Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!
Story plot ya milik saya #digebuk
LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORTS ESPECIALLY BASKETBALL.
LONG LIVE SPORTS!
P.S: Warning for some spoilers and lines from the original anime and manga. alot :3 so please just go with the flow and proceed to following the story with peace. Read it at your own risk (and adding some extra scene). SUMIMASEEENNN APDETNYA LAMA ;w;
Recommended song for this chapter:
- Park Shin Hye – Without Words (Maldo Obshi)
- B2ST - Yet
- Forgiven Me – Mary Mary
- Avril Lavigne – Keep Holdin' On
- f (x) – Déjà vu
- Vocaloid – Donut Hole
- Vocaloid – Life-Cheating Game (GoM Ver.)
You'll get it right away.
Enjoy reading!~ /( 0w0)/
.
.
.
Matamu terbelalak lebar.
Darahmu serasa membeku.
Napasmu tercekat.
Dadamu sesak.
Pikiranmu mulai kacau.
Seakan tak percaya akan cerita yang pemuda itu baru selesaikan, kau takkan menyangka bahwa kau juga ada bersama dengannya saat masih SMP, lalu kau dijadikan sebagai taruhan mereka, dan sampai terjadi kecelakaan yang menyebabkan dirimu tak ingat apapun akan masa SMP-mu.
Ini pasti hanya candaan saja, 'kan?
Kau mulai angkat bicara, "Jadi… sejak awal aku memang terlibat… dalam semua ini…?" ucapmu tak percaya, membuat Kuroko menatap sendu padamu—memohon padamu agar bisa memahami semua yang dia ceritakan.
Riko menunduk dalam-dalam dengan wajah yang sedih dan membisu, tak terkecuali dengan Hyuuga, Kiyoshi, serta anak kelas satu dan dua lainnya.
Menyadari bahwa inilah kenyatan yang sebenarnya.
Mata langit biru itu hanya bisa menyiratkan kesedihan dan keprihatinan padamu.
"Maafkan aku, (Name)-san. Tapi yang aku ceritakan ini semuanya adalah benar."
DEG
Kau terhenyak sekali lagi, kemudian menunduk. Tubuhmu mulai bergetar dan dadamu sesak. Rasanya seperti berat sekali.
Tanda-tanda itu, mimpi kala itu, pemuda misterius, segala tindakan mereka, semua perkataan mereka, petunjuk yang disampaikan, perjanjian, hingga pernyataan itu …
Juga ingatan masa lalu yang tak bisa kau ingat itu…
Semuanya…
Jadi inikah maksudnya?
Kau tetap menunduk dalam-dalam dengan nada lirih—kau berucap, "Jadi…"
Kau sudah tidak kuat lagi.
Sudah cukup
Kau menunjukkan ekspresi wajahmu pada mereka semua.
"J-Jadi kalian semua… selama ini berbohong padaku?!"
Pertanyaan yang mengandung nada kemarahan dan lirih yang kau lontarkan membuat Riko mendongak padamu—mencoba menjawab dan mencegahmu untuk tidak salah paham akan semua ini.
"(Name)-chan, bukan seperti itu—"
"Lalu apa dasar dari semua alasan ini?!" sergahmu dengan nada tinggi—membuat semuanya terdiam.
"Kalau dari dulu kalian ceritakan ini padaku dari awal, pasti aku takkan mengalami hal seperti ini—dan kalian bilang bukan seperti itu?! Lalu apa dari inti Winter Cup ini bagi kalian!? Memenangkan taruhan, dan taruhannya adalah aku—dan bukan piala itu?! Begitukah!?" semprotmu bertubi-tubi dengan perasaan kacau balau.
Ini pasti hanya bohong, bukan?; pikirmu mulai kacau.
Kiyoshi mencoba untuk menenangkanmu sambil berdiri dari duduknya. "Tunggu dulu, (Name). Tolong tenanglah—"
"…percaya."
"Eh?"
Kau menatap tajam pada mereka semua. Perasaan marah dan shock sangat kentara di setiap nada kalimat yang kau lontarkan, mencoba menyakinkan diri kalau ini semua adalah kebohongan.
Tapi kenyataannya tidak demikian.
BRAK!
Semuanya jadi terdiam saat melihat kedua telapak tanganmu itu membuat meja berbunyi dengan sekali gebrak, emosinya mulai di atas puncak. Kau sontak berdiri.
Kau sudah tidak tahan akan semua ini.
"Aku tidak percaya.. Aku tidak bisa percaya akan semua ini. Aku kira kita bisa bersama-sama memenangkan piala itu dan menjadi nomor satu di Jepang—tapi kenyataannya… Kalian malah membohongiku dengan alasan seperti ini?!"
Air matamu jatuh mulus dan sudah tidak bisa di bendung lagi olehmu.
Tidak bisa ditahan lagi—sudah tidak bisa.
Kagami mencoba untuk menenangkanmu juga, "(Name), tolong dengarkan dulu—Kau sudah salah paham!"
Tetapi perkataannya tak didengar oleh dirimu.
Kau menutup kedua telinga serta matamu rapat-rapat seraya menggeleng kuat-kuat—tidak ingin mendengarkan perkataannya.
Serasa telingamu telah ditulikan oleh perasaan yang bergejolak dari dalam dirimu.
Untuk melampiaskan kemarahan dan kekecewaan yang sangat kentara.
Kau menggeleng tak percaya sembari menyatakan dengan emosi. "Sudah cukup.. Aku muak dengan semua ini! Aku benci kalian semua, dan aku benci dengan kebohongan ini! Aku tidak percaya dengan kalian lagi!"
Riko terhenyak—tak ayal kalau Kuroko juga Kagami sama sepertinya—kakak kelas dan juga teman-teman satu timmu.
"I'M OUT OF THIS SHIT!"
Tangis serakmu lantang menyuarakannya dengan nada marah dan kecewa. Kemudian dengan segera, kau berlari keluar dari ruangan kamar tersebut untuk menuju pintu depan apartemen.
"(Name)-san!" Kuroko setengah berdiri ketika memanggilmu.
Riko berdiri dan berniat berjalan, berusaha memanggilmu juga untuk mencegahmu pergi. "(Name)-chan, tunggu—"
Tapi hasilnya nihil.
Hyuuga menepuk pundak perempuan itu dan menggeleng, membuat Riko terhenyak dan menunduk sedih, sebelum kembali duduk di matras dengan lesu dan menangis tersedu-sedu. Kiyoshi mengelus punggung Riko untuk menenangkannya. Semua orang terlihat lesu.
Tepat di saat itu juga, suara pintu di banting juga terdengar bersamaan dengan suara langkah kaki yang menjauh.
Kau berlari dari tempat itu, menuruni tangga dan menapakkan sepatu yang kau kenakan untuk berlari di tanah yang kau pijak sementara kau berniat berlari entah kemana.
Kau terus berlari—kemanapun kakimu membawamu melangkah.
Sambil menangis, kau terisak pelan dan mencoba mengusap air matamu yang deras mengucur. pikiranmu terus mengiang-ngiang akan ceritanya—dan satu pertanyaan yang terus menggema di kepalamu.
Kenapa mereka harus menyembunyikan kebenarannya darimu selama ini?
Title: About Them
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.A.Girlz
Language: Indonesian
Rating/Rated: T
Genre: Mystery/Romance
.
.
.
Langkahmu gontai tak beraturan. Kau tak tahu lagi harus berlari atau tidak.
Kau harus berlari kemana—heck, kau pun tidak tahu.
Dingin, sepi, sunyi, gelap. Itu yang kau rasakan ketika menyusuri jalan di malam hari.
Sebenarnya, bukan itu masalahnya.
Kau berlari dari apartemen Kagami setelah mendengarkan cerita Kuroko.
Dan yang tak masuk akalnya lagi, kau dilibatkan juga di dalam cerita.
Masa lalu SMP, Generasi Keajaiban, pertaruhan diri yang tak dapat kau percaya ternyata ada, dan kecelakaan yang menyebabkan kau tak ingat mereka semua.
"…Aku tak percaya ini.. Kenapa bisa seperti ini.. Kenapa mereka membuat sesuatu yang gila dengan cara yang seperti itu…" gumammu serasa tak percaya akan kenyataan yang terkuak.
Semuanya sudah jelas sekarang.
Perkataan , tindakan, juga perhatian yang mereka lakukan selama ini padamu…
Itu semua demi pertaruhan di antara mereka.
Untuk mendapatkan dirimu—yang jelas-jelas tak tahu apa-apa.
Dewa, apa salahku? Kenapa diriku dipertaruhkan oleh mereka?; tanyamu dalam hati dengan lemas dan pasrah.
Out all of people, for God's sake—kenapa harus kau yang dipertaruhkan?!
Kenapa mereka semua harus menyukaiku?!
Kenapa?
Kenapa harus aku?!
Teriakan sanubari dalam kalbu yang sangat kau ingin keluarkan—namun tak bisa. Kau frustasi, pusing seketika saat memikirkannya. Serasa seperti tak ada yang lebih penting selain dirimu dan kemenangan yang sangat mudah diraih oleh mereka.
"Heh—Generasi Keajaiban apanya… Mereka seperti monster…" seringaimu sedih ketika mengingat seberapa kuatnya diri mereka.
DEG
Tiba-tiba kepalamu seperti dipukul keras—ada rasa sakit menyengat dari dalam—membuatmu memegangi kepalamu sendiri dengan kedua tangan.
"Ugh… sial… Aku tidak boleh tumbang."
Kau perlahan mengangkat wajahmu yang tertunduk dan menoleh pelan ke arah kanan.
Langkahmu ternyata membawamu menuju sebuah taman kecil untuk anak-anak. Sudah sangat sepi karena hari telah menjelang malam dan tak ada seorangpun yang berada di sana. Bahkan kau tak tahu jam berapa sekarang. Dengan pelan, dirimu yang lelah karena berlari entah kemana—mulai berjalan menuju ayunan besar untuk empat orang, yang berada di dekat sebuah perosotan khas anak-anak dan duduk di salah satu ayunan tersebut.
Akhirnya sakit kepalamu hilang. Kau berasumsi bahwa sakit teresebut pasti bekas dari kecelakaan.
Tetapi kau sama sekali tidak bisa mengingat memori tersebut.
Helaan napas mulai dikeluarkan untuk kesekian kalinya. Stress yang berat membuatmu makin tertekan dan kaget—akan cerita Kuroko dan juga kebenaran pahit tentang dirimu di masa lalu.
"Kenapa hal seperti ini terjadi padaku?"
Kenapa orang tuamu tidak memberitahu apapun?
Kenapa kerabatmu tidak pernah memberitahumu?
Kenapa mereka semua berbohong padamu?
Muncul makin banyak pertanyaan setelah sekian kalinya kau bertanya mengapa diberi petunjuk, diceritakan lagi masa lalunya yang terlupakan, hingga sampai begini.
Dengungan dan gemaan dalam mimpimu juga makin membuatmu makin tak bisa tenang. Mimpi tentang mereka, dan ketika kau melihat kilasan balik memorinya.
Kau bisa mengingat semuanya walau samar-samar, tapi saat kecelakaan itu—bagaikan burung yang lepas, memorimu terbawa dan hilang begitu saja tanpa jejak.
Setelah tahu apa artinya, kau mulai menyusun semua rentetan kejadian serta petunjuk—apapun itu, dari orang lain maupun yang kau pernah dapatkan sendiri. Kejadian itu, tindakan mereka, perkataan dan segalanya…
Dengan begitu, akan terlihat semuanya.
Tapi dari cerita Kuroko, semuanya sudah terdapat jawabannya.
Tetapi….
Satu keping dari puzzle raksasa itu masih menghilang.
Kau terpaksa menuntut dirimu untuk berpikir keras, agar harus sudah tahu semua ini.
Kau berhak untuk mengetahuinya.
Satu keping lagi…
Tapi apa itu?
"(Name)-san."
Kau mengalihkan pandanganmu akan sumber suara—dan mengetahui bahwa Kuroko telah berdiri tak jauh disampingmu.
Kau yang mulai terbiasa akan kebiasaannya, hanya bisa menunduk kembali sambil sedikit bermain-main menggoyangkan ayunan. "Aku ingin sendiri."
"Tapi aku ingin mendengarkan keluh kesahmu."
"Sudah kubilang, aku ingin sendirian! Kau tuli?!" sergahmu sambil menahan amarah dan emosi ketika pemuda itu membalas kata-katamu.
Seperti bukan ancaman yang besar, Kuroko justru menempatkan dirinya di samping ayunan yang berada di sampingmu.
Kau yang sudah muak untuk marah, akhirnya memilih untuk diam.
Sunyi senyap—hanya suara jangkrik dan serangga malam yang menemani sunyinya angin malamyang bernyanyi di sekeliling.
Kalian berdua hanya diam saja selama beberapa menit.
Mau tak mau, kau mulai tak bisa berpikir lagi—selain masalah dirimu dengan permainan dibalik pertandingan ini.
Kau menghela napas gusar sambil bergumam. "Apa tidak ada cara lain, agar aku bisa bebas dari semua ini?"
"…Ada satu cara."
Kepalamu menoleh padanya yang tetap melihat ke depan. Rasa penasaranmu mulai mencuat, mengetahui bahwa Kuroko berkata begitu padamu.
"Ada satu cara; Tapi hanya aku dan Kagami-kun—tidak, kami setim yang bisa melakukan hal itu saja." lanjutnya sembari menoleh ke arahmu.
Kau menatapnya lekat-lekat dan bertanya langsung.
"Bagaimana caranya kau dan Taiga-kun melindungiku?"
"Dengan mengalahkan Akashi-kun." jawab Kuroko dengan mantap dan kau tertegun sejenak.
DEG
Mengalahkan Akashi Seijuurou—yang angkuh, yang selalu menyindirmu, yang serba absolut, dan menge-klaim dirimu?
Dan yang juga menyukaiku?, pikirmu ketika kau menyergah pada Kuroko.
"T—Tapi, bagaimana bisa? Kau tahu kalau dia kuat, apalagi timnya itu juga punya anggota yang kuat, lalu kenapa harus kalian yang—" perkataanmu di sambung olehnya dengan tenang.
"Karena dengan hanya itulah, aku dan Kagami-kun bisa melindungimu darinya." potong Kuroko untuk menjawab kepesimisanmu yang mulai mencuat di saat yang bersamaan.
Kau tertegun sejenak.
"Kalau misalnya aku dan Kagami-kun kalah melawannya, maka hak untuk memilikimu akan jatuh ke tangannya dengan permanen. Dan sebaliknya, jika kami menang melawannya, maka aku dan Kagami-kun bisa memilikimu—dan kita gunakan kesempatan ini untuk melindungimu serta membebaskanmu dari taruhan." Dia melanjutkannya lagi sambil menatap ke arah depan, dan kemudian menoleh padamu dengan senyuman tipis.
"Kami sudah bertekad untuk melindungimu, (Name)-san. Tak ada yang kami inginkan selain kemenangan murni dan kebebasanmu. Kebebasanmu untuk memilih dan menjalani hidup tanpa kekangan."
Sekali lagi, kau terhenyak akan pernyataan dari Kuroko.
Jadi, semua ini… demi diriku?, pikirmu dalam hati.
Demi dirimu, kebebasanmu—untuk memilih sendiri atau menyukai orang lain, tanpa harus terkait oleh taruhan dari masa lalu tersebut.
Dan kemenangan murni tim Seirin untuk menjadi nomor satu di Jepang.
Kau sudah salah paham pada mereka. Berprasangka buruk terlebih dahulu, dan sudah membuat sepupumu sedih—juga rekan-rekan satu timmu menanggung beban di pundak mereka selama ini.
Apalagi Kagami dan Kuroko.
Bodohnya diriku
"Tetsuya-kun…"
Sungguh bodohnya dirimu, selama ini sudah membuat semuanya kerepotan hanya karena dirimu dan masa lalumu yang dijadikan bahan taruhan. Dan sekarang, kau justru berusaha lari dari kenyataan yang sudah ada. Perasaan bersalah mulai menyelimuti dirimu seraya menunduk sedih.
"Omong-omong, (Name)-san.."
Salah satu tangan pemuda yang lebih besar mulai memegang tanganmu dengan perlahan, kau melihat salah satu tanganmu yang di pegang erat sebelum mendongak dan mendapati Kuroko tersenyum tipis padamu dengan lembut.
"Walaupun kurang tepat waktunya.. Tapi… Kurasa sudah saatnya aku mengatakan ini padamu. Maafkan aku. Karena setelah ini, mungkin kau akan berpikir kalau aku sedikit egois… Soalnya aku ingin kau memikirkan perasaanku juga. Boleh, bukan.. Kalau aku berharap, walau hanya sedikit saja..?" ucap Kuroko pelan dan penuh keseriusan ketika kau mulai mengerti apa yang ia maksud.
Lihat saja, wajahmu mulai bersemu merah ketika ia tersenyum lembut dan mengatakan—
"Karena aku menyukaimu, (Name)-san. Dan aku akan terus selalu menyukaimu."
—Yah, telat dech. Mukamu sudah merona merah padam layaknya apel yang terlalu matang di pohonnya.
.
.
.
Setelah dibujuk, akhirnya kau kembali bersama Kuroko menuju tempat tinggal Kagami—yang dimana ternyata semua tim menunggu kalian di pintu gerbang depan kompleks apartemen milik Kagami.
"Ah, itu mereke berdua!" Furihata menyahut sembari melihatmu dan pemuda bayangan tersebut berjalan kembali.
Kau menatap mereka semua yang menunggu kalian untuk kembali.
"(Name)-chan!"
Sambil dnegan khawatirnya dan bermata sembab, Riko berlari kecil dan memeluk tubuhmu dengan erat. "Kau darimana saja?! Aku khawatir sekali!.. Kau tidak apa-apa kan? Tidka ada yang terluka, bukan? Kau membuat kami semua gelisah!"
Saat dipeluk erat, kau hanya bisa terdiam. Dirimu terhenyak akan ucapan sepupumu tersebut. Walau pun kau sampai bilang kalau kau membenci mereka dan Riko—tapi mereka semua tetap mengkhawatirkanmu dan menunggumu kembali.
Orang macam apa kau ini?
Karena tak tahan lagi, akhirnya pecahlah tangismu yang berujung sesenggukan—memeluk balik sambil menangis meraung pada Riko layaknya anak kecil.
"H-Hiks… Huwaahh!.. Ma-Maafkan aku, kaaakk!... Hiks!... Ugh…"
Pecahan tangis penuh emosi dan penyesalan kau keluarkan dan raung—melawan sunyinya gelap yang menunjukkan pukul sembilan.
Hyuga, Kiyoshi, Kagami, serta semuanya hanya bisa terdiam melihat kalian sepupu berpelukan sambil menangis.
"Astaga.. Jangan buat kami khawatir, dong. Koganei sampai menangis juga tuh.." Izuki melirik pada rekannya yang mulai sesenggukan sambil ditenangkan oleh Mitobe.
Kau melepaskan pelukanmu dan menunduk meminta maaf pada mereka semua, membungkuk dalam-dalam. "Maafkan aku semuanya. Aku… Aku hanya shock dan sangat kaget karena semua yang telah terjadi, apalagi melibatkan kalian semua—"
Hyuga menyela perkataanmu. "Bodoh sekali kau ini, ya. Sudah jelas bukan, kalau kita akan maju hingga menjadi juara."
Senyuman tipis dihadiahkan dari sang kapten Seirin padamu yang terdiam. "Demi kebebasanmu, kompetisi, harga diri, kita semua pasti akan mempertaruhkannya sampai mati."
"Benar! Kau kan asisten pelatih kami yang paling disayangi! Jangan mau dihina terus oleh mereka, kau juga manusia!" Kawahara menyeletuk, membuat kedua teman karibnya menghentikannya.
"Dasar sok bijak." ujar Fukuda dan hanya bisa disertai tawa garing Furihata.
Melihat tingkah mereka, kau hanya bisa tertawa kecil sambil tersenyum. Masih saja mereka membuatmu tertawa, padahal kau sudah menghina mereka secara verbal.
Kau mengutuk diri sendiri karena sangat tak berguna.
"(Name),"
Kau menoleh ke arah Kiyoshi yang tersenyum ala wakil kaptennya. "Jangan pantang menyerah. Percayakan semuanya pada kami."
Kagami membenarkan pernyataan Kiyoshi. "Benar! Bersama lebih baik daripada satu!"
"Sok bijak, Kagami-kun." celetuk Kuroko datar, membuat sang cahaya panas hati dan mencekik dengan kerahnya.
"Apa kau bilang, Kuroko teme!"
Kau tersenyum lembut sambil menatap mereka. "Terima kasih, semuanya…"
Riko menepuk pundakmu sambil tersenyum lembut saat kau menoleh. "Percayakan semuanya pada kami. Kita pasti akan membebaskanmu."
Kau terdiam dan mengangguk.
"Baiklah, semuanya. Ayo pulang dan beristirahat. Persiapkan diri untuk grand final!" Hyuga mengomando.
"YA!"
.
.
.
Setelah itu, mulailah hari terakhir serta grand final untuk pertandingan Winter Cup.
Kalian berdiskusi sambil membahas poin-poin serta strategi mana yang akan cocok dan digunakan di pertandingan kelak.
"Kaijou sudah dikalahkan oleh Shuutoku, dan hanya tinggal tersisa kita dan Rakuzan." Hyuga memberitahu kalian—termasuk dirimu yang mendengarkan.
"Kita harus mengandalkan kerjasama tim dan juga kekompakan kita. Pokoknya kita harus waspada, karena tiga dari Uncrowned King berada di dalam tim hebat itu." Matanya melirik ke arah sang rekan yang juga punya julukan sama—sebelum mengakhiri rapat diskus imereka.
"Cukup sekian briefingnya. Nanti harus kumpul disini setelah 15 menit istirahat."
"YA!"
Kau berdiri, mau memenuhi panggilan alam jadi sendirianlah lah perginya—walaupun sempat disuruh ditemani oleh Riko—tapi kau tak mau.
Setelah urusan toilet, kau beranjak mau kembali ke tempat kalian—sebelum kau dipanggil oleh seseorang.
"Hei, tunggu!"
Sambil menoleh dengan penasaran, kau mendapati seorang pemuda yang cukup tinggi, bermata obsidian dan berambut eboni—
Tunggu, apa?
Kau memperhatikan pemuda bertubuh tinggi dan terlihat sedikit lebih tua darimu. Mungkin saja kelas dua atau tiga.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanyamu sopan.
Pemuda itu mengambil sesuatu di kantongnya dan memberikannya padamu.
"Aku ingin mengembalikan ini. Terima kasih sudah memberikannya, tapi aku sudah tidak membutuhkannya lagi—karena aku tidak bermain lagi."
Pandanganmu mengarah pada benda yang dia berikan—berada di tanganmu sekarang ini.
Sebuah handband bercorak pelangi.
Kau hanya bisa terdiam lalu mendongak pada pemuda yang jauh lebih tinggi darimu tersebut.
Merasa heran kenapa orang tersebut memberikan—tidak, mengembalikan benda ini padamu.
Memangnya sejak kapan kau memberikan ini padanya? Kau pun tak ingat.
Tangan kanannya mengelus puncak kepalamu dengan lembut dan pelan—layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya sendiri.
Rasanya… Ini sungguh familiar bagimu. Tapi kau tak tahu kapan bertemu dengannya.
"Berjuanglah, (Name). Lakukan yang kau bisa."
Hah? Dia ini…
"Kau..."
"Semoga kalian menang, (Name)." ujarnya. Tangannya tertarik kembali ke sisinya sebelum membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh. Kau terdiam sejenak sebelum berteriak memanggilnya.
"Tunggu!"
Ia berhenti sebentar dan menoleh ke belakang begitu mendengarmu.
"Maaf, tapi aku sepertinya pernah mengenalmu. Siapa kau sebenarnya? Bolehkah aku tahu namamu?" tanyamu dengan ras penasaran yang tiada tara.
Tapi pemuda berambut eboni itu hanya membalasmu dengan senyuman kecil saja—bisa kau lihat dari kejauhan.
"Kau tidak perlu tahu siapa namaku. Kau hanya perlu tahu kalau semua ini akan berakhir."
Kau mengerjap bingung. "Eh?"
Pemuda itu tersenyum lembut dan menghadap padamu, "Dan ingatlah: Saat pemenang telah diputuskan—pelangi kebahagiaan akan muncul di atas langit cerah bersalju pada saat yang bersamaan."
Jawabannya membuatmu terdiam lagi—dan kali ini kau membiarkannya berjalan menjauh lagi, hingga hilang ketika dia berbelok ke arah koridor lain.
"Maksudnya apa..? …Siapa sebenarnya dia?" gumammu kecil.
Dan keheningan yang menjawab pertanyaanmu.
.
.
.
Kau terduduk di bangku taman dekat stadion, mencoba untuk menenangkan diri. Kau tahu harusnya kau kembali, tapi pikiranmu sedang ingin kemana-mana dan tak mungkin bisa fokus.
"Disini ya rupanya."
Telingamu menangkap suara yang familiar.
Kuroko Tetsuya—pemuda bermata biru langit tersebut menuju ke bangku taman yang kau dudukki dan menempatinya di sampingmu.
"Kau tidak ke dalam? Senpai nanti mencarimu." ujarmu sambil menoleh, disambut yang bersangkutan dengan mengendikkan bahu.
"Biar saja. Aku hanya ingin menenangkan diri, mengingat aku gugup untuk sekarang ini."
Mendengar pernyataan itu, kau hampir tertawa. "Pfft—Kau ternyata bisa gugup ya, Tetsuya-kun."
"Aku juga manusia, bukan hantu. Jelas." katanya datar bak triplek.
Kalian terdiam sebentar, sebelum kau menyunggingkan senyuman tipis.
Melihat itu, Kuroko kemudian bertanya, "Ada apa, (Name)-san?"
Kau menggelengkan kepala sejenak sebelum menyisirkan helai rambut ke belakang telinga kanan, perlahan menunduk menikmati pemandangan sepatumu yang terlihat lebih menarik.
"Hehehe.. rasanya aneh saja, kenapa banyak yang suka padaku—maksudku, aku ini tidak cantik, tidak pintar, tidak punya bakat apapun, dan juga ceroboh. Lalu kenapa bisa banyak yang menyukaiku, bahkan semuanya pun…." Perkataanmu tergantung ketika membayangkannya kembali. Kau berhenti berbicara dengan tatapan menerawang.
Setelah kau pikirkan berulang kali, sekarang semuanya terlihat masuk akal.
Semua kejadian itu, serasa nasib—atau takdir, yang memang mempermainkan hidupmu seperti mengaduk-aduk jalan cerita hidupmu sendiri. Kau bahkan masih tak percaya akan semua pernyataan cinta dan tindakan dari mereka semua.
Ciuman, perhatian, juga tindakan serta pernyataan mereka semua, mulai yang dari dasar—hingga ekstrim…
Aomine berbisik. "Bersiaplah menerima bahaya yang menantimu."
…
Murasakibara berkata, "Aku sudah kalah, (Name)-chin. Kau bisa lakukan apapun padaku sesuka hatimu."
…
"Take a hint, (Name)-chan. Kau harus melihat dan menemukannya dengan jeli dan teliti." ujar Himuro.
…
"Kau itu milikku, dan itu sudah mutlak." tegas Akashi.
…
"(Name).. A-Aku.. menyukaimu." ucap Kagami terbata-bata.
…
Kise tersenyum riang. "Jadi, (Name)cchi, pilih aku saja… ya?"
…
"..Ternyata memang tak bisa. Aku takkan bisa mendapatkannya..." gumam Midorima pelan.
…
Takao memohon padamu. "Tolong jangan biarkan Rakuzan menang, (Name)-chan. Dirimu sudah dalam bahaya!"
…
Kuroko tersenyum lembut. "Karena aku menyukaimu, (Name)-san. Dan aku akan terus selalu menyukaimu."
Perkataan dari Himuro Tatsuya dan Takao Kazunari—rekan dari Murasakibara Atsushi dan Midorima Shintarou—langsung terbayang olehmu.
Serta perkataan yang lainnya juga membuatmu harus berpikir ekstra keras akan kejadian yang kau alami sejak pertama kali menginjakkan kaki di turnamen ini.
'Himuro-san mengatakannya seolah aku mencari petunjuk dari semua rahasia ini..' Kau mulai berpikir akan alasannya. Cukup masuk akal—karena kau terjebak akan permainan taruhan masa lalu yang membawa dirimu dalam ikatan diantara mereka.
'Dan pantas saja kalau Takao-kun memohon padaku seperti itu.. Padahal 'kan dia tahu kalau aku tidak bisa melakukannya—pemain saja bukan…' pikirmu dalam hati ketika ingat seusai pertandingan Rakuzan melawan Shuutoku waktu itu.
Seakan ini dibuat main-main dan hanya jadi bahan skenario buatan saja.
Ataukah memang ini sudah takdirmu?
Ha, bullshit.
Satu-persatu, semuanya mulai tersibak—dan rahasia pun tidak dapat disembunyikan lagi.
Apalagi setelah kejadian kemarin-kemarin itu. Kau tak mengerti.
Senyummu mulai pudar.
Kuroko menatapmu dengan lembut dan sendu.
"Aku sudah tahu."
Kau langsung mendongak padanya, "Eh? Apa maksudmu—"
"Bahwa mereka menyatakan cintanya padamu sebelum aku. Bahkan Kagami-kun."
Di saat itu juga kau tertegun sejenak dan mengalihkan pandanganmu darinya.
"Begitukah.. Jadi kau sudah tahu semuanya?" ucapmu pelan dan menghela napas singkat.
"Hmm.. Aku kurang mengetahui apa yang kau maksud itu, (Name)-san. Tapi aku hanya bisa menebak kalau mereka sudah menyatakannya padamu. Itu saja." katanya dalam pose berpikir lalu disambut anggukan kecil darimu yang menghela nafas.
"Itu benar. Mereka menyatakannya padaku, dan itu yang membuatku bingung sekarang." ujarmu padanya, membuatnya melirikmu dan mengangguk kecil.
"Masuk akal juga, (Name)-san." ucapnya. Tapi itu tak membuatmu puas.
Kau menoleh ke arahnya lagi. "Apanya yang masuk akal? Aku justru tidak mengerti sama sekali, Tetsuya-kun. Kenapa juga semuanya jadi begini? Kalau seandainya saja tak ada taruhan dan masa lalu itu, sudah pasti akan lain ceritanya—Riko-Oneechan dan yang lainnya takkan menanggung beban seperti ini—"
"Ini bukan beban."
Kau menatap ke arah Kuroko yang menyela ucapanmu. Tatapannya walaupun datar—tapi masih ada keseriusan dalam pandangannya ketika memandangmu.
"Tak ada yang namanya beban pada pundak kami semua. Kami siap untuk berusaha keras hingga cedera—demi memenangkan pertandingan dan membebaskanmu. " katanya sambil mencoba meyakinkanmu yang gelisah.
"Pelatih dan Kagetora-san sangat menyayangimu—bahkan para senpai, dan kami semua menyayangimu juga, (Name)-san. Jadi, kau tidak sendirian. Ada kami semua yang mendampingimu—mengiringi langkahmu." lanjutnya dan menampakkan senyum tipis sekilas, seraya menepuk pelan kepalamu.
Kau terhenyak lagi—untuk kesekian kalinya.
Betapa besar pengorbanan mereka semua bagimu.
Seakan kau tidak berguna dan tak bisa apa-apa
Kau payah sekali
Kuroko tertegun sejenak dan menghapus sebulir air matamu yang tumpah dengan jari ibunya. "Sudahlah, tidak usah menangis, (Name)-san."
"E-Eh..? Lho kok—" Kau yang tak menyadarinya karena menangis—langsung canggung dan berusaha menghentikan air mancur dari kedua matamu.
Kuroko yang memperhatikanmu dengan seksama dalam diam—tetap tersenyum tipis bak mengingat sesuatu seperti bernostalgia.
"Kau masih tak berubah, (Name)-san. Cengeng seperti biasa—sejak dari dulu.."
"A-Apakah itu buruk..?" tanyamu dengan polos—masih ada bekas air mata di pipi dan di pinggiran matamu yang sembab. Hal ini membuat pemuda berambut biru muda tersebut terkekeh kecil dan mengelus pelan kepalamu untuk kesekian kalinya.
"Tidak… Sama sekali tidak. Aku tidak keberatan.." ujarnya dan membuatmu mengangguk kecil.
Sejak dulu—saat bertemu denganmu, aku selalu menyukai segala hal tentangmu, (Name)-san, ucap Kuroko dalam hati—
—yang mungkin takkan ia dapat katakan padamu walaupun waktunya tepat.
Atau mungkin selamanya.
.
.
.
(Third POV)
Di dalam ruang loker hanyalah suasana sunyi senyap yang didapatkan.
Terdapat seorang pemuda berambut merah darah yang tengah menatap sesuatu di dompetnya. Terdapat dua foto yang ia sisipkan didalam.
Foto seorang wanita paruh baya dengan senyum ayu—berpose duduk di kursi, disertai seorang anak kecil berusia lima tahun yang dipangkuannya.
Foto kedua adalah seorang gadis yang familiar, berpakaian seragam Teiko sambil tersenyum cerah—sosok yang ia kenal dan jadikan bahan taruhan.
Ya, bisa pembaca lihat.
Foto pertama adalah mendiang ibunya serta dirinya yang masih kecil.
Foto kedua adalah foto ketika ia diam-diam memotret (Name) saat masih di SMP Teiko.
Mata heterokrom tersebut hanya bisa menatap dalam dan mengusap pelan foto pertama dengan sayang.
"Jangan khawatir Ibunda… Aku takkan membiarkan orang lain mengambil hak milikku." ucapnya
Diliriknya foto kedua dan dipandangnya lekat.
"Orang yang melawanku, akan aku buat dia menderita lebih berat daripada yang ia bayangkan."
Karena ia tahu, bahwa gadis itu adalah miliknya.
Miliknya seorang saja.
Milik seorang Akashi Seijuurou.
Seorang Akashi takkan berhenti begitu saja.
"Kau akan menjadi milikku, (Name). Dan itu sudah mutlak."
Keinginannya dalam mendapatkan apa yang ia inginkan—sekali dia menginginkannya, takkan ia lepaskan begitu saja.
Karena dia absolut.
.
.
.
Pertandingan akan segera dimulai, dan para penonton makin ribut juga semarak. Suasanannya buat beberapa dari tim kalian makin gugup—walau ditenangkan olehmu dan beberapa kakak kelas yang lain.
Saatnya para tim Rakuzan memasukki lapangan, membuat semua sorakan tertuju pada mereka.
Kau terdiam saja saat yang lainnya berkomentar akan pengaruh ketika tim sekolah itu masuk ke dalam arena.
Kau melihat Akashi melirik dengan angkuhnya padamu—membuatmu sedikit emosi, tapi kau tahan.
Ini pertandingan besar, dan kalau sampai kau berkelahi dengan Akashi di tengah publik, mau taruh dimana muka Seirin nanti?
Mari kita biarkan saja hal itu sekarang.
Di samping itu, kau menangkap seseorang yang sedikit familiar ketika kau akan beranjak dengan tim Seirin untuk persiapkan diri.
Dan anehnya, kau seperti pernah mengenalnya.
Tapi dimana?
"Orang itu… Aku pernah melihatnya." gumammu kecil ketika melihat kearah pemuda bersurai abu-abu keperakan itu di lapangan. Matanya melirik ke arahmu dan bertatapan denganmu yang tengah memandangnya.
Pandangan kalian berdua saling bertabrakan.
Kau terdiam sejenak, membulatkan kedua bola matamu perlahan.
"Kau menginginkannya 'kan? Ambil saja."
Kau tersadar setelah memori otakmu berjalan.
Dia… pemuda yang ada di toko buku waktu itu!, serumu dalam hati.
Langkah kakimu hendak bergerak maju tetapi Riko terlanjur memanggilmu.
"(Name)-chan, ayo cepat. Kau bisa tertinggal." sahut Riko yang membuatmu bimbang dan kaget.
"Ah—Uhm, iya!" sahutmu balik padanya dan berjalan mengikuti grupmu yang berjalan terlebih dahulu. Kau menoleh ke belakang—dan mendapati kalau pemuda itu sudah tidak ada.
Hah? Dimana dia? Kenapa menghilangnya cepat sekali?; pikirmu heran sambil menoleh ke segala arah.
Tapi, sepertinya kau merasa bahwa dia memiliki aura yang familiar dengan seseorang yang kau kenal.
"Tapi siapa..?" gumammu dalam hati sambil berjalan kembali ke rombonganmu untuk bersiap-siap melawan di Grand Final.
Melawan sang Kaisar Tertinggi—Rakuzan High.
Dan memenangkan pertandingan—menjadi nomor satu seantero Jepang—
Serta membebaskanmu dari taruhan masa lalu yang mengekang hidupmu.
Kau mengepalkan kedua tanganmu hingga buku-buku jari itu memutih. Kau sudah bertekad; untuk mendukung timmu hingga titik darah penghabisan.
Terdengar berlebihan, bukan? Tapi itulah dirimu.
Dan kau siap mempertaruhkan harga dirimu dan timmu di pertandingan ini.
Koaran dan kumpulan tangan kalian yang disatukan menggema dengan lantang.
"SEIRIN, FIGHT!"
"YA!"
Untuk semuanya—yang mendukungku sampai sejauh ini—
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
Terima kasih…
.
.
.
TuBerColosis
(pojok review, monggo dilalap pake tempe~ :3 :D :) #laperToTheMAX
Hola minna!~ sori karena lama apdet, saya baru bisa karena WB yang bermasalah dan juga masalah RL yang menumpuk. Saya udah resmi jadi mahasiswa baru dan menjalani kehidupan kampus yang cukup baru, jadi mohon maklum ya, masih MaBa dan ada tugas yang musti dikerjakan sehingga cukup sibuk—dan nggak banyak waktu buat ngetik cerita kecuali pas saat liburan kuliah setelah semester saja bisanya, apalagi udah semester 3 QAQ #ngorektanah
Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya! XD Monggo ditunggu kritik saran juga tanggapannya ya~ XD Dan pasti nanti semua service bakal kebagian satu-satu kok jadi jangan kuatir ya :3 #sokImut
Kali ini saya akan bacakan reviewnya, ya! Let's marching to the reviews~ (/OwO)/
Laveysaki: ini udah dilanjut, semoga puas ^^
Fallenangel: wkwkwk iya nich lol mari kita buat banyak ff sukses yak! Sukses duo-nya ya!
Oke, sekian dari saya. Semoga bisa membuat anda sekalian puas wkwkkw udah lama ga update jadi agak ialng feels qwq gomen nee~~~
P.S: Kalo mau mengeluarkan pup(?) dari dalam kokoro-mu, buang aja ke tong sampah alias kotak review ya XD Fave and review are so welcomed~
Oke, sekian dan terima gaji! KEEP WRITING AND WISHES YOU ALL WHO RED IN A HAPPY LIFE! See you soon~!
Here is the preview~
~Preview~
...
"Kita tunggu saja, siapa yang akan membawa pulang piala dan hadiah manisannya."
.
"Inilah saatnya. Final tip-off."
.
"Pintar juga. Rakuzan memang kuat seperti dugaanku."
.
"Aku membayangkan bagaimana Seijuurou-kun yang dulu.. Pasti dia sangat baik."
.
"Sebaiknya kita melihat situasi terlebih dahulu, baru kita putuskan untuk pakai taktik yang mana."
.
"Tapi, Riko-Oneechan, bagaimana kalau kita—" "Jangan khawatir, kita pasti akan memenangkan pertandingan ini. Percayakan saja pada kami semua."
.
"Membandingkan seseorang dengan orang lain dengan mudahnya, tapi dirinya sendiri tidak terima dibandingkan dirinya dengan orang lain adalah yang terangkuh."
.
"Kami akan menang dengan permainan basket 'kami'!"
.
"Karena, aku adalah bayangan."
.
"Salam kenal lagi… Seijuurou-kun."
See you at next chapter and bye, guys! Jangan nyesel nunggu lama ya!~ XD :) :3
Best wishes,
D.N.A . Girlz
