A/N: hai, terima kasih untuk semua review yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Maaf untuk keterlambatan update. Seperti biasa, semoga tidak mengecewakan.
Harry Potter © JK Rowling
Hurt/Comfort, Mysteri
Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll
Draco – Hermione – Harmony (OC)
Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju
Seri multychapter dari Replace
Hope you like it. Enjoy.
…
The Soul © Diloxy
CHAPTER 3
Pagi mengantarkan kami menuju sebuah padang ilalang terbuka. Dengan angin musim salju yang masih setia menidurkan makhluk alam. Kutepuk-tepuk mantelku perlahan mengusir serpihan salju yang menumpuk di beberapa bagiannya. Pagi ini setelah detik-detik menyesakkan terlewati dalam apparate menuju Inggris, menyeberangi lautan. Kami tiba di Shier.
Padang terbuka baru yang seolah kehilangan kesan mengerikannya. Bangunan roboh dan sisa puing-puing telah dipindahkan. Padang terbuka terhampar seolah siap ditata. Aku mengedarkan pandang ke arah desa tempat dimana penduduk Shier menetap kini. Bergumul dengan kepadatan dan rasa lapar, atau kesepian karena kehilangan anggota keluarga mereka. Orang-orang yang mereka kasihi, seolah menjadi rutinitas dan makanan sehari-hari.
Dan begitu kulirik pemuda di sebelahku. Dengan rambut pirang platina serta wajah runcingnya. Wajahnya tas sekeras dulu, dan iris kelabunya meneduh. Aku tak yakin mengapa, dan aku tak ingin tahu mengapa. Tapi, ada sedikit rasa bersalah telah mengungkit tentang pelahap maut kemarin.
Dan keheningan ini pecah ketika rombongan itu datang. Dan sebuah suara memuakkan menyapaku dengan teramat lembut. Senyum memuakkan yang dibuat untuk menyogokku. Kutendang kau dengan hina, Umbridge!
"Senang melihat anda disini, Nona Millow! Kudengar anda pingsan beberapa hari setelah kebakaran ini," ucap Umbridge lengkap dengan cekikikan memuakkan miliknya.
"Aku yang tak cukup senang melihat kalian disini," desisku. "Bagaimana Shier bisa seperti ini?" tanyaku.
"Semua ini karena penduduk Shier sulit dipindahkan walau pun kami telah membayar mereka dengan harga tinggi."
"Begitu?" alisku bertaut. Aku bersumpah mereka tak mengucurkan se-sen pun. Namun sekali lagi, aku hanya mendapatkan cekikikan setan.
"Pemukiman ini kini siap ditata ulang. Kita bahkan tak perlu lagi mengusir para penduduk miskin itu, bukan?"
"Kau gila!" aku berteriak sekarang. "Lihat!" tunjukku pada penduduk Shier yang lebih tampak seperti gelandangan. "Kau pikir mereka binatang?"
"Ta..tapi nona Millow, bukankah anda sendiri yang menginginkan daerah ini dibangun pemukiman elite? Tentu keuntungan kita akan jauh lebih banyak dibanding membangun ulang pemukan Shier yang miskin. Mereka tak akan pernah bisa melunasi biaya rumah!" ucap Umbridge nampak kebingungan.
"Aku tak peduli, aku ubah proyek ini mulai dari sekarang!" aku mengultimatum.
"Nona Millow, anda tak bisa seenakya mengubah kesepakatan," Umbridge kini menunjukkan kearoganannya.
"Aku dan Draco pemegang saham tertinggi!" balasku tak mau kalah. "Buatkan gelandangan itu rumah, atau kutarik seluruh uang yang telah aku salurkan!"
Darahku mendidih dan emosiku telah mencapai ambang batasnya. Tak mau terlalu berlarut-larut dalam pembicaraan memuakkan ini, aku segera berbalik dan pergi menjauh. Berjalan kemana pun asalkan berada sejauh mungkin dari kumpulan orang-orang mengerikan itu.
Baiklah, nampaknya peranku menjadi Harmony cukup sukses. Tak ada yang curiga sepertinya. Ah ya, jadi beginilah seorang Harmony Millow. Memasang wajah angkuh di depan kementerian untuk menunjukkan siapa yang sesungguhnya berkuasa. Aku mulai menyukai peran ini.
…
…
Aroma latte menyeruak dari dapur ketika cerek-cerek besar itu dibuka dan akhirnya udara panas penuh uap air mengepul. Mengisi atmosfer di kedai kecil ini. Aku lambaikan tanganku ke arah seorang pelayan yang lewat tak jauh dari tempatku kini untuk memesan latte dan beberapa potong sandwich. Dan tak perlu menunggu lama, pesananku hadir bersama setoples macaroon lucu nan imut-imut.
"Terima kasih!" ucapku dengan senyuman kepada wanita tua yang mengantar pesananku. Ia tak segera pergi, namun memperhatikanku dengan seksama. Matanya nampak berkaca-kaca, kemudian ia menepuk bahuku beberapa kali. "Ada apa?" tanyaku agak cemas. Kugenggam tangan wanita itu, namun ia mengisyaratkan tangannya di depan mulutnya. Ia tak bisa bicara.
Beberapa kali ia seperti berusaha menerangkan sesuatu namun aku tak cukup mengerti. Dan menit-menit setelahnya, ia pergi cepat-cepat keluar dari kedai ini.
Aku menikmati latte panas yang masih mengepul seraya melempar pandang ke luar jendela. Menyapu pemandangan menyejukkan sekaligus memperihatinkan. Ketika puing-puing bekas itu menjadi sandaran dari rumah-rumah kardus dan terpal-terpal yang dipasang seadanya untuk menjadi rumah darurat penduduk. Miris melihatnya, padahal musim salju yang cantik telah bergulir. Sayang bagi penduduk Shier, musim salju ini hanyalah mesin pembunuh yang tak kalah sadis dibanding kementerian melihat situasi mereka saat ini.
Tak ada tempat tinggal. Tak ada cukup makanan. Tak ada cukup penghangat.
Hujan turun perlahan bersama butiran salju. Begitu menyejukkan memandangannya, dan segera saja pikiranku melambung jauh entah kemana. Memikirkan seluruh hari yang baru saja kumulai sebagai penggati. Entah bagaimana nantinya aku tak tahu. Aku ingin mengurut satu persatu permasalahan seperti proyek Shier, pertunangan dengan Draco, hubungan rahasia dengan Austin, dan masih banyak lagi hal-hal rahasia yang kurasa cepat atau lambat akan menghajarku segera.
Lamunanku pecah begitu seseorang terasa menepuk-nepuk bahuku. Aku cepat menoleh. Wanita tua tadi kembali dan kini menyodorkan sebuah buku sedang dengan sampul kulit. Seperti sebuah jurnal. Aku cepat-cepat menerimanya, karena ia kemudian mengambil kertas dan pulpen di atas meja. Mencoret-coret isinya dengan tulisan.
Punyamu
"Punyaku?" tunjukku pada diriku sendiri. Ia mengangguk, kemudian menulis lagi.
Kau tinggalkan disini saat kebakaran.
Aku memperhatikannya. Jadi, jurnal ini milik Harmony?
"Terima kasih," ucapku segera. Wanita tua itu tersenyum kemudian pergi menghilang di antara kerumunan.
Aku menyentuh lapisan kulit pada sampul buku. Agak berdebu namun terasa lembut. Kubuka perlahan kuncinya dan terpampanglah judul pertama. Penolakan Proyek Shier
"Oh!" kukatup mulutku segera. Aku mengingat kembali obrolanku dengan Austin beberapa hari yang lalu bahwa hanya Harmony lah yang mengetahui bagaimana rencana penolakan tersebut.
Kubaca halaman demi halaman dengan tulisan rapi yang diberi banyak catatan kaki dan coretan pembenaran. Setiap halaman menuliska detail dari permasalahan. Harmony sudah mengantisipasinya, dan kesimpulan dari proyek Shier yang ia setujui adalah memang mengelabuhi kementerian sihir Inggris. Ia tahu Umbridge dan bawahannya tak akan tertarik dengan proyek membangun perumahan layak untuk warga Shier yang miskin, jadi Harmony mengatur siasat dengan memberikan proyek pembangunan perumahan elite yang tentu saja mendatangkan banyak keuntungan. Karena bagaimana pun Shier berada di wilayah Inggris.
Dan pada saatnya dimana Harmony lah yang menjadi pemegang saham tertinggi, ia bisa dengan sukahati mengubah dan menata ulang proyek tersebut. Kembali pada rencana awalnya. Hanya satu hal yang belum ia lakukan adalah menggabungkan saham keluarga Malfoy.
"Aku mulai menyukai kembaranku," gumamku pada diri sendiri. Tapi, bagaimana agar Draco mau menyetujui pemikiran tunangannya? Apa Maalfoy akan dengan senang hati menerima kerugian dengan pembangunan proyek pemukiman biasa yang awalnya akan dibuat pemukiman mewah?
Dan sesuatu menarik perhatianku begitu kubuka halaman terakhir bagian proyek ini. Ada catatan kaki yang sepertinya sengaja ditebalkan dan diberi kotak.
Semoga cerminanku bisa melanjutkannya
Mataku menyipit memperhatikan. Cerminan? Apa maksudnya kembaran? Apa itu aku? Ia tahu aku akan akan terlibat dengan masalahnya?
"Selesai dengan marahmu, Harmony?"
Aku terkejut. Kututup cepat jurnal tersebut begitu mendengar suaranya.
"Apa yang kau lakukan, hah?" tanyaku sinis. Pemuda pirang itu mengamati wajahku dengan seksama.
"Hanya mencari tunanganku. Aku takut ia selingkuh lagi," balasnya ringan.
Aku berusaha keras untuk tidak menampar pipi pucatnya. Kumasukkan cepat-cepat jurnal Harmony ke dalam tas, aku tak mau ferret sialan ini menemukannya. Sementara aku sibuk dengan jurnal ini, pemuda pirang itu mempermainkan bunga lili di atas meja.
Baiklah, kuperhatikan sejenak raut wajahnya hari ini benar-benar berbeda dengan beberapa hari lalu. Aku masih ingat benar ketika ia mengeras dan mencengkram bahuku. Memastikan dan memaksa, seolah aku adalah barang pribadi miliknya. Tapi hari ini, sorot mata tajamnya melunak dan aku bahkan hampir bisa melihat letupan kebahagiaan. Astaga, sepertinya ia baru saja membunuh orang. Bulu kudukku berdiri.
"Kau masih marah pada mereka?" tanya pemuda itu lagi tanpa melihat ke arahku. Aku menoleh padanya. "Bukan urusanmu." Dan detik-detik berikutnya kami lalui dengan sepi.
Bunyi riak hujan berdebam terdengar hingga ke dalam kedai. Dan segera saja kedai ini dipenuhi pelanggan dadakan yang sekedar menumpang untuk berteduh. Orang-orang yang memadati tempat ini adalah penduduk Shier yang kini menjadi gelandangan dan tuna wisma.
Kuperhatikan masing-masing wajah mereka. Para orang tua yang berusaha menenangkan anak-anak mereka yang ketakutan. Atau mungkin kelaparan. Aku tak tahu mana bedanya, juga banyak orang dengan wajah kebingungan. Derita ini seakan berpilin dan menggembung menjadi balon karet raksasa di ruangan ini. Menyesakkan.
Kuberikan seluruh sandwich dan macaroon milikku pada beberapa anak kecil karena tak tega melihat tatapan lapar mereka, yang seakan ketakutan untuk meminta padaku. Apakah dandanan aristokrat ala Harmony ini menakuti mereka? Sepertinya ya. Karena dengan tampilan seperti ini, secara nyata aku menciptakan jurang pemisah berjudul kelas sosial di antara kami.
"Kemari, aku punya sandwich. Ini yang terakhir," ucapku lengkap dengan senyuman ramah pada gadis kecil yang sedari tadi sembunyi di balik rok payung ibunya seraya memperhatikanku.
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya, sang ibu yang rupanya baru menyadari segera berbalik menoleh menatapku. Alis matanya bertaut seolah mengingat saat ia memperhatikanku dengan seksama. Dan detik berikutnya, ia menutup mulutnya karena hampir berteriak.
"Oh, astaga! Aku tak percaya kau disini. Aku sangat berterima kasih. Sungguh sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan Rose dari kebakaran mengerikan itu," ucapnya panjang lebar seraya terus menyalamiku. Matanya berkaca-kaca menatapku, yang membuatku makin tak mengerti. Namun aku berusaha senormal mungkin, terlebih ketika aku menoleh pada Draco yang sama-sama tampak kebingungan.
Astaga, gadis kecil yang tengah mengunyah sandwich di hadapanku ini diselamatkan oleh Harmony? Ia benar-benar ada di Shier. Untuk apa? Menyelamatkan penduduk ini karena ia tahu kedatanganku akan mendatangkan kutukan api naga?
"Kulihat kau berusaha menerobos api lagi. Kukira kau tak selamat, karena aku tak melihatmu keluar setelahnya. Syukurlah kau selamat!"
Selamat?
Rasa panas menguasai mataku, dan keremaangan mendadak muncul ketika tumpukkan liquid bening itu menerobos keluar. Aku tersenyum miris seraya mengelus rambut gadis kecil itu. Matanya berbinar menatapku.
"Kakak pahlawanku. Aku ingin seperti kakak jika sudah besar, menjadi wanita pemberani," ucap gadis itu polos.
Kusapu aliran air mata bodoh ini. Gadis ini benar, Harmony berusaha menyelamatkan nyawa penduduk Shier. Namun sayangnya kematian meminta pengganti. Dan jiwanya lah yang ditarik paksa untuk dicumbu maut bersama jiwa-jiwa tak berdosa lainnya.
"Bermalam lah di rumah kami. Ah, ya. Rumah kami tak terlalu bagus, namun masih bisa dijadikan tempat berteduh," ucap sang ibu meminta. Ia menyalami tanganku, dan aku tak tahu bagaimana cara menolak permintaannya. Akhirnya aku mengangguk seraya tersenyum simpul.
Aku memperhatikan mereka berdesakan pergi begitu hujan telah reda. Dan kini bagian Draco yang baru kusadari memperhatikanku sejak tadi.
"Apa?" semburku sinis.
"Aku baru tahu kau begitu bodoh untuk masuk ke dalam api. Apa yang kau harapkan, eh? Kekuatan super? Bisa menyemprotkan air dari jemarimu?" ejek Draco santai.
"Aku anggap ejekanmu sebagai pujian," balasku segera.
"Sepertinya kau punya mantra yang cukup bagus untuk menghentikan kebakaran besar itu? Kudengar desas desus kebakaran itu berasal dari kutukan api naga," bisik Draco menggodaku.
Aku mendengus keras kemudian bangkit. Suara kursi kayu berdecit keras begitu kakiku mendorong paksa kursi itu menjauh. Cukup. Aku tak mau bertengkar dengan ferret itu disini.
0o0o0
00
Suara letupan api samar terdengar dari tungku pembakaran. Sesuatu yang membantu kami tetap hangat di udara menyesakkan ini. Gemuruh angin malam sesekali terdengar, membuat lamunanku pecah, kemudian kembali berkutat pada jurnal dengan cover kulit yang sedari tadi kupegang.
Aku hampir tak percaya dengan tiap lembar yang kubaca, karena semakin jauh maka semakin membuatku terperanjat. Aku mulai bisa memahami bagaimana jalan pikiran seorang Harmony Millow. Ia memang seorang yang tertutup dan penuh rahasia. Ia bahkan mengetahui dengan baik berbagai macam sihir hitam. Kurasa, ia pun menguasainya.
Persis seperti jurnal milik Harmony yang kutinggalkan di Paris. Jurnal ini berisi banyak hal yang menurutku berkaitan dengan magis hitam kami. Kubuka-buka kembali seraya meneliti tiap jengkal tulisan. Waktu berlalu dan analisisku belum terpuaskan hingga aku menemukan catatan yang terpisah dari jurnal. Secarik kertas lusuh yang dipenuhi tabel. Aku menyipitkan mataku. Cahaya disini terlalu remang, sehingga aku bangkit dan berjalan menuju perapian.
"Jadwal Harmony?" gumamku pelan membaca catatan itu.
Aku memperhatikannya. Beberapa kolom tabel berisi waktu, aktifitas, dan keterangan tambahan. Kolom-kolom tersebut diisi dengan tulisan tangan. Banyak bagian yang dicoret dan dibenahi. Hazelku menyusuri tiap baris berikut keterangannya.
Ini seperti kronologi kedatangan Harmony ke Shier.
19.32. Kedatangan di Shier.
Aku menerawang pada hari itu. Ya, malam itu sekitar jam yang tertera di kertas ini. Saat itu jika aku tak salah mengingat, aku baru mendengar perihal pengusiran paksa Shier. Dan hal tersebut membuatku memaksakan diri untuk kesana. Tak perlu waktu lama, aku berapparate, itu berarti, aku dan kembaranku ada di satu wilayah berdekatan di waktu yang sama.
20.14. Kebakaran terjadi.
"Dia menulisnya?" ucapku tak percaya. Astaga, sempat sekali aristokrat ini menuliskan kebakaran.
Pukul delapan lewat lima belas. Aku melihat api berkobar terang dengan warna latar langit malam. Sungguh kontras apalagi diselimuti jeritan dan tangisan minta tolong. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menyaksikan diorama bisu bagaimana api berkobar terang dengan latar malam. Namun gadis itu berbuat sesuatu dengan menolong orang-orang. Walau dirinya tak tertolong.
Astaga, betapa dekatnya aku dengan kematiannya saat itu.
"Jelas, kutukan api naga dari magis hitam kami yang memancingnya. Aku yakin sekarang," gumamku tak jelas.
Kulipat segera kertas itu kemudian memburu jurnal Harmony. Membuka-buka lembarannya dengan gusar. Aku pernah membaca tentang kutukan api naga dan sihir pemecahnya di jurnal Harmony yang kutinggalkan di Paris. Mungkin perihal itu ia tulis juga di jurnal ini.
GT. Jampi transfigurasi.
Tulisan ini muncul kembali. Apa ini?
Mataku menyipit dan otakku berpikir keras. Berusaha menemukan potongan teka-teki yang belum menemukan pencerahan. Aku masih dalam gulita, dan beberapa hal yang kuketahui sampai saat ini hanyalah sependar cahaya kecil. Tak jelas.
Kutukan api naga dan pemecahnya.
Sebuah kutukan yang berasal dari magis hitam. Persis seperti kutukan api naga pada umumnya, hanya saja tak bisa dipecahkan jika bersatu dengan magis hitam. Biasanya terjadi karena bersatunya dua hal atau lebih yang menimbulkan 'percikan bunga api'. Beberapa contoh kasus adalah ada dua unsur alam besar yang berdekatan, kelahiran penyihir besar, serta kelahiran pada kasus kembar dengan elemen bertentangan.
"Apa ini?" tanyaku makin bingung.
Pemecahan dua jiwa. Namun sebaik apa pun mereka mencoba memisahkan kami, pada akhirnya waktu akan mempertemukan kami. Aku akan menemuimu, Hermione.
Kubaca dengan teliti catatan kaki dengan tulisan tangan tersebut. Harmony pasti menulisnya. Tapi sekali lagi, sebelum ia sempat melaksanakan apa yang ia rencanakan, kematian telah lebih dulu merenggutnya.
Astaga, ia tahu persis bahaya yang akan muncul dengan kedekatan kami, tapi mengapa ia masih saja berkeras?
Aku menghela napas panjang kemudian terdiam. Menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku benar-benar butuh bantuan. Aku butuh seseorang yang dapat aku tanyai. Bahkan aku berpikir, aku butuh Harmony Millow.
Kututup jurnal ini, kemudian melemparnya asal ke atas kasur. Kuhempaskan diriku ke atas kasur yang dingin. Membiarkan udara malam meyelubungiku dengan gelisah yang tak berkesudahan.
Kututup mataku perlahan. Berupaya agar malam menculikku dalam mimpi panjang. Tapi, semakin kukatup kedua mataku keras, semakin aku terjaga. Otakku tak mau berhenti memproses seluruh analisis ini. Betapa kebakaran di Shier beberapa minggu yang lalu nyatanya menjadi awal bagi kehidupanku yang semakin rumit.
Akhirnya kubuka mataku kembali setelah berusaha melewati menit hingga jam yang terasa melelahkan. Kulirik sekilas jam dinding, pukul dua dini hari. Dan aku belum sempat tidur. Setelah bergumul dengan gelisah dan berguling-guling tak karuan, kuputuskan untuk bangkit.
Aku berjalan di atas lantai kayu yang terasa menusuk karena udara dingin telah menyusup ke dalam celah-celah. Kemudian membuka pintu kamar dan segera berjalan melewati lorong di rumah ini. Keluarga yang memiliki rumah ini merasa berhutang budi pada adikku, dan sekarang aku yang menerima ucapan terima kasih. Belum lagi si gadis kecil yang sangat mengidolakan seseorang yang aku gantikan tempatnya. Keluarga ini sudah tertidur lelap pasti.
Aku mendesah perlahan kemudian menarik knop pintu depan. Mungkin sedikit udara malam dapat membuat kantukku lebih berat lagi. Segera saja wajahku tersapu angin dingin dengan butiran salju begitu daun pintu terbuka. Aku keluar dan berjalan di atas teras kayu. Berjalan pelan menuju beranda depan.
Aku berjalan terus hingga akhirnya berbelok dan menemukan sesuatu.
"Tak bisa tidur?" tanya sorot kelabu itu begitu melihatku.
Aku mengangguk, kemudian berdiri di sebelahnya. Menahan tubuhku dengan bersandar pada tiang. Kulemparkan pandang pada warna langit yang kelam degan taburan bintang yang membentuk gugusan cemerlang. Kuperhatikan seksama pemandangan yang jarang kudapatkan ini.
"Bekas kecelakaanmu membuatmu insomnia?" tanya suara itu lagi. Tanpa melihatku. Aku agak terperanjat, berpikir harus menjawab apa.
"Kadang. Tapi, tidak selalu," balasku.
"Sejak kecelakaan itu, kau tampak lebih banyak bicara, Mony."
"Siapa?" tanyaku bodoh, dan segera saja aku menyadari Mony adalah panggilan adikku. Aku tertawa kecil.
"Kau!" ucap pemuda itu.
"Bukankah itu bagus untukmu, Malfoy!"
"Kau tak pernah memanggil nama keluargaku. Apakah sekarang terdengar enak?" tanyanya kini menoleh padaku. Mengintimidasi hazelku. Ya, kesalahan karena tak bisa menjadi Harmony yang sempurna. Ayolah, bukan salahku jika aku tak tahu apa kebiasaannya. Aku dan gadis itu sudah terpisah sejak kecil, bahkan semua memori kebersamaan kami telah dihapus dengan obliviate sialan itu.
"Terdengar nyaring di telinga. Bukankah kau biasa memanggil orang-orang dengan nama keluarga mereka?" tanyaku sarkastik.
"Tapi tidak denganmu," balasnya tenang. Ayolah Draco, jangan menjadi melow drama begitu. Dimana pemuda sangar yang mencengkram bahuku hingga lebam seperti beberapa hari lalu?
"Kenapa? Aku bisa tahu alasannya?" tanyaku.
"Kau tunanganku. Kau lupa? Apa gegar otak sialan itu menghapus ingatanmu tentang pertunangan kita juga?" tanyanya mengejek.
"Ayolah Malfoy, sejak kapan kau menginginkan aku?" tanyaku sinis.
"Sejak lama."
"Lalu kenapa kau membiarkan hubunganku dengan Austin?" tanyaku mendadak teringat semua yang dibeberkan sekertaris Harmony. Aku tertawa mengejek karena kini kelabu tajam itu menyorot tepat pada hazel milikku.
"Semuanya menjadi rumit setelah," ia terhenti sejenak. "Kuberitahu kau pada waktunya," jawabnya kini memalingkan wajah.
Aku mendengus pelan. Betapa bodohnya memikirkaan aku bisa bicara santai dengan orang yang sejak dulu menginjakku. Kemudian tertawa getir mengingat dan kembali pada realita bahwa ia mungkin berpikir bahwa gadis yang ia ajak bicara saat ini adalah Mony cantik miliknya. Sang aristokrat yang sangat ahli sihir hitam. Wanita yang tertutup dan penuh rahasia. Bahkan aku masih kesulitan mengerti jalan pikirannya sampai sekarang.
Pikiranku pecah begitu saja saat kurasakan hangat di bahuku. Dan begitu kulihat ia menyampirkan mantelnya di tubuhku, aku tak bisa bersuara.
"Kau menggigil," ucapnya.
Mataku menyipit. Dan segera saja aku berpikir bahwa mungkin pemuda ini memang menyayangi kembaranku. Baiklah, kurasa aku mulai bisa berdamai dengan seorang Draco Malfoy.
"Malam ini ada hujan meteor aquarids di rasi aquarius," ucapnya tanpa melihatku. Aku menoleh heran ke arahnya dengan tatapan bingung. "Nilai astronomimu pasti jelek," ejeknya.
Aku mendengus pelan kemudian menyapu langit malam ke arah gugusan bintang yang ditunjuknya. Baiklah, mataku perlu beradaptasi dengan gelap hingga akhirnya aku bisa melihat titik-titik kecil melesat membentuk ekor kemudian menghilang.
"Ingin meminta saat bintang jatuh?" tanyanya ringan.
"Kau percaya mitos muggle itu?" ejekku seraya menoleh ke arahnya.
"Tak ada salahnya mencoba."
Dan saat itu aku bersumpah melihat senyuman seorang Malfoy yang teramat langka.
0o0o0
00
Kurapikan sesekali blazerku untuk mengatasi kegugupan ketika aku masih berusaha menahan keangkuhan dan ego untuk memenangkan permainan ini. Sementara Umbridge sibuk menghitung kalkulasi dan segala kemungkinannya bersama jajaran staff kementerian sihir Inggris. Kami masih saling kuat akan keinginan masing-masing, walau pun sebenarnya akulah yang paling berwenang dalam mengambil keputusan. Perlu aku ingatkan berulang kali bahwa akulah pemegang saham tertinggi di proyek ini.
Ada raut kesal sekaligus marah bercampur dengan rasa takut jika aku menarik seluruh sahamku dari proyek ini. Yang berarti Shier hanya akan menjadi lahan kosong sampai entah jutawan mana lagi yang akan membelinya. Aku sangat yakin mereka, kolegaku pasti menyesal karena telah menjalin kerja sama dengan keluarga Millow.
Singkat kata, waktu terus mengulur perlahan. Umbridge nampak menyerah. Raut kegelisahan melingkupi wajahnya saat wanita paruh baya mengerikan itu berjalan mendekatiku. Sebuah senyuman memuakkan ditambah cekikikan setan tertangkap gendang telingaku. "Baiklah, kami ikuti mau anda, Nona Millow," ucapnya tersenyum. "Sudah seharusnya," balasku santai.
Aku menghela napas panjang merasakan udara penghujung musim gugur menarikku ke dalam perasaan nyaman. Ada perasaan lega mengetahui bahwa salah satu masalah cukup besar telah berhasil di selesaikan. Tinggal meyakinkan Draco untuk menggabungkan sahamnya dengan keluarga Millow. Setidaknya, arwah kembaranku mungkin bisa tenang dan tidak mencekikku. Aku terkekeh pelan memikirkannya.
"Aquarids mulai muncul. Kau mau bermalam di rumah orang yang kau tolong lagi?" tanya pemuda pirang itu dari arah belakang. Mataku segera beralih ke arah legam langit malam dengan gugusan bintang cemerlang. Ya, dimana aku akan bermalam? Apa aku perlu kembali ke Paris saat ini juga?
"Kita ke Paris?" tanya pemuda itu.
"Sekarang? Apa tidak terlalu jauh?" tanyaku bingung. Draco menghembuskan napas keras. "Kau mau naik pesawat, Mony? lakukanlah jika kau muggle!"
Dan detik berikutnya, pemuda itu memegang tanganku. Kami berdispparate.
…
…
TBC
Keep review guys!
