Kuroko No Basuke milik Fujimaki-sensei #SUMIMASEEENNN!

Story plot ya milik saya #digebuk

LETS BE IN PEACE AND LOVES SPORTS ESPECIALLY BASKETBALL.

LONG LIVE SPORTS!

P.S: Warning for some spoilers and lines from the original anime and manga. alot :3 so please just go with the flow and proceed to following the story with peace. Read it at your own risk (and adding some extra scene). SUMIMASEEENNN APDETNYA LAMA ;w;

Recommended song for this chapter:
- Queen Of Hearts – originally by luz (search Kiseki No Sedai Cover)

- FT ISLAND – Pray
- UVERworld (or Infinite—idk but for AoKaga fight theme like before in Zone Fight WC) – Just Going
- LUCK LIFE – Kaze ga Fuku Machi (BSD ED OST S2)

You'll get it right away.

Enjoy reading!~ /( 0w0)/


.

.

.

Dua tim.

Bertanding di pertandingan yang sama.

Dimana kemenangan, harga diri, kepercayaan, dan nasib seseorang ditentukan di dalam kompetisi tersebut.

"Kita tunggu saja, siapa yang akan membawa pulang piala dan hadiah manisannya."

"Inilah saatnya. Final tip-off."

Hari itu, dimana semuanya akan berubah dan berakhir untukmu…

Dan dimana akhinya pertandingan Grand Final Piala Musim Dingin—antara Seirin High vs Rakuzan High—dimulai.


Title: About Them
Category: Anime/Manga » Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: D.N.A.Girlz
Language: Indonesian
Rating/Rated: T
Genre: Mystery/Romance


.

.

.

Semuaya tegang dan berdebar.

Keadaannya main serius dan terlihat sangatlah tanpa celah.

Adalah grand final dan dimana akan ditentukan siapa yang pantas untuk mendapatan gelar pemenang Piala Musim Dingin untuk periode kali ini.

Terlihat dirimu yang menatap denga harap-harap cemas, mengingat kalau inilah saaat penentuan dimana semua kerja keras kalian untuk sampai ke final akan terhasilkan—sebagai kemenangan ataukah kekalahan telak yang ditelan pahit-pahit.

Mungkin orang itu juga merasakannya dulu walau tak mengakuinya.

"Pintar juga. Rakuzan memang kuat seperti dugaanku." Sepupumu menatap tenang sambil duduk di pinggir lapangan bersamamu dan pemain cadangan lainnya.

Melihat semuanya, kau akan berjuang sebisa mungkin—walau sampai ke hal yang fatal pun tak masalah.

Asalkan Seirin menang, kau pun tak apa-apa.

Riko yang melirikmu pun bertanya, "(Name)-chan? Ada apa? Kau sakit?"

Mendengar tanyaannya, kau menggeleng pelan dan menatap lapangan.

"Aku membayangkan bagaimana Seijuurou-kun yang dulu.. Pasti dia sangat baik."

Bisa kau bayangkan, bagaimana berbedanya ketika dia berubah dari dulu hingga sekarang.

Dan sekarang ini nasibku berada di antaranya, pikirmu sambil menunduk pelan.

Tak banyak yang tahu, kalau ini adalah pertandingan yang mempertaruhkan segalanya. Harga diri tim, pemain yang bertanding, nasib dan takdir seseorang, serta ekkalahan dan kemenangan kan semuanya.

Bahkan dirimu sendiri juga dipertaruhkan.

Untuk kalah dan dibeli harga dirimu oleh Akashi Seijuurou—ataukah bebas dengan sayap bersama dengan tim Seirin.


.

.

.

Situasi makin genting, semuanya sudah dikerahkan dan para pemain makin tersengal-sengal hingga sampai pergantian pemain diandalan oleh kedua pihak.

Skor makin mulai tak seimbang walau dilihat sekilas. Furihata, Mitobe, Hyuuga, dan yang lainnya juga berjuang semua demi skor yang bisa dianggap sepele tapi bermakna bagi mereka.

Apalagi ditambah orang baru yang kau lihat itu—ternyata adalah pemain Rakuzan, Mayuzumi Chihiro. Kemampuan yang sama seperti Kuroko, membuatmu makin yakin kalau cara ini sama saja seperti istilah senjata makan tuan.

Ini adalah pertarungan yang sulit bagi Seirin.

Bahkan sampai semuanya pun mulai pecah konsentrasinya dikarenakan terprovokasi—terutama Kuroko yang mulai tak berdaya.

Hyuuga yang terkena peringatan dan terpaksa keluar, membuat rekan timmu makin depresi dan makin mencoba untuk bertahan walau memaksakan diri.

Kau mulai gelisah dan tetap memantrai dirimu dan semuanya agar tetap tak lengah dan bersatu lagi untuk memenangkan pertandingan. Walaupun para penonton yakin kalau Rakuzan menang, tapi kau masih tahu bahwa masih ada harapan, meski itu setitik cahaya.

"Aku ingin menang… bersama Seirin…."

Matamu membelalak saat Kuroko mengatakan itu di hadapan semuanya—membuat relung hatimu makin sakit dan meraskan kesungguhannya untuk bermain.

Apa yang bisa dilakukan sekarang adalah bermian dengan kesungguhan hati, mau kalah atau menang—tanpa peduli dengan komentar tim Rakuzan yang menyayangkan hal ini.

Kau tahu kalau Seirin itu kuat, kalian hanya harus menunjukkannya saja.

Bahan kau tahu kalau Akashi memprovokasi serta meyakinkan diri kalau Sieirn takkan bisa menang di pertandingan ini.

"Aku bertanding untuk menang hingga akhir yang menentukan."

Begitulah yang kau dengar dari ucapan sang pemain bayangan Seirin.

Apakah salah kalau kau menaruh harapanmu untuk ini?

Ya, harus.

Para bayangan juga bertarung 1-on-1 saat di tengah lapangan untuk kesekian kalinya. Kau juga merasa kalau Mayuzumi memang diatas level Kuroko—tapi dia tak punya niat untuk menang dan rasa kerja sama tim seperti Kuroko dengan Seirin. Kau tahu itu.

Setelah membuat skor mulai naik lagi, Rakuzan mulai ambil time-out. Mulai dari situlah, Kagetora mengusulkan fightback untuk kali ini—kedua tim membuat perlawanan sengit. Bahkan, Kagami selalu dijaga oleh Nebuya dan berhadapan dengan Akashi dalam face-to-face.

Kau mendekapan kedua tanganmu di dada, melihat intentisitas yang tinggi juga terbilang hebat ini.

Memang mengerikan, sampai harus seperti ini. Kau bisa merasaan bahwa Kagami menggunakan Zone yang berbahaya, dan Akashi menggunakan Emperor Eye andalannya.

Beruntung, Kuroko menggunakan Quasi-Emperor Eye dan membanu melanjutkan perjuangan tim Seirin di lapangan hingga mencapaikan angka 82 – 92 ketika Kagami mencetak skor.

Di saat itulah, kau merasakan hawa yang aneh pada Akashi yang melemah kekuatannya—seperti linglung dan meleset terus operannya.

Time-out kembali dilakukan, 86 – 92 setelah skor dan beberapa kali hasil dicapai dengan enam menit sudah mencapai 6 poin. Walau pun begitu kau tahu dia lelah, tapi Kagami tahu situasi permainan saat ini dan kembali bersama semuanya.

"Sebaiknya kita melihat situasi terlebih dahulu, baru kita putuskan untuk pakai taktik yang mana."

Hyuuga mengajukan untuk tetap waspada dan tidak menggunakan taktik yang beresiko besar bagi tim.

"Aku ada usul." ucap Kuroko saat mereka terdesak.

Mereka mulai berembuk dan mendiskusikannya.

Setelah tahu, kau merasa itu sangatlah berbahaya.

"Tapi, Riko-Oneechan, bagaimana kalau kita—"

"Jangan khawatir, kita pasti akan memenangkan pertandingan ini. Percayakan saja pada kami semua."

Kau menatap Kuroko yang mengangguk. "Itu satu-satunya cara."

Mau tak mau, akhirnya kau setuju dengan anggukan.

Semuanya, tolonglah berjuang…

Kau merasa bersalah tapi juga ingin sekali berjuang bersama mereka.

Time-out dilakukan oleh Rakuzan kembali, kau bisa lihat dari kejauhan saat Nebuya mencengkeram baju Akashi dan mengamuk padanya setelah Hayama—membuat mereka kembali berdiskusi di peristirahatan.

Selama itu pun, kau yang menatap para pemain lawan tapi malah terfokus pada Akashi yang terdiam saat Mayuzumi berbicara padanya.

Di saat itu juga, kau melihat orang tersebut sangatlah berbeda.

Dia… Dia itu yang…

Ternyata, memang itulah Akashi yang lainnya. Tetapi, selain itu—kekuatan Rakuzan mulai menguat kembali, membuat tim kalian terpojok.

Apalagi dengan yang dirinya yang baru ini, kekuatannya makin ditekankan lagi untuk menyerang—membuat Nebuya, Mibuchi, Mayuzumi, dan Hayama juga ikut Zone setelah Akashi mengawali mereka terlebih dahulu.

Kau mulai gelisah sekali lagi, bahkan menggigit bibir bawahmu sendiri untuk kesekian kalinya.

Bagaimana ini? Kalau sampai kalah…

"MAJUUUUUUU SEIRIN! JANGAN MENYERAAAAAHHH!"

Eh?

Kau mendongak kepada sumber suara.

"MAJUUUU! KUROKOOOO!"

Beruntung, seseorang yang menyaksikan pertandingan—yang kau pikir itu adalah teman masa kecil yang dibilang Kuroko—sehingga yang bersangkutan mulai semangat kembali hingga menangis bahagia.

"AYO TETSU!"

"SEIRIN!"

"JANGAN MENYERAH!"

Kau melihat Aomine, Kise, Midorima pun juga ikut bersorak menyemangati. Sahutan itu melebar hingga hampir sebagian penonton dan tim yang menyaksikan mendukung dengan sorakan, membuat tim mulai aada harapan dalam semangat lagi—khususnya Kuroko.

Syukurlah, pikirmu demikian. Kau mulai yakin kalau semuanya mulai bangkit lagi semangatnya.

"Kami akan menang dengan permainan basket 'kami'!"

Pertandingan dimulai lagi, Kagami mencapai batas dan masuk ke pintu Zone kedua. Kau hanya bisa terperangah akan hawa dan suasana permainan di lapangan. Dirimu tak berkutik dalam keheningan hati dan menyaksikan semuanya main berjuang keras.

"Membandingkan seseorang dengan orang lain dengan mudahnya, tapi dirinya sendiri tidak bisa membandingkan dirinya dengan orang lain adalah yang terangkuh."

Perkataan itu kau lontaran sebagai gumaman pelan, melihat Direct Drive Zone terjadi di permainan terakhir—berdoa kalau Kuroko dan Kagami bisa menyelesaikan dengan kemenangan dan membebaskanmu dari taruhan ini.

Para pemain Seirin mulai bergerak berontak dibantu oleh duo Seirin yang dihalangi, mempertahanan penjagaan dan agar mereka mencetak skor walau hanya sekali saja, menghasilkan 101 - 105, masih dibawah 4 poin dalam 27 detik tersisa.

Seirin mencegah serangan dari Rakuzan, dan mulai fokus pada rebound—tetapi tidak berhasil sehingga mulai lagi menuju sarang sang lawan main. Para pemain melihat Kiyoshi yang akan melempar, sedangkan Mayuzumi memperhatikan Kuroko bergerak cepat dan gesitnya menangkap bola. Dan benar saja, dia mendapatkannya dan bersiap untuk melempar.

Akashi langsung berlari dan menghalanginya.

"Semua sudah berakhir, Kuroko!"

"Tidak. Belum."

Kepalanya mendongak pada sang lawan, sebelum tersenyum tipis. "Karena, aku adalah bayangan."

Mata itu terbelalak.

"HYAAAA!"

Sebuah lemparan dan Kagami langsung melanjutkannya menjadi dunk dan mencetak angka.

Dan semuanya menjadi lambat maupun terlalu cepat—

—sebelum mengetahui bahwa Pertandingan telah berakhir ketika buzzer beater berbunyi di saat itu juga.

Seirin menang tipis dari Rakuzan dengan skor 106 – 105.

Semua telah berakhir.

Semua telah usai.

Seirin memenangkan pertandingan sekaligus pertarungan harga diri kalian semua.

Dan secara langsung; telah dipastikan bahwa kau telah bebas dari taruhan masa lalu.

Dengan Kuroko, Kagami, serta tim Seirin yang berjuang keras—mempertahankan dirimu dan membebaskan dirimu dari sangkar masa lalu yang berkarat.

Sorak sorai dan confetti dilemparkan, semuanya telah menentukan bahwa Seirin adalah pemenangnya. Sambil berpelukan dalam kebahagiaan, kau tersenyum bahagia dengan yang lainnya.

Kau menoleh dan menyadari kalau Kuroko mendekati Akashi untuk jabat tangan. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, kau langsung menghampiri mereka berdua.

Akashi mendapatimu mendekat dan menatap dengan tatapan yang sulit kau terjemahkan.

Kuroko juga menatapmu dengan senyuman kecil, "(Name)-san."

Kau mengangguk kecil padanya sebagai isyarat dan menoleh menghadap pada sang kapten Rakuzan.

Inilah dia… yang kau tahu sejak dulu. Dan kau berharap, kalau inilah memang saatnya—

Sebuah senyuman lembut terhias di bibirmu, menyambutnya dengan hangat.

"Salam kenal lagi… Seijuurou-kun."

Kedua mata merah pemuda itu perlahan melebar sesaat, sebelum melembut—diiringi oleh senyuman tipis yang menghiasi di bibir.

"Salam kenal lagi juga… (Name)."

Kali ini, dia memanggilmu dengan nama yang sopan. Bukan nama panggilan dan perintahan, tanpa ego dan arogansi.

Hanya nama panggilan yang terdengar mulus dan lancar.

Tanpa sadar, air matamu mengalir dengan deras sekali lagi.

"(Name)-san, kau menangis." celetuk Kuroko datar.

"A-Ah… Maaf." Bodohnya dirimu, sampai begitu. Kau menyeka airmata dan menatap kembali mereka berdua.

Akashi yang tetap memperhatikanmu berkata, "Kau sudah bebas sekarang. Aku minta maaf atas semuanya akan hal yang lalu."

"Tidak perlu. Aku tahu, kalian semua memang begitu. Sekarang aku mengerti akan ini." ucapnya sambil tersenyum tipis.

"Tahun depan, Rakuzan akan menang."

"Kita akan bertanding lagi, Akashi-kun. Seirin takkan kalah."

Dan mereka bersalaman kembali. Melihat itu, kau bersyukur bahwa semuanya telah berakhir dengan benar.

Upacara penutupan, penerimaan tropi dan medali, sekarang telah resmi kalian membawa kemenangan untuk Seirin.

"Ayo, semua. Bilang moto tim!"

"SEIRIN, FIGHT!"

Foto tersebut takkan kau lupakan seumur hidupmu.

.

.

.

TuBerColosis


(pojok review, monggo dimuntahkan #apaan XD :3 :D )

Hola minna!~

Maafkan saya yang telat sekali dan ini chapternya pendek sekali hiks qwq

Kalau bisa tolong dimaafkan yaaaa #nggak btw chapter ini pendek banget—karena kan soalnya udah mau akhir ending jadi sekiranya saya akan menambahkan scene2 yang penting saja hehe. Maafkan daku uvu #plakk

Btw the next chap is the ending chap. Yayyyy!~~~

Tak terasa dari beberapa tahun lalu saya menulis fic abal ini hingga sampe booming wkwkkwkw menurut saya mah masih banyak kekurangan dan saya selaku author mengucapkan banyak terima kasih atas review, flame, dan krisar dari para reader yang melihat. Saya terhura qwq #halahsoklu

Jadi sekian ya pojok review kali ini (karena ngetik di tengah pelajaran dosen killer sebelum uts selesai minggu depan lol #nekatan) sampai bertemu di ending akhir 'About Them'!~

Lots of love from me to you all readers! Byeeeeee~~~


See you next last chapter, people!~ XD :) :3

Best peace out,

D.N.A . Girlz