Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!

Story plot ya milik saya #digebuk

LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORTS ESPECIALLY BASKETBALL.

LONG LIVE SPORTS!

P.S: Warning for some spoilers and lines from the original anime and manga. alot :3 so please just go with the flow and proceed to following the story with peace. Read it at your own risk (and adding some extra scene). SUMIMASEEENNN APDETNYA LAMA ;w;

Recommended song for this chapter:
- SNSD – Let It Rain
- Davichi – Time, Please Stop
- B2ST – I'm Sorry
- UVERworld – Core Pride

You'll get it right away.

Enjoy reading!~ /( 0w0)/


.

.

.

(Third POV)

"Hujan ya…"

Riak air yang mulai membasahi bumi makin deras seiring berjalannya waktu. Suara embun air yang jatuh membasahi atap stadion. Angin awal musim dingin bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim gugur dan membuat suasana yang hanya terselimuti sejuk dari hujan itu sendiri. Tak ada orang di luar stadion dikarenakan mengungsi ke dalam ruangan bangunan itu sendiri.

Kecuali dua orang yang berada di area belakang yang memandangi dunia luar lewat jendela yang berada di lorong koridor bangunan besar tersebut.

Seorang pemuda berambut merah dengan gradasi hitam; Kagami Taiga, hanya bisa terdiam dikala dirinya sendiri berada di samping sang rekan; Kuroko Tetsuya—pemuda yang rambut dan manik matanya sama seperti warna biru langit.

Mereka memandangi hujan yang turun dikala saat sebentar lagi mereka akan bertanding melawan Kaijou—yang salah satu timnya beranggotakan Generasi Keajaiban

Tinggal selangkah lagi sebelum menuju final.

"Hei, Kuroko."

Yang dipanggil namanya hanya melirik sekilas.

Kagami bertanya asal, "Kalau misalnya kau diberikan kemampuan untuk menghentikanwaktu, apa yang akan kau lakukan?"

Mendengar itu, membuat Kuroko terdiam sejenak dan menunduk perlahan. "Sejujurnya, aku tidak tahu akan hal itu—tetapi,"

Dia menatap ke luar ruangan yang huajn masih mengguyuri dan memenuhi susananya dengan percikan air dari awan mendung.

"Seandainya aku diberi kesempatan untuk menghentikan waktu, maka aku takkan segan-segan mengambilnya." jawabnya dengan muka datar—tapi ada sekelebat perasaan berarti yang sangat mendalam, terkandung di dalam jawaban yang ia berikan pada pemuda disampingnya.

Dia serius; pikir Kagami yang menatap teman satu timnya. Kagami bisa mengerti perasaannya. Melindungi sesuatu yang berharga bukanlah perkara mudah. Banyak sekali yang telah terjadi belakangan ini—dan dari situlah, mereka berusaha melindunginya dari awal hingga sampai akhir.

Kuroko melirik pada rekannya yang berada di samping. "Kau tetap ikut untuk mendukung tim kita, Kagami-kun?"

Kagami menyunggingkan senyuman. "Tentu saja, dan kita pasti akan menang."

Dua kepalan tangan itu bersatu membentuk fistbump.

Sekarang, mereka siap untuk bertarung sampai titik darah penghabisan.


Title: About Them
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.
Language: Indonesian
Rating/Rated: T
Genre: Mystery/Romance


.

.

.

Kau hanya bisa tertegun melihat pertandingan sekarang ini. Sekarang pertandingannya semakin menegang dan sambil berharap cemas, kau benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Walaupun Riko sudah mengatakan bahwa kau tidak perlu cemas—tapi tetap saja, kau merasa ada yang akan terjadi.

Setelah suasana tegang yang akhirnya dicairkan oleh Kagami dengan perkataannya yang sederhana—dan membuat Izuki menyalin ucapannya sebagai bahan pun abal-abal, Furihata yang turun ke lapangan dan membantu tim dengan sikap penuh kehati-hatiannya, segala kesulitan hingga berkali-kali mengganti pemain—akhirnya tim Seirin bisa menyamakan kedudukan di babak perempat kedua dengan skor empat puluh empat sama.

Tapi setelah itu, karena Defense dan pelanggaran, Kaijou yang mendapatkan satu lemparan bebas hingga membuat Hyuuga dan Kiyoshi sedikit berdebat.

Kau yang melihatnya hanya bisa diam dengan tertawa garing bersama dengan Riko yang mulai pusing akan kekonyolan keduanya. Walaupun begitu, akhirnya mereka berbaikan juga—yah, meskipun secara tak langsung.

Sejak itu, serangan Seirin terus meluncur ke sarang Kaijou yang berusaha keras untuk membendungnya namun tak bisa.

Kau melirik ke arah papan skor pertandingan.

62 – 77 untuk Kaijou High VS Seirin High.

Seirin memang memimpin, tapi sepertinya Kaijou mulai tak bisa membendung serangan tim kalian.

Kau menoleh ke arah Kise yang sejak tadi menunduk serta menggeram, tiba-tiba berdiri dan membuka pakaian serta jaketnya.

Pelatihnya menyentak, "Kise, tunggu! Masih terlalu awal!"

Kise menolak sembari tetap melakukannya. "Aku tidak mau-ssu! Aku akan masuk untuk main!"

"Masih ada empat menit. Dnegan kakimu yang cedera itu, kalau gegabah dan lebih dari dua menit—"

Kise memotong perkataan sang pelatihnya.

"Pelatih, tugas seorang Ace adalah untuk membawa timnya menuju kemenangan, bukan?"

Kise berbalik dan menghadap pada pemuda berumur paruh baya tersebut dengan muka mantap, "Jika aku tidak masuk sekarang, aku takkan bisa jadi seorang Ace. Aku pasti akan menyesalinya jika aku tidak melakukannya. Karena…"

Semuanya menatap Kise yang bersemangat untuk masuk ke dalam lapangan.

"Aku menyukai tim ini.." Kise tersenyum kecil—bersamaan dengan pakaian panjangnya yang jatuh ke lantai pinggir lapangan.

Pelatihnya terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas dalam. "Baiklah.. Tapi jika aku menemukan resiko sekecil apapun, kukeluarkan kau saat itu juga."

"Dimengerti."

Kise berjalan ke panitia. "Penggantian pemain."

"Kami ingin mengajukan penggantian pemain."

Kuroko tiba-tiba juga sudah siap dan berkata begitu. Dia menatap kepada Kise—dan dengan segera dimengerti oleh Kise.

Kau hanya bisa menatap mereka berdua yang maju ke lapangan untuk bermain lagi.

Kau tak tahu apa yang terjadi, tapi kau merasa heran akan Riko yang membiarkan Kuroko maju ketika Kise sudah mau masuk ke arena pertandingan.

"Pelatih."

Koganei mengatakan, "Bukankah terlalu awal untuk memasukkan Kuroko?"

Tsuchida berpendapat, "Phantom Shoot miliknya sudah dihentikan. Dan pengaruh misdirection terhadap Kaijou juga lemah, bukan?"

Riko menunduk sejenak. "Aku pikir juga begitu, tapi…"

Dai ingat akan perkataan Kuroko saat itu.

Kau menunduk sedetik lalu melihat ke arah lapangan. Semuanya bergantung dengan timnya masing-masing, jadi memang sudah seharusnya begitu. Setelah banyak yang terjadi hingga Kagami terjatuh ketika berhadapan dengan Kise yang memakai jurus Thor's Hammer milik Murasakibara yang tengah menonton di tribun bersama Himuro, Kise dengan seriusnya menyatakan perang pada duo Seirin.

"Apapun yang kalian lakukan, percuma. Tidak ada yang bisa menghentikanku saat ini."

Demi kemenangan dan tujuannya untuk mendapatkan hatimu

Dia menatap mereka berdua dengan mata menyala.

Kagami menggeram kecil. 'Kuat sekali.'

Kau hanya bisa terdiam akan yang terjadi di lapangan. Apa yang bisa kalu lakukan sekarang? Percuma jika melakukan sesuatu sekarang ini—ditambah lagi mereka bertiga bertarung demi poin dan membawa tim lolos ke final.

Beberapa kali mereka berhadapan dan Kise mencetak skor lagi dan lagi.

Peluit babak ketiga menyanyi riang menandakan waktu habis.

Disaat keadaan mulai terdesak, Kuroko menganjurkan satu cara.

"Memprediksi siapa yang akan dia tiru?"

"Mungkin lebih tepatnya memaksanya daripada memprediksi."

Kagami maju secepat kilat dan mendribble bola secepat mungkin, disusul Kise yang menggunakan kecepatan super yang sama seperti Aomine ketika berlari mengejar bola.

"Itulah satu-satunya cara untuk Seirin agar bisa menghentikan Ryouta."

Kagami terhenti dan melempar bola—tetapi dihentikan oleh Kise dengan blocknya.

Setelah itu, time-out untuk setiap tim diajukan.

Sekarang kalian berdiskusi, dengan Kuroko yang juga ikut mendiskusikan strategi dengan satu permintaan pada mereka yang membuatmu paham sekarang—akhirnya tiba babak terakhir untuk dimulai.

"Aku tidak yakin itu mungkin dilakukan, tapi kurasa ada potensi." ujar Kuroko.

"Kalau begitu, kita harus menghentikan Kise untuk bisa menang! Itu artinya kita harus mempercayakan peran itu pada Kuroko."

Hyuuga menyeru, "Semuanya, jangan menyerah sampai akhir!"

"SEIRIN, FIGHT!"

"YA!"

Kuroko mencoba mengatur napas dan berkata, "Aku sudah mulai bisa membaca permainan Kise-kun."

Furihata mulai menyeletuk, "Yang benar? Jadi kalau semuanya berjalan lancar…"

Sang pemuda berseragam basket Seirin tersebut melanjutkan perkataannya. "Masih belum sepenuhnya, tapi untuk mempersempit permainannya, aku harus melihat Kise-kun lebih dekat lagi. Jadi aku punya permintaan."

Semuanya mendengarkan, termasuk kau yang mendengarkan juga—yang langsung paham akan strateginya.

Dari kejauhan, terlihat Aomine dan Momoi yang menyaksikan pertandingan dan pemain-pemain yang masuk ke lapangan lagi untuk bertanding.

"Tekanannya kuat sekali. Apa mereka menjadi sekuat ini?" Momoi bergumam, sementara Aomine hanya diam saja memperhatikan permainan yang kan segera dimulai.

Kembali ke lapangan, tak terasa telah berada di babak terakhir.

Tim kalian terlihat serius dan tenang serta percaya diri.

Kau melirik ke papan skor dengan cemas.

78 – 77 untuk Kaijou High VS Seirin High.

Sejak masuk di babak terakhir pada waktu menit keempat, Kise sudah bertransformasi menjadi pemain yang berbahaya di lapangan. Dengan Perfect Copy miliknya, dia menggunakan segala jurus kemampuan dari gaya pemain dari Generasi Keajaiban dengan gayanya sendiri dan disesuaikan dengan tubuhnya.

'Ini sangat gawat, bisa-bisa nanti semuanya akan…'


"Karena kalian besok akan melawan Kaijou—bukanlah hal yang mudah. Perfect Copy miliknya itu bisa jadi penghalang kuat. Dan mungkin—mereka akan memandang kalian sebagai tim yang lemah."


'Tidak, tidak, tidak! Kenapa aku memikirkan perkataan anehnya itu? Tidak mungkin akan begitu.' pikirmu dalam hati sembari menggeleng kuat dan menyaksikan permainan yang semakin menegangkan.

Kau menoleh ke arah tribun penonton. Terlihat kelompok Rakuzan baru datang dan mendudukki bangku yang kosong dan strategis untuk menyaksikan pertandingan.

Kau melihat pemain-pemain berbaju biru putih dengan lambang sekolah elit tersebut, sebelum melirik tajam pada Akashi yang duduk sambil berpangku tangan dengan elegannya saat melihat pertandingan.

Sedetik kemudian, matanya melirik ke arahmu—membuatmu kaget dan membuang pandangan ke arah lapangan pertandingan.

Kau masih tidak bisa menerima perlakuannya dan segala perkataannya padamu kala itu.

Tapi, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan masalah ini. Kami harus menang hingga final; pikirmu mantap sembari memperhatikan pergerakan di lapangan.

Sepertinya, perjalanan Seirin menuju kemenangan masih malang-melintang panjang di depan mata.


.

.

.

Buru-buru kau mengambil ponselmu setelah memastikan bahwa barang bawaan kalian sudah ada semua.

Seisau mengalahkan Kaijou dengan skor 80- 81, kau segera permisi untuk pergi ketika selesai membereskan barang-barang dan keperluan tim kalian di ruang loker.

"Hei, mau kemana?" tanya Hyuuga yang melihatmu seperti pergi terburu-buru.

Kau menoleh ke arahnya dan berkata, "Maafkan aku, senpai. Aku harus ke toilet! Permisi!"

"O-Oi!"

Hyuuga tak bisa menghentikan dirimu yang sudah mulai berlari menjauh dari ruangan dan menghilang di sudut koridor berikutnya.

Maafkan aku, senpai. Aku terpaksa berbohong, tapi aku harus bertemu dengan menyangkut hidupku; teriakmu dalam hati sembari memejamkan mata erat-erat dan terus berlari.

Sekali lagi, kau berbohong dengan alibi itu dan meluncur pergi dengan tujuanmu sekarang ini.

Untuk menemui Kise Ryouta.

"Pasti dia akan mengatakan sesuatu padaku seperti Takao-kun yang lainnya, jadi aku harus tahu dan mengetahui semuanya!" ucapmu pada dirimu sendiri sembari berlari sekencang-kencangnya ketika menyusuri koridor yang mulai ramai karena banyak orang yang keluar dari ruangan pertandingan dan menuju pintu depan untuk keluar.

Kau berlari dan berbelok ke lorong sebelah kanan, dimana lorong itu kosong dan hanya pemain di pertandingan yang lewat disitu—dikarenakan itu adalah ruang loker tim lain yang bertanding. Kau sudah cukup mengetahui seluk-beluk bangunan stadion selagi kau memang bertemu dengan mereka semua di pertandingan dan banyak tempat yang memang tersembunyi yang kau tahu setelah digeret oleh mereka untuk berbicara empat mata denganmu.

Dengan semua kejadian itu, dan segala tindak-tanduk serta perkataan maupun perbuatan mereka terhadap dirimu—membuatmu merasa muak dan kesal.

Kau sudah tidak tahan lagi akan semua ini. Kau sudah tidak kuat akan permainan dibalik pertandingan yang menyangkutkan satu hal—

Bahwa kau telah diseret dan terlibat secara tak langsung dengan mereka semua.

'Aku harus mengetahui kebenarannya! Aku harus menanyakannya pada Ryouta-kun!' ujarmu mantap dalam hati sebelum meluncur ke tujuanmu sekarang ini.


.

.

.

(Third POV)

Sementara itu, Momoi mengejar Aomine yang berjalan santai keluar dari lorong penonton yang masih sepi.

"Dai-chan, tunggu sebentar!"

Aomine masih berjalan dengan kecepatannya yang masih lambat.

"Berjuang hingga akhir… dan akhirnya penentuannya sudah ditetapkan."

Kata-kata yang dia gumamkan dalam hati itu membuat dirinya bungkam dan menutup mulutnya tanpa menghiraukan seruan sang sahabat masa kecil yang mengejarnya sekarang.

Dia berpikir, kalau seandainya Seirin kalah di final, pasti mereka takkan bisa—

"Mou, Dai-chan!"

Aomine berhenti—sontak tertarik ke belakang karena jaket tebal yang dikenakannya. Dia menoleh ke arah belakang dan mengetahui bahwa Momoilah yang menarik jaketnya.

"Kau ini, jangan cepat-cepat jalannya! Aku tidak bisa menyusul, Dai-chan!" gerutu Momoi padanya.

Aomine membalas seadanya, sedikit dengan nada seperti orang baru sadar dari melamun. "A-Ah, maaf.. Aku tidak tahu."

Momoi tertegun sejenak dan berkata pelan dengan nada hati-hati, "Kau… masih memikirkan yang tadi, ya?"

Bibir itu terkunci rapat dan pemuda itu mengalihkan pandangan ke arah lain. "T-Tidak, hanya saja—"

"Dai-chan, tidak usah berbohong. Tidak ada gunanya." potong Momoi serius pada sang pemuda bermarga Aomine tersebut—membuat yang bersangkutan langsung diam seribu kata.

Momoi merasa sedih saat memikirkannya. "Aku bahkan tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, serasa nasib mempermainkan manusia yang menerimanya."

"Sudahlah, ini semua sudah terjadi. Mau bagaimana lagi?" Aomine memalingkan wajahnya lagi dengan acuh.

Momoi menoleh kepadanya sambil menyergah. "Kau bilang begitu juga karena merasa bersalah, bukan?!"

Karena kesal, Aomine menyentaknya dengan nada tinggi. "Tentu saja, bodoh! Aku tak bisa bersamanya di saat itu—dengan begitu saja sudah sangat menyakitkan bagiku, Satsuki!"

Koridor yang sudah kosong itu bergema sesaat setelah sepersekian detik dia meluncurkan sentakan pada gadis berparas ayu tersebut.

Momoi yang disentak begitu pun terdiam dengan mata membelalak dan mengalihkan pandangannya dari sang pemuda berkulit lebih gelap tersebut.

Tersadar karena telah menyentaknya, Aomine mencoba meminta maaf pada teman masa kecilnya itu.

"O-Oi, Satsuki. A-Aku minta maaf, aku tidak bermaksud—"

"Aku tahu."

Pemuda itu menatap Momoi yang kemudian menatap balik Aomine dengan pandangan berarti.

"Aku tahu itu, Dai-chan. Pasti rasanya sangat sakit."

Tangan kanannya menyentuh dada bidang yang terbungkus baju hangat dan jaket tebal yang dipakai sang pemuda bermanik safir tersebut.

Aomine terhenyak lalu menunduk dalam-dalam—serasa lantai koridor itu sangat menarik bagi pandangannya sekarang ini.

Gadis itu berusaha untuk menghibur Aomine dan menariknya pelan.

Momoi merangkul Aomine, dibalas olehnya juga dengan melingkarkan kedua lengannya pada sang teman masa kecil.

"Sudahlah, Dai-chan… Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang, kita hanya bisa mengandalkan Tetsu-kun dan Kagamin."

Aomine melepaskan rangkulannya dan menatap Momoi dengan pandangan terkejut. "Tunggu dulu, kau—"

Momoi mengangguk kecil.

"Aku sudah tahu semuanya dari Tetsu-kun. Dan sekarang, kita hanya bisa berdo'a—semoga mereka bisa mengalahkan Akashi-kun."

Bahu pemuda itu melemas dan mengangguk pelan. "Sudah tidak ada pilihan lagi."

Gadis itu menepuk punggungnya, membujuknya pelan.

"Ayo kita pulang, Dai-chan."

Lalu mereka berdua akhirnya berjalan bersama kembali untuk menuju pintu keluar.

.

.

.

.

.

Matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap.

Hujan sudah reda sejak beberapa puluh menit lalu, membuat banyak orang berani keluar dari stadion dengan aman dan tak was-was akan hujan yang telah berlalu.

Termasuk kedua pemuda yang berjalan bersama sekarang ini.

Satunya berambut hitam platinum, sedangkan satunya lagi berambut ungu lavender.

Merek berjalan diiringi oleh keramaian yang samar-samar terdengar—serta suara dari langkah kaki mereka yang bergabung dengan langkah kaki orang-orang yang berjalan keluar dari bangunan olahraga tersebut.

"Muro-chin. Aku mau bertanya sesuatu. Boleh?" celetuk sang pemuda bermanik ungu lavender tersebut.

Himuro yang ditanya pun hanya bisa mengisyaratkannya dengan anggukan—pertanda memperbolehkan sang rekan untuk bertanya padanya.

"Kau percaya pada takdir, Muro-chin?"

Murasakibara bertanya pada sang pemuda yang berjalan pulang di sampingnya sekarang.

Himuro yang mendengar itu—langsung merasa heran akan pertanyaan yang semacam itu meluncur mulus dari mulut ranumnya.

Kenapa Murasakibara bisa menanyakan hal yang seperti itu padanya?

Himuro berpikir sejenak dan hanya bisa membalas seadanya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan semacam itu dan masih keheranan.

"Atsushi, kenapa kau bertanya begitu? Seperti bukan dirimu saja." ceplos Himuro yang masih terheran akan pertanyaannya.

Murasakibara hanya bisa mengendikkan bahu dengan santainya.

"Aku hanya ingin tahu saja. Baru terpikir saja dari pikiranku, Muro-chin. Jadi, bagaimana menurutmu?" liriknya pada sang rekan.

Himuro memikirkannya sejenak kemudian.

"Entahlah… Mungkin saja." Pemuda berambut hitam itu pun hanya bisa mengendikkan bahu sesaat dan berjalan lagi dengannya ke area luar bangunan stadion.

Langit malam telah terbentang, bintang-bintang mulai bergelimpangan menghiasi di atas. Dengan berakhirnya pertandingan pada hari ini, dan besok adalah hari terakhir bagi turnamen piala Winter Cup.

Dan penentuan bagi pemenang di laga musim dingin tahun ini.

Hari dimana final akan diselenggarakan.

Siapa pemenang dari turnamen ini, tak ada yang tahu. Bahkan kita sebagai pembaca—takkan tak tahu pasti.

Antar sang Bintang baru yang muncul dan merekah dengan sinarnya; Seirin High

Atau sang Kaisar tertinggi di langit dan selalu menjadi yang pertama juga utama; Rakuzan High

Siapakah yang akan mengangkat piala dan kepalanya dengan tegak dan berani sebagai juara nomor 1?

.

.

.


Sementara itu, kau mengambil napas setelah berlari dan berhenti di koridor kosong yang sepi. Tanganmu merogoh benda elektronik yang berada di saku dan menekan beberapa tombol sebelum berhenti. Ditunggu selama beberapa saat, lalu terdengar suara di ponsel sebagai pemberitahuan.

Ada pesan singkat masuk.

.

From: Ryouta Kise

To: (Name)

Subject: Re-Kita harus bicara

(Name)cchi, berbaliklah ke belakangmu.

Tertanda, Kise.

.

Kau membalikkan badan ke belakang dan mendapati Kise yang tersenyum sembari memegang ponsel di tangannya. Dia memakai jaket biru-putih miliknya yang tidak teresleting, membuat sedikit seragam bertandingnya di lapangan itu nampak.

Dia berjalan mendekatimu dan berhenti di hadapanmu sekarang. "Kau terlihat tergesa-gesa—sebegitu inginkah kau untuk bertemu denganku?"

Kau terengah pelan sembari mengatur napas. Setelah bisa terkontrol, kau menjawab padanya dengan anggukan mantap. "Iya. Dan aku kesini secepat mungkin untuk berbicara denganmu—karena pastinya kau akan mengatakan sesuatu padaku, bukan?"

Melihat tatapan serius yang kau lemparkan padanya, Kise akhirnya menatap serius juga. "Benar sekali."

Kau menanti apa yang akan diucapkannya selanjutnya.

"Kukatakan satu hal—dan pastinya kau tahu akan itu. Akashicchi memang kuat, selain itu dia juga punya anggota tim yang akan membuat siapa saja tercengang akan kekuatan tim Rakuzan. Walau aku tidak tahu apa yang dia rencanakan, tapi aku tahu kalau dialah yang memang mengatur segala pergerakan di lapangan. Kau sudah tahu kalau dia kapten—memang hebat walau masih kelas satu."

Kau mengangguk mengerti sembari menunduk. "Iya, aku tahu. Tapi bagaimana cara mengalahkannya? Kita tahu kalau dia kuat dan bisa saja menghancurkan tim Seirin. Artinya, kami harus bisa mengetahui kelemahannya—agar bisa menang. Dia itu manusia—dan manusia pasti tidak sempurna, jadi ada kemungkinannya—tidak mustahil, bukan?"

Kise mengangguk dan tersenyum ceria. "Betul sekali-ssu! (Name)cchi memang cerdas."

Dia menepuk-nepuk pundakmu dengan senyuman cerah, membuatmu terdiam ketika melirik ke wajahnya sekarang.

"Dan aku berharap, semoga tim kalian menang dari tim Akashicchi." tambahnya.

Kau meraih lengan kanannya perlahan sembari tetap menunduk.

"…Kenapa?"

"Eh?"

Kise menatapmu yang sembari mulai mendongak padanya.

"Kenapa kau bersikap sok tegar, Ryouta-kun?"

Pertanyaan yang kau lontarkan membuat sang pemain berposisi Small Forward tersebut terdiam seribu bahasa.

Bagaikan memakai sebuah topeng emas yang berkilau; bertengger diwajahnya—seakan langsung pecah berkeping-keping, jatuh ke tanah, dan menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak beraturan.

Karena sekarang, dia yang berada di depanmu saat ini menampakkan dirinya bagaikan kepingan dari gelas kaca yang rapuh.

Yang bisa retak dan hancur kapan saja—dengan hanya satu sentuhan.

Dan lalu kemudian, isi yang berada didalamnya akan tumpah keluar.

Seolah perkataanmu adalah jari yang menyentuh topeng tak terlihat itu sebagai pelaku utamanya.

Inilah dirinya yang sebenarnya.

Yang polos, menampakkan dirinya yang tidak sesempurna yang dilihat orang, dan tanpa topeng—berdiri di hadapanmu saat ini.

Kise menatapmu dengan tak percaya—bahwa dirimu bisa membuatnya keluar dari persembunyiannya dibalik topeng tersebut—yang selalu ia pakai setiap saat.

Mungkin terdengar sedikit klise, tetapi sepertinya itulah mengapa Kise melakukan semua ini demi dirimu selama ini.

Karena dia menyukaimu yang seperti ini.

Yang bisa membuat seorang Kise Ryouta menjadi apa adanya—menjadi dirinya sendiri.

Kau masih tetap menunduk sembari berkata, "Tolong jangan menyerah begitu saja, kau memang sudah berusaha keras dan melakukan dengan segala kemampuan yang kau punya. Aku tidak ingin memaksakan kehendakku padamu—tapi aku tidak ingin kau menyerah hanya karena kekalahan dan berhenti bermain basket."

Mendengar itu, Kise tertawa sambil menepuk kepalamu dengan jenaka. "Apa-apaan dengan muka sedih itu, aku sudah terbiasa kalah beberapa kali—bahkan kalah one-on-one dengan Kagamicchi dan Aominecchi juga pernah."

Kau terdiam karena tahu akan hal itu.

Tangannya membelai pelan pipimu dan tersenyum. "Jadi, jangan bersedih seperti itu-ssu. Aku lebih suka kau tersenyum, (Name)cchi. Itu lebih cocok untukmu."

Kau tertegun sebelum mendongak padanya.

"Dan walaupun kau mencoba menghiburku dan memujiku, itu terdengar seperti hinaan bagiku-ssu." ujarnya sambil cemberut.

Melihatnya begitu, kau hanya bisa tertawa kecil.

Pemuda bermanik madu tersebut kembali tersenyum kecil dan melepaskan pipimu dan mengembalikan tangannya ke sisinya. "Sekarang, kalian akan maju ke final. Kau tahu pasti apa resikonya, bukan?"

Kau mengangguk kecil sembari berkata, "Ya, aku tahu. Tapi, demi kemenangan—tidak ada cara lain selain itu. Demi kemenangan Seirin dan menjadi juara Winter Cup."

"Walaupun Akashicchi takkan membiarkan kalian melakukannya?" tanyanya.

"Walaupun dia menghalangi kami dengan timnya yang kuat—takkan kami biarkan begitu saja." balasmu mantap.

"Aku yakin kalian akan menang, dan aku percaya akan hal itu." Kise tersenyum kecil.

Setelah hembusan napas agak panjang kkalian berdua terdengar, hening menyelimuti selama beberapa detik. Kau masih menunduk—pikiranmu sibuk sendiri memikirkan betapa kau sebelum ini tidak pernah mengetahui bahwa dirimu akan dilibatkan oleh mereka, sekarang rasa-rasanya kau bingung harus melakukan apa—

"(Name)cchi, bolehkah aku minta satu hal."

Kau mendongak lagi padanya. "Apa itu? Katakan saja."

Kise menatapmu dengan serius. "Maafkan aku… tapi, bolehkah aku menciummu?"

DEG

Betapa terkejutnya dirimu ketika dia meminta hal semacam itu padamu.

Kau membelalakkan kedua matamu sambil sedikit merona.

"A-Ap—Apa katamu?! Apakah kau sudah gila, Ryouta-kun?" semprotmu dengan wajah marah dan mendorong-dorong tubuh pemuda yang sekarang mencoba meminta sesuatu seperti itu.

Kise mencoba meminta maaf sambil menahan dirimu yang mendorong-dorongnya. "A-Aduh! Iya—maafkan aku! Tapi hanya di pipi saja-ssu! Pipi!"

Kau masih memerah marah dan tetap mendorong tubuhnya. "Tidak mau! Memangnya aku apa, ha?! Kau meminta seperti itu—"

GREP

Perkataanmu terputus ketika dia memelukmu, membuatmu terbengong sejenak.

"R-Ryouta-kun..?"

Kise berbisik pelan, memohon sembari tetap memelukmu. "Hei.. masih ingat ketika aku menciummu kala itu?"

Seketika kau mengingat ketika dia pertama kali menciummu di pipi.

Saat itu juga dia memperingatimu untuk tidak turut serta ke turnamen.

Tapi tak kau hiraukan sehingga sampai bisa di sini.

"…."

Kau berpikir, Kise melakukan semampunya dan sekuat yang dia bisa—tapi tetap tak bisa menghentikan tim kalian untuk maju ke final.

Dia melepaskan pelukannya dan menatap melas memohon padamu.

"Bolehkah, (Name)cchi..?"

Menatap dirinya yang memelas dan memohon layaknya anjing yang dibuang agar bisa dipungut begitu, hatimu serasa tercubit.

Sungguh, kau tidak tegaan jika ada orang yang memohon padamu.

Ya ampun, kau sungguh lembut hati dan bodoh

Sekian detik kemudian, kau mengangguk kecil.

"..Baiklah. Di pipi saja." sahutmu kecil.

Kise tersenyum dengan sedikit rona merah di pipinya, terlihat lega. "Terima kasih, (Name)cchi—"

"Hanya itu saja. Jangan macam-macam, ya?" ancammu dengan mengacungkan jari telunjuk padanya dengan tatapan tajam.

Kise menghiraukan tatapanmu dan menjawab dengan senang. "Iya, iya~"

Pemuda berambut pirang dan bermanik madu tersebut mendekatimu dan membuat jarak kalian menipis perlahan.

Kau memejamkan mata rapat-rapat, memerah merona ketika dia mendekatkan wajahnya padamu.

Kau merasakan pipi yang sebelumnya dikecup pertama kali oleh Kise—kali ini dia juga mencium di bagian pipi yang sama.

Deru napas ketika ia melepaskan ciumannya perlahan, membuat sensasi geli serta hangat yang diselimuti keheningan di antara kalian berdua.

Kau masih bisa merasakan bekas bibirnya yang ranum menempel—yang sekarang sudah terlepas dari pipimu yang halus.

Kise menatapmu yang masih memejamkan mata dan tak disangka, dia berbisik pelan di telingamu.

"(Name)cchi, petunjuk yang terakhir adalah 'masa lalu'."

DEG

Kau membelalakkan mata sepersekian detik kemudian. Kau terpaku akan apa yang dia bisikan sembari menatapnya yang berdiri dengan tegak lagi, menjauhimu dengan satu langkah agar memberimu ruang—tangannya masih memegang pipimu yang merona.

Dia bilang masa lalu? Masa lalu apa? Dan kenapa dia berkata begitu?

Apa maksudnya?

Matamu masih menatap nanar padanya, bingung dan shock akan apa yang dia katakan.

"Ryouta-kun…"

"Maafkan aku, (Name)cchi."

Kau hanya bisa tertegun, sebelum akhirnya tangan itu lepas dari pipimu dan mulai kembali ke sisinya perlahan.

Kise melemparkan senyuman dengan deretan gigi putihnya, sebelum dia berbalik pergi dan berjalan menjauh—meninggalkanmu yang tetap berdiri disana.

Dan kau tahu, itu adalah senyuman paksa.

Masih kau rasakan ciuman di pipi yang dia berikan padamu dan kau bertaruh kalau wajahmu sedikit merona.

Sementara dia pergi, kau hanya terpaku di posisimu sejak tadi. "Masa lalu?.. Petunjuk terakhir…?"

Ini berkaitan sekali, dan kenapa kau merasakan firasat tidak enak?

Pikiranmu mencerna semua hal yang terjadi hari ini.

Pertandingan tadi adalah pertandingan terakhir bagi Kaijou sekaligus pertandingan pertandingan terakhir sebelum Seirin menuju final.

Pertama, Aomine yang tersingkir, disusul oleh duo Yosen, lalu kemudian duo Shuutoku, dan sekarang Kise.

"Semuanya sudah tersingkir… Tapi kenapa aku merasa aneh, ya?"

DEG

"Ukh!.."

Seketika kau memegang kepalamu seraya merasakan nyeri yang tiba-tiba. Rasanya sangat sakit dan berdenyut cepat. Pandanganmu sedikit berkunang-kunang dan seperti layaknya kau diputar-putar hingga pusing.

Kau merapatkan diri di dinding agar bisa menopang badanmu, lalu menghela napas lega selang lima menit menit setelah sakit kepalamu hilang.

Tiba-tiba kau langsung saja mengingat akan mimpi aneh tersebut.

Mimpi kala itu, bayangan yang kau lihat sekilas dan tiba-tiba muncul, serta pemuda berambut eboni yang tak kau kenal sama sekali.

"Kenapa bayangan itu tiba-tiba muncul?.." tanyamu dalam hati.

Rasa penasaran dan kacau mulai beradu menjadi satu.

Siapa yang ada di dalam mimpimu itu?

Terlihat familiar bagimu—tapi kau tidak tahu siapa.

"Argh, rasanya kepalaku mau meledak.." gerutumu kesal dan kemudian menyandarkan dirimu di sisi dinding koridor.

Manikmu menatap langit-langit koridor. Kau berpikir, jika saja kalian kalah dari Kaijou—pasti nanti takkan bisa berhadapan dengan Rakuzan.

"Iya ya, lawan kami di final adalah tim Rakuzan…" gumammu kecil.

Matamu sontak melebar dan kau menunduk sambil berpikir lagi.

DEG

Tanganmu perlahan terangkat untuk menutup bagian mulutmu—seraya tak percaya. "Rakuzan? Oh tidak, jangan-jangan…"

DEG

Terbayang seorang pemuda yang sangat kau kenal dan benci sejak pertama kali bertemu di turnamen ini.

DEG

Kau juga pernah dengar bahwa pemuda itu orang yang sangatlah penting di tim Rakuzan dan sekolah menengah elit tersebut memang terkenal akan atlet-atlet yang hebat serta berbakat dengan kemampuan akademis yang di atas rata-rata.

"Akashi Seijuurou… Kapten dari Generasi Keajaiban dan Kapten Rakuzan… Ini benar-benar kacau. Lawan kami adalah monster.. Dan dia adalah pemimpin dari monster itu sendiri."

DEG

Pemikiran bahwa nanti kalian akan melawan mereka di final nanti benar-benar membuatmu berkeringat dingin. Kau khawatir nanti kalau kakak kelas dan duo Seirin kalian berhadapan dengan mereka—maka akan terjadi pertandingan yang sangat ketat diantara kedua tim.

DEG

"Astaga, apa yang aku lakukan.. Kami melawan monster. Si Akashi itu akan membantai kami seperti Shin-kun."

Masih terbayang sekilas ketika pertandingan Shuutoku melawan Rakuzan kala itu. Hingga membuat tim Shuutoku terpuruk—bahkan mampu membuat Midorima tertunduk dan menangis di pundakmu.

Tidak, hal seperti ini sudah benar-benar sudah diluar kendali! Kau juga tidak tahu kalau akan begini jadinya.

Tapi inilah resikonya jika menuju ke final

"Aku harus memperingatkan mereka—tapi aku tidak mau melunturkan kebahagiaan mereka yang senang maju ke final… Sebaiknya memang aku rahasiakan saja. Sekarang aku harus kembali, sebelum ada yang curiga." ujarmu mantap pada dirimu sendiri dan lekas berdiri.

Sedetik kemudian, kau segera enyah dari koridor kosong tersebut dan berbalik arah—

Tak mengetahui bahwa seseorang menatapnya dari kejauhan sambil tersenyum tipis sambil menyenderkan diri di dinding yang kokoh di ujung lorong yang berlawanan ketika kau berlari menjauh.

"Hentikan senyuman mengerikan itu. Kau jangan terlalu lama begitu, jelek tahu."

Seseorang yang berada di sampingnya menyindir dengan menyebalkannya kepada orang yang tadi tersenyum.

"Kau benar-benar brengsek, Haizaki. Masih sama saja." ujarnya sambil memonyongkan bibirnya dengan kesal.

Haizaki tidak menjawab, dia menunduk dalam.

"Justru kau yang brengsek, bodoh." ujarnya pelan.

Manik obsidian tersebut melebar sedetik sebelum kelopak matanya kembali merapat—menutup, mengalihkan pandangannya pada langit-langit koridor yang cukup lebar dan sepi. Hanya ada mereka berdua yang diiringi oleh keheningan dan suasana suram.

"Kau meninggalkan kami yang masih perlu perhatianmu—dan pastinya aku tidak perlu itu karena aku sudah dewasa, justru mereka saja yang perlu."

"Masih saja menyangkal." ceplosnya dengan muka eneg.

"Jangan menggodaku, sialan kau!" semprotnya dengan tak kalah sewot.

Haizaki menghela napas gusar, memegangi kepalanya yang sekarang ia warnai rambutnya menjadi rambut hitam dan berkata, "Selama di Amerika, apa saja yang kau lakukan selama ini? Walaupun ayahmu sudah bisa dibawa pulang—tapi kau justru kembali dan mengunjungiku."

"Siapa yang bilang akan mengunjungimu, sialan?" sindir pemuda tersebut dengan seringai di wajahnya.

"Jangan membuat argumen lagi, kutonjok—baru tahu rasa." tantangnya.

"Kau macam-macam, ha?" Wajah itu menjadi mengerikan dengan aura kesal dan berniat menarik kerah sang lawan bicara yang nantangin sekali.

"T-tidak.. Maaf." ralatnya untuk bisa menghindar dari bogeman mentah dari tangan pemuda yang dia ajak bicara.

Pemuda berambut eboni tersebut menghela napas sembari melepaskannya, dan mengatakan sesuatu dari mulutnya setelah menyenderkan kembali tubuhnya di dinding. "Tapi… Memang faktanya. Kau ada benarnya juga.. Aku bukanlah kakak kelas yang baik untuk kalian semua."

Haizaki melirik ke arahnya ketika dia berujar begitu.

Masih ia ingat, ketika mereka masih sangat awal untuk memulai hal yang baru dan naif.

"Aku bahkan meninggalkan kalian ketika sedang bertunas—dan ketika kalian mekar seutuhnya, aku bahkan tak ada disana untuk menyaksikan. Apalagi, kudengar kau makin beringas bermain basket, Haizaki. Masih dengan cara kasarmu. Bukannya kau sudah berhenti bermain?" tanyanya sembari melirik pada pemuda yang dulunya berambut abu-abu layaknya ubanan.

"Heh. Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Aku masih bermain, seperti yang kau lihat. Tapi aku takkan menyesalinya. Setelah kalah dari si bodoh kuning itu, aku jadi sadar—bahwa ini tak seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, dan aku sadar diri akan itu. Dan kau tahu akan satu hal—bahwa kau telah membawakan sebuah penderitaan yang besar kepada seseorang yang tak bersalah sama sekali; (Name)."

Haizaki menyeringai tipis, dalam hatinya—mau tak mau—geram akan tindakan pemuda di sampingnya yang sangat tak terpuji—kemudian menoleh pada sang lawan bicara.

"Kau sungguh keparat, kau tahu itu."

Haizaki memandangnya sendu dengan manik kelabunya.

"Nijimura."

Nijimura Shuuzou; sang pemuda yang tepat disampingnya saat ini hanya diam mendengarkan perkataan dari sang mantan adik kelas yang pedas tapi benar.

Dia memejamkan matanya beberapa detik—menyembunyikan manik kehitamannya, lalu membukanya kembali.

"Aku tahu itu, Haizaki. Aku tahu."


.

.

.

(Third POV)

Kagami mencari dibawah bangku, dan masih panik. Cincinnya hilang dan tergesa-gesa mencarinya sekarang ini.

"Tidak ada. Dimana ya?" gumamnya risau sambil mencari-cari.

"Kau mencari ini?"

"Eh?"

Telapak tangan orang tersebut memperlihatkan sebuah cincin dengan kalung rantainya. Sudah pasti itu milik Kagami.

Pemuda itu langsung sumringah, "Betul itu punyaku. Bagaimana bisa—"

Ia langsung tertahan untuk bicara ketika melihat kalau yang menemukannya adalah seseorang yang tak ia duga.

"Midorima?"

Akhirnya mereka bicara sambil memandang lapangan stadion yang kosong itu.

"Jadi kau menang melawan Kise, ya?" mulai Midorima.

Kagami melirik ke arahnya sebelum menjawab, "Hah? Y-Ya.."

Tak disangka, pemuda berambut hijau itu menahan tawa sekali—membuat Kagami sedikit kesal. "Kenapa, ha?"

Yang ditanya hanya membalas, "Jangan berpikir kalau kau sudah seimbang dengan Akashi. Kau bahkan tidak bisa jadi budaknya."

"Sebenarnya apa maumu?!" Kagami makin kesal dan kemudian bertanya, "Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"

"Entahlah. Aku masih belum menentukannya."

"Apa maksudmu? Memangnya tidak apa-apa mengatakan ini untuk pertandingan besok?"

Midorima menaikkan kacamatanya dengan jari lentiknya, "Tak masalah. Saat ini, sudah tak ada yang bisa diubah."

Kagami menoleh padanya.

"Ingatlah. Dibandingkan dengan hari ini, kau tak akan bisa membayangkan apa yang akan kau hadapi—nodayo." lanjutnya sambil berjalan beberapa langkah ke depan.

"Heh, maksudnya rekan setim Akashi?"

"Kau benar-benar bodoh."

"Hah?!"

Midorima menghentikan langkahnya.

"Dia bahkan tak perlu mengandalkan rekan setimnya,"

Lalu dia menoleh ke arahnya. "Akashi itu kuat."

Kagami menjawab, "Aku tahu itu, tapi kami tak akan tahu sebelum mencobanya."

Keduannya bertatapan hening setelah itu.

Dari kejauhan, Kuroko memperhatikan mereka yang berbicara di sana.

"Yo! Apa yang kau lakukan disini?"

Kuroko dikagetkan oleh Takao yang juga muncul dari belakang. "Takao-kun…"

"Heh? Shin-chan bersama dengan Kagami?" Dan dia tertawa. "Kok bisa? Apa ini sudah musim panas, ya?"

"Ya, tapi apa yang kalian lakukan hari ini sungguh hebat. Aku harus pergi, berjuanglah di pertandingan besok!" ujarnya sambil melambai dan berjalan terlebih dahulu—menuju ke arah mereka berdua.

"Baik." ucap Kuroko.

"Disini kau rupanya, Shin-chan. Ayo pulang!"

Midorima berbalik setelah Tako memanggilnya dan berjalan sebelum berhenti sejenak –tanpa menoleh pada Kagami yang berada di sampingnya. "Kagami, kuberitahu kau satu hal."

Pemuda itu menoleh ke arahnya, mendengarkan.

"Ada dua Akashi."

Kagami tertegun sejenak.

Mengapa Midorima mengatakan sesuatu seperti itu mengenai Akashi?

"Apa yang kau katakan? Apa maksudnya?!"

"Tanyakan saja masalah itu pada Kuroko. Sampai jumpa. Berjuanglah sebaik mungkin—nodayo."

Pemuda bermarga Kagami itu hanya bisa terdiam setelah Midorima melangkah pergi dengan rekan setimnya.

Sekarang dia harus bertanya pada Kuroko akan hal yang dimaksudnya.

.

.

.

Duo Seirin berjalan di lorong koridor yang telah sepi tersebut dalam diam.

"Kau mendengar apa yang kami bicarakan tadi, 'kan? Apa yang dia maksud?" Kagami menyeletuk.

Mereka berdua berhenti dikarenakan Kuroko berhenti berjalan, membuat Kagami menoleh padanya.

Pemuda itu diam sejenak sebelum berujar, "Akan kujelaskan nanti."

Kagami sedikit menyergah. "Hei, jangan membuatku penasaran!"

Kuroko membalas dengan tenang. "Tidak, aku mau memberitahukan hal ini ke semuanya!"

Pemuda beralis cabang itu tertegun dan diam sembari rekannya melanjutkan perkataannya lagi. "Sesuatu yang disembunyikan, tapi… Seperti apa yang diceritakan oleh Midorima-kun. Sebelum pertandingan melawan Akashi, kalian perlu mengetahuinya."

Kuroko mengatakan kaliamat terakhir dengan kaku. "Tentang masa lalu kami."


.

.

.

.

.

Semuanya berkumpul, dalam diam dan menunggu siapa yang akan berbicara terlebih dahulu.

Sang kapten, Hyuuga—menyeletuk dahulu. "Kalau begitu Kuroko, ceritakan pada kami."

"TUNGGU, KENAPA DI KAMARKU?!" sergah Kagami yang kelabakan karena mereka berdiskusi di kamar apartemennya.

Hyuuga memandangnya dengan sedikit jengkel. "Jadi kau mau kita semua berdiri di luar saat musim dingin dan mendengarkan ceritanya yang panjang?"

Kau dan yang lainnya hanya bisa diam dan sedikit mengasihani Kagami yang marah-marah.

Riko menyeletuk serius pada Kagami. "Hei, cerita ini ada hubungannya dengan pertandingan final kita besok. Jadi dengarkanlah dengan serius!"

Pemuda yang bersangkutan langsung diam dan akhirnya dengan berat hati, dia duduk lagi dan membiarkan temannya bercerita.

Kiyoshi bertanya pada Kuroko. "Kuroko, kau mulai main basket sejak SMP?"

Kuroko menjawab, "Tidak. Aku melihat basket pertama kali saat kelas 5 SD. Aku menonton pertandingan di televisi dan kelihatannya seru. Tak ada yang spesial dari bagaimana aku memulainya. Dulu di daerahku tidak ada klub basket, jadi aku pergi ke lapangan dan main sendirian. Tapi suatu hari, ada anak yang ikut bermain denganku. Kami langsung akrab. Di lebih hebat dariku dan mengajariku banyak hal."

Dia melanjutkan lagi, "Tapi saat aku kelas 6 SD… dia pindah rumah. Saat itu kami membuat janji. Saat kami masuk SMP, kami akan bergabung ke klub basket dan suatu hari nanti akan bertanding."

Izuki menyeletuk ketika mendengarkan ceritanya. "Hee… Aku tak tahu kau punya teman seperti itu."

Furihata menyahut penasaran. "Jadi, apa yang terjadi? Dia masih main basket, 'kan?"

Kuroko menatap sedikit sendu—samar-samar. "Tidak, dia sudah berhenti. Ini semua salahku."

"Eh?"

"Kurasa dia tak akan pernah memaafkanku." lanjutnya pelan.

Semuanya terkejut akan perkatannya, termasuk dirimu yang terdiam akan ceritanya.

Koganei bertanya, "Kenapa? Apa yang terjadi?"

Yang bersangkutan menjawab. "Ya… Ini ada hubungannya dengan apa yang akan kuceritakan sekarang."

Kagami melirik diam pada sang pemuda berambut langit biru tersebut, menanti ceritanya.

"Dan sebenarnya, ada sesuatu yang harus aku ceritakan pada kalian semua." lanjutnya sebelum belasan pasang mata mengarah pada pemuda berambut biru muda tersebut—tak terkecuali dirimu yang menatap ke arahnya.

"Memangnya apa yang mau kau ceritakan, Tetsuya-kun?" tanyamu dengan penasaran, membuatnya menoleh ke arahmu dan ke semua orang yang ada disana.

"Akan kuceritakan masa SMP-ku dulu—dan ini pastinya perlu kalian ketahui untuk semuanya, karena ini berhubungan dengan pertandingan besok. Terutama denganmu, (Name)-san."

Kau menatap padanya.

Hah?

Kau mengerjapkan matamu beberapa kali.

Kau tak salah dengar? Denganmu?

"Pelatih," Kuroko menoleh ke arah Riko dan membuatnya tertegun sesaat.

Sepupumu melirik ke arahmu—dan kau mengetahuinya. Tapi kau tak tahu apa maksud lirikannya.

Kau bertanya-tanya. Ada apa dengannya?

Gadis berbadan mungil itu pun mengangguk kepada Kuroko. "Iya, Kuroko-kun. Silahkan ceritakan semuanya."

Pemuda bermata langit cerah itu pun mengangguk dan mulai bercerita.

"Di bulan april, setelah satu tahun aku membuat janji dengannya, aku masuk ke SMP Teiko."

Kau mendengarkan dengan seksama. Yang lainnya juga.

"Saat itu hari sangat cerah, dipenuhi langit yang biru." ujarnya sambil mengingat-ingat—terasa nostalgia dari nada bicaranya.

"Langit yang cerah, tim basket SMP Teiko, harapan baru dan kegelisahan di dalam tempat yang baru. Dan disaat itulah aku pertama kali bertemu dengan mereka…" lanjutnya sebelum mengatakan kata-kata terakhir yang tak kau sangka akan keluar dari mulut pemuda tersebut.

"…dan juga (Name)-san."

.

.

.

TuBerColosis


(pojok review, monggo dilalap pake sambal~ :3 :D :) #laperToTheMAX

Hola minna!~ Sumimasen, SUMIMASEN! Maafkan daku sekali lagi! xC kalo nunggu apdetannya lama banget QwQ 4 BULAAANNN!Sori banget karena lama apdet, saya baru bisa karena WB yang bermasalah dan juga masalah RL yang menumpuk. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya! Monggo ditunggu kritik saran juga tanggapannya ya~ XD Dan pasti nanti semua service bakal kebagian satu-satu kok jadi jangan kuatir ya :3 #sokImut Kali ini saya akan bacakan reviewnya dikarenakan chara lagi liburan ke onsen terdekat dan meninggalkan saya sendirian QwQ #wut

Oke sekarang disini saya bersama dengan anggota lima orang tamu untuk interview kali ini. Kita sambut, The Uncrowned Kings; Kiyoshi Teppei, Hanamiya Makoto, Mibuchi Reo, Nebuya Eikichi, dan Hayama Koutarou!

(Author duduk di kursi yang paling kiri dan ada meja di sampingnya, the Uncrowned Kings duduk berurutan seperti yang dikatakan tadi, suara tepuk tangan menggema)

Kiyoshi: *senyum hangat* Halo semuanya!

Hanamiya: …. *cuma diam duduk*

Mibuchi: Hai~ *lambai cantik*

Nebuya: Yo.

Hayama: HAI SEMUA!~ *terlalu bersemangat lambai-lambai*

Author: Yak, mari kita mulai interview-nya. Dimulai dari Kiyoshi-san. Bagaimana pendapatmu tentang season 3 kali ini?

Kiyoshi: *tertawa kecil* Hehehe… pastinya makin menarik ya. Walaupun begitu, semuanya bersenang-senang ketika pertandingan dan menyelesaikan dengan baik.

Author: Oke, dan bagaimana dengan peranmu di Kurobasu kali ini dan siapa yang menurutmu pemain yang berkesan?

Kiyoshi: Yah, kalau bisa dikatakan figuran ya iya, bukan figuran juga tidak. Jadi ada dan tiada, hahaha… ^^ #wut kalau pemain… mungkin Murasakibara dari Yosen.

Author: B-Baiklah… Oh, kita beralih ke Hanamiya-san. Bagaimana dengan pendapatmu akan season 3 Kurobasu?

Hanamiya: Rasanya kurang bagus karena tidak ada aku ada dalamnya. Sekian.

Author: Uhm, lalu bagaimana dengan peranmu dia Kurobasu yang sebelumnya? Dan pemain yang berkesan untukmu?

Hanamiya: Aku tidak terima kalah dari Teppei bodoh ini! Dia benar-benar membuatku kesal! *nunjuk-nunjuk ke Kiyoshi yang ketawa gaje*

Kiyoshi: Sudahlah, terima saja apa susahnya, Makoto.

Hanamiya: TIDAK AKAN! *naik pitam* tapi kalau yang pemain… si muka datar itu dari tim orang ini *unjuk Kiyoshi yang nyengir*. Benci untuk kuakui, tapi dia memang tangguh.

Author: O-Oke, terima kasih atas jawabannya. Ehem #eaa oke, kita beralih ke Mibuchi-san. Bagaimana dengan pendapatmu untuk Kurobasu season ini? Apakah menyenangkan?

Mibuchi: Tentu saja! Kami sangat menikmati saat pertandingan dan melawan dengan beberapa pemain terbaik. Sungguh menyenangkan.

Author: Baik, lalu pendapatmu soal peran kali ini? Pemain yang berkesan?

Mibuchi: Karena pertama kali muncul, aku jadi bersemangat. Semuanya juga. Dan cukup mudah saja menjalani peran itu tapi untung selesai dengan baik. Kalau itu, kurasa temannya Kiyoshi ya? Yang kacamata itu lho.

Kiyoshi: Oh, Hyuuga ya?

Mibuchi: Iya. Itu dia, dia cukup manis!

Author: *sweatdrop* O-Oke, terima kasih! Kita beralih ke Nebuya-san. Bagaimana pendapatmu akan season 3 ini?

Nebuya: Selama aku tidak kelaparan dan mengeluarkan seluruh kemampuanku—kurasa itu tak masalah.

Author: Lalu perannya? Pemain?

Nebuya: Disini aku hanya boleh makan 20 piring. Seandainya dikasih lebih, mungkin di syuting pertandingan, aku bisa membuat timku menang. Mungkin… kurasa si rambut merah.

Kiyoshi: Hahaha.. Pasti Kagami.

Author: E-Ehehe… ^^" kita berlanjut ke Hayama-san. silakan pendapatnya.

Hayama: Menurutku kali ini aku bermain semampuku dan mengenal dengan banyak orang! #senyumLimaJari

Author: Lalu peranmu dan pemain yang berkesan?

Hayama: Oh, senang-senang saja—oh kalau itu Miyaji dari Shuutoku. Dia sangat baik padaku, dan saat bertanding, dia tidak kenal meyerah!

Author: Terima kasih atas jawabannya wan wawancaranya!

Itu dia dari wawancara eksklusifnya! Sekarang ini dia review balasannya!

Naomi Kimiko-san: hehehe… maafkan daku karena telat apdet ^^" soalnya banyak hambatan gegara WB dan males #plakk iya, insyaallah bisa cepat apdet habis chapter ini. Mad dog? Saya kira you don't say :v #der oke, bai~ ini sudah apdet kok, makasih buat nunggu ya ^^

akashiro46-san: yayy!~ makasih udah seneng sama cerita abal ini ^^ wah, makasih pujiannya, saya juga berusaha keras biar ngena di kokoro reader sekalian #eaa dia kan manusia, masa' kappa? Pastinya bisa nangis dong :v #dafuq ini sudah apdet, makasih buat nunggu! :3

Meyzumii Kagami-chan-san: (dibales untuk dobel review yang kau tulis panjang-panjang :v) halo, beb~ Jyah! Elu terlalu lama mendem di RL, tapi nggak masalah dech kalo elu juga seneng kalo apdet dobel, ya kan? :v oke, makasih buat pujian, kritik dan sarannya, memang bang Zaki cuma seimprit doang tap nanti bakalan muncul lagi di chapter mendatang karena ada seseorang datang dari Amerika, ciaaa :'vv #plakk Ah~ typo ya, memang sich tapi gapapa lah. Makasih udah mau ngingetin. MEMANG PERANG BATIN BANGET NGETIKNYA, BEB! DAKU NGGAK KUAT, LAMBAI-LAMBAI TANGAN KE KAMERA OAO"/ #emangnyaapaan kenapa jadi elu deg-degan sama dia? Kagami mau dikemanain woi?! #gaknyantai ehem, baiklah.. nyantai aja neng, gak usah heboh =_=" makan tuch deg-degan sama Kagami! #wut iya tu nembak, masa' mincing mania, mantap #apaan elunya tetap aja mau dijadikan AoKaga terus, beb =_=" #KuroKagaShipper oke, makasih juga—oh, ending ya? Emang mau bentar lagi ending kok. Bakalan ada kejutan besar menanti reader khehehehe~ #uhuk Yang datang pastinya jelas bukan Silver yang mendadak jadi gondrong #hah elu rakus banget, mau Kuroko apa sama Midorima sich? Haduh, kasihan juga Kise dicuekin tuch ^^" gue agak buru-buru ngetiknya makanya agak bingungin, ini panjang banget gue balesnya. Ealah beb, beb… =_=" yah, nanti disampaikan cintamu pada Kagami. Hush hush #usir Udah apdet, nggak usah ingetin lagi #tendang oke, bai!~~

Sintya-san: Ya pastinya makin bingung dong!~ kan namanya juga CharaXReader fic ya kan~ XD terimakasih atas pujiannya, sangat membantu saya untuk melanjutkan cerita. Si reader kasihan dihimpit terus digoyang seru #apaan makasih udah mau nyampah review~ :3

yagiicha-san: iya iya ini udah apdet kok! Tolong jangan bunuh saya QwQ #ojigi semoga puas sama chapternya :D thanks for review!~

Oke, sampai disini saja curhatan dan balasan review saya. Keep the writing spirit, be creative, be supportive in any good way, and I'll see you guys on the next chapter. Bye, poppets!~ #lambaiCantik


~Preview~

...

"Baiklah. Ayo buat kenangan terindah di SMP ini!"

.

"Shuuzou-senpai mundur dari jabatan?"

.

"Kenapa dia berubah?"

.

"Kita akan selalu bersama—dengan yang lainnya, bukan?!"

.

"Siapa kau?"

.

"Apa artinya kemenangan ini?!"

.

"Kita lihat saja kedepannya, siapa pemenang yang sesungguhnya."


See you next time, peeps!~ XD :) :3

Best respect to all of readers and authors,

D.N.A . Girlz

PS.: Happy Holiday, and Graduation, guys~ :3 buanglah reviewmu di tempat kotak review dengan benar ya~