A/N: untuk semua readers dan siapa pun yang menunggu. Maaf baru bisa update. Maaf untuk pm dan pertanyaan yang tidak dibalas. Kesibukan dan WB dituding menjadi sebab keterlambatan update. Semoga tidak mengecewakan.
Harry Potter © JK Rowling
Hurt/Comfort, Mysteri
Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll
Draco – Hermione – Harmony (OC)
Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju
Seri multychapter dari Replace
Greatest thanks for your review, Guys!
Hope you like it. Enjoy.
…
The Soul © Diloxy
CHAPTER 8
Suara air mengalir deras masih menjadi satu-satunya lantunan musik yang kudengar. Ketika dingin melingkupi telapak tanganku yang sudah keriput. Air ini melakukan tugasnya untuk menghentikan rasa aneh yang menjalar di telapak tanganku. Pada bekas luka yang melimtang disana masih seakan terbakar. Sudah satu minggu dan luka ini nampak belum membaik. Ia masih terlihat merah dan lunak. Masih terasa perih dan panas. Dan sepanjang hari aku perlu mengalirkan air untuk meredamnya.
Kuangkat wajahku untuk berhadapan dengan cermin. Memperhatikan hazel sayu dari pantulannya. Aku merasa kosong. Tak ada tujuan. Yang kutahu saat ini hanyalah aku benar-benar bingung. Rasa aneh lainnya datang dari rongga perutku. Entah bagaimana seluruh ketakutan itu bergumul menjadi satu. Ketakutan yang sama purbanya dengan kehidupan. Entah halusinasi atau bukan, aku mulai merasa gerakan-gerakan aneh di dalamnya. Aku tahu ini terdengar gila. Walau pun aku telah dinyatakan positif hamil, tapi usia kandungannya baru sekitar satu bulan lebih. Dan tak ada apapun selain segumpal darah di sana.
Kuputar keran air di wastafel sehingga menghentikan alirannya. Kemudian berbalik dan keluar dari kamar mandi. Begitu kubuka pintu kayu yang membatasi ruangan ini dengan kamarku, aku dikejutkan dengan nyala api yang mendadak muncul di perapian.
Nyala api hijau. Seseorang kemari dengan floo. Dan tak perlu waktu lama, aku melihatnya muncul. Pemuda pirang dengan jubah beludru berwarna hijau lumut. Ia menepuk-nepuk bahu dan rambutnya. Kemudian berjalan ke arahku.
"Aku telah meminta orang tuaku untuk mempercepat pernikahan kita," ucapnya.
"Tak kan pernah terjadi," balasku cepat. "Sebaiknya kau cepat pergi dari sini."
Ia menarik napas panjang kemudian mendekatiku. Aku mundur makin menjauinya. Akhirnya ia duduk di kursi depan perapian. Menangkupkan wajahnya dalam telapak tangan sejenak. Kemudian menatapku lagi.
"Granger, kupikir ini adalah saat yang tepat. Aku tak tahu bagaimana nanti jika mereka tahu bahwa kau bukan Harmony. Aku ingin menolongmu dengan keadaanmu sekarang."
"Kau mengasihaniku, Malfoy?" tanyaku pelan. "Kau tak perlu repot-repot untuk iba. Harmony akan kembali tak lama lagi. Dan aku bisa bebas pergi."
"Bayimu?" tanyanya dengan pandangan khawatir yang makin membuatku muak.
"Apa pedulimu, hah?" desisku tajam.
Ia bangkit kemudian berjalan mendekatiku. Mencengkeram kuat bahuku. Tapi segera kutepis dengan keras. "Jangan pernah menyentuhku lagi."
"Granger, dengar! Kau benar-benar tak tahu apa yang kau hadapi. Kau pikir Harmony akan datang kemari dan mempersilakanmu untuk pergi begitu saja? Pikirkan yang sudah terjadi. Mengapa ia perlu repot-repot menciptakan semua hal bodoh ini. Apa kau pikir ini hal kecil? Kau pikir ini akan baik-baik saja? Boleh aku ingatkan bahwa kutukan kalian hampir merenggut baik nyawamu maupun Harmony. Dan jika kembaranmu tak punya sesuatu yang ia perjuangkan, untuk apa ia repot-repot berurusan dengan segala resikonya?"
"Apa kau ingin mengatakan bahwa Harmony memiliki rencana buruk padaku?" tanyaku.
"Aku tak tahu pasti. Tapi, Granger! Aku kenal kembaranmu cukup lama. Dan ia benar-benar seseorang yang sulit ditebak. Ia akan mempertaruhkan apa pun agar tujuannya tercapai. Kau sadar tentang hal itu? Itulah alasan mengapa ia sangat pintar pada sihir hitam."
Aku berjalan ke tepi. Bersandar pada pinggir jendela kemudian melempar pandang keluar. Pada hujan yang turun. Pada luruhan air yang meyelubungi bumi. Membawa kelembaban dan uap air yang mengisi atmosfer. Uap air itu seperti setiap hal baru yang kuketahui. Memenuhi kepalaku seperti udara beku. Tak bisa kulihat satu-persatu. Namun terasa. Walau pun kata-kata Draco terdengar masuk akal, aku masih belum menemukan alasan untuk mempercayainya.
"Untuk mematahkan kutukan itu, ada satu jiwa yang akan dikorbankan. Aku yakin kau sudah mendengar itu dari . Aku yakin kau ingin kesana, ke Hogwarts, dan ternyata benar. Karena Harmony telah meminta pemutar waktu yang dulu diberikan padamu."
"Malfoy, apa yang membuatmu begitu peduli dengan keadaanku saat ini? Aku tak mengira kau tahu sebanyak ini. Kau membuntutiku selama ini. Kau tahu itu sungguh-sungguh tidak perlu. Aku yakin Harmony tak akan mengorbankanku. Jika ia akan melakukannya, ia sebenarnya tak perlu repot-repot menciptakan semua ini. Hanya biarkan kami saling menjauh. Terpisah oleh samudra."
"Granger, aku tidak membicarakan tentangmu atau Harmony yang akan menjadi korban. Aku membicarakan hal lain."
"Kau takut Harmony mengorbankanmu?" aku tertawa mencibir.
"Granger, bahkan dengan semua sihir hitam yang dikuasainya, aku yakin ia tak akan membunuh jiwa yang telah lama hidup."
"Apa yang kau bicarakan?" aku menyipitkan mata. Berharap makna yang kutangkap dari kalimatnya tadi bukanlah seperti yang kubayangkan. Mendadak kengerian menguasaiku, dan perasaan ini muncul begitu saja. Refleks kupeluk perutku. Merasakan sesuatu mungkin akan diambil paksa dariku. Aku melihat perutku, kemudian berganti melihat pemuda di hadapanku.
"Harmony mungkin akan mengorbankannya setelah tahu kau hamil."
Tidak
Aku jatuh terduduk di atas karpet bulu. Hilang keseimbangan setelah ditabrak oleh kenyataan mengerikan. Aku masih menatap kelabu miliknya dengan pandangan kebingungan. Aku masih ingat benar apa yang katakan. Semua sihir hitam memang meminta korban. Dan malam itu saat aku berada di Hogwarts, aku yakin itu bukan mimpi. Saat Harmony mendatangiku. Kulirik sejenak luka di pergelangan tanganku. Ia kah yang melakukannya?
"Sesuatu yang harus kau tahu adalah, aku memang ambil bagian dalam rencana ini awalnya. Ia menitipkanmu padaku. Tapi semua mendadak kacau saat kejadian di taman Paris. Ia menghilang, dan aku tak bisa lagi berkomunikasi dengannya. Kupikir ia ingin langsung berhubungan denganmu. Tapi semuanya mendadak menjadi aneh. Aku tak tahu apa yang ia rencanakan setelahnya. Karena rencana sebelumnya adalah upaya mematahkan kutukan kalian."
Draco duduk di depanku. Ia menggenggam tanganku perlahan. Awalnya aku ingin menolak, tapi tak bisa. Kubiarkan ia membelai rambutku. Astaga, apa yang aku lakukan? Aku membiarkannya menenangkanku. Tapi aku memerlukannya. Rasa panas menguasai wajahku. Ketika beku itu menjalar seiring dengan sentuhan jemarinya di pipiku. Ia mengusapnya lembut. Butiran bening yang menerobos paksa pelupuk mataku. Aku tak tahu. Dan masih tak tahu. Detik berikutnya, ia mengecupku. Cukup lama untuk membiarkan rasa tenang menyelubungiku.
"Bagaimana kau bisa mencintaiku?" bisikku parau. Aku menatap kelabu miliknya. Sejuk dan menenangkan. Ia meneliti setiap jengkal wajahku. Menyusuri dengan jemari beku miliknya. "Lama. Sebelum kau menyadarinya. Itulah alasanku menyelamatkan kau dan teman-temanmu di manor. Itulah alasanku kembali dan meminta Bellatrix menghentika siksaannya. Granger, kau melihat sisi lain diriku selama ini."
Hazelku menerawang. Meneliti setiap kebohongan dari kata-katanya. Ia masih menggenggam tanganku lembut.
"Menikahlah denganku," pintanya.
"Dalam mimpi burukmu," balasku tenang.
0o0o0
00
Hembusan angin mempermainkan anak rambutku. Wangi kelopak bunga berterbangan dan serbuk sari yang dibawa pergi olehnya. Musim semi yang sepi. Ketika kuperhatikan deretan pepohonan yang menghijau di sepanjang trotoar. Aku berjalan di pedestrian seraya menikmati pemandangan sore. Menikmati remang cahaya matahari dan siluet senja. Kemudian berbalik masuk ke dalam sebuah restoran.
Suara bell berkelontang. Kuperhatikan keadaan di dalamnya. Mencari-cari seseorang yang ingin kutemui. Dan hazelku menangkapya. Seorang wanita remaja dengan rambut keperakan dan wajah seputih salju. Tumbuh dengan kecantikan alami karena darah vella yang dimilikinya. Ia duduk di meja dekat jendela. Aku segera menghampirinya.
"Cappucino?" tanyanya dengan aksen Perancis yang kental. Aku mengangguk, tak lama pelayan pun membawakan pesanan kami.
Aku menghirup aroma kopi yang menyeruak, dengan manisnya krim. Kemudian menyesapnya. Rasa hangat menguasai mulutku.
"Lama tak berjumpa denganmu, Hermione!" ucap gadis itu. Gabrielle Delacour. Ia membenarkan anak rambut yang terlepas dari ikatannya. "Bagaimana kabarmu? Dan umh, kau ingin bantuan apa?"
"Sejujurnya aku kurang baik. Tapi tak masalah." Aku tersenyum padanya, kemudian memberikan secarik kertas berisi coretan-coretan tangan Harmony. "Aku yakin Beauxbatons memiliki seorang murid yang mirip denganku, begitu?"
"Umh, ya. Memang ada. Awalnya kupikir kalian kembar, tapi kurasa itu tidak mungkin. Kalian mungkin hanya mirip."
"Kami memang kembar," ucapku. Gabrielle menyipitkan matanya. "Cerita yang panjang," lanjutku.
"Jadi, bantuan apa, Hermione?" tanyanya.
"Aku ingin pergi ke perpustakaan Beauxbatons," ucapku. Ia tertawa pelan, "Kurasa kau bisa melakukannya sendiri."
"Bagian terlarang?"
Gabrielle terhenti. Sejenak ia mengamatiku. Aku yakin bagaimana pun juga, dari mana Harmony bisa mengetahui dan memiliki semua manuskrip tentang sihir gelap?
"Kurasa Beauxbatons tak hanya berisi sihir tentang keindahan. Itulah yang membuatnya bisa bertahan ratusan tahun untuk mengikuti Triwizard, begitu?" tanyaku.
"Kau tahu Hermione, bagian terlarang Beauxbatons lebih besar dan lebih lengkap dari yang Hogwarts miliki," ia berbisik. "Dan itu tidak terlarang," lanjutnya.
"Dan akan lebih cepat mencari yang kuperlukan jika aku membawa murid asli sekolah itu," ucapku tersenyum. Gabrielle bangkit dari kursinya. "Kalau begitu, mari kita kesana."
Kami membayar pesanan kemudian keluar dari toko. Ketika aku hendak berjalan ke dalam gang, Gabrielle menahanku. "Tidak dengan apparate, kita pergi dengan mobilku."
…
Beberapa jam terlewati dari perjalanan kami menuju Perancis utara tempat kastil megah itu berdiri. Gadis di sebelahku baru dua tahun keluar dari Beauxbatons dan saat ini bekerja sebagai perawat di rumah sakit muggle. Ia juga tengah menjalani studi sebagai dokter.
Setiap alumni Beauxbatons menurutnya, memiliki akses khusus pada sekolah mereka. Seperti diperbolehkan berkeliaran di jam malam. Menyenangkan sepertinya, mengingat malam ini akan menjadi malam panjang untuk mencari tahu tentang sihir gelap, magis hitam yang bekerja pada diriku, juga pemecah kutukannya.
Aku melempar pandang keluar jendela mobil. Sementara kendaraan ini melaju kencang membelah jalan lengang di perbukitan Perancis. Padang rumput dan bunga liar buttercup berwarna kuning tumbuh di sekitar. Juga deretan pohon pinus yang mulai menjulang di sepanjang perjalanan. Sumber penerangan datang dari cahaya bulan purnama yang merekah di langit malam ini.
Selama perjalanan, aku telah menceritakan masalahku dengan Harmony pada Gabrielle. Ia mengerti seraya mengingat-ingat bagaimana sikap Harmony. Seniornya yang misterius. Ia mengingat bagaimana Harmony sempat dicalonkan untuk menjadi wakil Triwizard, namun gagal karena umur dan izin orang tua. Padahal ia murid yang berbakat menurut Gabrielle.
"Kau bisa berpura-pura menjadi Harmony nanti," ucapnya.
Gadis itu pun merendahkan laju mobilnya begitu memasuki gerbang utama dari kastil yang menjulang megah. Sorotan lampu malam menerangi bangunan dengan pendar cahaya biru. Aku memperhatikan taman yang artistik di sekitar kiri kanan jalan hingga memasuki lahan parkir. Kolam-kolam lengkap dengan air mancurnya yang bergemerisik di udara malam.
Kami keluar dari mobil. Disambut koridor panjang yang mengular seperti labirin. Aku mengikuti langkah Gabrielle. Kami berjalan langsung menuju perpustakaan. Pada bagian belakang kastil, lantai atas menara kembar. Perpustakaan memang dibagi menjadi beberapa bagian di sekolah ini. Dan bagian sihir gelap, ada di puncak menara.
Menyusuri koridor kemudian menaiki puluhan anak tangga yang selalu bergerak. Setelah perjalanan cukup panjang dan melelahkan akhirnya kami sampai di hadapan sebuah pintu kayu besar dengan cat biru muda keperakan. Ornamen tongkat kembar khas Beauxbatons. Gabrielle mengetuk bagian tengah tongkat itu dengan tongkat sihir miliknya. Dan tak lama, suara decitan terdengar. Pintu besar itu terbuka. Memperlihatkan gambaran puluhan rak-rak besar berderet dengan tumpukkan buku di dalamnya. Kosong. Tak ada siapa pun. Hanya kami berdua lah pengunjung ruangan ini.
"Kita mulai dari mana?" tanya Gabrielle.
"Magis hitam, kutukan api naga, ritual pemecahnya," jawabku segera.
Kami berdua menghambur ke dalam ruangan berisi tumpukkan buku tersebut. Mulai menyusuri dan meneliti tiap potongan perkamen. Atau tumpukkan buku-buku tebal. Mencari dan terus mencari tiap halamannya.
Semakin lama aku mencari, semakin dalam sihir gelap terbuka di depanku. Aku bahkan tak pernah mengira akan mengetahui semua ini. Jika di Hogwarts, ini tak akan menjadi konsumsi publik. Aku bahkan heran bagaimana bisa Hogwarts menyimpan buku-buku itu jika siswa tak diperbolehkan membacanya. Untuk apa? Tapi sepertinya ketakutan pada sihir gelap memang pantas. Atau kalau tidak, bisa saja tercipta penyihir seperti Tom Riddle. Aku berharap Harmony tak terlalu jauh.
Hujan mulai turun di luar. Beberapa kali sambaran petir terdengar memekik dan menerangi sekilas dengan siluet benderangnya. Beberapa kali pula aku terkejut oleh suaranya. Kemudian kembali mencari.
Hujan terdengar semakin deras dan kurasa malam sudah semakin larut. Kami datang kemari sekitar jam delapan lewat. Dan saat ini, setelah menit-menit mengerikan terlewati, kupikir ini sudah tungah malam. Sepi dan sunyi. Hanya ada suara derap langkah kaki Gabrielle dan hembusan angin yang menyusup di celah-celah jendela batu.
Tepat tengah malam ketika kudengar dentingan jam raksasa dari menara lainnya di ujung bangunan ini.
"Lihat yang aku temukan," ucap Gabrielle tiba-tiba mendatangiku. Ia memperlihatkan halaman dari buku tua dengan perkamen yang sudah sedemikian lusuh. Jemarinya menunjuk beberapa gambar dan kalimat penjelasnya.
"Magis hitam yang menyebabkan munculnya kutukan api naga."
Alkisah dahulu kala lahirlah dua penyihir kembar. Mereka datang ke dunia dengan magis hitam yang memunculkan kutukan api naga dalam setiap kedekatan. Api akan selalu muncul, kecuali mereka dipasahkan jauh dengan harapan tidak pernah bertemu. Namun takdir selalu memiliki kehendaknya sendiri. Takdir menuntun satu untuk menemukan yang lainnya. Mereka berjanji untuk hidup bersama dengan mematahkan kutukan. Dan kehidupan tak selalu jahat. Kutukan akan patah dengan penyatuan darah dari keduanya. juga pengorbanan.
"Pengorbanan jiwa? Apa maksudnya harus membunuh satu jiwa?" aku berbisik.
Gabrielle menggeleng. Ia tak tahu. begitu pun aku. Bukankah kata pengorbanan bisa berarti rancu? Mengorbankan adalah merelakan. Namun jika berhubungan dengan sihir hitam, entah mengapa terdengar seperti sinonim dari membunuh.
Siluet bermunculan di kepalaku. Aku memperhatikan luka melintang di pergelangan tanganku. Luka yang masih merah dan lunak. Apa Harmony mengambil darahku untuk mematahkan kutukan itu?
Apa yang dikatakan Draco benar? Apa ketika Harmony tahu aku hamil, ia berniat menjadikan janinku sebagai korbaan? Lantas apa yang kembaranku tunggu? Bukankah ia bisa segera melakukannya saat aku pingsan. Nyatanya aku tidak keguguran.
"Disebutkan bagaimana cara mematahkannya?" tanyaku. Gabrielle menggeleng lagi. "Aku tidak menemukannya. Entah tak ada, atau memang ada yang meminjamnya."
"Terdengar lucu jika Harmony yang menyimpannya," aku tertawa pelan. Menertawai diri sendiri.
Kami menghabiskan waktu membaca dan mencari banyak hal di ruangan tersebut hingga kabut pagi menyelubungi bumi. Aku disadarkan dengan cahaya keperakan yang muncul dari balik bukit. Sisa-sisa hujan semalam menambah kebekuan dan embun yang bergelayut merdu di ujung dedaunan.
Rasa kantuk menguasaiku. Mataku terasa berat dan kepalaku penat. Tak apa semalaman begadang. Dan sepertinya hari ini akan kuhabiskan dengan tidur di kamarku. Gabrielle kembali dengan mobilnya, sementara aku memilih untuk pulang dengan dispparate.
0o0o0
00
Kuperhatikan pantulan diriku di depan cermin. Persis seperti sosok Harmony yang kulihat di foto-foto bergerak miliknya. Gaun ala Perancis kuno dengan rambut disanggul kepang. Hiasan bunga lili disematkan di kepalaku. Aku tak terlalu tahu pasti mengapa orang tuaku menginginkan aku untuk berdandan seaneh ini, walau pun acara malam ini hanya makan malam dengan keluarga Malfoy.
"Mereka akan melamarmu," ucap Rosaline. Wanita yang mengaku ibuku.
Hazelku berkilat. Refleks aku menepis tangannya dari pundakku kemudian menatap mereka tajam. "Apa yang kalian pikirkan? Harus berapa kali aku menjelaskan bahwa Harmony masih hidup?"
Kedua aristokrat itu hanya diam saat aku memekik. "Nyatanya, sepertinya Harmony tak ingin kembali. Selama kau disini ia tak akan kemari. Terima saja, salah satu dari kalian pada akhirnya akan berada disini. Di manor ini."
"Kalian gila? Harmony berusaha mematahkan kutukan kami. Apa kalian tak khawatir dengannya? Kita bahkan tak tahu dimana saudaraku itu selama ini," ucapku kesal. Aku memijat kepalaku yang terasa berdenyut. "Aku akan pergi."
"Jangan pernah berpikir itu, Hermione!"
"Kenapa memangnya? Kalian akan memodifikasi ingatanku seperti yang kalian lakukan dulu?" aku tertawa mencibir. "Apa untungnya bagi kalian terus menahanku disini?"
"Jangan banyak bertanya dan ikuti saja takdirmu."
"Takdirku?" aku memekik marah. "Ini adalah takdir yang kalian paksakan padaku!"
Arthur Millow bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke arahku dengan tatapan marah. Tepat setelah Willy datang memberitahukan kedatangan keluarga Malfoy, Arthur hampir menyeretku keluar untuk menemui keluarga tunanganku.
Aku mengaduh kesakitan begitu luka di pergelangan tanganku terasa begitu menyengat. Ia menekannya terlalu keras, walau sudah berulang kali aku mengingatkannya. "Jangan mengacau, atau kau akan terima akibatnya!" bisiknya.
Pria paruh baya itu melepaskan pegangan tangannya begitu kami sampai di ujung tangga marmer. Aku memegang luka di pergelangan tanganku yang terasa begitu ngilu. Kini terasa sedikit basah. Aku tak tahu pasti apa yang merembes keluar. Mungkin darah segar, atau bahkan nanah karena peradangan. Mataku telah panas, cepat-cepat kuusap agar bulir bening itu tidak menganak sungai di wajahku.
Begitu kami menuruni tangga, aku melihat keluarga Malfoy tengah duduk di ruang tamu. Aku melihat Draco memperhatikanku turun. Aku tahu ia memperhatikanku setengah meringis menahan sakit yang berdenyut. Ia berdiri dan menghampiriku dengan wajah cemas. Tatapan matanya seolah bertanya 'apa yang terjadi?' tapi aku tak menjawab. Ingin berontak menolak keibaannya, tapi aku bertanya-tanya apa sekiranya yang akan dilakukan aristokrat yang mengaku orang tuaku itu nanti. Jadi, aku membiarkan Draco menuntunku.
Menit-menit dilalui dengan kediamanku. Aku bahkan tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku mulai bertanya-tanya siapa aristokrat itu sebenarnya. Apa mungkin mereka orang tuaku dan Harmony? Mengapa sikap mereka begitu dingin dan seakan tidak peduli. Tapi begitu ketakutan jika kami berdua pergi. Mereka butuh salah satu saja. Baiklah, aku tak memiliki ide untuk jawabannya.
Dan pertemuan ini adalah tentang lamaranku. Draco mempercepatnya. Dan setelah yang terjadi, aku bahkan tak bisa menolak. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana caranya untuk bisa kabur dengan selamat. Karena aku mulai berpikir sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi jika aku lari dari peran ini.
Aku perlu menemui Harmony.
"Aku ingin ke Inggris bersama Draco. Mungkin sekitar beberapa hari," ucapku pada dua aristokrat Perancis di depanku. Mereka nampak curiga, dan aku yakin mereka bisa mencium rencanaku untuk melarikan diri. Namun, mereka tentu tak bisa melarangku di hadapan keluarga Malfoy. Dengan sekali anggukan, aku mengantongi izin. Sedikit waktu yang aku dapatkan untuk membongkar semua misteri ini.
Takdir, berbaik hatilah padaku.
0o0o0
00
Cahaya matahari pagi membangunkanku dari tidur panjang. Dan begitu hazelku kembali terbuka, aku merasakan kelegaan. Terbangun di kamarku sejak kecil. Memperhatikan warna-warni kertas dinding. Isi kamarku. Letak perabotannya. Sama sekali tidak berubah. Orang tua muggleku tak mengubahnya sedikitpun.
Aku menghela napas untuk mengingat kembali rentetan peristiwa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. setelah sekian lama terlewati dan aku tak bisa kabur begitu saja. Mereka akan tahu dimana aku berada. Dan satu-satunya jalan keluar adalah menemui Harmony untuk mengetahui apa yang perlu kami lakukan. Karena aku yakin cepat atau lambat Harmony akan meminta sesuatu dariku untuk mematahkan kutukannya.
Suara ketukan pintu terdengar, dan tak lama seseorang datang membuka pintu kamarku. Aku bangkit melihat seseorang yang muncul. Wanita berambut merah yang tengah berbincang dengan ibuku tadi. Hazelku membulat sempurna begitu kegembiraan membuncah melihatnya.
"Kau tahu aku disini?" tanyaku hampir tak percaya. Aku memeluknya.
"Aku bingung harus menjelaskan dari mana, tapi Draco Malfoy yang memintaku kemari," balas Ginny. Aku terdiam memperhatikan. Oh yeah! Baik sekali rupanya calon suamiku itu mengirimkan seorang teman. Mungkin ia khawatir aku akan bunuh diri.
"Aku tahu kau dalam masalah besar. Malfoy menceritakannya. Malam tadi ia datang ke The Burrow menemuiku setelah mengirim patronus," ucap Ginny memperhatikanku dalam-dalam. "Ada yang bisa kubantu?" lanjutnya.
"Aku bahkan tak tahu apa yang harus aku lakukan," gumamku. "Aku hanya menunggu Harmony meminta sesuatu dariku untuk mematahkan kutukannya."
"Janinmu? Draco mengkhawatirkannya. Ia sudah menceritakannya." Aku mengeluh pelan kemudian menggeleng. "Kembaranku tak akan melakukannya. Aku yakin pengorbanan yang dimaksud bukanlah jiwa."
"Tapi bukankah begitu cara kerja sihir hitam? Mengorbankan jiwa. Hermione, coba pikir matang-matang. Kau bisa lari dari semua ini sebelum semakin terlambat."
Aku terdiam.
Masih terdiam begitu waktu mempermainkan pikiranku untuk terus menerawang. Dari pagi yang memunculkan matahari keperakan dan embun yang bergelayut sendu di dedaunan. Hingga siang benderang dengan kerlingan pancaran kehidupan. Ketakutanku bukan tak beralasan. Ia memiliki dasar yang sangat kokoh. Hanya saja penghancurnya lebih mematikan dari sekedar ramuan hidup seakan mati. Aku bahkan lebih memilih dilempar avada kedavra, ketimbang seperti ini. Aku mulai tak bisa kehilangan apa pun. Atau siapa pun. Aku mulai goyah dan tak bisa memilih mana yang terbaik di antara banyak pilihan buruk.
Aku dan Ginny bicara panjang lebar mengenai masalahku, mengenai Draco. Ketika pilihan menikah dengan pemuda itu menjadi jalan keluar yang menyenangkan dan aman. Namun jika aku salah mengiranya, itu berarti aku akan kembali terjebak dalam masalah baru. Menjadi nyonya Malfoy dengan segala rahasianya.
Kunikmati putaran hari dengan menerawang cakrawala dan segala warna perubahannya. Memperhatikan gerakan awan yang tak menentu. Ketika atmosfer cerah berubah suram di dalam kepalaku. Ketika bulir-bulir udara mengendap dan pecah dalam keheningan. Siluet-siluet kembali menghantui pikiran. Berontak dan menguap ke permukaan meminta untuk ditemukan jawabannya. Semua berawal dari kebakaran Shier. Ketika aku menyaksikan debu dan abu berterbangan di udara dan bekas-bekas kebakaran. Api dan bara yang masih bersisa. Juga tulang belulang yang berserakan di jalan-jalan utama.
Shier adalah pangkal masalahnya. Tempat terakhir yang didatangi Harmony kemudian menghilang. Mungkin aku perlu kesana.
0o0o0
00
Kurapatkan mantelku seraya menyusuri jalan ini. Hari ini angin berhembus kencang di bawah langit cerah tak berawan. Ada gumpalan cumullus besar di utara. Dan cuaca seperti ini mungkin saja badai akhir musim semi akan tiba. Angin kering membawakan sisa-sisa debu di bawah sengatan matahari.
Perumahan ini telah dihuni penduduk Shier. Mereka mulai kembali kepada kehidupan normal. Seperti sebelum kebakaran terjadi. Hanya saja dalam keadaan lebih baik. Buah karya dan pikiran seorang Harmony Millow. Gadis itu, kembaranku begitu manusiawi jika kulihat Shier. Lantas bagaimana bisa aku berpikir ia akan memiliki rencana buruk atau mengorbankan sesuatu yang kumiliki? Aku mengira mungkin saja Draco terlalu ketakutan. Tapi, ketakutan itu memang berdasar. Dan ketakutan itu menjelaskan banyak hal. Bahwa ia memang peduli padaku. Apa seorang Malfoy memang mencintaiku?
Aku masih berjalan di jalan utama seraya memperhatikan anak-anak kecil berlarian riang. Mereka bahkan tak tahu tanah yang dipijak adalah kuburan masal sanak keluarga. Yang mereka ketahui hanyalah kegembiraan yang menguar di udara. Tanpa beban. Iri melihat mereka dengan segala masalah yang menghantam. Tapi janji kehidupan bahwa sesuatu akan selalu berpindah. Keburukan yang ada lambat laun akan digantikan dengan kebaikan. Janji itulah yang selalu menggelayut di pikiran mereka.
Langkahku terhenti tiba-tiba ketika seekor burung hantu terbang melesat ke arahku. Ia jatuh ketika hampir menubruk dinding rumah. Sebuah amplop yang sepertinya berisi sebuah surat tergeletak di atas tanah. Burung itu mengaisnya kemudian menyodorkannya padaku. Seperti memintaku mengambilnya.
Kupungut surat itu kemudian membukanya. Hazelku membulat sempurna begitu melihat tanda nama pegirimnya di bagian bawah. Harmony Millow. Ia mengirimiku sebuah surat. Entahlah, mungkin ia takut jika mengirimiku patronus, aku akan melacaknya. Tapi dengan menggunakan burung hantu mengisyaratkan bahwa ia tak mungkin terlalu jauh. Ia di Inggris. Di suatu tempat yang entah dimana.
…
Dear Hermione,
Maaf untuk semua hal buruk yang kau hadapi. Tapi aku hanya ingin mematahkan kutukan bodoh di antara kita. Aku tak memiliki banyak waktu. Aku tak bisa berada di dekatmu. Jangan cari aku atau kejadian kebakaran di taman Paris akan terulang lagi. Cukup lakukan yang aku minta. Datanglah ke Hogwarts malam ini, kurasa itu aman untukmu. Di kandang burung hantu jam 11 malam. Aku butuh sesuatu dari dirimu. Pastikan sebelum jam 12 malam kau telah pergi. Jangan berada di Hogwarts setelah jam 12, atau kutukan kita akan memusnahkan Hogwarts.
Kusarankan untuk tetap di Inggris dan jangan kembali ke Manor di Paris. Mungkin perlu kau pikirkan siapa dua aristokrat yang mengaku sebagai orangtua kita. Mereka tak seperti yang kita pikirkan. Apa pun yang terjadi jangan kembali kesana.
Harmony Millow
…
Kulipat surat itu dan segera melesakkannya ke dalam tas. Melirik arloji yang menunjukkan pukul lima sore. Apa pun yang akan terjadi, ini akan menjawab banyak hal yang belum terjawab. Dan aku berpikir, untuk apa menjauh dari Hogwarts setelahnya jika kutukan itu akan patah. Bahkan aku mungkin bisa bertemu dengan sosok misterius dalam cerita ini.
…
…
TBC
Tetap tinggalkan jejak manis kalian ^_^
