Miss Wuhan present

Tittle : True Love

Author : Miss Wuhan

Cast : Do Kyungsoo and Kim Jongin

Pair : Kaisoo

Genre : You will find it

Length : Chaptered

Rated : T

Warning : Typos, OOC, Boys love, It's just a fanfiction

Happy Reading and Don't forget to RCL

Chapter 11

"Kau terlihat sangat menyedihkan." Chen tidak bisa lagi menyembunyikan ejekan yang dilontarkannya kepada sosok yang saat ini kepalanya menyandar lemah di jendela mobil. Chen mengulum senyumnya ketika mendapati lawan bicaranya memasang muka semakin kusut setelah mendengar celaan yang dilontarkan kepadanya.

"Diam kau. Kau pikir karena siapa penampilanku terlihat begitu menyedihkan seperti ini. Ya Tuhan tidak bisakah kau memberikan sedikit istirahat kepadaku. Hampir dua puluh empat jam aku bekerja hingga tak memikirkan kehidupanku sendiri. Kau tau gara-gara kau yang selalu saja menyuruhku untuk bekerja, bahkan sampai saat ini aku belum menemukan pasangan yang cocok untukku." Gerutu orang itu sebal.

Suara tawa membahana terdengar. Chen tak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Jujur dia merasa kasihan juga melihat sosok yang tengah mencoba untuk tidur di sebelahnya ini. Sudah selama 3 tahun terakhir ini Chen menjadi manager Byun Baekhyun, seorang penyanyi muda yang saat ini tengah bersinar. Tentu saja ia juga memahami kondisi Baekhyun yang sangat letih dengan rutinitas pekerjaannya. Namun Chen tidak bisa berbuat banyak, kontrak kerja sudah ditandatangani dan mau tidak mau Chen harus bersabar mendengar berbagai macam keluhan yang dilontarkan artisnya itu.

"Bersabarlah sedikit lagi. Lusa kau mendapatkan libur yang cukup panjang. Kau ingin merencanakan liburan?"

Mata Baekhyun yang semula sayu berubah cerah seketika. Baekhyun tidak salah mendengar bukan? Tadi Chen mengatakan bahwa lusa dia akan mendapatkan jatah libur yang cukup panjang.

"Benarkah aku bisa liburan? Kau tidak sedang main-main denganku kan Chen? Akhirnya kau mau berbaik hati kepadaku dan memberikan libur untukku."

"Kau ingin liburan kemana? Aku yang akan mengurus segala keperluan liburanmu."

"Aku sangat ingin berlibur ke Jepang. Bisakah liburan kali ini kita pergi ke Jepang?"

Baekhyun kini tidak bisa lagi menyembunyikan raut kebahagiaannya. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa juga merasakan nikmatnya berlibur. Ia tidak sabar menantikan waktu liburannya tiba. Selama ini dia hanya membayangkan saja akan mendapatkan jatah libur. Dan sekarang dia mendapatkannya, tentu saja Baekhyun akan memanfaatkan kesempatan liburannya ini dengan sebaik mungkin.

"Karena liburanmu kali ini cukup panjang mungkin kita bisa pergi berlibur ke Jepang sesuai keinginanmu." Jawab Chen yang semakin membuat Baekhyun bersemangat. Chen sekali lagi hanya terkekeh menghadapi perubahan drastis mood artisnya ini.

Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda terlihat sosok pemuda dengan wajah yang pucat pasi menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Di hadapan cermin tersebut terpampanglah seorang pemuda yang terlihat sangat menyedihkan. Tubuhnya tinggi dan kurus, di bagian bawah matanya terdapat kantung mata yang menandakan bahwa pemuda itu jarang tidur. Ditambah wajahnya yang putih pucat semakin membuat sosok di dalam cermin itu begitu menyedihkan. Rasa emosi perlahan memenuhi jiwa pemuda itu tatkala ia melihat bayangan dirinya di cermin yang terlihat sangat menyedihkan.

"Kau lihat Kyungsoo. Aku menjadi seperti ini karenamu. Kau sukses membuat seorang Park Chanyeol terlihat begitu menyedihkan. Ini semua salahmu Kyung, karena kau telah mencampakkanku danlebih memilih manusia gila itu."

Tak lama terdengar suara pecahan kaca yang memekakkan telinga di ruangan yang sebelumnya hening tersebut. Pemuda itu, Chanyeol memukul cermin di depannya dengan keras hingga cermin itu hancur berkeping-keping. Jika di analogikan keadaan cermin yang saat ini hancur tersebut sama seperti dirinya. Dirinya juga ikut hancur karena cinta tulusnya yang tak berbalas. Cermin yang sudah hancur itu tidak akan bisa menyatu lagi, sama seperti hatinya yang sudah hancur dan tidak bisa bersatu lagi.

Chanyeol membiarkan darah segar menetes akibat luka yang ditorehkan oleh pecahan kaca. Ia tidak peduli dengan satu lagi luka yang berada di tubuhnya. Ada beberapa luka yang ada di badan Chanyeol semenjak ia frustasi karena Kyungsoo mencampakkannya. Luka-luka yang berada di tubuh Chanyeol sebagian besar karena kesengajaan. Ia, memang benar jika Chanyeol melukai dirinya sendiri untuk melampiaskan rasa frustasinya.

Bahu Chanyeol bergerak naik turun, nafasnya juga berubah terengah-engah karena emosi yang baru saja dilampiaskannya. Ia jatuh terduduk dengan punggung yang bersandar pada tepian tempat tidur. Ia menundukkan kepala dalam lalu tanpa bisa dipaksa air mata itu kembali keluar dari kedua sudut matanya. Airmata seakan tak pernah habis tatkala ia memikirkan hatinya yang begitu hancur karena Kyungsoo. Ia sebenarnya amat lelah. Menangisi orang yang bahkan tidak peduli lagi terhadap kehidupannya. Namun, hati Chanyeol yang lebih memenangkan pertarungan ini. Rasa cintanya kepada Kyungsoo terlalu besar sehingga ia tidak bisa membenci Kyungsoo.

Tak lama setelahnya terdengar suara pintu yang dibuka secara tergesa-gesa. Lewat sudut matanya Chanyeol dapat melihat derap langkah kaki yang akan menghampirinya. Langkah itu semakin mendekat dan ketika sampai di depan Chanyeol, dia merasakan sebuah pelukan hangat yang menentramkan jiwanya.

"Sampai kapan kau akan terpuruk seperti ini Chanyeol? Appa dan eomma sangat bersedih melihat kau terpuruk seperti ini nak."

Ibu Chanyeol mengusap punggung anaknya yang bergetar. Dengan kasih sayangnya ia menghibur anak semata wayangnya yang saat ini tengah terpuruk. Ibu mana yang tidak terluka ketika buah hatinya terpuruk.

"Kau boleh bersedih sayang. Tetapi jangan terlalu larut dengan kesedihan. Kau harus bangkit dan meraih kebahagiaanmu sendiri sayang."

Isakan pilu Chanyeol turut serta membuat ibunya menangis. Chanyeol sadar jika apa yang dikatakan oleh ibunya benar. Bahwa ia harus bangkit dari keterpurukan ini dan meraih kebahagiaannya. Tetapi kala mengingat Kyungsoo yang meninggalkannya lagi-lagi membuat Chanyeol lemah. Karena hanya Kyungsoolah racun sekaligus penawar bagi Chanyeol.

.

.

.

.

.

.

Pagi hari yang cerah di kota Tokyo dapat membuat semua orang bersemangat untuk memulai aktivitas. Matahari yang bersinar cerah, tidak terlalu terik dan semilir angin yang berhembus membuat suasana sempurna. Tak terkecuali di kediaman keluarga Park. Seluruh pekerja di sana memulai hari dengan semangat. Terlebih saat mereka mengetahui jika tuan muda mereka tadi pagi buta keluar dari kamarnya setelah sekian lamanya. Meskipun keadaan tuan muda mereka masih terlihat menyedihkan. Tetapi mereka bersyukur karena Chanyeol sudah mau keluar dari dalam kamar. Keadaan tersebut tentu sangat di syukuri oleh kedua orang tua Chanyeol. Ibu Chanyeol sedari tadi iku sibuk membantu para maidnya untuk menyiapkan sarapan pagi. Beliau ingin menyiapkan sendiri sarapan buatannya untuk Chanyeol.

"Eomma" suara husky Chanyeol menghentikan aktivitas yang ada di dapur. Semua orang menoleh ke sumber suara dan menemukan Chanyeol berjalan menuruni tangga dengan jas tersampir di lengan kanannya. Para maid memekik tertahan melihat penampilan Chanyeol dengan menggunakan suit. Meskipun terlihat kurus tapi siapapun pasti setuju jika penampilan Chanyeol saat ini masih sempurna. Ditambah dengan rambut-rambut yang mulai tumbuh di dagunya membuatnya terlihat semakin manly.

"Sayang kemarilah eomma sudah membuatkan sarapan untukmu. Mari kita makan bersama." Ujar ibu Chanyeol kemudian menggandeng anaknya menuju ke meja makan.

Ibunya menyeret kursi makan mempersilahkan putranya untuk duduk terlebih dahulu. Tak lama kemudian seluruh keluarga Park sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama.

"Sayang apakah kau sudah merasa lebih baik? Apakah kamu sudah sepenuhnya melupakan sakit hatimu kepada Kyungsoo?" tanya ibu Chanyeol kepada Chanyeol.

Pertanyaan yang tidak tepat telah di lontarkan oleh ibu Chanyeol. Suasana langsung berubah menjadi canggung. Chanyeol meletakkan sendok dan garpuya menyudahi acara sarapan bersama. Lalu ia meninggalkan ruang makan dengan wajah keras tanpa ada ekspresi yang tersirat di wajahnya. Seketika itu juga rasa sesal dirasakan oleh ibunya karena telah menyinggung perasaan Chanyeol. Ia sadar jika masalah yang tengah dihadapi oleh buah hatinya ini sangatlah berat. Masalah ini telah mengubahnya, anaknya tidak pernah lagi menjadi pribadi yang hangat dan menyenangkan seperti dulu.

Chanyeol membanting pintu mobilnya dengan keras. Beberapa kali ia memukul stir mobilnya hingga tangannya terasa kebas. Namun ia tidak peduli. Pertanyaan dari ibunya kembali membangkitkan luka yang ia paksa untuk dikubur. Mengingatkan kembali betapa tersiksanya ia ketika Kyungsoo memutuskan untuk pergi menginggalkannya. Di saat ia mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan kejam Kyungsoo pergi meninggalkannya. Ia mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak lagi ia pedulikan keselamatan dirinya maupun orang lain. Yang pasti saat ini Chanyeol membutuhkan pelampiasan untuk melepaskan rasa sakit yang menghimpit dadanya.

Setelah berkendara kurang lebih 4 jam akhirnya Chanyeol menepikan mobilnya. Suara deburan ombak memecah kesunyian yang dialami oleh Chanyeol. Menstabilkan nafasnya yang masih berderu karena adrenalinnya yang terpacu, ia menghembuskan nafas kemudian mengeluarkannya secara perlahan-lahan. Dirasakannya nafasnya sudah mulai stabil, dia membuka pintu kemudian memandang hamparan air luas yang terbentang di hadapannya. Melepaskan jas kerja dan juga sepatu dia melangkah mendekati bibir pantai. Dibiarkannya kaki telanjangnya basah oleh deburan ombak. Dia terus memajukan langkahnya.

Air sudah sampai batas dadanya yang mengakibatkan bajunya basah. Namun sekali lagi hal tersebut tidak menghalangi niat Chanyeol untuk meneruskan langkah kakinya memasuki dalamnya air pantai. Dinginnya air pun tidak membatalkan niat Chanyeol untuk menenggelamkan dirinya.

Untuk apa lagi aku berada di dunia ini

Chanyeol semakin menenggelamkan dirinya. Kini batas air telah sampai di dagunya.

Semua orang tidak menginginkan kehadiranku

Tubuh Chanyeol saat ini sudah sepenuhnya berada di air.

Bahkan orang yang kucintai selama ini juga tidak menginginkanku

Kilasan masa ketika Kyungsoo meninggalkan dirinya kembali terulang bagai mimpi buruk yang terus menghantui Chanyeol. Sungguh Chanyeol ingin segera bangun dari mimpi buruk tersebut. Nyatanya apa yang saat ini dialaminya bukanlah mimpi buruk melainkan sebuah realita yang harus ia hadapi. Dalam benaknya mungkin ini adalah satu – satunya jalan dimana dia tidak akan merasakan lagi rasa sakit ini. Oleh karena itu, dia memasrahkan diri kepada alam. Berharap deburan ombak dan hantaman keras dari karang akan membawanya ke alam lain. Membawanya ke suatu dimensi dimana dia tidak akan merasakan sakit dan kecewa.

Sampai jumpa Kyungsoo

Semoga di kehidupan selanjutnya kita dapat bersatu

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun memasang senyum terindahnya ketika ia tepat menginjakkan kaki di negeri sakura ini. Sebenarnya Baekhyun sudah sering datang ke Jepang. Namun baru kali inilah dia datang ke sini dalam rangka untuk liburan. Sebelumnya sering kali Baekhyun datang ke Jepang dalam rangka pekerjaan. Hal yang Baekhyun suka dari negeri ini karena perpaduan budaya modern dan tradisional yang masih seimbang. Pada zaman sekarang sudah jarang ditemui ada negara yang masih mempertahankan kebudayaan asli mereka tanpa tergerus arus modernisasi. Ditambah lagi jika saat ini dia berlibur ke Jepang seorang diri. Tanpa adanya sang manager (Chen) yang selalu cerewet. Jadilah liburan Baekhyun kali ini merupakan liburan impian yang selama ini diidamkannya. Baekhyun tiba di Jepang pada sore hari. Dia memutuskan untuk beristirahat sejenak menghilangkan jet leg yang ia alami selanjutnya ia akan memuaskan diri berkeliling Jepang.

Destinasi pertama Baekhyun di Jepang adalah Tokyo Tower. Melewatkan pemandangan di atas ketinggian merupakan salah satu pengalaman yang tak akan Baekhyun lewatkan. Beruntung suhu di kota Tokyo pada malam hari ini tidak begitu dingin membuat Baekhyun makin bersemangat untuk melihat keindahan kota Tokyo dari atas ketinggian. Sesampainya di puncak menara Baekhyun semakin dibuat terkagum – kagum dengan pemandangan yang memanjakan indera penglihatannya. Gemerlap indah lampu – lampu yang mengiasi kota, kumpulan cahaya berjalan dari kendaraan yang melintasi kota, ditambah cahaya bintang yang menerangi malam membuat pemandangan yang spektakuler. Pemandangan menakjubkan yang tak akan pernah Baekhyun lupakan dalam hidupnya.

"Seandainya saja aku bisa melihat pemandangan sempurna ini bersama dengan seorang kekasih." Monoloh Baekhyun sambil menghembuskan nafas.

"Bagaimana bisa mendapatkan kekasih jika selama ini aku selalu saja sibuk bekerja. Dasar Chen sialan dia selalu menjadwalkan kerjaku secara gila-gilaan sehingga aku tidak punya waktu untuk mencari kekasih."

"Lihat saja. Pada liburanku kali ini aku harus menemukan kekasih. TUHAN BANTU AKU MENEMUKAN JODOHKU DISINI."

Teriakan Baekhun tentu saja mengundang rasa penasaran dari pengunjung Tokyo Tower. Baekhyun menyadari kebodohannya dan meruntuki tingkah bodohnya di dalam hati. Beruntung Baekhyun dalam liburannya kali ini melakukan penyamaran. Ia ingin dalam penyamarannya kali ini tidak ada fans maupun paparazzi yang mengganggu liburan berharganya. Tentu saja Baekhyun rela mengeluarkan uang lebih demi memuluskan penyamarannya. Para pengunjung tersebut kembali ke aktivitasnya setelah Baekhyun meminta maaf kepada pengunjung karena telah mengganggu kenyamanan mereka.

"Untung saja mereka tidak menyadari jika aku Baekhyun. Aku tidak dapat membayangkan betapa hebohnya netizen ketika menemukan video aku melakukan hal bodoh seperti tadi." Kembali Baekhyun bermonolog.

Kali ini ia akan semakin berhati – hati dalam menyembunyikan identitiasnya. Jangan sampai karena tingkah bodohnya seperti tadi identitasnya sampai terbongkar. Selesai menikmati pemandangan di atas menara Tokyo Tower, Baekhyun memutuskan kembali ke hotel dan melanjutkan perjalan esok hari.

"Bagaimana liburanmu kali ini? Tega sekali kau tidak mau mengajakku berlibur ke Jepang?"

Baekhyun mendengus kesal ketika mendengar nada merajuk yang dilontarkan oleh Chen. Bisa – bisanya managernya itu merajuk. Apakah ia lupa jika waktu liburannya bahkan jauh lebih banyak daripada jatah libur Baekhyun sendiri.

"Haruskah aku mengingakanmu berapa kali kau liburan ke Jepang tanpa mengajakku? 10 kali? Bisa – bisanya kau merajuk kepadaku dengan suara menjijikkan seperti itu?"

"Lebih tepatnya 12 kali aku sudah ke Jepang. Kau tahu sendiri jika mengganggumu adalah hobiku. Kau belum menjawab pertanyaan pertamaku Baek. Bagaimana liburanmu ke Jepang tanpa ada aku?"

"Tentu saja aku sangat menikmati liburanku tanpa ditemani manusia cerewet sepertimu. Lagipula mengapa kau meneleponku pagi – pagi sekali? Apakah ada masalah penting?"

"Tidak hanya saja seusai kau liburan kau jangan kembali ke Korea terlebih dahulu. Kita ada penandatanganan kontrak dengan perusahaan di Jepang. Mereka memintamu untuk menjadi brand ambassador mereka yang baru."

"Baiklah jika begitu aku akan menunggumu di sini. Sudah ku tutup teleponnya aku mau melanjutkan perjalananku."

Tanpa menunggu persetujuan dari Chen, Baekhyun dengan sengaja memutuskan sambungan telepon di antara mereka. Ia sampai membekap mulutnya untuk menahan senyum ketika membayangkan Chen akan ngamuk karena ulahnya. Itu balasan yang harus diterima Chen karena sudah pagi – pagi buta meneleponnya. Ia memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas kemudian mengarahkan pemandangannya ke jendela bis yang ia tumpangi. Menikmati pemandangan Jepang sebelum sang mentari menyinari bumi. destinasi selanjutnya Baekhyun adalah mengejar sunrise di Gunung Fuji.

.

.

.

.

.

.

.

Apakah ia sudah mati?

Pertanyaan itu selalu meluncur di dalam benak Chanyeol. Ia masih merasakan dirinya terombang – ambing dalam lautan lepas. Masih dirasakannya dinginnya ombak yang membekukan seluruh persendiannya. Ia masih merasakan sisa oksigen yang direnggut paksa di dalam dada. Belum. Saat ini Chanyeol belum mati. Ia masih merasakan tanda – tanda kehidupan.

Mengapa?

Mengapa ia belum juga merasakan kematian? Apa yang Tuhan tunggu? Apakah ia tidak ditakdirkan untuk menjemput ajal saat ini?

Chanyeol merasakan jika tangannya di tarik secara paksa. Ia dapat merasakan jika ada seseorang yang menarik tubuhnya menuju ke permukaan. Otak Chanyeol memikirkan untuk meronta dan memberontak. Tak pernah membiarkan siapapun untuk menyelamatkannya kali ini. Sungguh kali ini yang ia harapkan hanya kematiannya. Namun tubuh Chanyeol berkata sebaliknya. Tubuh Chanyeol sudah tidak mampu untuk memberontak. Jadi ia pasrah kepada penolongnya yang membawa tubuhnya menuju permukaan. Di sisa – sisa kesadarannya ia berusaha untuk melihat siapa yang datang untuk menolongnya. Apakah Kyungsoo yang datang menolongnya? Namun ia tak mampu menjaga kesadarannya sehingga kegelapan merenggut kesadaran Chanyeol.

Dengan perlahan Chanyeol membuka kedua kelopak matanya. Meskipun masih terasa berat ia tetap memaksa membuka kedua matanya. Hal pertama yang tertangkap di matanya adalah langit – langit ruangan yang berwarna putih. Perlahan ia mengedarkan pandangannya dan menyadari bahwa saat ini ia tengah berada di rumah sakit. Ingatannya kembali melayang kepada peristiwa dimana ia bisa berakhir terbaring di rumah sakit. Lalu siapa yang menolongnya? Pandangan matanya mengedar menelusuri setiap jejak di ruangan rawatnya. Berharap menemukan seseorang yang bisa menjawab pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Ia dapat melihat dari jendela jika sang ibu berada di luar tengah berdiskusi dengan dokter.

Tak lama kemudian setelah menyelesaikan pembicaraan dengan dokter. Ibu Chanyeol memasuki ruang rawat dan terkejut ketika ia mendapati anaknya sudah siuman. Bergegas ia menghampiri Chanyeol kemudian mengecup kening anaknya tersebut dengan penuh cinta.

"Kau sudah sadar nak. Untunglah eomma sangat mencemaskanmu. Maafkan perkataan eomma waktu itu dan kumohon nak jangan melakukan hal seperti ini. eomma sangat takut kehilanganmu nak." Isak ibu Chanyeol sambil memeluk anaknya yang tengah terbaring lemah.

Perasaan khawatir bercampur dengan lega dirasakan oleh ibu Chanyeol. Ibu mana yang tak khawatir jika anaknya akan melakukan percobaan bunuh diri. Mendengar kabar jika anaknya tenggelam sudah mampu menghancurkan hatinya. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai ia kehilangan Chanyeol. Karena ia turut andil atas luka yang harus tergores kembali. Ibu Chanyeol sangat menyesal telah menanyakan hal yang membuat anaknya kembali terluka. Beruntung baginya karena Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Chanyeol untuk menghirup udara di dunia.

Chanyeol mengeratkan pelukannya kepada sang ibu. Hatinya terisris sembilu ketika mendengar isakan tangis wanita yang paling dicintainya. Ia merasa sebagai anak yang tidak berguna karena telah membuat ibunya menangis.

"Eomma kumohon berhentilah menangis. Itu semua bukan kesalahan eomma. Chanyeollah yang salah. Maafkan kesalahan ku eomma. Maafkan aku."

Rasa sesal datang menghampiri. Tak seharusnya ia bertindak bodoh dengan cara ingin mengakhiri hidupnya sendiri.

Seusai menenangkan ibunya, Chanyeol meletakkan kedua tangannya pada lengan ibunya untuk melepaskan pelukan di antara mereka. hati Chanyeol berdesir hebat melihat mata ibunya yang sembab dan kantung mata yang sebelumnya tak terlihat di mata indah ibunya. Dan kali ini Chanyeol baru sadar jika ibunya kini tampak kurus. Perasaannya hancur melihat keadaan mengenaskan ibunya ini disebabkan oleh kekhawatiran seorang ibu terhadap anaknya. Dengan tangan gemetar, ia menghapus jejak air mata di pipi ibunya. Dikecupnya bekas jejak air mata itu dengan penuh rasa penyesalan.

Ada satu pertanyaan yang masih menghantui benak Chanyeol. Mengenai siapa yang menyelamatkannya.

Apakah Kyungsoo yang datang menolongnya?

"Eomma siapa yang menyelamatkanku?" tanya Chanyeol kepada ibunya. Pertanyaan tersebut selalu menghantuinya karena penasaran ia menanyakan hal tersebut kepada ibunya.

"Yang menyelamatkanmu adalah Yong Min. Perasaan eomma sudah merasa tak enak saat kau pergi dari rumah. Maka dari itu eomma menyuruh Yong Min untuk mengikutimu. Beruntung ia tepat waktu untuk menyelamatkanmu. Jika tidak, eomma akan kehilanganmu untuk selamanya." Jawab ibu Chanyeol.

BODOH

Pertanyaan bodoh yang ada di benak Chanyeol. Tentu saja jawabannya adalah tidak. Tidak mungkin Kyungsoo datang untuk menolong Chanyeol. Tidakkah kau ingat Chanyeol jika Kyungsoo telah pergi meninggalkanmu begitu saja. Rasa sesak itu kembali dirasakan Chanyeol. Benarkah jika Kyungsoo saat ini sudah benar – benar tidak peduli kepadanya? Tidak adakah harapan yang tersisa untuk dia bisa bersama dengan Kyungsoo? haruskah mulai saat ini ia berhenti berharap?

.

.

.

.

.

.

.

Ruangan itu dipenuhi oleh gemerlap lampu berwarna – warni. Suara music berdentum – dentum memekakkan telinga Baekhyun. Kedua netranya menelusuri sekitar dan menemukan manusia tumpah ruah di tengah lantai dansa. Terlihat bahwa mereka melepaskan semua beban yang berada di pundak mereka untuk sejenak menikmati kehidupan duniawi. Termasuk juga Baekhyun. Keuntungan berlibur sendiri adalah ia bisa melakukan apapun yang ia mau. Tak terbayang betapa mengomelnya Chen jika tahu ia sekarang berada di tempat seperti ini. Bukan tanpa alasan Chen akan mengomel. Ia bukan orang yang kuat meminum alcohol dalam jumlah banyak. Baekhyun hanya ingin melepaskan penatnya saja. Ia tidak berencana untuk mabuk, setidaknya untuk disini. Dia tidak mau mengambil resiko dengan mabuk di negeri asing. Jika di Korea ia bisa tenang karena keberadaan Chen. Disini? Tidak ia tidak mau keesokaan harinya namannya terpampang di surat kabar karena mabuk.

Ia mulai membaur bersama dengan orang – orang di sana. Menggerakkan tubuhnya lincah bahkan cenderung menggoda. Baekhyun tidak peduli toh tidak ada yang mengenal siapa dirinya saat ini. Banyak yang mencoba mendekati Baekhyun namun sebisa mungkin ia menghindari orang – orang yang ingin berniat lebih dari menari bersama. Semakin malam suasana di night club ini semakin menggila. Sudah tak terhitung lagi pasangan yang memulai saling mencumbu satu sama lain. Di sisi lain Baekhyun semakin menggoda dengan gerakan tariannya. Tanpa ia sadari tariannya membuat orang – orang mamandangnya dengan tatapan nafsu.

Baekhyun tidak menyadari jika ada seseorang yang berjalan dengan tatapan penuh nafsu mengarah kepadanya. Tiba – tiba saja, Baekhyun merasakan jika pinggangnya ditarik oleh seseorang secara kasar. Tiba – tiba saja ia kini berada di dalam dekapan seseorang. Pria itu memeluk Baekhyun sangat erat seakan tak akan pernah membiarkan Baekhyun terlepas dari pelukannya. Amarah menguasai benak Baekhyun. Bisa – bisanya pria asing ini tiba – tiba memeluknya seerat ini. Ia mencoba meronta agar pelukan posesif pria itu terlepas. Berhasil, ia berhasil melepaskan pelukan pria itu. Ia sudah mengepalkan tangannya bersiap untuk melayangkan tinju kepada pria mesum dihadapannya. Namun hal itu ia urungkan ketika ia baru menyadari siapa sosok tinggi menjulang yang berdiri di hadapannya.

Ia adalah pria yang waktu itu

Baekhyun mematung mengetahui bahwa ia pernah bertemu dengan sosok di hadapannya ini. Ingatannya kembali kepada kejadian beberapa minggu lalu. Pertemuan itu hanya berlangsung sebentar. Hanya ketika pria tinggi itu menolongnya yang hampir terjatuh karena banyak fans yang mendorongnya. Hanya itu saja. Sederhana tetapi kejadian itu begitu membekas di hati Baekhyun. Sejak saat itu ia sudah menambatkan hatinya. Siapa yang menyangka jika kali ini mereka akan dipertemukan kembali. Apakah ini takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan?

Pria itu mendekatkan wajahnya kepada Baekhyun, meletakkan telapak tangannya yang hangat ke wajah Baekhyun. Rona di wajah Baekhyun sudah tak dapat disembunyikan lagi. Aroma pria itu begitu memanjakan indera penciuman Baekhyun. Ia memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut di wajahnya. Ia berharap waktu dapat terhenti sehingga ia bisa selamanya berada di posisi ini. Sampai akhirnya ia dapat mendengar suara yang membuat Baekhyun tak berpijak lagi di daratan.

"I want you"

Suara berat pria itu begitu membuat Baekhyun terlena. Belum sempat ia merespon, ia sudah merasakan bibirnya dilumat dengan penuh nafsu. Kedua tangan pria itu yang semula berada di wajah sekarang berpindah memeluk tubuh mungil Baekhyun. Tak memberikan celah sedetik pun untuk Baekhyun melarikan diri. Baekhyun membalas ciuman dari pria itu lalu membalas pelukannya tak kalah erat. Ciuman yang semula di bibir kini berpindah ke leher. Baekhyun semakin menjenjangkan lehernya ketika mendapatkan kecupan. Memberikan akses lebih kepada pria itu. Baekhyun menggigit bibirnya menahan erangan kenikmatan yang keluar dari mulutnya. Ia masih sadar jika ini adalah tempat umum. Dengan terpaksa ia mendorong dada pria itu perlahan. Dengan nafas terengah – engah ia menarik tangan pria itu untuk pergi. Mencari tempat untuk menuntaskan hasrat menggebu mereka.

Udara dingin mengusik tidur nyenyak Baekhyun. Ia meraba – raba sekitar tempat tidurnya mencari sesuatu yang bisa menghangatkannya. Namun ia tidak menemukannya. Dengan terpaksa ia membuka kedua mata indahnya dan menyadari ia tidak berada di hotel tempatnya menginap selama ini. Perlahan ia bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Ia melihat ke sekitar dan menemukan bajunya berserakan. Senyum merekah di bibirnya tatkala ia mengingat malam panas yang dilewatkannya bersama pria itu kemarin. Mengambil kemeja dan celananya, ia memakainya lalu berjalan ke kamar mandi. Berharap dapat menemukan keberadaan pria itu.

Namun harapannya sirna. Ia tidak menemukan siapapun selain dirinya di kamar ini. Rasa kecewa mendera Baekhyun. Ia menyayangkan kenapa pria itu harus pergi sebelum dirinya terbangun. Mengacak rambutnya frustasi, ia merasa sudah kehilangan harapan untuk lebih mengenal pria pujaan hatinya.

"Sial. Bahkan aku belum mengetahui namanya. Bagaimana aku bisa bertemu lagi dengannya jika aku saja tidak mengenal siapa dirinya."

Mengambil handphonenya yang tergeletak di lantai, ia menemukan kartu nama yang terjatuh di samping handphonenya. Ia mengambil kartu nama tersebut dan membacanya. Senyuman yang sempat hilang kini telah kembali lagi. Seakan Tuhan telah membuat scenario yang sangat indah antara dirinya dan pria tersebut. ia menyimpan baik – baik kartu nama itu dan bergegas pergi.

Sepertinya memang kita ditakdirkan untuk bertemu kembali …

Park Chanyeol

(TBC/END)

HALLLOOOOOO

Akhirnya saya kembali lagi. sumpah bener kangen sama nulis sama baca komenan dari reader tercinta. Setelah hiatus sekian lama saya kembali lagi. saya akan usahakan di sela kesibukan akan terus update ff saya yang terbengkalai. Bagaimana dengan chap kali ini? Sudah lama tidak menulis membuat gaya penulisan saya agak berbeda. Sialahkan memberikan komentar, saran, kritikan,di kolom komentar.

Untuk selanjutnya cerita mana yang ingin saya publish terlebih dahulu?

Timeless Love

Aku Sayang Papa (Kaisoo/krishan version)

Warm Series

This Is Our Destiny