"Tidakkah kau percaya apa yang sudah kau lakukan, Granger? Berpura-pura sebagai seorang Harmony Millow?" suara seraknya merobek gendang telingaku. Dan pukulan telak itu menghantamku tepat. Kepalaku terasa berdenyut. "Aku saudaranya. Jika kau tak suka, kau bisa pergi dari semua kebodohan ini!" teriakku.

Seringai yang muncul di wajahnya begitu memuakkan. Aku perlu menahan kepalan tangan untuk tidak mencari masalah lebih di tempat ini. Segalanya sudah menjadi buruk, dan sepertinya akan bertambah buruk. "Oh yeah! Manis sekali. Tapi Granger, tidakkah kau pikir bahwa aku mungkin sudah tahu tentang kebohonganmu dari awal? Apa kau tidak menyadari perubahan sikapku pada Harmony dulu sampai kau menggantinya? Kurasa kau juga mencari tahu itu, bukan? Apa sekretaris mugglemu tak pernah menjelaskan?"

Tawa memuakkan memenuhi atmosfer malam ini. Tubuhku menggigil menahan amarah yang meluap-luap. Dengan gerakan refleks, kucabut tongkat dari saku mantel dan menusukkannya tepat di leher ferret brengsek di hadapanku.

"Apa maumu?" desisku dengan segala kemarahan yang membuncah dan luruh dalam bulir bening. Panas memenuhi wajahku, dan aku tak bisa membendung lagi semua perasaanku.

"APA MAUMU, MALFOY?" teriakku lantang.

"Kau mau tahu tentang Harmony Millow? Aku yakin kau mencarinya."

Peganganku melemah, dan perhatianku teralihkan. Draco mendorong tubuhku. Dan detik berikutnya aku telah terjepit di dinding marmer yang tersembunyi. Ia menghalangiku dengan keras sehingga sulit untuk bergerak. Aku berontak sebisaku, meraung untuk dilepas, tapi ia masih setia dengan seringai memuakkan miliknya.

"Dengar aku Granger!" ucapnya berbisik. Masih menahan tubuhku dengan keras ketika aku terus mencoba berontak. "Apa selama ini aku pernah menyakitimu saat kau menjadi Harmony?"

"Kau sedang melakukannya, bedebah!" desisku. Ia menggeleng cepat kemudian menatap mataku tajam. "Dengar Granger. Jika aku berniat jahat, aku pasti sudah membongkar penyamaranmu sejak lama saat menjalankan proyek Shier. Tapi aku menjaganya dengan rapi walau pun kau sendiri yang beberapa kali mengacaukannya. Aku tahu yang terjadi. Aku bisa membantumu. Hanya saja kau harus mengikuti semua kataku." Aku palingkan wajah segera menatap dalam kelabu miliknya. "Seperti apa? Membiarkanmu meniduriku lagi?"

"Aku mencintaimu."

Tatapannya melunak. Ia melepaskan dirinya yang menahan tubuhku. Membiarkanku ambruk dengan rasa sakit yang menyengat menjalari tubuh. Dingin ini menusuk tepat ke paru-paru. Memenuhi dadaku dengan temaram menyesakkan. Aku bangkit dengan segala kemarahan yang sudah meluap tak tertahan. Cukup dengan kebohongan.

PLAKKK

Telapak tanganku terasa perih. Ruam merah membekas di pipi pucat miliknya. Ia diam. Tak melakukan apa pun. Seperti akan tetap diam jika aku kembali menamparnya.

"Kau bebas melakukannya," ucapnya tenang. Aku berjalan menjauhinya dengan genggaman erat pada tongkatku. Bersiap menghilang entah kemana. Dan sebelum aku ditarik pusaran waktu, aku menoleh padanya. "Kau tak perlu mencintaiku. Karena tak ada alasan untuk kau bisa mencintaiku, Tuan Malfoy yang terhormat!"

Harry Potter © JK Rowling

Hurt/Comfort, Mysteri

Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll

Draco – Hermione – Harmony (OC)

Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju

Seri multychapter dari Replace

Greatest thanks for your review, Guys! Little Dramione scene on this chap. Meet golden trio and another secret.

Hope you like it. Enjoy.

The Soul © Diloxy

CHAPTER 7

Tubuhku terhempas keras ke atas entah apa yang terasa dipenuhi air. Padang ilalang tinggi yang musim semi ini berubah menjadi rawa karena salju yang mencair mencari tempat rendah untuk bermuara. Malam kelam dengan angin berhembus cukup kencang. Ketika aku menengadahkan kepala, dapat terlihat jelas bagaimana gugusan bintang bersusun beraturan.

Dingin menjalar ke seluruh permukaan kulitku. Ketika kusadari aku memang tercebur ke dalam genangan ini, dan airnya merembes masuk lewat celah sempit di gaunku. Susah payah kucoba bangkit. Aku berjalan menyeret bagian bawah gaunku yang menjuntai. Menariknya karena membuatku susah untuk berjalan. Aku melangkah cepat menuju sebuah rumah kecil di tengah padang ini. Rumah bersusun ke atas yang tak beraturan bentuknya.

Inilah tempat yang terpikirkan olehku tadi. The Burrow yang tenang. Aku akan diterima dengan baik disini. Karena nyatanya, aku masih tak bisa dan tak mau untuk kembali ke manor. Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi. Aku tak tahu apa aristokrat Perancis itu akan melindungiku. Aku bahkan mengira bahwa semua ini hanyalah kebohongan memuakkan yang digunakan untuk menipuku. Tapi untuk apa? Memangnya siapa aku?

Langkah kakiku membawaku ke teras rumah keluarga Weasley. Dengan cahaya yang berpendar. Dan bisa kudengar keriuhan di dalamnya. Kuketuk perlahan pintu rumah tersebut. Dan tak perlu waktu lama. Seseorang membukakan pintu. Ginny Weasley. Dengan wajah terkejut.

"Merlin! Apa yang terjadi, Mione?" tanyanya memperhatikan seluruh tubuhku yang kusut. Dan saat itu, aku ambruk seketika di depannya.

0o0o0

00

Siluet matahari berwarna keperakan mengenai kelopak mataku. Ketika kuhirup udara pagi ini. Aku masih perlu sesekali menggosok mata untuk memperjelas pandangan. Masih berada di atas kasur dan belum berniat untuk bangun, aku merasa seseorang masuk ke kamar. Suara decitan pintu kayu terdengar nyaring. Ditambah suara batuk-batuk kecil yang sudah tak asing. Ada perasaan yang membuncah antara kerinduan dan bahagia bercampur mengingat ini adalah hal nyata yang kutinggalkan beberapa waktu ini.

"Kau baik-baik saja, Mione?"

Suara Ron penuh kekhawatiran. Ia merangkak naik ke ranjangku kemudian duduk di sebelahku. Sesekali menempelkan punggung tangannya di dahiku. Memeriksa suhu tubuhku mungkin.

Aku mengangguk mengisyaratkan aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena sesungguhnya aku merasa nyaman berada disini.

Enam tahun berlalu sejak peperangan Hogwarts. Kami, The Golden Trio memang sibuk dengan rutinitas masing-masing. Ron dan Harry beruntung bekerja di tempat yang sama sebagai Auror, sementara aku melanjutkan studi di Oxford. Jauh dari mereka. Kami masih terus berkirim surat dan beberapa kali bertemu untuk menghabiskan waktu bersama.

Dan jangan tanyakan bagaimana hubungan absurd yang terbentuk antara aku dan Ron saat perang Hogwarts berakhir. Pada intinya, kami memang lebih baik hanya berteman. Walau pun aku tahu bahwa Ron masih menginginkan lebih.

Ginny membawakan aku bubur labu panas yang baru di masak Molly. Mereka melihat keadaanku masih dengan tatapan khawatir. Aku belum bercerita, dan mereka belum berani bertanya. Menit-menit berlalu dengan obrolan ringan seperti bertanya kabar, menceritakan bagaimana kesibukan Ginny dan Ron, anak kedua Fleur dan Bill yang baru lahir, rencana pernikahan George dan Angelina, dan beberapa hal lain. Seraya berusaha menghabiskan sarapanku, aku bisa tertawa lepas.

Daun pintu kamarku berayun. Memunculkan seorang pemuda dengan rambut hitam acak-acakan, jas auror dengan beberapa noda, juga kaca mata bulat yang persis kukenali. Mata jade miliknya menatapku dengan iba. Dan ketika ia duduk di sebelah Ron, aku segera menghambur memeluk mereka berdua. Tangisku pecah dalam keheningan.

"Aku merindukan kalian," bisikku parau. Harry menepuk-nepuk punggungku dan membelai rambutku. Begitu pun dengan Ron. "Kabar terakhir yang kami dengar adalah kau ternyata anak dari aristokrat Perancis," ucap Ron. Aku menghela napas panjang ketika siluet mengerikan itu kembali muncul. Ya, masalah yang menggerogotiku beberapa waktu ini.

Aku masih ingat benar. Setelah kebakaran di Shier, tepat saat kepulanganku memperhatikan bekas puing-puing Shier yang gosong, juga jasad-jasad yang tak sempat menyelamatkan diri. Aku dipecat dari kementerian. Dan keesokan harinya, aku sudah dikejutkan dengan orang-orang asing yang mengaku memiliki hubungan darah denganku. Memintaku untuk tinggal bersama mereka. Ketika aku hanya sempat pamit dan menceritakan keanehan secara garis besar pada Ron dan Harry, aku pergi. Untuk memulai masalah baru dengan menjadi seorang Harmony.

"Maaf selama ini aku tak mengabari kalian, tapi saat ini aku benar-benar butuh bantuan kalian untuk menganalisis suatu masalah," pintaku. Harry mengangguk mempersilakan. "Kalian tentu ingat tentang kepergianku ke Paris. Sebenarnya sejak saat itu aku menggantikan posisi kembaranku yang tewas dalam kebakaran Shier."

"Kembar?" tanya Ron. Aku mengangguk cepat. "Kau mengganti posisinya? Untuk apa?" tanya Harry. Aku mengeluh pelan. "Entahlah, aku tak bisa berpikir jernih awalnya. Aku menerima saja sesuatu yang terjadi padaku. Karena kurasa aku turut ambil bagian dalam kematian kembaranku. Ada suatu magis hitam antara kami yang membuat percikan api jika kami berdekatan. Dan itulah yang membakar Shier." Harry mengernyit heran, "Bukankah itu karena kutukan api naga?" Aku mengangguk cepat. "Memang. Tapi apa pernah ditemukan pelakunya?" Baik Ron maupun Harry menggeleng.

Aku mencoba untuk tetap tenang dengan mengatur napas sesekali. Membiarkan udara pagi mengganti kepenatan yang menjalari kepalaku sejak kemarin. Harry tampak berpikir keras, sementara Ron masih menatapku dengan pandangan khawatir.

"Saat kebakaran itu terjadi, baik aku maupun kembaranku sedang berada disana. Di Shier. Dan dari jurnal-jurnalnya yag kubaca, ia memang berniat untuk menemuiku. Ia sudah tahu banyak hal tentang magis hitam tersebut."

"Bukankah itu aneh jika kembaranmu tahu resiko kedekatan kalian, tapi masih juga mencoba menemuimu," ucap Ron.

"Kurasa ia berencana mematahkannya," balasku.

"Tapi bukankah sia-sia. Nyatanya ia tewas dan kurasa kau terbelit dengan peran itu, Mione!" ucap Harry. Kutangkupkan wajahku ke dalam telapak tangan seraya mengingat hari-hari yang telah kulewati untuk mendalami dan mencari tahu tentang Harmony. Dan begitu ingatan di malam aku menggali kuburnya, aku hampir memekik. "Kurasa kembaranku belum tewas. Dan ini yang menjadi pangkal masalahnya. Aku merasakan banyak keganjilan, semua itu terjawab saat aku menggali makamnya. Aku hanya menemukan kayu gelondongan. Jelas saat pemakamannya, ia menggunakan jampi transfigurasi pada kayu itu. Aku menemukan jampi tersebut di beberapa jurnalnya. Dan kuyakin ia menuntunku untuk bisa mengerti rencananya."

"Dan kau sudah mengerti?" tanya Harry. Aku menggeleng. "Aku kusut. Buntu. Ia pernah mengirimiku patronus dan berakhir dengan kulitku yang hangus terbakar api." Aku perlihatkan bagian permukaan kulitku yang masih berwarna ruam kemerahan.

"Kebuntuan itu berakhir dengan kebingungan. Aku tak tahu harus percaya pada siapa. Bahkan aku mulai bertanya, apa aku harus benar-benar menyelesaikan keanehan ini? Aku ingin pergi begitu saja dan kembali menjadi Hermione Granger."

"Kau bisa melakukannya sekarang, Mione!"

"Tapi aku penasaran setengah mati dengan Harmony Millow. Belum lagi ada orang lain yang ternyata mengetahui penyamaranku. Tahu kebohonganku. Ia tunangan Harmony."

Suaraku melemah pada bagian akhir. Citraan pemuda pirang platina berkelebat jelas dalam kepalaku. Jika aku mengatakan Draco orangnya, mereka akan terkejut setengah mati. Dan jika aku mengatakan apa saja yang telah kami lalui, mungkin Ron dan Harry akan ragu bahwa aku adalah Hermione.

"Siapa?" tanya Harry. "Kau tak akan menyangkanya. Aku pun begitu awalnya," jawabku. Aku menarik napas pelan. "Draco Malfoy."

"Kau bercanda?" timpal Ron. Aku menggeleng pelan. "Bagaimana bisa dia tak mengenalimu?" tanya Ron. "Entahlah, aku sendiri bingung Ron. Dan terakhir kali, ia tahu itu aku. Astaga, demi Merlin. Mengapa aku bisa sebodoh itu mengira dia akan bisa dikelabuhi. Memangnya bagaimana dia bisa lupa dengan darah lumpur kepunyaan Hogwarts?" Aku tertawa mencibir diri sendiri.

"Dan anehnya ia mau bertunangan dengan seseorang yang mirip denganmu," lanjut Harry. Aku mengangguk. Ya, jika kuingat foto bergerak Harmony. Gadis itu secara fisik memang cetak biru dari diriku. Lantas apa yang membuat Draco tak berpikir yang aneh-aneh melihat ada seorang aristokrat Perancis yang mirip darah lumpur Hogwarts? Atau karena ia sudah tahu?

Dan untuk kesekian kalinya, aku dibuat sakit kepala oleh semua kerumitan ini. Aku jatuh kembali ke atas kasur yang empuk. Membenamkan wajah ke dalam bantal untuk meredam raunganku yang makin menjadi. Kepalaku mau pecah, dan pikiranku berontak. Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini. Aku harus segera menemukan Harmony. Sial, dimana dia saat ini? Oh yeah, mungkin saja ia tengah tertawa girang karena berhasil mengerjaiku.

0o0o0

00

Suara nyaring terdengar dari dentingan kerang-kerang laut dan bell pintu yang digantung di jendela. Angin pantai yang menelisiknya. Mengibarkan gorden berwarna putih tulang yang menghalangi cahaya menyengat matahari awal musim semi. Angin pantai yang mengecup kulitku lembut. Membuat mataku terpejam beberapa saat untuk merasakan belaian yang kurindukan. Sepi ini adalah teman setia ketika dentingan mulai kehabisan suara. Aku tak perlu menghabiskan waktu dalam penat. Sudah seharusnya kulempar jauh dulu segala kerumitan ke ujung cakrawala. Biar ombak pantai ini menghempasnya. Kemudian menenggelamkan aku sejenak. Tak apa aku tercebur sesaat, karena aku yakin aku akan terangkat kembali. Untuk dibalut sunyi.

Helaan napasku masih sama pelan dengan deburan ombak. Ketika jemari renggangku menyusuri tembok berkapur dan bambu-bambu yang disusun seadanya. Ini indah. Dan masih sama seperti beberapa tahun lalu ketika untuk terakhir kalinya aku kemari. Rumah pantai milik Bill dan Fleur. Mengingat pusara Dobby. Setelah lepas dari kejahatan di Malfoy manor.

Aku mengingatnya kembali

"Kau mau bermain dengan Dommy?"

Suara Ginny memecahkan lamunanku. Dan ketika aku menoleh padanya, aku disambut tawa paling natural yang pernah tercipta. Dommy kecil yang baru berusia satu bulan. Anak kedua Fleur. Ginny memintaku untuk menggendongnya. Awalnya aku takut akan menyakiti si gadis kecil, namun Ginny memaksa. Dan sebuah keajaiban, aku merasa nyaman.

"Apa yang kau pikirkan, Mione? Aku tahu kalau masalahmu bukan hanya tentang kembaranmu. Begitu bukan?" tanya Ginny mengawali. Baiklah, entah karena kami sesama perempuan, tapi tebakannya memang tepat. Dan membicarakan masalah hati kepada Ginny sepertinya bukan hal yang buruk.

"Kau bisa berbagi, Mione. Apa ada hubungannya dengan perasaan? Kau memiliki hubungan dengan seseorang saat menyamar?" tanya Ginny. "Sepertinya begitu," jawabku mengedikkan bahu. Gadis itu tersenyum pelan.

"Apa yang menjadi masalahnya? Kau bisa cerita, aku akan tutup mulut."

"Entahlah, aku bingung harus mulai darimana karena sejujurnya, aku terbelit perasaan sendiri."

"Kau belum pernah seperti ini sebelumnya. Dan seharusnya bukan masalah. Apa masalahmu karena ia menganggap kau adalah kembaranmu?"

"Emmhh, awalnya kurasa begitu. Tapi ternyata ia bahkan sudah tahu dari awal. Begitu yang dikatakannya."

"Bukankah itu baik?"

"Sama sekali tidak baik jika orang itu adalah asing. Atau setidaknya aku berhubungan baik sebelumnya. Karena masalahnya…"

Aku terhenti. Mulutku terkatup tak bisa bicara. Astaga, apa aku perlu mengatakannya? Bahkan yang aku katakan pada Ginny belum apa-apa. Tapi, sebelum aku selesai memikirkan kata-kata yang pas untuk menjelaskannya, Ginny hampir memekik dengan tatapan terkejut.

"Merlin! Jangan bilang bahwa pria itu adalah…"

"Ayolah Ginny. Aku memang sudah gila."

"Bagaimana bisa? Maksudku, seorang Draco Malfoy-" Ginny berbisik, "-bisa membuatmu jatuh cinta? Kau bilang dia sudah tahu sejak awal. Apa yang kau pikirkan, Mione? Apa kau berpikir dia merencanakan sesuatu?"

"Aku tak bisa berpikir. Aku bahkan tak berani memikirkan banyak kemungkinan antara Draco atau pun kembaranku yang sekarang entah dimana."

Hening merayapi kami. Ketika kegamangan menguasaiku lagi. Deburan ombak dan dentingan kerang-kerang mengisi sunyi. Ginny menunggu dan memperhatikan. Astaga, apa aku salah?

"Apa aku terlalu bodoh untuk bisa jatuh cinta?" tanyaku pelan. Ginny menggeleng. "Kadang cinta memang mengejutkan. Tanya hatimu, Mione. Apakah perasaan yang kau punya memang layak diperjuangkan?"

"Aku tak tahu.

"Dan yang terpenting, apa ia mencintaimu?"

Pertanyaan itu mencambukku. Terakhir kali kuingat pemuda itu berkaata mencintaiku. Tapi bukankah selama ini yang dilakukannya adalah kebohongan? Berpura-pura tak mengetahui penyamaranku. Tapi, jika memang ia berniat jahat, mengapa tak ia bongkar saja penyamaranku? Apa yang ia tunggu? Apa yang ia rencanakan? Bahkan apa ia bersekongkol dengan Harmony?

Obrolanku dengan Ginny terpaksa harus berakhir ketika Ron menghambur ke ruangan beserta yang lainnya. Ginny hanya memberi isyarat untuk memikirkannya baik-baik. Ya, seorang Draco Malfoy. Apa yang bisa dipercaya darinya?

Aku mengeluh pelan. Membiarkan alunan angin menimang khayalanku entah kemana. Menenangkanku. Menenangkan Dommy kecil. Untuk beberapa saat gadis kecil ini tidur di pangkuanku. Aku memperhatikannya terus menerus. Raut wajah tenang tanpa dosa, dengan gambaran senja yang mulai menggilas cakrawala.

Bermain-main dengan si kecil Dommy dan memandangi langit malam. Sesekali menyimak dan ikut berbicara dalam obrolan ringan antara aku, Ginny, Harry, Ron, Bill, Fleur. Si kecil Tedd –anak baptis Harry- dan Victoire tengah bermain-main dengan tongkat mainan mereka. Harry memang membawa anak baptisnya setelah meminta izin dari Andromeda. Tedd yang malang, dan Harry tampak sangat menyayanginya.

Kami membicarakan banyak hal, salah satunya adalah perihal pernikahan Harry dan Ginny. Mereka akan menikah beberapa bulan lagi. Dan kabar lebih baiknya adalah Ron sedang dekat dengan teman sesama auror. Kurasa ia mulai bisa membuka hati. Tapi, memang miris memikirkan bahwa pada akhirnya hanyalah aku dari golden trio yang tak jelas nasib cintanya.

Dan mereka pun akhirnya mengejekku bahwa aku akan berakhir dengan ferret pirang itu. Aku tahu candaan mereka terlontar begitu saja, tanpa mereka ketahui bahwa aku memang memiliki perasaan lebih. Mereka tak akan mengiranya. Suatu hal yang kutolak mentah-mentah selama hidupku.

"Aku seperti merasa merindukan Hogwarts," ucapku begitu saja. Ron menepuk bahuku, "Kita kesana besok?" tanyanya dengan semangat seraya melirik Harry. Baiklah, kurasa mereka bisa mengambil cuti satu hari untuk menemani gadis depresi ini jalan-jalan.

"Aku ingin menemui ."

0o0o0

00

Aku berjalan cepat menyeberangi padang rumput yang memisahkan kastil dan pondok Hagrid. Ketika kutengok sebentar lewat jendalanya, hanya ada Fang yang menggonggong pelan. Sengaja kutinggalkan Harry dan Ron yang masih asyik dengan permainan lama mereka. Apalagi kalau bukan Quidditch. Ditambah sesi mengenang kejayaan Gryffindor dan acara pamer atau apalah namanya. Banyak anak baru yang sangat terkesima dengan mereka berdua. Pahlawan Hogwarts yang termasyur setelah perang besar.

Angin lembah ini membawa wangi rerumputan basah dan bulir-bulir kerinduan. Mengingatkan memori masa lalu yang mendadak bermunculan. Matahari sore dengan cahayanya yang khas. Jingga yang membaur seperti divergensi kristal prisma. Membentuk lembayung yang perlahan memudar warnanya.

Dan ketika diriku memasuki ambang pintu kastil yang menjulang. Aroma bebatuan tercium jelas. Aku perlu bergegas untuk menemui . Entahlah, aku merasa ingin menemuinya saja. Aku ingin menanyakan perihal pemutar waktu yang dimbil lagi olehnya dulu. Aku hanya memiliki firasat bahwa Harmony mungkin memintanya. Ya, lucu sekali memang aku bisa berpikiran sekonyol itu. Tapi bukankah semua hal aneh belakangan ini memang konyol?

Langkahku membawaku menyusuri beberapa lorong hingga akhirnya tiba di depan ruangan guru mantra dan transfigurasi kepunyaan Hogwarts. Ya, tak lupa jabatan penting yang disandangnya kini selepas kematian Snape. Kepala sekolah sihir Hogwarts.

Aku naik ke ruangannya dengan gargoyle berbentuk phoenix. Menunggu beberapa saat hingga kulihat wanita tua itu tengah duduk mengamati tumpukan perkamen lusuh.

"Granger? Senang melihatmu disini!" ucapnya menyalamiku. Aku segera memeluknya. "Kupikir ada semacam reuni. Apa kau mencari Draco Malfoy?"

"Apa?" tanyaku heran.

Apa lagi ini? Mengapa tanpa ada angin atau hujan tiba-tiba bertanya begitu? Masih dengan kebingunganku, ia kembali duduk di kursinya dan membenarkan posisi kaca matanya. "Pagi ini Tuan Malfoy datang setelah berkeliling Hogwarts. Ia bertanya padaku apakah kau kemari. Kupikir itu keadaan yang tidak biasa, Granger?"

"Aku tak tahu maksud anda," balasku segera.

"Sepertinya memang banyak yang berubah setelah kalian lulus dari sekolah ini."

"Kau bekerja dimana sekarang?" tanya guru itu.

"Paris," jawabku. Ia mengeryit heran. Aku hanya tersenyum seadanya. Sepertinya tampak aneh.

"Apa itu alasannya kau meminjam pemutar waktu lagi?" tanyanya.

Kini aku yang balik mengernyit. Wajahku pasti menunjukkan kebingungan, tapi aku segera berusaha terlihat senormal mungkin. Keadaan ini mungkin sama halnya seperti saat di restauran Paris, atau saat ada seseorang yang entah siapa mengikuti rapat bersama kementerian Inggris.

"Aku bahkan tak ingat," ucapku dengan tawa yang dipaksakan.

"Kuharap kau bisa menggunakannya dengan baik," balasnya.

Kami membicarakan banyak hal terutama perkembangan Hogwarts. Menurutnya semua menjadi lebih baik dan terkondisi. Ia meyayangkan aku yang jarang kemari beberapa tahun ini tak seperti Ron maupun Harry. Menurutnya aku bisa memberi kuliah umum untuk memberi motivasi bagi penyihir muda. Menurutnya aku adalah contoh yang baik. Ia juga bercerita tentang Neville yang saat ini menjadi guru magang Herbologi di bawah asuhan .

Waktu berlalu dan begitu kulihat keadaan di luar, warna langit telah sedemikian pekatnya. Malam telah menyelubungi kami ketika obrolan ini akhirnya menyinggung bagian sihir hitam. Kuberanikan diri untuk bertanya tentang magis hitam milikku dan Harmony.

"Apa anda tahu tentang magis hitam yang lahir dari dua penyihir kembar? Bisa memicu percikan api," ucapku.

"Aku pernah dengar. Menurut legenda itu kutukan api naga yang muncul."

"Apa bisa dihilangkan?"

"Mematahkan kutukan, maksudmu?" tanyanya seraya bangkit dan menggeser kaca matanya. Ia terdiam sejenak berpikir. Aku mengangguk cepat mengiyakan pertanyaannya. "Seingatku ada. Tapi karena itu sihir hitam, jadi mematahkannya pun dengan sihir hitam. Semacam ritual."

"Apakah itu kejahatan?" tanyaku segera. "Walau pun golongan sihir hitam, tapi kurasa berbeda dengan contoh lainnya seperti membuat horcrux yang harus membunuh jiwa untuk memecah jiwa."

"Dan emh, apa kau juga tahu tentang jampi transfigurasi dengan menggunakan teh hijau?" tanyaku. mengagguk. "Bisa bertahan beberapa hari." Aku mengingat kembali. "Apakah jika salah satu kembar pemilik magis hitam menggunakan jampi tersebut saat menndekati kembaran lainnya, kutukan api naga itu tak akan muncul?" tanyaku segera.

"Kurasa tidak." Jadi, mungkin saja kembaranku itu memang mengawasiku. Membutuhkan banyak green tea untuk jampi transfigurasi, dan ia bisa dengan bebas memataiku. Tanpa memunculkan kutukan api naga. Hebat. Lantas bagaimana ia bisa lupa memakai jampi tersebut saat di Shier dan taman kota Paris?

mengetukkan jemarinya di atas meja kayu seraya memperhatikanku. "Mengapa kau menanyakan perihal ini, Granger?" Aku balas dengan senyuman.

"Hanya ingin tahu, Profesor!"

Aku bangkit berdiri dan menyalaminya. "Kurasa Harry dan Ron mencariku. Terima kasih untuk obrolannya. Aku pasti akan kemari secepatnya," ucapku.

"Aku tunggu," balasnya dengan senyuman merekah.

Lapangan Quidditch telah kosong. Dan bodohnya aku masih mencari mereka kemari malam-malam begini. Segera kualihkan langkah kaki menuju pondok Hagrid, mungkin mereka ada disana.

Aku berjalan cepat seraya memeluk mantel buluku. Malam ini udara berhembus sejuk, sesekali dingin menjalari menggigit kulitku. Walau pun tak ada uap air yang keluar dari desahan napas, tapi bulir embun yang melayang ringan di udara memberi kelembaban lebih.

Aku berjalan di atas rerumputan yang lebih basah dari sore tadi. Menuju podok Hagrid yang mulai terlihat. Kakiku terasa lelah karena sepanjang hari tak henti melangkah. Dari kejauhan aku tak melihat cerobong asapnya mengepul. Juga cahaya remang berpendar dari balik gorden di jendela.

Dan begitu aku semakin dekat, aku tak mendengar suara apa pun. Kurasa tak ada siapa pun di dalam sana. Baiklah, kurasa Harry dan Ron mungkin masih berjalan-jalan disini, atau mungkin mereka malah telah pulang.

Aku mengintip sekilas ke dalam pondok Hagrid lewat celah kecil di pinggir jendela. Ruangan kosong. Hanya ada Fang dan dengkurannya. Aku berjalan mengitari pondok tersebut hingga akhirnya berhadapan langsung dengan hutan terlarang.

Mendadak angin dingin menyusupiku. Walau pun Voldemort telah hancur, namun tempat ini sepertinya masih setia dengan keangkerannya. Gemelisik angin memainkan kanopi dedaunan dan cahaya remang yang muncul dari dalamnya.

Awalnya aku hanya membayangkan sesuatu yang buruk mendatangiku. Tapi sepertinya semua pikiran buruk yang kupikirkan akan muncul dalam nyata. Seperti saat ini. Ketika aku menggosok-gosok mataku untuk memperjelas pandangan. Dan aku yakin aku tak dalam keadaan mabuk. Aku melihat sosok berjubah yang kepalanya ditutupi kerudung.

Sosok itu berjalan ke arahku seiring dengan langkahku yang mundur teratur.

"Draco?" aku berbisik kemudian menggeleng cepat. "Harmony? Apa itu kau?" tanyaku lagi. Ia bergeming. Tanpa suara mulai mengangkat tongkatnya ke arahku.

Refleks kucabut tongkat. Namun, sebelum aku bisa merapalkan suatu mantra, kilatan biru telah lebih dahulu mengenaiku.

BRUGGHH

Aku jatuh berdebam keras di atas rumput basah dan tak bisa merasakan tubuhku. Kaku dan beku. Tak bisa bergerak. Hazelku awas mengamatinya mendekat. Ia masih mengarahkan tongkatnya padaku. Ingin berteriak tapi mulutku terkunci.

Sosok itu berjongkok di hadapanku. Tudungnya merosot dan menampakkan suatu wajah di bawah remang cahaya bulan. Awalnya aku kesulitan mengenali. Namun samar itu berganti ketika kurasa aku sedang bercermin. Mataku terbelalak. Gadis itu?

"Aku membutuhkan sesuatu dalam dirimu."

Suaranya parau menusuk telingaku. Dan detik berikutnya, ketika kilatan biru mejalariku lagi, aku telah diculik kehampaan.

Tak sadarkan diri.

0o0o0

00

Nyanyian angin …

Kidung rindu dari lautan yang bertemu …

Dari dua jiwa yang terpecah …

Api berkobar …

Berwarna merah seperti dedaunan kering di musim gugur …

Aku menangis melihatmu pergi …

Karena pikiran kita akan dicuri …

Dan mungkin kita tak akan bertemu lagi …

Aku menangis dalam tubuh kecilku …

Meraung melihat kilatan itu mengambil memori tentangku darimu …

Begitu pun yang terjadi pada diriku …

Cahaya menyebar …

Berkas sinar matahari yang masih kasar …

Aku tumbuh dalam harmony yang samar …

Aku mencarimu …

Aku akan menemukanmu …

Cahaya berujung pekat. Dan alam ini seakan berubah menjadi diorama bisu. Sunyi menjelma. Ketika aku melangkah pada sesuatu yang terlalu terang benderang. Masih sibuk menyimpulkan apakah yang kualami ini nyata atau mimpi. Ketika kulihat entah siapa, sosok seorang gadis bersenandung di atas sebuah batu. Aku tak bisa melihat wajahnya. Ada sungai yang tak bisa kulihat dasarnya menghalangi kami. Ingin menyeberanginya namun takut tenggelam. Kucoba berteriak memanggilnya, tapi hanya kesunyian yang keluar.

Hingga aku sadar angin besar menelisik. Kulihat sekelilingku telah ditelan kobaran api. Kepulan asap besar melingkupi kami. Aku kebingungan. Kuberanikan diri untuk melewati sungai di depanku. Dangkal. Aku berlari ke arahnya yang masih bersenandung. Meraihnya dari belakang. Dan begitu ia menoleh, aku melihat seorang gadis yang sangat mirip denganku.

"Pulanglah."

Suaranya terdengar beku.

Hazelku terbuka. Kucengkeram kuat kepalaku yang terasa berdenyut. Ketika kuraba sekelilingku, rasa nyaman menguasainya. Aku di ranjangku. Di kamar Harmony. Paris. Ketika kucoba ingat mimpi aneh yang datang, aku merasa semakin bingung.

"Kau sudah sadar?" tanya sebuah suara yang kukenal.

Mataku melirik ke asal suara itu. Pemuda pirang itu berdiri di sebelah jendela. Aku tak membalasnya. Hanya memperhatikannya. Untuk beberapa saat sunyi masih melingkupi kami. Ia hanya berdiri seraya melipat lengan di depan dada. Menatapku dengan pandangan yang sulit kumengerti. "Kau pingsan selama dua hari."

Aku mengehla napas panjang. Ya, sepertinya cukup lama bagiku tak sadarkan diri. Dan seingatku, astaga. Kupejamkan mataku kembali mengingat hal terakhir yang terjadi sebelum aku diculik kelam.

Apakah Harmony benar-benar datang saat itu?

Tiba-tiba rasa sakit menyengat di pergelangan kiriku. Aku meringis merasakannya seakan terbakar. Ketika kulihat, ada luka sayatan cukup besar melintang disana. Hazelku terbelalak melihatnya. Siapa yang melakukannya? Karena aku yakin tak memiliki luka ini sebelumnya.

Masih belum lepas dari kebingunganku, yang kutahu Draco telah duduk di sebelahku. Ia meraih tanganku, namun aku terlalu lemah untuk berusaha melepasnya. Kelabunya masih sama lunak seperti sebelumnya. Namun tidak dengan hazelku yang makin mengeras begitu kudengar sesuatu yang menghantam duniaku.

"Apa yang membuatmu tak menceritakan tentang bayi kita padaku?"

TBC

Duaarrr! What's next? Keep following the soul.

Kalau ada yg mau ditanyakan bisa lewat email saya di yunitapuspitasari7

Tetap tinggalkan jejak manis kalian. ^_^