Chapter two
Ini aneh. Jaemin dan Haechan kini bergandengan tangan menuju salah satu kenalan Jaemin. Setelah menceritakan masalahnya, Jaemin langsung bercerita tentang temannya ini dan Haechan menyetujui ajakan Jaemin untuk segera menemuinya. Yang membuatnya aneh bukan karena cerita Haechan, melainkan bagaimana tangan mereka bertautan seakan sudah biasa.
Jaemin tersenyum sepanjang perjalanan mendengar ocehan Haechan. Terkadang Jaemin menimpali atau menjelaskan sesuatu ketika Haechan bertanya padanya. Sesekali Jaemin memperlihatkan isi handphonenya dan Haechan akan tertawa geli melihat meme-meme yang ia reblog di tumblrnya.
"Haechan, kalau ada yang ingin kau lakukan, apa yang ingin kau lakukan?"
Haechan menempelkan jarinya di pipi, berpikir. Jaemin tersenyum melihat pose Haechan yang sangat lucu itu. "Hmm.. aku ingin belajar skateboard."
Mendengar jawaban Haechan, Jaemin tersenyum lebar. "Aku akan mengajarimu," Haechan membulatkan matanya, tidak percaya. "Benar?" "Benar." Kemudian Haechan tersenyum senang. "Kalau kau juga mau, kuajari naik sepeda."
Haechan mengangkat satu alisnya, "Kau pikir aku apa sampai mengira tidak bisa naik sepeda, hah?" ketus Haechan. Jaemin menggeleng, "Maksudku sepeda bmx, beserta triknya. Kau belum lihat aku melakukan trik dengan sepeda bmx, kan?" Haechan menggeleng. Matanya berbinar menatap Jaemin. "Wah, kau keren sekali." Pujian Haechan nampaknya memiliki efek tersendiri pada wajah Jaemin.
Jaemin batuk untuk menghilangkan kegugupannya. "Jaem, kenapa?" tanya Haechan. Jaemin menggeleng pelan. "Ah, kita sudah sampai."
Daripada mengetuk, Jaemin lebih seperti menggedor pintu rumah tersebut. rumah itu tidak berpagar, namun memiliki halaman depan yang sempit. Diisi dengan pot-pot bunga yang disusun rapi dan di depan rumah itu tumbuh sebuah pohon mangga. Dibaliknya terdapat rumah anjing.
Haechan mencolek pinggul Jaemin dan menunjuk ke arah anjing jenis german shepherd. Telinganya berdiri tegak dan ia menggonggong sekuat tenaga. Haechan berjengit kaget. Jaemin menghampiri anjing itu dengan santai. Ia menunduk kemudian mengelus kepala sang anjing. Seketika ia menjadi jinak, seolah bertemu dengan sang majikan. Haechan menghela nafas lega. "Hei Billy, ini aku." Kata Jaemin. Ia terkikik geli ketika Billy menjilatinya.
Seketika pintu rumah tersebut terbuka lebar dengan keras, hampir mengenai Haechanjika saja Haechan tidak melompat kaget.
"Demi tuhan Na Jaemin! Jam berapa ini?! Haruskah kau membuat keributan di malam yang larut? Kurang kerjaan banget hah!" teriak seorang gadis dari depan kusen pintu.
Jaemin yang masih menunduk mengelus kepala Billy pun menoleh dan memberikan cengiran lebar. "Maaf nona Nakamura, tapi aku punya masalah genting."
.
.
Nakamura Hina menggerutu sambil meneliti setiap rak yang berisi buku-buku usang.
"Jadi Haechan, dia Hina, seorang penyihir." Bisik Jaemin.
"Diamlah, Jaemin! Bisikanmu bisa kudengar!"
"Tuhkan, seram! Dia bisa mendengarmu." Haechan tertawa begitu juga dengan Jaemin yang berdiri sangat rapat dengannya. Haechan dapat merasakan pundak Jaemin bergetar. Maklum ruangan ini sempit dan ada banyak tumpukan buku di dalamnya. Membuat ruang gerak mereka terbatas.
Hina mengeluarkan sebuah buku kemudian mengibaskan tangannya di atas buku tersebut untuk menghilangkan debunya. Mata Haechan berbinar penasaran.
"Ini mungkin bisa membantumu, Haechan. Ayo kita lihat." Haechan mengangguk. Selain Jaemin, Hina juga bisa melihat dirinya.
Hina membawa buku itu ke sebuah meja kemudian duduk di kursi. Haechan mencondongkan tubuhnya. Sikunya bertumpu pada meja agar ia bisa melihat apa isi buku tersebut. Jaemin berdiri diam menghadap mereka dengan tampang tidak percaya. "Lalu aku? Hey, aku juga ingin tahu!"
"Duduk manis sajalah di atas tumpukan buku itu, Jaem. Diamlah! Kau mengganggu konsentrasi."
"Tapi aku tidak melakukan apapun?!" Jaemin menatap Hina kesal. "Mulutmu, oh diamlah!" akhirnya Jaemin duduk di atas tumpukan buku dan menggerutu pelan.
Haechan mengalami kesulitan membaca buku yang tintanya mulai luntur dan kertasnya yang sudah menguning. Terakhir kali ia membaca buku yang seperti ini adalah buku diary kakeknya yang sudah lama meninggal. Mungkin umur buku ini sama seperti umur diary kakeknya.
Di lain sisi, Jaemin menagamati eskpresi wajah Haechan yang begitu serius. Ia melipat tangannya di dada sambil tersenyum lebar. Yaampun, dirinya dan Haechan baru bertemu beberapa jam yang lalu tetapi Haechan sudah bisa membuatnya tersenyum seperti seorang idiot.
"Hm, aku mengerti! Sudah kutemukan!"
Haechan terkesiap begitu juga Jaemin yang dengan sigap berdiri dan mendekat. Hina menatap Jaemin kemudian berpindah menatap Haechan.
"Kau tidak bisa dilihat oleh orang dewasa, Haechan. Makanya kami bisa melihatmu."
Haechan mengernyit. "Maksudmu? Tolong jelaskan?"
Hina membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. "Kita, anak-anak, adalah masa dimana manusia masih naïf. Anggaplah kita ini masih belum punya dosa. Setelah dewasa baru kita akan memilih dan menjalani hidup yang sebenarnya."
Jaemin bersiul, "wow," bisiknya. "Apa yang harus kulakukan agar bisa kembali, Hina?" Hina tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Haechan. "Jangan khawatir, Haechan. Ini hanya berlaku selama 24 jam."
"Besok malam kau harus kembali ke gedung, masuk kembali ke kamarmu. Maka semua akan kembali normal seperti sedia kala."
"Sudah kubilang, kan. Haechan keluar dari negeri dongeng."
Jaemin mendapat jitakan dari hina di dahinya. "Aww, kenapa menjitakku?" tanya Jaemin. "Aku menyesal dulu selalu mendongengimu sebelum tidur." Jaemin tersenyum lebar.
"Maksudmu, berarti aku bisa terlihat lagi?"
Hina mengangguk, "Ya, dan waktu akan kembali dimana kau pertama kali tidak terlihat." Jaemin dan Haechan mengernyit bingung. "Huh?" "Maksudmu?" tanya Haechan.
"Artinya, Haechan, setelah kau kembali ke gedung kau tidak akan berjalan keluar lalu bertemu Jaemin dan aku. Apapun yang kau lakukan selama 24 jam ini akan hilang dari ingatan kami. Mungkin Jaemin akan tetap bermain skateboard, tapi dia tidak bertemu denganmu. Mengerti?"
Haechanmenatap ke arah Jaemin kemudian kembali menatap Hina. "Jadi kalian tidak akan mengenalku?"
Hina mengangguk pelan. "Sebelum bertemu Jaemin… aku, aku bertemu dengan seseorang yang terjun ke sungai. Dia bunuh diri," Haechan menatap Hina, "Apa dia tetap akan bunuh diri?"
Hina mengelus pundak Haechan, "Ya, Haechan. Yang terjadi selama kau tidak terlihat akan tetap terjadi. Entah bagaimana caranya, aku juga kurang mengerti, tapi yang aku dapat dari buku, terdapat glitch dalam arus waktu. Ragamu tidak seharusnya ada di tempat itu pada waktu itu, makanya kau tidak terlihat."
Jaemin menggaruk kepalanya pusing. "Jadi yang harus kita lakukan hanya menunggu sampai 24 jam, kan?" hina tertawa kemudian mengangguk. "Tenang Haechanie, aku yakin kau baik-baik saja." Hina membelai lembut lengannya dengan ibu jari.
Haechan mengangguk. Ia merasa sedikit lega. Setidaknya ia mendapat penjelasan yang cukup mengenai keadaannya saat ini. "Oke, kalau begitu ayo pulang. Aku butuh istirahat begitu juga kau. Hina, terimakasih banyak."
Gadis itu mengangguk. Jaemin berjalan terlebih dahulu. Ia mengambil skateboardnya yang ia sandarkan pada dinding. Saat Haechan hendak menyusul Jaemin, Hina menahan lengannya. "Haechan, aku pikir kau harus tahu tentang ini. Jika kau tidak berhasil kembali setelah 24 jam, semua ingatan tentang Haechan Lee, anak bungsu miliarder Lee tidak akan pernah ada, mengerti?" nafas Haechan tercekat. "Aku tahu kau akan baik-baik saja. Berhati-hatilah." Hina memeluknya hangat. Ia membalas pelukan Hina erat dan membisikkan terimakasih pada gadis itu. Sebelum Hina benar-benar melepasnya, gadis itu menepuk-nepuk punggungnya dan tersenyum lembut padanya. "Ingatkan Jaemin untuk mencuci bomber jaketnya, ya. aku sudah seminggu ini melihatnya memakai itu terus-terusan." Haechan tertawa bersama Hina, "Tentu, akan kuingatkan nanti." Haechan mengangguk kemudian melambaikan tangannya.
Di depan, Jaemin bersandar di tiang listrik sambil memainkan skateboardnya. Haechan berdeham dan Jaemin mendongak, menatapnya. "Apa kau jatuh cinta dengan Hina?" tanyanya membuat mata Haechan membulat kaget. "Apa?" Jaemin menggeleng pelan. "Ayo, kau kan numpang di rumahku malam ini."
Mereka berdua jalan berdampingan dalam diam. Kali ini tangan mereka tidak tertaut. Mereka sibuk dengan isi kepala masing-masing. Entah apa yang mereka berdua pikirkan. Jaemin yang berada di atas skateboardnya melirik ke belakang, dimana Haechan berjalan dengan pandangan kosong.
Lantas laki-laki itu memberhentikan skatenya dan menginjaknya hingga papan skate itu berdiri dan menentengnya. Ia mendekat ke Haechan hingga bahu mereka bergesekan. Hangatnya tangan Jaemin yang bergesekan dengan tangan Haechan menyadarkan Haechan dari lamunannya.
"Haechan?" panggil Jaemin. Haechanmenatap ke arah Jaemin. "Jangan dipikirkan, kau akan baik-baik saja."
"Terimakasih Jaemin." Haechan tersenyum, kemudian ia kembali menatap kedepan.
.
.
Kini tuksedo biru mengkilap Haechan diganti dengan sebuah jersey bola milik Jaemin yang kebesaran di badannya, dan celana kainnya berganti dengan celana pendek bergambar shinchan milik Jaemin. Setelah seharian memakai kaus kaki dan sepatu pantofel, akhirnya kakinya bisa merasakan udara segar.
Rambut Haechan basah sehabis keramas. Ia kini bisa merilekskan otot-otot tubuhnya yang tegang. Dengan santai Haechan duduk di sofa dan menggenggam mug berisi teh.
"Kau lupa mengeringkan rambutmu, Haechan."
Jaemin datang membawa hairdryer dan kabel extension. Ia mencolokkan hairdryer tersebut pada kabel extension dan mulai bekerja mengeringkan rambut Haechan. Entah angin dari hairdryer atau jari-jari Jaemin yang menyentuh kulit kepalanya, Haechan merinding dan menikmatinya. Ia memejamkan mata kemudian tersenyum tipis.
"Sudah selesai, princess. Sekarang waktunya tidur."
Haechan tersenyum kala Jaemin membungkuk di hadapannya dan menjulurkan tangannya. Haechan tertawa dan mengambil tangan Jaemin. Jaemin menarik Haechan mendekat hingga lelaki manis itu menabrak dada bidangnya.
"Jaemin, apa kau selalu bersikap manis begini?" tanya Haechan. Tangan Jaemin turun menuju pinggul Haechan dan mengeratkan pelukannya. Ia menyeringai sambil menatap manik Haechan, "Hmm.. mungkin?" Haechan tersenyum dan membalas tatapan Jaemin. "Aku jadi penasaran ada berapa banyak mantanmu."
Jaemin tertawa lebar, kemudian mengedipkan sebelah matanya. "Kupikir kau tidak ingin mengetahuinya."
Haechan tersenyum, kemudian ia menarik Jaemin mendekat ke arahnya. "Aku juga ingin tahu seberapa manis mulutmu itu." Jaemin menyeringai semakin lebar.
awalnya hanya bibir yang saling menempel. Kemudian Jaemin mulai menggerakkan bibirnya dan melumat pelan bibir Haechan. Mereka berciuman lembut sampai Jaemin memperdalam ciumannya. Entah sejak kapan, tubuh Haechan terkurung antara Jaemin dan dinding.
Mereka berdua melepas tautan bibir mereka, dan menatap wajah masing-masing, saling mengagumi. Jaemin mengecup bibir Haechan. Lelaki manisnya masih kesusahan mengatur nafas.
"Kenapa nomor 60?" tanya Haechan memecah hening di antara mereka. Mereka masih dalam posisi yang sama, saling menempel. "Hm, tadinya aku menginginkan angka 06, tapi temanku sudah mengambilnya."
Haechan tertawa geli saat Jaemin mengecupi rahangnya dan turun hingga lehernya. "Kau tahu? Aku lahir di tanggal 6 dan bulan ke 6."
Jaemin berhenti menyerang Haechan dengan kecupannya, kemudian ia menatap Haechan dengan pandangan tidak percaya. "Wow! Apakah ini pertanda bahwa kau akan menikah denganku?"
"Oh, not that easy, young man!" seru Haechan dramatis.
Jaemin tertawa kecil. Tangannya masuk ke dalam jersey yang dipakai Haechan dan menggerayangi perut datar laki-laki manis itu. Haechan tertawa kecil, kegelian karena jari-jari Jaemin menggelitik permukaan kulitnya.
Jersey Haechan terangkat dan kini perutnya terekspos. Jaemin dapat melihat ada bekas luka panjang, seperti bekas cambukan atau entahlah dia tidak yakin. Ia menatap Haechan yang berhenti tertawa dan sekarang tengah menatapnya dengan pandangan sedih.
"Aku mendapatkannya saat aku masih kelas 2 SMP."
Jaemin menangkup pipi Haechandan mengelusnya menggunakan ibu jarinya. "Kau harus lihat punggungku," ujar Haechan.
Ia membalikkan badan dan mengangkat jerseynya. Ada banyak bekas luka yang menghiasi kulit halus Haechan. Hati Jaemin sakit melihatnya, terlebih lagi saat ia melihat luka bakar berbentuk kalajengking di pinggang kirinya. Jaemin menyentuh kalajengking itu.
"Aku sudah biasa disekap. Maksudku, mereka menyekapku hanya untuk memancing ayah mengeluarkan uangnya. Selama itu aku tidak pernah disiksa, mungkin aku hanya diikat. Tapi setelah ayah memberikan uangnya, aku dibebaskan."
"Hanya saja, malam itu berbeda. Aku datang ke sebuah pesta, dan aku berpisah dengan Taeyong hyung. mereka membiusku."
Nafas Haechan tercekat. Jaemin meremas lengan Haechan. "Sst, Haechan, kau tidak perlu–" "Biar aku selesaikan, Jaemin." Kemudian Jaemin diam.
"Ketika aku sadar tanganku terentang dan diikat dengan rantai. Aku pikir mereka juga hanya menjadikanku umpan supaya ayah mengeluarkan uangnya lagi. Namun dia tidak mau uang. Dia membenci ayah dan benar-benar berniat menyiksaku sampai mati, dengan begitu ia dapat melihat ayah jatuh sejatuh-jatuhnya."
"Yang paling menyakitkan, Jaem, mereka memanaskan cetakan besi berbentuk kalajengking dan menempelkannya di pinggang kiriku."
"Aku tidak sadarkan diri, selanjutnya aku bangun berada di rumah sakit dengan wajah Taeyong hyung yang memerah dan matanya yang bengkak terlalu banyak menangis. Dan Mark hyung yang wajahnya pucat pasi serta kantung mata yang menggantung di bawah matanya. Mark hyung langsung menangis saat melihatku sadarkan diri. Mereka bilang aku tidak kunjung sadar selama 2 hari."
Jaemin mengelus lengan haechan. Nafas laki-laki itu semakin berat. "Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan pada orang yang menculikku itu. Karena semenjak itu aku dikurung di mansion. Tidak boleh pergi ke sekolah umum, aku homeschooling. Taeyong hyung selalu mengantarku kemanapun aku akan pergi, meski aku hanya membeli buku tulis di toko buku yang, ya Tuhan! Bahkan jaraknya hanya 5 blok dari rumah!"
"Mark hyung juga segera pindah ke Seoul. Padahal impiannya adalah mengenyam pendidikan di Kanada. Ayah juga memerintahkan Johnny dan Herin untuk mengawasiku di setiap pesta yang aku hadiri. Aku dikelilingi oleh bodyguard di setiap saat. Aku hanya dapat melihat duni luar dari balik jendela mansion, di balik jendela limo atau di balik tubuh para bodyguard yang mengelilingiku."
Jaemin mengecup leher belakang haechan, kemudian terus turun. Ia mengecupi setiap bekas luka yang ada di punggung haechan, turun, turun, turun, hingga ia berhadapan dengan kalajengking itu. Ia mengecupnya lama, dan Jaemin kembali berdiri. Ia membalik tubuh Haechanuntuk berhadapan dengannya.
Haechan memeluk Jaemin dan membenamkan wajahnya di leher laki-laki yang lebih tinggi itu. Tanpa Haechan sadari lelehan air mata keluar dari pelupuk matanya, membasahi kaus Jaemin. Jaemin menepuk-nepuk punggung Haechandan mengelusnya, menenangkan Haechan. Semakin erat pelukannya pada Jaemin semakin deras pula air mata yang keluar.
Setelah sekian menit, Haechan menarik nafas, kemudian mengangkat kepalanya. Ia menatap Jaemin yang memasang wajah khawatir, lalu tersenyum lebar. Jaemin menatap Haechan lembut. Ia menangkup kedua pipi Haechan hati-hati dan menghapus jejak air mata di pipinya.
"Haechan, maafkan aku. Kau layak mendapatkan yang lebih baik dari ini."
Haechan memejamkan matanya merasakan jemari Jaemin membelai wajahnya.
"Aku janji, kau akan baik-baik saja."
Haechan mengangguk. Ia percaya pada perkataan Jaemin dan memejamkan mata saat Jaemin mencium dahinya.
