A/N: ga tau lagi mau ngomong apa, tapi makasih banget untuk semua pembaca. Fict ini terakhir update tahun 2014, sekarang 2018. Tadinya mau discontinued aja, tapi ga tau dapet angin apa tiba-tiba iseng baca-baca lagi the soul, terus kepikiran sayang banget kalo ga dilanjutin, apalagi ini sekitar dua chap lagi beres. Akhirnya, dengan segala kekurangan saya, saya coba lanjutin. Saya minta maaf dengan segala kekurangan di chapter ini. karena banyak hal, ga tau kenapa saya ngerasa asing lagi sama dunia tulis menulis. Eyd, tata bahasa, apalagi diksi sudah kocar-kocir tak mau kembali. Hiks. Ini saya coba tulis lagi alur the soul dari awal dari sisi Harmony POV supaya kalian ingat cerita ini lagi dan bisa nerusin. Hope you like it.
Harry Potter JK Rowling
Hurt/Comfort, Mysteri
Warning: OC, miss typos, alur cepat, dll
Draco – Hermione – Harmony (OC)
Summary: Warna merah menyala dedaunan kering adalah kobaran api yang melahap ragaku. Musim gugur yang mencabik jiwaku menuju ketiadaan. Aku ruh tanpa jasad yang melayang di kubah langit. Dengan timbunan rahasia yang tertumpuk di bawah salju
Seri multychapter dari Replace
…
The Soul Diloxy
CHAPTER 10
Harmony Pov
Paris yang beku. Aku tertunduk lesu di atas marmer putih yang menjadi teras manor. Menunduk mengintimidasi kekosongan. Menunduk masih kebingunan dengan segala hal rumit dan serba cepat. Menunduk masih mencari-cari apakah kutukan itu telah kalah. Menunduk. Dan menunduk.
Kemudian beralih pada deretan salju tebal yang menutupi taman di depan manor. Memperhatikan jejak kaki kembaranku mengalur membelah malam kemudian hilang diculik kegelapan setelah ia berdispparate. Entah kemana.
Ya. Hermione pergi. Entah kemana. Tak bisa kucegah. Ia kecewa, marah, kebingungan. Tapi aku tak punya nyali melawan pasangan aristokrat yang mengaku waliku.
Baiklah, aku runut kembali mengapa seluruh kegilaan ini bisa sampai kemari. Dipilin indah bersama kekacauan.
Sore itu, cukup muda untuk tertarik dengan bagian terlarang perpustakaan Beauxbatons. Dari sekian banyak sihir untuk mempercantik atau entah apa, aku, Harmony Millow, murid Beauxbatons tahun kedua, sudah menelusuri jemari mencari judul-judul penuh tanya di deretan lemari bagian terlarang.
Buku demi buku kulahap. Hingga tiba pada suatu bagian buku, sebuah sihir yang sudah lama tidak terpakai, sihir untuk mengembalikan memori yang pernah dihilangkan oleh obliviate. Penasaran membuncah di dada. Kurapalkan, dan. . .
Siluet masa lalu bermunculan. Bagaimana saat itu aku dan kembaranku tengan bermain, kemudian api menjalar. Seketika orang tua kami menemui seorang peramal. Kemudian jelaslah masalah yang timbul dari kedekatan kami.
Aku dan Hermione diobliviate sejak itu. Kami dipisahkan. Kami terlupakan.
Waktu pun berganti ketika turnamen Triwizard akan diadakan. Walaupun seantero Beauxbatons yakin aku perlu datang ke Hogwarts -selain aku pun sudah berencana- tapi nasib baik lagi-lagi belum mengizinkan. Entah bagaimana sore itu saat aku hendak kabur untuk mengejar kereta kuda sekolahku, sebuah pesan datang bagai petir menyambar.
Ayah dan ibu meninggal. Kecelakaan. Yang sampai saat ini tak tau apa sebabnya. Jangan tanyakan apakah aku sudah mencari tahu, aku lakukan yang paling tak lazim tapi tetapi tak tahu.
Dan semenjak saat itu Arthur dan Rosaline Millow, yang notabene saudara jauh ayah dan ibu berubah menjadi wali.
Perlu satu tahun untuk aku paham mengapa dua aristokrat itu bersikukuh menjadi waliku. Mengatur ini itu, apapun caranya agar aku tak pergi. Yang baru aku ketahui, mereka memanfaatkan magis hitam, kutukan antara aku dan Hermione, untuk memperoleh kekuasaan, kekayaan, dan apapun, ya semuanya berasal dari kutukan itu. Yang perlu mereka lakukan adalah menjauhkan aku dan Hermione sebisa mungkin.
Tahun berganti, aku sedemikian matang dengan rencana yang aku susun. Tiba saat aku lulus dan mewarisi Millow corp. Menjalin hubungan dengan kementerian sihir Inggris. Menggunakan proyek perumahan Shier –yang akhirnya terbakar- sebagai cara aku bisa berhubungan dengan Hermione, karena ia berada di divisi penataan wilayah di Kementerian sihir Inggris.
Saat itu, saat api menjalar dan mengamuk di Shier, aku tahu Hermione berada sangat dekat. Kebodohanku memang, atau entah aku terlalu egois membiarkan Shier terbakar untuk memulai rencana. Agar Hermione tahu, kemudian menggantikan tempatku.
Yah, keegoisanku.
Shier terbakar hebat. Hermione dipecat. Ia dibawa ke Perancis menghadiri pemakaman palsu diriku. Kemudian waliku yang haus kekuasaan itu memaksanya mengganti tempatku, karena mereka yakin aku sudah mati. Memaksa menggantikanku bertunangan dengan Draco Malfoy.
Ah ya, aku hampir lupa. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa si pirang itu bisa ambil bagian dalam rencanaku.
Pertunangan kami terjadi bahkan saat kami belum bisa bicara. Kami berteman baik. Begitu Draco masuk Hogwarts, ia cerita ada darah lumpur yang mirip denganku.
Waktu berjalan, kami tumbuh dewasa. Draco menyukai Hermione sejak lama, begitupun aku pada Austin.
Kembali lagi pada ceritaku. Saat itu selagi Hermione bermain peran menjadi aku, aku memainkan cerita sebenarnya. Berupaya mematahkan kutukan kami. Keadaan mulai menjadi diluar kendali begitu Hermione tahu aku tidak mati, ia malah memberitahu wali kami. Ya salahku juga. Ia panik dan semakin kacau.
Belum lagi ia mengandung bayi Draco.
Kemudian upayaku mengajaknya ke Hogwarts untuk meminta tetes darahnya, dan menyuruhnya pergi sebelum tengah malam. Tapi bodohnya Hermione bersikeras mendatangiku. Dan api naga itu muncul.
Aku dan Draco kepayahan mengendalikannya. Sampai, saat semuanya terlihat mustahil untuk hidup, Hermione memelukku begitu kobaran api melahap kami. Dan seketika, kobaran itu lenyap.
Kalian mungkin berpikir kutukan itu hilang?
Tidak, tidak begitu cara kerjanya.
Yang aku tahu, seharusnya tak perlu muncul api, tapi karena Hermione datang maka api muncul.
Aku dirundung rasa bingung. Belum hilang rasa penasaran apakah kutukan itu sudah patah, aku dibuat sulit oleh waliku. Aristokrat Perancis yang bersikukuh pertunangan antara Draco dan aku berlanjut. Entah apa yang ada di pikiran mereka mendepak Hermione seenaknya. Meskipun mereka tahu Hermione mengandung bayi Draco.
Hermione pergi dalam malam pekat. Menerobos badai salju dengan perasaan kecewa, sakit, dan kebingungan.
Dan bodohnya aku bahkan tak bisa mencegahnya.
Tak tahu ia kemana.
0o0o0o
00
Kau, Draco Lucius Malfoy
Apakah kau bersedia menjadikan
Harmony Cresentine Lily Millow
Sebagai istrimu?
Aku bersedia
Dan kau, Harmony Cresentine Lily Millow
Apakah kau bersedia menjadikan
Draco Lucius Malfoy
Sebagai suamimu?
Aku bersedia
Debu salju menutupi sebagian sepatuku. Membeku dan retak oleh alunan angin lembut diantara padang ini. Ketika lonceng berdentang halus. Siluet matahari tipis yang tertutupi kanopi arak-arakan awan.
Aku menunduk kelu. Memperhatikan debu di ujung sepatuku. Kemudian menengadah. Melempar pandang pada altar cantik yang disulap serba hazel. Serba berbunga lili putih. Warna hangat menyihir udara menyesakkan di musim ini.
Alunan jazz merdu menggelitik, mengiringi riuh tepuk tangan. Semua berebut jabat tangan untuk memperlihatkan kedatangan mereka. Pewaris Malfoy dan Millow hari ini bersatu dalam pernikahan. Keluarga besar keduanya, kolega Perancis dan Inggris. Semua hadir. Semua larut dalam upacara sakral pasangan yang sudah disepakati bahkan sebelum mereka bisa bicara. Konyol memang.
Ada yang aneh pada pemandangan yang menghampar di hadapanku. Bagaimana mempelai pria dengan tatapan dingin dan wajah kacau jelas tergambar, sementara mempelai wanita bersemu semburat rona mawar. Menyalami dengan semangat tetamu yang hadir. Gadis itu bahagia. Cerah. Ceria. Dengan pernikahan ini. Semua bahagia. Walau tidak semua, misalnya sang mempelai pria, juga pria beriris hijau yang duduk di sebelahku. Pria itu masih melempar pandang tak percaya pada pemandangan di hadapannya.
"Kau pikir kekasihmu pergi, Austin?" tanyaku tiba-tiba. Ia menoleh. Pundaknya merosot. Satu-satunya yang menopang tubuhnya adalah kursi dengan pita putih besar yang ia duduki.
"Aku bisa apa?" kekehnya terpaksa. Dalam hati remuk. "Tapi aku bingung, ada perasaan dimana, kau tahu, disini," tunjuk Austin pada dadanya, "Dan disini," tunjuk Austin pada kepalanya, mungkin maksudnya otak, "Berusaha menampik kenyataan."
"Maksudmu?" aku berdeham, berusaha biasa.
"Apa aku bodoh, Hermione?" tanya pemuda itu padaku. Aku mengerjap, masih belum terbiasa dengan panggilan itu.
"Austin apa kau benar mencintai Harmony?" tanyaku.
Ia mengangguk lemah. "Tapi bisa kita lihat betapa sumeringahnya mempelai wanita," ucapnya. Iris hijau itu lagi-lagi membiusku. Aku tersenyum kecil. Mungkin ia tak sadar.
"Aku perlu memberitahumu sesuatu, tapi aku menunggu waktu yang tepat."
Austin diam. Ia masih menyelidik. Masih sama bingungnya dengan mempelai pria di altar. Masih sama di wajahnya ada semburat kekecewaaan. Aku merasa berdosa, tapi sebelum pesta ini selesai kurasa tak ada yang perlu dibicarakan dulu dengannya. Toh Austin masih menganggap aku Hermione.
0o0o0
00
Normal POV
Gemerisik angin menghentak-hentak bingkai jendela. Berusaha menerobos masuk membawa bulir-bulir musim dingin menyesakkan yang tertahan di luar. Udara dingin yang sedari tadi dihalau bunga api yang begemeletukan dari perapian.
Gadis itu menyalakannya begitu ia memasuki kamar yang telah dihias oleh mawar dan lili di setiap sudutnya. Gadis yang hari ini telah dipersunting oleh seorang Draco Lucius Malfoy. Semburat senyum masih tak mau hilang di wajah cantiknya, meskipun kelelahan hinggap tak mau pergi.
Ia bahagia. Terlihat jelas. Hari ini, mungkin selamanya. Semua hal tak akan lagi sama. Entahlah, konsep jati diri harus ia kubur jauh-jauh. Ia pikir, tak ada salahnya mengikuti ide gila saudari kembarnya. Tak ada yang tahu selain mereka berdua. Toh saat ini, mulai saat ini. mereka akan baik-baik saja. Satu yang menetap bersama Draco. Satu lagi yang menetap di Perancis. Mengurus Millow Corp.
Seharusnya tak akan jadi masalah, karena mulai saat ini tak ada lagi yang perlu dirisaukan. Ya, tak lagi ada rasa kecewa. Ya, gadis itu mengangguk mantap. Ia tersenyum, lagi, untuk kesekian kalinya. Melempar pandang pada dekorasi indah di kamarnya. Kamar pengantin yang disihir entah oleh mantra apa, bisa menjadi seindah ini.
Lamunannya pecah.
Suara derap langkah kaki terdengar mendekat dari decitan lantai kayu. Pintu pun terbuka. Menampakkan wajah sang mempelai pria yang sedari pagi enggan melihat ke arah gadisnya. Si gadis berdiri dan menghampiri pria pirang platina itu. Ia mengelus pipi pucatnya, namun sebelum jemari si gadis mendarat di pipi, pria itu buru-buru menolaknya.
"Kenapa Draco?" tanya si gadis lembut.
"Kau yang kenapa? Aku tak habis pikir kau tega pada saudarimu sendiri. Bukankah kita sudah sepakat menggagalkan pernikahan ini, tapi kau …" belum sempat Draco selesai bicara, gadis itu segera mengecupnya. Mata Draco terbelalak. Awalnya ia ingin mendorong si gadis pergi. Tapi beberapa detik kemudian, ia luluh. Ia larut. Perasaan yang masih sama seperti sebelumnya. Perasaan yang masih sama ketika hujan meteor dulu tiba. Di atas langit Shier, saat si gadis memohon agar takdir berbaik hati kepada mereka berdua. Persaan yang sama purbanya dengan perkenalan mereka.
Dan takdir memang sedikit berbaik hati saat ini.
"Hermione?" tanya Draco teramat pelan. Suaranya hilang di ujung kata.
Gadis itu mengangguk. Menyimpulkan senyumannya. Ia mengusap wajah Draco lembut. Mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Tak ada yang perlu dirisaukan.
"Namaku mulai saat ini hingga selamanya adalah Harmony. Kau harus terbiasa." Ucap si gadis tersenyum.
Angin dingin menelusup ke celah. Mengantarkan butiran-butiran salju ke dalam ruangan dengan pendar bunga api yang hampir hilang digilas waktu. Menjadi saksi dua manusia yang menyatu dalam asa yang mereka rajut beberapa waktu ini. Bukan hal mudah menyadari semuanya. Mereka jatuh cinta. Sejak lama. Tapi takdir mengantarkan mereka pada situasi ini. Mereka hanya perlu memilih. Menangisi takdir. Atau mengelabuhinya. Dan mereka memilih pilihan yang membuat mereka bahagia, walau tak mudah.
Draco masih mencumbu gadis itu. Masih membawanya larut dalam kebahagiaan. Rasa yang harusnya ia rasakan sejak pagi, kalau saja ia tak terlalu bodoh untuk menyadari bahwa gadis yang ia nikahi adalah gadis yang saat ini mengandung buah cintanya.
0o0o0
00
5 tahun kemudian.
Harmony POV
Kau tahu, apa yang lebih menyesakkan dibanding udara musim dingin yang mencekik? Adalah ketika kau pikir kau telah menang melawan takdir, namun kenyataannya kau dibodohi olehnya.
Aku yang bodoh.
Atau takdir yang terlalu pintar.
Aku terhenti disini. Otakku masih kebingungan memproses seluruh kejadian yang cepat berganti hilir mudik di kepalaku. Lima tahun terasa sebentar, cukup lama meyadari sebuah kesalahan. Kutukan itu pada akhirnya akan mengorbankan salah satu di antara kami.
Aku tertunduk beku. Tak mau menyeka bulir panas yang memaksa menerobos keluar dari celah mata. Masih bisu di antara kebisingan London.
Wanita tua di hadapanku berulang kali merapal mantra aneh, berusaha mencari kemungkinan lain. Tapi aku tahu pasti. Cepat atau lambat, kutukan itu akan mendatangi kami lagi. Aku gagal mematahkannya.
"Berapa semuanya?" ucapku segera, seraya merogoh uang dari dompet kulit yang mulai pudar.
"Tidak, tidak. Sepertinya aku salah meramalmu," ucap wanita tua itu. Ia masih memelototi cangkir dengan ampas teh di tangannya.
Tapi, aku terburu-buru. Segera kuselipkan sekeping galeon emas di tangannya. Kemudan pergi. Berjalan membelah kota London seraya menggandeng gadis kecil berusia lima tahun dengan rambut ikal berwarna pirang platina. Iris hazelnya masih mengamatiku lamat-lamat. Mungkin ia aneh melihatku tiba-tiba menangis dan gusar tak jelas.
Aku masih berjalan cepat seraya menggandeng keponakanku, Cresentine Jane Malfoy. Masih berjalan membelah kerumunan orang yang lalu lalang memadati festival musim gugur di kota ini. Masih mencari-cari, kemudian terhenti di dekat sebuah bangku taman. Cresentine duduk disana seraya melahap es krim coklat yang mulai lumer di tangannya.
"Aunty Mione kenapa?" tanya gadis itu padaku. Aku tersenyum lebar. Mengisyaratkan baik-baik saja. Gadis ini adalah bayi di kandungan Hermione dulu. Dan aku sedang kebingungan menunggu ibunya.
Aku memang bodoh. Hanya karena sebuah ramalan tak jelas bisa segusar ini. Harusnya kuabaikan. Ini benar-benar menguras pikiran. Harusnya aku menjaga gadis ini. Bukankah aku yang tadi meminta untuk mengajaknya jalan-jalan, sementara orang tuanya –Draco dan Hermione- pergi sebentar menjumpai kolega mereka.
"Aunty Mione," Cresentine memecah lamunanku. Aku menoleh seraya mengangkat alis ke arahnya.
"Apa menurutmu aku akan sekolah di Beauxbaton seperti ibu?" tanya gadis itu.
"Memangnya kau mau sekolah dimana, sayang?" tanyaku lembut.
"Aku tak tahu. Ayah di Hogwarts, sementara ibu di Beauxbaton,"
Aku terkekeh. Ya, yang gadis ini tahu ibunya –Hermione- adalah Harmony. Juga kebalikannya. Aku sebenarnya agak kasihan, ia seharunya menjadi salah satu yang tahu rahasia kami. Tapi kurasa ia akan tahu setelah cukup dewasa dan menerima bagaimana cerita orang tuanya dulu.
"Kurasa lebih baik di Hogwarts, kau nanti bisa bertemu dengan anak-anak Om Harry, Ron, Aunty Ginny," ucapku terkekeh.
Angin musim gugur menelisik. Menerbangkan dedaunan kering. Menghembuskannya tak tahu arah. Menjauhi pohon kerontang yang sebentar lagi tertidur dikecup buaian musim dingin. Masih sama bekunya dengan keheningan itu sendiri. Ketika bulir gerimis turun menguasai langit. Mentari mesti kalah dibalut awan mendung yang bergulung-gulung. Angin yang sedari tadi hanya semilir kini berubah, semakin cepat. Membawa debu dan butiran hujan yang makin lebat. Aroma khas tanah mulai tercium seiring hujan yang menghantam bumi.
Orang-orag berlarian mencari perlindungan. Sejurus kemudian kedai-kedai pinggir jalan penuh sesak dipadati orang-orang. Atau payung-payung yang dibuka. Memenuhi pedestrian London. Sontak festival pun bubar. Menyisakan pedagang-pedang dan pelaku seni yang kepayahan membereskan barang-barang mereka. Takut diamuk oleh hujan yang semakin lebat.
Aku menggandeng tangan mungil Cresentine untuk berlindung di teras sebuah kedai. Menepuk-nepuk mantel gadis itu yang basah oleh cipratan hujan. Melindungi tubuh mungilnya dari hujan yang masih terus berdebam kencang.
Belum lagi angin beku yang berhembus seenaknya. Membuat kedai-kedai mengepul tampak enak untuk dikunjungi.
"Kau mau coklat panas?" tanyaku segera. Tapi gadis kecil ini menggeleng.
"Aku ingin menunggu ibu, sebentar lagi ia kemari, kan?" tanyanya. Astaga, padahal aku mirip ibunya, tapi ia ingin ibunya.
"Baiklah," balasku.
Masih menunggu. Seraya makin berdesakan dengan orang-orang yang memadati teras kedai ini. orang-orang yang sibuk dengan ponselnya berupaya mendapat jemputan. Ingin segera keluar dari hujan ini. Satu persatu mobil jemputan mulai berdatangan. Tubuh-tubuh basah itu pun masuk dan kendaraan hilang ditelan kepadatan.
Sebenarnya aku mau saja membawa gadis ini berdispparate langsung ke manor Draco. Tapi Hermione telah janji menemuinya di taman London untuk jalan-jalan menikmati festival. Tapi toh festival pun sudah bubar diacak-acak hujan yang masih berdebam keras.
Sejurus terpikir membawa keponakanku berdispparate, kemudian mengirimi Hermione patronus memberitahunya, tapi kemudian segera aku urungkan. Gadis kecil ini menarik-narik mantelku.
"Ibu, ibu!" tunjuknya pada Hermione yang rupanya berapparate di seberang kedai tempatku saat ini. Ia tak bersama Draco. Hermione terlihat kesulitan menyeberangi jalanan padat di antara tempat kami saat ini. Badannya sudah kuyup dihujam hujan yang masih belum memperlihatkan tanda untuk mereda. Senyumannya mekar menatap putrinya dari seberang. Sementara keponakanku sudah girang loncat-loncat menunggu ibunya.
"Nona, ini dompetmu?" seorang pemuda menyodorkan dompetnya dari belakangku. Aku berbalik berterima kasih. Mungkin karena berdesakan tadi dompet ini meluncur dari saku mantel.
"Cuaca buruk ya, kau menunggu siapa?" tanya pemuda itu lagi.
"Ibu gadis…"
BUGHHHH
Sebelum aku menoleh lagi, sebelum menyelesaikan kalimat, saat aku berbalik, kerumunan orang-orang sudah menghambur di tengah jalan. Pemandangan mengerikan terhampar. Sesuatu yang aku teramat takutkan terjadi. Tidak, tidak. Aku yakin takdir masih berbaik hati. Tanganku masih mencengkeram Cresentine. Gadis kecil yang meraung-raung menunjuk pemandangan mengerikan di depan kami. Aku refleks menggendongnya. Membelah hujan. Menghambur pada kerumunan. Senyuman simpul telah hilang di wajahnya.
Begitu aku mendekat. Yang aku dapati hanyalah tubuh Hermione tergeletak bersimbah darah.
TBC
Keep review guys, next time one last chap.
oiya sekalian mau promo akun wattpad: diloxy04
follow yaa. makasih
