Chapter three

Jaemin bangun dan mencium aroma sedap dari dapurnya. Semenjak ia masuk ke sekolah menengah dan tinggal sendiri, hampir tidak pernah ia mencium bau harum dari dapur. Kecuali jika Hina datang berkunjung dan memasakkannya sesuatu.

Segera saja ia bangun dan berjalan menuju dapur. Senyuman terbentuk di wajah tampannya kala ia melihat siapa yang tengah sibuk di dapurnya.

"Selamat pagi Haechanie."

Haechan menoleh dan tersenyum manis pada Jaemin. "Pagi Jaeminie!"

Meja makan Jaemin kecil dan hanya muat untuk dua kursi. Tidak banyak piring yang dimiliki Jaemin begitu juga sendok dan garpu yang hanya terbuat dari stainless steel biasa. Bukan bahan mahalan seperti yang ia punya di mansion.

Panci pun hanya satu begitu juga dengan wajan dan alat masak lainnya. Namun dengan alat dan bahan seadanya, Haechan berhasil membuat sarapan dengan rasa dan tampilan kelas atas.

Jaemin membulatkan mata saat Haechan menaruh sarapan mereka di atas meja. "Selamat makan!" Haechan tertawa karena Jaemin tak berhenti membuat ekspresi lucu.

"Aku bukan melawak, Haechan. Aku sungguhan kaget."

Mereka sarapan dengan tenang dan menyelesaikannya cepat. Jaemin bilang akan mengajari Haechan bermain skateboard dan Haechan sangat antusias. "Ayo cepat Jaem!" ujarnya dengan makanan masih ada di mulut. Jaemin tersenyum melihatnya. Karena baginya Haechan sangat lucu.

Mereka sudah selesai dan segera berganti pakaian. Jaemin mengenakan kaus putih longgar tanpa lengan dan celana hitam selutut. Haechan bertanya dengan nada khawatir apakah di tidak kedinginan, tapi Jaemin menjawab kalau dia sudah biasa. Sedangkan Haechan mengenakan short jeans milik Jaemin yang sudah kekecilan dan kaus putih serta jaket milik Jaemin. Jaemin harus meyakinkan Haechan bahwa jaketnya kali ini baru saja dicuci.

Mereka melakukan peregangan singkat. Sebelum memulai kegiatan mereka. Haechan berdiri di atas papan skate Jaemin. Kedua tangannya memegang erat tangan Jaemin.

"Ya, dorong menggunakan kakimu,"

"Bagus Haechan, sekarang coba dorong lagi– tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu."

Butuh 5 kali jatuh sampai Haechan berhasil bertahan meluncur di atas skateboard sepanjang 5 meter. Namun dengan begitu ia tampak senang.

"Ayo lagi, Jaem!"

Jaemin menyeka keringatnya. Dilihatnya matahari yang mulai naik. Ia tidak sadar jika waktu berjalan secepat itu.

Jaemin melihat Haechan yang berjalan ke arahnya. Laki-laki itu menjatuhkan papan skate miliknya dan menginjaknya. Haechan memasang cengiran lebar. "Apa ini sakit?" tanya Jaemin saat ia melihat telapak tangan Haechan yang berwarna merah.

"Kalau ini sih tidak seberapa dengan yang di bawah."

Jaemin melirik ke lutut lalu kaki Haechan yang entah sejak kapan terdapat banyak goresan. Jaemin tertawa kemudian ia berlutut dan membelai goresan-goresan di kaki Haechan. "Sakit?" tanyanya. Haechan mengangguk pelan, "Perih," ringisnya.

"Kau duduk dulu, lalu tunggu aku."

Tak lama Jaemin kembali dengan sekotak plaster dan obat merah. Ia menangkap sosok Haechan yang duduk di sebuah akar pohon besar. Jaemin berjalan ke arahnya. Saat ia sudah dekat Haechan, ia berlutut. Membasahi kapas dengan obat merah dan mencocolnya ke goresan-goresan yang ada di kaki Haechan.

Ringisan Haechan membuat Jaemin ikut meringis kecil. "Tahan, oke?" Haechan mengangguk. Kemudian setelah selesai membersihkannya, luka-luka kecil itu Jaemin tutup dengan plaster. Plaster yang ia gunakan berwarna biru muda bergambar awan-awan kecil. Haechan tertawa.

"Kenapa awan? Memangnya aku anak kecil?"

Jaemin menggeleng, "Senyummu secerah langit berawan di plaster ini."

Haechan memukul pundak Jaemin pelan dan tertawa. "Tukang gombal," katanya pada Jaemin.

Jaemin menatap Haechan, kemudian ia mengecupi plaster-plaster yang ada di kaki Haechan. "Oke, sudah selesai," katanya dengan senyuman lebar. Haechan mengangguk kemudian berdiri dari duduknya.

"Jaem, ayo lagi. Aku belum puas bermain skateboard!"

Jaemin tidak dapat menolak permintaan Haechan jika laki-laki itu sudah menatapnya dengan binar-binar di matanya. "Baiklah," ucap Jaemin setelah menghela nafas.

.

.

Ini jam tiga sore dan mereka sudah bermain selama itu. Kini Haechan sudah bisa berkeliling dengan menggunakan skateboard. Jaemin menunjukkan semua trik yang ia kuasai. Haechan bersorak dan bertepuk tangan dan Jaemin akan mengangkat dagunya sombong. Sesuai perkataannya kemarin, Jaemin juga menunjukkan dirinya melakukan trik dengan sepeda bmx. Haechan berteriak menyoraki Jaemin. Hari itu ia benar-benar senang.

"Haechan, aku tidak punya plaster sebanyak itu."

Haechan menatap ke bawah, ke kakinya yang kini dipenuhi goresan. Lalu ia menyengir lebar pada Jaemin. "Kalau kau mau dikecupi olehku tidak usah sampai membuat goresan sebanyak itu." Lalu Jaemin mendapat tonjokan pada lengannya.

Karena hari mulai terik dan juga tidak mau memperparah kaki Haechan, mereka memutuskan untuk menyudahinya saja.

Mereka berdua terlentang di atas rumput. Berlindung dari teriknya matahari di bawah pohon besar yang tumbuh di halaman belakang rumah Jaemin. Jaemin menceritakan masa kecilnya. Haechan tertawa mendnegarnya. Ia bisa membayangkan betapa tengilnya Jaemin saat masih kecil.

"Apa yang nenekmu lakukan setelah itu?" tanya Haechan. Jaemin memiringkan badannya, kepalanya ia sangga dengan tangannya. Ia menatap Haechan, "Hmm… aku dijewer sepanjang perjalanan pulang. Bersyukur telingaku tidak jadi panjang sebelah setelahnya."

Haechan tersenyum merasakan tatapan Jaemin. Ia pun memiringkan tubuhnya menghadap Jaemin. Wajah mereka berdekatan hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Jaemin mengunci tatapan Haechan padanya. Ia menyingkirkan poni yang menutupi dahi Haechan.

"Haechan, berjanjilah untuk menemuiku lagi setelah semua kembali normal."

Haechan menggigit bibir bawahnya ragu. Namun ia tetap menganggukkan kepala, "Oke." Jawabnya. Jaemin tersenyum. Ia mendekat pada Haechan dan mencium puncak kepalanya. "Kupikir kita harus bersiap? Hari sudah sore, kau harus segera ke gedung itu, kan?" Haechan mengangguk.

Jaemin duluan yang berdiri. Ia mengulurkan tangan dan disambut oleh Haechan. Jaemin menariknya terlalu keras hingga Haechan tersandung dan jatuh ke pelukan Jaemin.

"Jaemin, bisakah kau berhenti bersikap seperti cowok-cowok di ftv?" tanya Haechan. Jaemin tertawa geli. "Maaf, aku tidak bisa berhenti melakukannya kalau ekspresimu selalu selucu itu."

Lagi-lagi Haechan memukul pundak Jaemin dan melepaskan diri dari pelukannya.

"Yang terakhir masuk rumah harus membuatkan makan siang!"

Haechan berteriak lalu berlari.

"Tidak adil! Kau mencuri start!"

.

.

Jaemin mengantar Haechan kembali ke gedung. Ini sudah jam 6 sore, dan sebentar lagi, menurut Haechan, mobil limo nya akan datang. Jaemin menggenggam kedua tangan Haechan kemudian mengecupnya bergantian.

"Ingat apa permintaanku tadi?"

Haechan mengangguk. "Ini aneh, kita baru bertemu dan menghabiskan waktu kurang dari 24 jam tapi aku seperti sudah lama mengenalmu."

Haechan tersenyum. "Haechan, temui aku lagi. Masakkan aku sarapan, makan siang, makan malam. Tidur di kasurku dan kita berpelukan sampai pagi. Duduk di sofaku dan pakai hoodie atau jersey bolaku." Jaemin mengelus tangan Haechan. Ia menatap Haechan dengan tatapan, rindu? Entah, Haechan kurang mengerti.

Haechan mengangguk. Ia membiarkan tawa kecil keluar dari bibirnya, "Secara tidak langsung kau melamarku, tahu." Jaemin tersenyum lebar. "Aku memang memiliki niat seperti itu." Haechan tertawa, "Oh mulut manismu, Jaem." Jaemin mengedipkan sebelah matanya, "Jadi mulutku memang terasa manis, hm?" Haechan tersipu. Ia menundukkan kepalanya.

"Hey, Haechan, bukankah sekarang waktunya?"

Haechan melirik jam besar yang menempel pada gedung dan menjadi bagian dari desainnya. Haechan mengangguk. Sudah hampir jam 7, dan mobil limonya akan segera datang.

Haechan memejamkan mata dan mencium bibir Jaemin. Sejenak mereka larut dalam dunia mereka sendiri. Mereka tidak tahu sudah berciuman berapa lama, dan Haechan memutus ciuman mereka. Jaemin mengecup bibir Haechan untuk terakhir kalinya. Ia melepaskan pelukannya pada laki-laki manis bersurai madu itu.

"Sampai bertemu lagi, Haechan?"

Haechan tersenyum, "Ingat, aku akan menemuimu lagi, oke?"

Jaemin tersenyum kemudian mengangguk.

'Semoga berhasil.' Bisiknya kala punggung Haechan menjauh dan tak terlihat lagi.

.

.

Haechan mulai berlari saat ia sudah berada di dalam gedung. Kini ia dapat melihat bayangan ketika ia berbincang dengan Prince Lucas, dan saat ia berbincang dengan Johnny. Ia mempercepat langkahnya menuju kamar dan untungnya dia tepat waktu. Ia memejamkan mata dan menunggu dengan cemas, hingga ia mendengar suara pintu yang terbuka dengan kasar dan Seo Herin yang berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.

"Aku sudah bilang pada Johnny untuk berhenti memanjakanmu. Lihat sekarang kau menjadi susah diatur!"

Haechan tersenyum lebar kemudian ia menghembuskan nafas lega.

"Aku tahu kau benci acara semacam ini, Haechan. Tapi setidaknya perlihatkan sikap yang sopan."

"Aku tunggu kau di lantai dansa."

Haechan mengangguk kemudian mengikuti Herin menuju ruang tempat dansa dilangsungkan.

.

.

Haechan duduk di limo sambil menatap keluar jendela. Matanya mencari-cari di sekitar taman, kemudian mendesah gelisah saat tak kunjung melihat apa yang dia nanti-nanti. Ia melirik ke arah Taeyong yang duduk disampingnya masih dengan setelan kerja dan sedang memejamkan mata lelah.

"Hyung, berhentikan mobilnya. Aku harus turun."

"Huh?"

Taeyong menatap adik bungsunya itu bingung. "haechan, apa yang–" "Cepat berhentikan mobilnya atau aku memaksa turun meski mobil tetap melaju."

.

.

Haechan berlari dan melihat taman itu kosong. Ia tahu ia terlambat dan kumpulan anak-anak yang bermain skateboard itu sudah lama bubar, termasuk Jaemin. Haechan terduduk di bangku dan menundukkan kepalanya hampir menangis.

Bagaimana jika ia gagal bertemu dengan Jaemin lagi? Pikiran itu membuat Haechan gemetar ketakutan.

"Jadi, apakah malaikat memang selalu muncul di jam selarut ini?"

Haechan mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Jaemin memakai beanie, bomber jaket berwarna pink dengan dalaman kaus putih dan ripped jeans. Telinganya juga di piercing. Sama persis seperti Jaemin yang ia temui pertama kali. Senyumnya melebar.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini dengan tuksedo itu? Oh, apakah kau mahkota kerajaan yang kabur karena tidak terima dengan pertunangan yang diputuskan sepihak?"

Haechan membulatkan matanya, "Hey, aku tidak–" "Aku hanya bercanda, tapi reaksimu selucu itu. Manis sekali." Haechan tersipu persis seperti malam itu.

"Hey, aku Jaemin."

"Aku Haechan."

Mereka berjabat tangan. Jaemin mendekat perlahan ke arah Haechan namun Haechan tidak beringsut menjauh.

"Well, ini sudah larut, princess. Apakah aku harus menjadi pangeran berkuda putihmu dan mengantarmu pulang?"

Haechan menyeringai. "Aku tidak tahu jika pangeranku akan memakai ripped jeans dengan sepatu vans, dan bukannya membawa kuda melainkan papan skate."

Jaemin menyengir lebar.

.

few years later

"Aku sudah besar, Mark. Jauhkan tanganmu dari barang-barangku, Mark! Demi tuhan, bisakah kalian membiarkan aku melakukannya sendiri?!"

Mark menatap adiknya dengan tatapan kesal. "Haechan, apa harus kau pindah?" kini giliran kakak tertuanya yang berbicara. Raut wajahnya menunjukkan seakan ia menahan tangis.

"Taeyong hyung, aku sudah besar dan akan masuk perguruan tinggi. Lagipula aku masih di Seoul, dan aku sudah bisa menjaga diriku sendiri!"

"Kalian bisa mendatangiku kapan saja, oke?"

Dengan begitu Haechan dipeluk oleh kedua kakaknya, Mark dan Taeyong. "I'm gonna miss you, my little sunshine," bisik Mark. Haechan tersenyum kemudian mengecup pipi kakaknya itu. "Oh my baby Haechannie," kali ini Taeyong memeluknya dengan sangat erat. Haechan mencium pipi Taeyong, kemudian mereka berpelukan sekali lagi.

"Aku akan mengabari kalian saat aku sudah sampai di apartemen baruku, oke? Sampai jumpa!"

Haechan menggeret koper-kopernya. Mark dan Taeyong mengantarnya hingga di depan pintu.

"Morning, sunshine. Siap untuk tinggal bersamaku?"

Haechan tertawa. Ia mengangkat barangnya dan menaruhnya di bagasi mobil Jaemin. Jaemin membantunya membawa barang-barang lainnya.

"Oh Jaemin mulut manismu itu!"

Jaemin meletakkan tangannya dipinggul Haechan dan menariknya untuk semakin rapat padanya. "Apa kau masih penasaran dengan rasanya?"

Wajah mereka terhenti ditengah-tengah saat mereka mendengar suara geraman. "Oh ya tuhan, berhentilah! Ini masih pagi!" pekik Mark. "Jika kau berbuat mesum dengan adikku, Jaemin. Habis kau!" teriak Taeyong. Haechan dan Jaemin saling bertatapan, kemudian mereka tertawa bersama. Sepertinya Jaemin harus cepat-cepat membawa Haechan ke apartemen mereka.

END

.

.

saya abis liat mv nya taylor swift - delicate lalu kepikiran membuat ff ini. kenapa na jaemin? karena saya suka jaemin x haechan tapi jarang banget yang bikin ff haemin, alhasil saya bikin ff sendiri, for self satisfying sih.

ini ff pertama saya yang mengandung konten agak eksplisit, dan saya gak tau kenapa yang kena harus haemin coba?! kenapa gak markhyuck gitu kan ya? harusnya haemin kan fluffy gitu aduh T_T

habisnya jaemin manly banget asli. balik balik si nana jadi manly banget cuy, gila gimana gak gatel coba bikin ff ginian?!