Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!
Story plot ya milik saya #digebuk
LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORTS ESPECIALLY BASKETBALL.
LONG LIVE SPORTS!
P.S: Warning for some spoilers and lines from the original anime and manga. alot :3 so please just go with the flow and proceed to following the story with peace. Read it at your own risk (and adding some extra scene). SUMIMASEEENNN APDETNYA LAMA ;w;
Recommended song for this chapter:
- The Ready Set – Killer
- Faith Hill – Cry
- Kim Soo Hyun – Dreaming
- No Min Woo (Dong Joo's Theme) – Trap
You'll get it right away.
Enjoy reading!~ /( 0w0)/
.
.
.
"chan.."
"(Na…"
"…me).. (Name)! Bangunlah!"
"Ukh…" Kelopak mata itu mulai perlahan terbuka dan mengedip beberapa kali. Sesaat kemudian, kau mulai tersadar, melihat langit-langit ruangan dan melihat Riko beserta para anggota tim Seirin yang lain mengerubungimu. Kau sedikit linglung dan berusaha untuk bangun. Dibantu oleh Mitobe, kau berhasil duduk dan menoleh ke semuanya yang ada di sana. Bahkan Kuroko dan Kagami juga ada.
"Riko.. Oneechan?.. Semuanya…"
Yang bersangkutan melihatmu dengan ekspresi wajah yang khawatir berat—menerjangmu dengan pelukan erat.
"Astaga, (Name)-chan! Syukurlah, kau sudah bangun! Kau tidak apa-apa 'kan? Kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka, bukan?" tanya gadis itu dengan cepat, mulai panik sambil mengecek ragamu yang berbalutkan seragam Seirin.
Kau yang bingung akan semuanya yang mengelilingimu—hanya bisa terbengong sejenak. "Uhm.. Kenapa semuanya ada disini?" tanyamu bingung.
"Maafkan kami! Kami benar-benar tidak tahu kalau kau belum kembali saat itu." ujar Kiyoshi padamu.
Kau bingung sesaat. "Maksudnya?"
"Kami kira kau menghilang—tapi akhirnya Kuroko-kun menemukanmu tergeletak disini." sambung Koganei.
Kau menoleh ke arah Kuroko yang berada di samping Kagami, dibalas dengan tatapan datarnya dan mengangguk padamu.
"Kau bisa berdiri, bukan? Mari kita pulang sekarang, (Name)-chan." ajak Riko dan disetujui olehmu dengan anggukan.
Tas sudah kau pakai dan kau berjalan mengikuti timmu keluar dari area bangunan stadion tersebut. Kau berjalan santai sambil mengingat kembali kejadian yang lalu.
Seingatmu, setelah pertandingan terakhir kau pergi ke toilet lalu kembali sambil membawa tas untuk keluar lewat lorong yang menuju pintu keluar yang sepi, bertemu dengan Akashi—ah, lewatkan saja peristiwa tak pantas itu—lalu kau berlari dan tersandar ke dinding gegara serangan mendadak tersebut—setelah itu, kau tidak ingat apa-apa lagi.
Tapi kenapa kau bisa tertidur di bangku panjang dalam ruang loker?
"Lalu siapa yang membawaku? Aneh.." gumammu kecil sembari berpikir.
Dan tak menyadari bahwa sepasang mata seindah biru langit mengawasimu dari belakang yang bertingkah aneh.
Title: About Them
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.A.Girlz
Language: Indonesian
Rating/Rated: T
Genre: Mystery/Romance
.
.
.
Langit malam cerah seperti biasanya.
Dingin menerpa tapi bisa diabaikan, langkah kaki yang berjalan sendirian dengan tenang itu berhenti sesaat kemudian. Pikirannya mengingat akan kejadian yang lalu.
Flashback
Kuroko berlari secepat mungkin setelah berpencar untuk menemukan gadis yang hilang dan mereka tinggalkan. Ini benar-benar sudah diluar kendalinya. Ketika dia akan berbelok ke arah koridor tempat dimana ruang loker mereka berada—dia berhenti menapakkan langkah.
Matanya yang sebiru langit musim semi itu menangkap sosok tak jauh darisana.
Seseorang berambut hitam berjongkok di depan seorang gadis yang bersender di dinding. Orang itu mengangkatnya dengan gaya bridal style dan masuk berjalan ke dalam ruangan loker.
Sepertinya Kuroko kenal yang digendong.
Jangan-jangan.. (Name)-san!; pikir Kuroko yang mulai was-was.
Segera, dengan hawa keberadaanya yang tipis (terima kasih karena dia diberi kekurangan yang menguntungkan) Kuroko berjalan cepat tanpa menghasilkan suara dan menengokkan kepalanya ke dalam ruangan lewat pintu yang sedikit terbuka.
Terdapat seorang pemuda yang beberapa tahun usianya diatas mereka dengan rambut warna eboni, Kuroko tidak bisa melihatnya dari depan karena ia membelakangnya. Tinggi perawakannya, dan orang itu membaringkan gadis yang tak sadarkan diri itu di kursi panjang.
Sosok itu berjongkok sambil memandangi gadis yang terlelap dan kelelahan tersebut. Dengkuran halus keluar dari mulutnya dan suasana hening sesaat.
Mata bermanik obsidian tersebut menutup beberapa saat dan terbuka kembali, sebelum tubuh yang tinggi perawakannya berdiri lagi dan berbalik, kemudian melihat Kuroko berada disana.
"Ah.. Kuroko. Kau disini?" tanyanya.
Kuroko tak percaya. Sosok itu sangat ia kenal dan yang mempersatukan mereka semua di Teikou.
"…Iya."
Bibirnya serasa kelu.
Mulut itu maju beberapa millimeter, membentuk sebuah bibir atas yang sedikit monyong. "Kau masih datar seperti dulu. Tapi itu bagus kok."
Matanya serasa tak percaya akan apa yang lihat—walaupun ia mencoba untuk berusaha menatapnya dengan seperti biasa.
Bibir itu berganti bentuk menjadi sebuah senyuman tipis.
"Lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu, Kuroko?"
Kuroko hanya bisa termangu di hadapannya. "Baik-baik saja… Anda?"
"Aku juga baik kok."
Hening. Manik obsidian berpandangan dengan manik biru langit.
"Kudengar kalian masuk 4 besar—"
"—Sejak kapan Anda kembali dari Amerika?"
Pertanyaan—tidak, selaan dari pemuda yang lebih kecil darinya itu membuat orang tersebut terdiam sejenak. Tidak ada saatnya untuk bimoli sekarang seperti tadi.
"…Kau tak perlu tahu, Kuroko. Maaf karena tidak bisa memberitahumu, masalahku sudah selesai disana. Tapi, kau sudah tahu 'kan… Aku disini untuk melihat hasilnya saja—bukan berarti aku tidak memikirkan kemungkinan terburuknya juga." akunya pada sang pemain bayangan.
Kuroko mengangguk kecil dan menunduk, memikirkan hal tersebut. "Sejak turnamen dimulai, (Name)-san menjadi pendiam dan sering menangis karena perlakuan mereka. Aku tak tega melihatnya, tapi mau bilang yang sebenarnya pun juga percuma."
Mata itu menyendu sesaat, "Jangan beritahu apa-apa padanya dulu. Kalau kau rasa sudah waktunya—baru kau bisa lakukan itu. Sudah sepantasnya kita melindunginya, karena dia bagian dari tim, bukan?"
Manik biru langit itu juga menyendu dan kepalanya mengangguk pelan. "... sudah lolos sampai final, baru aku beritahukan semuanya. Sejelas-jelasnya."
Pemuda tersebut tersenyum tipis, terlihat lega. "Ya, setidaknya begitu."
Langkahnya berjalan melewati Kuroko dan sebelum keluar dari ruang loker sana, ia menoleh sebentar dan berkata dengan serius.
"Berjuanglah—demi dirinya."
Flashback end
Pemuda itu berhenti sejenak dan menatap langit.
Gelap dan terdapat bulan sabit yang menghiasi selain bintang-bintang kecil.
"Indah.. tapi tak bisa digapai." bisiknya kecil.
Kedua mata itu menyendu sembari mengingat yang lalu.
Tapi tak ia tangisi dan sesali.
Melainkan bertekad untuk melindungi apa yang dia pertaruhkan.
Karena gadis itu adalah koneksi dari mereka semua.
"…Semua ini demi kebaikan untukmu, (Name)-san. Maafkan aku. Tapi aku dan Kagami-kun sudah berjanji akan melindungimu—jadi tenang saja."
Ucapannya disambut keheningan yang bernyanyi.
Sebelum angin malam dengan pelan menyapa lewat, langkah kaki dari pemuda berambut kontras itu berjalan lagi menuju tempat tujuannya dalam diam dan tenang.
Sementara itu, kau tidak bisa tenang. Sekarang pertandingannya semakin menegang dan sambil berharap cemas, kau benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Kau melirik ke papan skor diatas sana dari bangku penonton.
65 – 79 untuk Shuutoku High vs Rakuzan High.
'Sudah tertinggal jauh, bagaimana ini.. Kalau begini, Shin-kun dan Takao-kun bisa..'
Tidak. Tolong jangan sampai…
Bola memantul nyaring memukul lantai. Decit dari sepatu pemain terdengar sangat memilukan telinga. Pertandingan masih berlanjut dan bola digiring ke arah satu pemain dan pemain lainnya.
Sekarang Akashi berhadapan dengan Midorima sebagai penghalang.
"Sudah berakhir, Shintarou."
Tangannya dengan gesit memainkan bola dan memakai Ankle Break miliknya sebelum menjatuhkan Midorima ke lantai dengan sikap terduduk. Pemuda berambut merah darah itu pun mencoba mencetak angka dengan melompat. Mulai geram, Midorima langsung bangkit dan berusaha secepatnya untuk bisa menghalaunya.
"Akashi!"
"Aku memperlihatkan rasa hormatku yang baru padamu, Shintarou... Dan Shuutoku High. Sampai detik terakhir, tak ada satu pun dari kalian yang menyerah untuk bertanding."
Keempat pemuda Shuutoku berdiri menghalau anggota lain di sisi sana, sambil melihat kearah mereka.
"Tapi…"
Tangannya mencoba untuk menggapai bola tersebut—dirinya ingin sekali menghalau tembakannya itu.
"Kau masih tak bisa meraih…"
Bola melesat ke atas, melayang jauh ke arah ranjang bola.
Mata teduh itu terbelalak dengan geram. Lain dengan iris heterokrom yang memandang dingin. Sedangkan manik indah itu membulat spontan. Bola mata rubi itu melebar. Lalu mata keperakan itu membelalak. Sementara pupil yang berwarna biru langit cerah mulai mengecil.
Dalam sekejap, benda bulat tersebut masuk dengan mulus dan memantul di lantai.
Dan disaat itulah waktu telah habis—dan permainan telah berakhir.
Bel tanda pertandingan berakhir berkumandang.
86 – 70 berakhir sebagai skor akhir dari pertandingan.
"Tidurlah dengan tenang, Raja Veteran."
Mata indah itu berkilat sekilas.
Sementara itu, kau yang berada di pinggir lapangan—terdiam mematung.
Matamu terbelalak. Bibirmu kelu. Dadamu sesak.
Kau seperti bunuh diri didalam tubuhmu sendiri.
Melihat kenyataan—bahwa seorang Midorima Shintarou; pemuda yang pernah menyelamatkanmu, telah kalah di tangan seorang Akashi Seijuurou; pemuda arogan yang menge-klaim dirimu adalah miliknya.
Dalam sekejap saja—kau sudah mendadak gelap mata.
Sepertinya Dewa sedang tidak ingin mendengar permohonan darimu.
.
.
.
.
.
Saat ini, ruangan telihat sepi dan senyap. Anggota sudah keluar dari ruang loker beberapa menit yang lalu setelah berganti pakaian, tersisa dua orang yang berada di dalam ruangan tersebut yang belum melakukannya. Masih dengan seragam tanding basket mereka yang terkena banjir keringat.
Suara keras menyahut dengan lantang. Nadanya tampak tak percaya.
"Apa katamu?! Kau pasti bercanda, Shin-chan!" sangkalnya sambil terkejut akan apa yang dikatakan oleh rekannya yang terduduk di bangku di ruang loker.
Tak ada helaan napas kesal karena keberisikannya—melainkan keheningan yang didapat.
"Bukan saatnya untuk bercanda, Takao. Ini kenyataan dan kau sudah mendengarnya." ujar sang pemuda berkacamata tersebut. Dia berusaha untuk tak menangis lagi.
Sudah cukup akan kekalahan yang membuatnya frustasi ini
Namun sang pemuda bermata tajam dan bermanik keperakan tersebut hanya bisa menggeleng kuat-kuat akan penjelasannya. "Tidak.. Tidak mungkin. Jadi selama ini kau menyembunyikan semua ini karena itu? Aku tak percaya ini, Shin-chan. Kau licik sekali.." seringainya kecil, sangat sedih.
Dirinya merasa dibuat sebagai alat saja. Tatapannya nalar memandang sang pemuda yang dia panggil dengan nama depan itu.
Midorima berkata serius, "Kau salah sangka. Memang aku tak pernah cerita ini padamu karena aku tak ingin senpai mengetahuinya. Apalagi, ini masalah internal antara aku dan mereka."
Mata bermanik hijau teduh itu melirik pada sang rekan, "Kau juga sudah tahu 'kan. Soal yang itu?"
Takao terdiam akan ujarannya dan mengalihkan menunduk, memandang kesal pada lantai. "…A-Aku tahu, tapi… Sampai (Name)-chan dilibatkan.. Apa kalian tak mempertimbangkan perasaannya? Dia gadis yang tak tersalah, Shin-chan—"
Tangan yang terbungkus perban itu merapikan kacamatanya dengan jari tengah. "—Justru itu, Takao! Aku berusaha untuk menyelamatkannya. Tapi…"
Mata teduh itu tak bisa diam dan tenang.
Manik keperakan itu juga menyendu sedih.
Kekalahan Shuutoku dari Rakuzan sudah tak dapat dihindari lagi.
"..Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanyanya pelan.
"Sekarang semuanya bergantung pada Kise atau Kuroko yang melawan Akashi. Kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.. Selain mendukung dari belakang. Aku juga tak ada hak lagi untuk mendapatkannya." Jelasnya singkat dan geram. Tangannya yang diperban itu mengepal sangat kuat dan bergetar.
Takao berpikir lagi akan semua ini. "…Aku masih tidak mengerti… Semua ini sangat membingungkan. Pasti (Name)-chan…"
Pemuda berambut hitam halus itu tak bisa menyelesaikan kata-katanya sebelum menghela napas dan Midorima hanya bisa diam, terduduk di bangku panjang tersebut.
Sebuah ketukan dari luar memecahkan keheningan.
"Biar kubuka." Takao berjalan menuju pintu dan membukanya.
Kau berada di depannya sekarang.
OH SHIT
"A-Ah, (Name)-chan! Ada apa?" tanyanya dengan senyum paksa, curiga kalau kau menguping dari luar.
Tapi ternyata tidak—mungkin?
"Aku ingin bicara. Boleh aku masuk?" tanyamu sopan dan ia mengizinkan.
Pintu ditutup dan kalian bertiga berada di dalam ruangan.
Keheningan menguar lagi.
Kau berujar, "..Kami melihat pertandingannya tadi."
Midorima tak mengeluarkan suara, tetap menunduk dalam diam.
"Sayang sekali.. Aku tahu kalian bisa mengalahkan mereka, aku yakin akan itu—" perkataanmu disela oleh Takao dengan senyum pasrah.
"—Tapi kami memang tidak bisa, (Name)-chan. Kau bisa lihat tadi, apalagi.." ia menoleh pada Midorima yang tak beranjak dari posisinya.
"Kami semua berjuang sampai detik terakhir. Mendapatkan kehormatan itu saja sudah cukup, Shin-chan juga berusaha keras untuk menembak ke keranjang. Tapi sepertinya memang bukan kami yang ditakdirkan untuk mengalahkan mereka." ujarnya padamu sambil menatap Midorima, kau juga menatap pada objek perhatian yang kalian berdua lihat sekarang.
Bahumu melemas dan menunduk sejenak sebelum mengadahkan perhatian pada Takao.
"Takao-kun, bisakah kau tinggalkan kau dengan Shin-chan sebentar saja? Aku ingin bicara empat mata dengannya." pintamu pada Takao sebelum ia mengangguk. Dia melirik ke arah Midorima yang termenung dan keluar dari ruangan tersebut, menyisakan dirimu dengan sang penembak jitu 3 poin tersebut.
Kau berjalan pelan dan duduk disampingnya begitu pintu itu tertutup.
Kau menunduk sejenak dan berkata padanya, "Shin-kun.. S-Sudahlah, tak usah dipikirkan! Kau 'kan bisa menang lain kali di pertandingan lainnya. Masih ada babak penyisihan lagi, kan?"
Pemuda itu tak mengeluarkan suara sedikitpun setelah kau menyentuh pundak lebarnya.
"Aku sejak awal memang percaya kau bisa melakukannya. Kau melakukannya dengan baik kok! Harusnya mereka yang kalah dan kalian yang menang—"
Kepala itu masuk menunduk, poni rambut dan kacamata yang mulai buram gegara udara yang menutupinya—menutupi ekspresi dan bayangan raut wajah sang pemuda bermarga Midorima.
"—Kadang, memang kita harus kalah dulu sebelum menang. Jadi tak ada alasan untuk menangis akan kekalahan itu sendiri, Shin-kun."
Kau khawatir kalau Midorima masih menangis akan hal tersebut.
Masih tak bergeming, pemuda itu hanya diam saja saat kau terus berkata begitu.
"Kumohon—tolong jangan menangis, Shin-kun—"
"Diamlah."
Kau terdiam ketika pemuda berambut teduh itu menghapus jaraknya. Wajahmu memerah sempurna, ketika sadar bahwa tangannya menarik perlahan dirimu dan bibirnya menempel—mencium keningmu dengan tenang, walaupun terkesan ada rasa kaku.
Jantungmu serasa berhenti berdetak, membuatmu tak bergeming.
Bisa kau rasakan wajahmu memanas. Cukup singkat Midorima melakukannya—beberapa detik saja, sebelum melepaskan bibirnya dari keningmu dan menatap wajahmu.
Oh.. Dia tidak menangis..; pikirmu yang mengira Midorima menangis.
Dia memang sudah menangis, tapi hanya sesaat.
Tangannya yang terbalut perban menyentuh pipimu yang memerah, serta dirinya juga yang mulai salah tingkah karena degup jantung yang berpacu cepat.
Suasana hening beberapa saat. Manik hijau teduh bertatap dengan manikmu—yang menurutnya sangat indah jika dipandang terus-menerus. Seakan-akan ia tak puas untuk menatapnya.
Dan dari situlah ia baru menyadari—
Bahwa dia sudah jatuh cinta pada pandangan matamu yang indah sejak pertama kali bertemu.
Midorima menyinggungkan senyuman tipis—tampak seperti seseorang yang menatapmu dengan pandangan pesimis.
"..Ternyata memang tak bisa. Aku takkan bisa mendapatkannya..." Tangannya senantiasa mengelus pipimu dengan pelan yang masih memerah.
Kau bingung akan perkataannya. Apa maksudnya?
Tapi itu tak penting bagimu.
Yang penting adalah kau bisa menghiburnya yang sedang sedih akan kekalahan.
Tanganmu yang lebih kecil darinya itu menyentuh perlahan tangan yang bertengger di pipimu tersebut.
"Shin-kun.. " gumammu kecil, kemudian memeluknya—membuatnya terperanjat sebelum mencoba melepaskanmu dengan wajah merah.
"O-Oi!—"
"Maaf."
Midorima tertegun sejenak.
"Maafkan aku, Shin-kun.. Aku mungkin tak bisa menghiburmu... Tapi,"
Kau melepaskan pelukanmu dan menatapnya seraya perlahan memegang wajahnya yang masih ada bekas air mata disana. Jari-jari lentikmu menghapus satu bulir airmata yang akan jatuh di sisi pinggiran matanya dengan lembut.
"Kau harus berpikir positif. Walaupun kalah, kau tetaplah Shin-kun yang aku kenal tegas dan baik hati. Jadi tidak usah bersikap bahwa semuanya akan berakhir. Aku tak tahu apa yang kau ingin dapatkan, tapi aku yakin kau pasti bisa mendapatkannya suatu hari nanti.. Aku yakin akan itu. Dan aku yakin kalau kau pasti akan menang." ujarmu, hampir menangis juga—ikut emosional.
DEG
Mata bermanik hijau teduh itu sedikit melebar. Pemuda itu terhenyak ketika melihatmu mencoba untuk menghiburnya.
Dan menangis untuknya
Midorima terdiam sejenak.
Kau menghapus air matamu yang mulai tumpah sambil terisak pelan, menunduk saat mengalihkan pandangan.
"M-Maaf, aku jadi ikut menangis, Shin-kun.." Lalu kau mendongak padanya. "Tapi—"
GREP
Kau dipeluk olehnya.
"Bodoh… Jangan menangis karena diriku…" gumamnya kecil.
Kau tertegun ketika mendengar ujarannya.
"Terima kasih, (Name)..."
Dan pandanganmu melembut sebelum membalas pelukannya pelan, dan mendengarnya menangis dengan isakan samar yang tertahan.
Kau tersenyum kecil dan memejamkan mata dengan tenang, merasa kalau dia mengijinkanmu untuk tetap disini.
Memeluknya dan menenangkannya.
"Menangislah sepuasmu. Aku akan ada disini menemanimu, Shin-kun."
Langkah gontai itu melangkah, diiringi oleh keheningan yang tak terkira.
Kakimu hanya bisa melangkah ke arah depan sekarang. Dengan pelan, kau berjalan sambil memikirkan dengan serius kata-kata yang kau pikirkan saat ini.
Lebih tepatnya lagi, ini sangat tidak masuk akal sama sekali.
"Takao-kun... Kenapa dia bilang begitu padaku? Padahal dia tahu kalau aku tidak bisa.." gumammu pada diri sendiri ketika mengingat kejadian yang baru terjadi beberapa belas menit yang lalu.
Flashback
"Bisa bicara sebentar?"
Pintu ruang loker Shuutoku itu kau tutup. Kau menoleh ke belakangmu—mendapati Takao berdiri tak jauh disana.
Kau tersenyum kecil, "Oh, Takao-kun. Ada apa?"
Pemuda itu menuju ke arahmu dan berkata, "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa ikut aku sebentar? Tidak lama kok." pintanya sambil mengatupkan kedua tangannya dan tersenyum jenaka. Mau tak mau, kau mengangguk dan berjalan bersamanya.
Setelah sampai di area belakang stadion, kalian berhenti untuk bicara disana.
"(Name)-chan."
Kedua tanganmu diraih olehnya, kau langsung mendongak padanya. "Takao-kun? Kau kenapa?"
Takao memandang serius padamu, tanganmu mulai berkeringat gegara keseriusan yang ia tampakkan, dan membuatnya harus membicarakan sesuatu padamu. Kau tahu akan itu dan membiarkannya—membuat isyarat untuk berbicara terlebih dahulu.
"(Name)-chan, tolong… saat ini. Berjanjilah padaku."
Kau mengerutkan dahi. "Berjanji..? Maksudmu, berjanji apa?"
"Ini menyangkut tentang pertandingan fi nal nanti. Dan juga dirimu."
Kau terdiam.
Tunggu dulu. Ini sama seperti sebelumnya.
"Tunggu dulu. Apa yang kau tahu dari semua ini, Takao-kun? Siapa yang memberitahumu? Pasti ada sesuatu yang terjadi. Kau bisa 'kan, beritahu aku!? Apa dasar dari semua yang kau katakan ini? Apa petunjuk dari mereka? Lalu apakah Shin-kun juga tahu dan terlibat akan hal ini? Kau pasti tahu akan alasannya, bukan?!" Rentetan pertanyaan yang bertubi-tubi menyerang Takao tanpa henti darimu yang mulai tak sabaran, dan peganganmu pada tangannya sedikit menguat.
Sebenarnya apa yang terjadi disini?
Dengan semua orang… Kenapa juga kau tidak diberitahu akan hal ini?
Kau ingin mengetahui kenapa kau dilibatkan juga dengan mereka semua.
Dan keinginanmu untuk menguak kebenaran dari inti permasalahan yang kau libatkan sekarang, karena pertanyaannya adalah;
Apa; Hal apa yang menyangkut pautkan dirimu dengan orang-orang di sekelilingmu—terutama dengan Kuroko dan lima orang dari Generasi Keajaiban itu?
Siapa; Siapa saja yang terlibat selain dirimu—dan membuat permasalahan ini semakin rumit?
Kenapa; Kenapa dia melakukannya? Dan untuk alasan apa dia melakukannya sehingga kau dan yang lainnya dilibatkan juga?
Kesimpulanmu seakan sia-sia alias nihil jika tak ada bukti yang cukup—juga penjelasan dari salah satu dari mereka.
Dan tujuanmu adalah—kau harus menemukan petunjuknya dan membongkar habis semua yang tersembunyi di balik permainan ini.
Terdiam, Takao hanya bungkam dan mengalihkan topik. "Aku… tidak bisa mengungkapkannya saat ini. Aku sudah berjanji untuk tidak mengatakannya. Kau yang harus bisa menemukan apa yang terjadi, (Name)-chan."
Kau yang makin tak sabaran, mencengrekam tangan yang lebih besar itu."Apa?! Takao-kun, tolonglah bantu aku. Semuanya menyuruhku untuk mencarinya sendiri. Sebenarnya ada apa—"
Pemuda berambut hitam itu melanjutkan, "—tapi yang penting, sekarang.. Aku mau kau berjanji padaku. Berjanjilah, (Name)-chan!" ujarnya, memelas dengan sangat.
Kau tertegun sejenak. Ada apa dengannya? Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia tetap menutup mulut.
Ah, sialan.
Kau mengangguk was-was. "…Baiklah.. Apa yang kau inginkan dariku untuk berjanji?"
"Buatlah Seirin memenangkan pertandingan dan maju ke final."
Hah?
"A-Ap—Apa..? T- Tidak.. Mana mungkin, Takao-kun. Tolong jangan mengada-ada. Tidak mungkin aku bisa—"
Kedua pundakmu dipegang erat dan kau sedikit diguncangkan oleh kedua tangannya yang berkeringat seusai pertandingan.
"Tolong jangan biarkan Rakuzan menang, (Name)-chan. Dirimu sudah dalam bahaya!" ucapannya itu membuatmu tercengang.
DEG
Apa?
Apa maksud dari perkataannya ini?
"Takao-kun, apa yang kau—"
"Nanti kau akan tahu sendiri, (Name)-chan."
Senyum miris itu.
Tidak…
Kau menggigit bibir bawahmu, dan terhenyak sejenak.
Bagaimana bisa…
Kau mulai bingung, kenapa bisa Takao berkata begitu padamu.
Apa yang dia ketahui dari semuanya?
Bayangan yang tidak-tidak dari rantai permasalahannya mulai membuatmu penasaran—seberapa besar akibatnya jika Rakuzan menang dan menyangkutkan dirimu—bahwa kau sudah dalam bahaya?
Kau tidak tahu.
Tapi yang jelas, dia memperingatkanmu akan sesuatu yang mungkin tak kau bayangkan sebelumnya.
Dan mau tak mau, kau harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pada nasibmu dan juga timmu.
Dengan pelan, kau hanya bisa mengangguk kecil.
"..Baiklah, tapi aku tidak bisa memastikannya."
Takao merasa sedikit lega, kemudian mencium pipimu—sontak mukamu memanas dan hampir memarahinya—tapi batal karena melihat mukanya yang terlihat lega dan tak ada beban lagi.
Kau terdiam.
"Tolong yakinlah, (Name)-chan. Aku yakin.. Jika kalian bisa berhasil mengalahkan Kaijou, lalu maju ke final dan mengalahkan Rakuzan, maka kau akan segera bebas dan tak terkekang lagi."
Flashback end
Kau sungguh tak tahu.
Kau benar-benar tidak mengerti akan semua ini. Kenapa Takao berbicara begitu, sementara dia tahu kalau kau tidak bisa membuat Seirin memenangkan pertandingan.
Pemain saja bukan—tapi kenapa harus kau?
"Bahaya... Dia bilang kalau aku berada dalam bahaya. Tapi bahaya apa?" tanyamu pada dirimu sendiri.
Rasa penasaran dan misteri untuk menguak apa yang terjadi dibalik pertandingan bergengsi ini. Kau harus berpikir ekstra keras (karena dirimu memang tidak terlalu pandai dan bukan seorang jenius) dan mencoba memasangkan kepingan dari puzzle yang akan kau tahu bagaimana jadinya—jikalau kau menyatukan seluruh kepingannya dan menemukan sesuatu di sana.
Setiap kepingan menampakkan suatu petunjuk.
Dan petunjuk itulah yang bisa kau pakai untuk menyusun kepingan terpisah lainnya.
Hingga terlihat hasilnya—bisa sebuah gambaran, pernyataan, ataupun isyarat tersembunyi.
Untuk menyibak misteri dari balik tirai pertandingan ketat ini.
"Ah.. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku pusing. Aku akan keluar sebentar untuk mencari udar segar.." ujarmu.
Kau berjalan melewati lorong-lorong panjang untuk menuju bagian belakang dari stadion. Disana kau melihat pintu besar yang mengarahkanmu pada suasana luar dari bagian belakang taman dekat stadion. Kau berlari kecil sebelum duduk, menghempaskan dirimu di kursi taman kayu tersebut.
"Disini tenang sekali.. "
"Kau benar."
Matamu membelalak terbuka. Seketika kau terpekik kaget karena Kagami sudah ada dan duduk di sampingmu.
"Uwah, kau mengagetkanku, Taiga-kun—Eh, tunggu. Bukankah kau harusnya ada di dalam?" tanyamu padanya.
Kagami menguap pelan, "Masih lama pertandingannya untuk dimulai. Lagipula, aku juga belum tidur tadi malam."
Begadang sampai segitunya; pikirmu sambil sweatdrop.
Kagami menoleh ke arahmu. "Kau bosan juga?"
"Sedikit. Kupikir berjalan-jalan sebentar juga tak apa." ujarmu sambil melihat ke langit.
Sedikit mendung.
"…Oi."
Kau menoleh ke arahnya yang membuka suara.
"Uhm.. Yang kemarin itu.. Jangan dihiraukan. Apalagi, aku tidak apa-apa 'kan?" tanyanya sedikit khawatir.
Kau tersenyum kecil untuk menenangkannya, "Aku tak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Taiga-kun."
Kagami sedikit merona dan menoleh ke arah lain untuk tidak terlihat tersipu barang sedikitpun.
"Tapi, maksudmu yang kemarin itu apa, Taiga-kun?"
Kagami menoleh cepat.
Kau bertanya, "Maksudku.. Katamu, aku tidak usah menghiraukan kejadian yang waktu itu. Maksudnya yang mana?"
Oke, sekarang Kagami sudah masuk jebakannya sendiri.
Shit.
Pemuda berambut berambut gradasi hitam dan merah itu sedikit terlihat grogi dan tiba-tiba berdiri dari bangku taman yang kalian dudukki. Melihat kebungkaman darinya itu, kau yang penasaran—juga ikut berdiri dan memegang lengan jaket Seirin miliknya.
Tapi kepo tetaplah kepo.
"Taiga-kun, kau kenapa—"
GREP
Pergelangan tanganmu dipegang erat olehnya.
Melihat sikapnya yang mulai aneh itu, kau sedikit mencoba untuk meronta.
"T-Taiga-kun, lepaskan!"
"Justru aku yang tidak bisa, (Name)! Kenapa kau tidak mengerti juga, ha?!" Kagami mencoba menahan tanganmu yang minta dilepaskan.
Kau meronta terus-menerus, "Mengerti apa?! Apa yang harus aku mengerti, Taiga-kun—"
"Aku menyukaimu, dasar bodoh!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh?
Apa?
Dia bilang apa?
Kau terdiam dan membeku ketika kata itu meluncur dari mulut seorang Kagami Taiga.
Kagami yang nekat, yang selalu mengajakmu bermain on-on-one, yang selalu menjagamu layaknya teman yang baik—
Dan sekarang ia menyatakan cintanya padamu.
Ini tidak mungkin, bukan?
Kau berjalan mundur—menatapnya dengan tatapan tak percaya ketika tanganmu sudah dilepas olehnya.
Mustahil, ini pasti hanya candaan; pikirmu shock akan apa yang dikatakan oleh pemuda di hadapanmu sekarang ini.
Kagami juga kaget apa yang sudah ia katakan, ia tak tahu harus bilang apa dan bertindak bagaimana.
Bodoh, kenapa aku bisa keceplosan begini?!; maki Kagami pada dirinya sendiri yang—dengan muka memerah sedetik kemudian terbelalak sambil menutup mulutnya dengan tangan besarnya itu.
"Kau mengatakan apa, Taiga-kun?!" tanyamu kaget.
Tapi nasi sudah jadi bubur, ia harus berterus terang padamu.
Dia punya misi tapi malah terjebak oleh perasaannya sendiri. Ini akan sulit.
"(Name).. A-Aku.. menyukaimu." cicit Kagami sambil menunduk dengan muka memerah dan membuatmu makin kaget.
"..A-Apa…?" Kau masih kaget akan ini semua.
"(Name), kau tuli atau apa?" Kagami sedikit tak mengerti kalau kau mendengarnya atau tidak.
"H-HAH!? TENTU SAJA, DASAR BAKAGAMI!" semprotmu memerah dan marah.
Kagami mendecik lidahnya sendiri dan berujar, "Terserah. Aku tahu ini waktu yang tidak tepat, tapi aku akan berterus terang padamu sekarang."
Kau terdiam sejenak. Kagami menatapmu dengan tatapan tak biasa, membuatmu berhenti di tempat ketika ia melangkah mendekatimu.
Tangannya meraihmu dan digenggamnya dengan lembut, membuatmu merona dan berjengit sedikit.
Hangat dan besar.
Tangannya membuat milikmu yang kecil tersebut terperangkap dan menghangatkannya.
Matanya menatap kearahmu, dan manikmu juga bertabrakan dengan manik rubi milik pemuda berambut gradasi tersebut. Kau bisa melihat ada sesuatu yang lain di balik tatapannya.
Wajahnya mendekat, dan mendekat lagi—membuatmu makin merona akan jarak yang diperpendek.
"T-Taiga-kun.." Kau terbata-bata ketika Kagami masih menatap padamu dalam diam. Dahinya ia tempelkan padamu, dan kau bisa merasakan deru nafasnya menerpa lembut. Matanya menutup perlahan.
Kalian diam sesaat dalam keheningan yang ada, membuatmu mulai gugup akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dalam jarak sedekat itu, dan berdua dengannya di tempat itu saja sudah buat dadamu berdegup cepat.
"(Name)…" Kau mendongak padanya perlahan dan Kagami menatapmu dengan lembut ketika matanya yang ia pejamkan itu terbuka perlahan.
"Jangan hitung yang tadi, karena aku gugup. Kali ini yang terakhir kalinya, aku akan ucapkan ini padamu." ujarnya sebelum bersiap mengatakan—
"Aku menyukaimu."
Dan bisa kau bayangkan—wajahmu memerah padam akan pernyataannya untuk kesekian kalinya—tapi kali ini dengan penuh perasaaanya, tidak gugup dan dengan keseriusan.
Kau memerah layaknya tomat.
"Aku tak ingin membuatmu marah dan sedih.. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi setidaknya kau tahu akan perasaanku ini." ujarnya padamu dengan pelan, agar kau mau mengerti.
"Aku tak menuntutmu untuk menyukaiku—karena ini semua salahku. Salahku untuk jatuh hati padamu.. Me-men.. c-ciummu waktu itu juga, itu hanya karena a-aku benar-benar tidak bisa membendungnya lagi… Tapi, setidaknya aku tahu kalau kau mengetahuinya. Karena ini semua sudah diluar kendaliku.. Aku.. A-Aku minta maaf, (Name)."
DEG
Kau menatapnya, mulai mengerti.
Dia mengira kalau kau terbebani karena perasaannya terhadapmu. Perkataannya yang waktu itu mencuat ke permukaan.
Jadi inikah, beban yang dimaksud?
Tapi kau tak tahu pasti—mengira kalau perasaannyalah yang membuatnya terbebani.
"Aku mengerti.. Hanya saja, aku bingung.. A-Aku harus—Uhm…" entah kenapa, kau malah jadi bingung akan semuanya.
"(Name)…" Kagami mengangkat kepalamu dengan menaikkan dagumu sedikit dan berkata. "Kau tak perlu bingung untuk membalas, cukup tahu saja—itu sudah cukup bagiku."
Pemuda itu melepaskan genggamannya dari tanganmu dan melangkah mundur beberapa kali.
"Aku benar-benar minta maaf untuk soal ini, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tak perlu jawaban. Kumohon maafkan aku." Ia membungkuk dihadapanmu—membuatmu kaget dan mencoba untuk menghentikannya.
"T-Taiga-kun, sudahlah! Kau tak perlu seperti itu." ujarmu sambil membuatnya berdiri lagi dan menatap ke arahmu.
"Aku mengerti. Dan aku menghargai perasaanmu padaku—tapi aku harus berpikir dulu. Terlalu banyak hal yang terjadi untuk beberapa hari ini, jadi aku.. Uhm.." Kau mencoba untuk mencari alasan, dan sepertinya Kagami mengerti akan hal itu.
Ia menghela napas kecil sembari menunduk. "Aku mengerti, (Name)—A… A-Aku harus pergi. Permisi."
Kemudian dia berlalu pergi meninggalkanmu di tengah cuaca mendung yang mulai terbayang di atas awan dan langit sana.
"Ah, Taiga-kun—"
Kau hanya bisa menyaksikannya berlari menjauh dari tempatmu berdiri. Angin sepoi yang lembut mengiringi kepergiannya—rambutmu sedikit bergoyang terkena angin tersebut.
Kau merasa…
Seperti menatap seseorang yang akan sangat jauh pergi dari kehidupanmu.
Sesak—Perih.
Pedih.
Kau bertanya dalam hati—
Kenapa?
Kenapa hal seperti ini terjadi?—Dan dirimu merasa bahwa kau pernah mengalami kejadian yang sama—
Contohnya seperti sekarang ini.
Tapi kapan? Kau tidak mengerti— sama sekali tidak bisa mengerti.
"… sudah mati. Aku… kau kenal…, (Name)."
DEG
Terbesit ingatan masa lalu itu lagi. Kau memegang kepalamu seraya merasakan nyeri yang tiba-tiba.
"Ukh.. S-Sakit.."
'Tadi itu apa?.. Kenapa… Serasa hal ini pernah terjadi..? Sekali aku mencoba mengingat—selalu saja begini.' pikir (Name) yang mencoba meredakan sakit kepala yang berangsur pulih.
Kau menghela napas, mulai berpikir lagi. "Kenapa…?" gumammu risau.
Di sisi lain, Kagami terus berlari—yang penting jauh darinya. Berbelok masuk ke dalam pintu belakang dan ke lorong. Pemuda itu melirik ke jendela sekilas sambil mengambil oksigen—terlihat kau menatap arahnya berlari pergi menjauh. Ia hanya bisa melihatmu dari jauh sekarang ini.
Gadis yang ia sukai.
Setidaknya ia lega karena sudah jujur akan perasaannya. Sempat Kagami ingin memendamnya saja—tapi karena sudah tak bisa dibendung lagi, maka ia lepaskan semuanya.
Ya, memang harus begini.
Harus.
Beginilah keadaannya. Apapun yang terjadi, ia siap menanggung resikonya.
Resiko akan hubungan kalian—persahabatan kalian berdua—yang tengah mengalami dilemma dan membuat kalian berdua harus memilih keputusan yang terbaik bagi pihak masing-masing.
Untuk terus maju—atau memutuskan tali persahabatan antara kalian.
Membakar kenangan yang bersama kalian lalui—walau hanya sekejap.
Ataukah menambahkannya dengan kenangan manis—untuk kurun waktu yang cukup lama.
Terasa sakit—Kagami merasakan sakit di dadanya.
Sesak sekali—hampir saja ia harus berhenti bernapas ketika mengingat semuanya.
Sekarang, dia harus sabar.
Sabar menanti keputusan yang diambil oleh gadis tersebut untuk hal ini.
"Maafkan aku, (Name)…"
"Dimana ya—Ah! Ini dia."
"Sampai-sampainya kau lupa akan kertas datamu. Kau kelihatan sembrono akhir-akhir ini."
Hyuuga berjalan mengikuti Riko yang mencari data-data miliknya di ruang loker tim Seirin yang ketinggalan. Gadis berkaramel itu membuat pose bibir cemberut dan menghiraukan sang kapten sebelum menyusun lagi kertas-kertas data yang sangat berguna bagi timnya tersebut.
"Apa urusannya denganmu, harusnya kau juga siap-siap untuk pertandingan selanjutnya. Beberapa jam lagi kita harus sudah siap, lho." peringat Riko pada Hyuuga.
Pemuda berambut hitam itu memutar bola matanya malas karena mulai curiga dan berujar, "Itu tidak masalah, lagipula kita juga harus bertindak cepat sebelum semuanya berakhir dan tidak bisa membuatnya bebas."
Riko terdiam akan ujarannya itu lalu berdiri, membelakangi sang pemuda berkacamata. Papan data ia kepit di lengan dan tangan kanan, dan ekspresi bayangan wajahnya tak terlihat tertutup oleh rambut.
Hening seketika beberapa detik bagi mereka.
"Di saat seperti ini, kita tidak mungkin bisa diam saja." Pemuda berkacamata itu lalu bertanya kembali pada sang gadis berambut kamarel tersebut.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak ada."
Hyuuga terdiam akan perkataannya. Riko tidak biasanya seperti ini, tapi kenapa?
"Riko, sebenarnya apa yang—" Perkataannya terpotong karena tatapan berarti dari Riko yang diarahkan pada sang kapten berkacamata tersebut, membuatnya terdiam untuk kedua kalinya.
"Tidak perduli apa yang sebenarnya terjadi," Kemudian gadis itu menatap arah tasmu yang tertinggal di bangku panjang sana—memikirkan dirimu yang sekarang tengah entah berada dimana. Kedua tangannya terkepal erat.
"Kita harus berusaha keras. Aku tak perduli jika harus mengorbankan harga diriku sebagai kakak dan diremehkan dengan gelar pelatih—hanya karena aku ini masih sekolah, akan aku usahakan dengan sebisa mungkin untuk membuat strategi yang paling akurat supaya kita bisa menang di pertandingan ini."
Tangannya menyisir rambutnya yang mulai memanjang beberapa inci dengan jemarinya, dan melirik ke arah lantai yang dia pijak.
"Semuanya juga sudah berjuang sampai sejauh ini. Tinggal sedikit lagi… Kita hanya perlu memenangkan pertandingan dan meraih piala itu—juga haknya untuk bebas." lanjutnya kemudian berbalik menatap pada Hyuuga dengan senyum tegar.
"Aku percayakan semuanya pada kalian. Khususnya padamu, Kapten."
Hyuuga tertegun sejenak dan menunduk sesaat untuk melihat lantai juga—serasa menarik baginya untuk saat ini.
"Kau ini.. Seenaknya saja…" gumamnya kecil lalu mengangkat wajah sebelum berpandangan dengan Riko.
Hyuuga mengangkat tangannya dan menepuk ringan serta mengelus kepala gadis berambut karamel itu—membuat Riko mendongak ke arahnya.
"Dasar bodoh, kalau kita tidak menyelamatkannya dan memenangkan piala itu, kita semua takkan ada disini dan berjuang. Memang kita kalah waktu itu, tapi tidak berarti kita kalah untuk kedepannya juga." kata Hyuuga pada Riko yang berada di hadapannya saat ini.
Riko menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu, terhenyak sesaat. "Hyuuga-kun.."
Pemuda berkacamata itu tersenyum tipis. "Tolong dukung kami sekuat tenagamu, ya. Pe-la-tih. Senyum, dong." ujarannya membuat Riko sempat terdiam dan tersenyum manis.
"Kau mau kupukul ya?"
Dan dirasakan aura hitam mulai menyeruak.
"Begitu saja kenapa ma—ADUH, RIKO! AKU HANYA BERCANDA SAJA—JANGAN PUKUL AKU DENGAN PAPAN DATA ITU!"
"(Name)cchi, kau terlihat depresi."
Ujaran itu membuatmu tersadar akan lamunanmu.
"...Apa aku terlihat begitu bagimu?" tanyamu sambil tetap menunduk, melihat kedua kakimu sendiri. Kau sudah tidak bisa merasa terkejut lagi akan kedatangannya dikarenakan pikiranmu yang mulai kacau.
"Iya." Kise mendudukkan dirinya di sampingmu dan berkata lagi, "Aku bersusah payah untuk menemuimu disini. Padahal aku hanya lewat sini, tapi kau benar-benar kelihatan begitu murung."
Kalian berdua duduk di sebuah anak tangga paling atas dekat area stadion—tempat dimana kau menguntit pertemuan beberapa hari yang lalu. Kise menggunakan baju basketnya yang diselubungi oleh kaus biru dan putih yang berlengan panjang khas Kaijou miliknya.
"Bukannya kau harus ada di dalam?" tanyamu singkat.
"Aku bosan—apalagi aku ingin mencari udara segar. Pertandingan juga masih belum dimulai." Kise menoleh ke arahmu yang tetap tak menatapnya.
Hening sepersekian detik.
"Jika tak apa bagimu, aku akan disini untuk mendengarkan keluhanmu atau apapun itu."
Kau menggeleng kecil sambil tetap bersikap begitu. "Terima kasih banyak—tapi aku tidak mau membuatmu mengkhawatirkan diriku. Dan juga, uhm... Tidak ada apa-apa, aku benar-benar tidak apa-apa."
Mata Kise yang bermanik madu tersebut menyendu sedikit. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan, ya..."
"Bahkan jika itu tentang Aominecchi?"
DEG
Matamu sedikit terbelalak kaget.
Apa?
Dan mulut pemuda itu terbuka lagi, "Ataukah malah... Kagamicchi... dan Kurokocchi?"
Kau menoleh secepat kilat disaat pemuda itu tertawa kecil. "Ahaha... Apa tadi itu aku benar?"
Sebulir keringat dingin mengucur di pipimu dan kau meneguk ludahmu sendiri dengan pelan.
Kenapa Kise bisa tahu apa yang kau pikirkan saat ini? Kenapa bisa?
"Karena soal mereka yang kita bicarakan di sini, aku bertaruh kalau salah satu dari mereka bertiga ada yang berkata kalau mereka menyukaimu atau apalah itu, ya 'kan?"
Kau tidak menjawab tapi malah terdiam sambil mencoba mengalihkan pandangan darinya.
"Tapi," lanjutnya sambil mendekatkan duduknya agar tepat di sampingmu.
"Kau tidak bisa memilih diantara mereka bertiga, aku benar 'kan?" tanyanya lagi padamu.
Sudah tumpahlah rahasia yang ada di dalam kepalamu. Rasanya kau hanya bisa lemas dengan wajah pasrah.
Tapi dia tak sepenuhnya benar. Selain mereka bertiga, kau memikirkan yang lainnya juga.
Setelah insiden dengan Aomine, Murasakibara yang bertaruh dan mencicipimu, Himuro yang berpesan suatu isyarat, lalu dengan Akashi yang menandaimu juga, Midorima yang menangis, dan juga Takao yang memohon padamu untuk melakukan sesuatu yang tak bisa kau sanggupi—bertambah lagi masalah dengan Kagami yang menyatakan cinta padamu.
Kepalamu semakin pusing memikirkannya.
"Kalau begitu," Tangan pemuda itu terangkat dan menaruhnya di dadanya sendiri sambil tersenyum lembut padamu.
"Pilih aku saja, (Name)cchi."
DEG
Kau terbelalak sekali lagi sambil mendongak ke arahnya ketika mendengarkan ujarannya itu.
Apa? Kau tak salah dengar 'kan? Jangan-jangan...
Tangan yang lebih besar itu beralih menyentuh tangan milikmu yang lebih kecil di pangkuanmu.
"Jika itu diriku, aku takkan pernah membuatmu sedih seperti yang Aominecchi lakukan, menjagamu dengan lebih baik daripada Kagamicchi, dan lebih bisa melindungimu dengan segenap hatiku daripada yang Kurokocchi lakukan."
Sedih...? Menjaga...? Melindungi...?
"Apa maksudmu, Ryouta-kun…?" Jarak kalian yang sedikit menutup—entah kenapa malah membuat dirimu memerah.
Manikmu bertabrakan dengan manik madu yang berada di depanmu sekarang ini—seakan iris milik pemuda yang indah dan cerah tersebut ingin menghipnotismu—membawamu ke dalam alam bawah sadar, dan akhirnya terperangkap akan sangkar penuh keindahan yang ia miliki.
"Aku... menyukaimu, (Name)cchi. Aku tidak akan pernah mau kalah dari mereka bertiga kalau dalam soal perasaan seperti ini."
Kemudian ia mendekatkan bibirnya dekat telingamu dan berbisik pelan.
"Jadi, (Name)cchi, pilih aku saja… ya?"
DEG
Seakan dia tak puas akan terkejutnya dirimu, kau dibuatnya shock ketika kata-kata tersebut meluncur mulus dan halus dari bibir tipisnya.
Kenapa, Ryouta-kun.. Kenapa kau bicara begitu padaku?; pikirmu sambil tetap terbelalak karena kaget dan heran akan pernyataannya tersebut.
Setelah mereka, Kise juga menyatakan perasaannya padamu.
Ini sungguh gila.
Namun kemudian kedua tangan pemuda itu menarik tubuhmu ke dalam pelukan, dan berujar lagi sambil mendekapmu dengan mudahnya. Di dalam pelukannya, kau tak bergeming lantaran masih terkejut.
"Aku menyukaimu, (Name)cchi. Suka. Aku benar-benar suka... Aku menyukaimu. Sejak dulu, ketika kita pertama kali bertemu."
Seakan ia tetap mengucapkannya tanpa puas dan tetap terus mengucapkan kalimat yang tergolong pernyataan cinta bagi yang mendengarnya.
Bagaikan mantra sihir yang dipergunakan untuk menyihirmu dan terhipnotis akan kata-katanya.
"Aku menyukaimu, (Name)cchi. Aku menyukaimu."
Dan tanpa kau ketahui saking shocknya—sebuah seringai kecil yang tersembunyi, muncul mengganti senyuman tadi—menghiasi bibir tipis sang pemuda berambut pirang tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pemikiran bahwa (Name)cchi akan menjadi milik orang lain...
Aku takkan pernah mau mengijinkannya.
"Aku menyukaimu."
.
.
.
TuBerColosis
(pojok review, monggo dilalap pake sambal~ :3 :D :) #laperToTheMAX (BAKAL PENDEK BANGET. CUMA BALES DOANG! SUMIMASEN!)
Hola minna!~ sori karena lama apdet, saya baru bisa karena WB yang bermasalah dan juga masalah RL yang menumpuk. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya! Selamat tahun 2016#telat dan #PrayForJakarta atau #KamiTidakTakut untuk saudara kita disana biar tidak takut pada terorisme, so stay save and be brave! Monggo ditunggu kritik saran juga tanggapannya ya~ XD Dan pasti nanti semua service bakal kebagian satu-satu kok jadi jangan kuatir ya :3 #sokImut Kali ini saya akan bacakan reviewnya dengan chara yang nganggur gegara yang lainnya belom bangun dari sekarat(?). Saya bacakan ya!
Asia Tetsu-san: Iya! Harusnya dia tidak menge-klaim dirimu seenak jidatnya! #ikutanDemo btwmakasih udah mau review ya ^^b cieh~ mau berpaling hati nich ke Tian Maibou? xD /plakk Oke, ini sudah dilanjut. Makasih ya! xD *peluk*
akashiro46-san: Memang namanya cinta itu ribet dan tak bisa diungkap dengan kata-kata ya #eaa /der Mau tau aja atau banget?~ hehe.. masih rahasia ^^ Makasih ya buat reviewnya. *kasih kue basah(?)*
Sintya-san: huehehehe…. Puas nich kayaknya kalo liat dari nosebleednya meler xD /digorok Ini udah lanjut. Met membaca ya~ ^^ Dan giliran si Kacamata Berlumutan itu udah ada fanservic-nya diata. Semoga puas ^w^ *lempar wortel*
Author: Baiklah, sampailah kita di penghujung acara pojok review-nya. Untuk di pojok review selanjutnya, tamu spesial bakal ada di sesi review berikutnya. Maafkan ketundaan sesi wawancaranya ya (_ _) *bows* Sekali lagi, keep RnR dan Review ya~ Juga Fave XD
Keep the writing spirit, be creative, loves to be supportive in any good way, and I'll see you guys on the next chapter. Buh-bye!~ #dadah-dadahGaje
~Preview~
...
"Seandainya aku diberi kesempatan untuk menghentikan waktu, maka aku takkan segan-segan mengambilnya."
.
"Aku bahkan tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, serasa nasib mempermainkan manusia yang menerimanya."
.
"Kau percaya pada takdir, Muro-chin?" "Entahlah… Mungkin saja."
.
"Kenapa bayangan itu tiba-tiba muncul?.."
.
"Dan sebenarnya, ada sesuatu yang harus aku ceritakan pada kalian semua."
P.S: Kalo mau mengeluarkan pup(?) dari dalam kokoro-mu, buang aja ke tong sampah alias kotak review ya XD Fave and review are so welcomed~
See you next time, guys!~ XD :) :3
Best peace,
D.N.A . Girlz
