya berdiri dengan tangan Kuroko dilingkarkan oleh Kagami.
"Tetsuya-kun.. Sepertinya dia terlalu memaksakan diri. Akan kuambil air mineral untuk kalian." ujarmu dan pergi dari sana.
Kagami melihatmu pergi dan bertanya pada Kuroko yang masih seperti itu, "Kau tidak apa-apa?"
"Hhh.. Kau bahkan hanya bisa berdiri dengan bantuan." sahut Aomine. Kagami menoleh ke arah pemuda berkulit lebih gelap darinya tersebut.
"Tidak ada yang bisa tahu siapa yang menang sekarang." Mata yang berwarna safir biru itu terlihat gelap. Tak ada emosi.
"Tapi mungkin itulah yang memang terbaik. Alasanku untuk kalah itulah perbedaannya."
Kagami diam sejenak dan berucap, "Kenapa kau bertingkah seperti semuanya telah berakhir?"
Aomine mengangkat tatapannya ke arah sang pemuda bermata merah marun yang membopong temannya itu. Ia sedikit terkejut akan perkataannya.
"Semua ini baru saja dimulai. Mari bermain lagi, nanti aku akan mengajakmu." Dan ujaran Kagami membuat Aomine hanya bisa tertegun sejenak sebelum memberikan seringai kecil padanya.
"Diam kau, bodoh." Balasnya pelan.
Kuroko yang mulai mengangkat kepalanya, perlahan berucap, "Aomine-kun..." Aomine melirik ke arahnya sebelum tertegun lagi ketika mengingat perkataannya yang menyakitkan waktu Inter High.
Aomine sedikit menunduk dan berkata, "Kau menang, Tetsu." Dan hening sesaat.
"Boleh aku meminta sesuatu?" pertanyaan dari Kuroko membuat Aomine menegakkan kepalanya lagi untuk melihat kearah pemuda bermata bulat tersebut.
Kuroko ternyata menyodorkan tangannya yang satu lagi—yang telah mengepal—dihadapkan kepada Aomine.
"Kau masih belum membalas fist bumpku."
Aomine bingung dan kaget. "Apa?! Siapa yang peduli dengan hal itu?"
"Tidak." Balas Kuroko. "Coba tempatkan dirimu di posisi diabaikan."
Aomine menghela nafas singkat dan menjawab, "Baiklah. Yang ini, yang terakhir kalinya, ya."
"Iya."
Dan fist bump yang terakhir kali dilakukan oleh mereka berdua.
Kau yang melihat dari kejauhan—tersenyum kecil. "Akhirnya, sepertinya baik-baik saja." gumammu kecil sebelum kembali untuk membantu Riko untuk bersiap-siap.
"Aomine-kun." Aomine menoleh kearahnya lagi.
"Kau masih ingat 'kan? Akan hal itu." kata Kuroko dengan pandangan berarti—Aomine tertegun sejenak dan tersenyum miring.
"Tentu saja. Berusahalah mendapatkannya. Kau sudah bertekad untuk melindunginya 'kan?" Ujar Aomine itu dan disambut anggukan mantap oleh Kuroko. "Iya."
Sementara Kagami hanya bisa diam mendengarkan mereka. Mereka semua berbaris dan memberi salam.
Tanda pertandingan untuk hari ini telah berakhir—dan Seirin mengantongi tiket menuju babak selanjutnya.
Skip time
.
"Hah? Kita belum siap untuk pergi sekarang?" tanya tiga adik kelas satu pada Riko. Gadis berambut karamel itu hanya bisa menjawab. "Uhm, aku ingin pergi juga, tapi," dan menambahkan lagi sambil tersenyum maklum dan puas. "Mari biarkan mereka sedikit lebih lama lagi."
"?"
Di dalam ruang loker mereka, nampak lima pemuda yang kelelahan—tertidur disana.
Good work, boys.
Riko bertanya pada mereka lagi. "Oh ya, kalian melihat (Name), tidak? Dia belum kembali sampai sekarang."
"Tidak, pelatih. Kami tidak melihatnya." Jawab Furihata mewakili kedua temannya. Mendengar itu, Riko hanya bisa menghela napas. "Baiklah. Selagi kita menunggu yang lainnya beristirahat, kita juga menunggu (Name) kembali."
Sementara itu, kau berlari dan terus menoleh ke kanan dan ke kiri—mencoba menemukan pemuda berkulit tan tersebut. Hanya ada keramaian dan orang-orang dari luar dan dalam ruangan. Kau mencoba mengambil oksigen sebanyak mungkin sebelum berpikir.
"Hah—hah—hah... Bukan disini... tapi dimana—" Dan tersirat sebuah tempat dimana kemungkinan besar akan menemukan orang yang kau cari sekarang ini sebelum berputar arah dan berlari lagi—kali ini lebih cepat. Kau tidak peduli meskipun angin malam membuatmu merasa kedinginan sambil berlari dan berlari terus sebelum menghentikan larimu—sampai di tempat tujuan.
Sebuah lapangan basket dekat area parkir walau masih berada di area stadion tempat Winter Cup berlangsung, tapi cukup sepi. Dan disitulah berdiri seorang pemuda berambut biru tua dan berkulit kecoklatan. Berdiri dalam diam dengan sebuah bola basket ditangannya sebelum menembakkannya ke dalam ring basket, dan bola tersebut memantul lalu kemudian menggelinding di tanah tak jauh darinya. Berdiri memunggungimu. Pemuda yang selama ini kau cari—dan rela untuk berlari menembus malam yang mengundang dingin sekaligus sejuk.
Kau tertegun sejenak sambil terengah-engah untuk membuat detak jantung agar normal kembali. "Daiki-kun..." Pemuda itu menyadari keberadaanmu dan melirik kebelakang, dengan pandangan kosong dan redup. Melihat pandangannya saja, kau sudah tahu. Seorang Aomine Daiki mulai mengalami dan mengerti arti dari sebuah kekalahan.
Kau berjalan menuju arahnya dan menarik kedua lengannya, membuat pemuda itu dengan mudahnya berbalik dan menghadap ke hadapanmu. Kau mendongak ke arahnya—menatapnya lekat-lekat. Aomine masih menatap seperti itu—redup dan kosong. Seakan tak ada lagi semangat untuk bisa membuatnya bangkit lagi dalam bermain basket.
Tak ada—
"Jangan menyerah, Daiki-kun."
Kalimat itu membuat Aomine tertegun sejenak dan kau melanjutkan, "Hanya karena kalah dari kami, bukan berarti kau akan berhenti untuk bermain basket 'kan? Iya 'kan?!"
Entah kenapa rasanya dirimu benar-benar tak ingin hal itu terjadi. Seperti ada perasaan sesak ketika melihat Aomine berwajah begitu—walau kau masih dibalut perasaan senang karena tim Seirin—timmu akan maju ke babak selanjutnya. Tapi, tetap saja...
"Pfft—Hehehe..." Kau mendongak dan melihat bahwa Aomine tertawa kecil dan kau hanya bisa melongo. Heran kenapa dia bisa tertawa.
"Dasar.. Kau itu berlebihan juga ya. Sama seperti Satsuki. Mana mungkin aku akan menyerah semudah itu pada hal yang aku sukai. Kau pasti berpikir yang tidak-tidak, (Name)." ujarnya dan mengusap kepala dan kau menyayukan pandanganmu.
Hal ini... dan senyum itu... Sepertinya kau pernah mengalami kejadian yang sama. Tapi tak ingat kapan dan dimana.
"...ain sam... (Name)!"
Hah? Yang tadi itu apa?
Kau menepis pikiranmu dan bertanya, "...Tapi kau tahu, kau pasti sedih karena tidak menang, 'kan?" Aomine melepaskan tangannya dari kepalamu dan berbalik memungut bola yang ada di tanah sebelum men-dribble lagi beberapa kali.
"Memang benar, aku merasa terkejut waktu itu. Tapi," ia berhenti melakukan dribble dan menembakkan bola tersebut ke dalam ring basket sebelum masuk dan memantul beberapa kali di tanah sebelum menggelinding tak jauh dari mereka.
"Aku tetap takkan menyerah. Akan hal apapun. Termasuk basket. Aku jadi semangat ingin latihan lagi." Ujarnya dengan senyum tipis, membuatmu tertegun lagi.
Senyum itu...
Akhirnya. Bukan senyum palsu maupun senyum sinis yang kau lihat.
Pertama kalinya kau melihat senyum yang membuat orang lain merasakan kemurnian dari semangatnya bertanding. Kau tersenyum puas sambil berkacak pinggang. "Aku tahu itu kok. Karena yang bisa mengalahkan kau adalah dirimu sendiri." balasmu padanya dan ia menghela napas.
"Kau mengambil motto-ku. Itu dilarang diucapkan oleh orang lain selain diriku." Kau tertawa kecil. "Tapi 'kan tidak apa-apa—"
"Sudahlah, diam saja."
Dan kau segera diam ketika dia melakukannya. Ia menunduk dan menaruh kepalanya di bahumu, sambil memegangi kedua lengan atasmu. Jarak kalian cukup dekat—apalagi sampai berhadapan satu sama lain. Kau yang mencoba untuk melepaskan diri—Tapi sayang, dia lebih kuat darimu sehingga akhirnya kau pasrah saja. Bahkan kau bisa merasakan deru nafasnya yang menggelitik disekitar tengkukmu.
Semburat merah muncul di kedua pipimu dan hidung gegara dinginnya angin malam."Da-Daiki-kun, kau—"
"Aku merasa lelah... Sangat lelah... Biarkan aku beristirahat sebentar dipelukanmu." Sahutnya—masih dalam posisi seperti itu. Kau sedikit membelalakkan matamu dan kemudian perlahan memejamkannya. Satu tanganmu mengalung di sekitar punggung Aomine, dan satunya lagi mendarat di kepala—mengusapnya dengan lembut. Bisa kau rasakan Aomine mulai terisak dalam diam—kau dapat mendengarnya dengan jelas. Dan kau tahu itu.
Ia tak ingin orang lain melihatnya menderita selain dirinya sendiri; kau yang mulai mengerti akan kebodohannya itu hanya bisa diam dan tersenyum kecil, matamu tetap menyayu.
Aomine Daiki menangis didalam pelukanmu. Kau mencoba untuk menenangkannya dengan terus mengusap kepalanya dengan lembut dalam diam.
Ditengah keheningan yang menyanyi diantara kalian berdua. Yang ada sekarang hanya keheningan dan air mata Aomine di bajumu.
Tapi kau tak peduli. Yang penting—sekarang kau ingin Aomine merasa lebih baik. Kau tak tega melihat orang lain sedih. Apalagi seperti pemuda yang berada dipelukanmu saat ini.
Sungguh; kalau boleh dikatakan—kau itu terlalu baik hati, (Name).
Setelah beberapa saat kemudian kau merasakan ada yang sesuatu yang menyentuh lehermu sebelum dirimu kaget—sport jantung seketika. Bibir Aomine mencium lehermu.
Dan kau merasakan kedua tangan Aomine menarikmu untuk mendekat padanya. Kau terbelalak dan merasakan lagi—kali ini dengan sensasi yang membuatmu sedikit mengeluarkan desahan yang tak disengaja.
"Nh—Ah~" desahmu sambil terbelalak. Astaga, bisa mati berdiri kalau begini!
Kau terkejut akan tindakannya dan mencoba melepaskan diri tapi tetap saja—percuma saja kau memberontak. Tak ada hasilnya.
All hail the power of men.
Kau mencengkram kuat-kuat bahunya dengan kedua tangan ketika sambil terpaksa menelengkan kepalamu ketika ia menyedot dan menjilat lehermu berkali-kali. Seperti vampir yang menyantap mangsanya dengan rasa lapar yang tak tertahankan. Kecupan, kecapan, bahkan jilatan menghujam kulit lehermu yang sensitif.
"Ng—Daiki-ku—Nh!~.." desahmu tertahan sambil menggigit bibir bawah, tak bisa lagi bertindak. Aomine melepaskan bibirnya dari lehermu dan menjilat dengan seduktif. Manik safir biru itu menatap sejenak hasil kecapannya di lehermu. Sebuah lingkaran merah yang lumayan kelihatan dan kontras. Untung saja ia tidak menggigitnya, karena kalau tidak—Agh, ia tak ingin kau terluka; pikirnya. Ia lalu membisikkan sesuatu ditelingamu.
"Bersiaplah menerima bahaya yang menantimu."
Kau terbelalak dan tersadar, sontak kau mendorong Aomine menjauh—dan untung saja dewi fortuna berpihak padamu. Aomine terdorong—menjauh darimu. Kau terengah-engah. Hanya karena diberi 'serangan' itu saja.
Astaga.
Tanganmu menutupi leher yang dicicipi oleh Aomine dengan wajah memerah seperti apel yang matang dari pohonnya, sebelum pergi dari sana dengan berlari—kabur dan meninggalkan seorang Aomine Daiki, sendirian di lapangan.
Beberapa saat kemudian setelah melihatmu itu berlari menjauh, Aomine menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk kanan sebelum lidahnya menjilat bibir atasnya sendiri dan menyeringai.
"Hee.. rasanya lumayan manis juga~.."
"Hm?"
Sepasang bola mata hitam—biru—keperakan—terserahlah—tersebut memperhatikan seorang pemuda berambut hijau—yang telah berganti kaos putihnya yang lusuh karena keringat dan bau menyengat dari aktivitas pertandingan setelah melawan Onita High yang menjadi lawan mereka tadi. Seperti biasa, mereka menaklukan pertandingan dengan skor 109 – 71.
Badan maskulin dan tegap itu saat ini tengah memakai bajunya yang lain tapi berwarna putih juga, mulai melangkahkan kedua kakinya—hendak keluar dari ruang ganti tim Shuutoku.
"Shin-chan, kau mau kemana?" tanyanya pada rekannya tersebut. Pemuda berkacamata tersebut menoleh ke arahnya.
"Aku mau pergi beli minuman untuk kita semua—disuruh Miyaji-senpai—nodayo. Seperti biasa 'kan?" balasnya dan ia mengangguk dengan cengiran lebar.
"Iya, yang biasanya. Tolong ya!" ujarnya dan hanya dibalas helaan napas singkat sebelum pemuda berambut hijau itu keluar dari ruang tersebut.
Mari kita percepat ceritanya.
Setelah dari minimarket, ia berjalan kembali dengan sekantong plastik berisikan minuman yang dipesan oleh rekan-rekan timnya. Tidak, pemuda itu takkan melupakan minuman untuk dirinya sendiri.
Sambil berjalan, ia mulai mempunyai suatu pemikiran. Di otaknya sekarang mulai berkerja untuk menyimpulkan sesuatu yang penting baginya dan—Ah, iya.
Dan teman-teman semasa SMP dulu.
Dia adalah anggota Generation of Miracles—tapi itu dulu. Sekarang, dia adalah pemain reguler dari tim Shuutoku dan bersaing dengan mereka.
Untuk merebut kemenangan dari dua hal.
Pertama, kemenangan di Winter Cup.
Kedua, (Name).
Ya, tidak salah ketik. (First Name) (Last Name).
Gadis baru dari Seirin High yang tiba-tiba saja ada dan hadir di tim salah satu temannya.
Bukan urusannya sih, tapi tetap saja—rasanya lumayan aneh. Gadis yang tak ia sadari dari dulu—mempunyai sepasang mata indah, badan yang tingginya saja kurang dari Kuroko, dan kelakuan yang lain daripada gadis pada umumnya.
Padahal, gadis itu awalnya bukan siapa-siapa.
Yang bukan siapa-siapa kalau mereka tidak mengincarnya.
Dan langsung saja dia bertemu dengannya saat ia melihat gadis bodoh itu hampir saja ditabrak oleh mobil—dan menyelamatkannya.
Bukan, koreksi lagi. Ia bertemu dengannya di toko aksesoris ketika ia berburu benda keberuntungannya.
Gadis yang langsung saja datang di kehidupan seorang Midorima Shintarou.
Dan itu sudah lama terjadi; asal pembaca tahu saja.
Untuk suatu hal, dia dikaitkan dengannya dan kelima temannya dulu.
Sepertinya, ini akan jadi masalah besar. Tangannya yang berada di saku—ia keluarkan dan memijit batang hidungnya—tidak sampai mengenai kacamatanya—sambil menghela nafas panjang. Dinginnya malam membuat kepalanya sedikit pusing.
"Sudah kuduga... Akan jadi seperti ini. Aku terjebak dengan 'pemain-pemain' yang merepotkan. Ini akan sulit—nanodayo." Keluhnya kecil sebelum bergumam kecil.
"...ku bisa men... mu?.."
Pemuda bermata hijau zamrud itu kemudian berhenti berjalan, karena ia melihat seseorang berlari ke arahnya. Midorima mencoba memfokuskan penglihatannya dan tertegun, "..(Name)?"
Kenapa dia belum pulang? Pertandingannya 'kan sudah selesai; pikirnya sebelum mencoba menghampiri gadis tersebut.
Tapi Midorima berhenti berjalan. Gadis itu berlari dengan lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ia tak bisa melihat wajahnya karena tertutup poni. Pemuda itu memberanikan diri untuk menghampiri coretmakhlukcoret itu lagi.
"O-Oi, (Name)? Kaukah itu—" saat ia menyentuh pundak gadis itu, ia sedikit terbelalak kaget.
Nafas yang tersengal-sengal dan berat karena berlari, tubuh terhuyung-huyung, wajahnya—
Nampak bekas airmata dan wajah gadis itu merah. Seperti ekspresi lelah dan shock. Tangannya terus memegang lehernya—seperti menyembunyikan sesuatu.
Perlahan, ia menengok dengan mata sayu. "A-Ah.. Shin-kun.. Ternyata ka..."
"(Name)!"
Tubuh mungil itu hampir saja tumbang tapi beruntung Midorima langsung refleks menopangnya, dan tubuh itu mendarat mulus masuk ke dalam pelukan sang shooting guard Shuutoku tersebut. Midorima hampir saja panik dan pipinya mereona merah karena gadis itu tumbang begitu saja, ia mencoba untuk tidak grogi ketika bersentuhan dengan seorang gadis.
Ya, Midorima Shintarou suka grogi jika dekat dengan lawan jenisnya.
Pemuda berkacamata frame hitam tersebut memperhatikan gadis yang ada dihadapannya.
Keadaannnya sedikit memprihatinkan.
Seperti—dia seperti telah lari dari sesuatu—atau seseorang.
Midorima penasaran—sebenarnya apa yang terjadi padanya.
Ia harus tahu.
Midorima bertanya sambil mencoba membantunya berdiri. "(Name), sebenarnya apa yang ter—!"
Tidak mungkin. Midorima tidak percaya akan kenyataan ini. Saat ia melirik ke arah leher sang gadis yang lemas; ada bekas melingkar merah menghiasi kulit mulusnya.
Siapa... Siapa yang berani melakukan hal seperti ini? Ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi bekas itu dan melihatnya untuk secara lebih jelas.
Bukan gigitan, hanya seperti—bite mark alias love mark.
Ada yang menandainya.
"Jelas-jelas dia memancing Akashi untuk membunuhnya. Dasar, orang itu bodoh sekali." pikir pemuda bermata zamrud tersebut dan menoleh pada gadis yang ada dipelukannya sekarang ini.
Dan yang bersangkutan disana langsung bersin disertai merinding seketika.
Kembali ke cerita.
Wajahnya terlihat lelah—tentu saja. Karena pertandingan tadi.
Dan sekelebat ekspresi yang tak terbaca olehnya—tapi ia tak tahu apa maksudnya.
"Zzzz..."
Terdiam sebentar, Midorima menghela napas singkat sambil membetulkan kacamatanya dengan jari telunjuknya, sebelum menggendong gadis Seirin itu dipunggungnya sebelum berjalan lagi—menuju tempat tim Seirin berada.
"Semoga mereka belum meninggalkan stadion. (Name) 'kan bukan Kuroko—nanodayo." Midorima melirik ke belakang dan kembali menghadap ke depan, sambil mendengus singkat.
"Gadis yang merepotkan."
"..."
"..."
"Zzz..."
Dua orang itu saling berhadapan. Satunya bermata belang, dan satunya bermata teduh, dan satunya lagi tidak membuka matanya karena tertidur pulas dengan nyaman.
Pemuda bermata belang yang bernama Akashi Seijuurou itu bertanya, "...Jelaskan kenapa bisa jadi seperti ini."
Sementara pemuda bermata teduh itu—Midorima Shintarou mendelik ketika mendengar pertanyaannya. "Maksudmu aku yang melakukannya—Hhh... Kujelaskan saja." dan ia menceritakan kejadiannya secara singkat pada pemuda yang ada di depannya itu.
"Jadi maksudmu, dia berlari dengan lemas dan pingsan tanpa sebab?" ia menarik kesimpulan pada penjelasannya.
Midorima mengangguk kecil. "Begitulah—nanodayo. Aku juga tak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Dia terlihat lelah dan sepertinya ada yang melakukan sesuatu padanya."
Mendengar itu, Akashi terdiam. Menandakan ia tahu akan semuanya—semuanya dan juga bagian yang Midorima tak tahu pun. Dan sepertinya Midorima mengerti akan terdiamnya sang pemuda berambut merah darah tersebut.
"Biarkan saja, sekarang ini aku hendak fokus ke pertandingan. Kau juga, Shintarou." Ujarnya dan Midorima menjawab, "Tentu saja. Aku takkan kalah dan menyerahkan semuanya dengan begitu saja."
"Ngomong-ngomong, tanganmu tidak pegal mengangkatnya?"
"Tak kusangka, dia ringan sekali."
Dan Akashi tersenyum mengerikan. "Akan kucincang orang yang melakukannya pada (Name)ku. Lihat saja nanti, setelah aku mengalahkan kalian semua."
Midorima menatap tajam padanya. (Name)nya?—Ha, dasar.
Tapi ia memakluminya, karena Akashi memang begitu.
Kemudian Midorima merasakan pergerakan dari tubuh yang ia gendong saat ini. Kau mulai bangun dari ketidaksadaran.
Perlahan, kau melihat seberkas cahaya sebelum beberapa kali mengerjapkan mata dan akhirnya mulai bisa melihat jelas. Kau merasakan hangat dihadapanmu.
'Hangat... Seperti punggung seseorang, tapi siapa—'
"Kau sudah bangun, (Name)?"
HE?
"Uwaaahh! S-Shin-kun! Ke-Kenapa kau mengangkatku?! Dan kenapa aku digendong olehmu?! Dimana ini?! Dan kenapa ada orang brengsek ini?!" tanyamu panik dan bertubi-tubi dengan muka memerah dan terakhirnya malah menunjuk dengan kekesalan yang langsung bangkit ketika melihat Akashi ada disana.
Midorima mencoba untuk menyeimbangkan dirimu yang bergerak-gerak terus dan menyelamu. "Ja-Jangan bergerak terus—nodayo! Nanti kau jatuh!"
Kau memaksa untuk turun dan akhirnya dibiarkan oleh Midorima untuk turun dan bisa berdiri sendiri dengan kedua kakimu.
"Lihat 'kan? Aku bisa berdiri sendiri, lagipula kenapa kau menggendongku?!" ujarmu.
"Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau bisa berlari terhuyung-huyung dan pingsan?!" sela Midorima, perkataannya membuatmu sedikit terperanjat dan sedikit menunduk.
Dan ia menambahkan, "Kalau aku tidak ada disana, sudah pasti kau pingsan dan terkapar di tanah tanpa seorangpun tahu kalau kau tidak kembali ke timmu—nanodayo! Sebenarnya apa yang terjadi padamu, (Name)?" sementara kau terdiam mendengarnya.
Bukannya apa, kau tahu kalau Midorima meminta penjelasan—tapi mau bilang apa? Kau tidak bisa bilang padanya gegara kejadian tadi. Kau tak ingin membuat orang khawatir—apalagi mengetahui soal tadi.
Soal kalau Aomine menyerangmu.
Tanganmu perlahan kau taruh di leher ketika mengingat itu dan menunduk ke lantai. "Maaf, Shin-kun. Tapi aku sedang tidak ingin bicara dulu.."
Midorima merasa lebih heran dan mencoba untuk bicara lagi sebelum Akashi menyela. "Bukankah lebih baik kalau dijelaskan secara keseluruhan?"
Kau langsung mendongakkan kepalamu pada Akashi dan menatap tajam padanya. "A-Apa urusanmu kalau—"
"—kalau terjadi sesuatu denganmu, begitu? Tipikal dirimu. Ya." Sambung Akashi dan membuatmu terbelalak dan bungkam. Midorima hanya bisa diam saja, melihat kalian berargumen.
"Hanya karena kau mengelaknya, bukan berarti tidak terjadi apa-apa." tambah Akashi.
Kau berpikir; pasti dia sudah tahu dari Midorima, tapi sepertinya Midorima tidak tahu-menahu soal siapa yang menyerangmu tadi.
"...Kenapa kau selalu saja mengganggu hidup orang? Apa salahku padamu?" tanyamu dengan kesal padanya.
"Semuanya." ujarnya singkat.
Hah? Kenapa... Kenapa dia berbicara seperti itu padamu?! Sebenarnya, apa salahmu padanya sehingga dia berkata seperti itu?! Kau bahkan baru mengenalnya pada hari ini, mengeklaim bahwa dia absolut dan kedudukannya tinggi. Dan sekarang, kau malah dikatai olehnya?! Berani sekali!
Kau terheran. "Apa maksud—"
"Semuanya. Tindakanmu, kelakuanmu, gerak-gerikmu, eksistensimu, perhatianmu, kelancanganmu, dan juga sikap serta sifatmu. Semua hal yang ada di dirimu. Dan aku benci itu." Jawab Akashi dengan dinginnya.
Kedua mata Midorima sedikit terbelalak. 'Akashi...' ia tak menyangka bahwa ia akan bicara seperti itu.
"Dan kurasa lebih baik kau tidak mengikuti turnamen ini, karena turnamen ini bisa berjalan dengan baik jika tanpamu." Lanjutnya ditambah dengan sikap angkuh.
Kau terpaku seketika—seperti seluruh tubuhmu terpanah oleh ratusan anak panah dari arah mana saja. Perkataannya seperti membuatmu tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Jadi ini semua salahmu?
Tertunduk sebentar, kau mengepalkan kedua tanganmu kuat-kuat dan berbisik lirih, "Jadi... Begitu ya?.." Kau menatap balik padanya dengan kemarahan yang sangat.
"Jadi, kau menyimpulkan semuanya, bahwa ini semua salahku?! Begitukah?! BENAR BEGITUKAH, HEI AKASHI SEIJUUROU YANG TERHORMAT?!" sindirmu padanya, membuat Midorima terperanjat dan panik akan kemarahanmu.
"(Name)—"
Kau tidak mengindahi Midorima dan terus melanjutkan kalimatmu, "Begitukah? Jadi segala apa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan? Bahwa aku masuk ke dalam tim bersama Taiga-kun dan Tetsuya-kun—dan ikut turnamen ini adalah sebuah kesalahan? Dan segala tindakanku jugalah sebuah kesalahan? Begitukah menurutmu?"
"Padahal aku baru saja bertemu denganmu hari ini, tapi lihatlah—harusnya kau berkaca pada cermin. Lihatlah dirimu yang seperti ini, apa bisa dibanggakan, Tuan Akashi Seijuurou yang Angkuh?" tantangmu dengan mata melotot—dan tersenyum sumringah yang lebar padanya dengan emosi yang memuncak.
"Dan juga, apa urusannya kau untuk tahu soal yang terjadi padaku, HA?! Apa dengan kau mengatakannya dengan enteng seperti itu, aku mau menurutimu dan berpura-pura kalau semuanya akan baik-baik saja, BEGITUKAH?!" teriakmu padanya—yang sedikit menggema di koridor stadion tersebut.
Disaat kau masih marah, Midorima mencoba menenangkanmu, "Tenanglah, semuanya akan–"
"Tidak! Aku tidak akan tenang dan takkan pernah menuruti perintah dari orang yang mengatas namakan keangkuhan seperti dirinya!" sergah dan tunjukmu pada Akashi yang diam melihatmu marah.
Akashi yang memandangmu yang sedikit tersengal-sengal dengan mata belangnya selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Kau tidak usah menudingku seperti itu, lagipula pastinya bukan aku yang menyerangmu, ya'kan?"
Dan sekali lagi kau terpojok oleh perkataannya sebelum akhirnya menggeram dalam diam.
"Cih, bukan urusanmu. Lebih baik aku pergi dari sini daripada meladenimu, dasar angkuh!" ujarmu sebelum berbalik dan berjalan di arah yang berlawanan.
Midorima mencoba mencegahmu, takut terjadi apa-apa. "Tu-Tunggu, (Name). Kau—"
Kau berkata padanya tanpa menoleh, "Kau tidak usah mengantarku, jangan khawatir. Sampai jumpa." Dan kau melenggang pergi dari sana.
Midorima dan Akashi menyaksikan dirimu pergi, sebelum Akashi menyahut. "Lebih baik kau juga pulang, Shintarou. Hari sudah malam."
Midorima menyindirnya dalam diri. Memangnya kau itu apa, ibuku?
Midorima memang cari mati.
"Hm. Aku juga mau pulang setelah ini. Sampai jumpa." Dan pemuda berambut hijau itu pergi sambil kembali menenteng plastik belanjaannya—menjauh dari tempat tersebut, yang menyisakan Akashi yang sendirian disana.
Akashi berdiri disana tanpa sepatah katapun, mendengarkan hening bernyanyi di sekelilingnya, dan ia berjalan balik dari arahnya pergi tadi, untuk kembali ke tempatnya agar bisa pulang secepatnya. Sambil pemuda itu berjalan santai, terlihat sebuah seringai muncul menghiasi bibirnya ketika matanya yang salah satunya berwarna emas itu sekilas berkilat.
"Tunggu saja. Seiring berjalannya waktu, kita akan tahu nanti. Siapa yang akan tersingkir dan yang terpilih."
Tak kusangka, ia dengan mudahnya terperangkap dengan jebakanku; pikir sang pemuda berambut merah darah tersebut sambil tetap memakai seringai selama kakinya melangkah di koridor tersebut.
Teringat ekspresimu yang marah padaku tadi itu memang menyenangkan, (Name); pikir Akashi senang.
Sepertinya, semuanya memang baru saja mulai jadi menarik. Dan semuanya, akan jadi lebih dan lebih, dan lebih menarik lagi.
Selama ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan, ia takkan mundur begitu saja.
"Let's see who's gonna enjoy the game. The players? Or the prize instead?"
.
.
.
TuBerColousis
(pojok review, mari dimakan sampai kenyang~ :3 :D :) #apaan)
Hola minna!~ Sumimasen, SUMIMASEN! Maafkan daku sekali lagi ya, kalo nunggu apdetannya lama banget QwQ #ojigi Beneran dah, 5 bulan—5 BULAAANNN! QXQ hari ini baru bisa apdet gegara banyak hambatan dari kemarin-kemarin kayak WB, mager, dan juga segala tetek bengek lainnya. Tapi jangan kuatir, nggak ada niat buat men-discontinued cerita ini. Soalnya sudah niat untuk menyelesaikan cerita ini sampa selesai. Gimana, mulai masuk konflik 'kan? Semoga kalian penasaran dan tidak bosan menunggu, karena saya punya surprise untuk kalian di chapter-chapter selanjutnya! Hayo, yang bisa nebak alurnya ini mau kemana, nanti dapat cipok dari Midorima dan Akashi #plakk
Mungkin nanti apdet dalam beberapa hari dan minggu untuk next chapter selanjutnya. So stay tuned ya~ #winks Btw yang buat adik-adik kelas 7, 8, 10, 11 yang mulai ujian sekolah, fighting! Kelas 9 SMP yang menanti pengumuman keluar, aku do'akan bisa lulus dan dapat nilai bagus! Dan bagi teman-teman yang 12 SMA/SMK/MA dan sederajat, selamat ya yang lulus 100% yeah! Wohoo~~~ XD *tebar confetti*
Kuroko: Selamat ya, Shinju-san.
Kagami: *tiup terompet*
Kise: Selamat ya Shinjucchi!~ *ikutan tiup terompet*
Midorima: *ikutan tebar confetti*
Author: Makasih ya, semuanya. jadi terhura TvT #plakk Tinggal nunggu pesta wisudanya saja XD
Aomine: Ayo rayakan! Mari pesta! *jejingkrakan*
Murasakibara: Mendingan makan besar buat pestanya, nyem nyem~.. *makan potato chips*
Akashi: Rayakan dengan mewah saja. #holangkaya
Author: Nggak usah, males buka pesta #hah btw chapter kali ini rada greget ya? Apa aku lagi maksa banget atau kenapa ya? *garuk kepala*
Kise: Kalau itu aku tidak tahu-ssu. Kan kau yang bikin cerita *sweatdrop*
Author: *shrugs* Bodo amat lah. Yang penting sekarang kita bales review dulu, ya. Nich, Kuroko. Bagikan ke yang lain *kasih ke Kuroko* #sokNgeBoss
Kuroko: Iya. *tebar kertas review masing-masing*
(Semua kertas review dibagikan secara rata.)
Kagami: Hee... Lumayan banyak juga ya, reviewnya. *lihat kertas reviewnya*
Author: Iya, lumayanlah. Kemajuan pesat ^^ nah, Akashi, kau duluan.
Akashi: oke, ini dari sherrysakura99-san. Aku memang super sekali kan? Sudah sepantasnya karena aku absolut *ngibas rambut* #SparklesEffect #BeingFabuAsFuck Dan ternyata dia suka sama pas adegan kissu-nya sama Tetsuya. Katanya dia penggemar beratmu.
Kuroko: Oh, terima kasih. Tapi sayangnya harus diambil beberapa kali sebelum jadi bagus adegannya. *sighs* #lega
Kise: Hee... Memangnya sampai segitunya kah? Kalo aku sich cuma take 1 kali saja. Kebanyakan dari mulai chapter kemaren sampai yang ini ada adegan kontak tubuh ya. Apalagi kissu-nya Aominecchi.
Aomine: Adeganku malah diambil sebanyak 10 kali. #KzlBgt(?)
Author: Salahkan di biru ini yang kurang menyerapi perannya saat kissu waktu itu, jadi aku re-take sampe aku ngerasa pas.
Kagami: Benaran?! Gila *ketawa* Nggak capek lu?
Aomine: Ya capek lah! Lu goblok, Bakagami! Disuruh gitu sampe berulang lagi sama dia ya tambah capek rahangku. Kalo aku ngelakuinnya sama Mai-chan sich gapapa #EmangMaunyaElu
Kagami: Ngajak berantem lu?! #sensi
Aomine: Ayo, sini! *nantang*
Author: DIEM DASAR BANGKE KAMPRET LU PADA! *getok kepala mereka berdua* DIEM AJA NAPE?! INI LAGI BALES REVIEW!
Akashi: *mengabaikan adegan marah-marahan mereka* Terima kasih atas reviewnya. Sekarang giliranmu, Ryouta.
Kise: Yosh! Ini dari Kurotori Rei-san. Dia bilang kalo tebakan Kurokocchi tentangnya memang benar; cewek tulen. Dan dia bilang kalo dicium 3 cowok dalam sehari itu kemajuan.. *sweatdrop*
Midorima: Benar-benar dah-nanodayo *sighs, naikin kacamata*
Murasakibara: Nyem nyem... *makan kue kering*
Kise: Tapi kalo ganteng semua, dia rela. Katanya-ssu. Hehehe... ^^" Sepertinya mau-mau aja Rei-san kalo saja yang ganteng #der Katanya bertanya kenapa Akashicchi absolut, pengen hajar tapi gak rela soalnya imut. Kalo tampangnya kayak Kurokocchi mah gak masalah, katanya.
Akashi: Karena aku memang absolut—apa?! #GuntingchanMenyanyi
Kuroko: *kicep to the max*
Kise: Hii! #JeritNgeri O-Oke.. Katanya dia sayang kalian berdua. Dibilang pairing yang cocok #wat Oke, pasti dilanjutkan-ssu! Arigatou~ #SenyumCharming Btw Shinjucchi, bukannya ada review yang disuruh baca oleh kita berempat?
Author: Oh iya ya! Lupa bingo! #TepokPantat #wat Oke, mana ya reviewnya.. *ngorek-ngorek kotak surat review* Nah ini dia! Kuroko, Kagami, Kise. Kalian juga ikutan baca.
Kise: Oke~
Kagami: Hhh... Ada-ada saja nich reviewnya.
Kuroko: Sudahlah, ikhlaskan saja, Kagami-kun. #maksudnya
Author: Oke, ini dari ZhaoYan22-san. Halo juga, Chi-chan dan Sie-chan. Salam kenal ya! ^^ Mulai sekarang aku panggil kalian begitu ya. Boleh saja kalau kau memang mau manggil kau begitu, gapapa kok. Kita sama-sama belajar jadi senior-junior itu nggak ada perbedaannya, dan aku juga mohon bantuannya ya! Mari sama-sama berjuang! Yeah! #hush
Kise: Sepertinya dia anak yang ceria ya ^^"
Kagami: Aku bisa tahu dari reaksinya. Dia manggil kita bebeb.. *sweatdrop*
Kuroko: Dan setelah itu dia malah pingsan. #PasangMukaDatar
Author: *kemplangin mereka bertiga* Jangan nggak sopan sama reviewer! #KZLToTheMax
Kuroko, Kagami, Kise: *sungkem(?)*
Author: Ahem *wise cough*Terima kasih atas pujiannya, aku senang mendengarnya! Ternyata banyak yang suka cerita abal ini. Dan ini sudah kami balas dan bacain reviewmu kok, nggak usah kuatir ^^ Sie-chan sabar aja ya, digituin sama Chi-chan ^^" Dan lets be friends juga~ selalu update kok (walau lama wkwkwk) ganbatte buat sekolahnya dan keep writing juga ya! Thanks for the review! Midorima, giliranmu!
Midorima: Kali ini dari Arisa Hamada-san. Dia minta cepat update. Ini sudah diperbaharui ceritanya kok. Tenang saja. Arigatou gozaimasu *bows*
Author: Oi, Aomine! Baca reviewnya, jangan baca majalahmu. Nanti aku bakar lho!
Aomine: Sial, ketahuan. Kabuuuurr! *lari sprint*
Author: WOI SETAN ITEM, SINI LU! GUE BANTAI BARU NYAHOK LU! *lari ngejar sambil bawa gergaji api(?)*
(Dan Author dan Aomine lari kejar-kejaran marathon 7 hari 7 malam #dor)
Kuroko: Baiklah, sebagai kaki tangan Author, kini aku akan menggantikan giliran Aomine-kun kepada Murasakibara-kun. Onegai. *bows*
Murasakibara: Baiklah~ Ini dari ChocolatDiamond-san. Katanya ceritanya untuk kali ini keren. Terima kasih~.. penasaran ya? Tunggu surprise di chapter selanjutnya ya~.. menurut Ju-chin, katanya masih panjang kok tapi nggak terlalu panjang. #hah Dan makasih atas semangatnya, Ju-chin akan selalu berusaha semangat terus. Arigatou~.. *bows*
Kuroko: Akashi-kun. Onegai. *kasih kertas reviewnya*
Akashi: Baikla—Hah? Panjangnya.. *sweatdrop* Ini yang langganan si Shinju kan?
Kuroko: *nods* Iya, Akashi-kun. Tolong ya. *jurus muka datar*
Akashi: *sighs* Kali ini saja. Oke, ini dari Mey-chan Loves Kagami-5862-san. Katanya cerita abal ini makin keren dan bikin greget. Katanya makin cinta sama Taiga.
Kagami: Huh?! #shock
Akashi: Oke, bisakah nggak usah lebay? Dia nggak ilang kok #plakk Dan sepertinya anda senang sekali pas lihat banyak momen berharga buatmu, terutama di toko buku. Orang itu masih rahasia, nggak boleh dibocorin *smirks* ohh~ Jadi anda tidak menghargaiku, hm? Padahal sudah bagus aku jadi first kiss di cerita ini—
Kuroko: Akashi-kun, tolong kontrol emosimu.
Akashi: Kau menyuruhku, Tetsuya? ^^
Kuroko: *kicep* ...Tidak, lanjutkan saja.
Kagami: *Cuma bisa kicep liatin mereka*
Kise: Kurokocchi berani banget-ssu..
Midorima: Sudah ganjarannya. *sighs*
Murasakibara: *ngemut lolipop*
Akashi: Rasanya aku selalu saja yang nistakan dan dibully disini, salahku apa coba. *sighs* efekku padamu kayaknya berlebihan kalo dibilang gitu #plakk Heheh, berani juga anda menantangku #BukanWoi Tetsuya, dia senang kau yang ngehapus kissu-ku. Dan tolong jangan peluk Tetsuya, dia masih suci #hah
Kuroko: Begitukah? Aku tidak tahu. *pura-pura bego(?)* dan aku bukan perawan, Akashi-kun. *sweatdrop* #maksudnya
Akashi: Oh ya, Atsushi. Ini paket buatmu pemberiannya. Katanya biar gak minta persedian Tetsuya *kasih paket 10 dus Maibou rasa jagung yang baru metik dari kebun bakar sate penyet pedas manis gurih yang dicampur jadi satu(?)*
Murasakibara: *bawa terus lari buat makan di tempat semedinya(?)*
Akashi: Hee.. Jadi gitu ya alasanmu karena suka sama Daiki. Padahal aku yang lebih ganteng darinya #MimpiLu #DiTancapinGunting Kalo Ryouta itu memang 11-12 kayak banci jadi masuk akal *nods*
Kise: Hidoi-ssu! TvT #plakk
Akashi: Atsushi, kamu katanya keren asalkan jangan masuk zone aja. Lagumu minta diputer berapa kali?
Murasakibara: Hee... Baiklah. Aku minta diputer setuja kali #wat *ngemil coklat*
Akashi: Ya iyalah! Aku bisa ngeluh juga. Absolut sepertiku itu bisa apa saja #hoekz Hoo... Jadi anda minta disembelih ya #Gunting-chanMenyanyi baiklah, ini sudah update dan bisa baca chapter terbaru ini. Kritik dan sarannya juga dihargai kok, nanti yang tulisan dan segala tetek bengeknya bakal di edit lagi. Terima kasih juga.
Kuroko: Baiklah, giliranku. Ini dari Moo-chan Nanodayo-san. Katanya dia pingsan dan nanya kenapa bukan Midorima-kun saja yang kissu dia—
Midorima: HAH?! #shock
Kuroko: —Pasti nanti ada kok adegannya sama Midorima-kun, tenang saja. Terima kasih atas pujiannya, dan ini sudah di update kok. Terma kasih sudah menunggu. Kise-kun, giliranmu.
Kise: Oke! Kalo yang ini dari fuyuki208-san. Dia ngucapin terima kasih ke Akashicchi karena sudah diingatkan tentang dia nge-review sampai 2 kali. Gapapa kok! Dan dia paling suka adegan kissu-nya Akashi, karena dia juga mau-mau saja dicium. #der Baik, terima kasih reviewnya!
Kuroko: Midorima-kun, tolong ya.
Midorima: Oke, ini dari SyifaCute-san. Dia bilang— *kicep mendadak*
Kuroko: Ada apa?
Midorima: ...Aku baca review yang lain saja, nanodayo. Ini mendingan Akashi atau kau atau Shinju yang baca. *nyerahin kertas reviewnya*
Akashi: Apa maksud— *ngeliat reviewnya, terdiam* ...Orang ini memang minta digunting olehku #YandereModeON
Kuroko: T-Tenanglah, Akashi-kun. Biar aku balas saja, ya. Kau dan Midorima baca yang lain saja setelah ini.
Akashi: Hmph.
Kuroko: Oke, jadi intinya disini dia minta dengan SANGAT pada Shinju-san untuk buat dia dicium olehku dan bukannya Akashi-kun.
Kise: Tapi kissu-nya Kurokocchi ada kok di chapter kemaren-ssu. Mungkin dia nggak lihat.
Kuroko: Mungkin saja, Kise-kun. Biasanya ada yang bacanya cepat. Dan Shinju-san yakin bisa memaklumi anda, jadi tenang saja—dan tolong jangan berkelahi dengan Akashi-kun. Tidak baik. #SokBijak Ini sudah diperbaharui kok, terima kasih sudah menunggu dan maaf merepotkan. Midorima-kun, yang ini saja. *kasih review yang lain*
Midorima: *terima kertas review* nah, ini lebih baik. Oke *cough* ini dari Haruna Ichijou82-san. Ini sudah lanjut kok, jangan khawatir. Memang disini semuanya dibuat ooc, termasuk saya. Ngenes kan? *sighs* dia bilang kalo dia nge-fans sama Kuroko, Kagami, dan aku. Oh, te-terima kasih.. DAN WOY AKU BUKAN TSUNDERE!
Kagami: Tsundere Midorima is tsundere~ *godain*
Murasakibara: Pfft—
Midorima: DIAM! #NaikPitam *sighs* baiklah, terima kasih atas pujian dan reviewnya. Arigatou.
Kuroko: Baiklah, kemudian ini dari Aoi Yukari-san. Pairingnya terlihat sulit ditentukan ya? Hontou ni gomenasai *bows* Terima kasih ata pujiannya. Kagami-kun, giliranmu.
Kagami: Oke, dari Kanami Haruki-san. Terima kasih atas pujian untuk cerita abal ini, dan dia bilang kalo dia suka adegan romantisnya sampe ingin memakan hapenya sendiri pas di kissu sama Kuroko—
Kise: Pfft— #DiGampar
Kagami: —Tidak apa-apa kok, aku bisa memaklumi kegilaanmu #plakk dan ini sudah di update ceritanya, terima kasih udah menunggu dengan kesabaran yang besar. *bows*
Kuroko: yang ini dari Asuhara ema-san. Ini sudah lanjut kok, jangan kuatir. Ini aku sudah balas kok. Terima kasih sudah memilihku. Murasakibara-kun, tolong.
Murasakibara: Hmm~.. nyem nyem.. *bacain review sambil makan keripik cabe(?)* yang ini dari almira-maharani-90-san. Dia teriak namanya Aka-chin, nyem nyem~.. dia minta lagi untuk ceritanya, baiklah, nggak masalah kok~.. ini sudah lanjut, terima kasih sudah menunggu.
Author: Bagaimana? Sudah selesai? *geret Aomine yang bonyok*
Aomine: Ugh.. #koit #der
Author: Nih si item minta beneran dikandangin sama buaya. #KZLToTheMax Kuroko, Akashi. Siksa dia *lempar dia ke mereka*
Kuroko: baik, Shinju-san.
Akashi: Hohoho~ Ini akan menarik~ *mainin gunting*
Aomine: WOI SHINJU, LU GESREK APA?! JANGAN, KUROKO, AKASHI! TOLONG—GYAAAAA!...
(Akhirnya Aomine disiksa oleh Akashi dan Kuroko)
Author: Fiuh.. Masalah selesai #apaan Nah, minna. Sekian dulu dari pojok reviewnya. Sekarang aku mau ikut mereka bantai Aho itu dulu ya. ^^ See you next time and always love peace!
~Preview~
...
"Pokoknya fokus kita sekarang ini kepada Winter Cup saja dulu."
.
"Aku ingin menghancurkan mereka dan mendapatkannya, secepatnya."
.
"Ini seperti mempertaruhkan sesuatu yang terlihat tak jelas saja." "Jelas kok. Terlalu jelas, malahan."
.
"Aku tidak mengerti! Kenapa aku yang disalahkan?! Padahal aku tidak melakukan apapun—dan aku tidak terkait dengan mereka, ya 'kan?! Apalagi dengan dia!"
.
"Kadang, kawan bisa jadi lawan, Taiga." "Aku bisa dengan jelas melihatnya, Tatsuya."
.
"...Aku akan beritahu padanya nanti." "Kapan?" "Disaat waktu yang tepat—aku akan beritahu nanti padanya. Tentang semuanya."
Happy Fighting, Holidays, and Graduation, peeps! XD :) :3
Best regards,
D.N.A . Girlz
