Desclaimer: Tite Kubo

Warning : OOC, OC, AU, typo, gaje, abal, dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan lain yang bisa ditemukan setelah membaca teks dibawah ini.

.

Happy reading~

.

Jam weker berbentuk—ehm—bentuknya bergelombang-gelombang aneh tidak jelas berwarna coklat muda berbunyi, menjalankan tugasnya untuk membangunkan si empu. Gadis yang bernama Orihime Inoue segera bangun dengan cepat tanpa mengulur-ngulur banyak waktu dengan bergelut di tempat tidurnya. Seperti biasa dia memang selalu semangat untuk bangun pagi.

Dia langsung menuju kamar mandi untuk menyikat gigi dan lainnya. Lalu setelah dia keluar, sudah dengan baju seragamnya dia kembali lagi menuju kamarnya untuk membangunkan Rangiku, temannya.

"Ran-chan! Ayo bangun, sudah jam segini, nanti kau bisa terlambat ke sekolah kalau tidak cepat-cepat." Orihime mengguncang-guncangkan tubuh teman baiknya itu dengan cukup kuat tapi temannya sama sekali tidak bangun-bangun.

"Ehehehe, vodka satu lagi." bukannya bangun, Rangiku malah asyik-asyikan mengigau sambil cengegesan tidak jelas. Entah apa yang dimimpikan oleh gadis berbadan ideal itu. Orihime hanya bisa mendengus pelan dan mengerutkan alis.

Walaupun Orihime agak ragu untuk melakukannya, tapi dia tetap melakukannya. "Hei, majalah PlayLekong sudah ada yang edisi terbaru dan ada foto Tatsumaki Kikiyosawa (gak usah cari om Google) tanpa busana satupun." ucap Orihime tepat di telinga Rangiku dan temannya itu langsung terbangun dan mulai mencari-cari dimana foto bugil Tatsumaki Kikiyosawa.

"Dimana majalahnya?" tanya Rangiku dengan penuh nafsu dan keluar dari kamar. Orihime hanya sweatdrop melihat tingkah laku temannya.

"Tidak ada, itu hanya supaya kau mau bangun." jawab Orihime yang langsung mengunci kamar mereka dengan sigap agar Rangiku tidak masuk lagi dan bersiap-siap. Rangiku yang sudah berada di luar kamar langsung kaget dan memprotes. "Hime-chan, kalau kau kunci, bagaimana dengan seragam sekolahku?"

"Aku sudah mengeluarkannya. Itu ada diatas meja." jawab Orihime. Rangiku yang menyadarinya langsung mencibirkan mulutnya, Orihime sekarang sudah pintar, karena dia tahu kalau Rangiku kembali lagi ke kamar, maka dia akan melanjutkan tidur nyenyaknya, bukannya bersiap-siap ke sekolah. Dengan wajah masam Rangiku mengambil seragam sekolahnya dan masuk ke kamar mandi, sedangkan Orihime sambil menyenandungkan lagu Dora the Explorer(?) menuju ke dapur dan menyiapkan sarapan.

.

.

.

.

.

~0.o.0~

Orihime yang sudah duduk manis di tempat duduknya yang kebetulan dekat dengan jendela melihat kearah jendela yang kebetulan (lagi) menghadap ke gerbang sekolah, jadi dia bisa melihat siapa saja yang baru masuk ke sekolah. Memang 'sih hari ini dia datang terlalu pagi, dia bisa melihat Rangiku yang menguap entah berapa kali di sebelahnya. Orihime tidak bosan-bosannya menunggu siapa yang akan datang ke sekolah. Tiba-tiba matanya membelalak ketika dia melihat sebuah mobil Koenigsegg Agera R warna putih mengkilap. Orihime memutar otaknya, kira-kira siapa yang mengendarai mobil seperti itu ke sekolah?

Tidak sampai disana saja keterkejutan Orihime, dia melihat yang keluar dari mobil itu adalah si laki-laki alien—Ulquiorra. Spontan Orihime langsung memukul-mukul pundak Rangiku pelan untuk memanggilnya. Rangiku yang mengikuti arah pandang Orihime, dalam sekejap rasa kantuk yang daritadi dideritanya langsung melayang entah kemana. Mata mereka berdua membesar.

Ulquiorra menutup pintu lalu mobil itu melesat pergi lagi. Lalu Ulquiorra masuk ke gedung sekolah sehingga sosoknya sudah tidak kelihatan lagi. "Apa penglihatanku salah tadi?" ujar Rangiku pada Orihime, lebih tepatnya kepada dirinya sendiri.

"Aku rasa tidak." balas Orihime masih dengan wajah kagetnya.

.

.

.

.

.

~0.o.0~

Saat jam istirahat, seperti biasanya murid-murid keluar kelas untuk membeli makanan atau apapunlah itu. Tidak terkecuali dengan Orihime, Rangiku dan Tatsuki. Sepertinya hari ini mereka sedang malas untuk keluar dari gedung sekolah, jadi mereka memutuskan untuk makan saja di ruang kelas.

"Loh? Aku tidak melihat Rukia. Kemana dia?" tanya Rangiku sambil celingak-celinguk mencari sosok yang dicarinya.

"Entahlah, tadi setelah bel berbunyi dia langsung tergesa-gesa keluar entah kemana. Dia tidak mengatakan apapun padaku." jawab Orihime yang sudah siap makan dengan sumpit yang digenggamnya.

"Dia ingin memberi jawaban pada Kurosaki." kata-kata Tatsuki barusan langsung menbuat Rangiku dan Orihime tidak jadi makan. "Maksudmu menjawab Ichigo?" tanya Rangiku dengan wajah penasaran. "Kurosaki kemarin mengajak Rukia kencan dan menyatakan perasaannya langsung."

Jujur saja, Orihime kaget luar biasa dengan hal ini. Tidak disangka orang yang sudah lama dia taksir itu menyukai teman baiknya sendiri. Orihime tahu kalau Ichigo menyukai seseorang, hanya saja dia tidak cukup peka untuk menyadari bahwa orang itu adalah Kuchiki Rukia, sahabatnya.

Sebenarnya Orihime sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Rukia pada Ichigo. Walaupun mereka sering bersama-sama, tapi tidak ada satupun dari mereka berempat yang membicarakan hal tentang asmara.

"Lalu, apakah Rukia sendiri menyukai Ichigo?" Terima kasih, Rangiku, pertanyaan Orihime sudah ditanyakan olehnya.

Tatsuki yang masih dengan wajah tidak-mau-tahu-nya hanya menaikkan kedua pundaknya saja. Beberapa detik kemudian pintu kelas mereka bergeser dan munculllah sosok Rukia dengan wajah yang amat sangat ceria. "Hai, aku kembali." Tapi tidak ada satupun dari ketiga temannya yang menyahutnya. Rangiku tanpa ba-bi-bu lagi langsung menyerang Rukia dengan pertanyaannya. "Jadi, kau terima atau kau tolak?"

Wajah Rukia langsung memerah. "Tatsuki, kau memberitahu mereka?"

"Apa? Kau tidak menyuruhku untuk diam." Rukia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Orihime dan Rangiku masih terus menatapnya dengan tatapan penasaran. Mengalah, akhirnya gadis yang 'tidak tinggi' itu menghela napasnya. "Aku tolak 'kok."

.

.

.

.

.

"APAAA?" Tatsuki dan Rangiku langsung berseru secara bersamaan, sedangkan Orihime hanya menunjukkan tampang kagetnya.

"Tapi kenapa? Kau 'kan suka pada Ichigo. Yah, walaupun kau tidak pernah mengatakannya tapi kami tahu dengan pasti." Rangiku langsung mengatakannya dan diikuti oleh anggukan setuju dari Tatsuki. Padahal tadi Tatsuki tampak tidak peduli, tapi sekarang dia ikut-ikutan.

Rukia hanya terdiam dan menatap Orihime dengan senyum lembutnya. "Kalian ini bicara apa 'sih?"

"Kau jangan mengelak lagi. Dilihat saja kami sudah tahu kalau kalian itu saling menyukai. Iya 'kan Hime-chan?" tanya Rangiku meminta persetujuannya.

Orihime tampak agak kaget dan sedikit kelabakan, dari sorot matanya tampak dia sakit hati, tapi dia langsung menyembunyikannya rapat-rapat. "Hahaha, iya. Kalian tampak cocok loh, Rukia-chan."

"Orihime..." Rukia mengatakannya dengan nada pelan dan raut wajah sedih.

"Sudah, sudah, kau sebaiknya makan. Memangnya kau tidak lapar?" seakan-akan menyadari ekspresi Rukia, Orihime langsung mengalihkan pembicaraan dan ditanggapi dengan senyum tipis dari Rukia.

.

.

.

.

.

~0.o.0~ (Orihime's POV)

Warna biru langit disertai dengan awan-awan putih yang menggumpal dan membentuk bentuk aneh. Itulah yang kulihat sekarang. Aku tidak tahu juga 'sih apa hubungannya antara jalan cerita dan warna biru langit. Aku terus berpegangan pada pegangan beranda atap sekolah. Intinya rasanya sakit melihat orang yang sudah lama sekali kau taksir tapi malah menyukai sahabatmu sendiri.

Bodohnya aku selama ini tidak menyadari bagaimana perasaan Rukia. Tapi tampaknya hanya Rukia yang tahu kalau aku menyukai Ichigo. Entah ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya Rukia menolak Ichigo karena tidak mau menyakitiku. Dia memang baik, mau memikirkan perasaanku. Tapi aku juga tidak mau jadi orang yang menghalangi hubungan orang lain, apalagi ini temanku sendiri. Kesannya aku yang mendapat peran antagonis disini.

Aku bisa melihat raut wajah Rukia yang sedih tadi, aku bisa merasakan kalau dia juga sakit saat menolak Ichigo. Saat Ran-chan dan Tatsuki-chan mengatakan kalau Rukia dan Ichigo saling menyukai, aku kaget setengah mati setengah hidup. Hampir saja aku mengeluarkan air mata, tapi aku tidak bisa melakukannya, aku sudah berjanji pada Nii-chan kalau aku tidak akan menangis lagi. Aku akan kuat, pasti.

Tapi bagaimanapun juga ini semua karena salahku. Andaikan aku tidak pernah menyukai Ichigo, Rukia pasti tidak akan menolaknya.

"Ahhh, Hime baka, baka, baka, baka!" karena frustrasi aku jadi berteriak-teriak sendiri tidak jelas.

"Yang bodoh itu maksudnya kau ya?"

DEG! Suara menyeramkan dan tiba-tiba terdengar milik siapa itu? Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Aku perlahan-lahan membalikkan badan dan tadaaaa! Dugaanku tepat.

"KYAAAAA!" aku refleks malah berteriak. Tuh, kan, kau ini memang bodoh, Orihime Inoue! Kenapa tiba-tiba berteriak seperti melihat setan seperti itu?

"Kenapa kau selalu berteriak melihatku?" Aku tidak menyangka bahwa dia sama sekali tidak kaget dengan teriakanku tadi.

"Eh, ano—maaf, itu tadi kau—ehm—itu membuatku kaget." Aduh, sekarang apa lagi? Sudah tadi berteriak dengan bodohnya, sekarang aku juga berbicara dengan terbata-bata begini.

"Harusnya aku yang kaget melihatmu yang muncul tiba-tiba dan meneriakkan dirinya sendiri bodoh." Tiba-tiba muncul? Jangan-jangan...

"Kau sudah berada disini daritadi?"

Ulquiorra mengangguk kecil dengan wajah yang aku bahkan tidak yakin dia itu punya ekspresi atau tidak. "Maaf, mengganggumu."

"Tidak masalah, toh aku juga baru bangun." Baru bangun? Jangan-jangan dia daritadi tidur disini? "Jam berapa sekarang?"

Aku tidak begitu yakin apakah dia bertanya padaku atau dia hanya berbicara pada dirinya sendiri, jadi aku hanya diam dan menyembunyikan wajah maluku yang payah ini.

"Aku bertanya padamu." Oh, jadi dia bertanya padaku. APA? Bertanya padaku?

"Padaku?" tanyaku padanya untuk meyakinkan. "Siapa lagi?" dia menjawab dengan cepat. Aku langsung mencari-cari ponselku yang ada di saku rok sekolahku. Saat aku membukanya untuk melihat jam, bisa kulihat fotoku dan Ran-chan serta seekor anak anjing dengan bulu coklat yang anjingnya tentu saja lucu. Aku tidak tahu anjing apa ini, maklumlah, aku dan Ran-chan menemukannya di tengah jalan beberapa bulan yang lalu.

"Sekarang sudah jam 4 lewat 10 menit." jawabku singkat. Ulquiorra tidak menyahut sama sekali. Dia terpaku melihat layar handphoneku. Apakah ada yang aneh dengan layar handphoneku? Aku mengikuti arah pandangnya dan aku baru menyadari kalau dia terus menatap anak anjing yang aku dan Ran-chan beri nama Woody karena bulunya yang berwarna coklat kayu. Woody itu mirip seperti anjing labrador dan juga anjing akita ukuran kecilnya, penggabungannya mungkin?

"Kau suka anjing ya?" Ulquiorra berhenti menatap layar handphoneku dan melirik sebentar kearahku. Dari sana aku sudah tahu kalau dia menyukai anjing. "Namanya Woody, itu karena dia punya bulu coklat kayu. Dia lucu ya." lanjutku.

Ulquiorra tidak menyahutiku, apakah dia memang selalu sependiam begini? "Kau bisa bertemu dengannya kalau kau mau." ujarku lagi, dan kali ini dia menatapku lumayan lama, tampak dia sedang berpikir sebentar.

"Boleh?" dia bertanya padaku untuk meyakinkan. "Tentu saja." Aku tersenyum ceria menyahutinya.

.

.

.

.

.

~0.o.0~

Kami berdua, aku dan Ulquiorra-kun maksudku, turun dari mobilnya yang aku bahkan tidak tahu apa namanya. Kelihatan mahal, dan itu membuatku tidak nyaman sama sekali, melihatnya duduk di sampingku dan mengendarai mobilnya. Sudah dapat SIM-kah dia? Mobilnya yang tadi pagi dan sekarang berbeda, aku jadi penasaran dengan laki-laki ini, sekaya itukah dia? Aduh, Hime, berhenti melihat kekayaan orang lain, tidak sopan tahu.

Aku turun dari mobilnya sambil membawa beberapa kantung berisi belanjaan. Awalnya tadi aku hanya ingin membeli makanan untuk Woody saja, tapi karena mumpung aku sedang berada di supermarket dan sedang ada banyak discount, jadi sekalian saja aku membeli keperluanku yang mungkin menurut orang lain kebanyakan. Kau pasti heran aku dapat uang itu darimana. Semuanya karena hasil kerja kerasku untuk mengikuti berbagai macam undian dan mengumpulkan struk belanjaan yang bisa aku tukar dengan voucher.

"Woody~" aku berseru ketika melihat Woody yang mengonggong senang saat aku datang. Tidak berlama-lama aku langsung menuangkan makanan untuk anjing yang baru aku beli tadi di tempat makanan anjing padanya. Aku bisa mendengar bunyi lonceng kecil yang bergantung di leher pendek kecilnya. Karena Woody kami lepaskan di taman belakang apartment kami, jadi kami harus menggantungkan kalung anjing itu agar tidak dianggap sebagai anjing tak bermajikan.

"Dia tidak tinggal di rumahmu?" Ulquiorra bertanya setelah melihat-lihat sekeliling, sepertinya dia sadar kalau Woody tidak tinggal didalam apartment bersamaku.

"Ahahaha, kau menyadarinya ya? Di apartment ini tidak boleh ada peliharaan, jadi terpaksa aku meninggalakan Woody disini."

Ulquiorra berjongkok di depan Woody dan terus memperhatikan anjing lucu itu. Woody dengan ceria seperti biasanya kepada orang lain mendekati Ulquiorra dan mereka saling bertatap-tatapan. Laki-laki tanpa ekspresi itu langsung mengulurkan tangan kirinya dan mengusap-ngusap kepala Woody dengan lembut. Walaupun dia masih tetap tanpa ekspresi, tapi aku bisa melihat kesenangan dari sorot matanya. Kalau benar-benar diperhatikan, sekarang sorot matanya itu tidak jauh berbeda dengan Woody yang matanya selalu kinclong setiap kali bertemu orang.

"Ulquiorra-kun, kau punya anjing?" Aku berkata seperti ini hanya untuk sekedar basa-basi 'kok. Tidak ada niat yang lain.

Dia mengangguk pelan. "Dulu. Sudah mati."

"Oh" hanya tanggapan itu yang bisa aku berikan, sepertinya suasana langsung berubah. Ulquiorra sepertinya memang sangat menyayangi anjingnya. Aku jadi menyesal dan tidak enak menanyainya begitu tadi. Karena merasa suasana yang semakin lama semakin tidak enak aku akhirnya memutuskan untuk membuka pembicaraan lagi. "Memangnya anjing jenis apa?"

Loh? Orihime baka! Kenapa masih bertanya tentang anjingnya lagi? Kau tidak lihat ekspresinya yang betapa sedihnya dia saat mengingat-ingat anjingnya lagi? Aduh, kau ini payah sekali 'sih. Aku tidak berhenti merutuki diriku sendiri.

"German Shepherd." Loh? 'kok dia jawabnya cepat dan singkat sekali. Yah, mau bagaimana lagi, sepertinya Ulquiorra ini orangnya pendiam memang sudah dari sananya. Aku menghela napas pendek, aku tidak mau membuka pembicaraan lagi, takutnya nanti aku malah menanyainya lagi soal anjingnya. Sepertinya aku berlebihan ya? Tapi tetap saja, aku 'kan merasa tidak enak, apalagi kalau dipikir-pikir Ulquiorra itu sudah membantuku mengembalikan sapu tangan pemberian Nii-chan. Angin sore yang sejuk ini berhembus pelan dan rambut jingga panjangku ini melambai pelan, begitu juga dengan rambut sebahu Ulquiorra ini.

Ulquiorra tampak sedang berpikir, pandangannya tidak luput dari Woody yang sedang makan dan bulu-bulu tebalnya yang agak mengembang karena tertiup angin.

"Kalau dia tinggal di luar, bagaimana kalau hujan?" Ulquiorra tiba-tiba bertanya seperti itu. Tampaknya daritadi dia diam karena memikirkan Woody.

"Dia akan berteduh di sana." jawabku sambil menunjuk kearah sebuah toko kecil yang tak jauh dari sana. Pemilik toko itu adalah seorang ibu-ibu yang kadang juga berbaik hati mau memberikan Woody makanan.

"Apakah kau tidak takut kalau dia sakit?"

"Waktu itu aku dan Ran-chan sudah membelikannya rumah anjing yang bagus dan hangat, tapi Woody tidak mau tidur disana, dia lebih suka tidur di depan toko itu. Rumahnya juga terpaksa kami jual lagi kepada orang lain." balasku dengan nada suara yang seperti sedang mengadu pada orangtua, sedangkan Woody yang sudah menatap kami berdua dengan pandangan ingin mengajak main. Dia sudah selesai makan rupanya. Aku segera membereskan tempat makannya lalu mengusap pelan kepala Woody lagi dan memberinya minum.

"Kau tidak takut dia hilang?" tanya Ulquiorra dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.

"Tidak mungkin dia hilang. Kalaupun dia hilang, pasti karena ada yang membawanya pergi. Karena Woody itu anjing yang pintar dan suka menetap hanya di satu tempat saja." jawabku dengan semangat, bisa membangga-banggakan Woody itu sangatlah membuatku senang dan bersemangat. Entah kenapa.

"Pantas dia tidak mau tinggal di rumah anjing yang kau beli." Ah, iya, benar juga ya kata Ulquiorra-kun, aku baru sadar.

Lalu dia berjongkok lagi dan mengusap pelan kepala mungil Woody lagi. Aku menggeser sedikit kantung plastik belanjaanku agar aku juga bisa berjongkok di samping Ulquiorra. Aku terus melihat Woody yang tampak ingin mengajak main terus.

"Aku ingin mengajak Woody jalan-jalan. Kau mau ikut?" tanyaku akhirnya.

.

.

.

.

.

~0.o.0~

Ulquiorra berjalan dengan pelan, tapi tetap saja suara sepatunya yang berbunyi beriringan dengan langkah kakinya terdengar menggema di sepanjang koridor panjang yang bernuansa classic. Dia tidak melirik ke kanan maupun kiri, tatapannya lurus kedepan, seakan-akan dia sudah yakin sekali dimana kamar miliknya berada di antara banyaknya pintu yang terpampang daritadi sepanjang perjalanannya.

Sebenarnya pintu-pintu itu sebagian besar tidak ada ruangannya, jadi kalau dibuka, maka hanya dinding berwarnakan hitam dengan tulisan berwarna merah 'Anda Tertipu'. Jujur dia lumayan suka juga dengan lelucon ayahnya, tapi tujuan sebenarnya dibuat pintu-pintu itu adalah sebagai kamuflase yang ditujukan kepada orang yang tidak diundang karena melihat kemewahan rumah ini.

Tapi karena adanya pintu-pintu itu, banyak sekali para pelayannya yang bingung sendiri dan akhirnya malah terjebak selama berjam-jam. Makanya bagi para pelayan baru, disarankan untuk menggunakan in-line skate atau roller blade bahkan sampai sepeda ontel atau semacamnya agar lebih cepat menemukan jalan dan tidak terlalu memakan banyak waktu.

Walaupun cukup merepotkan, tapi selama bertahun-tahun mereka telah berhasil menemukan lima puluh lebih pencuri yang menyelinap masuk ke rumah mereka dan tidak sempat membawa apapun karena tertipu dengan permainan pintu.

Ulquiorra membuka pintu kamarnya dengan pelan lalu masuk. Seperti yang sudah dia perkirakan, Haru ada di kamarnya tengah melayang dengan kostum kepala beruang berwarna merah jambu dan badan kodok berwarna biru muda.

"Ulqui-sama, kau sudah pulang?" Haru langsung menghentikan aktifitasnya melayang-layang tidak jelas.

Ulquiorra menghela napas kecil. "Seperti yang kau lihat." jawabnya singkat.

Haru terbang mendekat. "Jadi?"

Tidak ada jawaban. Ulquiorra hanya menatapnya terus. Tatapannya itu sulit diartikan, antara kesal, sedih, senang, haru dan masih banyak lagi.

"Aku tidak butuh rasa simpati seperti itu." Akhirnya dia memutuskan untuk menjawab.

Dalam sekejap, kostum aneh yang tadi dia kenakan langsung lenyap tergantikan dengan kaos kuning dan celana pendek hitam. Dia mengerutkan kedua alisnya. "Ini bukan rasa simpati. Ini tugas. Perintah lebih tepatnya."

Tanpa ada balasan sedikitpun, Ulquiorra langsung memalingkan wajahnya dan melangkah mendekati lemari bajunya. Saat dia sudah mengeluarkan sebuah kemeja putih yang tergantung rapi, dia melirik Haru yang masih melayang menatapnya. "Aku tahu kau harus mengawasiku, tapi apakah aku tak boleh punya privasi?" Ulquiorra menunjukkan kemejanya pada Haru.

Mengerti, Haru mengangguk kecil dan menghilang begitu saja entah kemana. Tak lama kemudian Ulquiorra melempar kemejanya diatas tempat tidur, lalu dia duduk di tepian tempat tidurnya. Merenung.

.

.

"Kau benar-benar ingin tahu?" Haru menatapnya dengan pandangan serius yang jarang dia perlihatkan. Sorot matanya tegas, senyum yang biasanya terpampang di wajahnya sekarang menghilang.

Melihat Haru yang memasang ekspresi wajah seperti ini membuatnya berpikir dua kali. "Ya." jawabnya agak ragu.

Haru menutup matanya sejenak, seakan-akan sedang mempersiapkan mental. "Memang akan terdengar aneh, Ulqui-kun." ujarnya. "Sebenarnya aku disini karena ada suatu tugas yang harus aku selesaikan. Dan aku bukanlah hantu gentayangan yang arwahnya tidak tenang." Ulquiorra tidak berkata apapun, masih mendengarkan.

"Kau tahu, well, aku sedang mengikuti semacam ujian masuk untuk menjadi malaikat seutuhnya. Percayalah, hal seperti itu ada. Kami diberikan manusia-manusia yang hatinya kesepian secara mendalam dan kami dipilih secara acak. Tugas kami adalah mengeluarkan manusia itu keluar dari kesepian dan kepedihan yang mendalam." jelasnya.

Masih seperti tadi, Ulquiorra tidak memberikan respon apapun. Dia hanya terdiam dan menatap Haru dengan wajah datar.

"Ayolah, Ulqui-san, di diamkan begini rasanya sungguh tidak nyaman." sahutnya dengan wajah penuh harap.

"Jadi aku adalah salah satu manusia yang kau bilang kesepian itu?"

Tersirat perasaan tidak enak dari Haru. "Well, kira-kira seperti itu."

"Lalu apa yang akan kau lakukan kalau kau sudah menjadi malaikat seutuhnya?"

"Tentu saja aku akan menjadi salah satu makhluk yang mengurusi kedamaian dunia ini."

"Dan kau tidak akan kembali lagi kesini?"

"Bisa saja aku kembali kalau aku mau, tapi... untuk apa?" Haru dengan wajah innocentnya menjawab.

"Terima kasih, tapi kurasa aku bukan manusia yang kesepian." sangkalnya.

"Jangan berbohong, Ulqui-dono!" Haru berusaha meyakinkan laki-laki yang ada di depannya. Ulquiorra baru saja akan membalas kata-katanya, tiba-tiba ponselnya berdering, tanda ada orang yang menelepon.

Dia segera melihat pada layar teleponnya. Dari kakaknya. "Kurasa aku akan segera mendapatkan bentakan dari Grimm."

.

.

Bagaikan video yang terputar sendiri dalam benaknya. Dia teringat dengan kejadian kemarin, dimana Haru memberitahunya tentang siapa dirinya sebenarnya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Hanya bisa pasrah. Saat kemari Haru mengatakan kalau dirinya kesepian, dia ingin sekali menyangkalnya dengan keras, tapi setelah dipikir-pikir, dirinya memang selalu kesepian. Tidak ada yang mengerti bagaimana dirinya itu sebenarnya. Itu juga sebabnya mengapa dia menjadi pendiam dan sukar berekspresi. Karena dia berpikir untuk apa dia mengekspresikannya kalau nanti orang juga tidak akan mengerti.

Seakan teringat dengan hal yang lebih penting, dia bangkit dan langsung mengambil kemeja dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya.

.

.

.

.

.

~0.o.0~

"Kau yakin dia akan datang?" tanya seorang pria berparas tampan dengan rambut biru nyentriknya pada seorang laki-laki di hadapannya dengan rambut yang tak kalah nyentriknya dengan dirinya.

"Tentu saja." jawab sang laki-laki berkacamata singkat sambil menyeruput kopinya sedikit.

"Aku tidak yakin." sangkalnya.

"Bertaruh $20, Grimmjow Jeagerjaques."

Pria yang dipanggil Grimmjow itu hanya berdecih lalu memalingkan wajahnya melihat kearah bangunan-bangunan tinggi melalui kacanya yang besar dari kantornya.

Tiba-tiba mereka berdua mendengar suara pintunya yang terbuka tanpa ketukan. Walaupun tidak melihat siapa yang datang, tapi mereka berdua sudah tahu. Tidak pernah ada yang seberani orang itu. Ya, orang itu.

"Selamat datang, Ulquiorra Cifer." Grimmjow segera bangkit dari duduknya dan menyeringai senang pada adiknya.

"$20, Grimm." Szayel mengingatkan.

"Diam, bodoh. Aku tidak menyetujui hal itu." Szayel hanya mengangkat kedua bahunya lalu kembali membaca koran dan menyeruput kopinya.

"Kalian menjadikanku sebagai barang taruhan?" terdengar suara monoton Ulquiorra yang bertanya pada kedua orang yang ada di depannya.

Tanpa pikir panjang Szayel mangangguk kecil. "Kira-kira begitulah."

"Kau marah?" tanya Grimmjow dengan seringaian mengejek.

Ulquiorra menggeleng kecil. "Tidak, tapi lain kali kalian harus mengajakku."

Grimmjow tambah menyeringai dan Szayel hanya tersenyum kecil mendengar jawabannya.

Ulquiorra berjalan mendekat dan duduk di sebuah sofa tepat di seberang Szayel. "Jadi, apa yang kalian rencanakan?"

Saat mendengar Ulquiorra menanyakan tentang bisnis, Szayel langsung menurunkan korannya lalu melipatnya dan menaruhnya di meja kaca di depan mereka. Grimmjow berjalan kearah meja kantornya lalu membuka salah satu lacinya. Dia mengambil beberapa lembar kertas kecil, voucher mungkin?

"Aku ingin kau membagikan ini." Grimmjow kembali menyeringai dan menyodorkannya lima lembar voucher.

Ulquiorra tidak berkata apapun, hanya menerima voucher tersebut dan memperhatikannya. "Bagikan pada temanmu, itu promosi untuk resort ini."

"Memangnya pengunjung berkurang?" tanyanya pada Grimmjow sambil terus melihat voucher yang bergambarkan kolam renang lalu disampingnya ada seorang wanita yang tengah menikmati spa lalu ada tulisan yang cukup besar di pojok kanan, discount 50%.

"Tidak, justru meningkat. Tapi aku tidak mau pengunjung berkurang." Grimmjow kembali menampakkan seringaiannya yang khas.

"Tapi aku harus membagikannya pada siapa?" Ulquiorra bertanya tanpa ekspresi.

"Temanmu, bodoh." Grimmjow menjawab dengan kesal.

Entah kenapa, tapi saat Grimmjow mengatakan kata 'teman', yang terpikirkan hanyalah gadis berambut senja yang dia ketahui bernama Inoue Orihime.

"Hanya ini saja? Kau meyuruhku kemari?"Ulquiorra mengangkat voucher yang ada di tangannya.

"Tentu tidak." Grimmjow duduk di kursinya. "Kau lupa hari ini kita ada rapat dengan ayah lagi, bodoh." lanjutnya.

Ulquiorra sudah membayangkan berada di mobilnya menuju perjalanan pulang langsung buyar. Dia benar-benar lupa dengan rapat itu.

"Kau pasti lupa." ujar Szayel. "Tampaknya akhir-akhir ini kau tidak fokus. Apa ada masalah?" lanjutnya.

"Cih, kau tidak perlu menanyakan hal itu. Dia bisa ingat untuk datang kemari saja itu sudah bagus." cela Grimmjow.

Ulquiorra hanya menatap kakaknya lalu ke Szayel bergantian. "Tidak. Aku tidak ada masalah apapun."

"Sebenarnya aku selalu bertanya-tanya. Mengapa kau mau ikut dalam bisnis seperti ini?" tanya Szayel menatap lurus pada Ulquiorra.

"Hanya untuk mengisi waktu luang." jawabnya.

"Oh, aku melihat kau punya banyak waktu luang." sindir Grimmjow.

Laki-laki yang memiliki dua garis hijau di kedua pipinya seperti air mata itu melirik kearah jam dinding yang terpampang jelas di sampingnya.

"Kurasa kita harus segera bersiap-siap karena setahuku setengah jam lagi kita akan rapat dengan ayah." saran Ulquiorra.

.

.

.

.

.

~0.o.0~

Keesokan harinya.

Pagi hari yang cerah tengah melanda kota Karakura. Seperti kemarin, Orihime dan Rangiku terlalu cepat datang ke sekolah. Entah mengapa, Orihime akhir-akhir ini rajin sekali. Rangiku yang sudah entah berapa kali menguap menarik sebuah kursi di depan Orihime dan memutarnya kebelakang sehingga dia berhadapan dengan Orihime.

"Kau melirik kearah jendela terus? Kau pasti ingin melihat laki-laki monoton itu." Rangiku menyeringai jahil.

Orihime menggeleng kecil. Tidak ada rona merah di wajahnya sama sekali, dan Rangiku menyadari bahwa bukan itu yang dipikirkan oleh Orihime.

"Ada hal yang mengganggu pikiranku." ujar Orihime pelan.

"Apa?" tanya Rangiku penasaran. Rasa kantuknya tadi dalam sekejap hilang, karena tidak pernah dia melihat Orihime sediam ini, dia tidak terseyum sama sekali sejak dia bangun tadi.

Orihime tampak terdiam sebentar, seperti bimbang mau menceritakannya atau tidak. "Sebenarnya aku... aku ini... sebenarnya..." Orihime bingung harus mengatakan apa.

"Kau menyukai Ichigo?" tanya Rangiku tepat sasaran.

Orihime tampak kaget dengan perkataan Rangiku. Tapi pertanyaan itu hanya disambut dengan senyuman dan gelengan kecil. "Bukan."

"Jangan berbohong." Rangiku membenarkan posisi duduknya. Mereka berdua terdiam tidak ada lagi yang berbicara.

Baru saja keduanya ingin membuka pembicaraan, tiba-tiba pintu kelas mereka dibuka perlahan. Hal itu membuat mereka berdua melirik kearah pintu kelas. Disana tampaklah sosok seorang laki-laki berkulit putih dengan wajahnya yang tidak ada ekspresi lain.

"Ah, Ulqui-kun." sapa Orihime.

"Aku tahu kalian pasti sudah datang." Ulquiorra berjalan mendekat dan menyerahkan lima lembar voucher. "Ini untukmu, ajaklah 4 temanmu lagi."

Dengan ragu Orihime menerimanya lalu melihat voucher itu. "Espada resort? Itu kan resort termewah disini." celetuk Rangiku kegirangan. "Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"

"Hanya mendapatkannya saja." jawab Ulquiorra dengan suara monoton lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

Mereka berdua menatap voucher itu terus. Discount 50% untuk semua sarana? Orihime dan Rangiku sambil bertatapan lalu melihat voucher itu lagi. "Kita bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih padanya."

.

.

.

.

.

~0.o.0~

"Tadaaaa~" Rangiku dan Orihime dengan girang menunjukkan voucher yang ada di tangan mereka. Sedangkan Rukia dan Tatsuki hanya melihatnya dengan wajah datar.

"Ayolah, tidak adakah reaksi yang lebih baik dari ini?" ujar Rangiku.

"Iya, apalagi mulai besok kita sudah libur sekolah." tambah Orihime.

"Aku tidak bisa ikut." ujar Tatsuki.

Mereka semua langsung melihat kearah Tatsuki. "Kenapa?"

"Aku mulai besok sudah akan pergi untuk berlatih agar menjadi lebih kuat lagi." jawab Tatsuki dengan wajah antusias. Mereka semua hanya bisa tersenyum maklum.

"Tapi bagaimana dengan sisa dua voucher ini lagi?"

Tepat saat Rangiku menanyakan hal itu, tiba-tiba Ichigo dan Renji muncul bersamaan. "Hei kalian semua. Apa rencana kalian selama liburan?"

Mata Orihime membesar. "Ah, ide bagus! Ichigo-kun, Renji-kun, bagaimana kalau kalian ikut bersama kami ke resort besok?"

Semuanya terdiam mendengar ajakan Orihime. Dia bisa mendengar bahwa dirinya sendiri dengan mulus meluncurkan kata-kata itu. Hening sejenak, lalu tiba-tiba Renji memecahkan kesunyian. "Baik, kami akan ikut." balasnya tanpa ragu.

.

.

.

TBC

Ya, sekian dulu cerita ini, maaf saya potong tidak pada tempat yang lebih bagus. Saya takutnya chapter 2 kepanjangan, jadi terpaksa saya potong. Semua pesan, kesan, kritik, saran, dan sebagainya akan saya terima kok melalui review. Help wanted :D