Miss Wuhan present
Tittle : True Love
Author : Miss Wuhan
Cast : Do Kyungsoo and Kim Jongin
Pair : Kaisoo
Genre : You will find it
Length: Chaptered
Rated : T
Warning : Typos, OOC, Boys love, It's just a fanfiction
Happy Reading and Don't forget to RCL
Chapter 6
"Bagaimana keadaan Chanyeol uisa nim? Apakah dia baik – baik saja?"
Sayup – sayup terdengar suara keributan yang masuk melalui telinga Kyungsoo dan membuat namja tersebut terjaga dari tidurnya. Dia menegakkan badan dan sedikit melakukan peregangan kecil agar tubuhnya lebih rileks. Bagaimanapun tertidur dengan posisi duduk sangat tidak nyaman dan membuat badan pegal. Setelah dirasakan badannya rileks, Kyungsoo menajamkan pendengarannya, mencoba menerka siapa yeoja di luar kamar inap Chanyeol. Kyungsoo pernah mendengar suara tersebut, setelah beberapa saat dia akhirnya mengetahui siapa pemilik suara tersebut.
"Chan hyung ibumu sudah datang. Apa yang harus ku katakan kepada ibumu? Apakah aku harus menceritakan semuanya kepada beliau?" tanya Kyungsoo kepada Chanyeol yang hanya dibalas keheningan karena sampai saat ini Chanyeol masih setia memejamkan kedua netra indahnya.
Suara decitan pintu yang bergesek dengan lantai mengema di ruangan itu dan membuat Kyungsoo menoleh ke asal suara. Di sana dapat Kyungsoo lihat seorang yeoja yang memandang nanar kepada seseorang yang berada di sebelah Kyungsoo. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi yeoja itu untuk mengeluarkan air mata melihat anak kesayangannya tertidur di ranjang kesakitan tersebut. Sedangkan sang suami memberikan kekuatan kepada istrinya yang masih shock melihat kondisi anaknya. Kyungsoo berjalan mendekat kepada pasangan suami istri tersebut kemudian memeluk yeoja yang merupakan ibu kandung Chanyeol tersebut dengan erat.
"Maafkan Kyungsoo eommanim. Kyungsoo bersalah karena telah membuat Chanyeol menjadi seperti ini." isak Kyungsoo dalam dekapan Nyonya Park, ibu Chanyeol.
"Apa yang sebenarnya terjadi sayang. Mengapa Chanyeol bisa sampai terbaring lemah seperti itu?" tanya ibu Chanyeol sambil melepaskan pelukan Kyungsoo terhadapnya. Kali ini Kyungsoo merasa bingung. Apa yang harus dikatakannya kepada ibu Chanyeol. Apakah Kyungsoo akan menceritakan yang sebenarnya kepada kedua orang tua Chanyeol. Itulah pikiran – pikiran yang berkecamuk di dalam benak Kyungsoo. Kyungsoo memejamkan kedua bola matanya lalu menghembuskan nafasnya perlahan sehingga tubuhnya menjadi sedikit rileks. Keputusan sudah di ambil oleh Kyungsoo dan dia juga harus siap untuk menerima konsekuensi dari keputusan yang telah dia ambil. Namun belum sempat Kyungsoo mengeluarkan suaranya, terdengar suara lirih yang menyerupai bisikan dari arah ranjang tempat Chanyeol berbaring.
"Kyung… Kyungsoo"
Dengan refleks ketiga orang yang berada di ruangan tersebut menoleh ke sumber suara dan mendapati Chanyeol sudah membuka kedua matanya.
"Chanyeol sayang. Akhirnya kau sadar nak. Eomma ada di sini" ucap Nyonya Park lalu mengecup kening putra kesayangannya tersebut.
"Eomma. Mengapa eomma dan appa bisa berada di sini?" tanya Chanyeol lirih.
"Kyungsoo yang menelepon eomma jika kau masuk ke rumah sakit. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kau bisa masuk ke rumah sakit sayang."
"Aku hanya ceroboh sampai – sampai tanganku di gigit oleh anjing liar."
Kyungsoo membatu mendengar jawaban yang dilontarkan Chanyeol. Mengapa Chanyeol tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Kyungsoo eodigga eomma?"
Merasa namanya dipanggil oleh Chanyeol, Kyungsoo berjalan menuju ke katil tempat Chanyeol terbaring. Setelah Kyungsoo mendekat Chanyeol mengisyaratkan agar Kyungsoo memeluknya. Kyungsoo pun menurut dia mendekat ke Chanyeol dan memeluknya tidak terlalu erat. Dia takut jika memeluk terlalu erat maka akan melukai Chanyeol.
"Jangan khawatir hyung, aku berada di sini." Ucap Kyungsoo lalu melepaskan pelukan Chanyeol perlahan – lahan.
"Berjanjilah kalau kau tidak akan meninggalkanku Kyungie"
"Ne aku berjanji hyung. Syukurlah kau sekarang sudah sadar hyung. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Aku hampir seperti orang gila yang terus saja memintamu untuk bangun."
"Mianhae jangan memasang wajah cemberut seperti itu Kyung. Kau terlihat lebih imut jika cemberut seperti itu."
"Yakk meskipun kau sakit tetapi tetap saja kau menyebalkan hyung."
"Baiklah aku minta maaf. Gomawo kau telah mengkhawatirkanku Kyungie." Ucap Chanyeol sambil bibirnya mengecup lembut pergelangan tangan Kyungsoo. Mendapatkan perlakuan manis seperti itu membuat pipi Kyungsoo merona merah semerah tomat matang. Chanyeol terkekeh kecil melihat namja yang dicintainya merona hebat seperti itu. Bahkan pemuda jangkung tersebut melupakan keberadaan kedua orang tuanya yang tersenyum penuh arti melihat interaksi antara Chanyeol dan Kyungsoo. Diam – diam kedua orang tua Chanyeol meninggalkan keduanya dan keluar dari kamar rawat tersebut.
"Yeobo apakah kau tadi melihat bagaimana serasinya Chanyeol dan Kyungsoo?" tanya appa Chanyeol
"Kau benar mereka terlihat sangat serasi sayang. Aku bisa melihat bahwa Chanyeol sangat mencintai Kyungsoo. Bahkan Chanyeol tadi melupakan keberadaan kita." Jawab eomma Chanyeol
"Bagaimana jika kita menikahkan Chanyeol dan Kyungsoo? Aku sangat yakin pasti Chanyeol akan menyetujui rencana kita."
"Aku setuju. Lagipula sudah lama Chanyeol memendam perasaan cinta kepada Kyungsoo. Bukan hanya Chanyeol yang senang tetapi aku juga sayang. Sudah lama aku menginginkan Kyungsoo menjadi menantuku. Kita harus segera membahas rencana ini kepada keluarga Do. Aku yakin mereka juga akan setuju dengan rencana kita."
.
.
.
.
.
.
Pagi hari suasana di kota Seoul sudah cerah. Matahari bersinar cerah menemani warga Seoul yang akan melaksanakan aktifitas sehari – hari. Semua orang tampak bersemangat untuk melewati hari yang cerah ini. Namun sepertinya tidak semua orang bersemangat untuk melewati hari ini. Buktinya ada seorang namja yang memasang muka "mendung" di cuaca yang cerah seperti hari ini. Kyungsoo yang baru saja kembali dari sarapan pagi di kantin rumah sakit mengerutkan keningnya bingung melihat ekspresi Chanyeol saat ini. Biasanya namja tinggi tersebut akan selalu bersemangat atau malah terlalu bersemangat ketika cuaca sedang cerah seperti saat ini.
"Kau kenapa hyung? Kenapa wajahmu murung sekali? Padahal suasana saat ini sangat cerah dan tidak biasanya kau murung di cuaca yang seperti ini?" tanya Kyungsoo.
"Eohh Kyungie kau sudah datang?" bukannya menjawab pertanyaan dari Kyungsoo, melainkan dia memberikan pertanyaan lain kepada namja bermata bulat tersebut.
"Kau belum menjawab pertanyaanku hyung?"
"Baiklah baiklah. Aku sedang kesal Kyungie. Dokter melarangku untuk pulang ke Jepang dengan alasan kesehatanku yang belum pulih. Padahal pekerjaan menumpuk saat ini sudah menantiku."
"Kau tidak boleh pulang dulu ke Jepang hyung. Benar apa kata dokter jika saat ini kesehatanmu belum pulih dan kau tidak bisa memaksakan kehendakmu untuk pulang ke Jepang."
"Tapi Kyungie ada proyek besar yang menantiku di Jepang dan perusahaanku akan rugi besar jika sampai aku gagal dalam mendapatkan proyek tersebut." kekeuh Chanyeol.
Kyungsoo berpikir keras untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Dia benar – benar bingung saat ini. Dengan keadaan Chanyeol saat ini sangat tidak memungkinkan untuk kembali ke Jepang. Tetapi di sisi lain Chanyeol akan tetap bersikukuh untuk kembali melanjutkan pekerjaannya di Jepang. Kyungsoo sangat mengenal sifat Chanyeol, bukan dalam setahun atau dua tahun dia mengenal Chanyeol. Dia sudah mengenal Chanyeol di saat mereka masih balita jadi dia mengetahui jika Chanyeol adalah orang yang paling keras kepala yang pernah dia kenal seumur hidupnya.
"Jika begitu masalahnya bagaimana jika kau tetap pulang ke Jepang tetapi dengan satu syarat, Kyungsoo akan ikut bersama kita. Biar dia yang akan mengawasi kesehatanmu selama berada di Jepang. Bagaimana Kyungie apakah kau setuju dengan ide eommonim?" tanya ibu Chanyeol kepada Kyungsoo. Merasa namanya dipanggil membuat Kyungsoo segera tersadar dari lamunannya dan memberikan tatapan meminta maaf kepada ibu Chanyeol karena dia tidak mendengarkan kata – katanya.
"Tadi eomma berkata jika aku tetap akan pulang ke Jepang tetapi dengan satu syarat kau harus mau ikut bersama kami ke Jepang." Jelas Chanyeol mengerti akan tatapan Kyungsoo kepada ibunya.
"Mworago" tanpa sadar Kyungsoo berteriak di kamar rawat Chanyeol. Setelah sadar dia langsung menutup kedua mulutnya sambil mengumamkan permintaan maaf dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh penghuni kamar tersebut.
"Mengapa aku juga harus ikut bersama kalian ke Jepang?" tanya Kyungsoo saat dia sudah berhasil mengendalikan ekspresi terkejutnya tadi.
"Kau tahu sendiri kan Kyungie bagaimana keras kepalanya Chanyeol. Dia akan tetap memaksa untuk pulang ke Jepang dan menjalankan pekerjaannya tanpa peduli dengan kesehatannya." Jelas ayah Chanyeol dan dijawab anggukan kepala oleh Kyungsoo. Lalu ayah Chanyeol kembali menjelaskan, "Selama ini Chanyeol selalu menurut dengan apa yang kau katakan Kyungie. Bahkan dia saja jarang menuruti apa yang di inginkan oleh kedua orang tuanya. Dan appa berharap kau bisa merawat dan menjaganya agar bocah itu juga peduli dengan kesehatannya. Appa yakin jika Chanyeol akan menurutimu jika kau memintanya untuk beristirahat dari rutinitas pekerjaannya. Bagaimana Kyung apakah kau mau ikut dengan kami pulang ke Jepang?" tanya appa Chanyeol.
Kyungsoo saat ini terlihat sedang memilin ujung bajunya dengan kepala yang menunduk dalam. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Kyungsoo jika dia merasa gugup atau sedang bingung. Kyungsoo menghembuskan nafas perlahan untuk memantapkan hati atas keputusan yang akan dia ambil.
"Baik aku akan ikut kalian ke Jepang. Aku akan berada di Jepang sampai kesehatan Chanyeol hyung membaik. Lagipula aku ingin membalas budi kepada Chanyeol hyung karena kesalahanku lah Chanyeol hyung harus terbaring di rumah sakit." ucap Kyungsoo dengan raut wajah sendu menghiasi wajahnya. Melihat Kyungsoo yang menyalahkan dirinya membuat hati Chanyeol bagai disayat ribuan belati. Rasanya sungguh menyakitkan melihat orang yang dicintai mengeluarkan air matanya. Dan itulah yang dirasakan oleh Chanyeol saat ini. Dia memposisikan diri untuk duduk dan membawa Kyungsoo yang duduk di sebelah ranjangnya ke dalam dekapan hangatnya. Membiarkan dirinya menjadi sandaran Kyungsoo saat ini dengan menyediakan tampat untuk Kyungsoo menangis di dadanya.
"Jangan menyalahkan dirimu lagi Kyungie. Ini semua bukan kesalahanmu. Dan kumohon berhentilah menangis." Bisik Chanyeol lirih di telinga Kyungsoo lalu mengecup pundak Kyungsoo yang masih bergetar hebat. Sedangkan kedua orang tua Chanyeol tidak bisa lagi menahan senyumannya melihat interaksi di antara anak dan calon menantu mereka.
.
.
.
.
.
.
"Apa? Kau akan ikut keluarga Park ke Jepang Kyung?" tanya appa Kyungsoo tidak percaya. Ekspresi terkejut tanpak jelas terlihat di wajah ayah kandung Kyungsoo tersebut. Siapa yang tidak terkejut jika pagi – pagi Kyungsoo sudah berada di rumah sakit untuk meminta ijin sekaligus cuti kerja selama dua minggu penuh.
"Iya appa. Sementara ini aku akan ikut keluarga Chanyeol hyung ke Jepang. Karena kesehatan Chanyeol hyung belum sepenuhnya pulih maka aku akan mewaratnya selama dia berada di Jepang." Jelas Kyungsoo.
"Arraseo . Mungkin waktu penyembuhan Chanyeol bisa lebih cepat karena dia selalu menuruti perkataanmu. Jadi kau akan cuti selama dua minggu?"
"Ne appa. Apakah appa menyetujui permohonan cutiku?"
"Baiklah. Sepertinya aku harus mencari dokter pengganti sementara untuk merawat Kim Jongin."
Tubuh mungil Kyungsoo menegang saat mendengarkan nama Kim Jongin. Kyungsoo merutuki dirinya sendiri karena dia sampai melupakan pasiennya yang satu itu. Bagaimana keadaan Jongin setelah kejadian beberapa hari yang lalu? Apakah dia baik – baik saja? Itulah pertanyaan – pertanyaan yang muncul di kepala Kyungsoo.
"Bagaimana keadaan Jongin appa? Apakah dia baik – baik saja?" tanya Kyungsoo.
Dokter Do tampak menghela nafas sesaat sebelum meletakkan surat permohonan cuti Kyungsoo dan berjalan mendekati Kyungsoo. Lalu Dokter Do mengajak Kyungsoo duduk di sofa yang memang tersedia di ruang kerjanya.
"Setelah kejadian itu, Jongin terus saja mengamuk dan memberontak Kyungie. Jadi terpaksa kami kembali memasung kaki Jongin supaya dia tidak lagi memberontak" jelas appa Kyungsoo
"APA? KENAPA KALIAN KEMBALI MEMASUNGNYA? JONGIN BUKAN BINATANG YANG BISA KALIAN PASUNG SEENAKKNYA. DIA JUGA MANUSIA YANG BUTUH KEBEBASAN APPA." Teriak Kyungsoo memecah keadaan yang semula sunyi di ruangan itu. Nafas Kyungsoo tampak terengah – engah, emosi kini sudah menguasai dirinya sehingga dia tidak sadar jika tadi membentak ayahnya sendiri. Sementara Dokter Do hanya bisa tertegun dengan reaksi yang diberikan oleh anaknya. Dia tidak menyangka jika Kyungsoo akan bereaksi berlebihan seperti ini. Bukankah sudah biasa jika ada pasien yang memiliki masalah kejiwaan dipasung kakinya. Meskipun Dokter Do juga membenarkan pernyataan Kyungsoo jika mereka semua juga manusia yang butuh kebebasan bukan di perlakukan layaknya binatang yang tidak berguna.
Dibutuhkan waktu hampir sepuluh menit bagi Kyungsoo untuk meredakan amarah yang membuncah di dalam dirinya. Dia sendiri pun tidak mengerti mengapa dia bisa semarah ini mengetahui bahwa Jongin kembali di pasung. Dia menolehkan kepalanya ke arah sang ayah yang masih tertegun dan seketika dia merasa menyesal telah membentak ayahnya.
"Mianhae appa. Aku tidak bermaksud membentakmu tadi. Hanya saja aku tadi benar – benar marah dan tanpa sengaja membentak appa. Jeongmal mianhae appa." Sesal Kyungsoo lalu memeluk appanya erat – erat.
"Gwenchana Kyungie, appa bisa mengerti. Lagipula kau benar, jika Jongin tidak pantas diperlakukan seperti binantang. Tetapi appa tidak mempunyai cara lain agar Jongin dapat tenang dan tidak memberontak lagi." kata Dokter Do setelah melepaskan pelukan Kyungsoo.
"Mungkin Jongin memberontak karena dia tidak terbiasa dengan keberadaan appa. Jika appa bisa mendekatinya pelan – pelan aku yakin Jongin tidak akan memberontak lagi "
"Kau benar Kyungie. Selama ini Jongin terbiasa dengan adanya kehadianmu tentu saja dia akan memberontak jika ada orang lain yang mendekatinya."
"Jadi apakah appa akan melepaskan pasung di kaki Jongin?"
"Baiklah appa akan melepaskannya. Kapan kau akan berangkat chagi?"
"Nanti pesawat akan berangkat jam 5 sore. Setelah ini aku akan kembali ke rumah untuk mempersiapkan keperluanku selama aku berada di Jepang. Appa bolehkan aku meminta sesuatu darimu?"
"Memang kau mau meminta apa sayang?"
"Bisakah appa menjaga Jongin dengan baik selama aku berada di Jepang?"
Ayah Kyungsoo sempat terkejut saat mendengar permintaan dari anaknya untuk menjaga Jongin saat dia berada di Jepang. Namun secepat kilat dia mengubah ekspresi di wajahnya agar Kyungsoo tidak menyadari perubahan ekspresinya.
"Tentu saja appa akan menjaga Jongin. Kau jangan khawatir lagi Kyungie."
"Gomawo appa" ucap Kyungsoo lalu memeluk ayahnya erat.
.
.
.
.
.
Dengan langkah gontai, Kyungsoo keluar dari ruang kerja ayahnya dan berniat untuk pulang ke rumahnya. Namun tanpa disadari oleh Kyungsoo, langkah kaki membawanya ke tempat dimana kamar rawat Jongin berada. Kyungsoo baru menyadarinya ketika dia sudah sampai di depan pintu kamar rawat Jongin yang masih tertutup.
"Kenapa aku berada di sini?" monolog Kyungsoo. Kyungsoo terkaget dari lamunannya saat melihat suster Hyeri keluar dari kamar Jongin. Sepertinya tidak hanya Kyungsoo yang merasa terkejut tetapi suster Hyeri juga sama.
"Oh Dokter Kyungsoo apa yang sedang anda lakukan disini? Apakah anda ingin memeriksa keadaan Jongin?" tanya suster Hyeri saat dia sudah berhasil mengendalikan ekspresi terkejutnya.
"Ohh emm tidak suster aku hanya kebetulan lewat saja. Bagaimana keadaan Jongin?"
"Sekarang Jongin sedang tidur dan baru saja aku melaksanakan perintah dari Dokter Do untuk melepas pasung yang ada di kaki Jongin. Dokter, saya pamit terlebih dahulu karena masih ada beberapa pasien yang harus saya periksa."
Setelah berpamitan suster Hyeri meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri di depan pintu kamar Jongin tanpa berbuat apa – apa. Kyungsoo merasa bingung. Apakah dia akan masuk untuk berpamitan kepada Jongin jika dia akan pergi. Atau dia tidak akan berpamitan dengan Jongin dan pergi begitu saja ke Jepang. Dengan ragu, Kyungsoo mengarahkan tangannya ke handle pintu kamar Jongin. Bayangan kejadian beberapa hari lalu tiba – tiba muncul di kepala Kyungsoo. Kejadian dimana dia meninggalkan Jongin dan lebih memilih pergi bersama Chanyeol yang sedang sekarat waktu itu. Masih jelas terekam di dalam benak Kyungsoo ekspresi Jongin yang tidak ingin di tinggalkan olehnya. Tangan Kyungsoo yang semula berada di handle pintu kini berganti di dadanya yang masih saja terasa sesak jika mengingat kejadian tersebut.
Ya Tuhan aku tidak tega jika harus melihat ekspresi terluka Jongin itu kembali.
Kyungsoo tidak jadi membuka pintu tersebut dan berpamitan kepada Jongin mengenai kepergiannya. Dia mendekatkan tubuhnya ke pintu kamar tersebut dan berbicara kepada pintu tersebut seolah – olah pintu yang ada di hadapannya adalah Jongin.
"Jongin aku akan pergi ke Jepang. Aku berharap kau bisa menjaga dirimu selama aku tidak ada di sampingmu. Sampai jumpa Jongin. Aku pasti akan merindukanmu."
Kyungsoo tidak main – main saat dia mengatakan bahwa akan merindukan Jongin. Beberapa hari ini tidak bertemu dengan Jongin membuat Kyungsoo dilanda rindu yang mendalam kepada salah satu pasiennya tersebut. Kyungsoo merasa bodoh karena berpamitan dengan cara seperti ini. Kyungsoo tahu jika Jongin tidak mungkin mendengarkan perkataannya tadi. Tapi mau bagaimana lagi namja mungil tersebut tidak memiliki cukup keberanian untuk bertemu dengan Jongin setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Sebenarnya ada perasaan tidak rela di hati Kyungsoo jika dia harus meninggalkan Jongin namun Chanyeol sekarang lebih membutuhkan keberadaannya. Akhirnya Kyungsoo pergi dari tempat itu setelah menerima pesan dari ibu Chanyeol jika beliau saat ini sudah berada di rumah Kyungsoo.
.
.
.
.
.
.
Jongin merasakan ada seseorang yang menyentuh kakinya dan sentuhan tersebut sudah cukup membuat Jongin terjaga dari tidurnya. Tak lama kemudian dia merasakan pasung yang membelenggu kakinya sudah terlepas. Kedua netra Jongin tetap terpejam rapat selama suster tersebut melepaskan pasung yang berada di kakinya. Sampai terdengar suara pintu kamar rawatnya yang ditutup barulah dia membuka kedua matanya. Tangannya terulur ke arah kedua matanya dan menghapus cairan bening yang mengalir dari sana. Jongin mengetahui jika yang melepaskan pasung yang membelenggu kakinya bukanlah Kyungsoo. Dan entah mengapa air mata keluar begitu saja dari kedua matanya.
"Jongin aku akan pergi ke Jepang. Aku berharap kau bisa menjaga dirimu selama aku tidak ada di sampingmu. Sampai jumpa Jongin. Aku pasti akan merindukanmu."
Jongin menajamkan pendengarannya ketika dia mendengar ada suara seseorang yang berbicara di depan pintu kamarnya. Dia memejamkan kedua matanya dan tersenyum bahagia karena dia telah mendengarkan suara Kyungsoo yang membuat jantungnya berdesir hebat. Dia memandang pintu ruang rawatnya dengan senyum yang terus terpatri di wajahnya. Dia menggumamkan nama Kyungsoo berulang kali tanpa suara, seolah – olah nama Kyungsoo adalah sebuah doa. Jongin berharap Kyungsoo akan membuka pintu itu dan kembali merawatnya seperti sedia kala. Namun senyum yang sedari tadi terpatri di wajah Jongin perlahan memudar saat Kyungsoo tidak juga datang untuk menemuinya. Dia merasakan sesak yang teramat sangat mengetahui bahwa Kyungsoo tidak akan lagi merawatnya dan tidak akan lagi berada di sisinya. Jongin beranjak turun dari ranjangnya kemudian merangkak menuju ke arah jendela. Dari jendela kamarnya, Jongin bisa melihat pemandangan taman belakang rumah sakit tempat dimana dia biasa menghabiskan waktu bersama dengan Kyungsoo.
Pandangan Jongin sekarang tertuju kepada sesosok pria mungil yang saat ini sedang berjalan memasuki mobilnya. Letak parkiran dan taman belakang memang menjadi satu. Jongin menyadari bahwa pria itu adalah Kyungsoo. Dengan segera dia berlari seperti anjing buas yang akan memburu mangsanya untuk mengejar Kyungsoo. Saat ini yang diperdulikan Jongin hanyalah Kyungsoo, dia akan mencakar atau bahkan menggigit siapa saja yang menghalangi jalannya untuk bertemu dengan Kyungsoo. Tak terhitung sudah berapa perawat dan dokter yang menghalangi Jongin untuk kabur dari kamarnya. Semua orang yang berada di rumah sakit itu panik melihat Jongin yang berhasil kabur dari kamar rawatnya. Dokter Do yang merasa terganggu dengan keributan memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia mencegat salah satu perawat yang berlari tergopoh – gopoh.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ada keributan di sini?" tanya Dokter Do kepada perawat tersebut.
"Pasien dari kamar rawat 77 mencoba untuk kabur dokter. Dan semua perawat dan dokter saat ini sedang berusaha untuk menangkapnya. Tetapi mereka mengalami kesulitan karena pasien tersebut berlari sangat cepat. Dia juga mencakar atau menggigit setiap orang yang menghalangi jalannya."
Dokter Do sangat terkejut ketika mendengar penjelasan dari perawat tersebut. Pasien di kamar nomor 77 adalah Kim Jongin. Dan saat ini dia sedang berusaha untuk kabur. Lalu Dokter Do juga ikut membantu menangkap Jongin. Sepanjang perjalanan Dokter Do berfikir apakah alasan Jongin kabur dari kamarnya. Dia merasa heran karena selama ini Jongin tidak pernah mencoba untuk kabur dari rumah sakit ini.
Kenapa dia kabur? Apakah ini semua ada hubungannya dengan anakku, Kyungsoo?
.
.
.
.
.
.
Jongin semakin mempercepat larinya saat dia melihat mobil Kyungsoo sudah bergerak meninggalkan rumah sakit ini. Jarak Jongin dan mobil Kyungsoo saat ini sudah semakin dekat namun Kyungsoo tidak menyadari bahwa Jongin mengejarnya. Karena Jongin tidak menggunakan kedua kakinya untuk berlari maka dari itu Kyungsoo tidak bisa melihat Jongin dari dalam mobilnya. Nafas Jongin sudah tersengal – sengal, jantungnya sudah berpacu melebihi kecepatan normal tetapi dia tetap berlari untuk mengejar Kyungsoo. Mobil Kyungsoo sudah berjalan melewati gerbang rumah sakit dan sayup – sayup Jongin dapat mendengar seseorang yang berteriak untuk menutup pintu gerbangnya. Mata tajam Jongin membulat saat dia menyadari bahwa pintu gerbang tersebut dengan perlahan mulai tertutup. Dengan sisa tenanganya Jongin berlari menuju ke gerbang itu dan mencoba untuk membuka gerbang tersebut.
"AKKHHHHH AKHHHH" teriak Jongin memekakkan telinga. Jongin memundurkan tubuhnya saat dia merasakan sengatan listrik ketika menyentuh pintu gerbang tersebut. Jongin bangkit dan mencoba untuk membuka gerbang tersebut. Namun sengatan listrik tersebut kembali dia rasakan. Teriakan kesakitan yang keluar dari mulut Jongin membuat semua orang mengiba kepadanya. Bahkan ada sebagian orang yang menangis karena keadaan Jongin saat ini. Namun dia tidak menyerah Jongin terus saja mencoba membuka gerbang tersebut kendati hasil yang diperolehnya tetap sama. Gerbang di rumah sakit tersebut memang sengaja di aliri oleh arus listrik. Siapapun yang memegang gerbang tersebut akan tersengat oleh listrik. Hal ini dilakukan untuk mencegah pasien yang mencoba kabur dari rumah sakit jiwa ini.
Dokter Do segera berlari ke arah Jongin yang sekarang sudah tergeletak tidak sadarkan diri di depan gerbang. Dibantu oleh beberapa bawahannya dia membawa Jongin kembali ke kamar rawatnya. Setelah membaringkan Jongin, Dokter Do memeriksa keadaan Jongin. Beruntung Jongin hanya pingsan dan tidak ada sesuatu yang serius terjadi pada Jongin. Dokter Do duduk di sebelah ranjang Jongin dan memperhatikan raut wajah Jongin yang saat ini tengah tak sadarkan diri. Memori otaknya kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu dimana Jongin berbicara untuk pertama kalinya selama dia dirawat di sini.
"Kyung… Kyungsoo gajima"
Bahkan nama Kyungsoo yang di sebut pertama kali oleh Jongin saat dia mencoba untuk berbicara. Bukankah bagi Jongin, Kyungsoo orang yang sangat berarti bagi hidupnya. Dokter Do juga mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat Kyungsoo meminta ijin untuk mengabil cuti.
"APA? KENAPA KALIAN KEMBALI MEMASUNGNYA? JONGIN BUKAN BINATANG YANG BISA KALIAN PASUNG SEENAKKNYA. DIA JUGA MANUSIA YANG BUTUH KEBEBASAN APPA."
Kyungsoo sampai membentak ayahnya karena mengetahui bahwa Jongin kembali di pasung. Dokter Do bersumpah bahwa dia tidak pernah melihat anaknya semarah dan sekecewa itu kepadanya. Bukankah bagi Kyungsoo, kebahagiaan dan kebebasan Jongin adalah hal yang paling utama. Ditambah lagi kejadian yang membuat Jongin menjadi tak sadarkan diri karena dia berniat untuk mengejar mobil Kyungsoo. Tangan Dokter Do mengelus kepala Jongin perlahan dan merapikan selimut yang membungkus tubuh Jongin.
"Apa sebenarnya hubungan antara kau dan Kyungsoo? Apakah kalian saling mencintai?" monolog Dokter Do.
(TBC/END/DELETE)
Halo berjumpa lagi dengan saya kali ini saya membawa kelanjutan dari ff true love. Masih ingat dengan ff ini? Saya lagi – lagi minta maaf karena saya sangat lama tidak mengupdate ff ini. sekali update malah chapternya pendek. Jeongmal mianhae. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada reader semua yang sudah memfollow, faforite maupun mereview ff ini. saya tidak menyangka jika banyak reader yang menunggu klanjutan ff ini. terima kasih banyak. Oh iya di chapter sebelumnya banyak dari reader yang mengatakan bahwa ff ini mirip dengan ff Lycantrophes karya author Chang Chang . Saya pribadi memang penggemar dari ff tersebut dan saya pernah membaca jika author chang chang terinspirasi dari film warewolf boy. Di dalam ff ini juga ada beberapa adegan yang terinspirasi dari film tersebut. Namun saya dapat memastikan jika ff ini akan berbeda jauh dengan film warewolf boy maupun ff Lycantrophes. Jadi mengapa ff ini sedikit mirip dengan ff Lycantrophes karena terinsiprasi dari film yang sama.
See you in next chapter
