Kaki yang berlapiskan sepatu sneakers itu diketuk-ketukkan ke lantai dengan cepat. Sepasang mata bulat memperhatikan jarum jam yang terus bergerak. Seharusnya sejak jam tiga tadi si pemilik mata bulat itu bertemu dengan seseorang. Tapi sudah setengah jam berlalu dan orang yang dia tunggu sama sekali belum datang.

Yoo Youngjae adalah namanya. Wajahnya terlihat manis walaupun dengan ekspresi sebal yang terpampang di sana. Dia sudah sangat lelah karena perjalanan jauh dan barang bawaan yang cukup banyak.

"Oh, ayolah!"

Rasanya Youngjae ingin membanting koper pink di sampingnya.

"Kemana kau ketua asrama bodoh!"

Suaranya saat mengumpat terdengar begitu keras hingga menarik perhatian beberapa penghuni asrama yang sedang berlalu-lalang di sana. Youngjae tidak peduli dengan hal itu pastinya. Dia hanya ingin segera diantarkan ke kamar dan bertemu dengan kasur. Secepatnya.

Lima menit berselang. Seorang pemuda berjalan menghampiri Youngjae dengan sebuah buku yang diapit di ketiaknya. Hm, iya, di ketiaknya. Untungnya, pemuda itu wangi.

"Kemana saja kau, Jaebum? Aku sudah menunggumu lama!" Kekesalan Youngjae ditumpahkan pada pemuda bernama Jaebum itu. "Kau memang lelet dari dulu."

Jaebum rasanya ingin menggetok kepala Youngjae dengan buku bekas apitan ketiaknya. Tapi terurungkanlah niat jahatnya karena melihat Youngjae sudah terlalu lelah dan tidak ingin berdebat banyak dengan teman masa kecilnya itu. Tidak akan habis-habis nantinya.

"Aku baru saja mengecek kamar, Youngjae-ah."

Jaebum membuka buku bersampul biru dan sebuah pena dari saku kemejanya. Mencari nama Youngjae yang baru saja dia masukan di daftar penghuni asrama.

"Jadi ada kamar dimana aku bisa tidur sendirian?" tanya Youngjae.

"Tidak ada," jawab Jaebum cepat.

Jaebum menutup buku dan mengembalikan pena ke dalam sakunya. Jawaban yang terdengar ringan itu membuat Youngjae ingin sekali menendang Jaebum dan menghancurkan kepalanya. Padahal minggu kemarin sebelum Youngjae memutuskan untuk pindah sekolah dan masuk ke asrama, Jaebum menjanjikan akan mencarikan kamar untuk bisa Youngjae tinggali sendiri.

"Jaebum, kau tahu kan kalau aku..."

"Maafkan aku Youngjae. Ternyata ada hal tak terduga terjadi."

Belum juga Youngjae selesai mengeluh, Jaebum sudah memotong omongannya lebih dulu. Hal tak terduga apa yang membuat seorang Im Jaebum yang diketahui Youngjae adalah orang yang tegas itu melanggar janjinya.

Tangan Youngjae menyilang di dada seakan ingin cepat meminta penjelasan dari Jaebum. Dengan segera Jaebum menjelaskan padanya agar tidak berlangsung pertengkaran di antara mereka.

"Jadi begini..." Jaebum terlihat seperti monyet ketika menggaruk kepalanya, "...kamar yang kau minta sebenarnya sudah kusediakan. Tapi dua hari yang lalu kepala sekolah menghubungiku dan memintaku menyediakan kamar untuk cucunya..."

Hm, Jaebum menelan ludah ketika melihat wajah Youngjae yang berubah semakin masam. Tapi mau bagaimana lagi, ini permintaan kepala sekolah dan Jaebum tidak bisa menolahnya sama sekali.

"Dan kau menempatkannya di kamarku. Nice, Jaebum," keluhnya.

"Tenang saja, Jae. Dia tidak akan melanggar batas privasimu. Aku yakin itu," kata Jaebum mencoba meyakinkan dan menenangkan Youngjae.

Hanya menghela nafas yang bisa Youngjae lakukan saat itu. Dia sudah malas berkata-kata.

"Ya sudah. Cepat antarkan aku."

Mendengar itu, sebuah senyuman terpampang di wajah Jaebum yang tadinya kusut. Dia membantu membawakan koper Youngjae dan berjalan menuju kamar yang berada di lantai dua.

Kamar itu bernomor 13 dan pintunya berwarna merah. Entah kenapa terkesan menyeramkan. Padahal kamar-kamar lain pintunya berwarna pastel.

Jantungnya berdebar seperti akan memasuki rumah hantu.

Kenop pintu di hadapannya tinggal sesenti lagi tersentuh, tapi pintu di hadapannya perlahan terbuka ke arah dalam.

Youngjae sedikit terkejut melihat sosok yang membuka pintu tersebut. Tingginya sepantaran dengan Youngjae, hanya berbeda dua atau tiga senti saja. Di telinganya bertengger sebuah kacamata bulat berbingkai hitam. Tatapan matanya terlihat tajam dan menyeramkan.

Bulu roma Youngjae meremang.

"Ah, kebetulan kau di sini. Ini Youngjae yang kubilang akan sekamar denganmu."

Sepasang mata itu melirik Jaebum dan Youngjae bergantian dan kemudian senyuman tipis terlukis di wajahnya.

"Jung Daehyun..."

Laki-laki itu—Daehyun namanya—memperkenalkan diri tanpa sekalipun memberikan tangan untuk di jabat. Sepertinya benar apa yang dikatakan Jaebum, teman sekamarnya itu tidak akan melanggar batas privasi Youngjae.

"Aku Yoo Youngjae. Mohon bantuannya."

"Baiklah. Aku masih banyak tugas, jadi Youngjae kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku atau meminta bantuan pada Daehyun."

Tangan kanan Jaebum bergerak mengisyaratkan bahwa Youngjae bisa menghubunginya dan sebelum Youngjae menluncurkan lebih banyak protes lagi, dia sudah berlari menghilang dari balik lorong. Bukan maksud Jaebum lari dari tanggung jawab, tapi dia hanya tidak ingin mendengar omelan Youngjae lebih lama.

Youngjae yang terlihat kesal itu kini menatap Daehyun. Pemuda berbibir tebal itu menatapnya datar, membuka pintu lebih lebar dan kembali masuk ke dalam kamar dan berkutat dengan bukunya yang berada di atas kasur. Tidak berniat sama sekali untuk membantu Youngjae memindahkan barangnya.

"Mereka ini benar-benar...," umpat Youngjae pelan.

Dan dia hanya bisa pasrah bekerja sendiri untuk merapikan barang-barangnya.

。。。。。。

"Iya, Ibu. Aku akan menjaga kesehatan. Lagian di sini ada Jaebum. Ibu tidak perlu khawatir. Sebentar lagi aku akan makan malam. Iya, sampai jumpa. Aku sayang ibu."

Piip

Jempolnya menekan tombol merah di ponsel. Ibunya baru saja selesai menelpon. Sudah menjadi kebiasaan Youngjae juga untuk memberikan kabar pada ibunya. Itu sudah dia lakukan setiap hari ketika dia akan pulang terlambat atau ada masalah di jalan.

Jelas dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir, bukan?

Youngjae menghela nafas lalu menyimpan ponsel di atas nakas. Sudah hampir pukul tujuh yang berarti sebentar lagi makan malam akan dimulai. Jaebum berjanji akan menjemputnya pukul setengah tujuh tadi, tapi lagi-lagi Jaebum tidak menepati janjinya.

Mata bulatnya melirik ke arah kasur sebelah. Teman sekamarnya itu masih berkutat dengan buku yang sama—tidak—hanya judul bukunya saja yang sama tapi dalam warna dan jilid yang berbeda. Masih ada banyak lagi buku yang berjudul sama dengan nomer beda yang bertumpuk di samping kanan Daehyun.

Daehyun terlihat tidak bergerak dari kasurnya sama sekali, sejak siang tadi. Antara terlalu betah di kasur atau terlalu asik dengan dunianya.

Youngjae juga memperhatikan gerak-gerik Daehyun sejak tadi. Entah Daehyun yang membolak-balik halaman demi halaman bukunya atau gestur lembutnya saat membenarkan posisi kacamata. Terlihat begitu tenang.

"Aku heran. Apa enaknya memperhatikan seseorang yang sedang membaca buku."

Suara tenor itu memecah keheningan. Pelan namun masih bisa tertangkap di telinga Youngjae. Dan tentu saja kata-kata tersebut ditujukan pada Youngjae. Tidak ada orang lain yang berada di kamar tersebut selain mereka bukan?

"Siapa yang memperhatikanmu?" tanyanya ketus.

"Siapa yang berbicara padaku?" Daehyun mengalihkan pandangan dari bukunya. Kepalanya celingak-celinguk seperti orang kebingungan. "Jangan-jangan kamar ini angker."

Sabar. Yoo Youngjae adalah seorang penyabar. Dia menarik nafas pelan, kemudian menghembuskannya lagi. Semuanya dilakukan perlahan agar Youngjae kembali mendapatkan ketenangannya.

"Youngjae-ah! Cepat buka. Aku sudah lapar."

Suara Jaebum terdengar dari luar. Youngjae langsung saja beranjak dari kasur dan membuka pintu kamar. Wajahnya masam ketika melihat Jaebum yang hanya cengengesan di hadapannya.

"Daehyun, kau tidak ikut makan malam?" tanya Jaebum yang hanya dibalas oleh gelengan dari Daehyun.

Dia terlalu sibuk dengan bukunya.

"Sudahlah cepat. Aku lapar."

Youngjae menyalip tubuh Jaebum yang menghalangi di depan pintu dan berjalan lebih dulu. Jaebum yang tidak tahu ada apa langsung saja berlari mengejar Youngjae. Dia tidak boleh meninggalkan Youngjae sendirian karena belum banyak yang tahu tentang pemuda itu.

。。。。。。

Benar-benar Youngjae dibuat takjub oleh asrama ini. Tidak seperti asrama-asrama lain yang dia pernah dengar, asrama tempat tinggalnya saat ini benar-benar memberikan fasilitas yang baik. Mulai dari kamar bahkan sampai makanan di kantin juga diperhatikan rasa dan kehigienisannya.

Menu makan malam kali ini adalah nasi, beef stew dan juga semangkuk salad buah. Tak lupa juga segelas air putih juga sekotak susu kini sudah tertata cantik di atas nampan. Penghuni asrama hanya tinggal mengantri dan mengambil makanan masing-masing yang sudah disediakan.

Youngjae sudah mendapat bagiannya dan segera mengikuti Jaebum yang duduk di kursi paling pojok. Kursi itu memang tidak pernah ada yang menempati kecuali Jaebum. Singgasana Jaebum. Begitulah kata penghuni lainnya.

Padahal itu hanya sebuah kursi dan meja biasa. Lebay.

"Asrama ini benar-benar." Youngjae yang duduk berseberangan dengan Jaebum tak henti-hentinya merasa kagum. "Bagaimana bisa mereka mengantri setertib itu, hm?"

Jaebum tertawa, sambil menyiduk nasi dengan sendoknya dia berkata.

"Siapa lagi ketua asramanya."

Ada nada bangga terdengar di sana. Di balik nada bangga itu pula ada hal menyeramkan yang pernah terjadi. Bahkan Youngjae sendiri tidak berani membayangkannya.

Baru saja Youngjae akan menyendokkan nasi ke mulutnya. Ada orang lain yang datang dan duduk begitu saja di antara mereka berdua tanpa basa-basi.

"Aaa~ Datang jam segini terlalu ramai, kalau datang belakangan kebagian porsi paling sedikit. Serba salah, deh." Pemuda itu mengumpat kesal. "Oh, hai, Jaebum."

Youngjae melirik ke arah Jaebum. Alisnya terangkat tinggi dan dagunya seperti menunjuk ke arah pemuda itu. Jaebum menyelesaikan kunyahannya lalu tertawa geli.

"Hai juga, Himchan. Cerewet seperti biasa."

"Ho? Siapa yang cerewet. Aku tidak cerewet!"

Si Himchan itu mengajukan protes lalu berkutat dengan makanan di hadapannya. Mengunyahnya seperti orang kelaparan tapi itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan di wajahnya.

"Iya, kau terlalu cerewet sampai tidak memperhatikan siapa yang ada di samping kananmu," ujar Jaebum sebelum dia lanjut makan.

Kunyahan Himchan tidak berhenti, dia melirik ke samping kanannya. Ada Youngjae yang tersenyum canggung sambil memegang sendoknya yang dari tadi belum sempat dia suapkan ke mulutnya.

"Aigoo~ Ada anak manis sekali di sini," seru Himchan kegirangan. Entah apa yang membuatnya seperti itu. "Kenalkan namaku Himchan. Kim Himchan!"

Youngjae meletakkan kembali sendoknya. Masih tersenyum memaksa menanggapi Himchan.

"Yoo Youngjae," jawab Youngjae seadanya.

Himchan terlihat tersenyum lembut pada Youngjae. Memang sepertinya Himchan senang bisa melihat seorang pemuda manis seperti Youngjae berada di asrama ini. Jadi dia merasa seperti punya teman.

Maklum. Rata-rata penghuni asrama tersebut memang tidak ada yang berwajah manis seperti—ahemHimchanahem. Wajar saja Himchan merasa senang dengan keberadaan Youngjae di sini. Mungkin mereka berdua bisa berdiskusi tentang skincare terbaru?

"Semoga kau betah di sini, Youngjae."

Himchan berujar lembut. Mengulurkan tangan dan meletakkannya di atas bahu kiri Youngjae. Mengelus dengan lembut dan perlahan, tanda perhatian.

Tapi berbeda dengan yang di rasakan Youngjae. Ada rasa takut yang tiba-tiba menghantuinya. Sentuhan tangan Himchan terasa sangat dingin dan menyeramkan baginya. Hingga tanpa sadar dia menepis kuat tangan Himchan sehingga membuat si pelaku terkejut.

Nafas Youngjae terengah. Sekujur tubuhnya mendingin dan wajahnya memucat. Tanpa bicara apapun dia berlari pergi meninggalkan Himchan yang terheran dan Jaebum yang terkejut.

"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Jaebum langsung pada Himchan.

"Aku—hanya menyentuh bahunya saja dan tiba-tiba dia jadi seperti itu."

Telapak tangan mendarat di dahinya sendiri. Jaebum lupa mengatakan sesuatu pada Himchan sebelum dia berkenalan lebih jauh dengan Youngjae. Oke, ini murni kesalahan Jaebum.

"Himchan, maaf sebelumnya aku lupa mengatakan ini. Youngjae punya phobia," jelas Jaebum.

Kepala Himchan memiring dan memandang Jaebum bingung. "Phobia apa?"

"Haphephobia."

。。。。。。

Youngjae menerobos masuk ke dalam kamarnya. Tidak mempedulikan Daehyun yang mengalihkan pandangan dari buku dan menatapnya penuh tanya.

"Sial!" umpatnya.

Seluruh tubuhnya bergetar. Seperti ada sensasi menjijikkan yang menjalar dari bahu ke seluruh tubuhnya. Selimut di atas kasur ditariknya hingga menutupi tubuhnya.

Youngjae meringkuk. Menangis di balik selimutnya.

Jujur, hal itu membuat Daehyun kebingungan. Cueknya pada Youngjae tadi bukannya karena dia tidak ingin Youngjae berada di dekatnya, tapi karena Jaebum mengatakan padanya kalau Youngjae tidak ingin ruang privasinya diusik. Hal itu membuat Daehyun penasaran karena Jaebum tidak mengatakan alasan sesungguhnya.

Kamar itu begitu sepi. Hanya isak tangisan Youngjae yang terdengar di telinga Daehyun dan itu membuatnya khawatir.

Buku di tangannya kini ia letakkan bersama tumpukan buku lain. Berjongkok kemudian menarik sebuah kontainer besar yang dia letakkan di bawah kasurnya.

Kontainer itu diisi banyak cemilan, mulai dari yang manis hingga yang pedas. Juga ada beberapa botol besar minuman berbagai rasa. Daehyun mengambil sebungkus roti stroberi dan sebotol jus jeruk dari sana kemudian menghampiri Youngjae.

"Youngjae-ssi." Daehyun memanggil Youngjae. Kembali membetulkan posisi kacamatanya yang bergeser turun. Menunggu Youngjae untuk keluar dari selimutnya.

Tak lama isakan Youngjae terhenti. Perlahan dia menyibak selimut kemudian menyeka air matanya. Youngjae duduk. Memperhatikan Daehyun yang berdiri di samping ranjangnya.

"Apa?"

"Makanlah." Daehyun meletakkan roti dan jus tersebut di atas nakas milik Youngjae lalu kembali untuk membereskan kontainernya setelah mengeluarkan sebungkus steamed cheecake dan cola.

Youngjae melirik ke arah roti tersebut. Tidak mengerti kenapa Daehyun memberikan itu padanya.

"Aku tidak butuh."

"Nanti juga butuh." Daehyun memakan cheesecakenya santai.

Dan saat itu juga perut Youngjae berbunyi keras. Rona merah menghiasi pipinya. Segera saja dia mengambil roti itu dan memakannya perlahan.

"Aku tahu kau tidak suka orang lain merusak privasimu. Tapi kuharap kau mau menceritakan masalahmu padaku," ujar Daehyun, "Aku teman sekamarmu."

Daehyun berbicara panjang lebar dan itu membuat Youngjae sedikit terkejut. Padahal tadinya Daehyun terlihat tidak mempedulikan keadaannya sama sekali, tapi sekarang malah perhatian seperti ini. Benar-benar tidak bisa dimengerti.

"Terima kasih. Tapi tidak sekarang,"

"Kapanpun." Daehyun menenggak habis colanya kemudian menarik selimutnya. Suara mendengkur halus meluncur dari bibirnya.

Daehyun sudah tertidur pulas dalam hitungan detik.

Youngjae menunduk. Tersenyum miris. Dikasihani seperti itu benar-benar membuat Youngjae merasa sakit.

"Seandainya phobia ini tidak ada."

Tangan Youngjae menyentuh kembali bahunya. Rasa jijik itu masih tersisa di sana.

Youngjae benar-benar takut.

Dia takut jika ada orang lain yang menyentuh tubuhnya seperti tadi.

Youngjae takut akan sentuhan tangan orang lain.

Haphephobia ini, masa lalunya, benar-benar membuat Youngjae merasa hancur.

。。。。。。

To be continued

。。。。。。

First chapter selesai!

Makasih banyak buat yang mau baca dan komen ff ini. Saya tahu fanfic saya banyak kekurangan dibanding fanfic lain. Tapi saya mencoba sebaik mungkin hehe.

Thanks banget buat yang udah komen kemarin. Jangan lupa komen dan krisarnya di setiap chapter ya.

Tunggu terus update fanfic ini tiap hari sabtu/malam minggu.

See you :3