Harry Potter © JK Rowling
Hurt/Comfort, Mysteri
Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll
Draco – Hermione – Harmony (OC)
Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju
Seri multychapter dari Replace
Greatest thanks for your review, Guys! So sorry for sleeping too too too long.
Hope you like it. Enjoy.
…
The Soul © Diloxy
CHAPTER 9
Aku terhenti disini. Pada tepian balkon marmer yang sebagian lapisannya ditutupi es. Salju memang belum turun, namun kelembaban udara mampu menghadirkan dingin tersendiri untuk temaram yang kesepian.
Pada perhelaan malam ketika napas semakin memburu. Lantunan dengkuran burung hantu yang terlelap merupakan musik klasik yang mengiringi kesendirianku. Aku didera perasaan gelisah dan tak nyaman seraya mencengkeram kuat surat dari Harmony.
Masih berkutat dengan entah apa yang akan ia ambil dariku. Masih berkutat dengan semua keganjilan dan masalah yang perlahan lumer dan menguap menjadi kepingan puzle yang seharusnya kususun dengan rapi. Tapi nyatanya semua makin kusut.
Hembusan angin mengantarkan kepak sayap seekor burung hantu dengan bulu serba hitam mendekat kemari. Ketempatku berdiri di balkon depan kandang burung hantu. Aku tak tahu pasti dari mana burung hantu tersebut datang. Dan tetiba saja ia hinggap di atas pegangan balkon di sebelahku. Beruhu-uhu sejenak kemudian menyodorkan kaki kirinya dimana secarik kertas kecil diikat dengan tali.
Kubutuh tetes darahmu
Belum sempat aku selesai membacanya, paruh burung itu telah lebih dulu merobek telunjukku. Mengalirkan likuid merah kental yang terasa menyengat. Ia pergi begitu saja dengan cepat. Kuperhatikan arahnya menuju hutan terlarang. Apa pun itu, Harmony mungkin berada disana.
…
Hujan lembah memenuhi udara malam ketika rumput mulai terasa basah dan licin. Sesekali aku hampir tersungkur ketika berlari melintasi padang ini menuju hujan terlarang. Dan tak perlu waktu lama, deretan semak mengucapkan kata selamat datang dengan mengalirkan darah lewat durinya di kulitku. Dingin menusuk dan menyengat hingga ke tulang. Aku berlari menerobos kerumunan semak. Mematahkan ranting rapuh dan dedaunan yang robek.
Binatang malam mulai terusik dengan hembusan angin kencang, ketika distorsi udara muncul begitu saja. Kilatan hijau sekilas menerangi langit. Aku terhenti sejenak memperhatikan. Sepertinya sumber kilatan tadi tak jauh dari tempatku saat ini.
Udara yang semula menjalar dingin kini berubah hangat, ketika baru aku sadari siluet pepohonan dan semak yang menjalar menjadi lebih terang. Aku terhenti dari lariku dan berbalik.
Percikan api muncul entah dari mana dan mulai melahap dedaunan. Keriuhan yang muncul dari api naga yang sekarang semakin membesar. Hazelku terbelalak. Harmony pasti disini, ia belum menyelesaikan penangkalnya, dan aku dengan bodoh malah mendekat.
Apa aku harus pergi?
Kugelengkan kepalaku cepat. Tidak. Aku tak boleh pergi. Api sudah terlanjur berkobar. Aku harus menemukan Harmony. Kucabut tongkatku segera dan merapal mantra petunjuk. Menuntun langkah kakiku pada kerumunan semak yang makin padat. Saat rasa perih dan panas menguasai hampir seluruh tubuhku. Kupikir aku telah dekat dengan gadis itu.
HARMONYYYY!
Aku menjerit kencang. Untuk pertama kalinya aku melihat gadis itu. Gadis dengan kemampuan sihir hitam luar biasa. Gadis yang merupakan cermin diriku. Ketika tiba-tiba saja lamunan masa lalu serta siluet bayangan waktu-waktu terakhir ini merangsek keluar dari ingatanku. Aku berdiri mematung memperhatikannya.
Namun hazelku terlalu takjub dengan kutukan api naga yang begitu besar dan mengamuk. Kepalanya tepat memancarkan amarah yang saat ini coba dijinakkan dengan susah payah oleh gadis itu.
"Kau harus pergi!" teriak gadis itu dalam kepayahan. "Bawa dia pergi!" teriaknya lagi pada seseorang yang melesat di atas sapu terbang, yang semula merapal mantra air besar yang pernah Dumbledore gunakan.
Kulihat pemuda itu disini. Mendarat di atas rumput basah. Ia lempar sapu terbang di genggamannya segera kemudian berlari ke arahku.
"Apa kau terlalu bodoh untuk kemari?" desisnya menatapku tajam. Napasku terhenti seketika begitu cengkeraman tangannya terasa menyakitkan.
Siluet nyala api makin membesar. Naga api itu semakin tak terkendali, begitu pun dengan Harmony yang semakin kesusahan. Draco melepaskan genggaman tangannya dan mencabut tongkatnya. Ia membantu Harmony mengendalikan kutukan itu lagi.
Tapi kobaran api semakin membesar. Ada raut ketakutan tergambar jelas di mata Harmony begitu ia sekilas melihat ke arahku.
"Aku tak bisa lebih lama lagi," ucap Harmony kelelahan. Ia ambruk terduduk.
Kini Draco satu-satunya penyihir yang mengendalikan kutukan itu. Distorsi udara semakin kentara. Rasa panas telah pelak membanjiri udara di sekitar kami. Di tengah hutan ini api akan meremukkan tubuh kami hingga kebagian sel paling kecil. Peluh menjadi bukti bahwa kekalahan sudah tiba. Takdir akan menghancurkan kami. Menguapkan tiap tetesan darah yang mengaliri nadi.
Aku berlari ke arah Harmony. Memeluknya untuk pertama kalinya lagi setelah waktu-waktu yang terlewati. Setelah ingatan kami direnggut paksa obliviate. Dan untuk pertama kalinya aku mengamati hazel gadis itu. Bibirnya tergetar memaksakan senyuman palsu untuk menghadapiku.
"Senang bisa berjumpa lagi, maaf untuk kebodohanku," bisiknya. Haru menguap tak terbendung. Kepeluk saudaraku. Mencoba menikmati waktu kebersamaan kami. Aku yang terlalu bodoh karena terlalu berani. Air mata kami meleleh.
Tapi sepertinya semua sudah terlalu percuma.
"Pergi," bisik gadis itu lagi. Dan tiba-tiba Draco menarikku paksa.
"Pergi atau kutukan ini akan memusnahkan Hogwarts, aku masih bisa menahannya sebentar saja," ucap Harmony mengeluarkan tongkatnya. Ia mengendalikan api naga tersebut setelah Draco buru-buru menarikku untuk berdispparate.
Namun, aku tahu apa maksudnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia akan mati dilahap kobaran itu. Saat kobaran naga semakin membesar dan memburu saudaraku, kuhentakkan keras tangan Draco, kemudian berlari menghambur ke arah Harmony. Ke arah kobaran naga yang siap meremukkan apa pun. Aku memeluknya lagi dalam detik terakhir. Dan mulut sang naga api pun menghantam kami.
Jika Harmony siap mati, aku pun begitu.
…
0o0o0
00
Putih. Bau morfin menyergap indra penciumanku seketika. aliran menenangkannya begitu terasa di seluruh nadi. Memperlambat degupan jantung. Membuat bayangan memudar. Ketika efeknya perlahan lenyap, aku ditarik kembali oleh kesadaran.
Hal terakhir yang kuingat dengan jelas adalah kobaran api itu menjilati tubuh kami dengan telak. Dan setelahnya hitam menguasai. Namun sebelum mimpi panjang itu menculikku, aku tahu benar bahwa api itu menciut. Kemudian lenyap.
Apakah kutukan itu telah lenyap?
Pertanyaan yang tetiba menggelayut di kepala. Kucengkeram kepalaku yang terasa berdenyut. Mengerjap beberapa kali, kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menoleh.
"Kau sudah sadar?"
Gadis itu. Dengan baju terusan berwarna putih. Rambut ikalnya digelung asal. Wajahnya sayu. Mata cekungnya menatapku khawatir. Aku menoleh padanya dengan pandangan kebingungan.
"Aku rasa kutukan itu sudah lenyap," ucapnya.
Aku rasa?
Bukan kah seharusnya ia telah yakin? Gadis itu sepertinya mengerti kebingunganku. Ia berdeham pelan kemudian bangkit dari kursinya. Berjalan kearah krei yang menutupi sepenggal ruangan. Menutupnya seluruh bagian.
"Setahuku kutukan itu telah lenyap begitu mantra penangkal telah diucapkan. Semua hal yang dibutuhkan dalam ritual sudah kulakukan dengan benar. Tapi anehnya kutukan api naga itu masih saja muncul." Ia berjalan kembali ke sebelah ranjangku. "Kutukan itu lenyap begitu saja begitu kau berusaha melindungiku," lanjutnya.
Harmony menatapku lamat. Ada berkas kepasrahan dan rasa lega jelas tergurat di wajah sayu miliknya. Ia mungkin merasa semua beban telah luruh dari pundaknya. Tapi sejujurnya tidak denganku. Begitu banyak pertanyaan menggelayut, memaksa menyeruak ke atas pikiran. Meminta jawaban satu persatu. Dan sebelum aku sempat memilah mana yang dahulu akan kutanyakan, sepertinya ia telah mengawali.
"Aku minta maaf untuk semua kekacauan ini. Tapi, yang terjadi pada kita memaksaku untuk melakukannya. Aku penasaran setengah mati, Mione! Aku tahu aku mengawalinya dengan kegilaan, dan mungkin bagimu rasanya seperti sebuah bom. Kau diombang-ambing begitu saja. Aku yakin kau sama paniknya denganku. Perbedaannya adalah, kau tinggal bermain, namun aku perlu menjadi sutradara. Bukan mudah untuk membuat kita berdua tetap hidup."
Aku mengerjap beberapa kali. Menghalangi cahaya matahari yang melimpah menerobos iris mataku. Silau. Matahari musim dingin yang muncul di langit kosong. Menelusup lewat jendela raksasa di seluruh dinding.
"Aku yakin kau sudah mengerti banyak hal belakangan ini. mungkin perlu sedikit kuperjelas beberapa bagiannya." Ia menarik sebuah buku dari dalam laci. Jurnal miliknya, yang beberapa waktu ini ada padaku. "Kau masih sanksi apakah aristokrat Perancis itu adalah orang tua kita? Mereka bukan. Mereka adalah saudara jauh dari orang tua kita yang sebenarnya. Orang tua kita mati dalam insiden kecelakaan mobil setelah melakukan obliviate pada kita. Kutukan api naga, yang masih mengejar kebersamaan kita. Arthur dan Rosaline mengambil alih hak asuh atasku, dan menitipkanmu pada pasangan muggle di Inggris. Mereka menjalankan bisnis keluarga. Meneruskannya. Berpura-pura menjadi orang tua kita yang sesungguhnya. Untuk apa menurutmu?"
"Saat aku berumur 18 tahun, perusahaan itu jatuh padaku sebagai ahli waris yang telah dewasa. Jika aku tahu dari awal bahwa ia hanyalah saudara jauh yang gila kekuasaan, aku pasti sudah mendepaknya. Tapi mereka bermain peran dengan begitu rapi."
"Kemudian, kau pasti bertanya mengapa mereka memaksakan kehendak untuk membiarkan hanya ada satu diantara kita tetap berada di dekat mereka? Begini, jika mereka bodoh, mereka bisa saja mengirimku juga ke Inggris sehingga dekat denganmu, kemudian kita akan mati. Tapi mereka cukup pintar untuk mengetahui tulah dari magis hitam kita. Kesuksesan. Kekayaan. Dan sebagainya."
Ia terhenti. Melemparkan pandang ke arah jendela, sehingga aku bisa melihat sisi kiri di lehernya. Luka bakar cukup serius sepertinya. Dibalut perban, dengan darah merembes di seluruh permukaan.
Baiklah, sepertinya cukup untuk semua keanehan ini. dan sejauh ini, magis hitam itu tidak bekerja dengan kebersamaan kami. Aku menarik napas panjang. Merasakan kelegaan bahwa semua ini akhirnya berakhir. Memikirkan bagaimana waktu akan membawaku kembali kepada kehidupan normal. Ke daratan Inggris dimana rentetan peristiwa ini seakan-akan tak pernah terjadi. Bekerja sebagaimana mestinya. Kemudian menikah. Dan memiliki keluarga. Anak-anak.
Anak-anak?
Aku ditampar kenyataan.
Tidak, mimpi buruk ini mengikutiku. Sisa-sisa nasib buruk yang menyengat kehidupanku. Aku sedang mengandung. Aku terikat dengan pemuda itu. Draco Lucius Malfoy. Kutepis cepat-cepat bayangan memuakkan itu. Aku menggeleng cepat. Tak ada yang bersisa dari bermain peran ini. Apa pun yang terjadi, dunia mungkin tak akan pernah menyetujuinya. Aku tertawa pelan. Miris.
"Oh ya, Mione! Umhh, sebenarnya kita masih terikat dengan kedua aristokrat itu. Karena mereka telah mengikat kita secara negara. Tapi, kau tak perlu khawatir. Aku akan kembali menjadi Harmony," ucapnya tersenyum simpul.
0o0o0
00
Satu bulan kemudian.
Seine yang tenang. Aliraannya membelah jalanan sekitar Eiffle. Mengular ke penjuru Paris. Di hadapannya, pada sebuah jembatan kayu kulihat pemuda itu mematung. Menatap kosong pada Seine tenang yang memantulkan cahaya langit malam penuh bintang. Aku berjalan mendekat ke arahnya. Entah apa yang kupikirkan, selepas kepulanganku dari rumah sakit, aku menempati manor itu bersama Harmony. Tetap terdiam menghadapi dinginnya sikap aristokrat yang mengaku kedua orang tua kami. Saat itu begitu seluruh pikiran dan perasan bergumul dan pecah, patronus Draco muncul. Memintaku untuk sekedar berjalan-jalan malam sebagai seorang Hermione. Entahlah, perasaan memuakkan itu menyeruak, meminta jawaban yang aku tahu itu sudah ditemukan jawabannya. Aku perlu menemuinya secara langsung hanya untuk meyakinkan diri bahwa aku benar-benar bisa mengikhlaskan semua ini.
Temaram malam turun menghiasi udara di penghujung musim dingin kota ini. Salju cantik luluh tak bisa menahan kekuasaan hari. Salju yang menguap dan menyerah, menyisakan embun dingin menyengat. Menyisakan serpihan kerinduan yang menguar di udara. Menyisakan butiran memori masa lalu. Begitu kulihat cerminanku di iris kelabu miliknya.
Begitu akhirnya ia mengecup bibirku. Tanpa perintah. Kesan pertama pertemuan ini setelah nasib buruk panjang yang menghujam kami. Tanpa kata yang mengawali. Ia menciumku. Masih menyentuh tiap penggalan kehangatan di bibirku. Masih terdiam dan larut. Embusan beku meyusup, menyelinap. Merekatkan tubuh terbalut mantel tebal. Dingin ini menyatukan. Menguarkan yang tak bisa dikatakan. Menyeruakkan yang tak bisa diperlihatkan. Dan setelahnya, ia melepasnya perlahan. Menyandarkan kepalaku di dadanya. Memelukku seakan tak pernah bisa melepasnya lagi.
"Beritahu aku cara agar Hermione Jean Granger bisa menganggap ini semua adalah hal nyata."
Kuhirup dalam aroma tubuhnya. Membuka kembali memori masa lalu begitu tubuh itu menjamahiku. Memabukkan di setiap helaan napasnya. Ia mengecup puncak kepalaku. Membuatku bisa melihat jelas embusan beku keluar dari bibirnya.
Penghujung musim dingin ini masih menyisakan udara beku di bumi. Serpihan salju yang turun menutupi bagian jalan. Salju yang terhenti di atas pirang platina miliknya. Senada kulit pucatnya kini.
"Ada banyak hal yang tidak bisa kita ubah semaunya, Malfoy," ucapku serak. Ia makin erat memelukku. Membuatku bisa mendengar dengan jelas degupan jantungnya. "Kupikir, jika waktu dengan senang hati memberikan takdir baiknya kepada kita, mungkin kita bisa melihat hujan meteor perseid saat pernikahan nanti, tentunya jika kau menikah denganku. Tapi jika tidak, kuharap ada banyak hujan meteor yang bisa menghadirkan jiwaku sebagai memori di sampingmu."
Kami menyatu. Dipayungi langit kelam kota Paris dengan gemerlapnya. Dengan butiran air yang meleleh dari langit. Membasahi tiap penggalan kota, menyelimuti kami dengan dingin yang menusuk. Ia menggenggam tanganku lembut.
"Ikut aku," bisiknya. Dan detik-detik berikutnya, kami tersedot pusaran waktu. Terlempar kesana-kemari kemudian mendarat di sebuah dataran kering yang mulai menghijau. Ladang tandus yang luas. Membuatku bisa menapaki tanah dan rerumputan basah. Udara beku yang menyelimuti. Serta gugusan bintang yang memenuhi kubah langit.
Draco masih menggenggam tanganku. Ketika aku menoleh ke arahnya, ia tengah menengadah takzim menghadap kubah langit. Memperhatikan sepenggal keindahan yang disajikan kelam. Menghamparkan butiran-butiran bintang yang terangkai menjadi memori. Entahlah, gradasi pikiran antara peran itu dengan diriku sebenarnya mulai samar kini. Lagi pula, pemuda di sebelahku telah tahu betul sejak awal. Sejak aku belum mengetahui apa pun rencana Harmony.
"Perseid, hujan meteor itu datang satu minggu lagi. Kau pikir bagaimana takdirmu nanti, uh?"
Pemuda itu menyeringai tipis. Seolah yakin benar bahwa waktu akan berbaik hati dengan takdirnya.
Angin lembut menyapa. Mempermainkan anak rambut yang terpilin asal di depan wajahku. Ia merapatkan mantel yang membungkus tubuhku. Mengeratkannya, kemudian menarikku menghilang. Dispparate. Kami ditelan pusaran waktu. Dipontang panting dan silau oleh siluet terang gelang yang bergantian dengan cepat. Kemudian terhenti.
Lembut
Kakiku memijak karpet bulu tebal yang sudah tak asing lagi. Begitu kulempar pandang ke sekitar, ini adalah kamarku di manor. Dengan nyala api berkobar di perapian. Menggambarkan siluet-siluet di dinding. Bagaimana ia menggenggamku lembut. Kemudian menarikku ke atas ranjang.
Aku bahkan bisa mendengar dengan jelas jantungnya berdegup kencang lagi. Seiring aliran darah yang deras mengisi nadi. Memanaskan tubuh yang mulai membeku. Mengecup puncak kepalaku.
Napas menderu. Seirama dengan deras hujam yang memukul-mukul padang rumput. Paris pucat yang diselimuti buku. Dihujam dingin lewat butiran hujan yang leleh dari awan. Paris yang cantik. Secantik keindahan saat ini. Begitu jemari runcingnya menyusuri setiap jengkal tubuhku. Membeku. Menyatu. Kami adalah daun kering di derasnya sungai. Kubiarkan keadaan menuntunku.
Dalam
Semakin dalam
Lama
Tertahan. Desah napas terhenti saat ia membelaiku. Aku ditarik kesadaran. Lengkung bibirnya menyapa ujung-ujung syaraf. Menggetarkannya. Membuat sekujur tubuh telanjang kami gemetar.
Dan ketika waktu-waktu itu berlalu, indraku mulai sigap kembali. Kudengar langkah kaki menaiki tangga pualan di sebelah kamarku. Entah siapa pun itu, kecuali harmony, mereka tak akan menyukai kebersamaanku dengan pemuda yang kini terlelap di sebelahku.
Ketukan pintu terdengar.
"Siapa?" tanyaku dari balik pintu seraya cepat-cepat memakai piyama tidur.
"Pelayan. Nona Hermione, anda ditunggu Tuan dan Nyonya di bawah."
"Aku segera datang," jawabku cepat. Memastika bahwa pelayan itu sudah menuruni tangga kembali, aku pun segera membuka pintu kamar. Kemudian melangkah turun. Menemui dua aristokrat kaya yang masih berkuasa. Masih mencari tahu apa lagi yang diinginkannya, dan mengapa harmony seakan tak mau mencari masalah dengan pasangan itu.
…
…
Pualam dingin menggigit telapak kakiku yang beku. Aku menuruni tiap anak tangga marmer, sehingga semakin lama, aku bisa melihat keadaan di sofa ruang tengah. Tempat dua aristokrat duduk bersama saudara kembarku. Ada raut ketegangan pada pasangan itu. Terlihat kontras berbeda dengan senyum lepas begitu Harmony melihatku turun. Aku segera berjalan ke arahnya, kemudian duduk di sofa sebelah Harmony.
"Malam yang menyenangkan?" tanya Harmony tersenyum. Wajahku bersemu merah. Entah bagaimana aku merasa Harmony tahu pada aada orang lain di kamarku. Pemuda itu. Aku mengangguk pelan, kemudian menoleh ke arah Arthur Millow yang tiba-tiba berdeham. Meminta perhatian.
"Kurasa kita semua bisa kembali kepada sedia kala. Kau, Harmony. Bisa kembali lagi ke Perancis. Tugasmu menjadi Harmony sudah selesai. Dan ia bisa melanjutkannya kembali."
Harmony menghela napas panjang. Mendengar kata-kata pria paruh baya itu, hatiku terasa ditikam palu godam. Aku yakin kami semua paham maksud utama dari ujung pembicaraan ini adalah pernikahan. Memangnya, apalagi yang akan dimainkan seorang Harmony beberapa saat lagi? Ia perlu menikahi pewaris Malfoy, agar Millow Corp dapat bergabung dengannya.
"Hermione mengandung anak Draco," ucap Harmony cepat tanpa melihat ke arah siapa pun.
Ada kilatan tak suka dari kaca mata bulan separuh Arthur Millow. Ia menurunkannya. Kemudian memijit pangkal hidung, tepat di antara kedua matanya.
"Kau bisa memberikannya pada Draco dan Harmony stelah kau melahirkan. Kami yang akan mengurusnya. Sejak awal sudah kukatakan bahwa kau hanya perlu mengganti perannya."
"Awalnya saat aku mengira bahwa harmony sudah mati," ucapku geram, masih mencoba menahan diri. "Kau menyuruhku bukan hanya memainkan perannya, tapi mengisi posisinya. Kau menyuruhku menjadi dirinya. Menjalani pertunangan itu, kemudian menikahi Malfoy pada akhirnya. Sudah, jika memang kalian ingin menyatukan Millow dan Malfoy silakan. Tak perlu libatkan aku. Aku bisa pergi."
Aku bangkit dari sofa. Dan tanpa menunggu penolakan, aku segera berjalan cepat ke arah pintu depan. Kedua aristokrat itu hanya melihatku rendah. Sementara Harmony yang sepertinya tak menyangka akan seperti ini, ia mulai mengejarku. Menuruni balkon menuju jalan setapak di halaman rumput yang basah.
Kucengkeram tongkatku erat seraya terus berusaha mengusir dingin yang mendadak menghujami tubuhku tanpa ampun. Awal semi di malam ini benar-benar memuakkan.
Harmony terus memanggil-manggilku. Ia berjalan cepat tepat di belakangku. Antara ingin meahan, namun ia juga mengerti benar apa yang terjadi saat ini. entah kuasa brengsek apalagi yang membuat kedua aristokrat itu begitu mencengkeram. Bahkan Harmony pun lebih memilih untuk tidak banyak bermain-main dengan mereka.
Kini aku tepat berada di gerbang depan. Gerbang besi dengan gerendel kunci besar dan sulur-sulur yang terbuka. Gadis itu menahan tanganku keras.
"Kita bisa membicarakannya dulu, Mione. Tetap disini, kumohon," pintanya.
"Semua tugasku sudah selesai."
Kulepaskan pegangan tangan Harmony. Tersenyum getir padanya, seraya mengeluarkan tongkat dari saku jubah. Kurasa, aku perlu merasa bahwa semua ini tak pernah terjadi. Semua ini benar-benar selesai.
Tubuhku tersedot kumparan waktu. Cahaya berpilin menyilaukan. Sejenak terlintas Inggris di kepalaku.
Dispparate.
0o0o0
00
