Terima kasih untuk semua review, apresiasinya. Semoga chap ini tak mengecewakan. Enjoy. ^_^

Harry Potter © JK Rowling

Hurt/Comfort, Mysteri

Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll

Draco – Hermione – Harmony (OC)

Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju

Seri multychapter dari Replace

Hope you like it. Enjoy.

The Soul © Diloxy

CHAPTER 4

Seine yang tenang. Aku perhatikan pantulanku yang mengabur di permukaannya. Sesekali riak gelombang memecahkannya ketika beberapa perahu maupun gondola melintas. Tubuhku bersandar pada batas jembatan, dan tanganku memegang erat besi panjang yang dipasang di atasnya. Jembatan ini adalah satu dari ratusan jembatan yang dibangun di atas sungai seine yang mengular membelah Paris. Dan beruntungnya kini aku bisa berdiri tak jauh dari maha karya dunia.

Aku menoleh ke kanan memperhatikan menara Eiffel yang menjulang megah. Kemudian dari arah itu juga tampak seorang pemuda jangkung dengan rambut berkibar diterpa angin musim dingin. Mantel berat yang ia kenakan seolah menelan tubuhnya. Tapi sesuatu lebih tak lazim di tangannya kini. Ia menyodorkannya padaku.

"Sungguh? Es krim? Di cuaca cerah begini?" tanyaku dengan majas ironi. Jelas sekali butiran salju turun seperti gerimis. Belum lagi nimbus besar memayungi kota cantik tempat kami berada.

"Untuk kencan kita," balasnya ringan kemudian menjilati es krim miliknya.

"Aku kira kita akan membicarakan perihal saham keluarga Malfoy," ucapku bingung.

"Jadi kau tidak suka berkencan dengan pewaris Malfoy? Nona muda, perlu kuingatkan bahwa kencan ini mungkin bisa mempermulus jalanmu untuk setidaknya membuatku menyetujui penggabungan saham milikku."

Astaga demi celana Merlin yang kebesaran. Sejak kapan ferret ini senang bergurau? Ia masih terus menghabiskan es krim miliknya, sementara aku hanya menatap ngilu milikku. Kualihkan pandang kembali ke seine yang tenang dengan riak gelombang.

Butiran salju turun seperti gerimis yang lebih besar kemudian berubah menjadi tetesan embun dan air. Beberapa orang berlindung, tapi kebanyakan masih asyik di tempat mereka masing-masing.

"Jadi, apa kau mau menggabungkan saham di proyek shier?" tanyaku agak ragu. Ia mengangguk pelan, belum beralih dari kegiatan memandangi eiffel. "Kalau perlu akan aku gabungkan Malfoy dengan Millow corp jika kita menikah."

Aku tersentak dengan kalimatnya. Ia menoleh agak terkejut ketika dengan bodohnya aku batuk-batuk karena kaget. Astaga, aku bahkan hampir lupa kemana hubungan absurd ini akan bermuara. Bukankah mereka mengira aku Harmony Millow.

"Kau benar mau menikah, ergg dengan seorang Harmony?" tanyaku menyidik.

"Ya," jawabnya ringan. "Denganmu," lanjutnya.

"Apa kau tahu banyak tentangku?" tanyaku. Aku mengingat kembali isi kamar Harmony, terlebih lagi isi lemari kayu besar dengan kumpulan buku-buku tua berdebu dengan isi super aneh. Banyak coretaan-coretan dan sobekan-sobekan perkamen. Dari sekian banyak catatan, aku hanya menemukan satu lembar sketsa wajah Draco Malfoy.

"Bisa kau jelaskan bagaimana kau merestui hubunganku dengan Austin dulu?" tanyaku ketika tiba-tiba memori hari pertama di kantor berkelebat. Ketika si pemuda dengan iris hijau mencium pipiku.

"Oh, anggap saja dulu berbeda. Anggap saja sekarang aku baru sadar bahwa aku begitu menginginkanmu," ucapnya mencibir.

"Astaga, Malfoy! Tak perlu melow drama begitu," balasku gerah. Aku berjalan pergi meninggalkannya ketika alarm di perutku berbunyi.

"Kau mau kemana?" tanyanya segera.

"Aku lapar. Kau mau ikut mencari makan?" tanyaku tanpa menoleh. Segera saja si pemuda pirang itu berlari kecil mengejarku. Menyejajari langkahku.

Harus aku akui musim dingin di Paris ini begitu cantik. Senada dengan keanggunan kota tempatku berada. Ketika butiran salju tersebut mengumpul dan jatuh bertumpuk. Atau menguar di udara terbuka. Ketika kristalnya menyatu dengan bulir udara beku. Menenangkan. Dengan wangi khas musim dingin yang merebahkan alam. Menidurkan pepohonan. Meyisakan batang dan ranting kokoh tak berpenghuni.

Ada sedikit harapan dan kebahagiaan ketika memainkan peran ini, di samping segala masalah yang ada. Aku mulai mengerti sebagian kecil dari diri adikku. Aku mulai lega ketika akhirnya seseorang yang berjalan di sebelahku tak lagi menganggap adikku musuh, bahkan astaga, ia ingin menikahinya.

Ya, manis memang. Tapi hal besar yang coba aku tutupi adalah kenyataan besar bahwa aku seorang Hermione Granger. Aku tak bisa bayangkan jika akhirnya Malfoy tahu. Apa ia akan mengirimku ke tempat adikku saat ini? Aku tertawa getir memikirkannya. Baiklah, setidaknya kemampuan sihirku masih sangat baik untuk mempertahankan diri.

Kami berjalan di sepanjang jalan menuju barisan pertokoan dan restoran-restoran mewah. Pendar tipis cahaya remang dari lampu yang dinyalakan dengan tujuan memberikan kesan klasik. Aku menunggu Draco yang memilih restoran mana yang akan kami datangi.

Kami masih berjalan, dan aku mulai menggigil di tengah udara ini. Kurapatkan mantel buluku. Sesekali pemuda di sebelahku menoleh padaku. Tak lama, ia menarikku ke dalam sebuah restoran.

Bunyi bel pintu berkelontang ketika kami masuk. Dan aku bisa melihat keadaan di dalamnya. Suasana lembut dan hangat menguar dari atmosfernya. Seorang pelayan menuntun kami pada sebuah meja yang masih kosong. Aku dan Draco duduk disana. Setelah melepas mantel kami berdua, ia menepuk-nepuk kepalaku sebentar.

"Ada apa?" tanyaku terkejut.

"Serpihan salju, Nona Millow," jawabnya. Aku bisa merasakan hangat dari uap air yang ia hembuskan. Sepintas, napasnya menenangkan. Aku menarik napas dalam untuk mengembalikan diriku dari lamunan.

Sebelum pelayan datang, kami telah melihat-lihat daftar menu dan memilih-milih. Setelah sesuai, pelayan pun datang menghampiri kami. Ia tersenyum sangat ramah, terutama padaku. Ketika aku menunjukkan apa yang aku pesan, ia agak terkejut.

"Aku pikir anda akan memesan green tea seperti kemarin," ucapnya masih dengan senyuman.

"Kemarin?" tanyaku mengulang. Ia hanya mengangguk.

Draco menoleh padaku, dan aku berusaha menutupi kebingunganku. "Ehm, baiklah. Aku ganti minumannya dengan green tea. Agar tetap langsing," ucapku dengan tawa bodoh. Tapi Draco mengamatiku karena memang apa yang dikatakan pelayan tadi ganjil.

"Bisa kau jelaskan apa yang nona ini pesan, kemarin?" tanya Draco pada si pelayan.

"Banyak cangkir green tea," jawab si pelayan pada Draco, kemudian beralih padaku. "Anda terlihat tergesa-gesa."

Draco pun diam. Si pelayan kembali ke dapur untuk mengambil pesanan kami. Sementara aku masih dengan wajah kebingungan yang sulit disembunyikan, berusaha untuk tetap tenang. Walau sesekali aku perlu menghindar dari sorot kelabu tajam yang seperti meminta penjelasan.

"Bukankah seharian kemarin kau di Shier bersamaku, Mony!"

Akhirnya si pirang buka suara. Aku mengangguk. Lebih baik jujur saja sekarang karena memang aku pun tak tahu.

"Kau memiliki time turner?" tanya pemuda itu lagi. Aku menggeleng cepat. "Kau pikir aku berbohong?" tanyaku sinis. Padahal, ya selama ini aku memang berbohong.

"Mungkin pelayan itu salah orang," gumam Draco seraya melambaikan tangan pada udara kosong. Mengenyahkan situasi.

"Kau pernah melihat seseorang yang mirip denganku?" tanyaku ingin tahu bagaimana reaksinya jika kuingatkan dirinya pada sosok darah lumpur. Pemuda itu hanya mengangguk. "Dimana?" tanyaku segera.

"Hogwarts."

Ah ya, tepat sekali. Aku hampir tak habis pikir bagaimana bisa dia bertunangan dengan seseorang yang mirip dengan darah lumpur kotor dari sekolahnya.

"Bagaimana dia? Apa mirip denganku?" tanyaku.

"Tidak terlalu."

Demi Merlin, apa penyamaranku ini terlalu hebat? Apa seorang Draco Malfoy telah berubah? Aku tertawa mencemoohnya. Tapi ia dengan santai menyantap pesanan yang baru saja datang.

Aku hanya mengacak makananku, seakan nafsu makan ditarik drastis karena pikiranku masih tertuju pada pernyataan pelayan tadi. Salah satu kemungkinan yang paling mungkin adalah time turner. Tapi aku yakin, aku telah menyerahkannya pada . Atau, diriku di masa depan memintanya kembali kemudian menggunakannya? Tapi untuk apa?

Green tea

Untuk apa memesan green tea?

Kututup mataku perlahan. Sejenak berkelebat isi dari jurnal Harmony di manor. Green Tea, GT? Sebuah daun menjari yang tak terlalu besar. Apa sketsa yang digambar Harmony itu adalah daun green tea?

"Kau pernah dengar jampi transfigurasi menggunakan green tea, Draco?" tanyaku meluncur begitu saja.

"Sepertinya iya," ia tampak mengingat. "Mirip polyjus. Hanya saja lebih lama. Tapi itu sihir hitam."

"Sihir hitam?" tanyaku.

"Kau bisa mengubah sesuatu dalam waktu hampir satu minggu. Berbeda dengan polyjus yang hanya tahan beberapa jam."

Draco menutup perbincangan kami. Sementara ia masih setia dengan makan siangnya, pikiranku terus berkutat dengan semua kemungkinan. Mengapa dan bagaimana. Siapa yang kemarin datang ke restoran ini memesan banyak green tea? Apakah itu untuk jampi transfigurasi? Apakah itu aku dimasa depan dengan time turner? Atau tanpa time turner yang berarti tak ada perjalanan melintas waktu. Apa itu berarti ada seseorang yang mirip denganku kemari? Atau memang akulah yang melintasi waktu? Atau?

"Hey, cepat habiskan makan siangmu, Mony!" suruh Draco tiba-tiba. Aku tersadar dari lamunanku, dan segera saja menuruti ucapannya.

Ketika lamunan tentang kemungkinan time turner itu pecah, perhatianku teralihkan pada gambaran keadaan di luar. Saat hujan yang lebih besar berjatuhan di atas jalan-jalan kota dan paving block. Kristal salju luruh bersamanya. Menjalari dingin di kaca-kaca berembun. Menjalari dingin yang bertemu suasana absurd yang beberapa waktu ini terjadi.

Kualikan perhatian, kini hazelku sesekali mengamati kelabu teduh di hadapanku. Seorang pemuda yang berbeda dari yang kukenal dulu saat di Hogwarts. Apa ia memang telah berubah, atau ini memang sifat aslinya?

Tapi tunggu, ketika aku mengingat hari-hari saat pertama aku mulai bermain peran menjadi Harmony Millow, yang aku dapat adalah perlakuan dingin dan bengis. Tak ada belas kasihan. Apa itu berarti saat dulu, hubungan dingin terjadi di antara mereka? Lantas semenjak proyek Shier itu ketika kami dekat, mengapa ia melunak? Apa yang membuatnya hangat? Dan, bagaimana dengan Austin? Karena sebenarnya aku kasihan padanya.

Aku menggeleng cepat berusaha mengusir lamunan bodoh tak berkesudahan. Dan ketika terhenti dari keanehan, aku mendapati sepasang kelabu memperhatikan.

"Apa?" tanyaku sarkastik.

"Apa yang kau pikirkan? Sepertinya kau kebingungan?" tanya pemuda itu. Aku hanya mengedikkan bahu kemudian menyeruput green tea yang sudah dingin. Sial.

Waktu berganti berangsur lambat ketika raut langit telah memudar. Sapuan jingga keemasan mewarnai prosesi matahari diinjak cakrawala. Kami keluar dari restoran tersebut kemudian berapparate ke manorku.

Malam sudah menyelubungi bumi ketika kami tiba di manorku. Udara dingin beku seperti berusaha mencekikku. Aku berlari untuk segera tiba di naungan yang lebih hangat. Draco berjalan lebih dulu masuk ke dalam manor. Dan ketika kubuka pintu depan, aku melihat ayahku tengah duduk di sofa. Aku jarang bertemu dengannya. Jadi, hubungan di antara kami sebenarnya agak canggung. Entahlah, aku lebih suka sendiri.

Aku melihat Draco telah menghilang di atas tangga spiral, dan ketika ayah yakin sepertinya pemuda itu memang telah kembali ke kamarnya, ayah memanggilku.

"Hermione."

Langkahku terhenti. Setelah sekian lama tak mendengar seseorang menyebut namaku dengan benar. Aku menoleh ke belakang dan melihat pria paruh baya itu memegang sebuah surat di tangannya. Ia tersenyum kaku padaku.

"Harus menunggunya menghilang sebelum memanggilku?" tanyaku degan tawa getir. Kutahu pria paruh baya itu menghela napas panjang.

"Surat dari kementerian sihir Inggris. Mereka bilang, mereka sangat terkesan dengan rencanamu pagi ini. Ayah tak tahu kau ke Inggris tadi pagi," ucapnya.

Memang tidak

Aku mematung. Mataku menyipit, aku berusaha mencerna tiap kata dari kalimatnya tadi. Jika ingataku masih baik, dan tentu saja masih, pagi ini aku bersama Draco. Ketika keanehan di restoran tentang seseorang yang memesan green tea belum hilang, aku dikejutkan dengan hal aneh lainnya. Jadi, apa sebenarnya yang terjadi?

Aku tersenyum pada ayahku kemudian pergi menghilang di balik kamar.

Dingin menyelubungi udara ketika beku menyatu ke dalam lapisan marmer putih tulang. Kakiku hampir mati rasa dicengkeram temaram. Aku bahkan lupa memakai sendal bulu. Setelah kepulangan tadi, mataku masih enggan tertutup. Aku mengalami insomnia akut walau sebenarnya tubuhku sudah berontak meminta istirahat.

Kini langkah kakiku membawaku menyusuri koridor manor yang sepi. Derap langkah pelan kakiku tanpa penghalang adalah satu-satunya suara selain alunan angin musim dingin. Salju terus menumpuk, berjatuhan dari langit redup. Malam ini bintang kesulitan menembus kanopi langit. Kelembapan tinggi dan kadar uap air yang membeku, mengkristal dan jatuh dalam butiran salju.

Menguapkan memori dan kerinduan. Ketika tembang kedamaian ini menelusup ke celah hati untuk mengingatkanku, pada apapun yang tak bisa kugenggam saat ini. Kerinduan yang terbawa terbang bersama atmosfer kedamaian.

Kini, sepertinya suara yang menggema di kepalaku bukan hanya bagaimana kakiku menderap lantai, atau tubuhku yang menggigil. Suara sepatu beradu dengan marmer terdengar dari lorong lainnya. Ketika bayangan seseorang muncul, disusul pemiliknya. Pemuda itu menoleh ke arahku.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya. Mungkin bingung melihatku berkeliaran tengah malam begini.

"Berkeliling," jawabku asal.

Akhirya kami berjalan bersama dalam diam. Menyusuri lorong panjang di sayap kanan manorku. Dan pikiranku masih sama kusutnya seperti beberapa jam lalu. Aku hanya mengikuti kemana kakiku pergi, dan kemana pemuda di sebelahku pergi. Aneh memang, kami tak bicara. Kesunyian melingkupi, bahkan aku bisa mendengar hembusan beku napasnya.

Ia terhenti, begitu pun aku. Aku mengikuti arah yang ditunjuknya. Melihat sesuatu yang baru aku sadari ada di tempat ini.

"Kunang-kunang," gumamku pelan.

"Kau mungkin butuh sedikit pemandangan yang menenangkan. Kulihat seharian ini kau tak fokus," ucapnya.

Untuk beberapa saat aku terdiam memperhatikan bagaimana pendar hijau itu berterbangan mengerumuni kegelapan dan cahaya. Pada bagian taman di manorku, selama ini aku tak pernah berkeliling. Atau mungkin aku tak pernah memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin saja dapat memberi ketenangan. Terlalu tegang dan kebingungan.

Aku menoleh padanya. Pada pemuda pirang platina yang mengalungkan lengannya di bahuku. Ada perasaan terkejut bercampur bingung. Serta entah sesuatu apa yang membuat degupan jantung semakin cepat.

"Aku sudah mencintaimu cukup lama. Mungkin menolongmu walau kau tak menyadarinya. Ada sesuatu dalam dirimu yang tak bisa kutolak. Aku minta maaf. Untuk semua waktu."

Aku terdiam. Hazelku masih kebingungan mecari-cari maksud perkataannya tadi. Apakah harus seperti itu berbicara pada tunanganmu sendiri, Malfoy?

"Apa yang kau bicarakan?" tanyaku.

"Kuharap, aku bisa menjelaskannya segera."

Dan, hembusan beku menjalar. Mengantarkan dingin yang berangsur berubah menjadi hangat. Ketika frekuensi degupan jantung kian meningkat. Waktu pun terhenti. Aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Namun aku tak bisa menolaknya. Aku tak bisa berpura-pura menjadi Harmony dalam situasi ini.

0o0o0

00

Bunyi letupan bunga api kecil terdengar samar di belakangku. Ketika kutengok sejenak api masih setia mencumbu kayu bakar menjadi abu. Siluetku terbentuk di dinding. Membesar dan mengecil karena cahaya dari perapian. Panas api setidaknya mampu menahan udara beku yang menjalar dan menyusup dari celah dinding.

Aku sendiri. Berhadapan dengan lemari kayu besar milik Harmony dan tumpukkan perkamen lusuh. Buku-buku tebal dan tua bertumpuk di sekelilingku. Aku masih mencoba mengamati. Ketika akhirnya aku mengingat kembali tulisan GT dan berusaha menghubungkannya dengan Green Tea. Sseseorang yang mirip denganku memesannya begitu banyak, seperti yang dikatakan pelayan itu.

Draco bilang, jampi transfigurasi bisa menggunakan green tea. Lantas, jika memang bukan time turner, pertanyaannya adalah siapa. Siapa yang memesan banyak green tea. Siapa yang mendatangi kementerian sihir dan membuat rencana.

Aku kembali meneliti buku-buku ini dan berharap ada catatan yang terselip. Terus membukanya hingga terhenti pada sesuatu yang sepertinya sering kulihat.

Magis hitam

Penyebab utama kebakaran di Shier. Kedekatan kami yang memicu kutukan api naga tersebut karena aku dan adikku berada di satu tempat yang sama. Aku membaca catatan cukup panjang tersebut. Dan bagian akhir yang cukup menarik perhatian.

penyatuan dua jiwa tersebut menimbulkan percikan bunga api dari magis hitam. Penangkal yang digunakan untuk mematahkan kutukan pun merupakan sihir hitam. Karena perlu dilakukan ritual penyatuan darah. Lantas bagaimana caranya agar tidak terjadi percikan saat ritual? Itu berarti satu dari yang lainnya tak boleh berada di tempat ritual.

"Apa ini?" gumamku keheranan.

Aku melihat beberapa bagian dicoret, ditebalkan. Terutama pada bagian darah. Membacanya membuatku bingung sekaligus ngeri. Darah. Aku tahu bahwa sihir hitam seringkali menggunakan darah, seperti yang Harry ceritakan saat ia dan Dumbledore berupaya menemukan horcrux. Dinding gua walet meminta darah agar terbuka. Dan urusan sihir hitam seperti mematahkan kutukan pun memerlukannya.

Namun bukan bagian itu yang mengejutkan, seakan kata-kata Draco tentang mengubah benda mati menjadi benda hidup berkelebat. Aku menemukan catatan lain pada bagian akhir yang membuatku tercengang.

Kayu gelondong sebagai pengganti mayat

Aku mencengkeram kuat kepalaku yang terasa berdenyut. Dan segera saja ingatan tentang hari dimana aku melihat Harmony terbujur kaku melintas di kepalaku. Memaksaku untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan paling tidak masuk akal. Jika tubuh yang membujur itu menggunakan jampi transfigurasi, bukankah itu hal yang sangat mungkin? Lagi pula, mayat tak perlu bergerak.

Kupikir semua menjadi makin kusut.

Atau justru sebaliknya?

Aku merasa perlu mendatangi pusara Harmony Millow.

TBC

Beberapa pertanyaan tentang cerita, Diloxy jawab langsung di dalam cerita.