Miss Wuhan present

Tittle : True Love

Author : Miss Wuhan

Cast : Do Kyungsoo and Kim Jongin

Pair : Kaisoo

Genre : You will find it

Length : Chaptered

Rated : T

Warning : Typos, OOC, Boys love, It's just a fanfiction

Happy Reading and Don't forget to RCL

Chapter 9

Japan

Kyungsoo berlari sekuat tenaga meninggalkan hotel tempat dirinya dan Chanyeol menginap. Dengan nafas terengah – engah Kyungsoo semakin mempercepat laju larinya ketika dia hampir keluar dari kawasan hotel mewah tersebut. Pria mungil tersebut merasa khawatir jika Chanyeol pergi menyusulnya. Meskipun Kyungsoo sudah memastikan pada saat dia keluar kamar hotel tadi Chanyeol masih tertidur lelap. Namun tetap saja hal tersebut tidak membuat rasa khawatir lenyap dari benak Kyungsoo. Jika hal itu terjadi maka dia tidak akan bisa pulang secepat mungkin ke Seoul dan melihat keadaan Jongin.

Jongin

Kim Jongin

Hanya nama namja itu yang memenuhi pikiran Kyungsoo. Bagaimana keadaan Jongin selama Kyungsoo tidak ada? Apakah dia baik – baik saja? Ataukah ada hal buruk yang menimpa Jongin selama Kyungsoo tidak ada? Kyungsoo menggeleng – gelengkan kepalanya untuk menepis semua pikiran buruk yang menghantui otaknya. Apapun yang terjadi dia harus segera pulang ke Seoul untuk menemui Jongin. Dan Kyungsoo berharap semoga Chanyeol tidak menghalangi rencananya. Kyungsoo menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat dan bergegas menyuruh supir taksi untuk mengantarkannya ke bandara.

Jongin tunggu aku. Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan kembali kepadamu.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Kyungsoo bisa menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Beruntung baginya karena sampai tiba di Korea, Chanyeol tidak menghalangi rencananya untuk bertemu Jongin. Sebelum menaiki pesawat yang membawanya pulang ke Korea, Kyungsoo sudah menghubungi eommanya agar menjemputnya di bandara.

Oleh karena itu, saat ini Kyungsoo tengah sibuk mencari keberadaan ibunya di antara lautan manusia. Kyungsoo berharap – harap cemas menanti kedatangan ibunya saat ini. Jika ibunya segera datang maka dia bisa segera menemui Jongin.

Kim Jongin

Jujur saja nama itulah yang memenuhi benak Kyungsoo selama perjalanannya dari Jepang menuju ke Korea Selatan. Semanjak menerima telepon dari ayahnya yang mengabarkan tentang keadaan Jongin rasa khawatir dan cemas memenuhi benaknya. Kyungsoo tahu yang bisa menyembuhkan rasa khawatir berlebihan di hatinya hanya dengan melihat Jongin langsung dengan mata kepalanya.

Mata Kyungsoo bergerak liar menjelajah bandara ini untuk mencari keberadaan ibunya. Kyungsoo berlarian di sepanjang bandara dengan ponsel yang terus siaga di telinga. Berharap agar sang ibu mengangkat telepon darinya dan memberitahu keberadannya saat ini. Meskipun kaki Kyungsoo hampir mati rasa karena terus memaksa kedua kakinya untuk berlari, Kyungsoo tidak perduli. Yang dia perdulikan hanya bagaimana cara dia bisa segera sampai di tempat Jongin berada meskipun dengan merangkak sekalipun.

Kyungsoo bisa sedikit bernafas lega ketika dilihatnya ibunya baru saja keluar dari mobil Ferari hitam kebanggaan ayahnya. Tak mau membuang waktu, Kyungsoo bergegas pergi menemui ibunya.

"Eomma"

Kyungsoo langsung memeluk erat wanita yang telah melahirkannya tersebut. ibunya tentu saja merasa terkejut ketika mendapatkan pelukan tiba – tiba dari seseorang. Namun ketika menyadari yang memeluk adalah anak kesayangannya, wanita paruh baya tersebut tersenyum lalu mengeratkan pelukannya. Setelah melepas rindu sejenak, nyonya Do melepaskan pelukannya lalu menaruh kedua tangannya di pipi anak semata wayangnya.

"Kenapa kau seberantakan ini nak? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibu Kyungsoo heran melihat penampilan anakanya yang sangat berantakan. Biasanya Kyungsoo selalu berpakaian rapi, maka mengherankan bila saat ini Kyungsoo berpenampilan berantakan dan keringat mengucur deras dari tubuhnya.

"Eomma kita harus ke rumah sakit sekarang. Aku akan menceritakannya di saat perjalanan ke rumah sakit tempat appa berkerja."

Melihat ibunya mengangguk setuju, Kyungsoo bergegas memasuki mobil ibunya dan langsung memasang sabuk pengaman. Tak lama kemudian ibunya menyusul memasuki kemudi mobil dan mulai menjalankan mobilnya menjauhi kawasan bandara. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, ibu Kyungsoo dapat melihat kecemasan berlebihan yang melanda anaknya. Melalui sebelah matanya ia melihat Kyungsoo yang menggigit bibirnya dan tangannya yang mengepal gelisah. Ibu Kyungsoo mengetahui jika sedang cemas dan panik, Kyungsoo akan melakukan kebiasaan menggigit bibirnya dan tangannya akan mengepal erat.

"Ada apa nak? Mengapa kau terlihat mencemaskan sesuatu?" tanya ibu Kyungsoo yang tidak bisa lagi menahan rasa penasaran atas keadaan Kyungsoo.

Awalnya Kyungsoo merasa ragu untuk menceritakan semua kepada ibunya. Namun melihat raut wajah ibunya saat ini membuat Kyungsoo tidak tega. Akhirnya dia menceritakan segalanya kepada ibunya. Mulai dari pertemuan pertamanya dengan Jongin dan keadaan Jongin saat ini ketika di tinggal oleh Kyungsoo.

.

.

.

.

.

.

Membutuhkan waktu hampir satu jam bagi Kyungsoo untuk bisa sampai di rumah sakit jiwa. Hati Kyungsoo bergetar ketika melihat sosok rapuh di depannya. Airmata meluncur dengan deras di wajah Kyungsoo melihat pemandangan di hadapannya. Tubuh kurus Jongin yang saat ini tengah meronta untuk melepaskan diri dari dekapan ayahnya. Tangis Kyungsoo semakin kencang kala dia mendengar suara parau Jongin yang memanggil – manggil namanya. Hal itu merupakan pemandangan paling menyayat hati yang pernah dialami Kyungsoo. Tidak tahan dengan rasa sesak yang melanda dadanya, dia segera keluar dari mobil ibunya dan berlari menghampiri Jongin.

Jongin

Kyungsoo

Seakan bisa merasakan kehadiran Kyungsoo, Jongin menghentikan rontaannya. Dengan perlahan dia mengarahkan pandangan kedua nertranya ke depan. Airmata kebahagiaan meluncur deras melalui wajah pucatnya. Dihadapannya saat ini berdiri sosok yang selama ini selalu dirindukannya.

Dengan langkah gemetar, Jongin berjalan menghampiri sosok itu. Sekelebat keraguan menimpa benak Jongin. Benarkah jika di depannya ini berdiri sosok Kyungsoo? Ataukah ini semua hanya ilusi karena dia yang terlalu merindukan Kyungsoo. Jongin akhirnya memastikan bahwa yang berada di depannya saat ini memanglah sosok Kyungsoo. Di saat tangan halus tersebut membelai wajahnya di saat itu juga seuam rasa rindu yang melanda terluapkan sudah. Karena bagi Jongin hanya keberadaan Kyungsoo di sisinyalah yang membuatnya tetap bertahan hidup.

Air mata kini menetes melewati wajah wanita paruh baya tersebut. Setelah mendengar cerita dari Kyungsoo, Dia menaruh rasa simpati yang mendalam kepada sosok Jongin. Melihat dua insan manusia yang sedang melepas rindu tersebut membuatnya menyadari jika ada benang tak kasat mata yang menghubungkan keduanya. Benang yang selalu mengikat keduanya. Sepertinya tidak hanya dia yang menyadari adanya hubungan itu, suaminya Dokter Do juga merasakan hal yang sama. Lamunannya terhenti saat dia mendengar suara pekikan panik Kyungsoo karena Jongin tengah tak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo tidak bisa membiarkan dirinya duduk terdiam menunggu keadaan Jongin. Saat ini Jongin tengah diperiksa oleh ayahnya. Ibu Kyungsoo berusaha menenangkan anaknya yang terlihat sangat panik semenjak Jongin tidak sadarkan diri.

"Sayang tenanglah." Nasihat ibu Kyungsoo

"Bagaimana aku bisa tenang eomma. Jongin tengah tidak sadarkan diri sekarang. Melihat keadaan Jongin, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi. aku tidak pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Jongin."

Ibu Kyungsoo tertegun ketika mendengar jawaban dari anak semata wayangnya tersebut. Begitu besarkah arti Jongin bagi Kyungsoo? Karena seumur hidupnya baru kali ini dia melihat Kyungsoo setegang dan sepanik ini karena orang asing. Di dalam benaknya dia berharap jika keadaan Jongin baik – baik saja. karena jika Jongin terluka maka

Kyungsoo akan hancur

Bukankah tidak berlebihan jika ibu Kyungsoo sampai berpikiran seperti itu. melihat keadaan anaknya yang terlalu kacau hanya karena Jongin.

Tak selang berapa lama pintu kamar rawat Jongin terbuka. Melihat itu, Kyungsoo bergegas menuju ke ayahnya dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang intinya menanyakan keadaan Jongin saat ini.

"Tenanglah sayang Jongin baik – baik saja. Tidak ada sesuatu yang serius hanya saja dia harus beristirahat total dan makan yang teratur. Mengingat akhir – akhir ini Jongin sama sekali tidak makan dan hanya infuse lah yang menjadi asupan makanannya."

Lega dan bersyukur itulah perasaan yang diarasakan Kyungsoo saat mendengar bahwa keadaan Jongin baik – baik saja. Namun tetap saja ada rasa bersalah yang bersarang di hati Kyungsoo. Secara tidak langsung dialah yang menyebabkan Jongin menjadi seperti ini. Meskipun berat untuk mengakuinya Kyungsoo merasa menyesal telah meninggalkan Jongin. Mulai saat ini, Kyungsoo bersumpah bahwa dia tidak akan meninggalkan Jongin. Kemarin, adalah untuk pertama dan terakhir kalinya dia pergi meninggalkan Jongin.

Kyungsoo berjalan pelan menuju ke ranjang tempat dimana Jongin tengah terlelap sekarang. Setelah meminta izin kepada ayahnya, Kyungsoo langsung memasuki kamar rawat Jongin. Tatapan Kyungsoo berubah menjadi sendu ketika melihat keadaan Jongin yang terbaring lemah. Tubuh Jongin tampak tidak terawat dan jauh lebih kurus daripada saat terakhir kali Kyungsoo melihatnya. Kyungsoo duduk di dekat ranjang Jongin dan memegang erat tangan Jongin yang terbebas dari selang infuse.

"Mianhae Jongin. Jeongmal mianhae. Karenaku kau menjadi menderita. Kau boleh menghukumku Jongin. Hukum aku seberat yang kau mau karena telah menyebabkan kau menderita."

Hanya untaian kata maaf yang dapat keluar dari sela isak tangis Kyungsoo. Kyungsoo menenggelamkan kepalanya ke tangan Jongin dan menangis terisak disana. Merasa menyesal karena keegoisannya menyebabkan seseorang menderita.

Kyung…

Kyungsoo…

Gajima…

Kyungsoo dengan refleks mengangkat kepalanya ketika merasakan pergerakan tangan Jongin pada genggamannya. Melalui kedua matanya Kyungsoo melihat Jongin bergerak gelisah dengan mata yang terpejam erat. Keringat mulai bermunculan di dahi Jongin. Rasa panik menyelubungi Kyungsoo ketika melihat keadaan Jongin saat ini.

Kyungsoo

Gajima

Kedua tangan Kyungsoo membingkai wajah Jongin yang sudah mermandikan keringat. Dia mengelus kepala Jongin sayang berusaha untuk menenangkan Jongin yang mengalami mimpi buruk. Bukannya semakin tenang, Jongin semakin bergerak gelisah dalam tidurnya dan menggumamkan namanya.

"Jongin tenanglah, aku disini Jongin. Aku tidak kemana-mana."

Kyungsoo berbisik tepat di telinga Jongin. Menyerukan bahwa dia ada di sini dan tidak akan meninggalkan Jongin lagi. Jongin membuka kedua matanya saat mendengarkan bisikan lirih Kyungsoo ditelinganya.

"Soo" erang Jongin saat kedua netranya bertemu dengan mata bulat yang selalu dirindukannya.

"Ya Jongin, aku disini."

Isakan tangis Jongin tak dapat ditahan ketika dia merasakan dekapan hangat yang Kyungsoo berikan untuknya. Tangan Jongin merengkuh tubuh Kyungsoo agar semakin mendekapnya lebih erat. Kyungsoo melepaskan pelukannya dan memberikan sebuah ciuman lembut di dahi Jongin.

"Aku berjanji bahwa aku tidak akan meninggalkanmu Jongin. Pegang janjiku"

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo mengeliatkan tubuhnya mencoba untuk mencari posisi yang nyaman untuk melanjutkan tidurnya. Namun suara dari para suster yang memeriksa Jongin membuat Kyungsoo terjaga dari rasa kantuknya. Kyungsoo memang tidak pulang ke rumahnya dan menginap di kamar rawat Jongin. kyungsoo bangun dari sofa tempat dirinya tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelumnya ibu Kyungsoo sudah menyiapkan perlengkapannya selama Kyungsoo masih menginap di rumah sakit untuk menjaga Jongin.

Sekitar 10 menit kemudian Kyungsoo sudah selesai membersihkan diri. Ketika Kyungsoo keluar dia tidak mendapati suster yang memeriksa Jongin. Mungkin mereka sudah selesai memeriksa Jongin, pikir Kyungsoo. Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju ke ranjang Jongin dan duduk di sebelah ranjangnya. Dia mengelus perlahan pipi tirus Jongin.

"Kapan kau akan membuka matamu lagi Jongin? Tidakkah kau merasa rindu kepadaku?" monolog Kyungsoo.

"Aku sangat merindukanmu Jongin."

Uraian kata rindu yang begitu tulus itu meluncur begitu saja dari mulut Kyungsoo. Dia pun tidak paham dengan jalan pemikirannya. Mengapa dia berkata demikian kepada Jongin? Kyungsoo mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Tiba – tiba saja Kyungsoo kembali mengingat kejadian tadi malam ketika dia mencium kening Jongin.

"ASTAGA APA YANG KULAKUKAN KEMARIN? MENGAPA AKU MENCIUM JONGIN?"

Jantung Kyungsoo berdegup tak normal dan rona kemerahan menghiasi wajah putihnya ketika dia mengingat peristiwa kemarin. Kyungsoo terus saja mengatai dirinya bodoh karena bertindak gegabah dengan mencium Jongin sembarangan. Astaga itu merupakan pertama kalinya dia mencium seorang pria. Entahlah apa alasan yang membuat Kyungsoo mencium Jongin. Yang pasti pada saat itu Kyungsoo merasa harus melakukan itu untuk menenangkan Jongin. sekarang Kyungsoo hanya berharap jika pria dihadapannya ini tidak menyadari bahwa semalam dia telah mencium keningnya.

Mungkin efek dari teriakan spontan Kyungsoo-lah yang membuat Jongin terbangun dari tidurnya. Jongin mengerjapkan mata perlahan untuk membiasakan kedua matanya dengan cahaya yang masuk. Ketika pandangannya mengelilingi seuruh penjuru kamar rawatnya, Jongin menyadari jika Kyungsoo berada di sebelah ranjangnya. senyum tulus pun langsung terukir di bibir sexynya ketika dia menyadari kehadiran Kyungsoo.

"Kyungsoo"

Merasa namanya dipanggil oleh Jongin membuat tubuh Kyungsoo semakin kaku. Jantungnya semakin berdetak melebihi kecepatan normal saat Jongin memanggilnya. Keinginan di hati Kyungsoo adalah dia dapat memandang wajah yang selama ini dirindukannya. Namun nyali Kyungsoo tidak sekuat itu. bukannya mendongak untuk membalas sapaan Jongin, Kyungsoo semakin menundukkan wajahnya dalam. Dia merasa malu dengan kejadian kemarin.

Ya Tuhan semoga Jongin tidak menyadari apa yang kulakukan kemarin

Ekspresi Jongin yang memasang senyum merekah seketika sirna melihat Kyungsoo yang tidak mau menunjukkan wajahnya dan menundukkan kepalanya semakin dalam. Rasa sakit menguasai hati Jongin. Pasti sakit rasanya jika orang yang paling kau rindukan berada di hadapanmu tetapi dia tidak mau menatap wajahmu. Dengan ragu – ragu Jongin menggenggam tangan Kyungsoo. jongin terperanjak ketika dia merasakan bahwa tangan Kyungsoo dingin. Ekspresi sedih Jongin saat ini digantikan oleh kekhawatiran akan kesehatan Kyungsoo.

"Kyung.. soo gwaenchana?"

Kyungsoo otomatis mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara yang masih asing di telinganya. Pada saat dia mendongak kedua matanya bertemu dengan sorot mata Jongin yang menunjukkan kekhawatiran.

Apakah benar tadi suara Jongin?

"Jongin bisa kau ulangi pertanyaanmu tadi?" tanya Kyungsoo tak sabaran yang dibalas Jongin dengan anggukan perlahan.

"Kyung.. soo gwaenchana?"

"Astaga Jongin kau bisa berbicara? Ya Jongin kau saat ini bisa berbicara."

Kyungsoo merasa sangat senang karena Jongin menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Dia bisa berbicara sekarang meskipun masih terbata – bata. Karena luapan rasa gembiranya tersebut Kyungsoo memeluk Jongin erat. Sementara Jongin merasa kaget ketika tiba – tiba dia dipeluk sangat erat oleh Kyungsoo. Tangannya yang terbebas dari selang infuse bergerak menuju ke punggung Kyungsoo dan membalas pelukannya tak kalah erat.

Kyungsoo melepaskan pelukkannya cepat ketika dia baru menyadari tindakan apa yang sudah diperbuatnya. Dia meruntuki kebodohannya (lagi) karena dengan refleks memeluk Jongin. Dia merasa amat senang karena Jongin akhirnya mampu untuk berbicara oleh karena itu dia tanpa sadar memeluk Jongin dengan erat. Sesudah melepaskan pelukannya kepada Jongin, Kyungsoo semakin menundukkan kepalanya dalam. Menghindari rona memerah pada pipinya agar tidak diketahui oleh Jongin. Demi Tuhan, Kyungsoo sangat malu saat ini. Sehingga dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya kepada Jongin.

"Jongin aku pergi dulu sebentar. Jangan khawatir nanti aku pasti akan kembali."

Tanpa menunggu jawaban dari Jongin, Kyungsoo terburu – buru lari keluar. Kyungsoo menstabilkan deru nafasnya ketika dia keluar dari kamar rawat Jongin.

Dasar Kyungsoo bodoh makinya dalam hati.

.

.

.

.

.

.

Belakangan ini Kyungsoo menjadi sering menyalahkan kondisi tubuhnya. Bagaimana tidak jika jantung Kyungsoo selalu berdetak lebih cepat, pipinya merona merah, dan seluruh persendiannya terasa lemas hanya karena berdekatan dengan Jongin. Kyungsoo merasa heran karena sebelumnya dia belum pernah merasakan tubuhnya seaneh ini. Dulu dia tidak merasa seperti ini meskipun harus berdekatan dengan Jongin. Mengapa sekarang berbeda? Apakah ada yang salah dengan tubuh Kyungsoo?

Langkah Kyungsoo terhenti ketika dia sampai di depan pintu kamar rawat Jongin. Kyungsoo menghela nafasnya perlahan mencoba untuk menstabilkan detak jantungnya yang berdetak menggila.

Bahkan aku hanya berdiri di depan kamar Jongin saja jantungku sudah berdetak tak terkendali seperti ini. Sial ada apa dengan jantungku?

Dia membuka kamar rawat tersebut ketika jantungnya sudah berdetak dengan normal. Melalui matanya, dia bisa melihat Jongin saat ini hanya memandang makanan di hadapannya dengan tatapan kosong.

"Mengapa kau hanya memandang makanan itu Jongin?" tanya Kyungsoo setelah dia sampai di depan Jongin. Jongin yang menyadari kedatangan Kyungsoo tersenyum sesaat lalu memandang makanannya dengan pandangan tak suka.

"A.. aku tidak su..suka makanan ini." jawab Jongin dengan terbata – bata. Semenjak mengetahui jika Jongin bisa berbicara, Kyungsoo terus melatih kemampuan bicara dan menulis Jongin. kemajuan yang ditunjukkan Jongin sangat pesat meskipun saat ini cara bicara Jongin masih terbata – bata.

"Tapi kau harus memakan nasi ini Jongin. Tidak mungkin jika selamanya kau memakan daging mentah. Itu tidak baik bagi kesehatanmu Jongin."

Memang saat ini Kyungsoo mulai membiasakan Jongin memakan nasi atau apa saja asalkan bukan daging mentah. Tidak mudah bagi Kyungsoo membujuk Jongin supaya dia mau memakan nasi. Kyungsoo pernah merasa frustasi dibuatnya. Namun sekarang Kyungsoo mempunyai jurus ampuh untuk membuat Jongin mau memakan nasinya.

"Baiklah Jongin jika kau tidak mau memakan makananmu maka aku akan kembali ke Jepang dan hidup bersama Chanyeol."

Dengan memasang wajah seserius mungkin dan gesture tubuh ingin meninggalkan ruangan itu membuat acting Kyungsoo sungguh sempurna. Belum sempat Kyungsoo beranjak dari kursinya Jongin sudah menahan lengannya dan setetes air mata jatuh dari kedua netranya.

"Andwe.. ga.. gajima Kyungsoo jebal."

Karena melihat reaksi Jongin yang diluar prediksinya, Kyungsoo bersumpah dia tidak akan mengatakan pergi kepada Jongin lagi.

"Kalau begitu kau harus memakan makananmu Jongin. Apakah kau mau kusuapi?"

Kesedihan di wajah Jongin seketika itu hilang tergantikan dengan senyum penuh kebahagiaan. Kyungsoo tertegun melihat senyum itu. Seketika itu seluruh tubuh Kyungsoo merasa lemas hanya karena senyuman manis dari Jongin. jongin mengangguk patuh dan mulai membuka mulut untuk menerima suapan dari Kyungsoo.

Selesai makan, mereka berjalan ke arah taman belakang rumah sakit. Kyungsoo dibantu appanya memapah jalan Jongin menuju ke taman belakang. Rencananya hari ini mereka akan melatih Jongin untuk berjalan dengan kedua kakinya. Setelah sampai, Kyungsoo dan appanya mulai melepaskan genggaman mereka kepada Jongin. karena kaki Jongin masih terlalu lemas tubuh Jongin tidak seimbang dan nyaris terjatuh. Untung saja Kyungsoo dengan sigap menangkap pinggang Jongin sehingga Jongin tidak jadi terjatuh.

Kyungsoo mendongakkan kepalanya dan dia baru menyadari jika posisi wajahnya dan wajah Jongin sangat berdekatan. Keinginan Kyungsoo untuk segera menjauhkan diri sirna ketika dirinya terpaku dengan tatapan lembut yang diberikan Jongin kepadanya. Semakin lama dia semakin terjerat dengan pesona mata hitam kelam milik Jongin. Harus Kyungsoo akui jika mata Jongin merupakan magnet yang mampu menjerat siapa saja untuk terjun di dalamnya.

Tangan Jongin terulur untuk mengelus pelan rambut Kyungsoo. Mendapat perlakuan seperti itu tentu saja membuat Kyungsoo merona hebat. Tangan Jongin bergerak untuk mengelus pipinya yang merona merah. Kyungsoo dapat melihat jika pipi Jongin juga sama meronanya seperti dirinya.

Kyungsoo merasakan ponsel di sakunya bergetar. Dengan refleks dia menjauhkan diri dari Jongin. Untuk sesaat Kyungsoo merasa kosong karena dirinya berjauhan dengan Jongin. dia mengeluarkan ponselnya untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. kedua mata bulatnya membola ketika membaca ID yang tertera di ponselnya.

"Chanyeol hyung?"

Mendengar nama Chanyeol disebut oleh Kyungsoo membuat tubuh Jongin menengang. Mengapa Kyungsoo menyebut nama itu? Tanpa Jongin sadari kedua tangannya sudah mengepal dan tubuhnya bergetar hebat.

"Appa, Jongin aku pergi sebentar. Jangan khawatir aku pasti akan kembali."

Kyungsoo akan pergi sebelum langkahnya dihadang oleh Jongin. Kyungsoo memekik pelan karena merasa kaget dengan kehadiran Jongin di depannya. Melalui raut wajahnya Kyungsoo mengetahui jika Jongin melarangnya untuk pergi. Sejak pulang dari Jepang, Jongin tidak pernah membiarkan Kyungsoo pergi meninggalkannya.

"Aku hanya akan mengangkat telepon ini Jongin. aku berjanji tidak akan lama. Setelah selesai aku pasti akan kembali."

Kyungsoo mengacak rambut Jongin lalu berpamitan kepada appanya. Setelah mendapat persetujuan dari appanya, Kyungsoo pergi begitu saja dari hadapan Jongin. Meninggalkan Jongin dengan tatapan penuh lukanya melihat kepergian Kyungsoo.

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo berjalan sambil menggerutu di dalam hati. Dia tidak habis pikir mengapa dia bisa melupakan keadaan Chanyeol begitu saja? Rasa bersalah menyelimuti Kyungsoo karena dia tidak menanyakan kabar Chanyeol setelah dia meninggalkannya. Kyungsoo mengangkat telepon dari apartemen Chanyeol tersebut.

"Yobeseyo. Chanyeol hyung?"

"Kyungie. Ini eommanim nak. Bagaimana keadaanmu?"

"Baik eommanim. Bagaimana dengan keadaan eommanim sendiri? Dan bagaimana keadaan Chanyeol hyung. Maafkan aku yang belum sempat memberi kabar sejak aku pulang ke Korea."

Kyungsoo merasa semakin gelisah ketika ibu Chanyeol tidak juga menjawab pertanyaan darinya. Apakah terjadi sesuatu yang buruk kepada Chanyeol?

"Keadaan eommanim baik – baik saja Kyung. Tetapi Chanyeol"

"Ada apa dengan Chanyeol hyung eommanim?" kyungsoo jelas tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

"Sebenarnya semenjak kami kembali ke Tokyo, Chanyeol mengurung diri di kamarnya dan tidak mau keluar Kyungie. Eommanim sangat khawatir. Kami sudah berusaha membujuk agar Chanyeol keluar dari kamarnya namun sampai saat ini hal itu tidak berhasil. Maka dari itu aku meminta bantuanmu chagi."

"Apa yang bisa kubantu eommanim?"

"Bisakah kau menelepon ponsel Chanyeol dan membujuknya untuk keluar dari kamarnya. Demi Tuhan sudah hampir 5 hari Chanyeol mengurung diri di kamar dan itu membuat kami sangat tersiksa Kyung. Aku dan ayahnya sudah menelepon ponsel Chanyeol tetapi dia tidak mau mengangkat telepon dari kami. Aku mohon Kyungsoo, karena Chanyeol selalu menuruti perkataanmu dan bujuklah dia agar mau keluar dari kamarnya."

"Baik eommanim aku akan melakukannya. Aku akan berusaha semampuku untuk membujuk Chanyeol hyung."

Dengan segera Kyungsoo memutuskan sambungan telepon dengan ibu Chanyeol lalu menelepon ponsel Chanyeol.

"Kumohon Chanyeol hyung angkatlah telepon dariku." Panik Kyungsoo sambil berjalan mondar – mandir dengan gelisah.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol saat ini hanya menatap kosong pemandangan kota Tokyo melalui jendela kamarnya. Hanya sebotol vodka yang menjadi temannya melewati kesepian. Keadaan Chanyeol saat ini tidak bisa dikatakan baik – baik saja. Kantung matanya yang sudah mulai menghitam, pipi yang mulai menirus karena selama ini hanya minuman keraslah yang masuk ke dalam lambungnya. Sudah berhari – hari dia mengurung diri dikamar, terhitung sejak saat Kyungsoo meninggalkan dirinya.

Sama seperti keadaan Chanyeol, kamar Chanyeol juga seperti kapal pecah. Semua benda yang semula berjejer rapi kali ini tercecer di lantai kamar Chanyeol. Penyebab berantakannya kamar Chanyeol adalah ia yang melampiaskan kemarahannya kepada benda – benda di sekitarnya. Chanyeol kembali meneguk vodka yang berada di dalam botol sampai habis. Setelah habis dia lemparkan begitu saja botol vodka tersebut ke dinding yang menghasilkan suara pecahan di kamar sunyi itu.

Dia menolehkan kepalanya saat menyadari ada panggilan masuk di ponselnya. Dengan enggan dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya.

Baby Soo is calling…

Tubuh Chanyeol menegang sesaat saat melihat bahwa Kyungsoo-lah yang menghubungi dirinya. Chanyeol mengalami perang batin saat ini. Satu sisi dia sangat merindukan Kyungsoo dan ingin mendengar suaranya. Tetapi di sisi lain dia merasa marah kepada pemuda itu karena keputusannya yang pergi meninggalkan Chanyeol.

Nada dering ponselnya berhenti, namun tidak lama kemudian ponselnya berdering kembali dengan nama penelepon yang sama. Chanyeol memutuskan untuk mengacuhkan telepon dari Kyungsoo. Bagaimanapun juga dia masih merasa kecewa dengan keputusan yang dibuat oleh Kyungsoo.

Kyungsoo tidak menyerah, dia masih terus menghubungi Chanyeol. Chanyeol merasa kesal karena Kyungsoo yang tidak mau menyerah untuk menghubunginya. Akhirnya pada percobaan telepon ke-15 telepon dari Kyungsoo baru di angkat oleh Chanyeol.

"Chanyeol hyung syukurlah akhirnya kau mau mengangkat telepon dariku."

Chanyeol hanya mendengarkan setiap perkataan yang dilontarkan Kyungsoo. dia tidak berniat membalas perkataan Kyungsoo.

"Hyung bagaimana keadaanmu? Aku sangat mencemaskanmu hyung. Maafkan aku yang baru saat ini menghubungimu."

"…"

"Chanyeol hyung kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kenapa sedari tadi kau tidak bersuara? Aku meminta maaf hyung aku tahu aku salah. Kau berhak untuk merasa marah kepadaku hyung. Aku memang pantas mendapatkannya."

Jantung Chanyeol serasa diremas ketika mendengar isakan Kyungsoo. Cairan bening meluncur dengan deras dari kedua mata Chanyeol. Chanyeol selalu merasa tidak berdaya jika Kyungsoo menangis.

"Kau boleh membenciku hyung. Tapi jangan sampai kau menghancurkan dirimu hyung. Aku mohon keluarlah dari kamarmu. Semua orang mengkhawatirkanmu hyung. Jagalah kesehatanmu hyung. Aku mohon."

Chanyeol mencekeram erat ponsel yang menempel di telinganya. Sekuat tenaga dia menahan isakan yang keluar dari mulutnya.

"Kumohon hyung jaga kesehatanmu. Semua orang mengkhawatirkanmu saat ini. termasuk aku juga sangat mengkhawatirkanmu hyung."

Chanyeol melempar begitu saja ponselnya ke arah cermin yang berada di depannya sampai cermin itu retak. Chanyeol berteriak frustasi lalu memukul cermin retak yang berada di depannya. Menyebabkan kedua tangannya dipenuhi oleh darah segar karena pecahan kaca yang menancap di kulitnya.

"Kau berbohong Kyungsoo. Jika kau mengkhawatirkan keadaanku kau tidak pergi meninggalkanku."

.

.

.

.

.

.

Jongin tidak mengetahui pembicaraan antara Kyungsoo dan Chanyeol di telepon tadi. Tetapi dia bisa merasakan jika Kyungsoo sangat sedih saat ini. Hal itu terlihat ketika Kyungsoo sudah mengeluarkan tangisannya. Jongin memang memutuskan untuk mengikuti Kyungsoo dan bersembunyi di balik dinding agar Kyungsoo tidak menyadari kehadirannya.

Kyungsoo menutup teleponnya dan mengarahkan kedua tangannya untuk mendekap mulutnya. Tangis Kyungsoo tak bisa ia pendam lagi. Ia merasa amat bersalah kepada Chanyeol saat ini. Chanyeol pantas untuk membencinya. Bahkan ia tidak memiliki muka lagi untuk berhadapan dengan Chanyeol. Dia begitu egois. Hal yang paling tidak diinginkan Kyungsoo adalah kesedihan Chanyeol. Namun dia sendiri yang telah menorehkan luka yang begitu dalam bagi Chanyeol.

Menuruti tuntunan hatinya, dengan langkah pasti Jongin mendekati Kyungsoo yang tengah berusaha menahan isak tangisannya. Ketika sudah sampai di hadapan Kyungsoo, rasa sesak langsung menghampiri diri Jongin. Tangan Jongin terlulur untuk menyentuh puncak kepala Kyungsoo.

Sentuhan ini?

Kyungsoo secara refleks mendongakkan kepalanya ketika merasakan sebuah sentuan yang familier baginya. Tak dapat dipungkiri jika Kyungsoo merasa terkejut dengan keberadaan Jongin dihadapannya.

"Jong… jongin? Mengapa kau ada di sini?"

Bukannya menjawab Jongin lebih memilih untuk mengabaikannya. Jari telunjuk Jongin mengarah tepat ke bibir kemerahan milik Kyungsoo.

"Sttt ssudah ja..jangan berkata apapun lagi."

Pipi Kyungsoo dihiasi oleh rona kemerahan akibat perlakuan Jongin. Kyungsoo sampai harus menahan nafasnya sejenak karena jarak wajahnya dan Jongin yang terlalu dekat. Kyungsoo bisa bernafas lega karena Jongin menjauhkan wajah darinya.

Namun

Kyungsoo merasakan perasaan hangat yang melingkupi seluruh tubuhnya. Kyungsoo seakan menemukan tempatnya bersandar dari segala keluh kesah. Berterima kasihlah kepada Jongin. Karena Jongin memeluknya Kyungsoo bisa merasakan sensasi aneh seperti ini. Aneh tapi membuatnya sangat nyaman.

"Menangislah hyung. Menangislah jika itu membuatmu lebih baik."

Bisikan Jongin bagai mantra bagi Kyungsoo. Isakan yang selama ini dia tahan dengan begitu saja dia luapkan di dalam dekapan Jongin. Kyungsoo mengeratkan pelukannya kepada Jongin seakan meminta kekuatan kepada pria berkulit tan tersebut. Baru kali ini Kyungsoo merasakan satu hal bahwa pelukan Jongin adalah rumah baginya.

.

.

.

.

.

.

Jongin terkejut ketika dia baru keluar dari kamar mandi dan menemukan keberadaan Dokter Do di kamar rawatnya. Dokter paruh baya itu tersenyum lembut, berusaha membuat Jongin tenang. Karena dia tahu Jongin pasti terkejut dengan kedatangannya. Dia berjalan pelan menuju Jongin kemudian mengusap kepalanya pelan. Jongin memejamkan matanya meresapi kehangatan tangan Dokter Do di kepalanya. Jongin bisa merasakan kehangatan itu, sama seperti yang diberikan ayahnya dulu. Rasa rindu itu seketikan membuncah di dalam dada Jongin ketika dia kembali merasakan sentuhan hangat khas seorang ayah.

"Kau hebat Jongin. Kau sekarang bisa membersihkan dirimu sendiri tanpa bantuan dari Kyungsoo. Kemajuanmu sangat pesat. Aku bangga padamu. Sebagai hadiahnya aku akan mengajakmu berjalan – jalan. Kau pasti bosan bukan selama ini hanya berada di lingkungan rumah sakit. Tapi ingat jangan beritahu Kyungsoo jika aku mengajakmu keluar Jongin. dia pasti akan marah jika tahu itu. kau bisa menepati janjimu?"

Raut wajah Jongin seketika berubah ketika mendengar ajakan dari Dokter Do. Tanpa perlu berpikir dua kali Jongin menerima ajakan untuk jalan – jalan. Dokter Do tertawa meliahat reaksi Jongin yang kekanakan. Baginya sebuah keajaiban yang diterima Jongin sehingga dia dapat berubah secepat ini. Ini semua tidak terlepas dari pengaruh Kyungsoo. Dia yang membuat Jongin menjadi lebih baik seperti ini.

"Baiklah ganti bajumu. Aku akan menunggumu di parkiran mobil. Anggukkan kepalamu kalau kamu mengerti Jongin." kata Dokter Do yang dijawab anggukan pelan oleh Jongin.

Dia keluar dari ruangan dengan pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya. Mengapa sampai saat ini Jongin tidak mau mengeluarkan suara dihadapannya? Selama ini Jongin hanya mau berbicara kepada Kyungsoo saja. Sedangakan kepada orang lain dia enggan mengeluarkan suaranya. Dokter Do lebih memilih mengabaikan pemikirannya. Mungkin kali ini bukan saatnya bagi Jongin untuk berbicara kepada orang selain Kyungsoo. Akhirnya dia melangkahkan kaki menuju ke mobilnya dan menantikan kehadiran Jongin di sana.

.

.

.

.

.

.

Kawasan Myeondong merupakan salah satu kawasan terpadai di Korea Selatan. Hampir setiap jalan dipadati oleh wisatawan domestic maupun mancanegara. Terdapat berjejer butik – butik merk ternama, restoran serta café kelas atas di kawasan ini. Seperti di salah satu café bernuansa eropa klasik ini yang penuh oleh pengunjung wanita ini. seluruh pandangan pengunjung wanita tersebut tertuju kepada dua orang namja tampan yang sedang duduk di sudut café. Dua namja itu memiliki perawakan tinggi khas model professional. Satu sosok yang lebih tinggi menggenakan pakaian serba hitam yang begitu kontras dengan kulit putihnya. Sedangkan yang bertubuh lebih pendek menggunakan kaos polo dan celana jeans panjang yang semakin menonjolkan kaki jenjangnya. Para wanita semakin memekik histeris ketika keduanya melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi melekat di wajah mereka.

Salah satu namja terlihat memandang memandang tajam kepada seseorang yang berada di hadapannya. Namun yang diberikan tatapan tajam hanya memberikan cengiran yang membuat lawannya semakin jengah.

"Sampai kapan kau akan bermain – main. Kau selalu saja membuang – buang waktuku." Kata namja berbaju serba hitam lalu mendengus mendengar teriakan para wanita yang semakin lama semakin histeris. Sungguh dia ingin segera mengangkat kaki dari tempat ini.

"Ayolah kita juga butuh liburan. Sudah lama kita tidak menginjakkan kaki ke Korea setelah peristiwa penyergapan oleh polisi – polisi sialan itu. Lagipula tubuhku butuh istirahat setelah berhasil menyelundupkan narkoba ke Kuba. Kita bahkan hampir kehilangan nyawa karena peristiwa itu."

"Aku tahu. Tapi aku tidak tahan dengan pekikkan wanita – wanita disini. Kepalaku serasa mau pecah. Kalau kau tidak mau beranjak dari tempat dudukmu maka aku akan meninggalkanmu sendiri."

Akhirnya mereka berdua meninggalkan café tersebut. Dalam perjalanan menuju mobil mereka, namja berpakaian serba hitam tersebut berhenti mendadak. Tubuhnya menegang dan aura mematikan memancar kuat dari tubuhnya. Secepat kilat dia menolehkan kepalanya ke belakang kemudian menyunggingkan senyum mematikan yang mampu membuat siapa saja bergidik ketakutan.

"Hei ada apa Hun? Kenapa kau berhenti mendadak?"

"Aku baru saja menemukan sesuatu yang menarik. Peliharaan kita, aku telah menemukannya kembali. Sudah saatnya bagi kita untuk mendapatkan peliharaan kita lagi Zi Tao."

"Peliharaan? Ap.. apakah yang kau maksud dia? Sampai sekarang dia masih hidup? Daebak ku kira dia sudah membusuk di dalam tanah" jawab namja berbaju polo tersebut.

"Ya dia masih hidup. Kita harus mendapatkannya kembali Tao atau kalau tidak dia akan membahayakan kita."

Seringai kejam kembali muncul di bibir kedua namja tersebut. Kali ini seseorang yang berada di dalam café yang mereka kunjungi tadilah yang menjadi target mereka selanjutnya.

Sampai ketemu lagi Kai, anjing kesayanganku…

(TBC/ END)

Halo bertemu lagi. kali ini saya membawa chapter ke 9 dari ff true love. Maafkan saya yang lagi – lagi sangat lama dalam mengupdate setiap ff saya. Saya akan berusaha untuk mengupdate setiap ff seya lebih cepat sesuai dengan permintaan pembaca. Dan saya tidak menyangka bahwa banyak yang mereview di chap sebelumnya. Terima kasih banyak yaa…. Semoga di chap ini bisa memuaskan para reader dan reviewnya lebih banyak dari chap sebelumnya. Amin hehehe

Bagaimana dengan chap ini? masih ingatkah dengan Tao dan Sehun dalam cerita ini? kalau reader ada yang lupa silahkan membaca chap awal di ff ini disana ada Tao dan Sehun hehe.

Akhir kata terima kasih kepada semua pembaca yang sudah review, follow, favorite ff ini. semoga kedepannya saya bisa menulis ff yang lebih berkualitas lagi

Mind to review?

Big thanks to:

kyung1225, meyriza, humaira9394, Sofia Magdalena , BabyCoffee99, kaisoomin, ryaauliao, Rahmah736, Lovesoo, V3 pitchezta, alexa, Baby Crong, Guest, Guest, Dayeji LN, ananda, syifa, sallsabilla, AD's, KSHS , kyungin, Song Soo Ri , lynbaekhyuniie, alexa, ikkzl, funtomid, alexa, zoldyk, HawaAF, whenKmeetK, , alexa