Harry Potter © JK Rowling

Hurt/Comfort, Mysteri

Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll

Draco – Hermione – Harmony (OC)

Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju

Seri multychapter dari Replace

Greatest thank for your review, Guys!

Hope you like it. Enjoy.

The Soul © Diloxy

CHAPTER 5

Nimbus keperakan masih menggantung di atas lembah ini. Padang kerontang yang kehilangan kehijauannya. Padang kosong dengan tumpukkan salju yang menutupi hampir separuh bagian. Ketika hazelku masih meneliti nisan beku tempat pembaringan jasad adikku. Sejujurnya aku tak tahu apa yang akan kulakukan di tempat ini. Hanya menelitinya, tak lebih. Karena yang ingin kuperhatikan adalah adikku. Maksudku, isi dari peti matinya. Hanya saja rasanya terlalu gegabah dan tak tahu diri jika aku melaksanakan rencana gila di kepalaku.

Tapi, kenyataan yang membuatku penasaran setengah mati selama semalam masih juga berkelebat dan bergumul membesar bersama kenyataan lainnya. Aku ingat benar bagaimana rupa jasadnya. Seorang wanita yang sangat mirip denganku. Dengan gaun indah dan kulit putih bersih. Lalu bagaimana bisa korban kebakaran masih memiliki jasad putih bersih? Tanpa bekas luka bakar? Apa mungkin ada sihir yang bisa mengubahnya? Pada mayat?

Baiklah, aku tahu bahwa aku hanya disibukkan dengan kerumitan dan hipotesis-hipotesis semata. Belum ada bukti. Aku tak tahu bagaimana mencari bukti. Atau aku perlu menemukannya sendiri?

Tak mau terlalu berlarut dengan pikiran absurd ini, kuputuskan untuk segera pergi. Berdispparate dari padang mengerikan ini.

Aroma latte menyeruak begitu kubuka pintu ruanganku. Aku melihat Austin tengah menyiapkan berkas-berkas kerja di atas mejaku. Dan seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu menjelaskan apa saja yang akan aku kerjakan. Bagaimana jadwalku seharian ini.

Mataku kemudian tertuju pada secangkir latte hangat dan sepotong roti isi buah. Sepertinya Mapple menaruhnya lebih awal. Alarm di perutku juga telah berbunyi. Memikirkan banyak hal rupanya menguras kalori di tubuhku.

Aku duduk beringsut di atas sofa empuk di sudut ruangan, tak terlalu berminat mendengarkan penjelasan Austin. Dan lagi-lagi pikiranku melayang-layang entah kemana. Seakan belum berhenti dengan masalah keanehan Harmony dan rahasia yang melingkupi ketiadaannya, aku kembali diseret pada lamunan beberapa malam lalu.

Ketika Draco Malfoy mengecup bibirku

Temaram malam dan deretan kunang-kunang adalah saksi bisu bagaimana aku bahkan tak bisa menolaknya. Terlebih lagi kebekuan memaku tubuhku, berdiri mematung dan tunduk dalam aroma tubuhnya.

Dan setelahnya. Setelah sepasang kelabu teduh membiusku, aku dicambuk rasa sakit. Entah perasaan bodoh apa yang seenaknya menjalariku. Menjalari hati.

Kupijit-pijit keras kepalaku yang terasa berdenyut seraya terus mengulang dalam hati berbagai kalimat pengingat. Aku tak boleh mencintainya. Yang ia cium malam itu adalah Harmony. Bukan darah lumpur kotor.

Tapi semakin kenyataan menusukku, semakin rasa sakit memainkan tugasnya. Apa perlu teriakanku menggemakan pengakuan siapa diriku sebenarnya. Biar si ferret itu melemparkan cruciatus, atau bahkan kutukan kematian padaku sekalian karena telah berani mengganti posisi tunangannya.

"Mony, kau kenapa?" tanya Austin yang tiba-tiba sudah ada di sebelahku. Aku hanya menggeleng. Ia menghembuskan napas pelan. Kasihan muggle ini, tapi jika ada yang akan kuberitahu, sepertinya Austin orangnya.

"Di Perancis, apakah menggali makam seseorang akan dijatuhi hukuman berat?" tanyaku begitu saja.

"Mengapa bertanya begitu?" tanyanya heran.

"Hanya bertanya."

"Jika telah mendapat persetujuan dari keluarga, itu jadi legal," ucap Austin.

Oh yeah, aku keluarga gadis itu. Aku tersenyum miris kemudian terdiam dan terus berpikir. Sepertinya aku perlu memberitahu ayah ibu tentang rencana ini. Tentang semua keanehan ini. Aku perlu merunutnya agar mereka mengerti. Bagaimana pun juga ini masalah keluarga. Dan kecurigaanku pada apa yang ada di pusara milik Harmony perlu mendapatkan perhatian.

Aku menghela napas panjang kemudian menutup mata. Berusaha menenangkan diri dengan mengingat memori menyenangkan yang lama kutinggal. Bagaimana kabar Harry dan Ron. Kabar Inggris. Bagaimana mereka semua. Apakah ada yang merindukan ketiadaanku? Aku tersenyum begitu bayangan kenangan-kenangan menyenangkan tersebut melintasi kepalaku.

Lamunanku pecah begitu kudengar seseorang masuk ke kantorku. Kubuka mata dan melihat daun pintu mengayun. Draco Malfoy berdiri menatap sekilas pada Austin dengan pandangan tak suka, kemudian beralih padaku. Namun pandangannya melunak.

Pemuda itu berjalan menghampiriku kemudian duduk di sofa. Tepat di sebelahku. Dan tanpa komando, ia mengalungkan lengannya di bahuku. Aku bisa mendengar alunan degupan jantungnya. Aku kembali bisa menghirup aroma yang sama seperti malam itu. Ketika kepalaku bersandar di dadanya. Begitu kusadari, Austin telah menghilang dari ruangan ini.

"Apa aku perlu menciummu lagi agar kau benar-benar merasa aku mencintaimu?" tanya pemuda itu lembut.

"Tak perlu," balasku teramat pelan.

0o0o0

00

Kurapatkan mantelku untuk menghalau udara dingin yang masih terus mencoba menerobos paksa menggigit kulitku. Tak lupa sepatu bot tinggi, karena malam ini ada sesuatu yang cukup sulit yang akan aku lakukan. Kuselipkan tongkatku di dalam saku mantel. Kemudian berjalan menuruni anak tangga pualam untuk menemui dua orang aristokrat yang sepertinya sulit kujelaskan akar masalahnya.

Begitu kakiku tiba di lantai marmer besar, dua pasang mati mengikutiku sampai aku duduk di depan mereka. Sebelumnya aku memang telah mengirimi mereka surat. Hanya untuk menjelaskan keanehan apa saja yang terjadi. Dan permintaan izin membongkar makam adikku akan langsung kuminta saat ini.

"Kau mengira adikmu masih hidup?" tanya ibu mengawali dengan lembut.

"Dari semua hal aneh yang terjadi, aku rasa ya. Hanya 50 persen kemungkinannya."

Ayah batuk-batuk kecil, sementara ibu menghela napas panjang. Aku tahu, walau secara biologis mereka adalah orang tuaku, perasaan mereka pada Harmony sangat jauh lebih besar dibandingkan padaku. Dan aku hanyalah orang asing yang tiba-tiba masuk kehidupan mereka. Mereka menginginkan aku bermain peran untuk mereka, tanpa komentar. Dan sekarang aku malah membuat mereka tak suka.

"Aku ingin membongkar makam Harmony."

Ini memang bukan seperti di film, tapi kilatan kemarahan bisa terlihat jelas dari dua pasang hazel di depanku. Ayah batuk-batuk dan ibu memalingkan wajahnya dariku. Ia bangkit dari sofa kemudian pergi. Sebelum ayah pergi menyusul ibu, ia memanggil peri rumahnya, Willy.

"Pastikan nona muda ini tak keluar manor sampai besok pagi."

Tanpa bicara padaku. Kedua aristokrat itu pergi dari ruangan ini. Tak ada penjelasan apa pun yang bisa mengubah pikiran keras mereka. Aku berlari secepat mungkin menaiki tangga, tak berminat mendengarkan penjelasan si peri rumah.

Menaiki kembali tangga pualam melawan udara dingin yang menerobos tubuhku tanpa ampun. Kucengkeram kuat tongkat di dalam mantel dan sebisa mungkin berusaha untuk tidak berteriak seperti orang kesetanan malam-malam begini.

Kudobrak pintu kamar segera, dan membantingnya keras-keras. Kepalaku berdenyut sangat keras, belum lagi sensasi kemarahan yang meluap-luap. Kadang aku merasa ingin kabur dan pergi begitu saja meninggalkan semua kebodohan ini.

Aku beringsut jatuh bersandar pada daun pintu. Menangkup wajahku di dalam kedua telapak tangan. Teringat kembali bagaimana mata bulat besar Willy si peri rumah menatap kasihan padaku. Tak berani menolak perintah tuan besar manor ini, tak bisa juga menahanku seperti di penjara.

Tapi aku perlu mengetahui apa yang ada di dalam peti mati Harmony. Bagaimana aku bisa kesana? Kucengkeram kepalaku keras-keras. Bingung harus bagaimana.

Badai salju terus memaksa menerobos masuk. Menendang-nendang kaca jendela berembun telak. Salju mungkin telah cukup tebal menutupi jalan. Ada perasaan takut untuk keluar menerobosnya, namun rasa penasaran mengalahkannya.

Aku yakin mereka hanya menghalangi manor ini dari mantra apparate dan dispparate. Dan cara satu-satunya agar dapat keluar dari tempat ini adalah kabur menorobosnya. Tanpa sihir. Semoga peri rumah itu tak membuntutiku.

menit berganti begitu aku selesai berkemas, akhirnya kubuka jendela kamar. Angin kencang menyusup menerobos membawa butiran salju dingin ke dalam ruangan ini. Perapian pun padam seketika. Aku perlu merapatkan mantel dan topi bulu untuk menghalau dingin yang menusuk tubuh.

Aku berpegang pada tiang jendela kokoh, kemudian memanjatnya. Perlu ekstra kehati-hatian dengan langkahku saat keluar dari jendela, karena lapisan salju tebal mulai menutupi atap dan membuatnya licin.. Kini aku berhadapan langsung dengan atap manor dari lantai dua, juga badai yang tak menunjukkan tanda akan mereda. Atap beton dan genting terasa licin karena ditutupi lapisan salju tebal. Aku memijaknya perlahan seraya terus berpegang kencang pada tiang-tiang di pinggiran.

Badai mengguncang tubuhku lebih keras ketika aku masih berusaha untuk menuruni lantai dua menuju dasar. Ada bagian beton landai yang dapat digunakan seperti perosotan yang langsung berakhir dengan semak-semak. Sepertinya tak terlalu mengerikan. Aku memperhatikannya sejenak, kemudian melewatinya.

BUGH

Tubuhku berdebam cukup kuat dengan semak yang sengaja dibuat sebagai pembatas taman. Semak tersebut meredam jatuh. Segera kutepuk-tepuk mantel untuk mengusir serpihan salju. Aku berlari cepat menuju gerbang utama manor ini. Melewati pepohonan dan jalan setapak. Seraya terus memperhatikan ke belakang, takut entah siapa melihatku.

Kuayunkan tongkat dengan no nverbal. Masih belum berfungsi. Mantra peluntur itu masih aktif di tempat ini. Dan begitu aku tiba di hadapan gerbang besi kokoh yang menjulang tinggi, kembali kuayunkan tongkat. Masih belum berhasil.

Aku menarik napas panjang membiarkan bulir beku memenuhi paru-paruku. Ada rasa sakit mengoyak dadaku ketika dingin itu menjalar. Pikiranku sudah melambung jauh pada padang lili putih tempat pusara Harmony. Kembali kuperhatikan gerbang di hadapanku. Apakah tak ada jalan lain?

Gerbang ini menjulang, namun di bagian sekitarnya ditanami semak. Aku berjalan cepat untuk menemukan celah di bagiannya. Mengoreh bagian bawah dekat batang utama yang tidak terlalu ditumbuhi banyak dedaunan. Aku coba menerobosnya dengan paksa.

Kucabut tongkatku berharap bahkan di bawah semak ini mantra peluntur itu tidak bekerja.

Dispparate

Tubuhku tersedot pusaran ruang dan waktu. Dan detik berikutnya aku telah berada di hamparan padang lili yang tertutupi salju tebal. Angin dingin berhembus kencang. Angin ini masih berupa anak badai, dan kurasa akan terus membesar.

Tubuhku seakan mati rasa, terlebih kakiku saat mencoba melangkah. Aku menerobos dingin di tengah malam gila ini. Melawan kebekuan dengan hanya bermodalkan mantel, sepatu bot, dan topi bulu. Namun sungguh, dingin ini terasa begitu mencekik.

Jejak kaki tercetak di atas timbunan salju tebal di belakangku. Mengular menuju pusara putih, satu-satunya bangunan di tempat ini. Hanya ada pendar kecil cahaya dari lampu neon redup di rumah-rumah tak jauh dari padang ini. Sementara dataran ini benar-benar tak memiliki cahaya.

Aku berjalan dengan cahaya dari ujung tongkatku mendekati pusara Harmony. Dan begitu langkah kakiku tiba disana, aku memperhatikannya sekilas. Buket lili yang masih segar seakan baru saja ada seseorang yang kemari. Atau mungkin sengaja disihir agar tak layu. Entahlah, aku tak terlalu ingin tahu.

Baiklah, aku sudah disini.

Pendar cahaya meredup begitu kuarahkan tongkatku persis di depan nisan. Dengan sekali ayunan mantra non verbal.

BRUGHH

Batu itu terbelah. Penutup makam yang menjadi penghalang dengan peti mati Harmony kini hancur. Kuayunkan tongkatku untuk menyingkirkan puing-puing tersebut, sehingga kini peti mati adikku benar-benar terlihat jelas.

Aku melangkah untuk melihat lebih dekat, ketika frekuensi degupan jantung meningkat. Lubang kubur itu hanya sedalam sekitar satu meter hingga peti mati. Aku berjongkok di hadapannya. Kemudian meraih batu nisan untuk tempat berpegangan. Ketika kuputuskan dengan segala keberanian untuk turun ke bawah.

Hembusan beku menguapkan butiran salju, udara dingin yang mulai memenuhi paru-paru sungguh menyesakkan. Aku arahkan tongkatku pada penutup peti tersebut. Perlahan, peti itu pun terbuka. Memunculkan gambaran yang membuncahkan rasa penasaranku selama ini. Mataku terbelalak seketika.

Sebatang kayu gelondongan

Kututup mulutku segera karena hampir menjerit. Aku hampir terjatuh dan beringsut, segera memanjat naik dari lubang kubur ini dengan susah payah.

"Oh Merlin, apa yang terjadi sebenarnya?" desisku tak tentu.

Sekujur tubuhku didera gemetar hebat. Kakiku terasa dipaku dan dimantrai, lemas seketika. Aku mengamatinya dengan seksama, dalam rasa yang berbaur antara ketakutan, terkejut, bingung, segala pertanyaan yang membumbung tinggi. Tidak. Ini bahkan belum menjawab apa pun. Ini malah menambah daftar panjang keanehan tentang masalah ini.

Harmony benar-benar masih hidup. Apa yang direncanakannya?

Mataku liar meneliti ke sekitar. Kosong. Hanya aku satu-satunya manusia di tempat ini. Dan badai mengamuk membesar. Cukup sudah dengan kegilaan malam ini. Gadis itu masih hidup. Entah apa pun yang akan dilakukannya.

Aku bangkit berdiri, masih dengan kebingungan yang belum hilang. Mengarahkan tongkat pada batuan yang telah hancur tadi. Merapalkan mantra 'reparo' untuk membuatnya utuh kembali. Membuat pusara di hadapanku seakan tak tersentuh. Biar badai menenggelamkannya dalam timbunan salju.

Aku menjauh dari pusara itu degan berlari. Seakan tak mau berlama-lama pada kebohongan yang tertimbun rapat di bawah tanahnya. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku perlu menceritakannya pada orang tuaku? Lantas bagaimana jika mereka bahkan bersikeras tak mau mendengar?

Kupejamkan mataku sejenak seraya menarik napas panjang. Aku tak mungkin kembali ke manor malam ini. Aku perlu bicara dengan seseorang. Siapa? Draco? Kurasa tidak.

Dan detik berikutnya, dispparate menyedotku menghilang dari padang lili ini.

Aku berada di halaman sebuah rumah tak terlalu besar, kemudian berjalan menuju pintu masuk. Sebuah pintu dari kayu yang dicat dengan warna muram. Pendar cahaya dari dalam rumah terlihat, menandakan ada seseorang di dalam. Kuketuk beberapa kali. Dan tak lama suara langkah kaki mendekat, daun pintu pun berayun. Memunculkan wajah lelah dengan rambut coklat dan iris hijau yang berkilat ketika mendapatiku.

Austin.

"Ada yang perlu kuceritakan. Tapi sebelumnya, kuharap kau tenang," ucapku mengawali.

0o0o0

00

Tubuhku dibulam selimut tebal dan hangat. Segelas coklat panas di tangan, masih mengepul. Aku meneguknya sesekali. Tubuhku tak lagi gemetar karena hipotermia. Dadaku tak berdebar sekencang tadi. Frekuensinya perlahan menurun. Helaan napas menenangkan, kucoba atur sebisa mungkin agar aku tak ditarik kegilaan. Aku perlu sebisa mungkin untuk terus berpikiran rasional. Karena untuk masalah ini memerlukan pikiran jernih, walau sampai saat ini aku belum tahu harus bagaimana. Apa aku perlu mencari Harmony?

Ketika ketenangan mulai menjalariku, atmosfer berbeda muncul dari diri Austin. Sekretaris muggle Harmony yang saat ini masih terbelalak dan dihantui keterkejutannya. Satu sisi ia lega karena kekasihnya mungkin masih hidup. Namun di sisi lain aku menamparnya bahkan dengan kenyataan yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Tentang dunia sihir. Tentang kutukan kami. Tentang masalah kebakaraan di Shier. Juga tentang segalaa keanehan. Seolah Harmony millow merencanakan sesuatu dan tak seorang pun mengetahuinya. Aku bahkan bercerita pada Austin tentang betapaa misteriusnya Harmony, bahkan bagi penyihir sepertiku.

"Sebaiknya kau segera tidur," ucap Austin melirik jam dinding. Sebelumnya aku memang meminta ijin untuk bermalam di rumahnya. Dan tanpa perintah dua kali, aku bangkit. Berjalan menuju kamar yang ditunjuknya. Merebahkan diri di atas kasur empuk. Merebahkan diri di dalam buaian malam. Hingga mimpi menculikku.

Mimpi tentang pemuda pirang platina yang mengacungkan tongkat padaku. Kilatan hijau berpendar ketika kudengar rapalan sebuah kutukan.

Avada kedavra

0o0o0

00

Kusematkan bros lili di blazerku, kemudian mematut-matut kembali di depan cermin. Sepertinya sudah sempurna. Aku melangkah keluar dari kamar ini. Ketika daun pintu kamar berayun, kulihat Austin tengah memasak sarapan di pantri. Aku berjalan mendekatinya, kupikir selama ini aku telah bertindak buruk, jadi hanya mencoba bersikap baik dengan mengadakan pertemanan.

"Selamat pagi Hermione Granger," sapa muggle itu dengan senyuman. Ia menoleh sekilas padaku. Aku balas tersenyum padanya,"Hermione saja." Untuk kesekian kalinya aku senang seseorang menyebut namaku dengan benar.

"Aku membuat telur dadar dan jus apel," ucap Austin meletakkan telur dadar yang telah matang di atas piring. Ia berjalan ke arahku kemudian meletakkannya di atas meja dan duduk bersamaku.

Tak ada yang terlalu istimewa atau berbeda. Hanya saja aku bisa melihat kebingungan masih menjalari pemuda itu. Aku yakin masih banyak hal yang ingin Austin tanyakan padaku, tapi ia pun tahu bahwa posisiku saat ini benar-benar riskan. Ia tahu aku memerlukan bantuan lebih, walau pun aku tak akan menyeretnya lebih jauh ke dalam masalah ini.

"Kau merindukannya?" tanyaku di sela sarapan ini. Ia mengangguk mengiyakan. "Aku kehilangan Harmony begitu kau menggati posisinya sejujurnya."

"Kau tahu perubahan sikap seorang Harmony menjadi Harmony palsu?" tanyaku dengan tawa kecil.

"Tentu saja. Kurasa aku yang selama ini dekat dengannya. Gadis itu memang tertutup. Tapi aku tahu bagaimana kebiasaannya. Dan kau melakukannya dengan kurang profesional," ejeknya dengan tawa lepas.

"Oh, aku bukan pemain peran," cibirku.

"Karena sikapmu pada Draco yang membuatku bingung. Seorang Harmony tampak sangat membenci Draco."

"Memang bagaimana sikap Harmony pada Draco?" tanyaku menyelidik. Kupikir sejak awal mereka seperti musuh.

"Tak ada masalah. Harmony dan Draco baik-baik saja. Mereka seperti yang telah kenal sejak lama. Dan aku tahu pasti tak ada hubungan lebih di antara mereka. Karena Draco sendiri yang menyuruh Harmony untuk menerimaku. Draco tahu sejak awal kami saling mencintai. Dan pertunangan antara mereka bukan penghalang, karena sejak awal mereka akan mematahkan pertunangan tersebut. Hanya menunggu waktu hingga orang tua mereka siap."

"Kau yakin Austin?" tanyaku memijit dahiku dengan keras.

"Ayolah, aku tak mungkin berani memacari direktur Millow corp dan tunangan dari pemilik Malfoy corp, perusahaan terbesar di Inggris, jika memang aku tak mengantongi ijin dari mereka berdua," jawab Austin dengan tawa renyah.

Pikiranku melambung jauh pada hari-hari dimana aku mengawali peran ini. Menjadi seorang Harmony Millow. Dan bagaimana bisa seorang Draco Malfoy yang menurut penuturan Austin baik-baik saja, berubah total menjadi begitu bengis. Padaku.

Memori-memori itu melesat di kepalaku, berontak keluar dan meminta penjelasan. Bagaimana sikap sinis dan dingin pemuda itu. Ketika ia menyeretku menjauh dari Austin di restoran. Ketika dengan kearoganannya melarangku untuk menjauhi Austin. Bahkan ketika ia mematriku dengan kenyataan bodoh, bahwa aku adalah miliknya.

Dan kenyataan buruk itu lambat laun berubah menjadi perjalanan manis ketika ia melunak. Ketika kami melewati proyek Shier bersama. Sampai dimana ia mengecupku. Sampai dimana ia menjatuhkan perasaanku. Seorang Draco Lucius Malfoy. Seseorang yang sejak dulu menginjak status darahku.

"Karena sejak awal, sejak orang tua mereka menginginkan pertunangan itu, baik Harmony maupun Draco tak berniat untuk mengikutinya," ucap Austin memecahkan lamunanku.

Aku melahap potongan terakhir telur dadar di piring. Membuatnya bersih dengan noda-noda minyak yang mengotorinya. Kemudian meneguk jus apel hingga tak bersisa. Aku masih menatap piring yang dipenuhi noda minyak tersebut.

"Kurasa sikap Malfoy berbeda setelah kau mengganti peran Harmony. Kurasa dia menyukaimu, Hermione. Begitu pun kau," ucap Austin menoleh padaku.

"Jangan bodoh. Di dunia sihir, dulu aku adalah darah lumpur. Penyihir keturunan muggle," aku menarik napas panjang. "Draco Malfoy menginjakku di bawah sepatuya. Kurasa sebentar lagi ia akan melemparkan kutukan kematian padaku," ucapku seraya menangkup wajah. Bayangan mengerikan mimpi semalam melintas begitu saja.

"Pemuda itu memang tampak berubah lebih baik. Sekitar setahun lalu. Karena tahun-tahun sebelumnya ia memang kacau," ucap Austin.

"Kurasa itu karena masa sulit menjadi pelahap maut. Pengikut dari penyihir jahat. Tapi setelah setahun kemarin, mereka hancur. Dan beberapa penyihir berubah menjadi lebih baik. Kau pikir itu terjadi pada keluarga Malfoy?" tanyaku kemudian. "Bisa saja," jawab Austin seraya membuka-buka lembaran koran.

Aku teringat kembali kepada persidangan keluarga Malfoy. Pengakuan Harry tentang Narcissa yang menyelamatkannya, sungguh menyelamatkan keluarga mereka. Pasalnya menjadi pelahap maut merupakan kejahatan yang akan berakhir di Azkaban. Juga tentang kejadian di Malfoy manor dulu. Astaga, aku menggelengkan kepala. Aku ingat benar bagaimana sikap pemuda pirang itu. Aku tahu ia sangat yakin bahwa itu Harry walau pun wajahnya terkena mantra. Ada aku dan Ron. Lantas siapa lagi penyihir yang bersama kami. Tapi pemuda pirang itu berpura-pura bodoh dengan berlagak tidak tahu.

Hingga saat dimana Bellatrix menuliskan kekejaman itu di lenganku. Mungkin aku berhalusinasi, seolah melihatnya nanar menatapku. Kelabu itu. Yang berkata pada bibinya untuk tidak membuang waktu dengan menyiksaku. Apa ia berusaha menyudahi penderitaanku? Tapi…

"Selesai dengan sarapanmu, Hermione?" tanya Austin memecah kegelisahanku. Aku mengangguk segera.

Kami menaruh peralatan makan kotor ke pantri di bak cuci piring. Setelah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, aku melihat Austin mencari-cari kunci mobil.

"Emhm, Austin. Kau mau merasakan beberapa mantra?" tanyaku dengan senyuman.

"Maksudmu?"

"Kita bisa tiba di kantor dalam sekejap," ucapku. Aku berjalan mendekatinya, kemudiaan memegang lengannya. "Kuharap kau membawa uang lebih untuk pulang dengan taksi."

Dan detik-detik setelahnya, kami tersedot pusaran waktu.

Dispparate

0o0o0

00

Aku berjalan mantap menuju pintu ruanganku, ketika terdengar suara gaduh di arah belakang. Suara hak sepatu beradu dengan lantai marmer. Dan saat aku menoleh, aku mendapati pemuda pirang itu berjalan ke arahku.

"Apa kau begitu bodoh sampai harus kabur di tengah malam dengan badai mengamuk?" hardiknya. Membuat seisi kantor hening. Kelabu itu sinis menatapku. Ada rasa takut, bingung dan bersalah di sekujur tubuh. Kini kelabu itu beralih pada Austin yang tampak tak kalah bingungnya denganku. Astaga, penuturan Austin bahwa seorang Draco Malfoy tak pernah ada masalah dengan kedekatannya bersama Harmony semakin membuatku bingung. Apa baru sekarang si pirang ini sadar kalau ia memang menginginkan adikku?

"Kau bermalam bersama dia?" tunjuknya dengan wajah marah yang tak bisa di sembunyikan. Tak ada jawaban. Baik aku mau pun Austin tak menjawab. Kami berdua bingung harus menjawab apa. Jawaban 'ya' hanya akan memunculkan pertanyaan mengerikan lainnya, seperti 'apa yang kami lakukan?' dan kemungkinan pertanyaan lainnya. Tak ada yang tahu apa yang terjadi.

Pemuda pirang itu terus memarahiku di depan pegawaiku. Awalnya memang menyebalkan, namun lambat laun setiap ocehannya terdengar aneh. Ia peduli padaku? Hingga menit-menit menggerahkan berlalu. Ia terdiam menatapku dalam. Berjalan ke arahku lebih dekat. Aku mundur dan hampir berlari, takut ia melakukan sesuatu yang buruk ketika kedua tangannya terulur. Aku pikir ia akan memukulku, cepat-cepat aku menutup mata dan beringsut.

"Aku tak bisa kehilanganmu," bisiknya teramat pelan. Ketika ia membawaku ke pelukannya.

TBC

Maaf untuk keterlambatan update. Sebenarnya Diloxy ga bisa janji untuk kontinyu update seminggu sekali. Kayaknya ini paling cepat seminggu, mungkin dua minggu. The Soul sebenarnya belum selesai, dan Diloxy terus berusaha menamatkannya.

Dan maaf juga untuk typo di chapter sebelumnya. Ga dicek dulu EYD sebelum update, alhasil begitulah jadinya.

Terima kasih untuk review dan apresiasinya. Jadi penyemangat karena selalu mantengin e-mail. Seneng waktu baca review kalian. Mungkin cuma beberapa reviewers yang Diloxy balas, kalau pertanyaannya emang ga bisa dijelasin di fict ini. Dan berhubung andronya ga bisa buka ffn karena pake kartu yang memblokir situs ffn, ya jadi harus memanfaatkan netbuk dan wifi gratis. Hhehe.

Sampai jumpa di chap 6. ^_^