Miss Wuhan present

Tittle : True Love

Author : Miss Wuhan

Cast : Do Kyungsoo and Kim Jongin

Pair : Kaisoo

Genre : You will find it

Length : Chaptered

Rated : T

Warning : Typos, OOC, Boys love, It's just a fanfiction

Happy Reading and Don't forget to RCL

Chapter 5

"Do Kyungsoo"

Merasa ada seseorang yang memanggil namanya, Kyungsoo pun tersadar dari keterpanaannya kepada sosok Jongin dan menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang memanggilnya saat ini.

"Chanyeol hyung?" kata Kyungsoo dengan mata membulat sempurna. Dia sangat terkejut dengan kedatangan Chanyeol yang begitu tiba – tiba. Chanyeol pun berjalan mendekat ke tempat dimana Kyungsoo dan Jongin berada.

"Kenapa kau bisa ada di Seoul hyung? Bukankah seharusnya kau berada di Jepang?" tanya Kyungsoo heran kepada sosok namja tinggi di hadapannya saat ini. Sedangkan yang ditanya hanya sibuk melayangkan tatapan tajamnya kepada sosok namja yang berada di sebelah Kyungsoo, Kim Jongin. Kyungsoo yang sebal karena merasa terabaikan oleh Chanyeol melayangkan tangannya di depan wajah Chanyeol berharap namja tinggi tersebut akan memperhatikan dirinya.

"Emm waeyo Kyungie-ah. Apakah kau bertanya sesuatu tadi?" tanya Chanyeol

"Aish hyung kau tidak mendengarkanku eoh? Kau mengacuhkanku? Kau benar – benar menyebalkan hyung." Ucap Kyungsoo sambil mempoutkan bibirnya kesal. Melihat namja didepannya ini merajuk Chanyeol mencubit pipi gembul Kyungsoo karena merasa gemas.

"Hyung appo kenapa kau mencubit pipiku. Sakit tau?" rajuk Kyungsoo.

"Mianhae jika aku tadi mengacuhkanmu Kyungie. Dan aku mencubit pipimu karena terlalu gemas melihat tingkah imutmu ketika sedang merajuk Do Kyungsoo. Tentu saja aku datang jauh – jauh dari Jepang ingin merayakan hari ulang tahunmu Soo. Ayo kita pergi bersama untuk merayakan hari ulang tahunmu." Ajak Chanyeol kemudian menarik tangan Kyungsoo untuk pergi bersamanya. Namun Kyungsoo masih tetap terdiam di tempatnya sehingga membuat Chanyeol mengerutkan kening pertanda bingung dengan sikap Kyungsoo.

"Tapi aku masih harus memeriksa Jongin, hyung. Seharian ini aku belum sempat memeriksa Jongin"

Mendengar jawaban dari Kyungsoo membuat raut wajah Chanyeol menegang seketika. Chanyeol mengertakkan giginya dengan keras dan raut wajahnya menyebarkan aura membunuh. Namun dengan segera Chanyeol mengganti raut wajahnya supaya namja mungil yang berada di hadapannya ini tidak menyadari perubahan moodnya yang begitu drastis. Sambil memasang muka memelas, Chanyeol meletakkan tangannya di pipi Kyungsoo dan mengelusnya secara perlahan. Berharap bahwa Kyungsoo akan luluh dengan sikap lembutnya.

"Soo apa kau tidak kasihan kepadaku. Aku jauh – jauh datang dari Jepang ke sini hanya ingin merayakan ulang tahunmu. Tidak bisakah kau menghargai perjuanganku untuk dapat merayakan ulangtahunmu saat ini. Dokter di rumah sakit ini tidak hanya dirimu Kyungsoo dan aku yakin bahwa mereka sanggup merawat Jongin. Aku mohon Kyungsoo jangan menolak permintaanku ini. Kau akan membuat perjuanganku berakhir sia – sia jika kau menolak ikut denganku Kyungsoo"

"Emm baiklah aku akan ikut denganmu hyung." kata Kyungsoo ragu. Entah mengapa dia merasa jika dia harus menemani Jongin di sini daripada merayakan ulangtahunnya bersama Chanyeol. Namun jika dia melakukanya itu akan membuat Chanyeol akan sangat kecewa. Dan Kyungsoo tidak akan membuat siapapun orang yang dicintai dan disayanginya kecewa karena dirinya.

"Mianhae jika sikapku tadi membuatmu marah kepadaku. Kau mau memaafkanku kan hyung?"

Chanyeol pun mendekatkan dirinya kemudian merengkuh Kyungsoo kedalam dekapan hangatnya. Chanyeol memejamkan matanya dan semakin mendalamkan kepalanya ke dalam ceruk leher Kyungsoo, menghirup aroma tubuh khasnya yang selalu saja membuat kinerja jantung Chanyeol berdetak tidak normal. Hal yang sama juga dilakukan Kyungsoo, dia memejamkan matanya menikmati dekapan hangat dari orang yang disayanginya ini. Tangan Kyungsoo terangkat untuk membalas dekapan dari Chanyeol dan hal itu membuat Chanyeol semakin bahagia. Sangat terlihat jika mereka berdua menikmati momen manis mereka tanpa menghiraukan sesosok namja yang berdiri mematung di dekat mereka.

Jongin, sosok namja tersebut hanya bisa melihat pemandangan di hadapannya dengan tatapan nanar yang menyiratkan segores luka yang dapat mengoyak hatinya sangat dalam. Tangan sosok berkulit kecoklatan tersebut kini mengepal dengan erat hingga kuku di jari – jarinya memutih. Dia tidak bisa menahan emosinya melihat Kyungsoo berpelukan dengan Chanyeol. Nafas Jongin yang semula teratur berubah menjadi pendek – pendek dan terdengar suara erangan kecil yang keluar dari bibir Jongin. Namun sayang, kedua cucu adam yang masih berpelukan tersebut tidak menyadari jika Jongin terlihat sangat marah saat ini. Karena tidak bisa menahan emosinya, Jongin berlari dengan amarah yang membara di dalam dirinya menuju kearah Kyungsoo dan juga Chanyeol.

Yang terdengar selanjutnya adalah suara pekikan Kyungsoo yang terkaget karena dia di tarik begitu saja oleh Jongin untuk menjauhi Chanyeol yang saat itu masih memeluknya. Kyungsoo meringis pelan merasakan pergelangan tangannya yang memerah karena cengkraman Jongin yang begitu kuat pada pergelangan tangannya. Melihat Kyungsoo yang meringis kesakitan membuat amarah Chanyeol yang tadinya sempat mereda kini kembali tersulut karena tindakan kasar Jongin kepada namja yang dicintainya. Chanyeol melayangkan tangannya untuk meninju wajah Jongin tetapi Jongin dengan cepat meraih tangan Chanyeol kemudian menggigitnya dan berusaha untuk mengoyak daging yang berada di tangan Chanyeol.

"AGGGKKKKKKHHHHHHH" teriak Chanyeol penuh dengan raungan kesakitan. Bagaimana tidak jika sekarang daging yang berada di tangannya hampir terlepas karena gigitan gigi tajam Jongin.

"ANDWEE, CHANYEOL HYUNG" teriak Kyungsoo panik. Dengan langkah yang bergetar dia mendekati Chanyeol yang semakin berteriak menahan kesakitan. Air mata sedari tadi mengalir di melalui mata bulat Kyungsoo melihat pemandangan di depannya. Dia sungguh tidak menyangka jika penyakit Jongin akan kambuh dan menyerang Chanyeol dengan buasnya. Kyungsoo berusaha melepaskan Jongin dan Chanyeol namun usahanya belum membuahkan hasil karena kekuatan Jongin yang terlalu besar. Kyungsoo melihat keseliling tempat dimana dia berada saat ini dan dia semakin kalut karena tidak ada seorangpun selain mereka bertiga di tempat ini. Artinya tidak ada seorangpun yang dapat membantu Kyungsoo untuk melepaskan Chanyeol dari gigitan Jongin.

"JONGIN HENTIKAN. KUMOHON BERHENTILAH." Teriak Kyungsoo semakin frustasi karena mendangar tariakan penuh kesakitan dari Chanyeol. Mendengar teriakan dari Kyungsoo membuat beberapa orang pegawai di Rumah Sakit Jiwa itu berlari menghampiri Kyungsoo. Para pegawai tersebut memberikan reaksi yang sama yaitu membelalakkan mata dan menunjukkan ekspresi ketakutan yang luar biasa melihat pemandangan mengerikan yang mereka lihat di hadapan mereka saat ini. Dengan langkah ragu – ragu dan penuh ketakutan, para pegawai itu membantu Kyungsoo melepaskan Chanyeol dari gigitan Jongin. Meskipun sudah ada tiga orang pegawai yang membantu memisahkan Chanyeol dari cengkraman Jongin, gigitan yang diberikan oleh Jongin tidak juga mengendur melainkan semakin kuat. Wajah Chanyeol sudah pusat pasi karena dia terlalu banyak kehilangan darah karena gigitan Jongin. Mata Chanyeol sudah akan menutup dan dia sekarang hanya mampu tersenyum miris kepada Kyungsoo.

"BANGUN HYUNG KUMOHON BERTAHANLAH. KAU PASTI AKAN SELAMAT." isak Kyungsoo sambil menepuk – nepuk pipi Chanyeol agar dia masih tetap sadar. Sebuah ide terlintas di benak Kyungsoo untuk melepaskan Chanyeol dari cengkraman Jongin. Tetapi Kyungsoo ragu apakah rencananya ini akan berhasil. Kyungsoo menghembuskan nafas dan meyakinkan dirinya sendiri jika rencananya ini akan berhasil. Dengan gerakan yang penuh ketakutan, Kyungsoo menghamoiri Jongin lalu tangan gemetarnya menyentuh kepala Jongin perlahan.

"Jongin kumohon hentikan. Lepaskanlah gigitanmu. Kumohon Jongin." Ucap Kyungsoo lirih namun masih dapat di dengar oleh Jongin. Dan tanpa disangka oleh semua orang, Jongin menuruti perkataan yang dilontarkan oleh Kyungsoo. Dia mulai melepaskan gigitannya kepada Chanyeol dan seketika itu pula tubuh Chanyeol ambruk di atas tanah. Chanyeol mulai tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Kyungsoo mendekati Chanyeol dan menopang kepala Chanyeol di pahanya.

"Apa yang kalian tunggu? Cepat telepon ambulance, Chanyeol hyung sekarat. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." teriak Kyungsoo frustasi kepada tiga pegawai tersebuat yang hanya diam saja. Salah satu pegawai tersebut melaksanakan perintah Kyungsoo dengan menelepon ambulance. Setelah memastikan bahwa pegawai tersebut sudah menelopon ambulance, Kyungsoo pun menyuruh mereka membawa Jongin ke kemar rawatnya dan melarangnya keluar dari kamar rawatnya.

"AAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH AAAAAAAAAA" teriak Jongin sambil meronta – ronta dari pegangan ketiga pengawai tersebut. Jongin terus meronta, dia tidak ingin pergi dari tempat ini. Mendengar rontaan dari Jongin, Kyungsoopun mengalihkan perhatiannya yang sebelumnya terfokus kepada Chanyeol sekarang kepada Jongin. Kyungsoo menyadari sedari tadi Jongin memandangnya penuh harap dan tatapan penuh rasa mengiba. Dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi mengingat Jongin selama ini sudah bergantung kepadanya. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Jongin dalam keadaan seperti ini. Tetapi saat ini pria yang berada di pangkuannya sedang sekarat dan jelas jika Chanyeol saat ini lebih membutuhkan dirinya dibandingan dengan Jongin.

Suara sirine ambulance memekakkan telinga di kala sunyi malam saat ini. Dengan segera Chanyeol di bawa ke tandu dan tandu tersebut di dorong memasuki mobil ambulance. Kyungsoo dengan setia mengikuti tandu yang membawa Chanyeol dan menggenggam tangannya erat. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk menimpa Chanyeol. Melihat Kyungsoo yang akan pergi meninggalkannya, Jongin meronta semakin hebat dan dia berhasil terlepas dari cengkraman ketiga pegawai tersebut. Dengan kekuatan penuh Jongin berlari ke arah Kyungsoo kemudian menarik pergelangan tangan Kyungsoo sehingga posisi mereka berdua saat ini saling berhadapan. Kyungsoo menatap Jongin penuh tanya melihat Jongin yang tiba – tiba menghampirinya dan menunjukkan raut wajah yang sulit untuk dimengerti oleh Kyungsoo. Tangan kekar Jongin yang semula berada di pergelangan tangan Kyungsoo saat ini sudah berpindah ke tengkuk leher Kyungsoo kemudian membawa kepala pria mungil tersebut menuju ke dekapannya.

Jantung Kyungsoo berdesir hebat, aliran darahnya berpacu sangat cepat mengaliri seluruh tubuhnya, nafasnya tercekat, dan otaknya blank seketika. Itulah efek yang dirasakan Kyungsoo karena dekapan erat dari Jongin. Kyungsoo tidak bisa berpikir dengan jernih untuk saat ini. Mengapa Jongin memeluknya? Dan pertanyaan yang paling mendasar yang ada di benak Kyungsoo adalah mengapa dia bereaksi seperti ini ketika dipeluk oleh Jongin? Butuh beberapa saat sampai Kyungsoo bisa menfungsikan otaknya yang sempat blank. Dia ingatjika sekarang ini dia dalam keadaan genting.

Segera Kyungsoo melepaskan pelukannya dari Jongin supaya dia bisa masuk ke ambulance dan mengantarkan Chanyeol ke rumah sakit. Namun niatnya gagal karena sampai saat ini Jongin memeluknya semakin erat dan menggeleng – gelengkan kepalanya tanda dia tidak setuju jika Kyungsoo pergi. Tanpa Jongin sadari Kyungsoo memberikan isyarat mata kepada salah satu pegawai rumah sakit itu. Mengerti dengan isyarat itu pegawai tersebut berjalan mendekati Kyungsoo dan membawa barang yang Kyungsoo inginkan.

"Mianhae Jongin tapi aku harus melakukan ini karena dia lebih membutuhkanku sekarang." Ucap Kyungsoo lalu menancapkan jarum suntik yang berisi obat bius ke leher Jongin. Tidak membutuhkan waktu yang lama Jongin sudah terkulai tak sadarkan diri kemudian tiga pengawal tadi mengantarkan Jongin kembali ke kamar rawatnya.

.

.

.

.

.

.

Dua orang laki – laki masih terlihat terdiam di salah satu ruang rawat VIP di salah satu rumah sakit terbesar di kota Seoul tersebut. Laki – laki bertubuh mungil dan memiliki mata bulat tersebut sedari tadi hanya terdiam sambil tangannya mendekap erat sosok laki – laki lain yang saat ini sedang tertidur di ranjang pesakitan. Kyungsoo, sosok laki – laki yang mendekap tangan seseorang yang tengah tertidur tersebut hanya bisa memandang sendu pemandangan miris di hadapannya. Dihadapannya saat ini terdapat sosok Park Chanyeol yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sudah hampir dua belas jam berlalu semenjak kejadian yang membuat Kyungsoo shock berat, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana mengerikannya malam di hari ulang tahunnya tersebut. Dan itu merupakan hari ulang tahun terburuk sepanjang hidupnya karena dia tidak bisa berbuat apa – apa ketika Chanyeol digigit dengan brutal oleh Jongin. Kyungsoo sudah terlalu lelah untuk menangis sehingga saat ini dia hanya bisa berharap Chanyeol akan segera membuka kedua bola matanya.

"Hyung ireona. Jangan membuatku semakin khawatir kepadamu hyung sudah hampir dua belas jam kau menutup matamu. Kumohon hyung bangunlah." Bisik Kyungsoo di dekat telinga Chanyeol. Kyungsoo hanya bisa pasrah karena sampai saat ini Chanyeol belum juga membuka kedua matanya. Lamunan Kyungsoo buyar saat dia merasakan ponselnya bergetar. Kyungsoo mengambil ponsel yang berada di saku celananya dan menemukan panggilan dari ibu Chanyeol yang saat ini berada di Jepang. Kyungsoo menelan ludahnya gugup, dia bingung bagaimana menjelaskan kejadian yang dialami oleh putra tunggal keluarga Park tersebut kepada ibunya. Setelah mengambil keputusan dia pun menyentuh tombol hijau dan menggesernya untuk mengangkat telepon dari ibunya Chanyeol.

"Yoboseyo. Kyungie ya Saengil Chukkae Hamnida uri Kyungie. Mianhae jika eommanim telat mengucapkan selamat kepadamu chagi." Ucap Ibu Chanyeol semangat, dia tidak menyadari jika di saat yang sama Kyungsoo mati – matian menahan tangisannya supaya tidak keluar.

"…"

"Chagi kenapa kau diam saja nak? Apa terjadi sesuatu yang buruk kepadamu sayang?"

"Hiks eommanim"

"Kenapa kau menangis chagi? Apa yang terjadi? Ceritalah kepada eommanim sayang" tanya ibu Chanyeol dengan panik

"Chanyeol hyung eommanim." Ucap Kyungsoo dengan isakan yang semakin terdengar memilukan di telinga ibu kandung Chanyeol

"Kenapa dengan Chanyeol sayang? Apakah dia menyakitimu? Apakah dia membuatmu terluka? Eommanim akan memberikan pelajaran jika anak nakal itu membuatmu menangis sayang."

"Anniya eommanim. Chanyeol hyung tidak salah justru Kyungsoo disini yang harus disalahkan."

"Apa maksudmu sayang?"

"Hiks hiks mianhae eommanim gara – gara Kyungsoo sekarang Chanyeol hyung terbaring di rumah sakit."

"IGE MWOYA? Kau jangan bercanda Kyungsoo. Bagaimana bisa Chanyeol tiba – tiba terbaring di rumah sakit?"

"Mianhae eommanim. Jeongmal mianhae. Semua ini salah Kyungsoo. Kyungsoo terlalu bodoh sampai menyebabkan Chanyeol hyung terluka sampai dirawat di rumah sakit seperti saat ini."

"Aku dan suamiku akan segera terbang ke Seoul untuk melihat keadaan Chanyeol. Eommanim minta tolong kepadamu Kyungsoo bisakah kau menjaga Chanyeol selama kami tidak ada."

"Baik eommanim"

Sambungan telepon telah terputus, Kyungsoo meletakkan ponsel layar sentuhnya di meja nakas yang terletak di samping katil dimana Chanyeol terbaring lemah saat ini. Kyungsoo kembali merenungkan kejadian tadi. Mengapa Jongin menggigit Chanyeol? Kyungsoo ingat kejadian beberapa minggu lalu dimana dia juga mengalami kejadian yang sama seperti yang dialami oleh Chanyeol. Ya, dulu Kyungsoo juga sempat digigit oleh Jongin meskipun tidak separah seperti keadaan Chanyeol sekarang. Dia ingat dulu Jongin menggigitnya kerena dia dengan bodohnya membuat Jongin marah. Dan saat ini kejadian tersebut kembali terulang. Apakah Jongin menggigit Chanyeol karena dia merasa marah dengan Chanyeol? Tetapi apa yang membuat Jongin begitu marah dengan Chanyeol sampai – sampai dia mengoyak lengan tangan Chanyeol?

Dengan kekuatan penuh Jongin berlari ke arah Kyungsoo kemudian menarik pergelangan tangan Kyungsoo sehingga posisi mereka berdua saat ini saling berhadapan. Kyungsoo menatap Jongin penuh tanya melihat Jongin yang tiba – tiba menghampirinya dan menunjukkan raut wajah yang sulit untuk dimengerti oleh Kyungsoo. Tangan kekar Jongin yang semula berada di pergelangan tangan Kyungsoo saat ini sudah berpindah ke tengkuk leher Kyungsoo kemudian membawa kepala pria mungil tersebut menuju ke dekapannya.

DEG

Pipi Kyungsoo merona mengingat kejadian dimana Jongin berlari menghampirinya dan dengan tiba – tiba memeluk dirinya. Tangan mungil Kyungsoo meraba bagian jantungnya yang berdetak tak terkendali. Kyungsoo juga merasakan perutnya tergelitik seperti ada ribuan kupu – kupu terbang di dalamnya.

Mungkinkah Jongin marah kepada Chanyeol karena Chanyeol tadi memelukku batin Kyungsoo. Semburat merah muncul di pipi gembil milik Kyungsoo ketika dia memikirkan hal itu. Kyungsoo pun tidak bisa menyembunyikan senyum malu – malu miliknya. Namun segera Kyungsoo menghentikan pemikiran yang menurutnya konyol itu. Tidak mungkin Jongin marah karena melihatnya berpelukan dengan Chanyeol. Karena terlalu lelah memikirkan kejadian rumit tadi, Kyungsoo merebahkan kepalanya di dekat kepala Chanyeol. Kebetulan karena ruang rawat Chanyeol adalah ruang VIP jadi tempat tidurnya juga besar sehingga masih ada tempat yang kosong untuk Kyungsoo merebahkan dirinya. Tak membutuhkan waktu yang lama Kyungsoo memejamkan matanya dan tertidur lelap.

.

.

.

.

.

.

Di waktu yang sama namun di lain tempat terlihat seorang namja berkulit tan tersebut mengerjapkan matanya. Sepertinya dia sudah tersadar dari pengaruh obat bius yang diberikan oleh Kyungsoo beberapa waktu yang lalu. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Jongin sudah mulai membuka kedua matanya dan pandangannya mengarah ke sekeliling ruangan tempat dia berada saat ini. Jongin menyadari jika saat ini dia berada di kamar rawatnya dengan kaki yang kembali di pasung dia atas tempat tidur. Jongin kembali mengingat – ingat mengapa dia bisa berakhir di kamar dengan kaki terpasung. Mata Jongin bergerak dengan gelisah saat dia mengingat kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri. Dia mengingat jika tadi Kyungsoo dan Chanyeol saling berpelukan dan entah mengapa melihat kejadian itu emosi Jongin menjadi tidak terkendali. Karena emosi jugalah yang mengakibatkan dia mengoyak pergelangan tangan Chanyeol hingga namja tinggi itu tak sadarkan diri. Yang membuat Jongin tidak mengerti adalah hatinya bagai ditusuk ribuan sembilu saat Kyungsoo pergi meninggalkannya.

""AAAGGHHHH AAAAAAAAHHHHHHHHHKKKKKKKKK" ronta Jongin sambil berteriak sekeras mungkin. Ranjang yang dia tempati saat ini berdecik hebat karena Jongin yang terus menerus meronta. Yang dia inginkan saat ini hanya pergi mencari Kyungsoo karena kakinya dipasung membuat dia tidak bisa untuk mencari Kyungsoo. Mendengar adanya keributan di ruang rawat Jongin, membuat beberapa perawat masuk ke kamar tersebut dan mencoba untuk menenangkan Jongin. Dua orang perawat terlihat kewalahan untuk menenangkan Jongin karena dia bukan semakin tenang melainkan semakin memberontak. Jongin terus memberontak dan mencakar tangan kedua perawat yang berusaha menenangkannya dengan kuku tajamnya.

"Cepat panggilkan Dokter Do kesini. Kita tidak bisa menahannya lebih lama lagi." perintah perawat yang bernama Choi Jinwoo kepada rekan kerjanya. Setelah mendapat perintah dari Jinwoo dia segera berlari mencari keberadaan ayah kandung Kyungsoo tersebut. Tak membutuhkan waktu yang lama perawat tersebut menemukan Dokter Do yang baru saja keluar dari salah satu kamar rawat yang ada di rumah sakit ini.

"Dokter Do." Teriak perawat tersebut tidak lagi dia pedulikan tatapan tajam dari pengunjung rumah sakit tersebut yang merasa terganggu akibat tindakannya tadi. Dokter Do hanya memandang perawat tersebut dengan dahi yang berkerut, dia bingung kenapa perawat tersebut tampak tergesa – gesa seperti itu.

"Ada apa kau mencariku?" tanya dokter Do kepada perawat tersebut.

"Dokter anda harus ikut dengan saya sekarang. Jongin saat ini kembali mengamuk dan memberontak. Sudah ada beberapa perawat yang mencoba menenangkannya tetapi tidak bisa dok." Jelas perawat tersebut kepada dokter Do. Mendengar penjelasan dari perawat tersebut membuat dokter Do tidak mau berlama – lama dan langsung menuju ke kamar rawat Jongin. Sesampainya dia di kamar rawat Jongin hal pertama yang dilihat oleh sepasang mata pria paruh baya tersebut adalah Jongin yang masih memberontak saat empat orang perawat berusaha untuk menenangkannya. Tidak hanya suara rontaan Jongin yang terdengar dari ruangan tersebut tetapi juga suara erangan kesakitan dari keempat perawat tersebut karena terkena cakaran kuku tajam Jongin. Dokter Do menyiapkan obat bius kemudian berjalan ke arah tempat tidur Jongin. Melihat dokter Do yang akan menyuntik bius Jongin membuat para perawat sedikit mundur untuk memberikan jalan kepada dokter Do. Dokter tersebut mengarahkan jarum suntik di pergelangan tangan Jongin. Tak selang berapa lama mata Jongin terasa berat dan dia berhenti meronta – ronta. Dokter Do sempat tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya ketika Jongin mengeluarkan air mata dan mengucapkan sebuah nama dengan ekspresi kesakitan yang begitu ketara.

"Kyung… Kyungsoo gajima"

(TBC/END)

Terima kasih sudah mau menyempatkan waktu untuk membaca ff ini. jangan lupa reviewnya ya