Lagi – lagi airmataku menetes karana namja tersebut. Bahkan kali ini airmataku mengalir bagai anak sungai saat aku melihat secara langsung bagaimana kelakuan namja tersebut. Berbagai pertanyaan selalu muncul di dalam benakku. Tapi hanya satu pertanyaan yang selalu menghantui pikiranku. Mengapa para mafia tersebut setega ini sehingga namja tersebut mempunyai kebiasaan yang sangat menyimpang seperti ini. sungguh mereka sangat tidak berperikemanusiaan. Kurasakan sebuah tangan menepuk bahuku pelan. Tanpa aku menoleh pun aku sudah mengetahui siapa yang melakukannya. Sudah menjadi kebiasaan Appa jika melihat aku menangis maka Appa akan menepuk pundakku perlahan dan itu berhasil menenangkan perasaanku.

"Siapa nama namja tersebut Appa?" tanyaku setelah behasil mengendalikan tangisanku.

"Namanya Kim Jongin"

Miss Wuhan present

Tittle : True Love

Author : Miss Wuhan

Cast : Do Kyungsoo and Kim Jongin

Pair : Kaisoo

Genre : You will find it

Length : Chaptered

Rated : T

Warning : Typos, OOC, Boys love, It's just a fanfiction

Happy Reading and Don't forget to RCL

Chapter 2

Kyungsoo POV

Dengan langkah yang sangat perlahan aku mencoba mendekati namja bernama Kim Jongin tersebut. Saat ini Jongin sedang sibuk dengan daging mentah yang ada di hadapannya dan tidak menyadari kehadiranku yang berjalan mendekatinya. Jantungku berdegub tak terkendali saat aku berjalan menghampirinya. Rasa takut dan khawatir mendominasi pikiranku saat ini tapi entah mengapa langkah kakiku terus saja melangkah mendekati Jongin. Bahkan logikaku berfikir aku harus segara pergi untuk meninggalkan tempat ini karena sungguh aku sangat takut dengan Kim Jongin. Tapi hatiku memilih untuk mendekatinya dan membuang jauh – jauh rasa takutku kepada Kim Jongin. Entahlah aku merasa terseret begitu dalam akan tatapan tajamnya. Dibalik tatapan tajamnya tersebut tersirat rasa kesedihan dan kesepian yang luar biasa. Dia membutuhkan seseorang untuk berbagi kesedihan bersama dan dia juga butuh seseorang yang bisa dijadikan sebagai sandaran. Sekarang aku telah berada di dekat Jongin dan jarak kami hanya terkait beberapa langkah saja. Dengan gerakan yang sangat hati – hati aku berjongkok di depannya untuk mensejajakran posisi tubuh kami. Aku menstabilkan degupan jantungku dan menghembuskan nafasku secara perlahan.

"Ayo Kyungsoo kau pasti bisa. Jangan takut. Hwating" batinku menyemangati diri sendiri.

"Kim Jongin" sapaku dengan nada yang dibuat seramah mungkin meskipun aku tahu jika nada suaraku sedikit bergetar.

"…"

Aku menghela nafasku berat karena sama sekali tidak mendapatkan respon darinya. Dia masih saja sibuk mengunyah daging mentah tersebut. Lalu kuberanikan diri untuk menyentuhnya secara perlahan dan sedikit menggoncangkan tubuhnya agar dia mau memperhatikanku. Mataku terbelalak kaget ketika dengan tiba – tiba dia menatapku dengan sangat tajam. Dan dari iris matanya aku dapat pastikan bahwa sekarang ini dia sedang marah besar.

"Tamat riwayatmu Kyungsoo. Kenapa kau malah membuatnya marah seperti ini." batinku bergidik ngeri. Kulihat dia merangkak menuju ke arahku dan otomatis aku memundurkan diriku untuk menjauh darinya. Keringat dingin sudah mulai membasahi badanku dan ku yakin sekarang wajahku tampak sangat pucat. Lalu dengan gerakan yang sangat cepat dia menarik pergelangan tanganku dan

"AKKKKKHHHHHHHHHHHHHHHH" teriakanku menggema di ruangan itu.

Mendengar teriakan kesakitanku semua orang yang berada disitu berusaha untuk melepaskan gigitan Jongin pada tanganku. Namun semakin mereka mencoba untuk melepaskanku dari gigitannya semakin terasa sakit karena gigi Jongin yang tajam seakan mengoyak daging yang ada di tanganku. Sungguh sakit yang kurasakan di tanganku sangat luar biasa dan aku hanya bisa merintih dan berteriak karena kasa sakit yang tidak terkira di tanganku. Terdapat seorang suster yang menyuntikkan obat bius kepada Jongin dan tidak lama setelah itu Jongin tidak sadarkan diri dan secara otomatis gigitan pada tanganku juga terlepas. Hal terakhir yang aku ingat adalah Appa yang menggendongku untuk keluar dari ruangan itu dan setelahnya yang kurasakan hanyalah gelap dan kesadaranku yang berangsur – angsur menghilang.

.

.

.

Author POV

Terlihat seorang namja mungil masih terbaring lemah di salah satu katil yang terdapat dirumah sakit tersebut. Namja itu tidak sendiri, di ruangan tersebut juga terdapat kedua orang tua dari namja mungil tersebut dan juga seorang namja yang memiliki tinggi di atas rata – rata orang Korea pada umumnya. Mereka bertiga tampak sangat khawatir dengan keadaan namja yang saat ini sedang terbaring lemah dan terdapat perban di tangan kanannya. Bahkan Eomma dari namja mungil tersebut sedari tadi tidak berhenti menangis melihat keadaan anak kesayangannya tersebut. Sang suami memberikan pelukan hangatnya kepada sang istri berusaha untuk menenangkan istrinya tersebut. Dan sang namja tinggi tadi sedang duduk di sebelah katil rumah sakit tersebut dan tangan besarnya yang sedari tadi tidak pernah berhenti untuk mengelus surai lembut namja yang tengah terbaring tersebut. Airmata sudah menggenang di pelupuk mata namja tinggi melihat keadaan namja yang dicintainya sedang terbaring lemah. Namun dia menahan airmata tersebut agar tidak jatuh dari matanya dan membasahi wajahnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi Appa? Mengapa Kyungsoo bisa terbaring lemah disini?" tanya namja jangkung tersebut kepada Appa Kyungsoo. Namja tersebut memanggil Appa Kyungsoo dengan sebutan Appa karena keluarganya dan keluarga Kyungsoo sudah sangat dekat. Dan dia juga sudah menganggap kedua orang tua Kyungsoo seperti orang tua kandungnya sendiri.

"Di rumah sakit kami terdapat seorang pasien yang kelakuannya seperti anjing liar. Pada saat Kyungsoo mencoba untuk mendekatinya sepertinya dia marah dan langsung menggigit tangan Kyungsoo sampai – sampai dia hampir mengoyak daging yang ada di tangan Kyungsoo." Jawab Appa Kyungsoo dengan suara yang bergetar. Mendengar jawaban dari Appa Kyungsoo membuat airmata yang sedari tadi ditahan oleh namja tersebut akhirnya luruh juga. Lamunan mereka bertiga buyar karena mendengar suara lenguhan dari Kyungsoo dan itu membuat ketiga orang yang berada di ruangan itu mendekati Kyungsoo.

"Kau sudah sadar nak? Mana yang sakit biar Eomma panggilkan dokter" tanya Eomma Kyungsoo dengan nada sarat akan kekhawatiran.

"Gwenchana Eomma aku baik – baik saja." Jawab Kyungsoo dengan senyuman yang terpatri di heartlipsnya.

"Kau terbaring di rumah sakit Kyungie. Bagaimana kau bisa berkata jika kau baik – baik saja?" kata namja jangkung tersebut.

"Chanyeol hyung? Bagaimana kau bisa berada di sini? Bukankah seharusnya kau sekarang berada di Jepang?" tanya Kyungsoo dengan mengedipkan matanya heran dan sedikit memiringkan kepalanya. Membuat kadar keimutan yang dimilikinya semakin bertambah berkali – kali lipat.

"Aku langsung datang kemari ketika Appa menelepon jika kau masuk rumah sakit. Kau tahu betapa khawatir dan paniknya aku mendengar kabar jika kau masuk rumah sakit. Tanpa berpikir panjang aku segara memesan tiket untuk pulang ke Seoul untuk mengetahui keadaanmu."

"Kenapa Appa memberi tahu Chanyeol hyung jika aku masuk rumah sakit?" tanya Kyungsoo kepada Appanya dengan ekspresi mendelik sebal.

"Appa hanya menepati janji Appa kepada Chanayeol. Bahwa Appa akan selalu mengabari Chanyeol tentang keadaanmu Kyungie. Ya sudah Chanyeol kau temani Kyungsoo sebentar ne Appa dan Eomma akan keluar sebentar. Tidak apa – apa kan jika kau menemani Kyungsoo sendirian disini?"

"Ne Appa aku akan menjaga Kyungsoo disini. Appa jangan khawatir Kyungsoo aman bersamaku."

Sepeninggal kedua orang tua Kyungsoo, Chanyeol menggennggam tangan Kyungsoo erat dan kelakuan Chanyeol tersebut sontak membuat Kyungsoo terkejut sekaligus bingung. Meskipun Kyungsoo sudah sadar namun Chanyeol masih belum bisa menghilangkan rasa khawatirnya kepada Kyungsoo.

"Kau tahu aku sangat khawatir kepadamu Kyungie. Bahkan aku berubah menjadi orang frustasi pada saat mendengar kau masuk ke rumah sakit." kata Chanyeol sambil menggengam tangan Kyungsoo lembut.

"Mianhae hyung jika aku membuatmu khawatir. Aku sekarang baik – baik saja hyung jadi jangan khawatir kepadaku lagi ne."

"Berjanjilah kepadaku jika kau tidak akan menempatkan dirimu dalam hal – hal yang berbahaya lagi. dan berhentilah membuatku selalu khawatir kepadamu Kyungsoo."

"Ne hyung aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi."

"Kalau begitu maukah kau menuruti permintaanku?"

"Permintaan apa hyung?"

"Berhentilah mengurus namja berperilaku seperti anjing itu. Dia sangat berbahaya bagimu Kyungsoo."

"Andwe aku tidak mau hyung. Dia mempunyai nama hyung namanya Kim Jongin. Dan jangan memanggilnya namja yang berperilaku seperti anjing karena dia memiliki nama."

"Tapi kyung dia sangat berbahaya. Dan dia juga yang menyebabkanmu terbaring di rumah sakit seperti sekarang ini."

"Dia menggigitku karena kesalahanku sendiri hyung. Tidak seharusnya aku mengganggunya pada saat dia sedang makan."

"Hyung mohon kyungie berhentilah mengurus Jongin dia sangat berbahaya bagimu."

"Tidak hyung. Jongin juga manusia sama seperti kita. Dan mulai sekarang aku akan merubah kebiasaanya itu dan menjadikannya kembali menjadi manusia normal."

Chanyeol mengacak rambutnya frustasi menghadapi sifat keras kepala Kyungsoo. Do Kyungsoo memang sosok paling keras kepala yang pernah dia kenal selama hidupnya. Dan jika sudah begini Chanyeol hanya bisa mengalah kepada Kyungsoo.

"Baiklah terserah kamu Kyungsoo. Tapi ingat kau harus waspada dan berhati – hati jika berada di dekatnya Arra." Kata Chanyeol mengalah sambil mengusap sayang rambut Kyungsoo.

"Arraseo hyung. Gomawo"

.

.

.

Chanyeol POV

Hari ini aku akan mengantarkan Kyungsoo untuk bekerja di Rumah Sakit. Pagi – pagi sekali aku sudah datang ke rumahnya untuk mengantarkannya bekerja. Aku tidak akan membiarkan Kyungsoo berangkat kerja sendirian karena luka di tangannya masih belum sembuh total. Dan alasan sebenarnya aku ingin mengantar Kyungsoo karena aku sangat penasaran dengan seorang namja yang bernama Kim Jongin. Seorang namja yang berhasil membuat orang yang kucintai sampai masuk ke rumah sakit. Sekarang aku sudah berada di depan rumah keluarga Do kemudian aku menekan bel yang ada di rumah mewah tersebut. Tak lama kemudian pintu tersebut di buka dan nampaklah sesosok yeoja paruh baya yang masih Nampak sangat cantik di usianya yang tidak lagi muda, dialah eomma Kyungsoo.

"Anyyeong Eomma" sapaku dengan senyum terbaik yang kumiliki

"Oh Chanyeol. Masuklah kedalam. Ada apa kau pagi – pagi datang kesini?" tanya Eomma sambil mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya.

"Aku ingin mengantarkan Kyungsoo bekerja Eomma."

"Eoh tunggulah sebentar ne. Eomma akan memberitahu Kyungsoo dan sekalian kita sarapan bersama ne. pergilah ke meja makan disana sudah ada Appa."

"Ne eomma"

Lalu aku berjalan menuju ke meja makan dan benar apa kata Eomma disana sudah ada Appa yang duduk di meja makan tersebut. Aku menghampiri Appa dan duduk di sebelahnya.

"Annyeong Appa. Apa yang sedang Appa pikirkan? Kenapa serius sekali?" tanyaku

"Oh Chanyeol. Aku sedang memikirkan keselamatan Kyungsoo."

"Apa maksud Appa? Aku sama sekali tidak mengerti."

"Kau tahu kan jika Kyungsoo masuk ke rumah sakit gara – gara Jongin. Appa tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali. Kemarin Appa sudah membujuk Kyungsoo untuk meninggalkan pekerjaan ini tapi kau tahu sendiri kan sifat Kyungsoo. Dia tetap keras kepala tidak ingin meninggalkan pekerjaan tersebut. Bolehkah Appa meminta bantuanmu Chanyeol? Tolong kau bujuk dia supaya mau meninggalkan pekerjaannya karena aku dan istriku sangat khawatir dengan keselamatannya."

"Ne Appa aku akan berusaha membujuknya."

.

.

.

Rumah Sakit Jiwa Seoul

Sekarang aku sudah berada di rumah sakit tempat dimana Kyungsoo bekerja. Aku menghentikan langkah Kyungsoo yang akan keluar dari mobilku dan dia mengerutkan keningnya melihat perbuatanku. "Waeyo hyung?" tanyanya. Aku menghela nafas berat dan memulai pembicaraanku dengan Kyungsoo. Aku harus membujuknya supaya berhenti dari pekerjaannya tersebut.

"Kyung, hyung mohon berhentilah dari pekerjaanmu."

"Kita sudah membahasnya beberapa kali hyung dan jawabanku akan tetap sama. Aku tidak akan meniggalkan pekerjaan ini."

"Kyung hyung mohon aku dan kedua orangtuamu sangat khawatir dengan keselamatanmu. Bagaimana jika kejadian Jongin menggigitmu itu terulang kembali? Bagaimana jika dia membahayakan keselamatanmu Kyungie. Tidak aku tidak akan membiarkanmu terluka sekali lagi Kyungie."

"Jangan berlebihan hyung aku sudah besar, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri jadi jangan khawatir ne."

"Tapi kyung."

"Sudahlah hyung. Ayo masuk ke dalam."

Aku menghela nafasku berat dan mengacak rambutku frustasi. Kenapa Kyungsoo keras kepala sekali sih. Kenapa dia tidak sadar akan bahaya yang berada di depannya. Aku mengikuti langkah Kyungsoo yang berjalan masuk ke rumah sakit tersebut. Di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan cara bagaimana Kyungsoo agar mau menurutiku dan meninggalkan pekerjaannya tersebut. Hingga langkah kami berdua terhenti di sebuah ruangan yang lebih mirip seperti ruang isolasi daripada ruang rawat pasien.

"Ayo masuk hyung. Akan kutunjukkan padamu namja yang bernama Kim Jongin." Kata Kyungsoo sambil membuka pintu ruangan tersebut.

Mendengar nama tersebut entah mengapa amarahku seakan mencapai ubun – ubun dan tanganku mengepal kuat sampai kuku jari – jariku memutih. Melihat aku yang hanya terdiam mematung di depan pintu ruangan tersebut, Kyungsoo datang menghampiriku dan menggenggam tanganku untuk masuk di dalam ruangan tersebut. Setelah aku masuk di dalam ruangan yang hanya didominasi warna putih tersebut aku melihat seorang namja yang lehernya tengah terikat dengan rantai. Dan benar apa yang dikatakan Appa selama ini bahwa kelakuan namja dihadapanku ini seperti seorang anjing liar. Lihatlah sedari tadi dia menggonggong persis layaknya anjing liar. Aku menghentikan langkah Kyungsoo saat kulihat namja mungil tersebut berjalan mendekati namja bernama Kim Jongin tersebut.

"Waeyo hyung?" tanya Kyungsoo

"Jebal Kyung jangan dekati dia. Lihatlah dia sangat berbahaya bagimu Kyung bahkan luka di tanganmu saja belum sembuh total. Bagaimana jika dia menyakitimu lagi Kyungie?" kataku sambil mencekeram bahunya. Sungguh aku sangat frustasi menghadapi sikap keras kepalanya dan tanpa sengaja aku mencekeram bahunya sedikit kasar sehingga dia meringis menahan kesakitan.

"Gwenchana Kyungie mian aku tidak sengaja. Apakah bahumu sakit. Jeongmal mianhae Kyung aku tidak sengaja."

Aku membelalakkan mataku saat kurasakan namja mungil tersebut mendekap tubuhku hangat. Tanpa berpikir panjang aku membalas pelukannya dengan sangat erat. Kudengar Kyungsoo terkekeh pelan dan selanjutnya dia mengelus punggungku lembut seketika kekhawatiranku akan keselamatan dirinya lenyap seketika.

"Kau tidak pernah berubah ya hyung dari dulu selalu bersikap protektif kepadaku. Gomawo kau telah bersikap sepeti itu kepadaku. Tapi aku sekarang sudah berumur 21 hyung dan aku bukan anak kecil yang berusia 5 tahun lagi aku pasti bisa menjaga diriku sendiri." Jawab Kyungsoo lembut

"Tapi Kyungie"

"Sttt hyung tidak percaya kepadaku?" tanyanya sambil melepaskan pelukannya dariku dan itu membuatku sedikit kecewa karena tidak lagi merasakan dekapan hangat darinya.

"Bukannya aku tidak mempercayaimu Kyungie namun aku hanya merasa khawatir kepadamu."

"Tenang hyung aku berjanji akan menjaga diriku sendiri. Jadi kau harus percaya kepadaku ne."

Setelah mengatakan itu tangan mungil Kyungsoo membelai wajahku lembut mencoba untuk menenangkanku. Sudah menjadi kebiasaan bagi Kyungsoo jika aku merasa khawatir terhadap sesuatu maka dia akan memperlakukanku sangat lembut. Dia mengingatkanku kepada sosok Eommaku yang mempunyai sifat penyayang sama sepertinya. Aku meyakinkan hatiku untuk mempercayai Kyungsoo sepenuhnya. Benar apa yang dikatakan oleh Kyungsoo, jika dia sekarang sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri.

"Baik Kyung aku akan mempercayaimu. Tapi ingat jika terjadi sesuatu yang buruk kepadamu segera hubungi hyung. Arraseo"

"Arraseo hyung. Gomawo karena hyung sudah mau mempercayaiku."

Aku mempersilahkan dia masuk untuk menemui Jongin dan dapat kulihat sepertinya Kyungsoo merasa sangat ketakutan saat akan berjalan menuju kearah namja itu. ingin rasanya aku menyeret Kyungsoo untuk menjauh dari namja itu. Namun aku teringat kataku kepada Kyungsoo tadi jika mulai dari sekarang aku akan mempercayainya. Dan aku yakin dia dapat menjaga dirinya sendiri. Sedari tadi mataku tak hentinya menatap tajam kearah namja tersebut. Lihat saja jika kau berani menyakiti Kyungsoo lagi maka aku tidak akan segan – segan untuk

Membunuhmu Kim Jongin.

(TBC/END)

Yehet di chap ini full of Chansoo moment. Saya pakai Chanyeol sebagai orang ketiga di hubungan Kaisoo karena Suho dah terlalu mainstream #plakk. Lagipula sekarang juga banyak Chansoo moment bertebaran dimana – mana. Jadi jangan mengebash saya jika reader kurang suka dengan Chansoo couple. Jadi ada yang mau tahu kelanjutan ff ini atau ff ini dibiarkan sampai disini saja #plokk. Don't forget to Review ne. Oh iya saya juga sangat berterima kasih buat reader yang sudah mereview, ngefollow sama yang ngefaforitin ff ini. Jeongmal gomawo buat para reader #deepbow

Balasan review:

Chasoocha :

Gomawo ne dah ngereview ff ini terima kasih juga untuk pujiannya. Wah di chap ini appa jongin buat eomma kyung terluka hehe. Ne ini chap selanjutnya dah di update. Review lagi ne ^^

Kaisooship :

Ne author harap jongin bisa sembuh #plakk. Gomawo ne dah review ff ini. Jangan lupa review lagi ne

DahsyatNyaff:

Tunggu chap selanjutnya ne apa Kyungsoo bisa nyembuhin Jongin apa nggak. Gomawo ne dah review ff ini. Jangan lupa review lagi ne

Desta Soo:

Ne ini dah dilanjut kok ffnya ^^. Gomawo ne dah review ff ini. makasih juga sama semangatnya. Jangan lupa review lagi ne

ViraaHee:

Ne chinggu ini ffnya udah diupdate kok. Gomawo dah review di chap ini review lgi ne