Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!

Story plot ya milik saya #digebuk

LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORTS ESPECIALLY BASKETBALL.

LONG LIVE SPORTS!

P.S: Warning for some spoilers and lines from the original anime and manga. alot :3 so please just go with the flow and proceed to following the story with peace. Read it at your own risk (and adding some extra scene). SUMIMASEEENNN APDETNYA LAMA ;w;

Recommended song for this chapter:
- EXO – Wolf
- Maroon 5 – Animals
- MBLAQ – Run

You'll get it right away.

Enjoy reading!~ /( 0w0)/


Manik berwarna ungu lavender bertabrakan dengan manik milikmu. Jarak kalian tidak jauh—sekitar lima meter. Kalian berdua berada di koridor yang sepi. Kesunyian memenuhi atmosfer di sekeliling dan membuatmu tak nyaman.

Seperti di film koboi saja; pikirmu ngawur. Bedanya, kalian berada di koridor stadion yang sepi—dan bukan di padang tanah kering khas film koboi Amerika di Barat.

Kau berdiri berhadapan dengannya. Keadaan hening yang sedikit menyebalkan, membuatmu terpaksa harus membuka pembicaraan.

Rasanya tak nyaman saja—berdiri diam dan tak mengatakan apa-apa.

Kau ingin membuka mulut, tapi didahului olehnya.

"Aku sudah kalah, (Name)-chin. Kau bisa lakukan apapun padaku sesuka hatimu."

Kau membalas, mencoba menghentikannya. "T-Tunggu, Atsushi-kun. Aku belum—"

"Tunggu apa lagi. Lakukan saja. Jarang-jarang aku seperti ini pada seseorang lho, (Name)-chin."

Kau menatapnya sembari dalam diam. Oh seandainya saja ia tak melakukan ini, seandainya saja kau tak menyetujuinya, pasti kau takkan berada disini bersamanya.

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?

Kau tak tahu harus berbuat apa lagi.

Oh Tuhan, tolong selamatkan aku dari situasi ini; pintamu dalam hati dengan amat sangat.


Title: About Them
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.
Language: Indonesian
Rating/Rated: T (semi-M untuk chapter ini—just for the warning)
Genre: Mystery/Romance


Kau menatap gusar lapangan stadion yang menjadi arena pertarungan bagi kedua tim. Terlihat tim yang bertanding di lapangan pertandingan sekarang yang tengah panas-panasnya walau beberapa belas menit telah berlalu setelah setengah dari seluruh babak dan tip-off kedua dimulai—gegara Murasakibara menyentuh bolanya terlalu awal.

Rasanya kau bisa menggila kalau bukan karena pembicaraan sebelum pertandingan dengan sang Center Yousen—Murasakibara Atsushi—yang kau sama sekali tak tahu kenapa dia memanggilmu untuk berbicara waktu itu.

Memangnya kau itu siapanya? Aneh sekali; pikirmu bingung.

Dan kau tak menyadari bahwa manik lavender tersebut melirik sesaat padamu sebelum terfokuskan kembali oleh jalannya pertandingan yang tengah ia hadapi.

Terlihat Hyuuga yang mencoba melakukan shooting—tapi terblokir oleh tangan Murasakibara yang panjang dan besar. Sekejap kemudian bola tersebut terlempar jauh dari tangannya dan keadaan berbalik arah—Yousen mendapatkan bolanya dan melewati semuanya dan mencetak angka lagi.

Kau mengerutkan dahinya dengan gusar sebelum melirik ke arah papan angka skor sementara.

Sudah beberapa poin tertinggal jauh dari tim Yousen. Bagaimana ini…

Kau jadi mengingat apa yang telah terjadi sebelum pertandingan ini dimulai. Sekarang kau mulai menyesal karena menyetujui tawarannya waktu itu.

"OOOHHHH!" Kagami sekuat tenaga menghalau gerakan maju tangan yang lebih besar darinya tersebut sebelum akhirnya bola tersebut terlempar jauh.

Tim Yousen—serta pelatihnya memandang kaget akan kejadian ini. Tak ayal Seirin pun juga terkaget—membuat sebagian penonton terperangah akan defends yang dilakukan oleh sang pemuda berambut gradasi tersebut. Himuro memandang kaget juga—dalam hatinya berspekulasi akan hal-hal logis yang mengakibatkan tembakan Murasakibara bisa ditahan dengan kuat oleh Kagami.

Jangan-jangan… Mungkinkah…

Keduanya lompat turun—tertarik oleh gravitasi setelah meloncat ke atas. Murasakibara menggeram pada lawan dihadapannya. "Kagami..!"


"Aku benar-benar percaya bahwa Kagami-kun adalah cahaya Seirin yang sesungguhnya." ujar Kuroko sambil tersenyum kecil.


Kagami merunduk sedetik sebelum mengangkat kepalanya dengan menegakkan tubuhnya. Matanya terbuka sebelum terlihat kilatan merah yang menunjukkan bahwa dia telah mencapai batas normalnya.

Zone.

Aomine yang melihat keadaan itu pun menghela napas pendek—sedikit terhibur. "Heh. Aku tahu dia bisa melakukannya."

Kise tersenyum puas saat melihat keadaanya di pertandingan tersebut dalam diam.

Kau tertegun sejenak, hanya bisa melihat dari pinggir lapangan dan melihat mereka bertanding di lapangan.

"Taiga-kun…" gumammu dalam hati.

"Maaf, terima kasih sudah menunggu."

Kau menoleh bersama Koganei dan Tsuchida, melihat Riko berlari kecil menuju tempat kalian.

Dia bertanya, "Apa ada yang terjadi?" Gadis itu baru saja dari luar stadion untuk mengurus salah satu anggota yang cedera.

Tsuchida membalas, "Kagami sudah mulai masuk 'Zone'." dan Koganei menambahkan lagi. "Dia menghentikan Murasakibara."

"Apa?" Riko membeo pelan dan kemudian menoleh ke arah lapangan.

"Harapan…"

"Aku rasa kita masih punya harapan." ujar salah satu dari mereka. Terlihat Kagami yang menjaga Murasakibara di belakangnya dan seluruh pemain berada di posisinya masing-masing.

Bagaimana bisa dia memperoleh tekanan itu ketika dia melakukannya? Fukui berpikir keras.

"Hey!" Dan dia mendengar seruan dari teman serekannya—Himuro Tatsuya. Fuki mengoper padanya dan dengan cepat, Himuro memperoleh bola tersebut sebelum melewati tiga lawannya sekaligus. Kuroko berhasil ia lalui, Hyuuga juga ia tipu dengan fake pass, dan Izuki dengan mudahnya dilalui tanpa termakan habis oleh 3 cara penghindarannya dengan apik dan cepat.

Kau tertegun, benar-benar tercengang. Rasanya kau hanya bisa terpaku akan aura pertandingan mereka—demi merebut piala Winter Cup yang intens tersebut.

Tapi tak lama kemudian, dia berhadapan dengan Kagami.

'Kau pikir bisa menghentikanku? Menarik!' gumam Himuro dalam hati sebelum melompat untuk mencetak angka dengan bola yang ia pegang. Kagami langsung melompat juga untuk menghalau tembakannya.

"Whoa! Dia langsung main lompat saja!" seru salah satu penonton yang menonton. Himuro seperti biasa mencoba mencetak angka dengan Mirage Shotnya—tapi tak mempan. Pemuda berwajah oriental dengan tahi lalat dekat salah satu matanya tersebut terbelalak kaget. 'Tidak mungkin. Dia melayang? Loncatan super di dalam 'Zone'! ini bukan sembarang lompatan biasa!'

Tangannya pun menghalau bola hingga benda bulat tersebut jatuh ke lantai agar Himuro tak bisa mencetak angka dengan cepat.

Dia seperti burung!; pikir Himuro yang berspekulasi dalam otaknya.

Sorakan dari bangku pinggir lapangan di wilayah Seirin terdengar.

"Nice block!" seru Tsuchida.

Koganei langsung sumringah. "Dia menghentikan Mirage Shot!"

Sementara kau dan Riko sedikit lega akan halauan Kagami yang menghentikannya.

Terlihat sekarang Kuroko mendapatkan bolanya dan berlari menuju ke area lawan. Fukui menyuruh semuanya untuk kembali ke posisi semula agar membuat pertahanan. Semuanya mengejar Kuroko yang masih memantulkan bola. Yousen sudah siap menghadangnya—jikalau dia nekat menerobos benteng pertahanan mereka.

"Kuroko!" dan dengan sahutan itu, bola berpindah tangan kepada Kagami yang menangkapnya dengan sigap dan melakukan three-point shoot dengan santai. Murasakibara terheran akan pergerakan Kagami yang mulai tak bisa ia baca. Kagami berbalik dan berjalan ke arah lain—dan disaat itulah, bola tersebut dengan mulusnya masuk ke dalam ring basket lawan.

Sorakan dan kaget bercampur aduk menjadi satu. Kuroko bergumam kecil, takjub akan hal yang ia lihat. "Hebat…"

Kau hanya kaget dan terheran-heran. "Apakah kalau dengan masuk saja, bisa melakukan hal yang mustahil seperti itu..?"

Merasa kalau zona 'Zone' itu hanya bagi orang-orang yang kuat dan dengan penuh konsentrasi tinggi.

'Dia bahkan berbalik sebelum melihat bolanya masuk. Dia itu siapa, Midorima kah?' Hyuuga menyeringai kecil—puas akan 3 poin yang tercetak di papan digital angka yang menunjukkan bahwa angka bagi Seirin bertambah lagi. Himuro terpaku disana dengan tampang tak percaya—bahwa Kagami bisa melakukan hal seperti itu—apalagi dalam 'Zone'!

Pertandingan berlanjut. Fukui mengoper bola pada Murasakibara dan ditangkapnya dengan sigap. Hyuuga merasakan situasi yang buruk bagi timnya.

'Akan kumasukkan dengan kekuatan penuh! Rasakan ini. Thor's Hammer!' Murasakibara melompat dan bersiap untuk melakukan lemparan andalannya. Tapi Kagami melompat ke atas dengan cepat dan masuk dalam zonanya, dan dengan kedua tangannya pula, dia menahan bola di sisi lain. Keduanya berkutat dengan dorongannya masing-masing.

BETSS!

Kapten Yousen terbelalak kaget—terperangah melihat aksi nekat pemuda tersebut. "Tidak mungkin!" dan seluruh orang yang menonton pun juga memandang heran serta terperangah dengan sendirinya—seperti Kise yang berdiri di samping lapangan dengan tim sekolahnya ketika melihat pertandingan mereka.

'Kekuatannya tak hanya berasal dari zona 'Zone' saja. Dia menambahkan kekuatan dengan meloncat ke arah depan.' Kesimpulan itu didapat oleh Kise dalam pemikirannya sebelum menekuk wajahnya lagi—menjadi lebih serius. 'Tapi, tetap saja…'

Aomine sedikit terhibur dan menyeringai kecil—walaupun dia melihat mereka dari jauh—tak menyembunyikan kesannya terhadap pertandingan yang dilakukan oleh dua orang tersebut. "Bahkan aku pun terkesan akan ini."

Lalu dia melirik ke arah dirimu yang duduk di samping Riko dan anggota cadangan lainnya di bangku panjang pinggir lapangan. Kau terlihat gusar dan khawatir. Sekejap, senyum di bibir Aomine langsung lenyap. Terbesit akan apa yang sudah ia lakukan waktu itu—sebenarnya dia punya alasannya tersendiri untuk melakukannya—walaupun resikonya itu sudah bisa ia duga.

Tapi selama dia belum mengingatnya—tidak, lebih baik dia tidak mengingatnya. Bahkan ketika dia menemukan alasan kenapa aku melakukannya; begitulah pemikiran di dalam otak sang pemuda berkulit lebih gelap itu.

Selama gadis itu belum tahu, lebih bagus mencari aman dengan bungkam daripada menanyakan tentang semuanya.

Ternyata seorang Aomine Daiki bahkan bisa berpikir rasional dan tidak bodoh untuk dalam hal yang seperti ini. Keajaiban dunia.

Teringat juga akan masa lalu itu—memori yang pahit dan juga menyesakkan dada. Seberapa keras pun usaha yang ia inginkan—tapi tetap saja dia tak bisa memutar balikkan waktu yang telah lalu.

Itu sudah terjadi. Tidak bisa diubah lagi.

Kedua telapak tangannya terkepal erat saat memikirkannya. Bahkan dia tak menyadari, bahwa Momoi memperhatikan gerak-gerik dari pemuda yang merupakan teman masa kecilnya tersebut. Iris sakura itu tersendu sedih dalam diam.

'Dai-chan.. Terlihat sangat menderita. Seandainya saja waktu itu tidak terjadi dan aku tak mengajaknya, pasti tidak akan...' gumam Momoi dalam hati dengan rasa bersalah sebelum menatapmu dari jauh dan kembali konsentrasi melihat pertandingan.

Pertandingan berjalan masih dengan tegang dan mencoba membuat poin sebanyak yang mereka bisa. Dengan Stealth Full-Court Man-to-Man yang dipakai sebagai strategi oleh Riko—pertahanan dan serangan mereka jadi makin menguat walau barang sedikit saja. Selang beberapa saat kemudian, beberapa poin menyusul. Kuroko memasukkan poin dengan Phantom Shoot miliknya—dan kau baru mengerti ketika dia berkata di waktu break time—kalau dia akan melakukannya.

'Jadi ini ya..' pikirmu dalam hati dan melihat papan digital skor. Kau menggigit bibir bawahmu perlahan. Rasanya kau ingin membekukan waktu atau mungkin mempercepat waktu—agar kau tidak gelisah seperti ini. Di sisi lain, kau ingin Seirin memenangkan pertandingan dan akhirnya otomatis kau menang di pertaruhan itu. Oh, seandainya saja dia tak mengusulkannya… Kau sekarang sangat berharap bahwa semoga saja Seirin memenangkan pertandingan ini dan tak membuat harga dirimu jatuh.


Flashback

"Bagaimana kalau kita taruhan?" usul sang pemuda berbadan tinggi tersebut dengan entengnya.

Kau mengernyitkan dahi, "Taruhan? Seperti apa?" tanyamu bingung.

"Jika timmu kalah melawan timku, maka kau harus mau menjadi makananku, (Name)-chin."

.

.

.

.

.

HE?

Makanan?

Kau mengerjap bingung sambil sedikit memiringkan kepalamu—belum konek untuk semuanya.

Pernyataannya cukup membuatmu bingung. Apakah kau semacam makanan atau apa? Kenapa dia bicara begitu? Apakah kau terlihat seperti permen dan kawan-kawannya kah?; pikirmu polos.

Kau sangat polos untuk hal seperti ini—oh Tuhan.

Kini sejenak terdiam, kau bertanya lagi.

"Kalau kami menang?"

"Kau boleh lakukan apapun padaku."

Kau menunduk sejenak, berpikir keras dan mempertimbangkan tawarannya dengan berpikir untuk sekali lagi.

Kalau kau menang, kau bisa lakukan apa saja yang kau mau padanya—entah itu perintah atau menjawab pertanyaan yang tengah kau pikirkan saat ini.

Seperti menyuruhnya memakai baju pelayan dan bando telinga kucing yang menggemaskan sambil menari-nari diiringi lagu anak-anak dengan suara cempreng bin malasnya—oke, lupakan saja. Rasanya tidak cocok dan tidak bagus untuk pemuda satu ini, mana bisa begitu!

Baiklah, kita lanjutkan saja, karena sang pengusul mulai tak sabaran akan kebungkamanmu.

Murasakibara menyeletuk, "Cepat putuskan, (Name)-chin, atau kau mau aku untuk—"

"Tidak. Aku bersedia menerima tawaranmu, Atsushi-kun." potongmu padanya dengan mantap, dan—oh tidak, halusinasimu saja atau kau melihat sang pemuda bertubuh tinggi itu tersenyum tipis.

Demi dewi Fortuna pembawa keberuntungan—kau seperti mendadak buta akan apa yang kau lihat sekilas.

Apa kau sudah membuat kesalahan karena menerima tawarannya yang tak masuk akal?

Ataukah ini memang akal-akalannya saja?

Kau tak tahu pasti.

Tapi yang pasti, harga diri kalian berdua dipertaruhkan di dalam pertandingan ini.

Antara Seirin High VS Yousen High.

Tim manakah yang menang?

Flashback end


"Ayo.. Kalian pasti bisa… Aku yakin akan hal itu." pintamu sangat dalam hati karena gelisah. Tapi—kau tak tega kalau kau yang menang untuk pertaruhan kecil dan sepele seperti itu. Murasakibara juga pastinya mencoba segala kemungkinan dan tak ingin kalah.

Pasti. Pasti dia akan berpikiran seperti itu. Setelah perbuatan yang ia buat kepada Kiyoshi hingga cedera—kau mulai ingin bertekad untuk mendukung Seirin dengan sebisamu—agar tim kalian bisa memenangkan pertandingan dan maju ke empat besar.

Lalu kemudian kau menyadari kalau Riko terhenyak. Kau menoleh kearahnya. "Ada apa, Riko-Oneechan?"

Yang ditanya hanya menyuruhmu untuk melihat ke lapangan sekarang. Tidak mengerti akan maksudnya, kau pun segera melihat ke arah lapangan pertandingan dan terdiam sejenak.

Merasakan bahwa aura pertandingan makin menegang dan sesak, kau tak tahu kenapa—tapi kau merasa, kalau jika lengah sedikit saja—maka kesempatan menang akan terlepas dari genggaman. Kau tertegun sambil melihat jalannya pertandingan. Keduanya mulai masuk zona 'Zone' juga.

Murasakibara—yang kau kira takkan bisa masuk ke dalam zona terlarang itu—sekarang bertanding dengan hebat untuk melawan Kagami. Keduanya saling merebut dan mencoba menembakkan bola ke keranjang lawan mereka. Bahkan Himuro dan Kuroko ikut membantu. Dua orang unggulan di setiap kubu tim mulai memulai permainan puncaknya.

Murasakibara datang menghalangi jalan Kagami yang memegang bola. Hyuuga yang berlari bersama dengan yang lainnya pun terhenyak kaget.

'Tunggu dulu. Sejak kapan dia sudah di sana? Dia terlalu cepat untuk sampai ke sana.' Pikiran dan akal mulai bingung. Terlihat Kagami dihadang oleh Murasakibara yang merentangkan tangan-tangannya yang lebar dan besar.

Aku takkan kalah, dan (Name)-chin akan jadi makananku; pikir Murasakibara dengan penuh aura 'Zone' dan bersiap untuk menghancurkan tim Seirin—terutama seorang Kagami Taiga.

DEG

'Mungkinkah ini…" Kagami berpikir akan spekulasi yang timbul di otaknya saat ini juga.

Mulut Kise sedikit ternganga. 'Murasakibaracchi…'

Aomine hanya terdiam akan pemandangan yang ia lihat sekarang ini. 'Dia sudah masuk.'

Pancaran energi kilatan dari mata Murasakibara mulai terlihat dengan jelas. Aura di sekitarnya mulai menyeruak keluar dan membuat suasana makin tegang.

Kau terhenyak akan pemandangan yang kau lihat. Dadamu terasa sesak dan bulu kudukmu merinding tanpa sebab. "Atsushi-kun…" gumammu kecil dan mengepalkan tangan dengan erat.

Kise bergumam dalam hati, 'Ini tidak bagus. Jika mereka berdua ada di dalam zona, Kagamicchi tak akan bisa menang.'

Aomine masih terdiam saat memandang pertandingan—masih menanti apa yang terjadi. 'Dan dia sudah di ambang batasnya. Segalanya terlihat tak memungkinkan.'

Batas waktunya mulai perlahan habis—kilatan itu telah musnah sepersekian detik, sebelum pemuda berambut gradasi tersebut sudah kembali ke kekuatannya yang normal. Kagami mencoba untuk mencari celah dari sisi pertahanan Murasakibara yang kuat dan dengan aura mengintimidasi yang menyeruak.

"KAGAMI!"

Serempak, kawan satu tim untuk menyemangatinya agar bisa mencetak angka bagi mereka semua. Kuroko, Hyuuga, Izuki, dan Kiyoshi—yang telah kembali untuk bertanding—berseru. Sementara anggota lainnya di bangku cadangan juga berseru menyemangati—dengan Riko yang terduduk sambil harap-harap cemas, kau juga ikut menyerukan untuk bisa menyemangati mereka.

Hanya ini yang bisa kau lakukan.

"Masukkan bolanya, Taiga-kun!" teriakmu dengan keras, tenggelam dalam samar-samar dengan sorakan anggota timmu dan para penonton.

Tapi bisa didengar oleh Kagami.

'(Name)…'

Kagami berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan. Menyakinkan dirinya sendiri, 'Belum waktunya! Berikan lagi waktuku sedikit saja!'

Dengan tekadnya, ia berseru. "Kami akan menang!"

"Tanggung jawab seorang Ace adalah untuk memikul harapan semua orang untuk sebuah kemenangan! Akan 'ku lampaui sampai batas diriku sebanyak yang aku butuhkan!"

Sekejap saja, kilatan itu mulai terlihat lagi dengan nyalangnya. Dan disaat itu juga, Kagami mulai melompat tinggi dengan sekuat tenaganya. Semua terperangah—termasuk dirimu yang menyaksikan. "Itu… Tidak mungkin…" ujarmu dalam hati.

Tapi disaat kemungkinan itu telah tiba, maka tak akan ada yang bisa menyangkalnya.

Semua anggota pemain yang ada dan menyaksikannya masih terperangah. 'Lane up?!'

'Ini tidak terlihat benar. Dia tidak punya cukup ruang untuk melompat dari sisi tersebut. Dia takkan bisa menggapai pinggir keranjangnya.' pikir Himuro ketika melihat bahwa adiknya yang sekarang menjadi lawan mainnya itu melompat dengan bola yang dipegangnya.

Alex menyadari sesuatu saat melihat tindakan Kagami tersebut. "Apa dia mencoba untuk melakukannya? Tapi sekarang dia ada di zona 'Zone', mungkin dia bisa mengendalikannya. Jika Mirage Shot adalah teknik ketetapan, maka tembakan tak terhentikan itu mungkin jadi yang paling kuat intensitasnya."

Kau tertegun, harap-harap cemas.

Murasakibara melompat juga ke atas, mencoba untuk menghalau Kagami secepat mungkin.

The falling star dunk; Meteor Jam!

Tak bisa dihalangi lagi, Kagami menembakkan bolanya ke dalam keranjang—dengan sekuat tenaga dan tekanan yang ia timbulkan—membuat bola tersebut meluncur jatuh dan sangat keras melewati ring basket tersebut. Murasakibara terbelalak akan dunk yang dihasilkan—tak ayal dengan semua pemain yang berada di lapangan, maupun di tempat penonton dan pinggir lapangan.

Begitu juga dengan dirimu.

Angka telah dibuat. Sorak dari wilayah Seirin menggema. "Bagus! Kita kembali mencetak angka!"

Senyummu mulai mengembang—tapi kemudian memudar karena melihat pergerakan dari Murasakibara yang mulai berlari berbalik. "C-Cepat sekali.."

Kiyoshi berseru ketika Himuro memegang bola dan melemparnya jauh—membiarkan Murasakibara berlari sendirian di wilayah lawan yang kosong dan tak terjaga. Apalagi sekarang Kagami berlutut—mencoba berdiri setelah melakukan tembakan tadi.

Ini gawat!

Murasakibara mendapatkan bola dan berlari, disusulnya oleh Hyuuga dan Kiyoshi yang mencoba untuk menghentikannya. Tapi saat pemuda berambut ungu itu mencoba untuk menembak—ia malah tak bisa bergerak.

DEG

"A..Apa..? Apa yang terjadi padaku..?" pikirannya mulai kacau gegara dia tak bisa mengendalikan kekuatannya. Dan sekarang ia tahu bahwa batas waktunya telah habis. Lututnya bergetar, pandangannya kurang fokus—tak bisa konsentrasi untuk menembak bolanya untuk masuk ke dalam.

'Sial.. Kenapa di saat seperti ini..' gumamnya kesal.

"Karena kau kurang mencintai permainan basket, Murasakibara-kun." sahut seseorang.

Tanpa ia sadari, sejak tadi Kuroko berlari menyusul dengan cepatnya dan melompat untuk melempar jauh bolanya—agar tak bisa mencetak angka lagi.

BETSS!

"Takkan kubiarkan Seirin kalah!" serunya dan menangkis bola tersebut. Semuanya juga terperangah, dari pemain hingga penonton—untuk kesekian kalinya. Himuro terperangah, Kagami menyeringai puas, dan kau masih tertegun sejenak.

Harapan—Sepertinya Seirin masih punya harapan untuk menang.

Dan disaat bola tersebut menyentuh lantai dan memantul—maka disaat itu juga, waktu dari pertandingan sudah habis dan menunjukkan angka nol bagi detik maupun menitnya.

Papan digital skor menunjukkan angka skor 73 – 72 untuk Seirin High High.

Peluit wasit berbunyi, bel pertandingan—tanda pertandingan telah usai juga dinyalakan. Seruan dan sorakan penonton mulai menggema hebat dan membahana ketika melihat hasilnya. Anggota tim di bangku cadangan berdiri dan bersorak gembira, tak ayal juga dengan Riko dan kau yang bersorak senang sambil mengepalkan kedua tangan ke udara—bersuka cita akan kemenangan untuk maju sebagai empat besar.

"Yeah! Kita berhasil!"


Skip time

.

Ini gila.

Sungguh gila.

Pikiran dan akal sehatnya mulai rusak akan semuanya yang terjadi tiba-tiba.

Gila sekali sampai rasanya kau ingin membenturkan kepalamu di tembok beton yang telah lama menopang bangunan stadion.

Hembusan karbon dioksida dari mulutmu telah meluncur keluar dengan suara yang kecil dan tersembunyi. Suasana mulai senyap setelah pertandingan telah selesai dan penonton telah keluar dari ruangan stadion ke ruangan stadion selanjutnya untuk pertandingan terakhir, sehingga keadaan bangunan itu mulai sepi dan hening lagi.

Tanganmu sedikit meremas ujung rok yang kau pakai sekarang. Tapi kedua matamu menatap dengan hati-hati kepada seorang pemuda yang berada di hadapannya.

Jangkung, anggota tim dari sekolah lain, bermata dan berambut senada—ungu.

Masih bisa kau ingat ketika kekalahan yang ia alami dan melihatnya menangis—Himuro juga ada disana sambil mencoba menguatkan dirinya—untuk menerima kekalahan dengan lapang dada.

Matamu menerawang gelisah—seakan sesuatu yang dikategorikan gawat akan terjadi.

Pemilik dari mata ungu tersebut berujar—memulai percakapan.

"Jadi, (Name)-chin. Bagaimana? Kau sudah memikirkan hukuman untukku?" tanyanya padamu—membuat kau yang sedari tadi terdiam saja—langsung terperanjat dan tersadar.

"A-Ah, uhm.. I-Itu.. A-Aku belum memikirkannya…" ucapmu, mulai mencicit kecil dan Murasakibara tak bisa mendengarnya.

Ia mulai mendekat beberapa langkah dengan santai. "Hm..? Kau tadi bilang apa, (Name)?"

Melihatnya mendekat, kau mundur satu langkah sambil mengangkat tanganmu dengan panik.

"T-Tunggu dulu! Aku benar-benar belum memutuskannya. Bahkan aku tak tahu untuk menghukummu dengan cara apa.." Kau orangnya memang tidak tegaan, jadi sekarang kau bingung akan apa yang kau lakukan padanya.

Murasakibara menelengkan kepalanya, surai ungunya sedikit bergoyang gegara pergerakannya. Melihatmu bersikap begitu, ia dengan santainya berinisiatif untuk mendekat lagi.

"Tapi ini sudah kesepakatannya, (Name)-chin.." ujarnya.

"J-Jangan mendekat!" serumu pelan.

Otomatis kau juga mundur dengan hati-hati ketika dia bergerak maju.

Hening sesaat. Kau masih mencoba berpikir hukuman apa yang pantas baginya. Murasakibara itu besar, jangkung, dan punya sifat yang tak ingin diperintah. Jadi pantas saja kau merasa heran—bahkan dia duluan yang memasangkan taruhan.

Hal apa yang pantas baginya?

"Jadi, (Name)-chin. Apa hukumanku..?" bisiknya tiba-tiba di telingamu.

DEG

Saking lamanya kau berdiam dan berpikir, hingga tak menyadari bahwa yang bersangkutan mulai mendekat—dan tak sadar bahwa jarak kalian tinggal satu langkah saja.

Kau terkejut dan berjalan mundur—menabrak dinding beton stadion di lorong tersebut.

Kau mengumpat kesal dalam hati.

Sial, sekarang harus bagaimana ini?!

"A-Atsushi-kun, tolong hentikan—" cegahmu, mendorong badannya tapi dia tak bergeming.

"Hentikan apa? Aku hanya mendekat saja~ Memangnya tidak boleh ya..?" tanyanya dengan nada kekanak-kanakkannya. Kau mengumpat sekali lagi.

Pemuda ini sedikit menyebalkan.

Murasakibara tak bergeming, bahkan dia hanya menatapmu dalam diam. Melihatnya begitu, kau bertanya bingung.

"Apa? Apa yang kau lihat?" tanyamu bingung.

Sesaat kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mengendus ke samping kepalamu. Kau langsung bertindak, "Hei, apa yang kau lakukan—"

"Hmm~.. Baumu manis, (Name)-chin."

Tanganmu mencengkram lengan atasnya—karena tanganmu tak sampai pada bahunya. Kau mencoba untuk membuatnya menjauh dari dirimu.

"Hei, tunggu dulu! Aku tidak mau—"

"..Hei, bolehkah aku mencoba rasanya?"

Matamu terbelalak.

Tidak

Sejenak kemudian, kau merasakan telingamu dicium oleh bibir hangatnya. Terbelalak kaget, kau segera sadar untuk cepat melepaskan diri—tapi nihil.

'Astaga, kenapa jadi begini?' pikirmu dalam hati sambil menggigit bibir bawahmu untuk tidak mengeluarkan suara. Kau tidak bisa apa-apa sekarang. Napasnya bertabrakan dengan kulitmu—dan dia mencium lagi aroma tubuh yang kau miliki.

Murasakibara mengendus pelan aroma yang menyeruak. "Baunya manis.. Coklat ya.." gumamnya kecil yang masih bisa kau dengar. Kau memang kemarin malam mandi dengan serbuk khusus untuk mandi berbau rasa coklat, yang berkhasiat meremajakan dan membuat kulit menjadi sehat—direkomendasikan oleh Riko.

Dan kau menyesal memakainya kalau kejadiannya akan jadi seperti ini.

Terasa bibir sang pemuda berbadan tinggi itu menempel pada kulitmu, saat sensasi geli dan menggelitik sekejap membuatmu tak berdaya. Salah satu tangannya yang memegang dan melingkar di pinggangmu sangatlah erat, dan membuat jarak kalian berdua tertutup—hanya beberapa sentimeter saja.

Punggungmu bersender di dinding dingin yang berada di belakangmu. Tak ada suara maupun bunyi di sekitar situ—tidak ada hasil yang akan memuaskan kalau kau berteriak dan meminta tolong—karena pastinya tak ada yang mendengarkan. Wajahmu memerah saat ia melakukannya. Sekarang kau tak bisa berontak.

"Hmm… (Name)-chin manis.. Itadakimasu~" dan dijilatlah telingamu, membuat suara yang keluar darimu itu meluncur dengan paksa.

"Ahh!~.. "

Kau tak bisa menahannya lagi. Desahan itu keluar gegara pemuda yang menjamah benda kenyal yang dijadikan pendengaran oleh tubuhmu. Napasnya juga bisa kau rasakan ketika ia mencicipi dan menjilat. Kau mencoba memberontak, berusaha keras agar ia mau melepaskanmu.

"A-Atsuhi—Nh! Geli.." ujarmu pelan. Murasakibara tetap tak mendengarkan. Sembari menikmati aroma tubuhmu, dia mengunci pergerakanmu dan menciumi telingamu. Sensasi geli dan menggelitik itu membuatmu sangat berharap bahwa ini cuma khayalan saja.

Tapi kenyataannya tidak.

Sambil berpikir, ada ide muncul di otakmu.

Langsung saja kau injak kakinya yang besar dan berbalutkan sepatu basketnya, dan itu membuat Murasakibara menggeram kesakitan dan lengah.

Kau langsung mencari kesempatan untuk mendorongnya jauh dari badanmu dan berhasil. Begitu ia terdorong, kau langsung tancap gas dan segera melarikan diri.

Murasakibara menggeram. "(Name)-chin.. jangan lari kau!"

Langkahmu kau buat lebar-lebar dan mempercepatnya. Kau berusaha berlari sekuat tenaga agar tak tertangkap oleh Murasakibara. Kau melirik ke belakang, pemuda itu berlari mengejarmu dan hampir mau mendekat.

Panik, kau mempercepat larimu dan mulai terengah-engah dengan hebat. Kakimu mulai kelelahan—tapi kau tak mau berhenti. Kau harus lari.

Oh, seandainya saja kau bisa berlari lebih cepat.

'Tidak!.. Tolong.. siapa saja.. tolong aku…' pintamu dalam hati.

Tidak. Kau tak peduli siapapun.

Tolong…

Tolong aku!—

BRUK

"Akh!"

Sekarang kau tertabrak oleh sesuatu dan jatuh ke lantai. Kau mengaduh kesakitan sambil mencoba mendudukkan diri. Begitu mendongak, kau melihat Himuro.

Ekspresinya tampak terkejut, "(Name)-chan? Kenapa kau disini? Bukannya kau harusnya bersama timmu?" tanyanya seraya membantumu berdiri.

Kau berdiri dan mencoba membalasnya, tapi kau urungkan karena langkah dari belakang mulai mendekat. Spontan, kau cepat-cepat bersembunyi di belakang pemuda bermanik hitam bening itu, dan menyembunyikan dirimu dari Murasakibara.

Himuro terheran akan kelakuanmu yang aneh dan menoleh ke arah depan. Murasakibara mendekati mereka berdua dan menyahut pada rekannya.

"Muro-chin, minggir." sahutnya.

"Kau mau apa dengannya, Atsushi?" tanyanya kalem.

"Dia kabur dariku dan aku ingin memakannya. Jadi minggir."

Kau mencengkeram jaket basket milik Himuro dari belakang dengan erat. Badanmu bergetar dan bibirmu kelu—kau takut sekali sampai tak bisa bicara. Keringat dinginmu bercucuran.

Mengetahui reaksimu, Himuro melirik ke arahmu sebelum kepada Murasakibara.

"Sepertinya kau melakukan hal yang lebih dari sekedar memakan, Atsushi. Jadi kusarankan kau hentikan saja." sarannya.

Mendengar itu, pemuda bermata ungu itu mulai memasang raut jengkel. "Ehh?~.. Kenapa kau bicara begitu—"

"Dia ketakutan, Atsushi. Kau tidak lihat? Badannya bergetar." ujar Himuro serius dan menatap tajam sang pemuda yang lebih tinggi darinya tersebut.

Himuro melanjutkan, "Dan seperti yang kau bilang, kau sudah tidak punya hak lagi, karena kau sudah kalah dari mereka. Bukankah begitu?"

Mata hitam beningnya memandang pada sang rekan dengan penuh arti yang tersirat.

Dan dia menangkapnya dengan jelas.

Murasakibara terdiam dan membuang muka dengan malas. Ia mendecih pelan, "Baiklah.. Jika Muro-chin bilang begitu.."

Himuro menghela napas lega saat mendengarnya kemudian berbalik padamu. Dia mencoba menenangkanmu.

"(Name)-chan. Sudah, tenanglah. Atsushi tidak akan melakukan apapun padamu lagi." ujarnya padamu sebelum kau mendongak takut pada mereka berdua.

"..Benarkah itu..?" cicitmu pelan.

Kau langsung lega dan bahumu yang menegang pun mulai turun begitu melihat Himuro mengangguk kecil padamu.

"Karena sudah sepi, lebih baik kami mengantarkanmu. Bagaimana? Pasti mereka panik mencarimu. Dan lagipula, pertandingan berikutnya akan segera dimulai." sarannya dan kau mengangguk kecil.

Murasakibara melirik padamu—demikian juga denganmu.

"(Name)-chin, aku minta maaf. Aku tadi cuma bercanda—"

Bercanda, ndasmu.

"—tapi aku takkan mengulanginya lagi. Aku janji." pintanya dan kau mengangguk kecil setelah diam sejenak.

"..Iya.. tidak apa-apa." balasmu pelan.

Himuro tersenyum kecil dan kalian bertiga mulai berjalan untuk kembali ke ruang loker tim Seirin.

Disisi lain, Kagami dan Kuroko berlari kecil sambil menyusuri koridor stadion yang panjang dan sepi. Kuroko mulai kewalahan karena mencari gadis yang menghilang seusai pertandingan itu. Sementara Kagami terus menoleh ke arah manapun untuk mencari.

"Itu dia!—" Tapi ia membatalkan panggilannya ketika melihat dua orang tertentu yang sedang bersama dengannya.

Kagami keheranan dalam hati.

Kuroko menoleh kepada Kagami sambil bertanya padanya, "Kagami-kun, kau sudah mene—" dan ia juga berhenti bicara karena melihat ekspresi Kagami dan juga memandang ke arah depan.

Ada bertiga berdiri di depan ruang loker tim Seirin.

Kuroko mencegah Kagami yang mulai melangkah dan pemuda itu menggeleng kecil pada rekannya yang berbadan lebih besar darinya tersebut dengan lengannya.

"Untuk selanjutnya, sampai disini saja." kata Himuro, membuatmu memandang heran.

"Kenapa? Apa kau tidak percaya padaku untuk menjaga Taiga-kun?"

"Bukan itu maksudku. Kau melakukannya dengan baik. Taiga tidak terlibat akan ini—Ah, Atsushi. Kau saja yang bilang." Lemparnya pada pemud berambut ungu tersebut.

Murasakibara berujar, "Karena hanya kau yang bisa menemukannya. Kami hanya mengajukan petunjuknya saja, (Name)-chin."

Kau terdiam. Maksudnya apa?

"Aku tidak mengerti. Mencari apa?"

"Mencari petunjuk dari semuanya. Kau ingin mencari tahunya, bukan? Tapi, mungkin yang dikatakan oleh Murasakibara ada benarnya juga. Kau yang berhak untuk mencari tahu sendiri apa yang terjadi. Kami tidak bisa bicara kalau soal itu. Maaf."

Ujaran Himuro membuatmu makin bingung.

"Maksudnya apa, Himuro-san? Kenapa bisa kau tahu hal itu?" tanyamu penasaran.

"Take a hint, (Name)-chan. Kau harus melihat dan menemukannya dengan jeli dan teliti." Jari telunjuk dari tangan kanannya menunjuk ke arah kepalanya sendiri dan mengetukkannya dua kali—layaknya menyuruhmu untuk berpikir sendiri.

Kau tertegun sejenak akan perkataannya tersebut.

Apa yang dimaksudkan olehnya? Kenapa dia berkata begitu?

Kau tidak mengerti sama sekali.

"(Name)!"

Kau langsung menoleh, dari kejauhan terlihat bahwa Kagami dan Kuroko berlari ke arahmu.

"Taiga-kun! Tetsuya-kun!" langkahmu berlari menuju mereka berdua pula.

Kagami bertanya sambil memegang kedua pundakmu, terlihat khawatir dan bertanya dengan nada protektif.

"Kau tidak apa-apa,'kan? Mereka tidak melakukan apapun padamu,'kan?" Mata rubi itu melirik sekilas dengan tajam ke mata bening hitam dan ungu tersebut—sebelum menatap kembali ke manik mungilmu.

Kau mengangguk dan mencoba menenangkannya. "Iya, aku tidak apa-apa kok. Aku hanya pergi ke toilet saja, tadi tidak sempat bilang pada Oneechan."

"Begitu ya.. lalu kenapa ada mereka bersamamu?" Kuroko bertanya.

"I-Itu hanya kebetulan saja! Mereka hanya berpapasan denganku saja." katamu bohong—mencoba meyakinkan mereka berdua.

Bagus, sepertinya keahlian berbohongmu meningkat drastis.

Kebanyakan dosa. Duh.

"Kalau begitu, kami pergi dulu ya, (Name)-chan. Pokoknya jangan sampai lupa saja."

Kau berusaha menghentikan mereka berdua. "Tunggu! Apakah kalian yakin, kalau bisa aku mencarinya?"

Himuro mengangguk singkat. "Hanya perlu ingat. Tidak kurang ataupun lebih."

"Selanjutnya, kau cukup mencari tahu dari petunjuk yang sudah ada." Murasakibara melanjutkan perkataan dari Himuro.

"Lalu, bagaimana aku mencarinya? Hanya dengan itu saja kah?" tanyamu masih bingung.

"Kau hanya perlu ingat akan itu saja. Sudah ya. Dah." ujarnya lalu melambaikan tangan sebentar sebelum berjalan bersama Himuro, berjalan menjauh dari tempat ketiganya berdiri.

Berdiam diri beberapa saat, hanya itulah yang bisa kau lakukan saat melihat mereka menjauh. Kau masih tidak mengerti akan ucapannya.

Mencari petunjuk? Petunjuk apa?

Untuk mengingat apa?

Lalu untuk menemukan apa?

Kau masih bingung akan semua ini.

Karena kau sama sekali tidak mengerti.

Kagami menatap mereka menjauh dan melihatmu terdiam begitu, dia segera menepuk bahumu pelan, "Oi, (Name). Kau tidak apa-apa 'kan? Kau baik-baik saja? Apa mereka berdua melakukan sesuatu padamu?" Nada proktektif terdengar jelas dari caranya berbicara.

Kau mengangguk pelan dan tersenyum paksa sekilas. "..Iya. A-Aku tidak apa-apa kok, jangan khawatir. Mereka hanya mengantarku untuk kembali ke ruang loker. Tadi hanya papasan saja."

Kuroko berujar lagi padamu. "Benarkah itu?" Dan kau mengangguk lagi beberapa kali sambil mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Apakah pertandingan selanjutnya sudah dimulai?" tanyamu.

Kuroko menggeleng. "Belum. Lima menit lagi baru dimulai pertandingannya."

"Lebih baik kita pergi menontonnya sekarang. Riko-Oneechan dan yang lain pasti sudah menunggu kita. Aku ingin melihat permainan Ryouta-kun." usulmu dan segera berjalan cepat terlebih dahulu di depan mereka berdua.

Menyadari perubahan sikapmu tadi, duo Seirin itu saling melemparkan tatapan heran dan terdiam sesaat sebelum berjalan menyusulmu dari belakang.

Sepanjang perjalanan, kau hanya bisa diam dan memikirkan kejadian tadi. Mengingat itu, kau jadi sedikit merinding—ngeri sesaat. Tanpa kau sadari, tanganmu menutupi telinga merahmu dengan rambut sehingga tidak terlihat—

—juga dirimu yang tak menyadari bahwa kedua pemuda itu mengawasi gerak-gerikmu dari belakang.


"Oh!"

Aomine menangkap seseorang yang familiar dari pandangan matanya. Ketika ia sudah selesai dengan panggilan alamnya—begitu membuka pintu, sudah ada orang lain yang berada di ruangan toilet tersebut.

Midorima Shintarou.

"Kau sudah selesai ternyata." ujarnya tanpa melihat ke arah belakangnya.

Terlihat pantulan dari cermin—memperlihatkan Midorima yang sedang mencuci tangannya di wastafel dan melihat pemuda berambut biru tua tersebut baru keluar.

"Hmm.. Kupikir siapa—Ternyata toh dirimu. Pantas lama membuka kerannya."

Langkahnya menuju tempat di sebelah wastafel berikutnya dan membuka keran air—untuk membasuh kedua telapak tangannya. Dimulailah percakapan di toilet antara kepala hijau dan biru tua.

"Kau baru tiba? Dimana Momoi? Bukannya kau datang bersamanya?"

"Dia menungguku di ruang stadion berikutnya. Kau akan melihat pertandingannya nanti?"

Midorima mengangguk kecil. Tangan basahnya digunakan untuk mematikan keran air, lalu mengelapnya dengan beberapa lembar tissue yang ia raih di kantong celananya.

"Kudengar dia mulai mencari petunjuknya. Apa kau juga memperingatkannya waktu itu?"

DEG

Kala itu.

Aomine mengingat kembali ingatan—ketika ia melakukan hal itu pada gadis yang dimaksudkan.

Dia terdiam sesaat sebelum menampilkan senyuman miring. "..Heh, memangnya kau tahu apa? Lebih baik tidak usah membahas tentang itu. Semuanya pasti beranggapan yang sama pula. Kau tidak muak, apa? Berhadapan dengan cara yang seperti ini. Pasti kau juga begitu, Midorima."

Pemuda berkacamata itu memejamkan matanya sebelum terbuka lagi. "Seperti biasanya, kau tidak bisa jujur akan dirimu sendiri. Ketika kita sudah tidak banyak berharap akan kembalinya dia—justru itulah titik baliknya."

Aomine terpaksa bungkam akan perkataannya itu.

Memang benar. Tapi dia tidak tega.

Kalau sampai nanti mereka kalah, maka dia akan jatuh ke jebakan beracun seperti itu.

Midorima berujar ketika melirik padanya, "Kau juga sudah tahu bahwa dia sudah kembali. Bukankah begitu?"

Aomine tertegun sebelum mencoba membantahnya.

"Dia itu naif; bahkan tidak mengingat semuanya, mana mungkin kalau dia—" Perkataannya dipotong oleh Midorima yang menghela napas singkat.

"—mengetahuinya? Lambat laun pasti dia akan mengingat semuanya."

Aomine terdiam sejenak dan menunduk. Memang benar, tidak mungkin dia mengingatnya.

Keheningan melanda beberapa saat.

"Sejak kejadian itu, semuanya terasa hambar. Bahkan aku makin tak bisa semangat dalam bermain dan bertambah malas untuk berlatih." akunya pada sang pemuda berkacamata. Manik safir biru itu hanya bisa memandangi percikan air yang mengalir keluar dari keran wastafel.

Midorima menghela napas, "Iya, aku bisa melihat itu. Apalagi, ketika Kuroko menceritakannya… Aku hampir saja menyangka kalau dia berbohong."

"Sudahlah—Aku tak ingin mengingat kejadian itu lagi." Membuatku kesal sendiri karena tak bersamanya saat itu; pikir pemuda itu kesal.

Aomine mencoba menahan kesal yang mulai mengerubungi hatinya yang makin panas. Tangan miliknya pun ia gunakan untuk menyisir rambut pendek miliknya yang berwarna biru tua tersebut. Membuat beberapa bulir air membasahi rambutnya.

"Kau mengungkit lagi hal yang tak mengenakkan bagiku, Midorima. Bisa tidak, kita tak usah membahasnya?" Pemuda bermanik safir biru itu mendecih pelan pada Midorima.

Midorima mengangkat bahunya santai, "Kalau kau merasa begitu, lebih baik kau tidak usah menjawabku sekalian. Lagipula," Mata hijau teduhnya memandang pemuda berkulit lebih gelap tersebut, dengan pandangan berarti dan menerawang ke arah lain.

"Setelah sejak hari itu… Sekian lama tak bertemu, kita sudah mengira bahwa takkan bertemu dengannya lagi adalah kesimpulan yang pasti. Tapi kenyataannya—sekarang kesimpulan itu hanya sebuah kebohongan belaka." Jari lentiknya menaikkan kacamatanya yang berbingkai hitam. Sudah jelas bahwa dia mengutarakan yang sebenarnya.

"Jadi, setidaknya kau tahu akan hal itu, Aomine." lanjutnya sebelum beranjak pergi, berjalan menjauh dari Aomine yang terpaku diam di tengah kesunyian toilet laki-laki tersebut. Hanya ada pancuran air dari keran wastafel yang belum dimatikan—bernyanyi nyaring disambut gemericiknya dengan senang hati.

Tapi, sekarang giliran hati Aomine yang menunduk dalam diam dan tak bersenang hati. Terbesit ingatan masa lalu yang membuatnya semakin kesal dan gusar. Ingatannya pada dirinya sendiri yang bodoh waktu itu—rasanya ingin sekali melakukannya.

Tapi dia tidak bisa memutar balikkan waktu.

Kedua tangannya terkepal erat, "Sialan. Semuanya makin kacau saja.." Lalu pemuda itu pun menghela napas kesal.

"Tapi setidaknya mereka lolos sampai 4 besar. Aku harap dia memenangkan piala itu."

Dan melindunginya.


Diam.

Ya; hanya itu yang bisa kau lakukan sekarang.

Pertandingan yang berada di depan matamu jelas sangat menyakitkan hati.

Kau bahkan bisa melihat kecurangan—tapi wasit tidak melihatnya dengan jelas sehingga itu sempat membuatmu sedikit kesal.

Kise terlihat berusaha mati-matian untuk tetap menyerang dan mencetak—tapi hasilnya nihil. Bahkan tim Fukuda Shougo makin mengungguli angka dari Kaijou.

Ini sudah gawat. Perbandingannya jauh sekali.

Kise terjatuh—karena kakinya yang mulai cedera—Riko yang bilang begitu—kau masih tak tahu apakah Kise masih bisa bertahan atau tidak.

'Tidak! Dia terlalu berusaha keras.. Harusnya dia tidak memaksakan diri…' pikirmu cemas.

"Ryouta-kun.. Kenapa…" gumammu dalam hati.

Haizaki berjalan mendekatinya—memandangnya yang tertekuk kakinya, dan seringai jahat menghiasi raut wajah sang pemuda bermata kelabu tersebut.

"Aku sudah bilang padamu 'kan,"

Ia tersenyum puas akan hasil bantaian miliknya. Lidahnya membasahi bibir ranumnya pelan.

"Semuanya.. akan aku ambil dan curi darimu~" Pemuda itu mencercanya dengan masa lalunya Kise—misalnya saat merebut pacarnya dan gelar saat masih di SMP.

Sementara dia terus mengoceh hingga wasit memperigatinya, Kise tertunduk dalam diam. Rasa nyeri di kakinya masih menjalar dan membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Poninya menutupi bayang raut wajahnya.

Kasamatsu terengah-engah—mencoba mengambil napasnya agar bisa mereda sesaat. Ia memandang adik kelasnya yang tertunduk dan belum bangkit itu.

'Kise…'

Aomine hanya bisa bungkam dan Momoi bergumam lirih ketika melihat keadaannya seperti sekarang ini. "Ki-chan…"

Kau merasa bahwa sepertinya Kise mulai tak bisa bernegosiasi akan emosinya saat ini. 'Ryouta-kun.. Kumohon, bertahanlah…'

Kagami hampir tak percaya akan apa yang dia saksikan. "Tidak mungkin.. Kau hanya menerima cercaan itu saja dan tanpa melawannya? Kau?—Kuroko?" ia menoleh ketika melihat Kuroko langsung berdiri. Kau juga menoleh ke arahnya.

"Tetsuya-kun..?" ujarmu heran.

Pemuda itu diam sesaat, sebelum ia mengambil napas sekali dan meneriakkan lantang dengan suaranya sendiri—

"Aku percaya padamu, Kise-kun!"

Kau yang juga melihatnya—menyadari dan segera melakukan, ikut berdiri dan berteriak juga layaknya Kuroko.

"Kami percaya padamu, Ryouta-kun! Kalahkan dia!"

Matanya berkilat. Terpana tak berdaya.

Para penonton berbisik-bisik akan sikapmu (karena tidak bisa melihat Kuroko) di bangku penonton. Suara sempat menggema dan cukup membuat pemuda berambut pirang tersebut mendongak ke tribun penonton.

"Suara siapa tadi?"

"Suaranya besar juga ya.."

"Apa dia temannya.."

Kise terdiam akan teriakan kalian sambil terperangah. Tak menyangka kalau dua orang yang tak ia duga—bisa melakukan hal semacam itu.

Kuroko menatap tajam dan penuh dengan keseriusan—tertera jelas di wajahnya yang senantiasa datar. Tak terkecuali denganmu yang memasang tampang yang juga tak kurang dan tak lebih dari Kuroko.

"Kurokocchi…"

(Name)cchi…

Sedetik kemudian muncul senyum kecil menyinggung bibirnya. Memang kecil, tapi penuh dengan percaya diri.

Kau terdiam sejenak saat melihatnya. Ada yang lain dari senyumnya yang cerah itu. Bahkan Kise yang idiot itu pun terlihat berkilauan ditimpa kemilau lampu stadion, yang membuatnya makin terlihat…

Bersinar.

Ah, apa yang kau pikirkan. Kau terlihat seperti membayangkan kalau Kise seperti seorang superstar saja. Haha, dasar akunya yang memang aneh; pikirmu dalam hati sambil menggelengkan kepala kecil dan tersenyum geli sebelum duduk kembali dengan Kuroko juga. Kuroko yang menyadari kalau disampingnya tersenyum sendiri, mulai takut.

Takut kalau gadis yang bernama (Name) itu mulai kumat.

"Ada apa, (Name)-san? Kau tersenyum begitu." sahutan dari Kuroko membuatmu tersadar dan menggeleng kecil padanya.

"Tidak, bukan apa-apa, Tetsuya-kun." jawabmu padanya dengan senyum yang berarti—tak ingin Kuroko mengetahui pikiran anehmu tadi.

"Begitu ya?"

"Iya. Dan sekarang ini, aku percaya kalau dia akan menang. Aku yakin akan hal itu." Senyum kecil itu mengembang.

Kuroko tertegun.

Suasana makin menegang.

Haizaki menoleh ke arah sang pemuda berambut pirang tersebut. Mulai keheranan akan apa yang akan dilakukan olehnya.

Ia tak bisa menebaknya.

"Shougo-kun, kau tahu... Aku akan memberitahumu tentang ini sebelum aku menang." Kise mulai berdiri dan terlihat bahwa ada senyum penuh arti akan apa yang akan dia lakukan segera.

"Kau benar-benar salah akan hal seperti itu.. Misalnya tentang gadis yang kau maksudkan…"

Kedua tangannya di atas pinggang—seperti menganggap semuanya yang dibicarakan olehnya hanya angin lalu. "Dia hanya menempel pada diriku saja dan mulai menjuluki dirinya sendiri bahwa dia adalah pacarku. Sejujurnya, aku hanya sebagai objek saja. Dia punya harga diri yang berlebihan, dan yang bisa dia lakukan cuma menyeret status bahwa dia 'mengencani seorang model' saja."

Pemuda berseragam basket merah dan bernomor punggung enam itu hanya bisa diam.

Kise melanjutkan bicaranya, "Hanya karena kau bisa menyingkirkan satu gadis dariku dan memancingnya dengan penampilan semata, jangan anggap remeh, ya."

Matanya berkilat sekilat, senyuman meremehkan bagi Haizaki terhias jelas di bibir ranum sang pemuda berambut pirang itu.

Haizaki menyeringai sekali lagi.

Pertandingan dilanjutkan lagi. Kasamatsu melemparkan bolanya pada Kise dan ditangkap dnegan gesit. Tim lawan bersiap di untuk menghalau di kubunya agar tak bisa melewati mereka.

"Kau bukanlah apa-apa kecuali sepah tanpa sisa, Ryouta!" Haizaki berlari—menyeringai dan menghentikan dirinya di kubunya.

"Memangnya siapa yang begitu, hm?" senyuman penuh arti merekah dan gestur badan Kise mulai melakukan pergerakan.

Tunggu, Haizaki berhenti ketika mendengarnya berkata begitu.

"Lalu, mungkin kita bisa akur dengan hal seperti ini?"

Bolanya berada di kedua telapak tangannya. Lengannya terangkat—seperti siap untuk mnembak dengan posisi dari tempatnya berdiri saat ini.

Mata kelabu itu melebar.

"Gaya kami memang sangat berbeda darimu."

Dan benda bulat tersebut ia lemperkan ke atas—melayang tinggi, menuju ke arah ring basket lawan.

Semuanya terkejut akan tindakannya.

Begitu juga kau dan seluruh orang yang melihatnya.

'Tidak mungkin, itu..'

Sepersekian detik kemudian, bola tersebut meluncur mulus—jatuh dan membuat Kaijou mencetak angka dari sang pemuda berambut pirang tersebut.

Haizaki seakan tidak percaya akan realita yang disaksikannya.

Kise menggunakan gaya bermain Midorima dan tembakan tiga poin miliknya.

Sorakan kembali berkoar.

Momoi terlihat terkejut—tak ayalnya juga dengan Aomine.

Kuroko terkejut sementara Kagami menyahut sambil kaget. "Aku kira dia tidak bisa meniru gerakan dari Generasi Keajaiban!"

Kau terperangah akan keajaiban yang terjadi.

Kasamatsu berpikir dalam hati. 'Dia sudah melewati halangan. Walaupun begitu, gerakan itu bisa menjadi beban berat baginya, jadi ada batas waktunya. Mungkin sekitar lima menit, tapi.. Kise bisa menggunakan semua gerakan mereka.'

The absolutely impeccable imitation; The Perfect Copy!

Berkali-kali dia mencoba untuk mencetak angka, berkali-kali pula ia dihalangi oleh Kise dengan jurus andalannya.

Haizaki menggeram tertahankan.

"Wanita, gelar.. Jika kau ingin, kau bisa miliki sebanyak yang kau mau. Tapi aku punya sebuah janji yang harus ditepati—yang lebih penting dari apapun itu."

Teringatlah dia akan janjinya pada Kuroko dan Kagami—untuk bertanding bersama di lapangan yang sama.

Dan memastikan siapa pemenang dari permainan ini.

Juga pada gadis yang menyemangatinya.

Kalian pasti tahu siapa, bukan?

Seringai kecil muncul sekilas.

"Akan aku pastikan untuk bisa maju sampai kesana. Jangan beraninya kau halangi jalanku!" serunya dengan tatapan mata yang tajam—penuh tekad.


Skip time

.

Suara tapak kaki kedua orang yang menapak lantai koridor itu menimbulkan gema kecil—memenuhi bunyi dan diiringi oleh keheningan yang bernyanyi riang.

Salah satu pemiliknya merupakan seorang gadis yang berjalan bersampingan dengan santai dengan seorang pemuda berambut kontras biru langit. Walaupun dirinya berjalan, tapi bukan berarti bahwa pikirannya juga tak berjalan.

(First Name) (Last Name); kau—gadis yang sedang berpikir sekarang ini.

Akan perkataan Haizaki pada Kise.

Seperti ada yang mencubit hatimu.

Dan Kuroko menyadari itu.

"Jangan hiraukan perkataannya, (Name)-san."

Kau menoleh kearah Kuroko yang menatapmu datar seperti biasa.

"Apa maksudmu, Tetsuya-kun?" tanyamu padanya.

"Haizaki-kun memang seperti itu orangnya. Tapi aku tahu, didalam hatinya masih ada semangat untuk bisa bermain adil dan baik. Walaupun orang tak bisa melihatnya karena sifat dan sikapnya itu." jelasnya sambil menunduk dan tersenyum kecil.

Kau yang memandangnya pun mengangguk kecil, "Baiklah, jika kau bilang begitu.. Tapi aku juga sependapat denganmu, dan yakin bahwa Haizaki-san bisa sadar akan apa yang dia pikirkan, bahwa semuanya itu tidak benar."

Kuroko menoleh ke arahmu yang tersenyum simpul padanya.

"Bahwa bermain dengan adil dan sepenuh hati, itu akan sangat menyenangkan. Apalagi jika bersama dengan semua orang. Pasti asyik sekali!"

Pemuda itu terdiam.

Senyum itu—senyum yang sama saat ia terakhir melihatnya.

Saat sebelum dia menangis dan menderita.

Saat dulu semuanya belum terjadi.

Ketika mereka masih polos dan naif—yang akhirnya tergejolak dengan emosi masing-masing.

Seperti kertas putih tak bernoda—tapi akhirnya tertimpa tinta merah pekat.

Meyisakan segudang luka yang perih—dan sobekan penuh ruang.

Yang takkan bisa disatukan lagi dengan utuh.

Kuroko tertegun sejenak sebelum tersenyum tipis.

Dengan terpaksa.

Demi gadis di hadapannya saat ini.

"Iya."


Suasana mulai senyap, setelah pertandingan telah selesai dan penonton telah berjalan keluar dari ruangan stadion, sehingga keadaan bangunan itu mulai sepi dan hening lagi.

Kuroko menoleh ke arah belakang—seraya berhenti berjalan ketika dia bersama tim sekolahnya keluar dari stadion.

Kagami bertanya padanya, ikut berhenti berjalan. "Ada apa, Kuroko?"

Pemuda bersurai biru muda itu menoleh ke arah rekan se-timnya. "Oh, bukan apa-apa." Lalu ia berjalan lagi bersama Kagami di belakang membuntuti timnya.

Tapi mereka berdua mulai tersadar—

"Ah." Mereka berdua bertatapan dengan syok—lebih ke Kagami—karena Kuroko hanya sedikit melebarkan matanya.

"Kita meninggalkan (Name)/-san."

Dan kepanikan terjadi beberapa saat kemudian bagi tim Seirin—membatalkan niat untuk pulang ke rumah karena salah satu anggotanya menghilang.

Sementara itu di sisi lain, kau berlari kecil dengan cepatnya untuk segera bergerak keluar dari stadion yang mulai sepi setelah pertandingan usai.

"Duh, dasar… Mereka semua jahat sekali padaku. Padahal aku sudah bilang mau ke toilet dan meminta untuk menungguku, tapi kenapa mereka malah meninggalkanku?" gumammu kesal sekaligus memasang muka tertekuk.

Kakimu menghentak-hentak kecil—bagai seorang anak kecil yang ngambek gegara mainannya tidak jadi dibeli. Tasmu kau sandangkan di bahu dan kau mempercepat langkahmu lagi. Sambil menggerutu, kau mendongak dan perlahan berhenti berjalan.

"Sial." umpatmu dalam hati.

Kau menggeram dalam diam. Kenapa harus dia?

Dari semua orang yang kau temui, kenapa harus orang brengsek ini yang ada di hadapanmu?

Kau merasa benar-benar merasa sial hari ini.

Di hadapanmu sekarang, berdiri seorang pemuda yang kau baru kenal.

Dan langsung kau benci.

Kapten dari tim Rakuzan, Kaisar Tertinggi; Akashi Seijuurou.

"Beraninya kau ada di hadapanku saat ini."

Pemuda itu memunculkan senyum kecil yang terkesan dingin.

"Sikap pemberontak seperti biasanya, ya. Cukup mengesankan daripada sikap polos dan naif."

Rambut merah darahnya bergoyang ketika ia meluncurkan emosi tawa pelannya itu.

Melihatnya saja sudah ilfeel, apalagi bicara dengannya.

Cih, benar-benar pemuda yang aneh.

"Mau apa kau kemari? Katakan saja ke permasalahannya. Aku harus segera pulang—"

"—dan tak ingin membuat dua pengawalmu kahawatir dengan mencarimu? Sudah kutebak. Tak usah mengelak."

Kau terbengong dan langsung marah. "Apa kau bilang?! Tetsuya-kun dan Taiga-kun bukanlah pengawal, tapi mereka temanku! Jangan sekali-kali kau mengatai mereka—apalagi Riko-Oneechan dan para senpai. Awas saja kau kalau macam-macam." ancammu dengan tatapan tajam dan telunjuk mulai terangkat.

Apa-apaan itu?! Dia menyebut mereka pengawal?

Akashi meremehkan martabat dan harga diri kalian.

Jahat sekali

Kau berusaha sabar. "Lalu… Apa yang kau inginkan dariku?"

"Aku datang untuk menemuimu, putri jelata. Tapi sepertinya kaulah yang salah paham. Aku tidak ingin meremehkan Seirin. Tapi memperingatimu yang ceroboh itu—dan juga yang lainnya."

Kau sempat kesal akan julukannya tapi tetap menanyakannya.

"Apa maksudmu?" tanyamu hati-hati.

"Karena kalian besok akan melawan Kaijou—bukanlah hal yang mudah. Perfect Copy miliknya itu bisa jadi penghalang kuat. Dan mungkin—mereka akan memandang kalian sebagai tim yang lemah."

DEG

"I-Itu tidak mungkin! Ryouta-kun dan timnya tidak akan memandang kami seperti itu!"

"Mungkin saja. Tapi lambat laun, kau akan mengetahuinya. Dan seluruh orang akan memandang bahwa Seirin lemah dan bertekuk lutut di hadapan Kaijou—"

"Tidak!" selamu.

Kedua mata heterokrom tersebut melirik sejenak ke arahmu. Terlihat dirimu yang menunduk—ponimu menutupi air muka wajahmu yang naif dan bodoh—baginya.

"Hanya karena kau bilang bahwa derajat Seirin itu rendah, dan berkata kalau mereka tim yang buruk, pengecut, ceroboh, bahkan tidak punya hak untuk bertanding di lapangan.. Apalagi kau berkata bahwa semua ini salahku… Jujur saja—Aku benar-benar tidak mengerti akan semua hal ini. Tapi,"

Kedua tanganmu bergetar—mengepal.

"Mau sampai kapanpun, mau kau bilang begitu juga… Aku takkan terjebak dengan perangkap dan penghasutanmu."

Sebelum kemudian manik indahmu menatap nyalang padanya.

"Walaupun dibilang sebagai tim lemah, tapi aku tidak akan rela kau menghina Seirin!" tatapanmu memincing, menatap tajam padanya.

"Apalagi dihina oleh orang seperti dirimu itu. Menjijikan."

Sunyi melanda.

Akashi memandangmu dengan tatapan dinginnya dan makin berjalan mendekat padamu.

"Hee… Ternyata nyalimu memang besar, sama seperti dulu. Aku harus beri hukuman padamu."

Hah?

Apa dia bilang? Hukuman? Kenapa rasanya merinding, ya?

Dan apa maksudnya? Sama seperti dulu?

Kau tidak mengerti.

Tapi, kau harus berhati-hati pada pemuda satu ini.

Dia sudah gila; pikirmu dalam hati.

Kau yang menyadari itu langsung berjalan mundur—mulai khawatir akan apa yang terjadi jika dekat-dekat dengannya. Yah, mengingat akan kejadian yang lalu itu.

Trauma karena ciuman pertama yang diambil olehnya darimu.

Yah, kau masih tak terima akan hal itu dan jadilah kau begini.

Kau menatap tajam padanya, "..J-Jangan mendekat.."

Langkah mundurmu terhenti ketika kau merutuki dirimu sendiri—dinding berada tepat dibelakangmu dan punggungmu sudah menubruk dinding tersebut.

Kau meneguk ludah dengan gugup, masih menatap pemuda berseragam olahraga Rakuzan tersebut.

BAM

Kau berjengit kaget ketika tangannya memukul—atau menekan daripada ditaruh dengan sengaja di sampingmu yang merupakan tembok lorong itu. Wajahnya masih penuh dengan aura mengerikan dan tatapan tajam yang dingin.

Dan kau berusaha untuk cukup berani menatapnya. Melihat bahwa wajahnya mendekat, kau mengalihkan pandanganmu dan memejamkan matamu rapat—takut terjadi apa-apa.

Akashi mendekatkan kepalanya. Terasa sekali bahwa deru nafasnya menerpa daun telingamu yang putih itu berubah menjadi merah menggoda—untuk Akashi lumat.

Walaupun dia merasa bahwa ada sesuatu yang janggal di telanga satunya, tapi itu tak diperdulikan olehnya.

Pemuda itu menyeringai kecil dan kemudian berbisik seduktif. "Merasa takut sekarang? Ini baru permulaan, (Name)ku sayang~.."

Panas, hangat, dan kontras.

Rasanya kau hampir menggila karenanya.

Jantungmu serasa hampir berhenti berdetak. Manikmu membulat sempurna dan secepatnya untuk sadar ketika bibirnya mengecup dan menggigit pelan lehermu.

"Ahh!~.."

Oh Tuhan, yang benar saja—kau sudah menebak akan jadi seperti ini.

Pertama raksasa ungu, sekarang raja arogan merah.

Sepertinya pikiranmu mulai korslet.

Baiklah, lanjut.

Kau mencoba untuk memberontak dengan mendorongnya—namun nihil. Tenagamu serasa diambil olehnya gegara salah satu daerahmu dilumat olehnya. Wajahmu sudah memerah karena kesensitifanmu akan sentuhan di area tertentu—termasuk disitu.

"A-Akh~.. Ti-Tidak—Janga—Nh!~.."

"Tenang.. Aku hanya mengambil sebagian kecil saja.."

Persetan dengan kekuatan fisiknya, yang ternyata kuat walaupun ia lebih pendek daripada teman-temannya yang lain. Kau tak bisa mendorongnya untuk menjauh—malah kau yang dipojokkan olehnya dan membuatnya leluasa menguasai tubuhmu—dengan mengunci seluruh pergerakanmu dan membuatmu lemas seketika.

Ini… tak sama seperti ketika Aomine menyerangmu. Ini lebih parah.

Tidak.. Kenapa… Kenapa hal seperti ini terulang lagi?!

"Hanya aku.. yang boleh menyentuhmu—dan bukan orang.. lain.."

Hah? Apa yang ia katakan tadi? Pasti ini hanya candaan; harapmu juga begitu.

Tapi itu kenyataan.

Disela-sela kecupannya, ia menggigit pelan lehermu yang mulai dibuat merah dengan tanda baru lagi.

Khusus darinya.

Dan yang ini lebih besar.

Astaga.

.

.

.

PINGSAN

PINGSAN

AUTHOR SEKARAT

HELP

.

.

.

Kau mendesah pelan—mencoba untuk menghentikannya ketika menggigit bibir bawahmu. Wajahmu memerah padam. Tanganmu mengepal seraya meremas pakaian yang Akashi pakai—memohon untuk melepaskanmu.

Melepaskan dirimu dari sang pemuda arogan yang angkuh ini.

Matamu terpejam, tak tahu apalagi yang harus kau lakukan dan melemah. Serasa kau dihisap energinya oleh pemuda bermata dwi warna tersebut.

"Kh!~.. Kumohon.. jangan—Ah!~.." desahmu yang terdengar melas, hampir tak bisa berontak lagi.

Tapi, sepertinya Akashi tak ingin memberi ampun padamu yang tersengal-sengal. Pemuda itu mengangkat dagumu sebelum mengecup pipimu yang memerah itu dengan lembut dan menyesap lehermu lagi dengan rakus, seakan tak puas untuk menikmati aroma wangi tubuhmu.

Dan terdengar desahan melasmu. "Nh—Ha!..~ Gh.. Nhm~~…"

Sungguh, bagi Akashi itu membuatnya terhibur dan bersemangat.

"Kau itu milikku, dan itu sudah mutlak."

DEG

Bisikan seduktif itu membuatmu sadar kembali dari sensasi aneh yang tadi menyeruak, dan mendorong kuat sang pemuda hingga hampir terjungkal—tapi tak jatuh—agar menjauh dari dirimu. Untunglah, kekuatanmu kembali.

Manikmu mulai berair seraya memegang lehermu yang terpaksa dicicipi olehnya, tersengal-sengal dan kau semakin tak tahan akan semua ini.

Semuanya tak masuk akal dan gila!

"..Dasar bajingan. Aku membencimu!" teriakmu dengan suara serak dan bergetar dihadapannya dengan nada yang kental akan kekesalan, sebelum mengambil tasmu dan berlari kecil untuk pergi dari tempat tersebut.

Kau tidak mengerti, kau tidak mengerti sama sekali jalan pikiran pemuda berambut darah itu—bahkan kau tak tahu kalau ketika kau sudah berlari jauh, sang pemuda bermarga Akashi itu menyeringai iblis—yang membuatnya makin menyukai permainan dibalik tirai panggung pertandingan ini.

Karena pertandingan dan permainan ini adalah perang terbuka bagi mereka semua.

Untuk merebutnya dan mendapatkan haknya.

"Takkan kulepaskan kau dengan mudah, karena kau milikku. Selamanya."


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara disisi lain, kau berlari jauh dari tempat itu dan terus berlari. Kau sampai di lorong koridor yang kosong dan sepi—sebelum bersender di dinding dan ambruk, kau mencoba untuk duduk sambil bersandar.

Nafasmu terengah-engah—menghirup udara untuk bernapas dengan rakusnya, bajumu kusut karena hampir dirobek olehnya, rambutmu yang sedikit berantakan gegara memberontak, wajahmu berantakan karena memerah, mata yang sembab karena airmata, dan juga lehermu yang telah ternodai oleh dua orang sekarang.

Ini memuakkan.

"Kenapa… kenapa hal seperti ini terjadi.. padaku, Dewa..? Kau benci padaku..? " tanyamu lirih di sela tangisan diammu pada kebisuan yang ada di lorong tersebut.

Mungkin di kehidupan yang lalu, kau membuat kesalahan—dan Dewa menurunkan karma pada kehidupanmu yang sekarang ini.

Ya, pasti itu; pikirmu.

Tapi kau tak mengerti bahkan tahu apa kesalahan itu.

Lalu kau salah apa? Kenapa juga kau dilibatkan, kau tak mengerti akan semua ini—

Juga tak mengerti sikap pemuda itu. Mengingat kejadian tadi saja hampir membuatmu merasakan kekesalan tiada tara. Sekenak jidatnya saja melakukan hal tak senonoh semacam itu.

Tanganmu kau kepalkan kuat-kuat—buku-buku jarimu hampir memutih ketika melakukannya. Air matamu berlinang memenuhi pinggir matamu. Gigimu kau gertakkan dengan kekegeraman—dan hatimu panas dan tak dapat membendungkan kekesalan.

Maka dari situlah, kau bersumpah…

Untuk membenci pemuda bernama lengkap Akashi Seijuurou tersebut.

Sampai akhir hayatmu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"…(Name)? Kaukah itu..?"

Hn?

Suara yang familiar menyapa telingamu, sebelum mendongak kepalamu perlahan.

Siapa?; tanyamu dalam hati. Wajahnya yang mendekatimu—tak bisa kau lihat karena pandanganmu perlahan mulai berkunang-kunang dan memudar.

Dan sesaat sebelum kegelapan akhirnya menyelimutimu—menyerah akan kelelahan yang melanda pada saat itu juga, kau mendengar kata terakhir orang tersebut.

Terdengar sangat lirih.

"Ternyata… Kau memang sudah terjebak, (Name)."

.

.

.

TuBerColosis


(pojok review, sedia pocky sebelum lapar~ :3 :D :) ) #mottoHidupBaru

Hola minna!~ Maaf telat update =w=" Banyak tetek bengek yang terjadi di RL tapi syukurlah udah beres. Oh ya! Kali ini kita telah menyaksikan perang saudara nich! Gimana? Sekalian sama pertarungan Kaijou VS Fukuda Shogo dan saya ketik jadinya chapter ini extra panjang. Maaf ya kalo nggak terlalu seru dan mengena di chapter kemarin, tapi saya membayarnya dengan ini. Jadi semoga kalian readers semua tidak lelah menunggu, tidak bosan, terhibur dan puas~
Oh ya, setelah ini sepertinya akan ada banyak kejutan lagi di chapter selanjutnya. Hayo, nanti di preview ada sedikit petunjuk untuk chapter kedepannya dan kalian harus menebak siapa saja yang bicara di tiap kalimatnya XD
Hihihi,.. Ada yang puas dengan aksi Murasakibara dan Akashi tadi? Senang atau marah nich?~ #apaan Huehehehe, hayo yang tahu siapa seonggok(?) manusia yang familiar tadi ngomong. Hayo tebak~ XD kalo jawabannya tepat nanti aku kasih Aomine menari pake baju bikini, bayar 30.000 yen sejam #plakk Monggo ditunggu kritik saran juga tanggapannya ya~ XD Dan pasti nanti semua service bakal kebagian satu-satu kok jadi jangan kuatir ya :3 #sokImut

Kise: Shinjucchi!~~~ *lari sambil mewek*

Author: Apa—He?! Kok pake baju itu?!

(Ternyata Kise nangis kejar gegara dia pakaiannya dilucuti oleh Kuroko dan diganti pake baju cina warna kuning yang belahan pahanya kelihatan.)

Kuroko: Kise-kun, jangan kabur. *muncul*

Kise: HUWEEE!~~~ Nggak mau!~ *nangis sambil ngumpet dibelakang Shinju*

Author: Duh, kalian ini kenapa sich? Kuroko, jelaskan dulu.

Kuroko: Begini, Shinju-san. Kami semua sepakat mau tanding siapa yang paling cantik kalau pakai baju cina yang ketat itu. Begitu. #hoe

Author: …Dimana harga dirimu sebagai laki-laki, Kuroko? *sweatdrop*

Kuroko: Harga diri kami sudah tidak ada lagi sejak kau menistakan kami di fanfic ini, Shinju-san. #mukaTembok

Author: Kok aku yang disalahin sich?! Ah sudahlah, mana yang lainnya? Ada review yang mau dibaca nich. Panggilkan, cepat!

(Kuroko pergi sebentar lalu kembali bersama dengan yang lainnya—dengan pakaian yang sama pula dan warnanya sama kayak ciri khas mereka)

Author: *sweatdrop* …Apa-apaan ini..? =="

Akashi: Kami sudah sepakat untuk bertanding siapa yang paling cocok memakai baju ini. Jangan tanyakan karena ini usulku #der

Kise: Hiks *mewek* QAQ Padahal nggak mau pakai baju ini-ssu..

Midorima: *menutup wajah yang memerah sambil menunduk* ~~~

Aomine: Gue berasa nggak seksi sama sekali #mukaYouDontSay

Murasakibara: nyem.. nyem.. *masih santai ngunyah cemilan*

Kagami: *udah nggak bisa dideskripsikan lagi raut mukanya* I look like shit.

Author: Kalian semua udah nggak waras… *menatap mereka semua dengan pandangan jijik*Sudahlah, sekarang kalian baca review. Nich.

(Semuanya dikasih kertas review sama rata tanpa terkecuali, Author duduk-duduk santai di kursi sutradara(?))

Author: Oke, dari Kuroko dulu.

Kuroko: Baiklah, ini dari Asia Tetsu-san. Dia kaget gegara menanyakan kalau tidak suka dengan Akashi-kun—

Akashi: Apa lagi salahku? *sensi, bersedakap tangan*

Kuroko: Tidak, Akashi-kun. Lanjut, dan ternyata aku memang benar menebaknya. Terima kasih tapi aku tidak mau dipeluk. Aku mudah sesak orangnya #plakk

Author: Kuroko~ #mukaYandere

Kuroko: Lanjut lagi. Dan ada ucapan terima kasih darinya untuk Midorima-kun. Terima kasih untuk reviewnya, arigatou gozaimasu *bow* Ini sudah, Shinju-san.

Author: Oke, selanjutnya! Kise!

Kise: Wokeh!~ Ini dari momonpoi-san. Pendeknya~ tapi ya sudahlah. Ini sudah dilanjut, makasih sudah menunggu dengan setia-ssu! Sankyuu~ #cling #wink

Author: Midorima! Giliranmu. *makan coto piranha(?)*

Midorima: Baiklah, selanjutnya dari Call me Mawar-san. Makasih sudah bilang keren untuk fic gaje bin abal-abal ini. Sekarang akhirnya kau mulai mengerti alur cerita ini bakal kayak gimana #hah Hmph, masih untung ada orang waras—

Author: MIDORIMA SHINTAROU~ ^^

Midorima: IYA INI AKU BACAIN LAGI-NODAYO! #jeritkesal *berdeham kalem* baiklah, lanjut. Ya, ini sudah dilanjutkan dan semoga terhibur dengan chapter terbaru yang panjang ini. Arigatou gozaimasu *bow* Sudah. Sekarang boleh aku pergi?

Author: Tidak. Aomine, lanjutkan.

Aomine: Yosh, sekarang ini dari Kurotori Rei-san. HUAHAHAHAHA! *ngakak gegulingan* Oi, Kagami, Murasakibara! Lu pada dibikinin jadi pairing sama dia #ketawaLagi

Kagami: Sialan, lu beraninya ngejek gue! #naikPitam

Murasakibara: Mine-chin memang mau aku hancurin ya.. #mulaiBerubahJadiTitan #dor

Author: *lempar sepatu ke kepala Aomine sekencang-kencangnya* BERISIK TAU NGGAK LU, BANGKE!

Aomine: *Meregang nyawa dengan tak elitnya*

Kuroko: Aomine-kun, selamat jalan *kubur Aomine* #galiKubur #der

Author: Karena Aomine udah dikuburin untuk yang kedua kalinya, sekarang giliran Murasakibara saja menggantikan.

Murasakibara: Oke~.. #santai Lanjut ya. Dia muji Kuro-chin soal keromantisannya yang makin romantis dan imut.

Kuroko: Oh, begitu ya. Makasih. *senyum langka* #nosebleedalert(?)

Murasakibara: Katanya Kuro-chin memang romantisnya jarang keliatan gegara mukanya yang tak terlalu memungkinkan #duak Dia juga marah dan ngamuk sambil nunjuk Mine-chin dan Aka-chin gegara MC keliatan banget menderitanya.

Akashi: *mencoba sabar, ngelus kaki(?)* Emak, sabarkanlah anakmu yang ganteng ini #hoekz

Murasakibara: Iya ini sudah dilanjutkan, makasih udah mau nunggu lama. Hehehe.. stress karena TBC dengan cepatnya ya? Salahkan Ju-chin yang habis ide makanya maklumi saja. Makasih~.. *senyum kecil* Ju-chin. Sudah.

Author: Oke, sekarang gilirannya Akashi.

Akashi: Selalu saja jadi yang teraniaya. Salah Sei apa, mak? #OOCModeON #plakk Aku nggak mau baca. Aku mau pulang aja.

Kuroko: Akashi-kun kok ngambek? #der

Midorima: Dia sedang ngambek. #lha

Kise: Akashicchi lagi ngambek. #eh

Aomine: Pemandangan langka. Akashi ngambek #wut

Murasakibara: Aka-chin ngambek. Nyem nyem… #lho

Kagami: Memang lagi ngambek ya.. #cengo

(Dan sedetik itu juga semuanya langsung dihantam gunting keramat sama Akashi untuk dijadikan daging guling(?))

Author: *menghiraukan kejadian gore di belakangnya*baiklah, karena semuanya lagi dikuliti oleh Akashi, makanya sekarang aku akan membalas review yang belum terbaca. ^^

Mey-chan 5872682-san: hola, beibb~~ #sapalu iya, tahu kok, saya juga sibuk #apaan wkwkwkwk XD emang pendek kayak Akashi chapter yang kemaren jadi maaf ya yank~ iya, makasih buat kesan misteriusnya owo HAHAHAHAA XDD masih mending lho~ merinding kucing kokoromu kalo aku nggak skip adegan Alex ya kan? Oke, loncat di sumur penuh gunting beracun dari Akashi, mati dong wkwkwk XDD Mayuzumi nanti muncul kok, sabar eaa uwu Kalo soal itu mah gampang, nanti aku undang tamu-tamu yang bersangkutan di pojok review selanjutnya. Tunggu aja ya neng ^3^)/ Riko nggak mau dibisikkin beb, maunya dikopok'in #matiKenaSabetanTongkatRiko jangan peluk Kuroko lagi, ia udah sekarat yank qwq ya sama-sama dari Kuroko #eh siap~ ini sudah dilanjut, makasih untuk dukungannya ya beib~ huehehehehe… bang Jaki udah mampir di cerita tapi langsung tersingkir, kacian qwq oke, baibai~ #kissubye

akashiro46-san: huehehehe… tenng aja, memang spesies seperti ini akan menguasai dunia XD #plakk oke, ini sudah dilanjut! Sankyuu udah mau review ya ^^

Author: Baiklah, sampailah kita di penghujung acara pojok review-nya. Untuk di pojok review selanjutnya, akan ada tamu spesial seperti di review yang lalu-lalu. Saya D.N.A. Girlz aka Shinju, undur diri dulu untuk memberikan napas buatan rasa jengkol agar mereka semua tidak sekarat lagi. Sekali lagi, keep RnR dan Review ya~ Juga Fave XD

Keep the writing spirit, be creative, loves to be supportive in any good way, and I'll see you guys on the next chapter, poppets!~ #dadah-dadahGaje


~Preview~

...

"Tidurlah dengan tenang, Raja Veteran."

.

"Kumohon—tolong jangan menangis, Shin-kun—" "Diamlah."

.

"Takao-kun, apa yang kau—" "Nanti kau akan tahu sendiri, (Name)-chan."

.

"Maafkan aku, (Name)…"

.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" "Tidak ada."

.

"Aku menyukaimu."


See you next time, friends!~ XD :) :3

Best signs,

D.N.A . Girlz