Harry Potter © JK Rowling
Hurt/Comfort, Mysteri
Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll
Draco – Hermione – Harmony (OC)
Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju
Seri multychapter dari Replace
Greatest thanks for your review, Guys!
Hope you like it. Enjoy.
…
The Soul © Diloxy
CHAPTER 6
Badai terus mengetuk jendela dengan keras. Menendangnya dengan beku dan angin penuh salju. Di luar sana, badai musim dingin masih mengamuk. Tak mengijinkan siapa pun untuk keluar malam ini. Letupan bunga api dari perapian terdengar pelan di tengah suasana hening. Aku masih memperhatikannya. Siluet yang diciptakan kobaran api yang menghangatkan ruangan. Kobaran api itu adalah satu-satuya sumber cahaya yang berpendar di keremangan ruangan ini. Kamarku. Kamar Harmony.
Draco yang memintaku untuk mematikan lampu, sehingga suasana remang ini menemani kami. Ya, aku bersamanya. Aku tak tahu kegilaan ini akan berujung seperti apa. Yang ia tahu aku adalah tunangannya. Tak ada masalah.
Namun yang aku tahu, aku adalah Hermione Granger. Dan aku tak tahu mengapa aku terus mengijinkan dan membiarkan semua ini mengalir begitu saja. Mengapa aku menikmati kebersamaan ini.
Malam ini. Belum lepas dengan kebingungan tentang masalah Harmony, Draco datang dengan jalur floo. Kobaran api hijau itu memunculkannya begitu saja. Dan pemuda itu menciumku. Entah untuk yang keberapa kalinya. Kami masih menyatu untuk beberapa saat dan aku membiarkannya memburuku.
Hingga kini aku berada di pelukannya di atas sofa lembut. Sofa yang menghadap langsung ke perapian. Kutekuk kakiku untuk meredam dingin dan beringsut di dalam pelukannya. Kami dibalut selimut tebal untuk menghalau dingin yang menyusup dari celah dinding. Berulang kali ia mencium puncak kepalaku, membelai rambutku. Dan beberapa kali menciumku. Entah untuk yang kesekian kali.
Kuletakkan kepalaku di sebelah dadanya untuk mendengar alunan degupan jantung terindah. Seraya memegang segelas cokelat panas dengan kedua tanganku. Kupejamkan mataku beberapa kali. Seakan berusaha memasukkan sebanyak mungkin memori romansa malam ini. Aku tak mau memikirkan hal lain selain bagaimana perasaan ini bermain.
Menit-menit berlalu. Saat Draco meraih gelasku dan menaruhnya di atas meja. Ia mengecup puncak kepalaku. Kupejamkan mata untuk membiarkannya mengecup kedua kelopak mataku. Cuping hidungku. Dan lembut itu menjalar di bibirku. Cukup lama begitu ia membimbingku menuju ranjang di tengah ruangan ini. Menarikku dalam pelukannya. Menundukkanku dalam memoar ketika cinta memburu kami untuk menyatu. Biar perasaan ini menuntunku.
0o0o0
00
Hazelku terbuka. Aku menarik napas panjang berusaha memasukkan sebanyak mungkin udara ke dalam paru-paru. Menyesakkan. Hazelku menatap langit-langit kamar yang samar. Perapian telah benar-benar mati. Dan ruangan ini hanya di terangi matahari pagi musim dingin yang kesulitan menerobos gorden kamar.
Begitu kulihat seorang pemuda di sebelahku yang hanya ditutupi selimut tebal. Apa yang telah aku lakukan dengan seorang Draco Malfoy semalam? Aku yakin para penyihir Hogwarts tak akan mempercayainya. Begitu pun aku. Atau mungkin hanya aku yang tahu. karena pemuda di sebelahku tak tahu siapa gadis yang dicumbunya semalam. Rasa sakit mendadak menjalar di hatiku.
Aku duduk dan memandangnya. Menatap wajah seseorang yang membuatku tak karuan. Cukup lama. Hingga akhirnya kelabu itu terbuka dan menatap ke arahku. Ia tersenyum. Oh Tuhan. Bagaimana mungkin pemuda ini bisa benar-benar membiusku?
"Selamat pagi Nyonya Malfoy," bisiknya begitu ia duduk di sebelahku. Jemarinya membelai anak rambut yang menutupi wajahku. Menyibaknya perlahan kemudian mengecup puncak kepalaku.
"Aku mau tidur lagi. Kau mau ikut, Nyonya Malfoy?" tanyanya menggoda. Ia menguap dan segera jatuh kembali. Tertidur.
Aku bangkit berdiri setelah meraih kemeja panjang di atas lantai. Mengancingkannya dengan asal dan mengikat rambutku. Aku berjalan menuju cermin. Berhadapan dengan bayanganku. Seulas senyuman terkembang begitu saja. Minggu pagi yang tak seperti biasanya.
Aku menjalani rutinitas pagi seperti biasa. Mandi kemudian berpakaian. Ketika melihat pemuda itu masih tertidur pulas di tempat tidurku, aku segera keluar dari kamar. Berpikir untuk setidaknya menyiapkan sarapan untuknya.
Aku berjalan menuju dapur, dan menemukan banyak bahan makanan untuk dimasak. Beberapa kali Willy, peri rumahku menawarkan bantuan untuk memasakannya untukku. Namun aku berkeras.
Setelah selesai dengan memasak di pagi hari, aku kembali ke kamar. Beberapa roti lapis dan coklat panas kuletakkan segera di atas meja. Awalnya aku berniat membangunkan pemuda itu, tapi sesuatu melesat masuk ke jendela. Membuatku terbelalak hingga perlu mengejarnya sampai ke balkon belakang manor.
Aku berlari kepayahan mengejar patronus itu hingga akhirnya terhenti. Seekor berang-berang perak yang mengamatiku terlebih dahulu, kemudian bicara.
Kau tak perlu mencariku. Aku adalah Harmony. Separuh jiwamu yang melayang-layang di kubah langit.
Dadaku sesak. Seolah dingin ini menghentikan napasku untuk beberapa saat. Masih belum beranjak dari tempatku berdiri ketika patronus itu menghilang. Berang-berang? Patronus yang sama seperti milikku.
Ia benar-benar masih hidup
Kucabut segera tongkatku. Meletakkannya di atas telapak tangan, kemudian merapal mantra dengan ketakutan yang teramat besar.
"Point me."
…
…
Angin dingin menabrakku. Memukul-mukul tubuhku dan menampar wajahku terus-menerus tanpa ampun. Aku didera kebingungan hebat. Tak peduli bagaimana dingin ini menjalar dan menusuk tubuhku yang hanya dibalut sweater rajut panjang dan sendal. Tak peduli bagaimana salju tebal melakukan tugasnya untuk mempersulit langkahku. Mantra itu membawaku ke taman kota.
Sebuah taman yang ditutupi salju. Dan lucunya banyak orang yang bermain-main di tempat ini. Aku berlari seperti orang kesetanan seraya berteriak-teriak memanggil Harmony. Meneliti setiap orang di tempat ini. Seharusnya ini bukan pekerjaan sulit mencari kembaranku. Hanya saja rasa kesalku memuncak begitu mengingat mungkin saja ia menggunakan jampi transfigurasi saat ini. Dia tak ingin aku menemukannya.
"HARMONY!" teriakku seraya terus berlari memasuki taman ini. Orang-orang di sekitar memperhatkanku. Aku tak peduli seberapa gila diriku saat ini. Aku perlu menemuinya dan mengintrogasinya atas semua hal aneh yang terjadi padaku karena rencana bodohnya ini.
"Harmony!" ucapku kehabisan suara. Tubuhku gemetar melawan dingin yang berusaha melumpuhkanku. Aku berdiri kebingungan. Mencari-cari ke sekitar. Tapi sepanjang yang aku dapati hanyalah pepohonan kerontang yang tertidur pulas. Tumpukkan salju. Juga orang-orang yang melihat kebingungan ke arahku.
Tanganku refleks mencabut tongkat, namun segera kuurungkan. Aku tak mungkin menggunakannya di tengah kerumunan muggle. Beberapa dari mereka berjalan mendekatiku. Mencoba bertanya dan bicara. Namun yang kudengar hanya keriuhan tak jelas dari wajah-wajah kasihan yang menatapku. Aku didera panik luar biasa. Kepanikan itu membuncah semakin besar ketika aku menyadari orang-orang berlari. Beberapa dari mereka berusaha menarikku menjauh, namun aku menolaknya.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati asap mengepul dari pepohonan yang mulai ditelan kobaran api.
"Oh, astaga."
Aku meraung, begitu dengan bodohnya baru mengingat bahwa kedekatan kami akan memicu kutukan api naga, magis hitam itu bekerja. Harmony benar-benar di tempat ini. Dan dengan bodohnya aku mendekatinya. Memicu kobaran api ini.
Aku panik mencari-cari entah apa, dan saat itu melihat banyak orang berusaha menyelamatkan diri mereka. Aku melihat seorang gadis kecil menangis di dekat pohon yang terbakar seraya terus memanggil ibunya. Aku berlari ke arahnya berusaha menolong.
Dahan pohon itu terkoyak api dan jatuh dengan kobarannya yang tak kalah besar. Menghadangku menuju gadis kecil yang menangis ketakutan melihat kebakaran di hadapannya.
"Kemari, tak usah takut," bujukku berusaha memadamkan kobaran api dengan swater rajut. Api itu melemah, hingga aku bisa meraihnya dan menggendong gadis itu.
Aku berlari sekuat tenaga seraya terus menggendongnya. Karena nyatanya kobaran api di tempat ini semakin besar. Asap melingkupiku, membuat rasa sakit menyebar di dada. Berulang kali aku terbatuk. Menatap samar pada dua orang yang berlari ke arahku seraya meraih gadis kecil dari gendonganku.
Aku berlari kepayahan seraya terus menutupi hidung. Tapi rasa sakit ini menyerang dadaku. Terasa membakar. Aku kesulitan bernapas. Langkahku terhenti ketika rasa lemas menyerang tubuhku begitu saja. Aku terlambat menyadari dahan-dahan pohon yang terus berjatuhan dengan kobaran api. Hingga akhirnya,
BUGHH.
Sebuah dahan patah persis di depanku. Menyemburkan kobaran api besar. Api menyambar tubuhku. Membuatku menyala sempurna. Kulitku disengat rasa sakit yang teramat. Dan detik berikutnya, entah siapa menarikku hingga kami tercebur dalam kolam. Sebelum aku sempat melihatnya. Gelap telah terlebih dahulu menculikku.
0o0o0
00
Aku adalah burung yang terbakar
Dengan nyala api berkobar yang menelan tubuhku
Aku adalah buruan dari kematian
Ketika ia tak berhasil menculik nyawa kembaranku
Harmony …
Harmony …
Nyanyikan aku sebuah lagu
Lagu pengantar kematian ..
Gravitasi menarikku ke dasar. Aku tenggelam dalam lautan kebingungan
Menunggu matahari tenggelam hingga cahaya remanglah satu-satunya penunjukku
Aku didera ketakutan
Seorang gadis dengan gaun putih yang memegang tangkai lili mengamatiku
Mengajak bicara, namun hanya diorama bisu yang kutahu
Ia menyuruhku untuk kembali
Ini belum waktunya untukku mengetahui rahasia besar
…
Bau desinfektan dan alkohol menyerang indra penciumanku. Begitu perlahan cahaya terasa menyengat di mata. Cahaya neon panjang yang diletakkan berderet di sepanjang atap. Hazelku perlahan mengenali warna. Putih mendominasi ruangan ini. Tirai-tirai putih yang menjadi pembatas. Kuperhatikan dinding-dinding tempat diletakkan beberapa lukisan bergerak. Ternyata aku dibawa ke rumah sakit penyihir.
Kesadaran membawaku pada rasa sakit yang menyengat di sekujur tubuh. Begitu kuperhatikan balutan perban. Aku pasti mengalami luka bakar karena kejadian di taman itu. Aku kembali mengingatnya. Merunut peristiwa yang sangat cepat terjadi. Ketika pepohonan mulai terbakar hingga api menjalari tubuhku. Aku pingsan begitu seseorang yang entah siapa menarikku tercebur ke dalam kolam.
Aku menoleh ke arah pemuda pirang yang tertidur di sebelah ranjangku. Ia menjadikan kedua lengannya sebagai bantal. Kemudian aku beralih mengamati nakas di sebelahku. Mataku menyipit begitu menemukan benda ganjil diletakkan disana. Sebuah vas bening dengan sebatang mawar putih yang masih segar. Draco tak pernah memberikanku mawar putih. Austin tak mungkin kemari. Dan siluet mimpi membuatku tersadar.
"Harmony?" bisikku pelan pada diri sendiri.
Aku bangkit perlahan. Rasa sakit menyengat lebih begitu kugerakkan tubuhku. Aku turun dari ranjang rumah sakit kemudian berjalan keluar.
Langkahku membawaku menyusuri koridor panjang ini. Ini mungkin sekitar pukul lima pagi. Udara dingin menusuk masih mencoba membunuhku. Aku seperti mumi yang dibalut perban dan ramuan-ramuan. Hanya selembar baju pasien yang menutupinya. Ruanganku tadi tentu disihir agar selalu hangat. Sungguh kontras dengan keadaan di luar.
Aku masih mencari. Aku yakin gadis itu kemari. Apa yang ia lakukan? Maksudku, aku sungguh ingin tahu apa yang ia rencanakan. Setidaknya jangan menjadikanku seperti orang bodoh saat aku menggantikan posisinya untuk sementara.
Rasa panas menguasai wajahku. Dan dengan bodohnya liquid bening ini menerobos seenaknya dari kelopak mata. Aku tahu mendekatinya dan mencarinya adalah kesalahan. Itu bisa memicu kutukan api naga muncul kembali. Tapi setidaknya jangan biarkan aku seperti orang bodoh yang disuruh menikmati peran ini. Dengan kenyataan mengerikan bahwa mungkin saja semua ini akan diambil dariku suatu saat. Aku mengusap mataku yang berair.
Dan begitu kubuka mataku, aku melihatnya. Pemuda pirang platina yang berjalan ke arahku dengan wajah cemas. Tanpa bicara ia menuntunku kembali ke ruangan. Memintaku untuk kembali beristirahat. Aku merasakan aliran morfin di nadiku lebih deras begitu Draco melonggarkan selangnya. Dan menit-menit berikutnya aku kembali diculik mimpi.
…
…
Harmony
Harmony
Nyanyikan aku sebuah lagu
Lagu pengantar kematian …
Kubuka hazelku perlahan. Rasa kantuk mulai kehabisan peran. Morfin dosis besar yang dialiri ke dalam nadiku telah benar-benar berada pada limit batas. Dan aku mulai bisa merasakan sengatan rasa sakit di kulitku. Kuperhatikan beberapa lembar perban telah dilepas. Kini hanya tinggal bagian dada dan perut yang dibalutinya. Entah karena luka dalam, karena jika kuingat kembali, perutku memang terantuk sesuatu agak keras saat tercebur ke dalam kolam.
Siapa yang menceburkanku ke dalam kolam?
"Apa kau menceburkanku ke dalam kolam saat kebakaran itu terjadi?" tanyaku pada pemuda pirang yang tengah mengamati jendela. Ia agak terkejut melihatku bangun.
"Syukur kau sudah sadar, Mony. Aku bahkan tak tahu sama sekali. Aku dan orang tuamu tahu setelah beberapa orang datang ke manor dan memberi tahu bahwa kau telah ada di rumah sakit muggle. Kami segera memindahkanmu kemari. Agar lukamu cepat sembuh."
"Begitu?" tanyaku lebih kepada udara kosong. Entahlah, mungkin hanya satu dari banyak orang baik yang berani melakukannya. Aku masih mengingat dengan baik bagaimana tubuhku menyala di tengah taman yang ditutupi salju. Sepertinya hanya orang gila yang mau memelukku dan menceburkan diri kami dalam kolam. Tempat satu-satunya api dapat menghilang.
"Apa yang kau lakukan di taman?" tanya Draco.
"Hanya mencari tahu sesuatu," balasku pelan.
"Aku kebingungan mencarimu."
Aku meliriknya kemudian tertawa mengejek. Mencariku? Mencari gadis yang telah ditidurinya semalam?
"Apa kau sering melakukan itu, Malfoy?" tanyaku.
"Kau cemburu?" tanyanya dengan seringai mengerikan.
"Hanya jawab saja," balasku jengah.
"Kau yang pertama," jawabnya. Aku menyipitkan mata.
"Kau yakin?" tanyaku menarik napas panjang.
"Dan jika kita melakukannya lagi, itu jadi kau yang pertama dan kedua. Begitu seterusnya, Harmony Millow."
Penekanan pada dua kata terakhir mau tak mau menarik perhatianku lebih. Rasa sakit menjalar tak hanya di permukaan. Aku ditampar lagi oleh kenyataan mengerikan bahwa pemuda di depanku ini jelas bukan milikku. Ia milik Harmony. Yang mungkin akan ia ambil jika sudah kembali.
0o0o0
00
Satu bulan berlalu.
Kuperhatikan sisa-sisa pepohonan di taman kota setelah kebakaran hebat dulu. Dinas tata kota menggantinya dengan tanaman baru dan menatanya ulang. Mereka giat berbenah atas kerusakan yang belum mereka temukan penjelasannya. Atas kerusakan karena kutukan api naga yang membawaku menuju Harmony Millow. Di tempat ini.
Bumi mulai kehilangan salju yang mencair membentuk aliran sungai kecil. Musim telah beranjak, dan semi memainkan tugasnya. Ketika aroma rumput segar menggelitik indra penciuman. Atau serbuk sari bunga-bunga yang melayang ringan di udara. Musim semi yang mengantarkanku pada kebuntuan. Karena setelah kebakaran hebat itu, aku tak lagi mencarinya.
Aku menarik napas dalam. Berusaha memasukkan sebanyak mungkin kehangatan yang baru saja menguasai bumi. Ketika kulirik pemuda pirang di sebelahku yang masih mengamati keadaan taman. Aku memang memintanya menemaniku beberapa saat untuk jalan-jalan.
Satu bulan berlalu dan ini sungguh berbeda. Aku tak tahu lagi harus menyebut apa perasaanku pada aristokrat Inggris ini. Entah terlalu bodoh atau ceroboh hingga lupa bahwa tugasku hanyalah bermain peran. Ia bukan milikku.
Tubuhku sesekali masih terus menggigil walau pun dingin sudah lama pergi. Kulitku yang baru tumbuh merupakan jaringan rapuh yang jika tergores sedikit saja akan menimbulkan ruam merah, bahkan sobek. Kulit baru ini berwarna putih merona merah, seperti luka yang terbuka. Dokter di rumah sakit sihir Paris yang mengganti kulit lamaku yang telah hangus karena api. Ia menumbuhkannya seperti menumbuhkan tulang yang patah, tentu dengan ramuan-ramuan dan pengobatan super melelahkan.
"Kita kembali sekarang?" tanya Draco tiba-tiba. Ia menggenggam tanganku lembut. Aku mengangguk, dan detik kemudian kami ditarik pusaran waktu. Dispparate.
…
Kami berjalan di sepanjang koridor manor, kemudian berbelok dan masuk ke ruang tengah. Manor yang lengang dan sepi seperti biasanya. Orang tuaku memang selalu bepergian. Hanya ada Willy. Dan kali ini Draco sedang berbaik hati untuk menemani wanita malang ini.
Kami sarapan di meja di bawah jendela besar yang mengarah ke taman. Sehingga cahaya matahari tak kesulitan untuk mengenai kami. Teh lemon dan kroisant yang dilahap dalam keheningan. Tak ada obrolan yang terlalu spesial akhir-akhir ini. Pemuda di depanku, semenjak kebakaran di taman itu kini lebih sering memperhatikan dalam diam. Seakan berniat menjaga tapi tak diperlihatkan secara langsung. Ia lebih sering mengecup puncak kepalaku dengan tatapan melunak. Menenangkan. Tak ada masalah sepertinya, dan aku mulai memiliki perasaan lebih dari sebelumnya.
Gravitasi menarikku, dan aku tenggelam lebih dalam. Kuteguk teh lemon perlahan seraya memperhatikan iris kelabu yang melempar pandang ke arah taman. Kulit wajahnya berbinar diterpa matahari musim semi. Dan perlu waktu lebih banyak untuk menikmati keindahannya. Keindahan yang berangsur semakin membesar. Aku bahkan tak ingat bagaimana cara untuk membencinya. Aku hanya mengingat bagaimana seorang Draco Malfoy dari masa kemasa. Ketika kegelapan melingkupinya, hingga permainan peran ini yang mengantarkanku untuk lebih mengenal sosoknya. Seseorang yang membuatku melabuhkan segala perasaan.
"Apa baik-baik saja jika kau pergi ke acara peresmian perumaahan Shier?" tanya Draco tiba-tiba. Memecah keheningan antara kami. Aku meliriknya sebentar kemudian meletakkan cangkir berisi teh lemon. "Tak ada masalah. Aku sudah lebih baik." Pemuda itu tersenyum singkat, kemudian mengalihkan pandang kembali pada keadaan alam di luar jendela. "Kujemput kau di kamarmu jam delapan malam."
"Kau mau pergi dulu?" tanyaku agak terkejut. Ia mengangguk cepat. "Ke Inggris. Aku perlu membawa setelan. Dan ada beberapa hal yang perlu kutangani di Malfoy Corp. Kutinggal kau sebentar. Tak apa?" tanyanya agak khawatir. Aku menggeleng pelan seraya tersenyum. "Aku baik-baik saja."
0o0o0
00
Aku mematung di hadapan cermin besar di kamar Harmony. Memperhatikan bagaimana pantulan diriku dibalut gaun panjang yang menutupi tubuhku. Aku sengaja mengenakan gaun lengan panjang agar lukaku tak terekspos secara langsung. Untuk menghindari kemungkinan terluka karena jaringan kulit ini masih rapuh.
Tak menunggu lama, pukul delapan malam perapian mengobarkan api hijau. Memunculkan pemuda pirang mengagumkan yang dibalut setelan hitam dari jalur floo. Ia mengulurkan tangannya padaku kemudian menarikku lembut kembali ke dalam perapian. Dan detik berikutnya, jalur floo membawa kami ke sebuah perapian di gedung Millow Corp.
…
Aku memperhatikan keadaan Ballroom ini. Ruangan besar yang disihir begitu mempesona dengan latar coklat madu. Seluruhnya adalah penyihir, dan aku yakin tak akan menemukan Austin di tempat ini. Ayah ibuku ada di sudut lain ruangan ini tengah berbincang dengan orang tua Draco dan beberapa penyihir penting lainnya. Bisa kulihat Umbridge berbicara panjang lebar seraya tertawa dengan cekikikan setan miliknya.
Aku dan Draco berjalan menjauhi kerumunan. Kami menuju lantai dansa yang dibalut cahaya samar coklat keunguan dengan alunan jazz lembut. Beberapa mulai berdansa pelan. Dan pemuda di sebelahku segera menarikku sehingga kini kami berhadapan. Ia mengalungkan tangannya di pinggangku. Menungguku membalasnya. Sambil menunduk menahan senyum merekah lebar di wajahku, aku mengalungkan tanganku di lehernya.
"Tak perlu malu-malu," bisiknya lembut. Wajahku memanas dan aku bisa menebak bagaimana warnanya. Seperti kepiting rebus atau semerah sup tomat mungkin. Aku merona. Dan tubuh kami bergerak mengikuti alunan musim semi yang di hadirkan di ruangan ini. Lembut menjalar dengan wangi khas kerinduan. Berpadu untuk beberapa waktu. Seakan tak mau kehilangan momen romansa menyejukkan ini. Aku bersandar di dadanya dan menutup mata. Siluet menyenangkan bersamanya berkelebat sempurna. Jelas di pikiran tergambar. Ya, berawal di balkon rumah si Shier ketika hujan meteor aquarids memainkan tugasnya. Ketika ia mengajak untuk meminta sebuah permintaan dalam hati.
Semoga semua kerinduan ini tak pernah berakhir.
Memori itu berganti pada tepian sungai Seine yang berhadapan langsung dengan Eiffel yang menjulang. Ketika untuk pertama kalinya hatiku dijalari kehangatan. Hari-hari yang dilalui begitu mengantarkanku kepada sebuah rasa yang sulit didefinisikan. Dan ketika malam yang tenang, biar temaram dan kunang-kunang menjadi saksi ciuman pertama kami. Hingga penyatuan kami di bawah badai salju tahun ini.
Aku mencintainya.
Tapi aku tak bisa apa-apa, jika suatu saat Harmony mengambilnya.
Karena yang kucintai nyatanya mencintai yang lain.
"Apa yang kau pikirkan?" bisiknya lembut. Kubuka mataku begitu siluet tersebut menghilang. "Apa kau mencintaiku?" tanyaku pelan. Ia tertawa kecil kemudian menatapku. "Aku mencintaimu." Aku menarik napas panjang begitu kenyataan menarikku untuk terjun bebas. "Bagaimana jika aku bukan seperti yang kau tahu?" tanyaku.
Ia diam. Alunan jazz lembut menghilang. Dan cahaya temaram berganti terang begitu keriuhan tepuk tangan terdengar. Kami menjadi pusat perhatian. Aku melepaskan diri dari pelukannya begitu tatapan matanya berubah.
Entahlah, yang kulihat hanyalah diorama bisu bagaimana kolega-kolega menyalami kami berdua. Membicarakan dan memberi selamat tentang keberhasilan proyek Shier, atau tentang pertunangan kami. Aku tak bisa mendengarnya dengan jelas karena dunia mendadak sunyi.
Aku mundur beberapa langkah hingga menubruk entah siapa. Aku menoleh cepat dan mendapati seorang pemuda berambut hitam yang segera meminta maaf padaku. Ia tersenyum kecil dan mengatakan sesuatu yang masih tak bisa kudengar. Aku mengingatnya. Pemuda yang memayungiku di pemakaman Harmony dulu.
"Anda baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Kucengkeram kuat kepalaku begitu menyadari bahwa masalah Harmony benar-benar belum selesai. Siluet mengerikan itu menamparku kembali. Bagaimana jurnal-jurnal Harmony berserakan dan akhirnya terkumpul di diriku. Bagaimana malam saat aku membongkar makamnya dan mengetahui mayat itu hanyalah kayu gelondong yang disihir dengan jampi transfigurasi.
Pemuda ini tahu siapa aku.
Dan siapa lagi di tempat ini yang mengetaahui kebohonganku?
Mendadak aku diserang ketakutan tentang penyamaranku. Seakan takut terbongkar. "Aku baik-baik saja," ucapku cepat kemudian berjalan cepat menjauhinya. Aku berlari menuju pintu keluar untuk menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Dan begitu berhasil melewati ambang pintu, rasa bebas menguasaiku.
Udara malam menarikku pada kelegaan. Kujatuhkan diri di atas rumput basah, dan kulitku disengat dingin yang menerobos kulit. Kutangkupkan wajahku ke dalam telapak tangan. Membiarkan tangis pecah. Aku ketakutan. Segala peran ini mungkin akan terbongkar. Kalau pun tidak, entah kapan Harmony mungkin akan kembali dan meminta posisinya.
Tapi apa yang kulakukan? Bukankah aku muak dengan segala peran ini? Bukankah aku ingin segera lepas dan kembali menjadi seorang Hermione Granger? Tapi semua ini terasa rumit. Banyak hal membelitku. Membuatku seakan dipaku pada posisi ini. Ingin pergi tapi tak bisa pergi.
Entahlah. Perasaan ini mengoyak duniaku. Dan kegilaan ini membesar begitu kusadari, untuk kesekian kalinya, aku mencintai Draco Malfoy.
Ya. Aku melakukannya.
Kubuka mataku begitu kurasa entah siapa memegang pundakku. Aku segera menoleh dan mendapati pemuda pirang platina itu menatapku.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya. Aku mengangguk seraya mengusap paksa air mata.
Ia berjongkok untuk menyejajarkan mata kami. Menatapku persis ke dalam hazelku. "Kau tak baik-baik saja. Aku sudah tau sejak lama. Bukankah begitu Nona Millow?" kelabu itu gelap menatapku. Dan seringai mengerikan tergambar di wajahnya. Tubuhku lemas dan lututku bergetar. Hazelku terbelalak. Aku benar-benar jauh dari baik-baik saja.
"Maksudku Nona Hermione Millow?" tanyanya dengan suara mengerikan.
…
…
TBC
Ah dear, apakah ini klimaks? The soul sebenarnya sudah selesai kerangkanya, hanya perlu dikembangkan. Masih ada beberapa chapter lagi sampai ke ending. Mungkin semuanya jadi sekitar 10 atau sebelas chapter. Tapi sejujurnya, Diloxy masih bingung dengan ending. Well, kalian mau ending yang seperti apa? Happy? Sad? Atau menggantung?
Ditunggu review kalian. ^_^
