Miss Wuhan present
Tittle : True Love
Author : Miss Wuhan
Cast : Do Kyungsoo and Kim Jongin
Pair : Kaisoo
Genre : You will find it
Length : Chaptered
Rated : T
Warning : Typos, OOC, Boys love, It's just a fanfiction
Happy Reading and Don't forget to RCL
Chapter 7
Incheon Internasional Airport saat ini sedang dipadati oleh orang – orang yang berlalu lalang pergi menggunakan pesawat terbang. Bandara tersebut merupakan salah satu bandara terbesar di Korea Selatan, tidaklah heran bahwa pada weekend seperti hari ini bandara semakin dipadati oleh lautan manusia. Salah satunya adalah Kyungsoo, saat ini dia sedang duduk terpaku di ruang tunggu bandara. Dia memandang sendu sebuah tiket yang akan mengantarkannya meninggalkan tanah kelahirannya, Korea Selatan. Batinnya berkecamuk, dia tidak ingin pergi ke Jepang namun situasi saat ini tidak memungkinkan dia untuk bersikap egois. Tepukan pelan pada bahunya menyadarkan Kyungsoo dari lamunan sesaatnya. Dia mendongak untuk melihat siapa yang menepuk bahunya dan disambut oleh senyum cerah milik Chanyeol.
"Apa yang kau pikirkan Kyungsoo? Apakah kau keberatan ikut dengan kami ke Jepang?" tanya Chanyeol setelah dia duduk di bangku kosong tepat di sebelah Kyungsoo.
"Anni hyung aku tidak keberatan jika harus ikut dengan kalian ke Jepang. Lagipula ini kan keinginanku sendiri tidak ada paksaan dari kalian. Tadi aku memikirkan appa dan eomma, pasti aku akan merindukan mereka."
Kyungsoo sebisa mungkin mengendalikan mimik wajahnya di depan Chanyeol agar dia tidak mengetahui kebohongannya saat ini. Benar, Kyungsoo berbohong kepada Chanyeol. Sebenarnya dia masih merasa ragu atas keputusannya mengikuti keluarga Park ke Jepang. Usaha Kyungsoo berhasil karena Chanyeol tidak menyadari jika dirinya berbohong. Suara pengumuman dari speaker mengatakan bahwa pesawat menuju ke Jepang akan berangkat sesaat lagi. Kyungsoo dan keluarga Park bergegas menuju ke dalam pesawat yang akan membawa mereka ke Jepang. Sesudah masuk ke dalam pesawat, Kyungsoo mendapatkan tempat duduk di dekat jendela dan yang duduk di sampingnya adalah Chanyeol. Kyungsoo menyandarkan kepalanya ke jendela dan memandang sendu pemandangan di luar sana. Entah mengapa di dalam benaknya hanya dipenuhi oleh satu nama.
Jongin jaga dirimu baik – baik.
.
.
.
.
Saat ini Kyungsoo bersama keluarga Park berada di dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke apartemen milik Chanyeol. Kyungsoo asyik memandangi pemandangan kota Tokyo dari jendela mobilnya. Baru pertama kali berada di Jepang sudah membuatnya begitu mengagumi negeri sakura tersebut. Mata bulat Kyungsoo tak henti memandang kagum gedung – gedung pencakar langit yang di laluinya. Sementara Kyungsoo sibuk mengangumi pemandangan, di sebelahnya Chanyeol justru sibuk memandang wajah Kyungsoo dari samping.
Dia begitu terpesona akan sosok Kyungsoo saat ini. Dimana mata bulat Kyungsoo berbinar – binar sambil menggumamkan kata pujian saat melihat pemandangan melalui kaca jendela mobilnya. Tanpa terasa kedua sudut bibir Chanyeol membentuk kurva melengkung menghiasi wajah tampannya saat melihat betapa imutnya kelakuan Kyungsoo saat ini. Sepertinya bukan hanya Chanyeol yang tersenyum melihat Kyungsoo, kedua orang tua Chanyeol juga tersenyum melihat tingkah laku Kyungsoo.
Kyungsoo terkejut di saat dia merasakan sesuatu yang berat menimpa bahunya. Dia menolehkan kepalanya ke arah bahunya dan mendapati kepala Chanyeol tengah bersandar di bahunya. Kedua kelopak mata Chanyeol tertutup menandakan bahwa dia sedang tertidur. Kyungsoo tersenyum tipis saat mendengar dengkuran halus dari mulut Chanyeol. Tangan Kyungsoo bergerak ke kepala Chanyeol membenarkan posisi kepalanya agar lebih nyaman di bahu Kyungsoo. Mata Kyungsoo melirik jaket yang ada di pahanya lalu mengambil jaket tersebut dan menyampirkan jaket tersebut ke badan Chanyeol. Badan Chanyeol sempat bergerak karena terganggu dengan pergerakan Kyungsoo. melihat hal itu Kyungsoo mengusap perlahan dahi Chanyeol agar dia kembali tertidur. Dan usaha Kyungsoo berhasil, Chanyeol kembali tertidur dan semakin menyamankan kepalanya di bahu Kyungsoo.
Membutuhkan waktu sekitar dua jam dari bandara menuju ke apartemen Chanyeol yang terletak di kawasan elit di kota Tokyo. Mobil yang ditumpangi Kyungsoo bersama keluarga Park saat ini tengah berhenti di depan lobi apartemen Chanyeol. Kedua orang tua Chanyeol beranjak keluar dari mobil. Tuan Park berjalan menuju ke bagasi untuk mengeluarkan koper – koper sedangkan Nyonya Park membuka pintu penumpang untuk membangunkan Kyungsoo dan anaknya. Senyum Nyonya Park mengembang ketika dia melihat posisi Kyungsoo dan Chanyeol di dalam mobil.
Keduanya terlelap dengan kepala Chanyeol yang bersandar di bahu Kyungsoo sedangkan kepala Kyungsoo bertengger manis di atas kepala Chanyeol. Sebenarnya Ibu Chanyeol masih ingin lebih lama melihat pemandangan manis di antara anak dan calon menantunya. Namun niatan itu harus diurungkan karena merasa tidak tega dengan tidur dalam posisi seperti itu membuat tidak nyaman dan badan menjadi pegal. Dengan perlahan ibu Chanyeol menepuk pipi bulat Kyungsoo bermaksud untuk membangunkannya. Mata Kyungsoo mengerjap pelan lalu tersadar sepenuhnya.
"Kita sudah sampai chagi. Setelah ini beristirahatlah eommanim tahu kau pasti lelah dengan pejalanan ini." kata Nyonya Park.
"Baik eommanim. Saya dan Chanyeol akan segera menyusul." Jawab Kyungsoo.
Kyungsoo membangunkan Chanyeol perlahan setelah Nyonya Park pergi meninggalkan mereka berdua. Chanyeol membuka matanya perlahan dan menyadari bahwa mereka telah sampai di apartemen miliknya.
"Apakah aku sudah lama tertidur Kyungie?"
"Anni hyung. Kita baru saja sampai. Ayo hyung kita naik kau harus segera beristirahat."
Chanyeol menjawab dengan sebuah anggukan. Setelah sepenuhnya sadar, Chanyeol keluar dari mobil di bantu dengan Kyungsoo yang memapah tubuhnya. Chanyeol tertegun sejenak, kedua matanya memandang terkejut kepada lengan Kyungsoo yang saat ini memegang erat tangannya. Lututnya serasa lemas, jantungnya berdetak tak terkendali, karena Kyungsoo yang memegang erat tangannya. Sebenarnya dia sudah sering memegang tangan Kyungsoo namun baru kali ini Kyungsoo memeluk tangannya terlebih dahulu. Dan tidak dapat di pungkiri kejadian sederhana yang di lakukan oleh Kyungsoo dapat berdampak seperti itu pada tubuh Chanyeol. Keduanya pun naik ke apartemen Chanyeol setelah sebelumnya Chanyeol menyerahkan kunci mobilnya kepada supirnya untuk di parkir.
Kini mereka telah berada di apartemen nomor 77 milik Chanyeol. Setelah memasukkan kata sandi mereka berdua masuk ke dalam apartemen dan melihat kedua orang tua Chanyeol saat ini tengah sibuk membereskan koper. Kyungsoo mendudukkan Chanyeol di atas sofa kemudian dia berjalan menghampiri kedua orang tua Chanyeol.
"Appanim, eommanim silahkan beristirahat. Biar aku saja yang membereskan koper – koper itu." kata Kyungsoo.
"Anni Kyungsoo biar appa dan eomma yang membereskan ini. Kau dan Chanyeol beristirahat saja di kamar. Bukankah saat ini waktunya Chanyeol untuk minum obat?" tanya Tuan Park.
"Tapi appa dan eommanim juga pasti kelelahan. Biarkan aku yang membereskan koper – koper itu setelah selesai merawat Chanyeol."
Chanyeol berserta kedua orang tuanya ingin menolak keinginnan Kyungsoo. namun melihat muka memelas yang ditunjukkan Kyungsoo saat ini membuat siapapun tidak tega untuk menolak keinginannya. Alhasil dengan terpaksa ketiga orang tersebut menuruti keinginan Kyungsoo.
Kyungsoo mengantar kedua orang tua Chanyeol untuk beristirahat di salah satu kamar yang ada di apartemen Chanyeol. Di apartemen ini mempunyai 3 kamar, yaitu dua kamar utama dan satu kamar tamu. Setelah selesai mengantarkan kedua orang tua Chanyeol, Kyungsoo kembali ke ruang tamu untuk menghampiri si pemilik apartemen. Dia membantu Chanyeol untuk pindah ke dalam kamar Chanyeol yeng terletak di lantai dua apartemen ini. Begitu pintu kamar Chanyeol di buka dan lampu yang berada di kamar tersebut menyala secara otomatis kedua mata Kyungsoo langsung membola. Bagaimana tidak jika pada saat lampu menyala mata bulatnya bisa melihat banyak sekali fotonya yang terpampang di dinding kamar Chanyeol. Mulai dari ekspresi Kyungsoo yang tengah tertawa, cemberut, tersenyum, sedih, menangis, bahkan ketika Kyungsoo tengah tertidur. Di lihat dari pengambilan gambar dipastikan bahwa sang objek tidak menyadari jika dia dijadikan bidikan foto. Otomatis membuat pergerakan Kyungsoo diam terpaku di ambang pintu kamar Chanyeol.
Menyadari tatapan bingung yang di tunjukkan Kyungsoo membuat Chanyeol diliputi perasaan was – was. Dia khawatir jika Kyungsoo akan membencinya yang memasang banyak foto Kyungsoo di kamarnya.
"Mianhae Soo jika aku memasang banyak fotomu tanpa izin darimu." Kata Chanyeol sambil menundukkan wajahnya merasa bersalah.
"Sejak kapan Hyung? Sejak kapan kau mulai mengambil foto – fotoku?"
"Sudah sejak lama Soo. Apakah kau marah?"
"Anni hyung aku tidak marah hanya saja terlalu kaget kau mengambil banyak sekali fotoku dan aku tidak menyadarinya."
Kyungsoo memberikan senyuman tulus yang mampu menenangkan hati Chanyeol yang semula gelisah. Chanyeol pun membalas senyum tersebut dengan sepenuh hati. Dia semakin mencintai sosok yang berada di hadapannya saat ini. Kebaikan yang di miliki Kyungsoo membuatnya di cintai banyak orang, termasuk dirinya yang sudah terjatuh akan pesona Kyungsoo.
Namja mungil tersebut membantu Chanyeol berbaring di ranjangnya. Chanyeol sesekali meringis kesakitan ketika tangannya yang terluka tidak sengaja tersenggol. Dengan hati – hati Kyungsoo meletakkan sebuah bantal di bawah tangan Chanyeol yang terluka. Kyungsoo akan beranjak pergi namun Chanyeol menahan dengan Kyungsoo dengan tangannya yang tidak terluka.
"Kau mau kemana Soo?" tanya Chanyeol.
"Aku akan membuatkanmu bubur. Kau harus makan lalu meminum obatmu hyung."
"Jangan kau di sini saja. Kau sudah terlalu lelah untuk membuat bubur Soo. Di tas ku ada roti yang tadi belum sempat ku makan. Aku akan memakan roti itu lalu meminum obat."
"Tapi hyung"
"Lihatlah keadaanmu saat ini Kyungie. Raut wajahmu sudah menandakan bahwa kau sangat lelah. Kumohon jangan memaksakan dirimu. Aku tidak mau jika kau sampai terjatuh sakit karena kelelahan." Sela Chanyeol memotong perkataan Kyungsoo. Kyungsoo pun menuruti perkataan Chanyeol. Tidak bisa di pungkiri bahwa dia merasa kelelahan saat ini. Dia berjalan menuju tas Chanyeol dan mengambil roti dan obat – obatan yang akan di minum Chanyeol.
"Temani aku sampai aku tertidur Kyungie. Kau mau kan?" tanya Chanyeol setelah dia selesai meminum obat yang di berikan oleh Kyungsoo. Kyungsoo mengindahkan keinginan Chanyeol. Dia sudah hafal dengan sifat Chanyeol yang berubah manja jika dia yang merawatnya saat Chanyeol sakit. Chanyeol meminggirkan posisi tidurnya memberikan tempat bagi Kyungsoo untuk berbaring di sampingnya. Kyungsoo menurut dan memposisikan dirinya di samping Chanyeol, tidak sampai berbaring hanya punggung Kyungsoo yang bersandar kepada kepala ranjang. Kepala Chanyeol bergerak menuju paha Kyungsoo dan menyamankan posisi tidurnya di pangkuan Kyungsoo. Kyungsoo pun mengelus perlahan rambut hitam legam milik Chanyeol dan menyanyikan lullaby agar Chanyeol segera mengarungi mimpi. Merasa jika namja yang berada di pangkuannya sudah terlelap tidur, Kyungsoo menghentikan usapan lembutnya di kepala Chanyeol. Dia menyandarkan kepalanya di kepala ranjang dan mencoba untuk tidur. Meskipun posisi tidurnya saat ini tidak nyaman tetapi Kyungsoo tidak beranjak dari posisinya saat ini. Dia takut akan membangunkan Chanyeol jika dia mengubah posisi badannya.
Chanyeol yang sebelumnya memejamkan matanya kali ini membuka kedua matanya lalu mendongak untuk menatap Kyungsoo. sebenarnya sedari tadi dia belum tertidur, dia hanya menikmati sentuhan hangat Kyungsoo di kepalanya sambil memejamkan mata. Namun Kyungsoo salah mengira bahwa dirinya sudah tertidur. Dengan hati – hati Chanyeol bangun dari posisinya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo yang tengah tertidur. Dia bisa melihat gurat kelelahan di wajah Kyungsoo dan hal itu mengubah raut wajah Chanyeol menjadi sendu. Tangannya yang tidak terluka terulur ke tengkuk Kyungsoo lalu memindahkan kepala Kyungsoo ke bahunya. Meskipun dengan susah payah karena satu tangannya yang terluka, dia membaringkan Kyungsoo di ranjangnya. setelah berhasil membaringkan Kyungsoo, Chanyeol mengambil selimut dan menyelimuti Kyungsoo sampai sebatas dadanya. Dia tersenyum ketika melihat Kyungsoo yang semakin menyamankan tidurnya dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pipi Chanyeol merona merah saat dia mengingat kejadian hari ini dimana Kyungsoo merawatnya dengan sepenuh hati.
"Apa reaksimu jika mengetahui bahwa selama ini aku mencintaimu Soo?" tangan Chanyeol menyibak poni yang menutupi wajah rupawan Kyungsoo.
"Apa yang harus kulakukan agar kau menyadari perasaanku kepadamu?" kali ini tangan Chanyeol meraba wajah Kyungsoo yang halus dan lembut seperti bayi.
"Saranghae Do Kyungsoo"
Tangan Chanyeol yang tadi meraba wajah Kyungsoo saat ini berhenti tepat di sudut bibir heart shape milik Kyungsoo. Dengan jantung yang bekerja dua kali lipat dia memajukan wajahnya kemudian menutup kedua netranya saat tidak ada jarak lagi antara bibirnya dan bibir Kyungsoo. Chanyeol memberikan kecupan ringan pada bibir Kyungsoo, merasakan betapa manisnya bibir Kyungsoo. Selama ini dia hanya bisa membayangkan mencium bibir Kyungsoo dan saat ini dia menyadari bahwa bibir Kyungsoo sudah menjadi heroin tersendiri baginya.
Bisa dikatakan Chanyeol lelaki brengsek karena telah merebut ciuman seseorang pada saat yang bersangkutan sedang terlelap tidur. Namun dia tidak bisa menahan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Setiap melihat Kyungsoo perasaan egoisnya akan mendominasi. Tetapi selama ini dia bisa menahan egonya karena Kyungsoo belum mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. Chanyeol tidak yakin dia akan mampu menahan egonya lebih lama lagi. melihat interaksi antara Kyungsoo dan Jongin membuatnya cemburu. Baginya tidak ada yang bisa merebut Kyungsoo darinya, dan tidak ada satu pun orang yang memiliki Kyungsoo selain dirinya. Tak selang berapa lama Chanyeol melepaskan kecupannya di bibir Kyungsoo, dia terpaksa melepaskan tautan tersebut. Jika tidak, Chanyeol takut dia akan lepas kendali. Tidak, Chanyeol tidak menginginkan hal itu terjadi. Chanyeol membaringkan tubuhnya di samping Kyungsoo menyusul sang pujaan hati mengarungi alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
Pagi hari di kota Tokyo sudah dihiasi oleh rintik – rintik hujan yang membuat suhu menjadi semakin dingin. Kyungsoo mengeratkan jaket yang dipakainya ketika rasa dingin itu serasa menusuk tulang dan sendi – sendi tubuhnya. Sudah seminggu Kyungsoo berada di sini tetapi dia masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan cuaca yang berada di Tokyo. Meskipun berada di dalam apartemen tetapi rasa dingin tetap di rasakan Kyungsoo. sewaktu dia bangun tidur, dia mendapati sebuah memo kecil terpasang di pintu lemari es dapur. Isi dari memo tersebut adalah kedua orang tua Chanyeol harus pergi ke Kyoto untuk urusan bisnis dan menitipkan Chanyeol kepada Kyungsoo. Kyungsoo berniat untuk membuat sup hangat di hari yang dingin ini. Kyungsoo membuka lemari es dan mulai menyiapkan bahan – bahan yang akan digunakannya untuk membuat sup rumput laut.
Kyungsoo membawa nampan yang berisi dua mangkok sup ke dalam kamar Chanyeol. Dia sedikit terkejut ketika mendapati Chanyeol tengah sibuk dengan laptop yang berada di pangkuannya. Kyungsoo meletakkan nampan tersebut di meja kerja yang berada di dekat ranjang. Karena terlalu fokus dengan pekerjaannya, Chanyeol sampai tidak menyadari keberadaan Kyungsoo di sebelahnya. Dia baru tersadar saat Kyungsoo memanggil namanya dengan bibir yang mengerucut pertanda dia sedang sebal karena sedari tadi di abaikan.
"Oh Kyungie? Sejak kapan kau berada di sini?" tanya Chanyeol dengan tampang tak berdosa yang justru membuat Kyungsoo semakin sebal.
"Sudah dari tadi. Hyung saja yang terlalu asyik berkencan dengan laptopmu sehingga tidak menyadari kehadiranku"
"Mianhae Kyungie pekerjaan ku kali ini dikejar deadline. Dan aku harus segera menyelesaikannya."
"Pedulikan saja laptop dan pekerjaanmu hyung. Tidak usah perdulikan aku lagi." Kyungsoo sudah akan beranjak dari duduknya tapi Chanyeol menahan pergerakannya.
"Kau marah kepadaku Soo?"
"Tidak. Siapa yang marah aku tidak marah kepadamu hyung hanya kerena kau lebih mementingkan pekerjaanmu dan mengabaikanku."
Chanyeol berusaha keras menahan tawanya mendengar ucapan Kyungsoo. Jika dia tertawa saat ini maka Kyungsoo akan lebih marah dan sebal kerenanya.
"Maafkan aku tetapi pekerjaan ku saat ini di kejar deadline Soo. Kuharap kau mengerti."
"Tetapi hyung kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan mengabaikan kesehatanmu. Kau tahu hyung aku serasa tidak berguna berada di sini karena kau lebih mementingkan pekerjaanmu daripada kesehatanmu sendiri."
Jantung Chanyeol mencelos saat mendengar ucapan yang keluar dari Kyungsoo. Memang selama seminggu belakangan ini dia memang di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk dan tidak memperhatikan kesehatannya. Meskipun Kyungsoo sudah menjaga dan merawatnya dengan sangat baik, Chanyeol sering mencuri – curi waktu di saat Kyungsoo tertidur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Chanyeol merasa bersalah karena membuat hati Kyungsoo terluka karena sikap bodohnya. Chanyeol menyingkirkan laptop yang berada di pangkuannya ke meja sebelah ranjangnya kemudian membawa tubuh bergetar Kyungsoo ke dalam pelukannya.
"Mianhae soo. Jeongmal mianhae . Aku berjanji mulai sekarang aku akan menuruti semua perkataanmu dan menjaga kesehatanku." Ucap Chanyeol lirih lalu mengecup puncak kepala Kyungsoo sayang seakan menyalurkan rasa sesalnya.
"Benarkah?" tanya Kyungsoo dengan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Chanyeol. Mencoba menyembunyikan dari Chanyeol jika dia sedang menangis saat ini.
"Tatap mataku Soo." Chanyeol mengarahkan Kyungsoo agar menatapnya. Dan hati Chanyeol teriris ketika melihat air mata mengalir dari kedua netra orang yang dicintainya. Tangan Chanyeol mengusap lelehan air mata di pipi Kyungsoo secara perlahan lalu mengecup kening Kyungsoo lama. Kyungsoo pun memejamkan matanya saat merasakan kelembutan ciuman yang diberikan Chanyeol kepadanya. Mendapat perlakuan yang begitu lembut membuat Kyungsoo merasakan ketenangan di dalam hatinya.
"Benar Soo. Apakah kau tidak mempercayaiku?"
Kyungsoo menggeleng cepat. "Kalau begitu bisakah kau meluangkan waktumu untuk beristirahat dan tidak memikirkan perkerjaanmu selama satu hari saja."
Chanyeol tersenyum mendengar permintaan Kyungsoo. Kenapa selama ini dia hanya memikirkan pekerjaannya padahal Kyungsoo selalu memikirkan kesehatannya? Chanyeol berjanji dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Chanyeol kembali mendekap namja mungil tersebut dan berbisik lirih di telinga Kyungsoo.
"Everything for you Soo"
.
.
.
.
.
.
Suara deru mesin mobil mendominasi diantara dua namja yang saat ini menikmati keheningan di dalam mobil. Pemuda bermarga Park masih berkonsentrasi menyetir sedangkan pemuda lainnya yang bermarga Do masih terpaku kepada pemandangan yang tersaji di jendela mobil. Hari ini adalah pertama kalinya Chanyeol mengajak Kyungsoo jalan – jalan setelah hampir sepuluh hari kedatangan Kyungsoo ke Jepang. Karena kesehatan Chanyeol yang mulai membaik maka Kyungsoo menerima tawaran jalan – jalan dari Chanyeol. Sehari sebelumnya Chanyeol mengajak Kyungsoo ke pulau Hokkaido yang terletak di sebelah utara Jepang dengan menggunakan helikopter pribadi milik Chanyeol. Kyungsoo pun tidak tahu kemana Chanyeol akan mengajaknya pergi di hari keduanya di Pulau Hokkaido ini.
"Kita akan pergi kemana Hyung?" tanya Kyungsoo penasaran.
"Kita sekarang berada di kota Hakodate dan kali ini kita akan naik ke puncak gunung Hakodate Soo"
"MWO kita akan mendaki? Tetapi aku tidak membawa persiapan untuk mendaki gunung Hyung"
Chanyeol tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan polos yang keluar dari bibir Kyungsoo. "Kita tidak perlu mendaki gunung Soo. Disana tersedia cable car dan kita akan menaiki cable car tersebut."
Kyungsoo tanpak begitu tertarik dengan tempat yang di ceritakan oleh Chanyeol. Dia sudah merasa tidak sabar melihat sendiri pemandangan gunung Hakodate yang sudah di ceritakan Chanyeol. Sesampainya di tempat tujuan, Kyungsoo tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kagumnya kepada pemandangan yang tersaji di depan matanya. Chanyeol menggandeng tangan Kyungsoo untuk segera memasuki cable car yang akan membawa mereka ke puncak gunung Hakodate. Tinggi gunung Hakodate mencapai 344m dan waktu terbaik untuk melihat pemandangan dari puncak gunung tersebut adalah saat malam hari. Kyungsoo beruntung karena Chanyeol mengajaknya pada saat malam hari.
Cable car yang di naiki mereka berhenti, ketika hendak keluar mata Kyungsoo di tutup oleh kedua telapak tangan Chanyeol sehingga saat ini hanya gelap yang bisa di rasakan Kyungsoo.
"Hyung kenapa kau menutup mataku? Aku kan ingin melihat pemandangannya." Gerutu Kyungsoo merasa sebal karena Chanyeol yang menutup kedua matanya.
"Sabar Soo aku akan memberikan kejutan kepadamu. Bersabarlah ne aku yakin kau pasti akan menyukai kejutan yang kuberikan kepadamu."
Kyungsoo hanya bisa pasrah kemana Chanyeol akan membawanya saat ini. dengan langkah perlahan – lahan Chanyeol membantu Kyungsoo berjalan. Kyungsoo merasakan Chanyeol berhenti dan dia berfikir apakah mereka sudah sampai lalu apa kejutan yang akan diberikan oleh Chanyeol. Itulah pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Kyungsoo.
"Buka matamu secara perlahan – lahan Soo." Ujar Chanyeol lirih di telinga Kyungsoo.
Dengan perlahan Kyungsoo membuka kedua matanya. Matanya membelalak dan dengan refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat pemandangan spektakuler yang tersaji di depan matanya. Dari atas puncak gunung ini Kyungsoo dapat melihat indahnya pemandangan malam dengan bintang – bintang yang bertaburan di atasnya. Dan juga gemerlapnya pemandangan lampu – lampu kota yang semakin menambah kadar keindahan pemandangan di atas sini. Kota Hakodate terletak di semenanjung Kameda, dan Gunung Hakodate berada di ujung semenanjung tersebut. Di tempat ini dapat melihat kota yang di apit oleh dua bagian laut. Membuat suasana di puncak gunung tersebut terasa lebih romantis.
"Apakah kau menyukai pemandangannya Soo?" tanya Chanyeol
"Pemandangan di sini sangat spektakuler Hyung. Gomawo kau telah membawaku ke tempat seindah ini."
"Kau belum melihat kejutan yang sesungguhnya sudah ku siapkan untukmu Kyungie."
Belum sempat Kyungsoo menanyakan apa maksud dari perkataan Chanyeol. Tiba – tiba Chanyeol mengangkat tangannya tinggi – tinggi lalu terdengarlah suara ledakan kembang api yang mempercantik langit malam. Kyungsoo semakin terkagum – kagum dengan pemandangan di depan matanya. Dia menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol dan memandang penuh terima kasih kepada Chanyeol karena memberikan kejutan yang sangat indah untuknya.
"Saengil chukkae hamnida uri Kyungsoo. Mianhae jika aku terlambat mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Apakah kau menyukai kejutan yang kuberikan?"
Kyungsoo menerjang Chanyeol dengan sebuah pelukan erat hingga membuat Chanyeol hampir terjengkang ke belakang jika saja dia tidak bisa mengendalikan keseimbangannya. Kyungsoo berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Chanyeol. Hari ini Kyungsoo merasa senang dan semua beban terangkat dari kedua pundaknya. Bahkan dia melupakan Kim Jongin yang selama ini selalu memenuhi pikirannya.
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai menikmati pemandangan malam dari puncak Gunung Hakodate kini mereka beruda sedang berada di sebuah restoran yang berada di sekitar puncak gunung untuk makan malam. Di dalam restoran di penuhi oleh banyak pasangan yang juga menikmati pemandangan malam hari di puncak gunung Hakodate. Mereka berdua memilih tempat duduk di dekat jendela supaya mereka bisa makan sekaligus menikmati pemandangan. Setelah selesai memesan makanan Chanyeol berpamitan untuk pergi sebentar kepada Kyungsoo. kyungsoo menyerngitkan dahinya bingung ketika melihat Chanyeol yang berjalan menuju ke arah panggung tempat dimana penyanyi akan menghibur para pengunjung restoran.
"Bisa mohon perhatian kalian semuanya yang berada di sini? Saya ingin menyampaikan perasaan yang sudah lama saya pendam kepada seseorang yang saya cintai. Dan kebetulan orang yang sangat saya cintai juga berada di restoran ini."
Kyungsoo tidak memperdulikan sorakan dari para pengunjung di restoran. Di pikirannya saat ini dipenuhi oleh pertanyaan mengapa Chanyeol berdiri di atas panggung tersebut. Karena Chanyeol menggunakan bahasa Jepang maka Kyungsoo tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh Chanyeol.
"Saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk mewakili perasaan saya yang sesungguhnya terhadap orang yang saya cintai. Saya akan menyatakan perasaan cinta saya dan saya mohon doa dari kalian semua agar dia dapat menerima cinta saya."
Tak selang beberapa lama suara dentingan indah dari piano dan suara merdu Chanyeol yang menyanyikan lagu My Answer menggema di restoran tersebut. Para pengunjung restoran tersebut ikut terhanyut dengan alunan nada romantis yang diperdengarkan oleh Chanyeol. Dada Kyungsoo bergemuruh ketika Chanyeol menyanyikan lagu tersebut dengan sepenuh hati. Dia bisa merasakan dalamnya perasaan cinta yang dimiliki Chanyeol melalui lagu tersebut.
Para pengunjung memberikan standing applause kepada Chanyeol setelah dia menyelesaikan penampilan memukaunya. Selanjutnya dia berjalan menuju ke arah Kyungsoo yang menatapnya dengan raut wajah tak terbaca. Chanyeol duduk dengan gugup di depan Kyungsoo. Kyungsoo terheran menyadari gelagat gugup pada diri Chanyeol.
"Kenapa kau begitu gugup seperti itu Hyung? Apa yang kau katakan tadi? Mengapa para pengunjung langsung bersorak heboh setelah mendengar kata – kata darimu? Kenapa pula kau berbicara dalam bahasa Jepang aku kan tidak mengerti." Tanya Kyungsoo.
"Aku tadi berbicara dalam bahasa Jepang agar semua pengunjung di restoran ini dapat mendoakan ku."
"Mendoakan mu dalam hal apa?"
"Mendoakanku agar aku berhasil menyatakan perasaan cintaku kepada orang yang aku cintai. Dan orang yang selama ini ku cintai berada tepat di hadapanku."
Jantung Kyungsoo seakan berhenti berdetak mengetahui bahwa Chanyeol, orang yang selama ini di anggap sebagai kakaknya ternyata mempunyai perasaan lebih terhadap Kyungsoo. chanyeol beranjak dari tempat duduknya lalu duduk bersimpuh di hadapan Kyungsoo. Sontak saja hal tersebut membuat pengunjung di restoran tersebut berteriak heboh melihat hal romantis yang di lakukan Chanyeol.
"Orang yang selama ini aku cintai adalah kau Kyungsoo. Sudah lama aku memendam perasaan cinta kepadamu namun baru saat ini aku berani untuk mengungkapkan segala perasaan cinta yang membuncah di dalam dadaku. Memang aku bukan namja yang bisa berlaku romantis untuk menyenangkan hati pasangannya. Namun satu hal yang pasti perasaan yang kurasakan kepadamu sangat tulus Kyungsoo. jadi maukah kau menerima permintaan cinta dariku?"
Raut wajah Chanyeol menengang dengan keringat dingin sudah mulai mengalir di wajah tampannya ketika dia menantikan jawaban apa yang akan di sampaikan oleh Kyungsoo. Apakah perasaan cintanya diterima atau hal buruk akan terjadi ketika Kyungsoo menolak perasaan cintanya. Kyungsoo sudah akan membuka mulutnya untuk mengatakan perasaannya kepada Chanyeol namun hai itu di urungkan ketika terdengar dering telepon Kyungsoo yang berbunyi. Chanyeol mendengus sebal ketika Kyungsoo meminta izin kepadanya untuk menerima telepon. Tetapi ketika Kyungsoo menjelaskan bahwa telepon itu berasal dari ayahnya Chanyeol pun mengisyaratkan dengan kepala agar Kyungsoo menerima telepon dari ayahnya. Kyungsoo berjalan menghindari Chanyeol ketika menerima telepon dari ayahnya sedangkan namja yang memiliki perawakan tinggi tersebut bangkit dari posisi bersimpuhnya.
Tak selang berapa lama Kyungsoo berjalan dengan tergesa – gesa dengan bulir – bulir air mata yang terjatuh di kedua mata indahnya. Chanyeol panik saat menyadari tubuh Kyungsoo hampir saja oleng namun dengan sigap Chanyeol memeluk erat pinggang Kyungsoo agar tidak sampai terjatuh.
"Apa yang sebenarnya terjadi Kyungsoo? Kenapa kau menangis?" tanya Chanyeol sambil menggoyang – goyangkan kedua bahu Kyungsoo.
"Aku harus segera kembali ke Seoul hyung." Ucap Kyungsoo terbata – bata dengan pandangan mata menatap Chanyeol nanar.
"Apakah terjadi sesuatu yang buruk kepada keluargamu di Seoul Soo?"
"Anni bukan keluargaku hyung"
"Lalu siapa?"
"Jongin, Kim Jongin dia sekarang membutuhkanku hyung dan aku harus segera pulang ke Seoul."
Tangan Kyungsoo menarik pergelangan tangan Chanyeol agar pemuda tersebut mau pergi dari restoran ini. Kepala Kyungsoo menoleh ke belakang dengan tatapan heran melihat Chanyeol yang masih berdiri mematung di tampatnya.
"Kenapa kau masih diam hyung. Ayo kita segera pulang."
"Tidak bisakah kau tetap tinggal di sini Soo. Aku masih sakit dan aku sangat membutuhkanmu di sisiku saat ini."
"Jeongmal mianhae hyung Jongin lebih membutuhkanku untuk saat ini."
Chanyeol menggeleng – gelengan kepalanya mendengar ucapan menyakitkan yang di lontarkan oleh Kyungsoo. Tidak, Chanyeol tidak akan membiarkan Kyungsoo pergi darinya. Dengan kasar Chanyeol merobek perban yang berada di tangannya dengan pisau yang tersedia di meja restoran tersebut. Luka Chanyeol yang belum sembuh sepenuhnya di tambah goresan dari pisau menyebabkan darah menetes – netes dari tangan Chanyeol.
"Kau lihat Soo aku masih sakit dan kumohon jangan pergi dari sisiku." Ucap Chanyeol dengan wajah pucat karena kehilangan banyak darah. Kyungsoo berlari menghampiri Chanyeol kemudian dengan langkah gemetar dia mambawa Chanyeol keluar dari restoran tersebut. sesampainya di mobil Chanyeol, Kyungsoo mendudukkan Chanyeol di kursi penumpang dan memberikan pertolongan pertama pada luka Chanyeol. Setelah selesai mengganti perban, Kyungsoo mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan maksimal menuju ke hotel tempat mereka menginap.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol menggeliat pelan di atas tempat tidur karena terganggu dengan cahaya matahari yang menyinari wajahnya. Dia merubah posisi menyamping untuk memunggungi arah cahaya matahari. Chanyeol terheran di saat dirinya tidak menemukan keberadaan Kyungsoo di sisi tempat tidurnya. Biasanya namja bermata bulat tersebut akan tidur di sebelah Chanyeol namun kali ini dia tidak mendapati keberadaan Kyungsoo. Dengan gerak refleks dia bangkit dari tampat tidurnya dan berteriak mencari Kyungsoo. Mata tajam Chanyeol menemukan sebuah sticky note yang tertempel di meja samping tempat tidurnya kemudian membaca sticky note tersebut.
Mianhae hyung aku harus kembali ke Seoul karena Jongin lebih membutuhkanku untuk saat ini. Kau boleh membenciku setelah ini karena telah meninggalkanmu hyung. Aku sudah menelepon kedua orang tuamu untuk menjemputmu dan membawamu pulang ke Tokyo. Sekali lagi aku minta maaf hyung
Do Kyungsoo
"AAAAAAAAAAAAGGGHHHHHHKK" teriak Chanyeol frustasi. Dia tidak habis fikir jika Kyungsoo akan tega meninggalkannya. Tangannya meremat sticky note kasar dan membuangnya. Nafas Chanyeol terengah – engah, kemarahan sudah menguasai dirinya untuk saat ini. Di benaknya hanya terdapat satu nama yang membuat emosinya meledak seperti saat ini.
"Kim Jongin kau harus membayar semua ini." ucap Chanyeol dengan aura membunuh yang pekat.
(TBC/END)
Author Note:
Saya senang sekali dengan respon yang reader berikan di Chapter sebelumnya. Saya sungguh terharu dengan banyak reader yang memberikan review di chapter sebelumnya. Jeongmal khamsahamnida. Dan sekali lagi maafkan saya jika kelanjutan ff ini sangat lama. Selanjutnya saya akan berusaha untuk lebih cepat dalam mengupdate kelanjutan ff ini.
Special thanks too:
Baby Crong, humaira9394, DEERA, BaconieSonjay , ludeerhan, Nurfadillah, taufikunn9, parkyolo, 369 , syifa, ananda, sallsabilla, kyungjong, Guest, Kaisoo Shipper29, kyungin, cute, JonginDO, V3, cutepororo, nm, Lovesoo, cutepororo, kyung1214, , whenKmeetK, meyriza
Mind to review?
