A/N: this is the end. Terima kasih untuk semua apresiasinya, review kalian sangat membantu author untuk bisa menamatkan fict terbengkalai ini. maaf untuk segaala kekurangan. Oiya, author juga mau promo akun wattpad: diloxy04
Terakhir, ini chapter pendek. Maaf untuk endingnya.
Harry Potter JK Rowling
Last Chapter
Hope you like it
The Soul Diloxy
…
Butir hujan jatuh mengahantam tanah. Berdebam keras. Menusuk. Dingin. Ketika jalanan mulai dipadati orang-orang. Berkerumun. Melingkari tubuh yang terbujur tak berdaya. Tubuh yang kuyup telak karena hujan. Tubuh yang darinya mengalir liquid merah kental. Menerobos ke pakaiannya. Ke mantel bulunya. Menampilkan luka menganga.
Orang-orang panik. Berusaha menghentikan mobil yang menabrak tubuh itu. Berusaha memanggil polisi. Ambulan. Apapun yang bisa dilakukan setelah melihat pemandangan mengerikan di hadapan mereka.
Dan. Tak jauh dari jalanan itu. Seorang gadis dengan raut wajah sama dengan si korban yang tergeletak tadi. Ia menggandeng seorang gadis kecil. Meraung-raung mendapati ibunya diculik maut.
Harmony segera menggendong keponakannya. Menerobos hujan yang masih kasar. Memukul-mukul tubuh mereka. Ia tepis. Berusaha mengindahkannya. Masih berjalan cepat menuju kerumunan. Berusaha melewati orang-orang yang masih panik dengan kecelakaan itu.
Iris hazel itu membulat sempurna. Bibirnya terkatup. Bergetar. Masih tak percaya. Masih berusaha mencerna runtutan kejadian yang berlangsung kilat beberapa detik yang lalu. Gambaran jelas tubuh Hermione yang roboh dan mencium kerasnya aspal jalanan. Gambaran tubuh saudari kembarnya yang dipukul-pukul bulir hujan seenaknya. Gambaran darah segar yang masih mengalir. Menggenang di sekitar tubuh yang sudah tak berdaya.
Untuk beberapa detik setelahnya Harmony masih terdiam. Seluruh gambaran mengerikan itu tak ubahnya diorama bisu yag diputar sangat lambat. Sangat bisu hingga ia masih belum juga menyadari raungan kehilangan dari gadis kecil yang ia gendong sejak tadi. Keponakannya terus meraung memanggil ibunya yang terbujur di aspal jalanan. Hendak memeluk ibunya, namun Harmony masih menggendong Cresentine erat.
Harmony kini tersadar. Ia ditarik paksa kenyataan. Lambat kemudian semakin cepat, semakin terdengar jelas kepanikan. Ya, kini telinganya bisa mendengar jelas. Termasuk mendengar raungan sirine ambulans yang makin keras.
Ambulans itu terhenti. Beberapa petugas sigap menurunkan ranjang darurat, kemudian mengangkat tubuh Hermione ke atasnya. Mendorongnya masuk ke dalam. Harmiony buru-buru berjalan di antara sesak menuju petugas ambulans tadi.
"Aku kerabatnya," ucapnya cepat. Petugas pun mempersilakannya masuk. Harmony bergegas. Ia mendudukkan keponakannya di sebelahnya. Menahannya agar tidak menghambur pada tubuh Hermione.
Ambulans pun pergi. Membelah kerumunan. Menerobos jalanan padat sore hari kota London. Dengan sirine meraung-raung. Menuju rumah sakit kota. Berusaha menyelamatkannya. Walau pun Harmony sanksi, dengan banyaknya darah yang mengalir tadi. Apakah mungkin Hermione bisa selamat. Tidak, ia segera menggelengkan kepala cepat-cepat. Pikirannya mulai kacau.
Harmony menepis semua kemungkinan terburuk. Harapan pasti selalu ada bagi yang mau berharap. Tapi, semua kenyataan menamparnya lagi. Bagaimana nanti? Bagaimana memberitahu Draco? Bagaimana keponakannya? Dan melihat semua kenyataan yang ada. Melihat tubuh Hermione yang masih mengeluarkan darah segar. Tidak sedikit. Dengan luka lebar menganga.
Kukira kutukan itu benar-benar akan meminta korban.
0o0o0
0o0o0
Harmony terdiam. Ia masih bisu. Sebisu padang rumput yang mulai kehilangan kehijauannya. Rasanya baru sebentar saja mereka bisa bersama. Tapi, kemudian takdir menculiknya.
Hermione dikecup kematian. Rasa tertinggalkan ini, bagi Harmony sangat berat. ia tak pernah berani melihat wajah Draco Malfoy yang dipenuhi kekacauan. Pria itu begitu terpukul. Begitu terkejut. Kekecewaan terbesar jelas tergurat di wajahnya yang makin tirus. Beberapa kali Harmony ingin bicara pada Draco, namun pria itu memilih tak tahu. Memilih tak pernah mengerti dengan hal brengsek seperti kutukan yang gagal dipatahkan. Kutukan yang merenggut istrinya. Kekasihnya. Separuh jiwanya yang tertidur lelap di bawah pusara batu. Draco tak pernah mau tahu semua hal yang membuat takdir tega menjemput istrinya ke dalam maut. Ia hanya mau, cepat-atau lambat, ia ingin menyusul Hermione. Untuk bisa bersama lagi.
Harmony pun sama kecewanya. Sama bingungnya ketika melihat wajah tak berdosa keponakannya. Yang dipenuhi perasaan bingung. Masih belum mengerti konsep maut. Yang keponakan kecilnya tahu, ibunya sedang tertidur lelap karena terlalu lelah. Atau ibunya sedang mendiamkan dirinya karena berbuat nakal. Gadis kecil itu berulang kali meraung berjanji tidak akan nakal lagi di depan pusara Hermione. Berjanji akan menjadi gadis kecil ibu yang penurut. Apa pun. Asalkan ibunya bisa bangun untuk memeluknya lagi.
Tapi tidak bisa. Cepat atau lambat. Saat gadis kecil itu berubah menjadi gadis dewasa. Ia akan paham. Ia akan mewarisi kecerdasan ibunya. Ia akan tahu apa yang membuat ibunya diculik kematian. Saat itulah, mungkin ia akan menyalahkan Harmony.
Karena gagal mematahkan kutukan .
Harmony tahu. Ia kehilangan banyak. Ia dicurangi takdir. Kehilangan sebegitu-menyakitkannya. Sama menyakitkan seperti saat ia harus mengetahui orang tuanya meninggal. Ya, jika diingat tak ada lagi kerabat dekat. Harmony sendiri.
Jangan tanyakan kabar Austin. Sekretaris perusahaannya itu memilih pergi. Terlalu riskan. Terlalu asing. Terlalu menakutkan. Untuk berhubungan dengan dunia sihir. Rasa cintanya dikalahkan nyali.
Ya, Harmony sendiri. Sepi. Sama sepinya dengan padang ini. Memandang nanar pada pusara saudari kembarnya. Tak akan ada yang tahu betapa kehilangannnya ia.
END
Follow me on wattpad: diloxy04
