A/N: terimakasih untuk semua review dan masukan. Sangat menginspirasi. ^_^. Sebelumnya maaf, pertanyaan kalian belum bisa dijawab, bakal dijawab di alur fict ini.
Harry Potter © JK Rowling
Hurt/Comfort, Mysteri
Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll
Draco – Hermione – Harmony (OC)
Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju
Seri multychapter dari Replace
Hope you like it. Enjoy.
…
The Soul © Diloxy
CHAPTER 2.
Kututup mataku perlahan. Merasakan aliran angin yang menjalar menguasai tubuhku. Membalutku dengan dingin tak berkesudahan. Membalutku dengan tembang-tembang kematian dan simfoni kelam masa lalu.
Ketika lamunanku mengantarku menuju kenangan peperangan Hogwarts. Semakin cahaya hilang dari pandangan, semakin kobaran api yang melahap Hogwarts terlihat nyata. Meluapkan segala emosi tentang kemarahan dan perjuangan.
Apakah itu akhir yang bahagia?
Jika jawabannya adalah iya, dapatkah kita jelaskan tentang nyawa-nyawa tak berdosa yang menjadi tumbal kebebasan?
Aku menarik napas panjang ketika bulir beku musim dingin menerobos paksa ke dalam hidungku. Aku menghirup udara bersalju hingga harus terbatuk-batuk kepayahan karena paru-paruku terasa dihimpit dingin. Menghirup udara menyesakkan di lembah ini.
Menyatu dengan suara alam yang hening dan sepi. Membaur bersama dingin yang menggerogoti tubuh perlahan. Seakan tak peduli pada hujan lembah yang konstan membasahi padang rumput dan lili liar di sekitar.
Aku sendiri disini. Dihimpit sunyi rasanya tak pernah sesakit ini.
Jemariku terpaut pada buket lili putih yang sedari tadi aku genggam. Entah sudah berapa lama aku mematung di hadapan pusara batu adikku. Memandang pucat nisan yang selalu basah akibat hujan lembah.
Sejak malam itu aku telah berikrar menggantikannya. Ah, lancang sekali memang, tapi siapa yang menginginkan semua ini. Aku sendiri tak tahu siapa yang mendapat peran 'si korban' apakah aku atau gadis di dalam pusara ini.
Aku Hermione Granger.
Atau mulai saat ini harus terbiasa dengan identitas baru.
Harmony Millow.
Ah, dear! Otakku terus saja memproses tentang bagaimana kebakaran di Shier itu terjadi. Jika analisisku selama ini salah, itu berarti kedekatan kita lah yang menjadi pemicunya. Karena memang belum ada bukti yang mengarah pada si brengsek kementerian yang menjadi pelaku. Dan entah bagaimana bisa Millow lah yang bekerja sama dengan kementerian Inggris dalam proyek perumahan mewah di Shier.
Kau adalah pemegang perusahaan saat itu, dan itu berarti kau memiliki andil besar dengan penggusuran Shier. Bagaimana bisa seorang Harmony Millow menjadi tak berhati. Apakah sosok gadis pendiam dan misterius yang selama ini kucoba kenali memang memiliki bagian terdalam yang tak berdasar. Apa kita berbeda?
Dan bagian akhir yang sangat tak bisa kupercayai adalah, bagaimana bisa kau menerima seorang Malfoy menjadi bagian dari masa depanmu? Bukankah kau sudah mengenalku sejak Triwizard? Dan jika kau memang mencari tahu tentangku, apa kau tak tahu bagaimana hubungan kami? Apa kau tak tahu mereka menginjak status darahku tepat di bawah sepatu mengkilap mereka?
Kau menyetujuinya menjadi bagian masa depanmu. Tapi kau lupa bahwa kematian bebas merenggutmu kapan saja. Kau tak tahu bahwa rencana mengerikan itu akhirnya membelitku. Ia akan menjadi masa depanku menurutmu saat ini. Ya, mungkin aku akan segera menyusulmu, Harmony. Karena orang-orang di sekitarku akan melemparku menuju kematian.
Kugelengkan kepalaku cepat. Aku bicara terlalu banyak dengan orang yang sudah mati. Kuayunkan tongkatku segera dengan mantra non verbal. Dissparrate.
0o0o0
00
Suara hak sepatu berkelotak bergaung di lorong panjang. Beradu dengan bising ketika langkah kakiku memijak barisan marmer putih tulang di gedung megah ini. Sesekali kubetulkan blazerku yang masih saja nampak belum sempurna. Rambutku hanya di kepang sederhana kemudian di ulir di sekitar kepala. Berakhir dengan jepit mungil berbentuk lili putih. Ibu bilang Harmony selalu memakainya.
Ah ya, aku bahkan hampir lupa siapa diriku sebenarnya. Perlu kuulangi dalam hati tiap kata pada kalimat bahwa aku adalah Hermione yang berperan menjadi Harmony. Aku tak ingin kehilangan jati diri. Karena sesungguhnya aku tak tahu siapa sosok yang kuperankan ini. Apakah bidadari, atau malah monster.
Aku berjalan melewati beberapa lorong dan lift. Seluruh muggle yang kujumpai disini menyapaku dengan ramah. Ya, ini adalah perusahaan waralaba dan bisnis properti muggle, namun perusahaan besar juga di dunia sihir. Mengingat bagaimana hubungannya dengan keluarga Malfoy, dan betapa mudahnya berurusan dengan kementerian sihir Inggris.
Orang-orang ini mengira aku adalah pimpinan mereka. Dan bodohnya aku bingung harus bersikap bagaimana. Entah sedikit angkuh, atau mungkin ramah. Kucoba senormal mungkin.
Kuhela napas panjang seraya terus berpikir. Aku belum mengerti jalan pikiran seorang Harmony Millow.
"Selamat pagi, Mony!"
Aku menengadah cepat begitu kubuka pintu ruangan bertuliskan 'pimpinan'. Meneliti dengan heran kemudian bertanya-tanya. Aku yakin masih Harmony lah pemimpinnya.
Masih belum hilang dari keterkejutanku, pemuda yang menyapaku tadi berjalan mendekat kemudian tersenyum dan mengecup pipiku.
"Aku sudah pesankan Green Tea dan roti isi tuna pada Mapel. Kau belum sarapan, bukan?"
"Berani kau?" desisku antara marah dan heran. Hazelku terbelalak, namun pemuda tadi mengelus pipiku lembut.
"Kau ini kenapa? Seperti baru mengenalku saja?"
Ya, aku baru melihatmu hari ini. Yang entah mengapa begitu lancang mengecup pipi dan berlaku mesra pada pimpinan perusahaan yang pasti seluruh orang sudah mengetahui perihal pertunangannya. Namun alih-alih mendampratnya, aku malah bingung harus bersikap bagaimana.
"Erg, aku harus pergi!" ucapku cepat-cepat. Pemuda tadi hendak mencegahku, namun aku segera mundur dan membanting pintu.
Hazelku liar berusaha mengamati suasana kantor yang mulai ramai. Beberapa orang tampak keheranan. Ya, aku yakin mereka melihatku kebingungan. Aku perlu menemukan sekretaris Harmony.
"Mana sekretarisku?" tanyaku asal pada seorang karyawan wanita.
"Tuan Austin sudah di ruangan anda sejak pagi. Bukankah ia masih di dalam?" tunjuknya pada pintu ruanganku.
Alisku bertaut. Bisa kutebak wajahku tampak aneh saat ini. Aku berbalik menuju ruanganku kembali. Jadi, pemuda tadi sekretaris Harmony? Apa pun yang dilakukannya tadi, itu pastilah sudah berlangsung lama. Dan Harmony pasti telah terbiasa.
Kubuka pintu ruanganku perlahan, menunggu daun pintu yang tampaknya mengayun pelan, dan pemuda itu masih berdiri disana. Mengepak berkas-berkas yang tercecer di ruanganku.
Seorang pemuda tinggi dengan badan proporsional. Baiklah, ia tampan dan sorot matanya teduh. Tapi perlakuannya tadi membuatku gerah.
"Apa jadwalku hari ini?" tanyaku berusaha normal.
Ia menoleh dan menatapku heran. Tersenyum sejenak dan menyodorkan selembar kertas penuh jadwal.
"Sebanyak ini?" tanyaku agak kaget.
"Tentu bukan kau yang mengerjakannya, Mony!" jawab pemuda itu tanpa melihat ke arahku. "Kau terlihat aneh hari ini."
"Erg, aku agak tak enak badan," jawabku asal. Kulemparkan tubuhku di atas kursi putar yang tampak nyaman. Kemudian menelitinya.
Hening menyelimuti kami cukup lama. Selagi aku mengamati seisi ruangan, aku menganalisis pemuda itu. Apa orang-orang Perancis memang selalu mengecup pipi? Atau pemuda ini memang selalu begitu pada Harmony?
"Kau tahu Draco?" tanyaku mencoba memancingnya.
"Tentu saja," jawab pemuda itu mengangguk, tanpa melihatku.
"Dan kau tahu hubunganku dengan Draco?" tanyaku lagi. Kali ini Austin menengadahkan kepalanya, sehingga aku bisa melihat iris hijau miliknya.
"Tentu saja aku tahu. Dan ia juga tahu hubunganku denganmu," ucapnya tertawa kecil. Dahiku berkerut.
"Selain pimpinan dan sekretarisnya?" tanyaku cepat.
"Ah, dear! Kita sama-sama mengetahuinya. Kau ini kenapa?" tanyanya menyidik.
"Tidak, aku hanya sedikit amnesia sepertinya. Perjalananku menuju Shier minggu kemarin agak bermasalah. Aku mendapat kecelakaan," ucapku dengan tawa aneh yang dipaksakan. "Bahkan aku lupa bahwa kita berkencan dan Draco mengetahuinya. Hahaha, lucu sekali, bukan?"
Bukannya membalas lelucon garing milikku, Austin hanya terdiam. Ia menatapku agak lama, kemudian cepat beralih. Ia menggeleng. "Tak ada yang lucu sepertinya."
Waktu berlalu mengikuti kesibukanku sebagai pimpinan perusahaan. Perlu banyak belajar dan bertanya banyak hal tentang semua ini. Perlu membiasakan diri dengan semua kesibukan. Astaga, jika aku mengingat, aku ini seorang pengangguran. Kementerian sihir Inggris telah memecatku. Dan saat ini aku dengan lancang berpura-pura menjadi pimpinan.
Menjadi anggota divisi penataan wilayah pun tak becus, bagaimana dengan yang satu ini. Semoga perusahaan ini tak bangkrut.
Aku mengetuk-ngetukkan jemariku seraya membaca cepat berkas-berkas yang perlu kutandatangani. Sesekali memperhatikan Austin yang masih terdiam. Kulirik sekilas arlojiku. Pukul lima sore dan sepertinya sudah waktu pulang.
Ketika bell berdering, pemuda itu pun segera membereskan arsip-arsip. Ia mengantarku keluar dari lobi gedung, kemudian membukakan pintu mobil. Tipikal seorang kekasih yang baik. Selama dalam perjalanan, pikiranku melayang. Menuju rak besar di kamar Harmony. Tak ada catatan apa pun tentang Austin. Apakah gadis itu mencintai Austin? Namun dari perlakuan pemuda ini, ia tampak sangat menyayangi kembaranku. Pemuda ini pasti tahu banyak seluk-beluk Harmony.
Aku tersadar sesuatu ketika mengorek isi tasku. Sebuah jurnal milik Harmony yang kutemukan di ruangannya tadi. Jurnal tentang proyek Shier yang masih belum selesai. Dan itu berarti, saat ini proyek Shier ada dalam tanggung jawabku.
"Bisakah kita pergi malam ini? Aku ingin membicarakan beberapa hal," pintaku setelah keheningan cukup panjang di antara kami.
"Kau mau kemana?" tanya Austin.
"Ke tempat kita biasa pergi?" ucapku lebih kepada bertanya.
Sebuah anggukan kecil mewakili jawabannya.
Aku tak tahu kemana ia akan membawaku. Sedan ini meluncur membelah jalanan cukup lengang di Paris. Dengan gambaran semburat senja dan awan merona mawar.
…
Lonceng di atas pintu berdentang seiring kedatangan kami. Pelayan mengantar kami ke meja kosong di sebelah jendela kayu cukup besar. Aku bisa melihat betapa besar debam hujan menghantam tanah coklat di jalanan, juga genting-genting tanah liat di atas rumah-rumah kecil.
Yang aku sukai dari tempat ini adalah terasa sangat nyaman walau pun jauh dari kesan mewah. Dan dari sekian banyak buket bunga yang sepertinya sengaja di tebar di seluruh ruangan, sudut ini ditempati banyak lili putih. Bunga kesukaan Harmony.
Aku memesan steak daging dan secangkir coklat panas. Austin hanya memperhatikan, sepertinya menu ini berbeda dengan menu yang sering dipesan Harmony. Masa bodoh.
"Aku ingin membicarakan tentang Shier. Bisa kau jelaskan?" pintaku tanpa basa-basi. Karena masalah itu memang yang paling menganggu.
"Bagian mana yang perlu kujelaskan?" tanyanya setelah menyeruput green tea.
"Dari awal. Emmh, maksudku, apa kau ingat mengapa aku menyetujui proyek ini? Apa aku memang benar-benar ingin mengubah Shier menjadi perumahan mewah?"
Austin tertawa pelan. Merasa sepertinya aku telah memberikan pernyataan yang salah, aku pun diam.
"Kau ingin mengubahnya menjadi perumahan layak huni untuk warga Shier. Tapi, karena kementerian Inggris susah diajak bekerja sama dengan niat baikmu, kau mengelabui mereka. Kau yang pegang kendali atas proyek itu, Mony. Kau lupa?"
"Mengelabui? Bagaimana jika mereka marah dan menganggapku menyalahi perjanjian? Bagaimana dengan urusan harga?" tanyaku segera. Dan sekali lagi Austin tertawa.
"Sudah kubilang, kau yang pegang kendali, honey!"
Kata terakhir di kalimatnya tadi membuatku terdiam. Ia memang tersenyum lembut, tapi perlakuannya membuatku gusar. Oh, ayolah. Sepertinya pemuda ini tergila-gila pada kembaranku. Bagaimana jika ia tahu Mony kesayangannya telah terbujur kaku di bawah pusara batu?
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang dengan proyek itu?" tanyaku segera.
"Coba bicarakan dengan kementerian. Kau sendiri yang selalu menutupi proyek itu dariku."
Ya, bahkan Austin tak tahu apa rencana Harmony setelahnya. Semuanya telah menguap di udara beku lembah itu. Membisu seperti nisan dingin yang menandai tidur jasadnya.
Aku tak tahu bagaimana mengelabuhi kementerian. Tidakkah rencana itu terdengar menggelikan? Kementerian bukanlah anak kecil yang dapat ditipu dengan permen. Kuacak rambut ikalku yang sudah sedemikian kusut.
"Kau kenapa?" tanya Austin. Aku menggeleng cepat. "Apa kecelakaanmu sedemikian parah?"
"Lumayan," jawabku asal seraya menepuk dahiku.
"Mengapa kau tak memberitahuku? Telfonmu tak pernah aktif sejak kecelakaan itu. Orang tuamu hanya bilang kau pingsan berhari-hari."
Telfon? Ah ya, aku baru menyadarinya. Sedari tadi aku mengira orang-orang di sekitarku adalah penyihir. Dan kekasih kembaranku ini sepertinya seorang muggle. Ia tak sedikit pun membahas sihir. Hebat sekali, jika saja ia mengetahui betapa misterius kekasihnya, bahkan bagi seorang penyihir sepertiku.
Sejenak aku berpikir mungkin kementerian yang dimaksud Austin bukanlah kementerian sihir.
"Malfoy!" bisik Austin yang membuat jantungku hampir melompat.
Ketika aku menoleh, sosok pemuda jangkung dengan rambut pirang platina yang mengkilap di bawah pendar cahaya tipis terlihat. Wajah runcingnya menatap lurus menuju hazelku dengan tajam.
"Kencan dengan selingkuhan?" tanyanya dengan nada sinis.
Pemuda itu membenarkan jasnya. Ia menepuk-nepuk butiran salju di pundaknya, kemudian menusukkan tatapan tajam tepat padaku. Ada yang salah?
"Kukira kau tak keberatan," kali ini Austin yang menjawab dengan santai.
Tapi memang benar, aku tak salah pergi kencan dengan Austin. Bukankah kami semua sudah mengetahuinya?
"Ikut denganku, Millow!" desis suara serak itu. Dan detik berikutnya, aku diseret menuju manor oleh si ferret keparat.
0o0o0
00
Deras hujan seolah bukan penghalang ketika ferret ini menyeretku berdissparrate. Kukira kami akan langsung tiba di manorku, ternyata ia membawaku menuju lorong becek di sebelah manor. Sebuah jalan kecil yang menuju desa.
Deras hujan menghujam kami tanpa ampun. Aku diserang kumpulan air dingin. Membuatku kuyup telak, dan mantel bulu yang kukenakan semakin berat. Riuh hujan terdengar bising dan membuat pekak. Dingin menusuk hingga ke tulang, tapi dingin yang lebih menusuk datang dari iris kelabu di hadapanku. Rasa nyeri di pundakku ternyata datang dari pegangannya. Ia mencengkeram bahuku kuat. Dan urat-urat syaraf disana berontak. Berdenyut tanpa ampun. Aku meringis kesakitan, tapi ia malah mengeraskan wajahnya.
"Dengar aku. Aku tak mau kau dekat-dekat dengan sekretarismu lagi. Atau pria mana pun!" desisnya terdengar seperti basiliks. Aku menatap mencemoohnya.
"Ada apa? Aku kira kau sudah terbiasa. Bukankah selama ini tak ada masalah?" tanyaku sinis.
"Kau milikku. Harmony Millow!"
Dan kalimat itu menggantung di kepalaku. Ia sungguh memuakkan. Masih sama tampak seperti seorang pelahap mau yang haus darah. Yang seolah menamparku dengan kenyataan begitu ia jijik dengan darahku.
Tak tahu kah kau bahwa yang kau cengkeram saat ini adarah darah lumpur jalang yang harusnya diinjak di bawah hak sepatumu?
"Persetan dengan pertunangan!"
Kalimat terakhirku sebelum kuhentakkan keras-keras cengkeramannya. Tak ada yang boleh memperlakukanku atau Harmony serendah ini.
0o0o0
00
Baiklah, ini menit terakhir sebelum akhirnya aku keluar dari bath tub, kemudian mengalirkan air hangat di sekujur tubuhku. Membasuh sisa-sisa hari yang melelahkan. Membasuh perih yang menguar. Kemudian terhenti pada luka lebam di pundakku. Hasil cengkeraman tangannya tadi.
Sebuah hal aneh bin ajaib. Aku yakin saat Austin mengatakan bahwa kami bertiga tahu tentang hubungan ini, itu berarti semua ini telah berlangsung lama. Austin dan Harmony telah menjalin hubungan sejak lama tanpa diketahui siapa pun selain mereka dan Draco. Dan dari penuturan pemuda dengan iris hijau tadi, si ferret sialan itu tak pernah bermasalah dengan semua ini.
Jadi, mengapa saat ini si brengsek Malfoy bisa begitu berubah menjadi garang? Apa Harmony pernah mendapat perlakuan seperti tadi?
Kugosok keras luka lebam ini. Merasa pegangannya masih saja ada di bahuku. Aku jijik dengan kearoganannya. Si aristokrat itu menganggap Harmony adalah miliknya. Well, baiklah. Gali kubur adikku jika kau mau memilikinya, Ferret!
Seluruh kemarahanku memuncak dan berakhir dengan kepasrahan begitu kupukul keras-keras air di bathtub, membuat sebagian isinya tumpah. Aku merosot hingga kini bibirku mengecup hangat air sabun.
Kututup mataku perlahan. Berusaha mengingat sebanyak mungkin memori menyesakkan yang mendadak bermunculan di kehidupanku. Menamparku keras dengan kenyataan. Kuhela napas panjang berusaha menenangkan diri sendiri.
Dan menit-menit berikutnya menarikku menuju aktifitas lain. Aku telah duduk di atas karpet bulu di hadapan rak besar berisi banyak catatan. Pandanganku terfokus pada sebuah buku tua tebal yang aku tarik dari rak tadi. Sebuah buku yang cukup menarik perhatian pada awal-awal lembarannya, kemudian semakin menarik dan membuat ternganga.
Bagian-bagian berisi ramalan kuno dan sihir gelap. Beberapa catatan dengan bahasa Rune kuno. Jemariku menyusuri sebuah judul yang dilingkari tinta merah.
Jampi transfigurasi
"Bisa bertahan dua hari?" gumamku pelan membaca catatan kaki. Ada banyak coretan tangan pada bagian jampi tersebut.
Kubuka kembali beberapa bagiannya, lembar demi lembar yang semakin membuatku meyakini bahwa ini adalah koleksi sihir hitam. Dan di Hogwarts, buku ini tentu saja berada di area terlarang.
Sebuah halaman dengan gambaran tangan. Sehelai daun dengan catatan 'GT'. Mataku menyipit berusaha mengenalinya. Apa ini?
Semakin lama lembar demi lembar terlampaui dan pada bagian akhir sebelum aku menyerah diculik malam, sesuatu menarik perhatianku lebih. Membuatku mengingat kejadian Shier.
Kutukan api naga dan sihir hitam pemecahnya.
Ini yang membakar Shier? Kutukan api naga yang tak datang dari kementerian. Namun datang dari kami berdua. Kucengkram kepalaku kuat-kuat.
Oh sial, aku benar-benar buruk.
0o0o0
00
Aroma lili lembah menyeruak memaksa masuk indra pemciumanku. Aku ditarik dalam lamunan tentang seorang gadis yang tertidur di dataran tempat lili lembah banyak mekar. Seseorang yang aku gantikan tempatnya saat ini.
Sebatang pulpen menari-nari asal. Aku tak terlalu berminat membaca tumpukkan perkamen dari kementerian sihir Inggris. Terlebih lagi saat kulihat tanda tangan Umbridge menghiasi tiap sudutnya. Harusnya kubuang semua ke perapian. Entahlah, mungkin beberapa pegawai memperhatikan pimpinan mereka saat ini tengah dilanda kegarangan.
Sedari tadi aku pun tak terlalu memperhatikan penjelasan Austin tentang proyek Shier. Otakku digenangi lamunan-lamunan mengerikan. Beberapa hari ini aku sering mengkhayalkan yang aneh-aneh. Tentang Harmony, tentang betapa angkuhnya Draco Lucius Malfoy, bahkan tentang Austin yang mungkin akan menyalahkanku. Baiklah, untuk yang terakhir itu ia tak akan mengetahuinya. Ia muggle dan tak tahu tentang kekisruhan dunia sihir.
Pikiranku masih menerawang, namun sesuatu terasa menarikku paksa menuju kesadaran. Ketika lenganku terasa berdenyut amat keras. Aku ditarik bahkan hampir diseret menuju ruanganku. Sebelum aku dapat mengatur napas dan menyadari keterkejutan ini, hanya ada suara keras dari pintu yang dibanting.
BUGHH
Aku menatapnya.
Sepasang iris kelabu yang mengerikan sekaligus memuakkan. Kuharap bisa mencabut tongkatku dan melemparkan kutukan kematian di hadapan wajahnya. Wajah runcingnya mengeras. Dan tatapan tajamnya benar-benar menusuk. Bodohnya aku terlambat menyadarinya.
"Kau mau memarahiku karena dekat dengan sekretarisku?" tanyaku sebelum ia memulainya.
"Sudah saatnya kau mengikuti perjanjian awal. Aku minta kau meninggalkannya. Kau wanita terhormat di kalangan penyihir. Kelakuanmu mendekatinya memperlihatkan bahwa kau adalah wanita rendahan."
Darahku memanas. Wajahku mengeras. Aku tahan sebisa mungkin untuk tak mendaratkan bogem mentah di depan wajahnya.
"Aku Harmony Millow. Aku pegang kendali penuh atas diriku!" desisku.
"Kau tunanganku!" hardiknya keras.
"Oh, Malfoy! Jangan terlalu melankolis begitu. Bukankah sudah sejak awal kita terjebak dalam ikatan memuakkan ini? Kalau kau menganggapku begitu, buktikan!"
Amarahku menggantung di udara. Menguar bersama dingin yang menerobos dinding marmer hijau ini. Ia berdiri seolah menantang.
"Apa?" .
"Temani aku mengurusi masalah Shier di Inggris. Kita pergi besok," bentakku keras di depan wajah memuakkan miliknya. "Bereskan kekisruhan Shier, baru kau boleh menyeretku kembali ke garis lurus sebagaimana seharusnya, Malfoy!"
"Kau menantangku?" sebuah seringai paling memuakkan tergambar di wajahnya. Kutepis udara di hadapanku seolah ingin mengenyahkan pemandangan mengerikan ini secepatnya.
"Besok pagi, kita berapparate ke Shier. Kuharap kau tak lari seperti seorang pelahap maut yang gagal!"
Ia terdiam. Seringai di wajahnya mendadak hilang. Wajahnya mengeras, dan tanpa aba-aba ia mencabut tongkatnya. Melayangkan mantra non verbal, kemudian menghilang. Berdispparate.
…
…
TBC
Tetap tinggalkan jejak manis kalian.
