TAIL SIDE #4 - BED TALK
Disclaimer: Shingeki no Kyojin is not mine. It all belongs to Isayama-Sensei.
.
.
.
[Siang Hari, 9 Maret… ]
Sekitar 7-8 Sebelumnya
Sinar matahari yang sedang terang-terangnya menaungi siang hari di seluruh kota London, sedikit awan terlihat sedang mengajak beberapa hembusan sisa-sisa angin musim dingin untuk menari dibawah teriknya panas. Sebuah cuaca yang sangat rentan untuk membuat tubuh manusia jatuh sakit seketika.
Jauh dipinggiran kota dengan segala hiruk-pikuknya. Disebuah gudang bekas yang sudah terabaikan dari segala aktifitasnya, tak seorangpun yang mendekatinya. Nampak seorang lelaki tua bertubuh jangkung berjalan dengan lunglai dan membuka salah satu pintunya yang besar tersebut.
Winter coat, sarung tangan, cravat putih, celana jeans dan sepatu laras yang dikenakannya nampak hitam keseluruhan. Walau raut wajahnya tertutup dibawah naungan topi high-top yang tetap selaras dengan fashion-nya yang sangat mencurigakan tersebut, tak ada satu kehidupan pun disana yang menyaksikan kehadirannya saat memasuki gudang besar itu.
Segera saat dirinya ingin memasuki lebih dalam, sebuah ruangan yang nampak lebih kecil dan lebih kokoh dibanding penampilan luar dari sebuah gudang tua tadi, sebuah benda dikantong jaketnya bergetar dengan sebuah alunan musik orkestra lembut ciptaan Beethoven, perlahan dikeluarkanlah smartphone miliknya yang menunjukkan panggilan masuk tersebut.
Melihat nama yang tertera dilayar smartphonenya, si pria tua hanya mendengus seakan malas untuk mengangkatnya. Dengan berat hati dia menjawab panggilan melalui handsfree ditelinga kirinya sembari kedua tangannya merogoh kunci untuk memasuki ruangan yang nampak seperti brankas raksasa tersebut.
"Yo, halo kawan lama… Lama tak berjumpa… Tumben sekali kau meneleponku-" Ujar Kenny membuka percakapan via telepon itu, tanpa menunggu lama suara disisi lain telepon langsung menghentak dengan nada tinggi yang menandakan ketidakpuasan sang penelepon.
"Hentikan permainan bodohmu itu Kenny! Aku sudah muak dengan segala permainan bodohmu itu. Segera tuntaskan tugasmu dan kau akan menerima bayaranmu segera."
"Hei, hei… Tenanglah sedikit Mr. Zeke… Kau tidak perlu buru-buru. Apalah seninya memakan apel tanpa mengiris kulitnya dengan indah? Lagipula uangku masih banyak, biarkanlah aku menikmati momenku untuk sementara." Jawab Kenny yang sudah memasuki ruangan dan bergerak untuk menyajikan secangkir Whiskey dingin untuk dirinya sendiri.
"Kenny, aku tidak akan memberi keringanan padamu. Apa kau sudah lupa dengan apa yang telah negara lakukan pada kita, hah? Kita hanya dimanfaatkan layaknya seekor babi ternak yang dibuang saat sudah tidak dibutuhkan lagi."
"Hn…"
"Kau… Akan kupertegas sekali lagi, apa kau masih berpihak padaku? Aku bisa dengan mudah mengakhiri nyawamu jika Annie melaporkan kecurigaan tentang dirimu, kau tahu!"
"Zeke… Aku tidak pernah mengkhianati keloyalanku pada pihak yang telah memberikan tawaran tertinggi-nya, kalau kau sampai meragukanku, aku bahkan juga bisa dengan mudah mengakhiri hidupmu, kau tahu… Yah lagipula batas deadline misiku ini masih tersisa seminggu lagi bukan. Aku bahkan mampu untuk menyelesaikannya dalam 1 hari terakhir, wahai mantan perdana menteri yang terhormat!"
"Tch, asal kau tahu… Jika misi ini sampai gagal, kau tak akan pernah punya tempat untuk dipijak lagi… Rencana berubah, Annie akan membawakan detailnya padamu malam nanti. Kau akan bergabung dengan aset-ku yang sudah berada di London sejak dua hari yang lalu. Perhatikan langkahmu selanjutnya, Tuan Ackerman…"
Tuut tuut tuut… Telepon ditutup secara sepihak oleh sang penelepon, Kenny terdiam dalam hening sambil mencium aroma Whiskey, terhanyut dalam alkohol yang menguap lalu menenggaknya. Mendengus panjang sembari mengeluarkan beberapa senjata laras pendek yang bersemayam dibalik jaket panjangnya.
"Haah… Jika misinya gagal, ya…" Tak lama berselang, smartphonenya kembali bergetar, kali ini sebuah pesan dari sang penelepon sebelumnya, sebuah data profil aset yang dikirim untuk bekerja sama dengannya,
"Hm? Reiner dan Bertolt ya, heh… Sepertinya akan menarik…" Perkataannya itu diakhiri dengan sebuah senyum yang terpancar dari wajahnya yang sudah mulai keriput.
.
.
.
[Apartemen Ackerman]
Hanji nampak gelisah dalam tidurnya, tubuhnya perlahan merasakan hawa kehadiran seseorang sedang berada didekatnya. Perlahan dia membuka matanya dan mendapati sebuah sosok sedang duduk dikursi sebelah ranjang dimana dia sedang terbaring. Sebuah sosok yang sudah ditunggunya untuk pulang, seorang sosok Kapten yang ada didalam hatinya.
Matanya teralih pada jam yang tergantung didinding, jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Hanji mengumpulkan kesadaran dan bangkit dari posisi tidurnya. Pergerakan itu membuat sosok yang duduk disebelahnya melemparkan pandangan kearahnya.
"Kau sudah bangun, Hanji?" Tanya sosok yang dia kenal sebagai suaminya saat ini.
"A-ah, iya… Aku sudah menunggumu sejak pukul 8 malam tadi Levi… Kemana saja kamu, sa-sayang…?" Tanyanya dengan sebuah panggilan yang malah membuat sensasi aneh dalam pikirannya.
"Maaf, aku harus mengarahkan anak-anak untuk membantu investigasi lanjutan dari divisimu. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan?"
"Ah, iya… Sudah mendingan… Apa kau sudah makan? Aku membuatkanmu steak dan beberapa salad-"
"Iya aku tahu, aku sudah memanaskannya saat pulang tadi dan langsung memakannya. Sepertinya dirimu sudah terbiasa dengan beberapa kebiasaan harianmu, seperti selalu meninggalkan makanan didalam kulkas jika aku tidak sempat untuk makan malam bersamamu…" ucapnya kembali pada aktifitas yang sedang dilakukannya diatas kursi.
"A-ah, aku hanya berpikir kalau itu harus kulakukan. Kau tidak tidur Levi…?"
"Aku juga baru bangun, entah kenapa aku merasa tidak bisa mengendurkan penjagaanku saat ini."
"Eh? Tapi kenapa aku tidak merasakan kalau kamu tidur disampingku sejak tadi?"
"Hmmh, Hanji, kau juga bahkan tidak ingat kalau aku selalu tidur dikursi ini?"
"Ka-kalau itu sih aku tahu, hanya saja… Ki-kita kan me-me-menikah… Apa kau tidak pernah tidur bersamaku diranjang ini?" tanya Hanji gelagapan, masih tidak percaya bahwa mereka telah menikah namun mencoba meng-kondisi-kan dirinya saat ini.
"Hanji…"
"Hm?" Sahut Hanji penasaran.
"Aku akan selalu tidur diranjang jika kau memintaku, menarik dan menyeretku dan yang pasti aku selalu tidur disana sehabis kita melakukan 'itu', apa kau tidak ingat? Ah, iya aku lupa kalau kau amnesia…"
"Itu?"
"Ya, itu…"
"Itu, apa…"
"Cih, apa yang biasa dilakukan oleh sepasang suami-istri dikamar mereka, kacamata sialan…"
"O-ooh…" sembari mengetuk kepalan tangan kanan diatas telapak kirinya.
"Kenapa? Kau mau melakukannya sekarang?"
"A-aah… Tidak dulu yah sa-sayang… Kau terlihat sangat lelah… Tapi apa yang sedang kau lakukan?" Wajahnya memerah, saat menyadari hal yang dilakukan suami-istri itu harusnya mengarah pada apa yang biasa mereka lakukan. Hanji langsung mengalihkan pembicaraan untuk menutup rasa malunya.
"Ah, ini? Aku hanya membersihkannya, ini adalah SIG Sauer P320, handgun kesayanganku… Aku sudah melalui banyak hal bersamanya sejak pertama kali dia diproduksi. Perkenalkan, namanya Historia." Levi mendekatkan sebuah pistol yang sedang diusapnya kearah Hanji
"Historia? Mengapa namanya sama dengan nama Sang Ratu?"
"Ah, ada kisah dibaliknya…" tatapannya kosong, nampak mengenang sebuah momen dimasa lalu.
"Nah Levi… Maukah kau berbaring disampingku dan menceritakan lebih banyak hal? Sepertinya aku masih membutuhkannya. Dan juga tentang Mikasa…"
.
.
Pandangan Levi yang kosong tersebut buyar, membuat matanya tertarik pada gestur tangan Hanji yang menepuk ruang kosong disampingnya. Sang lelakipun menghentikan aktifitas perawatan senjata kesayangan miliknya dan bergerak menuju wadah yang dipersiapkan sang istri.
Levi berbaring tepat disisi kiri Hanji, masuk dalam hangatnya dekapan selimut bercampur penghangat ruangan mereka. Matanya masih menatap langit-langit kamar, namun tangannya segera menggenggam tangan Hanji dibalik selimut hangat itu. Masih dalam hening yang menyelimuti, Hanji khawatir dengan kondisi Levi tersebut, apakah harusnya dia tidak bertanya, karena mungkin akan mengarah kepada hal yang tidak ingin dibicarakan sang suami.
"Sayang… Kenapa tatapanmu seperti itu? Apa sebaiknya kita istirahat saja?"
"Ah, maaf… Jadi kau ingin mulai dari mana Hanji…"
"Hmm… Bagaimana tentang SIG Sauer P320 kesayanganmu itu dulu… Mengapa kau menamainya dengan nama Sang Ratu?" ucapnya antusias namun berusaha untuk berhati-hati.
"Apa kau sudah tahu? Darimana aku berasal?" Levi langsung balik melempar pertanyaan.
"Ya, Mikasa menceritakannya sedikit… Kau adalah keturunan Bangsawan Militer tersohor di negeri ini, entah kenapa aku sedikit terkejut saat tahu bahwa Mikasa adalah keponakanmu, namun aku tidak mengerti apa yang membedakanmu dengan Mikasa? Yah, Mikasa sempat bilang kalau kau berbeda dengannya." Jawab Hanji sambil kembali mengingat saat Mikasa berkunjung kerumah siang hari sebelumnya.
"Hoo… Begitu… Ya, itu memang benar… Jika dilihat ayah Mikasa adalah sepupuku…"
"Lantas apa hubungannya dengan nama pistol itu?"
"Dengarkanlah, dulu keluarga Ackerman memang bangsawan Militer terkuat di negeri ini. Sampai ada suatu kasus percobaan pembunuhan terhadap Penguasa sebelum Ratu Historia dan proses kudeta yang mengiringinya." Levi mulai menguraikan sebuah kisah dimasa lalu.
"Yah sangat rumit, intinya saat itu aku masih hidup dalam pengasinganku di Jerman, kami keluarga Ackerman sudah tidak diakui sebagai warga negara Inggris. Konon, proses percobaan pembunuhan itu dilakukan oleh seorang Ackerman dan kami menerima dampak akibatnya. Ah, proses kudeta itu terjadi dilain hari, saat itu Sang Ratu bahkan belum lahir."
"Disaat yang sama, ayah Mikasa melarikan diri ke negeri timur jauh, dan menikahi ibu Mikasa yang seorang ras Asia. Dalam pelariannya tersebut, pasukan pembersihan yang ditunjuk pemerintah palsu membunuh kedua orang tua Mikasa namun Mr. Dan Mrs Ackerman itu sempat menghilangkan jejak anak semata wayang-nya tersebut."
"Ja-jangan-jangan…"
"Ya, sejak saat itu Mikasa yang masih kecil diadopsi oleh keluarga Jeager yang sedang bertugas disana. Sepupuku itu berhasil menghubungi Dr. Jeager sebelum kematiannya, dan membuat Dr. Jeager menerima pesan kematiannya tersebut, untuk mengadopsi dan melindungi Mikasa. Mereka kembali ke Britania Raya, dan Mikasa dijamin atas nama keluarga Jeager dan mendapatkan hak warga negara melalui cara itu."
"Tentang tim pembersih itu… Apa kau baik-baik saja saat itu Levi?"
"Ah, saat itu aku aman… Karena pada saat itu aku dirawat oleh Kenny…"
"A-apaa???"
"Kau mungkin tahu kemampuanku dalam segala hal, hand-to-hand combat, sniping, pembunuhan tanpa jejak dan semua tentang itu. Semua diajarkan langsung oleh Kenny saat aku masih muda, dan sebelum kami berpisah jalan."
"Tidak mungkin…"
"Kenyataannya iya… Kau bahkan masih tetap ingin kunikahi setelah tahu itu semua, bodoh… Dasar keras kepala…Kau bahkan sering mengatakan pada semua personil kalau ingin tahu kisaran kekuatan Kenny, anggap saja kalau itu aku yang berada dipihak lawan."
"Ehehe… Jadi aku begitu ya… Te-he…"
"Kulanjutkan, hari itu aku baru saja menyelesaikan misi 'dunia hitam' yang ku emban dan langsung mendapatkan panggilan dari klien baru. Tak tanggung, dia memberikan bayaran yang sangat besar dibanding semua misi yang pernah kujalankan dan juga hak kewarganegaraan kembali. Apa kau tahu siapa klien itu?"
"Ah~ Jika aku tahu mungkin aku akan tertidur memelukmu dan menjadikan ceritamu itu sebagai dongeng sebelum tidur, dasar 'pendek' ahahah- Ouch…" ledekan Hanji terhenti saat Levi memukul kepalanya dengan lembut.
"Dia adalah Zeke, Zeke Jeager… Perdana Menteri termuda dalam kabinet dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dunia kegelapan politik. Secara de facto dia adalah anak dari Dr. Jeager, namun berbeda ibu dari Eren. Zeke sendiri yang meng-eksekusi ibu kandungnya. Dia menyadari adanya pemberontakan dibalik kepemimpinan 'Raja' pengganti yang ditunjuknya setelah menghilangnya Sang Ratu Frieda Reiss saat itu."
"Menghilang? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"
"Sampai saat ini, tak ada seorangpun yang tahu… Bahkan dari para tetua diparlemen juga tidak ada seorangpun yang mengetahui faktanya."
Kisah ini, sangat familiar, seperti yang dialami Hanji di pulau Paradis, 80% sangat mirip dengan beberapa alur dan role-play yang berbeda. Mengingat itu, Hanji langsung memberanikan diri untuk bertanya, memastikan perannya didunia yang baru baginya ini.
"Levi, maafkan aku… Apakah aku mengetahuinya, fakta tentang Ratu Reiss? Apakah ada hubungannya dengan Dr. Jeager?"
"Dr. Jeager? Kau bicara apa? Kau sudah menginvestigasi hal itu bahkan sejak sebelum kita bertemu, tapi hasilnya adalah nihil. Kau bahkan sering bersimulasi tentang kemungkinan yang terjadi saat bersamaku seperti ini, namun tetap saja itu tidak mengubah apapun."
"Begitu ya…" Untuk beberapa hal, Hanji merasa lega, namun masih ada rasa gelisah dalam hatinya. Karena sepengetahuannya di pulau Paradis, Frieda Reiss dimakan oleh oleh Grisha Jeager, agar Grisha mendapatkan kekuatan 'koordinat' dari keluarga Reiss. Mungkin dia juga penasaran apa yang terjadi dengan Frieda didunia ini, maka dari itu dia memastikan dengan bertanya.
"Ingin kulanjutkan?" Levi membuyarkan lamunan Hanji.
"Ah, iya silahkan…"
"Golongan yang tidak puas dengan Sang Pimpinan Pengganti merencanakan sebuah kudeta. Seperti Komandan Dot Pixis, Jendral tertinggi Darius Zackly dan menunjuk Erwin Smith dari Resimen Kepolisian yang saat itu dijadikan kambing hitam oleh pemerintahan sebagai Pion Utama Kudeta."
"Lah, trus kamu dimana Levi?"
"Aku? Aku dibayar oleh Zeke untuk menyusup dalam skuad Erwin, mencuri skenario Kudeta lalu membunuhnya." Jawab Levi tanpa ada semangat dalam nada bicaranya.
"Hmm…"
"Kau tidak kaget?" Levi membalikkan badan dan pandangannya kearah Hanji yang sedari tadi memang sudah mengarahkan tubuhnya pada Levi.
"Entah mengapa aku merasa tidak kaget, aku merasa Levi yang kukenal memang seperti itu?" Hanji hanya membalas dengan kata-kata berbalut senyuman manis dipadu dengan rambut yang tergerai indah menghias wajahnya..
"Hah?"
"Tidak apa-apa… Lalu selanjutnya?"
"Ah, aku berhasil menyusup. Aku bertemu denganmu dan yang lainnya. Hanya saja Erwin sudah mengetahui pergerakanku lalu mempermainkannya demi kelancaran kudeta. Yah, entah mengapa aku masih kesal dengan kekalahanku saat itu darinya… Singkat cerita, aku ditahan disel dengan penjagaan paling ketat, rencana Zeke gagal, kudeta berhasil saat Erwin menemukan kandidat yang sepantasnya menjadi ratu setelah Yang Mulia Frieda Reiss, yaitu adik tirinya Historia Reiss."
"Hn…"
"Tiga bulan berlalu, aku yang masih mendekam dalam penjara mulai muak dengan itu semua, aku benar-benar ingin membunuh Erwin hingga saat dimana dia datang untuk berbicara empat mata denganku disel itu. Dia menjelaskan bahwa Zeke berada dipihak yang salah, kemenangan ini adalah kemerdekaan bagi tanah Britania, dia juga menyanjungku sebagai pahlawan dibalik itu semua. Tentu aku masih belum mudah menyingkirkan dendamku padanya saat itu."
"He~ terus bagai mana bisa kau jadi sangat patuh pada Erwin?"
Pertanyaan setengah mengejek itu sukses memancing kekesalan si pria 160 cm, "Hei wanita jelek, aku tidak mengabdikan hidupku pada Erwin, aku mengabdikan hidupku pada Ratu yang sudah mengembalikan kehormatanku di negeri ini. Yang Mulia Historia Reiss."
Jawaban itu juga entah mengapa sukses menuai senyuman bahagia di bibir Hanji, "Le-va-ii… Entah kenapa kau keren banget, ehehe…" Hanji langsung memeluk Levi dengan erat, tak sadar kalau dia masih canggung dengan hubungan barunya itu. Beberapa detik kemudian Hanji yang tersadar langsung panik,
"E-eeeh, ma-maaf Levi, a-aku tak tahu mengapa aku langsung memelukmu…" ucapnya sambil perlahan melepaskan pelukannya. Namun Levi malah membalas dengan balik merangkul tengkuk Hanji, menjadikan lengannya sebagai pengganti bantal Hanji.
"Kau memang biasanya seperti ini, biasakanlah dirimu… Sayang…" ujarnya dengan datar dan mengembalikan tatapannya keatas, menutupi kalau dirinya malu dengan momen romantis gagal yang dia coba buat.
"U-uh…" (Eh, dia memanggilku sayang? Pikir Hanji)
"La-lalu itu semua masih belum menjawab pertanyaan mengapa pistolmu menggunakan nama Sang Ratu, Le-Levi…"
"Haaaah~ Aku sudah menjelaskan panjang lebar, kau masih tidak mengingatnya? Cih, mau bagaimana lagi. Erwin mengeluarkanku dari penjara untuk dibawa kepengadilan, Ya, pengadilan militer tertinggi biasanya dipimpin Oleh Darius sebagai hakim, tapi kala itu Sang Ratu-lah yang menghakimiku."
"Heh? Kok bisa?"
"Aku juga tidak begitu mengerti, tapi saat itu entah mengapa pikiranku kosong… Kau dan yang lain menatapku dengan tatapan yang sangat mengerikan. Suasanapun menjadi sangat mencekam. Mungkin inilah akhir bagi seorang Levi, pikirku… Hanya saja telinga ini masih mendengar jelas saat Erwin membelaku dengan kata-katanya, menjelaskan bahwa aku adalah aset penting bagi negara dan bla bla bla… Hingga akhirnya Yang Mulia mulai angkat suara…"
"Levi Ackerman, kutanya padamu… Atas nama Tuhan, Simbol Kerajaan dan Aku sebagai Penguasa Tertinggi Negeri ini, apakah kau sanggup mengabdikan dirimu untuk Kejayaan Tanah Britania Raya?"
"Aku hanya terdiam saat itu, tidak mampu berkata apa-apa hingga Erwin melemparkan sesuatu kehadapan tangan dan kaki-ku yang terborgol. Ya, SIG Sauer P320 milikku itu. Lalu Erwin berdiri dihadapan Sang Ratu dan mulai berkata…"
"Levi, jika kau masih memendam amarah padaku atau pada Negeri ini, gunakanlah itu untuk menembakku. Senjata itu adalah milikmu, kau berhak sepenuhnya untuk menentukan takdirmu kedepan. Jika kau menembakku, aku mungkin akan mati, namun masih banyak yang akan menggantikanku, tapi jika kau memilih untuk mengabdi pada Negeri ini, kau akan mendapatkan kembali hak penuh atas kewarganegaraanmu, tentunya dibawah pengawasaanku. Pilihlah!"
"Bagaimana? Sudah ingat apa yang terjadi selanjutnya?"
Hanji memejamkan matanya sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Hmph… Dasar Pikun, tentu aku menembak kearah kedua borgol ditangan dan kakiku…"
"E-eeeeeeeeeeh? Lalu siapa lagi yang kau tembak?"
"Bego... Setelah itu, aku mengosongkan semua peluru, lalu melemparkan senjata kosong itu kehadapan Yang Mulia lalu berkata, 'Inilah jawabanku'…"
"Ahahahahaaha, Kau banget Levi… Aku sudah menduganya… Hahaha, jadi kau menamai senjata ini untuk kejadian bersejarah itu. Ahahahahahaha aku paham, aku paham Levi…"
"Ribut… Diam lah ini masih terlalu dini hari untuk tertawa seperti itu bodoh…" Levi menempatkan sebelah tangannya di ubun-ubun, pertanda sedikit terganggu dengan reaksi Hanji.
"Ehehe… Oh iya… Satu lagi, yang aku ingin tanyakan…"
"Apa?"
"Ne, siapa diantara kita yang jatuh cinta duluan? Dan siapa yang melamar siapa?"
"Apakah aku harus menjawab pertanyaan bodohmu itu?" Lirikan matanya langsung menghadap pada wajah bodoh, senyuman jahil yang selalu dia rindukan… Keusilan sang istri.
"Cih… Kau yang jatuh cinta padaku lebih dulu… Dan kau terkadang bangga dan membanggakannya dihadapan semua orang. Dan untuk yang melamar… Lelaki macam mana didunia ini yang membiarkan dirinya dilamar wanita lebih dahulu… Tentu saja aku, Penggila Cairan Kimia! (Pengganti julukan Penggila Titan)"
"Ah begitu… Hehehe…" Hanji kembali tertawa puas, dia bangkit dan keluar dari inkubator hariannya, melangkah dengan riang menuju pintu keluar dari kamar, jam telah menunjukkan pukul 5 pagi, sedikit warna lebih cerah juga sudah mulai muncul di ufuk langit timur.
"Hei, sayang… Mau sarapan lebih awal? Aku akan membuatkanmu omelette spesial kesukaanmu yang resepnya baru kuingat kemarin sore, ah tentunya aku juga sudah mengerti resep kopimu kok…" dia sangat bersemangat, sangat enerjik... Melihatnya saja sudah mengangkat semua beban dan lelah yang dirasakan Levi.
"Hm, lakukanlah sesukamu Hanji, aku akan mandi dulu." Levi akhirnya juga bangkit dari hamparan lembut yang menyelimuti dirinya, membiarkan secercah senyuman terpancar untuk membalas motivasi yang telah diberikan sang Nyonya Ackerman.
"Baiklah, mari kita awali pagi ini… Sayangku…"
Hanjipun melangkah menuju dapur, menyiapkan semua aktifitas yang biasa dilakukan layaknya seorang ibu rumah tangga, obrolan pagi diatas ranjang bersama suami ternyata tidak buruk, tidak… ini bahkan sangat baik untuk memulai hari. Dia sudah tidak ragu dengan status hubungan pernikahan ini, dia juga bergumam dalam hati kecilnya tanpa memutus senyuman bahagia diawal pagi itu.
"Ah, mungkin didunia manapun, sepertinya aku akan selalu bertemu dengannya dan jatuh cinta padanya."
.
.
TAIL SIDE # 4 END
-To be Continued-
~ Justaway-Madao
