TAIL SIDE #3 - THE UNEXPECTED TRUTH

Disclaimer: Shingeki no Kyojin is not mine. It all belongs to Isayama-Sensei.

.

.

.

[Apartemen Ackerman]

06.15 P.M.

Pancaran sinar matahari mulai memudar seakan dia lelah untuk menyinari hari dan ingin segera kembali dalam selimut cakrawala hingga tugasnya tergantikan sang rembulan. Namun langkah kaki setiap insan dikota itu tak pernah habis melintasi jalan-jalannya, sebutan kota yang tak pernah tidur tersemat dalam batin setiap manusia saat mendengar nama kota tersebut.

Matahari yang mulai membenamkan sebagian wajahnya dalam senja, disambut oleh bulan yang mengintip dengan malu di ufuk timur, merahnya langit dan hembusan semilir angin malam yang mulai berhembus. Seseorang yang sedang terduduk menikmati teh hangat yang baru saja dibuatnya turut menyaksikan paduan fenomena indah tersebut di beranda apartemennya.

Rambut hitam kecokleatan diikat kebelakang membentuk sebuah ponytail yang hampir mencapai tengkuk. Kacamatanya berembun saat dia meniup teh hangat dalam cangkir yang diangkat sejajar dengan wajahnya. Dia sangat menikmati momen tersebut karena itu merupakan hari yang panjang dan cukup melelahkan baginya. Beban pikiran yang cukup berpengaruh untuk mempengaruhi kelelahan fisik.

Hanji, masih berpikir akan semua kemungkinan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Walau sangat tak mungkin dan betapa tak masuk akalnya situasi ini, yang dia bisa lakukan sekarang hanya menerima kenyataan yang dia hadapi dan menjadi dirinya sendiri. Sempat terpikir apakah selama puluhan tahun dia hidup di Pulau Paradis, bertempur bersama Scout Legion dan hal lain yang pernah dialaminya itu hanyalah sebuah mimpi panjang dari jelmaan dirinya sekarang.

Tapi Hanji menolak asumsi itu, otak ilmiahnya tidak akan membiarkan dirinya mengambil kesimpulan tanpa bukti yang kuat. Dibuai semilir angin malam yang mulai mengalir melintasi tubuhnya, Hanji mengganti pegangan cangkir dengan tangan kiri lalu mengangkat telapak tangan kanannya dan menghela nafas panjang saat teringat dengan apa yang telah seseorang jelaskan beberapa jam sebelumnya.

"Hmmh, tetap saja… Menikah… ya?" sembari menutup senyuman tak percaya diwajahnya dengan telapak tangan tersebut.

.

.

.

[Sekitar 11 Jam Yang Lalu]

"A-apaaaaaaaaaa????"

Alangkah terkejutnya Hanji dengan fakta yang baru saja Levi katakan. Kakinya melangkah menuju pagar pembatas beranda, matanya berdansa untuk menyadari sekelilingnya. Tempat dia berpijak bahkan mungkin lebih tinggi dibanding Dinding Maria, Rose ataupun Sina, bangunan-bangunan pencakar langit mengelilingi seluruh pandangan dari matanya yang kebingungan.

Dibawah sana, terdapat jalan-jalan yang besar dipenuhi manusia yang lalu lalang dan bersesak-sesakan, kendaraan yang dia lihat juga bukan kuda atau kereta, namun kereta logam yang berjalan tanpa kuda! Sangat padat dibanding saat evakuasi Dinding Rose setelah penyerangan Titan setahun yang lalu (dalam pikiran Hanji).

Kedua lututnya terasa lemas dan membuatnya jatuh terduduk berdekatan dengan pagar pembatas beranda apartemen 'mereka' itu. Asing, ini sangat tak masuk akal… Ini bukan duniaku, tapi mengapa ada Levi disini, dan juga dia… Suamiku? Pikirnya yang tanpa sadar mulai tertawa pelan untuk menenangkan dirinya, tawa atas ketidakpercayaan apa yang telah terjadi.

"Nah… Levi… Aku tidak sedang bermimpi-kan? Apa aku sudah gila?"

Hanji kembali melempar pandangannya ke arah lelaki yang lebih pendek darinya tersebut, kali ini matanya berkaca-kaca dan hampir menjatuhkan rintik hujan yang hangat dari kedua kelopaknya. Levi yang melihat itu langsung berjalan dan meraih lengan Hanji yang masih terduduk dalam kebingungan.

"Hei, duduklah dulu dan tenangkan dirimu. Aku tahu kau kebingungan dan mungkin merasa syok dengan apa yang terjadi. Jadilah anak yang baik saat kau duduk disana, aku akan mengambilkan beberapa cemilan dan minuman untukmu."

Mendengar itu, Hanji berusaha bangkit dengan bantuan Levi lalu duduk ditempat yang Levi duduki sebelumnya. Kedua telapak tangan mengepal diatas pahanya saat duduk dengan sikap sempurna, mencoba menenangkan diri. Pandangannya yang kosong menatap lekat punggung Levi yang kembali ke dapur untuk melakukan apa yang dia katakan sebelumnya. Hanji pun menunggu dalam keheningan.

Beberapa saat berlalu, Levi keluar membawa dua cangkir minuman dan sepiring makanan yang berisi beberapa potong sandwich. Hanji masih menatap Levi yang berjalan kearahnya masih tanpa satu kata pun yang menghiasi bibirnya. Setelah meletakkan baki yang dia bawa dari dapur tersebut, Levi menarik kursi lain dan duduk berhadapan dengan Hanji.

"Makanlah, kau pasti lapar… Dari kemarin kau belum makan, Hanji…"

Apa? Kemarin? Ah, iya Hanji ingat kalau kemarin Levi juga mengantarkan makanan saat dia terkulai lemas ditenda akibat diterjang ombak, persis dengan kejadian sekarang dan dia tidak memakannya karena lebih memilih untuk beristirahat. Iya, Hanji masih ingat kalau semalam dia masih ada di pantai bersama yang lain, namun sekarang dia tidak tahu berada dimana.

Diambilnya sepotong sandwich, saat lidahnya mengecap rasa makanan tersebut dia merasakan bahwa sandwich ini memiliki rasa yang luar biasa enak dan berbeda dari yang pernah dia rasakan sebelumnya. Levi kembali duduk dengan menyilangkan kakinya dengan indah, sembari memerhatikan Hanji dia menyesap cangkir kedua yang diminumnya pagi itu, sampai…

"Eh, Levi… Ini bukan teh?"

Levi mengangkat sebelah alisnya lalu membalas…

"Tentu saja, sejak kapan dirumah ini ada sesuatu seperti teh?"

"Hah? Bukankah yang kau minum itu teh? Teh hitam bukan?"

"Apa yang kau katakan Hanji? Bahkan sejak pertama kali kita bertemu, kau sudah tahu kalau aku membenci teh…"

"Ja-jadi itu…"

"Kopi hitam, americano… apa yang aneh jika aku menyukainya?"

"E-eeeeeeh?" Hanji langsung bangkit dan merebut cangkir yang dipegang Levi dan meminumnya tanpa pikir panjang lalu menyemburkan kembali apa yang baru saja dia minum… "A-apa-apaan kopi itu? Kau mau mati habis minum racun itu, hah?" Teriaknya.

"Tsk, berisik… Lagipula kau tidak perlu mengotori lantai ini hanya untuk menghina kopiku, Hanji. Kau tidak pernah mau bersih-bersih, kau selalu mengharapkan cleaning service untuk membersihkan semua, bahkan jika aku pergi lebih dari sebulan, apartemen ini akan menangis karena kekacauan yang kau buat…"

Uwah, omelannya masih tetap sama… Sang dewa kebersihan akan selalu mempermasalahkan hal kecil seperti itu, tapi entah kenapa senyuman lega mengembang dikedua bibir Hanji, dia merasa Levi tetaplah Levi meski ada beberapa hal yang berubah darinya.

"Iya-iya, nanti aku akan bersihkan itu 'pendek'… Tapi kenapa kopi yang kuminum manis? Kukira kau akan meracuniku dengan kopi hitam beracun macam itu."… alis Levi kembali terangkat setelah mendengar kata 'pendek' itu lagi.

"Aku hanya membuatkan kopi kesukaanmu, bodoh… Ya tuhan, kau bahkan tak ingat dengan kopi kesukaanmu itu? Tch, bagaimana kau masih bisa mengingatku… Kau pernah bilang jika kau amnesia kau bahkan lebih mengingat kopi kesukaanmu dibanding aku…"

Eh? Hanji mengerjipkan matanya, tidak menyangka akan dijawab Levi dengan jawaban yang berbeda dari yang dia harapkan. Dia pikir Levi akan menjawab, "Aku hanya membuatkan kopi yang standar dilidah manusia dan bla bla bla…", seperti yang pernah dia berikan saat memberikannya secangkir teh manis di tenda pinggir pantai semalam.

Wajah Hanji makin memucat saat kembali mengingat kejadian dimalam sebelumnya itu, entah mengapa kepalanya terasa sakit, seperti ada sesuatu yang menghalangi ingatannya lebih jauh. Diminumnya kopi yang lebih manis dihadapannya lalu mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Levi.

"Hei, Levi… Hm, apakah kau mau menjelaskan apa yang sedang terjadi… Aku sepertinya tidak bisa mengingat apapun… Bagaimana dengan ekspedisinya? Bagaimana dengan yang lain? Apakah ada Titan yang menyerang?"

"Tch, nampaknya efek halusinogen obat itu masih belum hilang…"

"Huh… Apa ada yang salah?"

Hanji menguatkan hatinya untuk menerima apapun penjelasan Levi, apapun itu, sampai dia dapat mengambil kesimpulan yang kuat dia harus mengumpulkan bukti dan fakta yang berceceran walau sekecil apapun itu, otak sistematisnya terus membuat dirinya tenang.

"Kau mengalami amnesia, Hanji… Nampaknya lebih buruk dari yang diperkirakan dokter."

"A-apa?"

Hanji menengadahkan telapak tangan kanannya kearah Levi untuk memberi isyarat berhenti sejenak, untuk memahami. Amnesia? Lupa ingatan? Apa yang terjadi? Semua makin tak masuk akal, mengapa dia serasa berada didunia yang berbeda, semakin Hanji memikirkannya, semakin dia merasakan sakit dikepalanya.

"Ugh…"

"Oi, kau tidak perlu mengingat hal yang tidak perlu, aku akan menjelaskan apa yang ingin kau tahu…" ucap Levi seraya mengembalikan cangkir keatas meja didepannya.

"Uh, jadi bagaimana ekspedisinya, apakah berhasil?" Satu-satunya ingatan yang masih tersentuh dalam benaknya adalah sebuah ekspedisi. Hal ini karena merupakan tanggung jawabnya sebagai Komandan Scout Legion dan murni rasa ingin tahunya lah yang mendorong agar ekspedisi ini berjalan.

"Dengar, Hanji. Kau tidak pernah melakukan satu ekspedisi-pun. Selama ini kau hanya menyelidiki sebuah kasus dan kau tidak pernah berekspedisi. Kau mungkin berhalusinasi karena obat yang kuberikan sesaat sebelum kau sampai dirumah sakit. Kau benar-benar menggila, jadi aku perlu menenangkanmu."

"Ta-tapi…" Kata-katanya terhenti.

Ingin rasanya Hanji menyanggah apa yang baru saja dikatakan Levi, tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menerima segala penjelasan Levi saat ini, walaupun sebenarnya sugesti itu dia gunakan jika jawaban dari Levi adalah seperti "Ekspedisi gagal karena serangan Titan", tapi apa boleh buat, semakin dia tidak menerima maka akan semakin sulit dirinya mengumpulkan petunjuk dan mendekati kebenaran.

Fakta yang sudah dipahami Hanji saat ini adalah dia tidak berada di Pulau Paradis, lalu dia diklaim sebagai seseorang yang lupa ingatan dan yang terakhir adalah disini merupakan dunia yang berbeda. Semua terasa asing baginya, Levi yang dikenalnyapun memiliki sifat yang sedikit berbeda. Hanya saja dia merasa kalau pernah menjalani kehidupan ini sebelumnya.

Seperti tulisan yang berbeda dari Pulau Paradis namun dia masih bisa membacanya, lalu smartphone dan beberapa alat lain yang awalnya asing sudah mulai dia pahami sedikit demi sedikit (seperti kembali dalam pikirannya). Jadi dia memutuskan untuk memainkan perannya didunia yang berbeda ini bukan sebagai Komandan Scout Legion dari Pulau Paradis, namun hanya seorang wanita yang mengalami amnesia dan mencoba mengingat apapun yang sedang terjadi.

Suasana di beranda apartemen itu menjadi hening dan mulai tenggelam dalam ramainya hiruk-pikuk aktifitas pagi hari dikota tersebut. Hanji menghela nafas berkali-kali dan melanjutkan pembicaraannya dengan sang Lelaki.

"Nah Levi, maaf…apa kau tidak keberatan untuk menjelaskan lebih lanjut. Siapa sebenarnya aku, apa yang sebenarnya terjadi hingga sat ini?"

sigh* "Tentu saja aku tidak keberatan, hanya saja tingkahmu itu cukup aneh untuk ukuran seseorang yang baru saja kehilangan ingatannya. Kau membuatku sangat terkejut."

"U-ugh… Maaf…"

"Dengar… Kau adalah Hanji Zoe, kau tidak mengenakan nama Ackerman karena kasus yang kau selidiki. Saat ini kau berada di London, jauh dari kota kelahiranmu di Marseille. Saat ini kau seorang kepala Divisi Forensik Satuan Kepolisian London. Kau itu sangat cerdas dan mendapatkan gelar doktoral saat masih berusia 24 tahun di Cambridge University."

Hanji tercengang dengan fakta yang dibeberkan Levi, namun entah kenapa Hanji memahaminya. Seperti kata-kata London, Marseille bahkan Cambridge yang baru saja dia dengar malah dia pahami karena dia merasa pernah melalui itu semua, bagus pikirnya sehingga dia tidak perlu kerepotan lebih jauh,

"Lalu, apa yang menyebabkan aku amnesia, Levi?"

"Semalam kau menerima laporan dari Moblit bahwa-" belum sempat Levi selesai menjelaskan, Hanji berdiri dengan refleks dan menghentakkan meja.

"Mo-Moblit masih hidup???"

Ekspresinya sontak membuat Levi terkejut, pertanyaan itu lebih seperti tidak percaya, bukan merujuk pada kekhawatiran… Seperti Moblit telah lama tiada pikir Levi.

"Hei, tenangkan dirimu, mata empat sialan… Aku belum selesai menjelaskannya…" Levi menegur Hanji dengan tatapan yang sangat runcing.

"Ma-maaf." Hanji kemudian kembali duduk dikursinya.

"Moblit tidak apa-apa, dia hanya menderita patah tulang dan beberapa luka bakar. Aku akan melanjutkan, Kau dan Moblit mendapatkan panggilan investigasi di TKP pasca pembunuhan yang dilakukan Kenny semalam."

"Kenny…?"

"Ya, dia adalah tersangka kasus pembunuhan berantai yang kasusnya sedang kau tangani sejak lima tahun terakhir. Kaulah yang mengungkap keberadaan pembunuh sialan itu, dan mungkin karena itulah dia menjadi geram dan meninggalkan Samtex di TKP untuk membunuhmu, Hanji."

"Heh…"

"Untung saja Moblit sempat mendorongmu keluar melalui jendela, meski kau terselamatkan oleh tumpukan sampah dilorong samping bangunan TKP, tetap saja kau terbentur puing reruntuhan lalu pingsan setelahnya…"

Pembicaraan terus berlanjut antara Hanji dan Levi, seperti Hanji yang ingin memastikan keberadaan orang-orang yang dikenalnya. Levi menjelaskan sambil menyesap kopi hitam kesukaannya. Levi sendiri adalah seorang Pimpinan Squad Khusus Penyelidikan dari Kepolisian, hanya berbeda divisi dari Hanji. Anggota squad yang Levi pimpin masih sangat familiar ditelinga Hanji seperti Eren Jeager, Mikasa Ackerman, Jean Kirsctein, Connie Springer, dan Sasha Brauss.

Sedangkan Armin Arlert saat ini sementara menggantikan posisi Hanji di Divisi Forensik karena absennya Hanji dan Moblit selaku Kepala dan Wakil Divisi. Hanji cukup senang mengetahui kalau Erwin masih aktif sebagai atasan mereka, namun tidak ingin melanjutkan bertanya saat Levi menjelaskan bahwa Gunther, Urd, Oluo dan Petra sudah lama tiada dan terhitung sebagai korban dari kekejaman Kenny.

Setidaknya penjelasan ini sedikit membuatnya merasa lebih lega dibanding saat pertama dia syok dan tidak dapat menerima keberadaannya didunia lain dimana tidak ada kengerian tentang Titan, hanya ketakutan akan seoarang pembunuh berantai yang haus darah mengincar nyawa mereka.

.

.

.

[Apartemen Ackerman]

08.30 P.M.

Setelah membiasakan dirinya dengan dunia baru yang dipijaknya, Hanji sudah lancar untuk menggunakan Smartphone miliknya, LED TV untuk menonton beberapa tayangan, kompor dan peralatan dapur elektronik lainnya untuk memasak dan hal lain sebagainya.

Sungguh hari pertama yang sangat melelahkan untuk dirinya yang baru saja tiba dan langsung diserang Culture Shock. Namun karena Levi, dia mampu melaluinya.

"Ah, Levi lama sekali. Apa yang membuatnya begitu lama untuk pulang…"

Tak pernah terbayangkan sebelumnya Hanji menanti kedatangan Levi kerumah mereka. Walau sebenarnya dia masih ingin membicarakan banyak hal, tapi Levi harus segera kembali kekantornya pagi itu untuk melaporkan semua yang telah terjadi. Hanji berbaring kedalam kamar dan menyetel penghangat ruangan, tenggelam dalam simulasi dan merenungkan apa yang telah terjadi padanya hari ini.

Satu hal yang masih membuatnya terkejut, membuatnya teringat pada kharisma seseorang yang memang selama ini dia kagumi, seseorang yang selalu ingin dibuatnya tersenyum namun terus gagal, lalu Hanji membenamkan wajahnya yang tersipu malu kedalam gumpalan selimut hangatnya.

Saat ini dia adalah Nyonya Ackerman, seorang istri dari Levi Ackerman.

.

.

.

[Suatu Tempat di Pinggiran London]

Clak

Suara gembok yang terbuka dari sebuah pintu besar yang mengarah dalam sebuah gudang tua yang sudah lama tak terpakai menuntun langkah seorang wanita berambut pirang untuk menyusurinya. Keheningan tanpa ada hawa kehidupan tak membuatnya takut dalam kesendirian. Tibalah sang wanita pada sebuah ruangan kecil lalu mengeluarkan sebuah kunci dibalik kantongnya.

Saat kunci tersebut membuka pintu ruangan yang nampak seperti brankas besi tersebut, seorang sosok dibalik bayangan gelap yang menyelimuti memutar-mutar sebuah senjata api di telunjuk kanannya. Kakinya menyilang keatas meja, asap yang berhembus berasal dari cerutu yang tersemat dikedua bibir sosok pria bertubuh besar tersebut. Wajahnya terhalang sebuah topi High-Top sewarna dengan kegelapan ruangan tersebut.

"Hei orang tua... wanita Ackerman itu masih hidup. Kau harus memikirkan langkahmu selanjutnya dengan lebih hati-hati." Suara wanita tersebut memecah keheningan.

Sang sosok dibalik bayangan hanya terdiam sesaat, hingga akhirnya sebuah tawa terlontar dari mulutnya.

"Apa yang kau katakan? Itu semua sesuai dengan apa yang kurencanakan, Annie... Hahaha... Hahahahaha!"

.

.

.

TAIL SIDE # 3 END

-To be Continued

~ Justaway-Madao