Tubuh kecil Jongin bergetar hebat melihat pemandangan mengerikan yang terjadi di hadapannya saat ini. Tubuh ringkih tersebut semakin menyudutkan dirinya di bawah kolong meja kala dia mendengar teriakan penuh kesakitan orang – orang di sekitarnya. Namja kecil berusia enam tahun tersebut menggigit bibirnya dan menutup mulutnya rapat – rapat berusaha agar suara isakan tangisnya tidak sampai terdengar. Dia masih mengingat dengan baik pesan kedua orang tuanya agar dia bersembunyi di tempat yang aman. Karena jika sampai orang – orang tersebut menemukannya, Jongin akan berada di dalam bahaya.

Airmatanya semakin deras turun tatkala dia mendengar suara pistol yang memekakkan telinga di malam yang mencekam itu. Tangan kecilnya yang bergetar hebat berusaha keras untuk menutup kedua telinganya agar dia tidak bisa mendengarkan suara tembakan pistol dan teriakan kesakitan orang – orang yang terkena timah panas. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Suara – suara mengerikan tersebut masih terdengar di gendang telinganya.

Jongin berdoa di dalam hati atas keselamatan kedua orang tuanya. Dirinya tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa kedua orang tuanya. Bagaimana jika kedua orang tuanya tidak selamat dan meninggalkannya sendirian di dunia ini? Perasaan takut kehilangan semakin menghantui Jongin kecil. Ingin sekali dia berlari dari tempat ini dan menyelamatkan kedua orangtuanya dari para penjahat itu. namun dia tidak memiliki kekuatan dan keberanian sebesar itu.

Mata Jongin membelalak lebar ketika salah seorang penjahat tersebut menemukan tempat persembunyiannya. Penjahat itu menarik paksa Jongin agar dia keluar dari tempat persembunyiannya. Tubuh kecil Jongin meronta hebat tetapi hal itu tidak membuahkan hasil. Tubuh ringkih Jongin tentu saja kalah apabila di bandingkan dengan tubuh kekar penjahat itu. Ayah Jongin berusaha melepaskan diri dari sekapan penjahat untuk menyelamatkan Jongin. Bukan hal yang mudah bagi ayah Jongin untuk melepaskan diri. Karena setiap kali ayah Jongin berusaha untuk memberontak maka dia akan mendapatkan pukulan bertubi – tubi di tubuhnya.

"Jangan sentuh anakku." Teriak ibu Jongin disertai tangis penuh ketakutan menggema di rumah keluarga Kim. Ibu mana yang tidak merasa ketakutan ketika melihat anaknya terancam bahaya.

Penjahat tersebut hanya tersenyum meremehkan mendengar permintaan dari ibu Jongin. Seakan – akan perkataan ibu Jongin adalah hal yang paling lucu baginya. Dengan kasar dia menghempaskan tubuh Jongin hingga tubuh itu terjatuh ke tanah dengan keras. Tangis Jongin semakin menjadi kala dirinya merasakan rasa sakit yang luar biasa melanda tubuhnya.

Sumpah serapah keluar dari mulut kedua orang tua Jongin di tujukan kepada penjahat yang bertindak kasar kepada anaknya. Jongin dengan susah payah berdiri dan berjalan menuju ke dua orang tuanya. Pelukan hangat dari ibunya langsung di rasakan oleh Jongin. Usapan lembut dari ibunya membuat ketakutan yang selama ini dirasakan Jongin perlahan sirna.

"Eomma Jongie takut. Jangan pernah tinggalkan Jongie sendiri. Jongie takut sendirian." Lirih Jongin sesenggukan lalu semakin merapatkan pelukannya kepada ibu tercinta.

"Sttt Jongie jangan menangis dan takut lagi. Appa dan eomma tidak akan meninggalkan Jongie sendirian."

Tanpa disadari oleh kedua pasangan ibu dan anak tersebut salah seorang penjahat yang mempunyai badan paling besar berjalan mendekati keduanya dengan sebilah pisau tajam di genggamannya. Ayah Jongin yang menyadari jika anaknya akan mendapatkan bahaya ketika penjahat itu mengarahkan pisaunya ke arah punggung Jongin. Ayah Jongin segera berlari melindungi anaknya saat penjahat itu akan menusuk punggung Jongin. Teriakan kesakitan ayah Jongin terdengar memekakkan telinga ketika pisau tersebut menembus dadanya.

Jongin dan ibunya berlari menghampiri tubuh sekarat ayahnya. Tangis keduanya semakin menjadi melihat orang yang mereka sayangi hampir meregang nyawa. Dengan tangan gemetar hebat Jongin mencoba menghentikan darah yang mengalir deras dari dada ayahnya. Namun sayang, usaha yang di lakukan Jongin tidak bisa menyelamatkan ayahnya. Ibu Jongin menggoyang – goyangkan badan ayah Jongin yang sudah tidak bernyawa. Berharap jika suaminya masih bernafas.

"KALIAN BUKAN MANUSIA. KALIAN IBLIS."maki ibu Jongin.

"Sudah menjadi tugas kami untuk melenyapkan seluruh keluarga Kim. Padahal kami ingin membunuh anak tunggal kalian terlebih dahulu. Tetapi ayahnya bersikap layaknya pahlawan demi menyelamatkan putranya. Sekarang saatnya anakmu yang meregang nyawa. Setelah itu baru aku yang akan menghabisimu Kim Hana."

"ANDWE JANGAN SAKITI ANAKKU. JANGAN KAU SENTUH ANAKKU. AKU MOHON BUNUHLAH AKU ASALKAN ANAKKU BISA SELAMAT. BIARKAN JONGIN HIDUP."

Mata tajam penjahat itu beralih ke tubuh gemetar Jongin yang saat ini berada di dalam pelukan ibunya. Dia memperhatikan Jongin dan tersentak ketika kedua matanya bertatapan langsung dengan kedua mata Jongin. Meskipun tubuhnya bergetar namun sorot mata Jongin menunjukkan sebaliknya. Dia bisa melihat amarah yang membara dan aura membunuh yang kuat keluar dari Jongin. Dan terlintaslah sebuah ide untuk membiarkan Jongin hidup untuk saat ini. Dia akan mendidik Jongin menjadi mesin pembunuh baru di gank mereka.

"Sehun, Tao bawa bocah kecil itu ke mobil. Kita akan membawanya dan menjadikannya peliharaan baru kita."

Mendengar perintah dari atasannya dengan segera Sehun dan Tao membawa Jongin memisahkan dia dari dekapan ibunya.

"EOMMA ANDWE. JONGIE INGIN BERSAMA EOMMA. LEPASKAN AKU. AKU INGIN BERSAMA DENGAN EOMMAKU"

Dengan cepat kedua pemuda berusia 13 tahun itu membawa Jongin pergi dari tempat itu. Mengabaikan Jongin yang meronta – ronta ingin kembali kepada ibunya. Selanjutnya yang bisa di dengar oleh Jongin adalah suara tembakan sebuah pistol. Dan mulai saat itu Jongin menyadari jika dia hidup sendiri di dunia ini.

Miss Wuhan present

Tittle : True Love

Author : Miss Wuhan

Cast : Do Kyungsoo and Kim Jongin

Pair : Kaisoo

Genre : You will find it

Length : Chaptered

Rated : T

Warning : Typos, OOC, Boys love, It's just a fanfiction

Happy Reading and Don't forget to RCL

Chapter 8

Sudah dua hari sejak kepergian Kyungsoo, Jongin terjaga dari tidurnya. Setiap kali dia ingin memejamkan kedua matanya seketika itu bayangan masa lalunya selalu hadir di mimpinya. Jongin terlalu takut mengingat kejadian menyakitkan itu kembali. Maka dari itu dia memutuskan untuk terjaga dan tidak memejamkan mata sama sekali selama dua hari terakhir.

Jongin kembali mengingat kejadian kelam yang menimpa keluarganya beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu dia masih berusia enam tahun. Namun pada usia yang masih dini dia melihat kejadian yang menimbulkan trauma tersendiri baginya. Dengan kedua bola matanya sendiri dia melihat nyawa kedua orang tuanya melayang. Jongin trauma jika dia di tinggalkan oleh orang yang dia cintai. Dan kali ini dia merasakan sakitnya di tinggalkan oleh orang yang dicintai untuk yang kedua kalinya.

Mata sayu Jongin memandang nanar ke arah jendela yang berada di kamar rawatnya. Kedua matanya terfokus kepada pintu gerbang yang tertutup rapat di luar sana. Di tempat itulah terakhir kalinya dia melihat sosok Kyungsoo yang pergi meninggalkannya sendirian.

Kyungsoo…. Gajima

Entah sudah berapa banyak air mata yang Jongin keluarkan selama ini. Setiap saat dia merindukan Kyungsoo maka air mata akan otomatis keluar dari kedua matanya.Jongin berharap pintu gerbang itu akan terbuka dan menampilkan sosok Kyungsoo yang selama ini sangat dirindukannya. Yang dinginkannya saat ini hanya Kyungsoo. Yang dibutuhkannya saat ini hanya Kyungsoo. Hanya seorang Do Kyungsoo.

.

.

.

.

.

.

.

Suara ketukan di pintu ruang kerjanya membuat Dokter Do untuk sementara menghentikan pekerjaannya dan mempersilahkan tamunya untuk masuk. Suster Hyeri masuk ke dalam lalu membungkukkan badannya sopan.

"Suster Hyeri ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Do ramah.

"Saya hanya ingin melaporkan perkembangan pasien di kamar rawat nomor 77 dok."

"Kim Jongin? Bagaimana perkembangannya?"

"Sudah dua hari ini Jongin tidak mau memakan makanan yang sudah di sediakan dok. Jadi dengan terpaksa asupan yang diterima oleh Jongin hanya dari infuse. Kami sudah memaksa dia untuk makan dok. Tetapi dia akan menolaknya dan mengamuk."

Dokter Do menghela nafas berat. Pria paruh baya tersebut tidak menyangka jika Jongin akan seterpuruk ini ketika di tinggalkan oleh Kyungsoo. Sebenarnya dia berniat menghubungi Kyungsoo untuk menceritakan apa yang sudah Jongin alami. Bahwa Jongin menderita ketika ditinggalkan olehnya. Namun niat itu dia urungkan, disana Chanyeol sedang membutuhkan Kyungsoo saat ini.

"Aku akan memeriksa keadaannya. Tidak mungkin bukan jika kita terus membiarkan Jongin seperti ini. keadaannya akan semakin parah. Aku akan mencoba membujuknya untuk makan."

Dokter Do melepaskan kacamatanya kemudian beranjak dari ruang kerjanya di temani oleh suster Hyeri. Ketika mereka sampai di ruang rawat Jongin, Dokter Do mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Firasatnya terbukti ketika mereka membuka pintu dan tidak menemukan keberadaan Jongin di sana. Yang dapat mereka temui hanya seorang perawat dengan bekas luka cakaran di tangannya. Suster Hyeri bergerak cepat membantu perawat tersebut membantu mengobati lukanya.

"Apa yang sebenranya terjadi? Dimana Jongin sekarang?" tanya Dokter Do.

"Tadi waktu saya ingin mengganti selang infuse Jongin dia mengamuk dan kabur dari sini Dok. Maafkan kelalaian saya." Ucap perawat tersebut sambil menundukkan kepalanya dalam.

"Suster kau bantu perawat Jang. Aku akan pergi mencari Jongin." kata Dokter Do yang dijawab anggukan pelan oleh Suster Hyeri. Dokter Do bergegas pergi untuk mencari Jongin. Dia berlarian di sepanjang koridor rumah sakit untuk mencari keberadaan Jongin. Dokter do mengistirahatkan tubuhnya sejenak untuk berpikir di mana keberadaan Jongin sekarang. Dia mempunyai firasat jika Jongin saat ini ada di tempat itu. Dia berharap firasatnya kali ini benar.

Langkah kaki Dokter Do terhenti di halaman belakang rumah sakit. Di depannya saat ini tengah berdiri seseorang yang sedari tadi dicarinya. Jongin terlihat berdiri di depan pintu gerbang yang tertutup. Di tengah teriknya sinar matahari dia berdiri dengan wajah yang sangat pucat. Dokter Do segera berlari menghampiri Jongin saat dilihatnya tubuh Jongin hampir oleng. Beruntung Dokter Do tepat waktu sehingga Jongin tidak perlu merasakan sakitnya terjatuh di tanah.

"Jongin? Gwaenchana?" Dokter Do bertanya dengan raut khawatir. Dia terhenyak melihat betapa mengenaskannya penampilan Jongin sekarang. Dengan wajah pucat pasi, dan mata yang memerah karena selama dua hari ini dia tidak tertidur. Dan jangan lupakan bekas air mata yang masih tercetak jelas di wajah Jongin. Siapa yang tidak iba melihat penampilan Jongin sekarang?

Jongin menolehkan kepalanya dan melihat Dokter Do yang mempererat pegangan tangannya pada pinggang Jongin. Jongin sudah akan memberontak dari pegangan Dokter Do sebelum dia mengatakan sesuatu yang membuat Jongin terdiam membeku.

"Aku adalah ayah Kyungsoo. Maukah kau menuruti perkataanku? Kau harus makan dan beristirahat Jongin. Kyungsoo akan sedih jika mengetahui keadaanmu sekarang." Ucap Dokter Do.

Dokter tersebut terkejut ketika Jongin sedikit merespon apa yang dia katakan. Selama ini Jongin tidak akan merespon perkataan siapapun. Dan entah mengapa Jongin langsung bereaksi ketika dia menyebutkan nama Kyungsoo.

Sebegitu berhargakah Kyungsoo bagimu Jongin?

Dia menuntun Jongin untuk pergi ke kamarnya dan beristirahat disana. Namun keinginan Dokter Do tidak diindahkan oleh Jongin. Jongin tetap berdiri disana menghadap pintu gerbang rumah sakit yang tertutup rapat.

"Ayo Jongin kita harus kembali ke kamarmu dan kau bisa beristirahat di sana."

Jongin tetap tidak bergeming. Dia menatap pintu gerbang tersebut dengan tatapan sendu.

"Kyungsoo."

"Kau ingin menunggu Kyungsoo disini?" tanya Dokter Do yang dijawab anggukan lemah oleh Jongin.

"Tapi Jongin keadaanmu sekarang sedang tidak sehat. Kesahatanmu akan semakin menurun jika kau tidak makan dan beristirahat Jongin."

Jongin menggelengkan kepalanya. Melihat reaksi Jongin membuat Dokter Do menghela nafasnya. Sepertinya percuma memaksakan kehendak kepada Jongin. Dia orang yang keras kepala. Meskipun berat hati Dokter tersebut meninggalkan Jongin yang masih diam bergeming di tempatnya.

.

.

.

.

.

.

Udara dingin serasa masuk persendian tulang Jongin. Langit kota Seoul masih belum menunjukkan adanya bias cahaya sang surya. Jongin saat ini berjalan pelan dengan berpegangan pada dinding rumah sakit yang masih tampak sepi. Tidak bisa di pungkiri jika badan Jongin terasa lemas saat ini. Bahkan untuk berjalan saja Jongin harus mengandalkan dinding rumah sakit untuk membantunya berjalan. Meskipun tubuhnya sudah meronta meminta untuk istirahat tetapi langkah rintih Jongin tetap membawanya ke tempat itu. Tempat dimana dia melihat Kyungsoo meninggalkannya.

Dengan susah payah akhirnya Jongin sampai di depan gerbang rumah sakit. Dia duduk di kursi yang disediakan Dokter Do khusus untuknya. Sudah tiga hari terakhir ini Jongin melakukan kegiatan yang sama setiap hari. Duduk terdiam menunggu kehadiran Kyungsoo. Setiap hari dirinya tidak pernah berhenti berharap bahwa Kyungsoo akan datang dan tidak akan meninggalkan dirinya sendirian seperti kedua orangtuanya. Dia akan duduk dari sebelum fajar menampakkan cahayanya sampai matahari tersebut kembali ke peraduannya. Meskipun tubuh Jongin lelah untuk menunggu Kyungsoo berbeda dengan hatinya. Hati Jongin tidak akan pernah lelah untuk menunggu Kyungsoo kembali kepadanya.

Sebenarnya pegawai rumah sakit sudah melarang Jongin untuk menunggu di depan gerbang. Namun Jongin tetap kekeuh berdiri dan menunggu Kyungsoo disana. Sehingga para pegawai rumah sakit tidak dapat memaksa Jongin untuk makan dan beristirahat. Mereka lebih memilih membiarkan Jongin tetap menunggu Kyungsoo. bukan hanya Dokter Do saja yang merasa iba dan tersentuh dengan perbuatan Jongin, hampir semua orang yang melihat betapa terpuruknya Jongin akan merasakan hal yang sama dengan Dokter Do. Mereka semua bisa merasakan bagaimana tulusnya perasaan Jongin kepada Kyungsoo.

.

.

.

.

.

.

Sekuat apapun Jongin berusaha untuk tetap bertahan menunggu Kyungsoo tetapi raga Jongin berkata sebaliknya. Tubuhnya sudah sangat lemah hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit. Ayah Kyungsoo terpaksa memberikan obat bius dosis tinggi kepada Jongin agar dia bisa mengistirahatkan tubuhnya. Masih segar di ingatan Dokter tersebut Jongin yang masih sempat meronta dan tidak ingin pergi dari tempatnya biasa menunggu. Baru ketika Jongin tak sadarkan diri dia dan beberapa perawat membawa Jongin ke kamarnya.

Sudah lebih dari tiga hari Jongin belum juga sadarkan diri dari tidurnya. Obat bius yang diberikan oleh Dokter Do memang memiliki dosis tinggi sehingga sampai saat ini Jongin belum terbangun. Dokter Do memandang miris tubuh Jongin yang tengah terbaring di ranjang. Tubuh Jongin semakin kurus dengan wajah yang sangat pucat. Meskipun kedua mata Jongin terpejam tetapi raut kegelisahan terpancar jelas di wajah pucatnya. Sungguh dia merasa tidak tega melihat keadaan Jongin sekarang. Jika Jongin di biarkan seperti ini terus menerus tidak menutup kemungkinan bahwa dia bisa kehilangan nyawanya. Tidak, Dokter Do tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sudah cukup dia melihat Jongin menderita selama ini. Dan dia tidak akan sanggup melihat Jongin menderita lebih dari ini.

Dokter Do kembali ke ruangannya dan mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Dia berniat akan menghubungi Kyungsoo dan menceritakan keadaan Jongin yang seberarnya kepada Kyungsoo. Perasaan ragu sempat menyelimuti benak ayah Kyungsoo tersebut. Tetapi ketika mengingat kembali penderitaan Jongin, dia melenyapkan perasaan ragunya dan memantapkan keputusannya. Dia menghembuskan nafas perlahan lalu menelepon anaknya yang saat ini berada di Jepang. Tidak menunggu terlalu lama sambungan telepon sudah tersambung.

"Kyungie chagi" kata Dokter Do.

"Ne appa, ada apa? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi sehingga appa meneleponku?"

"Ini tentang Jongin, Kyungsoo"

"Jongin? Ada apa dengan Jongin appa? Apakah terjadi sesuatu yang buruk dengan Jongin. cepat ceritakan kepadaku appa"

"Sebenarnya Jongin tidak mau makan dan tidur sama sekali semenjak kepergianmu Kyung."

"Mworago? Kenapa Appa baru memberitahuku seekarang?"

Ayah Kyungsoo dapat mendengar suara Kyungsoo yang tercekat saat mendengar berita tentang Jongin. Dia merasakan jika anaknya tengah menahan tangis untuk saat ini.

"Mianhae Kyung. Appa memang sengaja tidak memberi tahumu mengenai Jongin agar kau berkonsentrasi merawat Chanyeol sampai dia sembuh. Dan aku juga tidak menyangka jika Jongin menjadi seperti ini."

"Aku akan segera pulang ke Seoul, Appa"

"Bagaimana dengan Chanyeol? Apakah dia sudah sembuh total?"

"Aku tetap akan pulang appa. Jongin lebih membutuhkanku saat ini."

Dokter Do memutuskan sambungan teleponnya. Dia merebahkan punggungnya di kursi tempat kerjanya dan memejamkan kedua matanya untuk mengusir lelah. Pria paruh baya tersebut berdoa di dalam hati. Semoga dengan kehadiran anaknya, Jongin bisa pulih kembali.

.

.

.

.

.

.

Jongin dengan perlahan membuka kedua matanya. Dia meletakkan telapak tangannya di depan mata untuk menghalau sinar matahari. Setelah berhasil menyesuaikan keadaan, Jongin mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia menautkan kedua alisnya bingung saat menyadari dia tidak mengenali dimana dia berada saat ini. Sepanjang penglihatannya, Jongin tidak menemukan tempat apapun di sini selain sebuah kursi panjang yang terletak di tengah padang bersalju.

Di kursi tersebut terdapat dua orang dewasa dan seorang anak kecil yang berada di pangkuan sang wanita. Jongin bisa menyimpulkan jika ketiga orang tersebut merupakan sebuah keluarga. Dia berjalan mendekati sebuah keluarga yang tampak berbahagia tersebut. Ia bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari keluarga itu. Nafas Jongin tercekat ketika jarak antara dirinya dengan keluarga itu semakin mendekat. Dari jarak sedekat ini dia baru menyadari bahwa dua orang dewasa dan anak kecil yang berada di pangkuan ibunya adalah dia dan kedua orang tuanya.

"Jongie jangan takut eomma dan appa tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian."

Jongin kecil semakin mengeratkan diri di pelukan ibunya. Karena di dalam dekapan ibunyalah Jongin merasa nyaman dan aman. Jongin kecil sangat menyukai pelukan yang di berikan oleh ibunya. Dia juga merasakan seseorang membelai kepalanya lembut dan memberikan kecupan sayang di dahinya. Tidak perlu membuka kedua matanya, Jongin sudah mengehaui jika yang menciumnya adalah ayahnya. Senyum bahagia tidak pernah terlepas dari wajah Jongin. Dia sangat bahagia saat ini dan berharap Tuhan akan berbaik hati memberikan kesempatan seperti ini selamanya.

Jongin mendongak ketika dirasakannya pelukan sang ibu tidak seerat tadi. Dia membelalakkan matanya saat melihat ibunya dan ayahnya berubah menjadi bayangan yang perlahan – lahan menghilang.

"Jongie sudah saatnya eomma dan appa pergi. Jangan khawatir kau akan sendirian di dunia ini Jongin. Karena kami akan selalu ada di hatimu dan mengawasimu di surga sana."

"EOMMA APPA GAJIMA. JANGAN TINGGALKAN JONGIN SENDIRIAN. APPA…. EOMMA…"

Jongin kecil berlari mengejar kedua orang tuanya sambil menangis sesenggukan. Namun dia tidak berhasil mengejar kedua orangtuanya. Jongin jatuh terduduk di tumpukan salju yang keras dan dingin itu. dia menangis sejadi – jadinya, melampiaskan segala kesedihan yang terasa menyesakkan dada bagi Jongin. Jongin tidak ingin lagi ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

Pemuda berpawakan tinggi itu memandang sendu Jongin kecil yang masih saja terisak hebat di atas dinginnya tumpukan salju. Dapat dirasakan oleh Jongin bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh Jongin kecil ketika di tinggal oleh kedua orangtuanya. Tanpa disadarinya air mata jatuh membasahi wajah rupawannya. Matanya kembali menatap refleksi dirinya ketika masih kecil. Meskipun sekian tahun telah berlalu tetapi dia masih belum melupakan rasa sakit yang terasa menembus jantungnya.

Jongin dewasa berjalan perlahan mengikuti langkah refleksi dirinya saat kecil yang berjalan meninggalkan tempat ini. Sampai dirinya sampai di depan sebuah pintu kayu berukuran besar. Tanpa ragu dia membuka pintu tersebut berharap agar dia bisa keluar dari tempat ini. Setelah pintu tersebut terbuka Jongin lagi – lagi menemukan dirinya waktu berusia 7 tahun sedang meringkuk ketakutan di pojok ruangan gelap dan pengap ini. Dia masih mengingat peristiwa itu, ketika dirinya pertama kali diperlakukan selayaknya anjing pembunuh. Jongin kecil berusaha kabur ketika dia dipaksa memakan daging mentah dan tinggal di kandang anjing.

"Oh disini kau rupanya anjing kecil. Kenapa kau berusaha kabur ketika aku memberikanmu makanan yang lezat?" tanya seorang pria dengan seringai kejam di wajah tampannya. Melihat raut wajah lawan bicaranya membuat ketakutan terpancar jelas di wajah Jongin kecil. Tubuh Jongin semakin gemetar ketakutan dan wajahnya semakin pucat pasi.

"Kenapa? Apakah kau takut kepadaku? tidak perlu takut kepadaku. harusnya kau berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkanmu bocah kecil. Jika aku tidak berbaik hati maka kau akan ikut kedua orang tuamu membusuk di neraka."

"HENTIKAN"

"Kau hidup sendirian di dunia ini Jongin. Tidak ada seorangpun yang menginginkanmu. Bahkan kedua orang tuamu yang katanya mencintaimu itu tega meninggalkanmu sendirian di dunia ini."

Entah mendapat kekuatan dari mana Jongin kecil mendorong tubuh pria itu sampai pria itu terjatuh. Bahkan dia menggigit telinga pria itu tanpa memperdulikan erangan kesakitan yang keluar dari mulut pria itu. di pikiran Jongin saat ini hanya bagaimana cara melampiaskan kemarahannya. Amarah Jongin sebagian terlampiaskan ketika dia melihat telinga pria itu hampir terputus karena gigitannya.

Jongin menundukkan kepalanya dalam. Dia berfikir apakah benar apa yang dikatakan oleh pria tadi. Apakah tidak ada seorangpun yang menginginkan kehadirannya? Ketika mendongakkan kepalanya Jongin mendapati dirinya kini tengah berada di sebuah taman yang dipenuhi oleh tumbuhan hijau. Dia mengenal tempat ini sebagai taman belakang rumah sakit tempatnya dirawat. Jongin melihat kejadian dimana dirinya meronta hebat saat Kyungsoo akan pergi meninggalkannya.

Apakah benar tidak ada seorangpun yang menginginkanku di dunia ini?

.

.

.

.

.

.

Jongin bangun dengan nafas terengah – engah. Keringat dingin meluncur deras di seluruh tubuhnya. Lagi – lagi Jongin bermimpi buruk.

Kyungsoo

Kyungsoo

Dengan tergesa Jongin melepaskan jarum infus yang melekat di tangannya dan melepaskan masker oksigen yang berada di hidungnya. Dengan langkah tertatih Jongin memaksakan diri keluar dari kamar rawatnya menuju ke pintu gerbang. Jongin sudah memutuskan bahwa dia akan tetap menunggu Kyungsoo apapun yang terjadi.

Kaki Jongin terasa mati ketika dia tetap memaksakan tubuh lemasnya untuk berlari menuju ke taman belakang rumah sakit. Entah sudah berapa kali Jongin terjatuh, dia tetap berlari. Dokter Do yang melihat Jongin berusaha kabur berniat menggagalkan rencana Jongin. Namun seperti yang sudah di prediksikan oleh Dokter Do sebelumnya, Jongin akan terus meronta. Kali ini dia tidak akan menuruti keinginan Jongin. Dia takut kesehatan Jongin akan semakin memburuk jika dia tidak mau makan dan beristirahat.

Semua mata mengalihkan pandangannya kepada sebuah mobil mewah yang baru saja memasuki kawasan rumah sakit jiwa terbesar di Korea Selatan tersebut. Tak membutuhkan waktu yang lama sang pemilik mobil keluar dari mobilnya. Waktu seakan terhenti ketika semua orang menyadari siapa yang keluar dari mobil itu. Dokter Do yang sebelumnya memaksa Jongin untuk kembali ke kamarnya mengurungkan niatnya. Dengan berlinang air mata Jongin menghampiri sosok yang juga tengah meneteskan airmatanya.

Saat ini Jongin sudah berada di hadapan pria perpawakan mungil tersebut. apakah ini nyata? Ataukah ini hanya mimpi? Itulah pikiran yang terlintas di kepala Jongin. air mata bahagia semakin menetes diantara keduanya. Akhirnya penantian Jongin selama ini terbayarkan sudah. Dihadapannya saat ini tengah berdiri sosok yang begitu dirindukannya.

Jongin memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan lembut itu pada wajahnya. Ketika dia membuka kedua matanya, iris tajamnya langsung bertemu dengan mata bulat yang selalu menjadi favoritnya.

"Jongin."

Suara itu, akhirnya Jongin mendengar suara bak nyanyian surga itu setelah sekian lama ia tidak mendengarkannya. Jongin merasa bahagia, tidak pernah sepanjang eksistensi hidupnya ia merasakan kebahagiaan seperti ini.

"Kyung.. sooo Gajima."

Jongin merasakan jika tubuhnya sudah tidak mampu untuk berpijak. Kepalanya terasa berkunang – kunang dan pandangannya mulai memburam. Sebelum Jongin kehilangan kesadarannya, dia merasakan dekapan hangat dari tubuh Kyungsoo.

"Jongin irreonna."

(TBC/END)

Halo bertemu lagi. Jeongmal mianhae jika kelanjutan ff ini sangat lama. Jujur saya bingung menentukan bagaimana kelanjutan kisah Kaisoo di ff ini. Silahkan bagi para reader untuk memberikan saran di review untuk kelanjutan ff ini. Terima kasih bagi yang sudah membaca bahkan sampai mereview, memfollow, dan juga memfavorite ff ini. Dukungan kalian membuat saja bersemangat melanjutkan setiap ff saya. Sampai jumpa di next chapter.

Miss Wuhan

Special thanks to:

Baby Crong, zfannisa, BaconieSonjay, meyriza, kyung1225, Lovesoo , Nurfadillah, ryaauliao, Yusi865, humaira9394, anisafransiskaa, MyCuteDokyung, ananda, syifa, kyung1214, sabill, Guest, kurokai, Fishy, Guest, AD's, Guest (2), V3, Rkn, alexa, alexa, whenKmeetK, leechakyu, zfannisa, alexa, lovexo